Sabtu, Agustus 29, 2026
Beranda blog Halaman 90

Perguruan Tinggi Keagamaan Islam 4.0

0

A NEW CHAPTER BEGIN (Kasali, 2017) begitulah peringatan yang pernah disampaikan Steve Jobs kepada kita semua seperti yang dicuplik oleh Rhenald Kasali dalam bukunya Distruption. Sebuah era baru yang benar-benar baru telah dimulai, dimana perubahan terjadi begitu cepat, melejit tanpa sekat. Anomali seakan tidak mampu diprediksi lagi, jikalau dulu dinamika berjalan dengan linear dan teratur akan tetapi saat ini  dinamika telah berjalan dengan begitu kompleks.

Digitalisasi terjadi dalam segala aspek terjadi disekitar kita, bahkan terdapat pergeseran kebutuhan dasar manusia zaman now yaitu dari kebutuhan fisik ke kebutuhan komunikasi, sehingga battrei dan kuota internet menjadi sebuah kebutuhan dasar baru dalam era distrupsi teknologi atau revolusi industri 4.0 seperti yang terjadi saat ini.

Peter Drucker (1997) pernah meramalkan universitas akan mengalami krisis yang mendalam dan tidak bisa bertahan lagi karena tidak mampu memenuhi harapan penggunanya.

Perubahan zaman yang sedemikian itu tentu membawa dampak yang signifikan pada beberapa aspek, termasuk pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Peter Drucker (1997) pernah meramalkan universitas akan mengalami krisis yang mendalam dan tidak bisa bertahan lagi karena tidak mampu memenuhi harapan penggunanya. Sebuah ramalan yang bisa dibilang terlalu berlebihan, namun apabila dipikir secara jernih dan mendalam ramalan tersebut tentu ada benarnya bila kita melihat kondisi perguruan tinggi kita terutama PTKI di Indonesia dewasa ini.

PTKI di Indonesia saat ini berjumlah 869 perguruan tinggi berdasarkan data forlapdikti. Namun, dari sekian banyak PTKI tersebut, hanya 3 PTKI berbentuk UIN yang memiliki akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT). Sedangkan perguruan tinggi lainnya masih dalam kategori akreditasi B dan C serta masih banyak pula yang belum terakreditasi. Capaian akreditasi tersebut merupakan gambaran yang bisa merepresentasikan kondisi PTKI di Indonesia untuk diperbaiki secara berkelanjutan.

Disisi lain, sesungguhnya PTKI  memiliki  peran yang tidak ringan dan sangat strategis dalam situasi dan kondisi terkini. Memasuki tahun politik 2018 dan 2019 seringkali kita jumpai berita, kabar dan informasi yang tidak benar (Hoax) yang menjadi viral di media sosial berupa isu keagamaan, sosial dan lain sebagainya. Disitulah letak kerentanan terjadinya salah faham bahkan konflik sosial apabila tidak ada penyeimbang yang memiliki penguasaan konten serta yang familiar dengan teknologi.

Dengan asumsi yang terbangun diatas, menjadi sebuah keniscayaan PTKI harus berbenah secepatnya dalam beberapa aspek. Pertama, penguatan kelembagaan, hal tersebut merupakan aspek yang fundamental untuk menjadikan PTKI sehat secara institusional. Penataan dokumen yang sesuai regulasi, penataan struktur organisasi, pengembangan sistem manajemen yang tansparan dan akuntabel. Sistem kelembagaan yang kuat akan menjadi PTKI dinamis dalam mengikuti kecepatan perubahan dan terhindar dari konflik internal.

Kedua, reorientasi kurikulum, dengan adanya peraturan presiden yang memuat tentang kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI),  maka kurikulum yang dibuat oleh perguruan tinggi pun harus mengacu KKNI tersebut. Akan tetapi yang tidak kalah pentingnya, perguruan tinggi juga harus menetapkan secara tegas ciri khas perguruan tinggi atau distingsi keilmuan di PTKI masing-masing.

Menghadapi revolusi industri 4.0 lulusan tidak hanya melek dengan literasi lama terkait membaca, menulis dan berhitung, tetapi dibutuhkan literasi baru yakni, kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital, termasuk pemahaman tentang nilai-nilai humanities, komunikasi dan desain (Literasi Manusia).

Ketiga, melek literasi, menghadapi revolusi industri 4.0 agar lulusan bisa kompetitif perlu penyiapan agar lulusan tidak hanya melek dengan literasi lama terkait dengan membaca, menulis dan berhitung. Akan tetapi dibutuhkan literasi baru (Aoun, MIT, 2017) menyangkut kemampuan untuk membaca, analisis dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital, lalu kemampuan untuk memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi seperti coding, artificial intelegence, & Engineering Principles (Literasi Teknologi) dan yang terakhir yaitu pemahaman tentang nilai-nilai humanities, komunikasi dan desain (Literasi Manusia).

Ikhtiar untuk mewujudkan PTKI yang ideal seperti yang digambarkan diatas, tentu membutuhkan kerja keras, fokus dan istiqomah berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemangku kebijakan di perguruan tinggi, dosen, mahasiswa serta masyarakat pengguna lulusan. Dengan begitu PTKI akan memiliki peran optimal dalam revolusi industri 4.0 dan memberikan manfaat yang sangat signifikan untuk kemajuan bangsa Indonesia menuju negara yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Wallahua’lam

Adab Membuka Pelajaran Memantik Semangat Murid

MENGAWALI pelajaran memerlukan kesiapan yang cukup matang, karena harus dirancang secara tepat untuk menghasilkan tujuan secara efektif dan efisien. Target pada awal pelajaran pada hakekatnya adalah menyiapkan mental murid agar siap belajar, serta mengkondisikan lingkungan agar betul-betul menjadikan lingkungan belajar menjadi lingkungan yang baik untuk belajar. Kata kuncinya adalah menyiapkan mental murid dan menyiapkan lingkungan.

Menyiapkan mental murid untuk siap belajar tidaklah mudah, karena karakteristik murid yang beragam dengan beragam latar belakangnya yang kompleks. Menyiapkan mental berkaitan dengan semangat, motivasi, memfokuskan perhatian murid pada tujuan pembelajaran, mengingatkan kembali pelajaran yang sudah diajarkan. Selain itu juga berkaitan dengan performance guru yang senantiasa harus menunjukkan kehangatan ketika berhadapan dengan murid. Sedangkan menyiapkan lingkungan yang siap untuk digunakan juga menjadi perhatian yang penting bagi seorang guru, karena lingkungan yang tidak kondusif juga berpengaruh pada kesiapan mental murid.

Memberikan semangat dan motivasi murid berkaitan dengan menanamkan rasa cinta murid terhadap pelajaran yang akan diberikan. Ada beberapa pelajaran yang tidak disukai murid bahkan menjadi “mental blok”, sehingga murid menjadi malas untuk mengikuti pelajaran yang akan diajarkan. Ide murid menjadi tidak berkembang ketika meyakini bahwa pelajaran itu dianggap oleh murid sebagai pelajaran yang menjenuhkan. Seorang guru hendaknya melihat persoalan ini dengan seksama untuk bisa diselesaikan dengan menyiapkan materi motivasi yang tepat dan berkaitan dengan pelajaran tersebut. Materi motivasi bisa berupa cerita-cerita, kasus-kasus tertentu, hasil penelitian yang mendukung pelajaran.

Performance guru juga berpengaruh ketika mengawali pelajaran, misalnya menunjukkan kehangatan ketika melihat murid, melihat murid dengan antusias agar mereka merasa dihargai, ketika murid merasa dihargai maka akan tertanam rasa senang murid kepada gurunya, jika sudah senang kepada gurunya maka materi juga akan mudah diserap oleh murid.

Menghancurkan mental blok yang berupa keyakinan murid bahwa suatu pelajaran sangat sulit, menjenuhkan akan menyulitkan guru mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirancang guru sebelumnya. Maka performance guru juga berpengaruh ketika mengawali pelajaran, misalnya menunjukkan kehangatan ketika melihat murid, melihat murid dengan antusias agar mereka merasa dihargai, ketika murid merasa dihargai maka akan tertanam rasa senang murid kepada gurunya, jika sudah senang kepada gurunya maka materi juga akan mudah diserap oleh murid. Seorang guru hendaknya mengkondisikan dirinya dulu agar siap mengajar sebelum menyiapkan muridnya. Terkadang ada persoalan di rumah atau lainnya yang masih tertinggal di pikiran guru, kemudian dibawa ke dalam proses pembelajaran. Hal ini sangat menganggu proses pembelajaran, karena pikiran guru akan berpengaruh pada energi proses pembelajaran yang semestinya di awali dengan energi positif, akan tetapi tidak bisa berjalan.

Aspek lainnya yang harus diperhatikan guru adalah dengan mencoba mengingatkan kembali pelajaran yang sudah pernah diberikan. Hal ini penting, karena murid ada yang memiliki memori jangka panjang yang bagus tapi memori janga pendeknya kurang bagus. Atau sebaliknya ada yang memiliki memori jangka pendek bagus tapi memori jangka panjangnya kurang baik. Mengingatkan (reminding) pelajaran itu bagian dari menayangkan kembali data (pelajaran) yang bisa mungkin terpendam dengan data yang baru masuk yang bisa jadi jumlah jutaan bahkan milayaran data yang akhirnya memendam data yang lama.

Menyiapkan lingkungan belajar juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan guru, karena lingkungan yang ditata secara kondusif akan mempengaruhi pada keyakinan murid terhadap proses pembelajaran yang akan berjalan.

Menyiapkan lingkungan belajar juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan guru, karena lingkungan yang ditata secara kondusif akan mempengaruhi pada keyakinan murid terhadap proses pembelajaran yang akan berjalan. Guru harus memastikan kondisi kelasnya bersih, papan tulis siap dipakai, perangkat pembelajaran siap digunakan dan lain sebagainya.

Dari berbagai macam aspek tersebut di atas, maka ada yang paling utama dan ini harus dilakukan oleh guru yaitu mengawali dengan do’a. Kekuatan do’a sebenarnya mengarahkan kepada keyakinan murid serta mengajari murid untuk selalu pasrah terhadap ketentuan Tuhan setelah melaksanakan belajar dengan sungguh-sungguh. Kasih sayang Tuhan yang tiada batas harus ditanamkan kepada murid, agar mereka memiliki keyakinan bahwa setiap usaha belajar mereka tidaklah sia-sia. Wallahu a’lam.

Amka, Malang 8 Maret 2018

Menulis Itu Mudah, Kata yang Saya Tanamkan di Pikiranku

0

KATA-KATA INILAH yang saya tanamkan di benak saya dalam setahun terakhir ini meski belum secara efektif mendorong saya untuk memulai menulis.

Seorang teman pernah berkata kepada saya, bahwa saat kita connect (nyambung) dan konsentrasi terhadap sesuatu maka menulis akan menjadi sesuatu yang mudah. Contohnya saat orang jatuh cinta, dia bisa menuliskan banyak sekali pesan dan kata mutiara, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mulai dari ucapan selamat pagi, apa kabar, sudah makan atau belum, sampai ucapan menjelang istirahat di malam hari. Hal ini disebabkan karena dia sedang connect dan berkonsentrasi terhadap kekasihnya atau gebetannya.

Coba seandainya konsentrasi ini dialihkan terhadap suatu buku atau topik tertentu, kemudian dilengkapi dengan bacaan-bacaan yang mendukung, pasti kita juga akan bisa menuliskan banyak hal.

Membaca adalah nutrisi untuk otak, agar otak tidak kosong dan kita memiliki banyak perbendaharaan kata. Tentunya dengan membaca kita akan mempelajari, mengetahui dan memahami banyak hal.

Memgapa harus membaca? Ya, harus. Membaca adalah nutrisi untuk otak, agar otak tidak kosong dan kita memiliki banyak perbendaharaan kata. Tentunya dengan membaca kita akan mempelajari, mengetahui dan memahami banyak hal. Wawasan dan pengetahuan akan bertambah seiring bertambahnya kosa kata kita, dan Ini akan sangat membantu kita untuk bisa menulis.

Jangan salah, menulis kata mutiara atau kata-kata bijak di Facebook, Intagram, Watsapp atau yang kita kirimkan kepada gebetan atau kekasih kita juga membutuhkan literatur.

Jangan salah, menulis kata mutiara atau kata-kata bijak di Facebook, Intagram, Watsapp atau yang kita kirimkan kepada gebetan atau kekasih kita juga membutuhkan literatur. Saya yakin 80% dari kita yang suka menulis kata-kata bijak, motivasi, atau kata mutiara adalah orang-orang yang sebelumnya suka membaca novel atau ngintip quotes nya Tere Liye, atau penulis novel yang lain, buku-buku Hamka, Gus Dur, Imam Ghozali, Jalaluddin Rumi, bahkan Kahlil Gibran mungkin. Suka melihat motivasi-motivasinya Yusuf Mansur, Mario Teguh, dan banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

Mengirim kata-kata gombal kepada pacarpun otak masih perlu dinutrisi dan perlu menyimpan banyak perbendaharaan kata.

Hal ini membuktikan bahwa untuk membuat satu paragraf motivasi, kata bijak, kata mutiara, atau bahkan untuk mengirim kata-kata gombal kepada pacarpun otak masih perlu dinutrisi dan perlu menyimpan banyak perbendaharaan kata.

Seperti yang saya kutip dari bukunya Dr. Ngainun Naim, bahwa menulis itu bukan hanya perkara sulit atau mudah, namun perlu “ruh”. Ruh yang dimaksud disini adalah spirit kepenulisan. Spirit inilah yang menentukan proses kepenulisan seseorang apakah akan terus berkembang atau berhenti.

Semangat pagi | Semangat belajar | Belajar Semangat

Unun Zumairoh Asr Himsyah. Dosen IAI Dalwa Raci Bangil, anggota Gerakan Guru Menulis (GGM), sebuah gerakan literasi untuk para guru se-Kabupaten Malang

Ngemil, Literasi Baca Tulis Sejak Dini

0

BERAWAL DARI TULISAN bapak Ngainun Naim, seorang Dosen IAIN Tulungagung, yang mengatakan dalam artikel yang dikirim lewat group whatsapp mengatakan, bahwa menulis dapat dilakukan dengan cara ngemil. Membacapun juga dapat dilakukan dengan ngemil. Ibarat orang yang sedang makan bisa dilakukan dengan ngemil. Makan sedikit demi sedikit akhirnya makanannya habis. Begitu pula dengan menulis maupun membaca, melakukan ngemil akan menghasilkan sebuah artikel atau menuntaskan bacaannya.

Terinspirasi dari pemikiran beliau, aku ingin menerapkan cara ngemil kepada murid-muridku di kelas V. Cara ngemil aku terapkan pada kegiatan membaca dan menulis dalam semua mata pelajaran yang aku ampu sebagai guru kelas.

Pagi ini muridku melakukan rutinitasnya. Sepertia biasanya sebelum pelajaran dimulai, mereka berdo’a dengan membaca beberapa surat pendek, bersholawat dan beristighfar. Dilanjutkan dengan menyanyikan satu lagu nasional dengan dipandu salah satu murid yang aku gilir sesuai jadwal piketnya. Kemudian mereka membaca buku non-pelajaran yang berada di pojok perpustakaan kelas selama 15 menit.

Selesai melakukan kegiatan tersebut, pada jam pertama ini muridku belajar matematika tentang perbandingan. Sebelum dimulai pelajaran, mereka kuajak untuk refresh dengan cara bertepuk semangat sampai benar-benar muridku tampak bersemangat. Berikutnya mereka mengucapkankan yel-yel AB3 yang aku adopsi dari bapak Abdul Muid Badrun, SE., MA salah satu pembina GGM Kabupaten Malang. Sudah tiga minggu ini mereka mempraktikkan yel-yel AB3 dengan gaya mereka. Aku ajak mereka untuk menerapkan AB3 didalam kelas maupun diluar kelas.

Pada materi perbandingan, kulakukan dengan cara mengajar ngemil, menerangkan satu indikator disertai rumus, contoh soal, soal dengan bilangan matematika, dan soal cerita. Aku berikan contoh soal cerita dalam kehidupan sehari-hari muridku yang berada di pedesaan agar mereka mampu memahami makna dalam soal cerita.

Selama ini aku sering menemukan murid yang kesulitan menyelesaikan soal cerita matematika. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurang membaca dan tidak paham maksudnya. Untuk bisa memahaminya, menurutku perlu ngemil membaca perkata sambil memahaminya.

Selama ini aku sering menemukan murid yang kesulitan menyelesaikan soal cerita matematika. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurang membaca dan tidak paham maksudnya. Untuk bisa memahaminya, menurutku perlu ngemil membaca perkata sambil memahaminya.

Disamping itu, guru perlu memberikan contoh cara membaca soal cerita dengan cara ngemil yang kemudian diikuti bersama murid. Teknik ini kelihatan sederhana, namun bagi siswa di sekolah dasar akan menambah pemahaman mereka.

Hari ini aku merasa senang karena muridku juga gembira belajar matematika perbandingan.

Terlihat dari antusias mereka berebut mengerjakan soal yang aku berikan. Antar kelompok bersaing positif dan belajar presentasi dimuka kelas.

Menjelang pelajaran usai, kuminta muridku melakukan refleksi pembelajaran hari ini dengan cara menuliskannya di buku catatan khusus literasi yang mereka sampul dengan kertas warna biru cerah. Warna favoritku he he ..

Disinilah aku ingin mengajari muridku menjadi orang literat (meminjam istilahnya Mr. T/ Bapak Sutejo), mereka mampu membaca (tersurat dan tersirat) dan menuliskannya kembali walau dalam bentuk yang sederhana sesuai dengan ukuran pemikiran mereka.

Bagiku kegiatan literasi untuk muridku bisa mereka lakukan sesuai kondisi pembelajaran. Bisa dilakukan di awal sebelum pelajaran dimulai atau ketika melakukan refleksi di setiap akhir pembelajaran, dan bisa juga menjelang jam pulang dengan batasan waktu yang kutentukan.

Dari kegiatan tersebut, mereka juga belajar menulis ngemil. Mungkin saja dari menulis ngemil murid-muridku bisa dijadikan buku Siswa Menulis. He he ..

Disinilah aku ingin mengajari muridku menjadi orang literat (meminjam istilahnya Mr. T/ Bapak Sutejo), mereka mampu membaca (tersurat dan tersirat) dan menuliskannya kembali walau dalam bentuk yang sederhana sesuai dengan ukuran pemikiran mereka.

Salam Literasi
Malang, 7 Maret 2018

Achmida Sufiati Utami. Guru di Sekolah Dasar Negeri 4 Kebonagung kecamatan Pakisaji kabupaten Malang. Pengurus dan Pembina Mapel di kecamatan Pakisaji ( 2011 sampai sekarang). Ketua Gerakan Guru Menulis (GGM) Kabupaten Malang (2018-2010). Pimpinan Umum Majalah GGM Kabupaten Malang

Anak Berbakat, Terlihat Berbeda Tetapi Istimewa

0

AKU ADALAH seorang ibu pada umumnya. Memiliki aktivitas rumah tangga yang luar biasa padatnya. Bukan untukku seorang diri, tapi untuk pengabdianku pada suami. Tidak hanya dalam rumah yang mungil ini aku menghabiskan hari-hari ku, tapi aku juga mempunyai segelintir aktivitas di luar rumah yang lumayan menguras waktu istirahatku.

Apalagi ditambah aku merawat malaikat kecil yang sangat butuh tenaga yang lebih. Kata orang-orang, “Bu, jangan banyak ngurusin anak-anak orang, kasian anaknya,” sering sekali aku mendengar ucapan baik itu terdengar langsung ataupun yang berbisik-bisik di belakang.

Memang aku adalah seorang guru, dan suamiku juga seorang guru, tetapi ini adalah ujian terbesar bagi kami, dianugrahi putra yang memang tidak bisa dikatakan aneh atau mungkin unik  bagi orang yang tidak memahami sudut keistimewaan. Yah, karena kebiasaan yang dia lakukan.

Awalnya memang sangat berat bagi kami berdua menerima hal ini. Sekali lagi aku ungkapkan tidak mudah. Setiap hari keadaan rumah porak poranda, barang berceceran dimana-mana. Suara bising yang membuat hidup ini semakin terusik.

Sudah berapa banyak alat elektronik dibuat mainan oleh anakku. Dia sangat gemar sekali mempermainkan alat-alat yang pada umumnya itu bukan permainan mereka. Bersyukurnya aku diberikan rezeki yang lebih untuk mengganti itu semua. Tapi aku menyadari bahwa hidup ini adalah perjalanan, barangsiapa yang mampu memaknai perjalanannya maka keindahan akan didadapatkannya.

Blender, alat pengering rambut dan lain sebagainya bahkan alat-alat dapurku telah habis dibuat menjadi permainannya. Padahal sudah berapa puluh mainan kami belikan untuknya tapi tidak ada satupun yang masih tersimpan utuh di ruangannya. Dia adalah Denny, seorang anak yang sangat gemar mengotak-atik setiap barang. Apapun itu. Mulai dari entong sayur, tempat makan, sendok makan, dan lain sebagainya.

“Denny…, dimana sendok nasi nak, yang kemarin baru Bunda beli?” Teriakku bertanya pada anakku.

“Di meja Bun, meja tamu,” jawab anakku.

Bukan hal yang biasa ini yang kesekian kalinya. Begitu aktifnya anakku bermain dengan barang-barang rumah, sampai-sampai dia lupa dengan teman-teman bermainnya.

Hal sangat mengejutkanku, sebuah gitar kecil mainan buatan anakku ternyata bisa dibuat sendiri oleh anakku yang dianggap berbeda tadi. Sebuah gitar yang terbuat dari entong sayur. Aku tidak bersedih dianugrahi anak seperti Denny. Aku sangat bahagia. Dia tidak seperti yang orang-orang banyak katakan. Bagiku dia sangat cerdas. Dia membanggakan, meskipun banyak orang yang tidak mengetahui sebenarnya keajaiban apa yang telah dia buat. Maklumlah, anakku lebih banyak diamnya dan menghindari hubungan dengan dunia luar. Jadi yang banyak diketahui orang adalah anakku seorang pengrusak.

“Nak, ini kamu yang membuatnya?” Tanyaku padanya.

“Iya Bunda. Denny pengen dibelikan gitar seperti punya om Ferdi. Minggu lalu kata ayah mau membelikannya tetapi sampai sekarang tidak dikasih-kasih,” jawab Denny polos.

Entah dia belajar dari mana dengan barang-barang ajaib yang telah dibuatnya. Banyak sekali barang-barang dimodifikasi oleh anakku. Meskipun harus merelakan banyak barang yang berharga untuk melihat barang yang istimewa

Mulai dari sinilah aku berhenti membelikan mainan untuknya. Benar apa yang dilakukan oleh suamiku. Tidak selalu membelikan apa yang anak inginkan. Tapi inilah harapan yang sesungguhnya. Dia mampu membuat hal yang baru. Entah dia belajar dari mana dengan barang-barang ajaib yang telah dibuatnya. Banyak sekali barang-barang dimodifikasi oleh anakku. Meskipun harus merelakan banyak barang yang berharga untuk melihat barang yang istimewa.

Anakku memang bukan anak yang pandai bergaul seperti anak lainya. Dia sangat sedikit temannya. Dia lebih suka bermain di dalam rumahnya dengan perabotan rumah tangga dan alat elektronik lainya dibandingan bermain bola dengan teman-temannya. Mungkin inilah yang menyebabkan orang lain memandang berbeda terhadap anakku. Belum lagi anakku yang gemar dengan perlatan-peralatan tersebut yang membuat orang lain merasa kasian terhadapku karena aku aku terus-terusan membeli peralatan tersebut.

Aku juga sempat mengkhawatirkan dengan keadaan tersebut. Dia yang sedikit teman dan selalu menghindar dari keramaian. Tapi dengan apa yang telah diperbuatnya membuat aku berpikir agar keadaan buruk tidak terjadi padanya.

Bukan karena aku seorang guru yang paham segalanya tentang anak, tapi aku belajar dari anakku sendiri dengan apa yang telah diperbuatnya. Aku mengharuskan belajar lebih.

Sempat aku membingungkan hal ini.

Suatu hari yang tanpa sengaja aku bertemu dengan teman kuliahku dulu. Aku mencoba membuka  masalah ini padanya. Aku menyadari ada hal yang istimewa di diri anakku, tetapi aku tidak tau bagaimana aku mengatasi hal tersebut. Aku mengabiskan banyak waktu dengannya untuk berbincang-bincang.

anakku ini adalah anak berbakat. Bukan anak yang berbeda seperti yang banyak orang katakan. Dia juga berkata, aku adalah orang tua yang beruntung mendapatkannnya. Sedikit tidak percaya dengan hal ini, tapi aku mulai melakukan apa yang disarankan temanku.

Kata temanku, anakku ini adalah anak berbakat. Bukan anak yang berbeda seperti yang banyak orang katakan. Dia juga berkata, aku adalah orang tua yang beruntung mendapatkannnya. Sedikit tidak percaya dengan hal ini, tapi aku mulai melakukan apa yang disarankan temanku.

Aku mulai memperhatikan lebih perkembangannya. Saat suatu hari jam dinding di rumah kami berhenti berputar dan kami lupa untuk membenahinya. Tiga hari aku telat masuk mengajar karena lupa mengganti baterai jam dinding dan terkendala kesibukanku yang luar biasa.

Sore harinya aku melihat anakku sibuk dengan HP rusak yang aku singkirkan di gudang. Dengan kesibukanku di dapur, aku juga memperhatikannya mondar-mandir di depanku. Penasaran dengan hal itu, aku diam-diam mengintip apa yang sedang dia lakukan. Dan hal yang mengejutkan terjadi lagi. Terdengar lonceng jam menunjukkan pukul 4 sore.

“Nak, kamu membeli baterai jamnya dapat uang dari mana?” Mencoba bertanya karena aku tahu baterai jam itu mahal. Tidak mungkin dia membelinya dengan uang jajannya.

“Pakai baterai HP yang di gudang Bun. Baterainya masih bisa dipakai kok. Aku pasang kabel di jamnya. Jadi Bunda nggak telat lagi masuk sekolahnya.”

Sedikit membuatku heran. Bagaimana bisa, dia belajar dari mana? Itu yang membuatku bertanya-tanya. Apalagi dia baru kelas 3 SD. Apa memang benar anakku berbakat?

Itu membuatku bertemu lagi dengan temanku dan ternyata memang ada kemungkinnan dalam diri anakku berbakat. Aku mulai sangat memperhatikan perkembangan belajarnya. Tetapi yang membuatku bersedih, dia tidak banyak teman. Katanya memang itu hal yang biasa. Anak berbakat memang mempunyai kelemahan dalam hubungan sosial. Aku tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Aku tidak menginginkan anakku tertinggal pergaulannya dengan teman-temannya. Meskipun yang aku tau dia mampu mengatasi hal itu.

Tanpa berfikir panjang, aku bolos mengajar untuk datang ke sekolah anakku. Aku ingin bertemu dengan guru sekolah Denny. Aku ingin mengetahui banyak hal tentang Denny di sekolahnya.

Denny lebih banyak diam di kelasnya. Akan tetapi Denny siswa yang sangat cerdas. Denny mampu memperoleh nilai yang sangat bagus dibandingkan dengan teman-temannya. Diamnya tersebut dia tidak mempunyai banyak teman Bu. Dia lebih senang bermain sendiri. Tapi ibu jangan khawatir akan hal  itu, mungkin denny belum bisa  menyesuaikan dirinya dengan teman-temanya, hanya butuh waktu saja mungkin bu, saya yakin dengan kekreativan yang dimiliki denny dia akan mempunyai banyak teman nantinya.

“Sebelumnya, saya minta maaf untuk menyampaikan hal ini kepada ibu. Sekian lama saya memperhatikan Denny. Denny bukan siswa yang aktif Bu. Denny lebih banyak diam di kelasnya. Akan tetapi Denny siswa yang sangat cerdas. Denny mampu memperoleh nilai yang sangat bagus dibandingkan dengan teman-temannya. Diamnya tersebut dia tidak mempunyai banyak teman Bu. Dia lebih senang bermain sendiri. Tapi ibu jangan khawatir akan hal itu. Denny mungkin belum bisa menyesuaikan dirinya dengan teman-temanya. Hanya butuh waktu saja mungkin Bu. Saya yakin dengan kreatifitasnya yang dimiliki Denny, dia akan mempunyai banyak teman nantinya,” kata Wali kelas Denny padaku.

Memang benar adanya. Tidak hanya di lingkungan rumah, tenyata di sekolah pun Denny tidak banyak bersosialisai dengan teman-temanya.

Aku mulai bertanya-tanya lagi. Bagaimana cara agar anakku tetap tidak tertinggal untuk masalah pergaulan, meskipun dia memiliki hal yang istimewa. Aku mulai membaca banyak buku tentang hal ini. Sedikit aku mulai mengarahkan anakku untuk menyukai bermain di luar.

Awalnya aku bingung memulai dari mana. Apalagi anakku yang telah terpengaruh dengan kebiasaanya yang suka sediri. Aku mulai banyak bicara dengan anakku. Mulai melatihnya untuk berkomuikasi yang banyak denganku. Aku bertanya ini-itu kepadanya. Dari apa yang ia kerjakan, bagaimana dia bisa membuat aneka ketrampilan, dan keingintahuanku terhadap ketrampilannya. Dia memang senang belajar sendiri, tetapi karena aku juga mendukungnya, aku mengenalkannya dengan dunia yang ia sukai. Dia bisa belajar banyak di situ.

Aku melihat beberapa kemajuan darinya. Dan yang aku sukai, dia sudah tidak lagi suka menyendiri, tetapi dia mampu menghadapi dunianya.

Dia kemudian saya ikutkan ke beberapa kursus. Dari kursus-kursus yang diikutinya, tentunya dia sendiri yang memilih tempatnya. Aku hanya mengarahkan saja. Aku melihat beberapa kemajuan darinya. Dan yang aku sukai, dia sudah tidak lagi suka menyendiri, tetapi dia mampu menghadapi dunianya.

Itu semua adalah caraku untuk anak berbakatku. Tentunya dengan tangan orang lain juga, aku mampu membuatnya tidak hanya berbeda tapi istimewa.

Kekerasan Terhadap Anak, Harga Sebuah Komunikasi !

0

KETIKA MASIH duduk di bangku SD kelas IV, alhamdulillah, saya dipertemukan oleh seorang ibu guru yang cantik, penuh keibuan, dan penyabar. Beliau lebih familier dengan panggilan Ibu Yati, berasal dari kota Malang. Pada suatu waktu beliau mengajarkan pribahasa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dari beberapa pribahasa yang beliau contohkan dan hal tersebut masih melekat dalam benak pribadi saya karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Pribahasa tersebut sangat berkaitan dengan pokok penilaian aplikasi ranah sikap, yaitu Kompetensi Inti Dua (KI-2) atau Sikap Sosial. Arti dan makna yang tersirat dalam pribahasa tersebut adalah hanya karena kesalahan kecil yang kurang berarti kemudian mampu meluluhlantahkan (seluruh) kebaikan yang pernah dialami sebelumnya.

Paragraf di atas sebenarnya menjadi sebuah pengantar analisa sikap terhadap terjadinya sebuah kasus yang melibatkan anak didik kami di sekolah. Adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang masuk pada ranah hukum. Hukum kriminalitas atau lebih bersifat pidana. Sudah cukupkah syarat adanya kasus ini menurut pasal-pasal UU KPAI No. 35 tahun 2014. Atau apalah namanya yang sebenarnya saya kurang mengerti pula. Capek deh…. !

Suatu hal yang tidak biasanya, siswa riuh di luar kelas pada saat jam istirahat. Ya, mulai bisik-bisik tetangga. Bertanya sana-sini. Ada apa ya ? Ada apa ya ? Tak hanya siswa, rekan-rekan guru pun terkejut setengah mateng. Ada apa ya kok baru kali ini ada polisi berpakaian dinas masuk sekolah ? Apa ada guru yang berbuat kasus lalu dilaporkan pada polisi ? Maklum, belakangan ini memang sudah mulai marak kasus kekerasan oleh guru (menurut versi mereka) dilaporkan ke polisi atas nama HAM. Selidik punya selidik ternyata dalam kasus ini bukan oleh guru, melainkan oleh familinya sendiri, yaitu saudara sepupunya.

Kronologi kasus tersebut bermula dari adanya kehilangan HP. Konon, harmonisasi rumah tangga siswa kami, sebut saja si A berantakan. Kedua orang tuanya bercerai pada saat dia masih dalam kandungan. Dia punya saudara seorang laki-laki, dan sekarang sudah berumah tangga. Dalam usia kanak-kanak ibunya merantau ke Riau Sumatera. Ayahnya pun ke Malaysia. Nenek dari ibunya pun berangkat jadi TKW di Arab Saudi. Hampir genap dalam usia 10 tahun dia dalam asuhan pamannya, yaitu saudara laki-laki dari bapaknya sehingga sekarang si A duduk di kelas V.

Awal cerita, HP milik saudara sepupu laki-laki suatu waktu hilang. Dicarinya ke sana ke mari tak kunjung ketemu. Si empunya marah dan melampiaskan kekesalannya pada si A. Dimintanya untuk dikembalikan. Padahal si A sudah menyampaikan bahwa dirinya tidak tahu dan tidak mengambilnya. Lalu si empunya mengambil sapu lidi dan memukulkannya 2 kali pada betis si A. Alhasil ujungnya melukai kulit betisnya dan berdarah-darah. Yang melerai adalah pamannya sendiri yang mengasuhnya, yang membesarkan dia. Dalam amarah tersebut saudara sepupunya menghardik dan menyuruhnya pergi pada saudaranya di mana saudara laki-lakinya tinggal. Dalam keadaan sedih dan kalut akhirnya si A berlari sejauh 2,5 km ke rumah saudaranya. Dilaporkannya kejadian tersebut pada saudaranya. Lalu melalui saudaranya pula disampaikan pada neneknya yang berada di Arab Saudi. Dalam keadaan tidak paham terhadap persoalan yang sebenarnya berlanjut melaporkannya pada polisi setempat.

Dalam kerangka konfirmasi datanglah Pak Polisi ke sekolah. Dari sinilah semuanya terungkap mengapa polisi datang ke sekolah yang membuat rasa takut karena tidak biasanya. Sekarang kasus tersebut sedang dikaji dan dalam penangana polisi.

Yah, demikian kejadian sebenarnya. Yang tak habis pikir dalam benak saya mengapa kasus sekecil ini harus diselesaikan di meja hukum? Tidakkah ada jalan komunikasi yang mampu meredam situasi ini? Tidakkah ada rasa berbaik-baik sangka dalam pencarian solusi. Inilah pernyataan-pernyataan yang bergelayut dalam pikiran saya sebagai seorang guru yang kemudian juga terlibat dalam proses konfirmasi sepihak-sepihak di sekolah dalam proses penyelidikan. Kalau belumlah perlu, jalan kekeluargaan adalah utama dalam proses musyawarah.

Ternyata betapa pentingnya membangun komunikasi dalam sebuah relasi, termasuk dalam keluarga. Silaturrahim sangat penting. Proses berkehidupan tidaklah hanya dapat ditebus dengan uang semata. Harus terbangun jalinan yang intens. Komunikasi untuk saling memberi dan menerima nasihat.

Jika boleh berhayal, betapa sang paman dengan demikian indah dan cintanya mengasuh selama 10 tahun harus rusak seketika. Betapa telah berjuta-juta jasa kemuliaan yang diberikannya berbanding lurus dengan dengan anaknya sendiri. Di sekolahkannya untuk menjadi anak yang cerdas duniawi. Dimasukkan dalam madrasah diniyah sore agar menimba ilmu ukhrawi. Ke langgar pun dilakukan agar dia bisa mengaji dan berkembang menjadi anak solihah. Masyaallah, mengasuh anak manusia bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Bagaimana bertanggung jawab atas segala hal. Katakan, walau suatu misal nafkahnya sudah dicukupi, itukah yang mereka berikan balasannya dalam hal pengasuhan ?

Ternyata betapa pentingnya membangun komunikasi dalam sebuah relasi, termasuk dalam keluarga. Silaturrahim sangat penting. Proses berkehidupan tidaklah hanya dapat ditebus dengan uang semata. Harus terbangun jalinan yang intens. Komunikasi untuk saling memberi dan menerima nasihat. “Ta’awanu ‘alal birri wattaqwa, wala ta’anu ‘alal itsmi wal’udwan”. Tolong menolong harus didasari nilai kebaikan dan ketakwaan. Begitu juga jangan tolong menolong dalam hal perbuatan dosa dan keburukan.

Kasus ini hendaknya dapat menjadi buah pembelajaran dalam mengambil sebuah tindakan. “Syawirhum fi al-amri.” Jalan musyawarah adalah jalan terbaik dan dapat menjadi wadah kedamaian dan perdamaian. Janganlah kita ada dalam pribahasa, air susu dibalas air tuba. Semoga kasus semacam ini tidak akan terjadi lagi sebab buah nilai investasi pendidikan yang diterima kelak dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ahmad Rasyid. Kepala SDN Padangdangan I dan Ketua Tim Peningkatan Kegiatan Pendidikan SD (TPKPSD) pada Gugus SD 03 Kecamatan Pasongsongan Sumenep

Menanamkan Karakter Disiplin Pada Siswa, Bagaimana Caranya ?

0

BANYAK CARA yang kita lakukan dalam membentuk karakter agar siswa selalu disiplin. Kegiatan harian sebenarnya juga dapat dikembangkan untuk melatih kebiasaan anak memiliki perilaku berdisiplin.  Karakter disiplin bisa dilakukan di rumah atau di sekolah. Di rumah dilakukan oleh orang tua, sedangkan di sekolah dilakukan oleh Guru sebagai fasilitator siswa belajar lebih baik.

Kegiatan – kegiatan yang dilakukan guru di sekolah untuk membentuk karakter disiplin, antara lain ;

Siswa melaksanakan piket. Dalam pelaksanaan piket setiap hari, siswa diberi jadwal agar pelaksanaan piket berjalan lancar. Dengan hal ini siswa akan selalu rutin mengerjakan tugas dan kewajibannya tanpa paksaan. Piket juga mendidik siswa selalu tertib dan disiplin. Jika ada kelas kotor siswa akan terbiasa membersihkan kelasnya.

Berbaris sebelum masuk kelas. Berbaris merupakan langkah awal mendisiplinkan murid, sebab di dalam gerakan berbaris dibutuhkan konsentrasi terhadap suatu masalah. Misal lencang depan kalau para peserta tidak konsentrasi tidak akan kompak dalam melaksanakan lencang depan. Konsentrasi dalam aba – aba inilah yang membuat peserta dididik bisa diajak disiplin. Dalam pelajaran baris berbaris kita dituntut tegas dalam memberi aba – aba. Dalam berbaris kita telah menerapkan pelajaran ektrakurikuler pramuka tercantum dalam dasa dharma pramuka yang ke delapan, yaitu: Disiplin, berani, dan setia.

Jadi tegas bukan berarti keras. Tegas dalam memberi komando lantang dan terarah, kalau keras kesannya menyakitkan, baik hati maupun fisik. Dengan komando terarah ini para peserta didik tidak merasa dipaksa, tetapi merasa dibimbing, diarahkan. Jadi dalam melaksanakan komando mereka merasa nyaman, merasa terlindungi, dan merasa dilatih menuju tindakan lebih baik. Beda dengan keras, kalau keras mereka merasa dipaksa jadinya kurang kompak.

Berdoa sebelum pelajaran dimulai. Berdoa berarti memohon atas ridha Allah Swt, yang dilakukan dengan khidmat atau khusuk. Dalam hal ini jika dilakukan setiap hari, sebelum pelajaran dimulai dan sesudah pelajaran dalam setiap berdoa kita laksanakan selama 5 menit. Jadi kalau kita laksanakan setiap hari 5 menit anak terbiasa melakukan disiplin.

Membaca Juz ‘amma setiap hari Jum at sebelum pelajaran dimulai. Mengingat hari Jum’at adalah hari yang paling baik dalam sabtu Minggu, jadi hari baik ini kita pergunakan membentuk karakter siswa. Dalam mengajak siswa untuk membaca Juz amma ini tidak harus 38 surat, tetapi kita sesuai dengan situasi dan kondisi materi pokok yang akan kita ajarkan selanjutnya. Jika materi pokok yang akan kita ajarkan agak sulit, maka pembacaan Juz ‘amma kita kurangi kira – kira kita baca 20 surat. Kalau kondisi pas memungkinkan kita baca lebih dari 20 surat.

Terdengar suara adzan kita biasakan berhenti sejenak dalam segala kegiatan. Sebelum ada adzan berkumandang siswa kita beri pengertian dan nasehat setiap ada adzan berkumandang, harus kita dengarkan. Kegiatan ini jika kita laksanakan secara rutin siswa akan terbiasa. Terbukti setiap adzan berkumandang, mereka saling mengingatkan teman-temannya, walaupun pada waktu itu sedang melaksanakan ulangan harian. Setelah adzan selesai mereka terbiasa membaca doa setelah adzan.

Kebiasaan seperti melaksanakan piket, berbaris sebelum masuk kelas, berdoa sebelum dan sesudah mulai pelajaran, dan khusuk mendengarkan adzan yang sedang berkumandang, ke depannya akan terbentuk menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, disiplin dan bertanggung jawab sesuai dengan tujuan pendidikan nasional “Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratif serta bertanggung jawab.”

Betapa bahagianya kita bangsa Indonesia, jika tujuan yang mulia ini bisa terwujud dengan maksimal. Ke masa depannya juga akan terbentuk masyarakat yang bertaqwa, sehingga negara menjadi aman, tentram, dan sentosa. Amin

Malang, 1 Maret 2018

Khusnul Khotimah. Guru di SDN I Karangduren, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang

Antara Meninggalkan Pasangan Hidup atau Tetap Setia

0

Pertanyaan menggelitik dan mengguncang terlontar seperti ini, “apa yang harus dilakukan istri dan keluarga, saat suami atau bapak berada di titik nadir seperti tersandung kasus korupsi, sakit keras yang lama, bangkrut dan lain sebagainya? Setiap orang selalu berharap ketika memutuskan memilih pasangan hidup, pastinya selalu bermimpi akan menjadi pasangan yang selalu bisa saling berbagi kebahagiaan sepanjang masa.

Perjalanan dinamika hidup pasangan tidak selamanya berjalan menggembirakan. Naik turunnya kebahagiaan pasangan selalu ditentukan oleh kualitas relasi pasangan. Apapun masalahnya yang dihadapi oleh pasangan, baik dari si suami atau istri, situasi kebahagiaan berikutnya tetap ditentukan oleh terganggu tidaknya kualitas relasi tersebut.

Kualitas relasi ditentukan oleh kebutuhan dasar seseorang untuk mencintai pasangannya (need of lover). Kebutuhan ini kadang penuh teka-teki dan ditemukan justru kadang disaat hubungan itu menghadapi masalah. Ketika seorang menghadapi masalah dengan pasangan, seseorang akan mereaksi berdasarkan kebutuhan dasarnya. Di sinilah sebenarnya kualitas pasangan dapat dilihat ketika seorang suami dirundung masalah hebat.

Memaknai Penderitaan

Menyitir pendapat sufi besar Bayazid Bustami dan psikologi eksistensialis Erich Fromm (terj. 2015), cinta adalah relasi memberi dalam arti yang besar bagi yang dicintainya. Dengan begitu, kualitas cinta dibangun dari kemampuan memberi cinta, bukan menerima atau menuntut cinta dari orang yang dicintai.

Suatu contoh, jika suami menuntut istri selalu memberikan pelayanan membuatkan kopi ketika sepulang kerja, maka saat tidak ada secangkir kopi tersaji saat pulang kerja, pudarlah arti seorang istri. Sebaliknya, saat suami memahami istri tidak bisa melayani membuatkan kopi, maka seorang suami akan mengolah pikiran dan emosinya untuk latihan menerima. Selebihnya, suami menemukan pemahaman mengapa kopi tidak tersaji.

Jika demikian, cinta diartikan lebih besar ke kemampuan pasangan hidup dalam memberikan kebahagiaan. Kualitas relasi pasangan yang saling memberi tentunya akan menentukan cara pasangan menghadapi situasi tragis. Ketika situasi tragis tersebut lahir dari kekuatan memberi, maka situasi tragis akan mampu disikapi dan dihadapi untuk mendapatkan kebermaknaan hidup. Jika demikian, setiap pasangan akan selalu bertahan untuk tetap menjadi pendamping setia. Termasuk istri dengan suami yang sedang menghadapi masalah tragis.

Kualitas relasi pasangan yang saling memberi tentunya akan menentukan cara pasangan menghadapi situasi tragis. Ketika situasi tragis tersebut lahir dari kekuatan memberi, maka situasi tragis akan mampu disikapi dan dihadapi untuk mendapatkan kebermaknaan hidup.

Ketika dasar cinta diliputi oleh kebutuhan menerima atau diberi, maka situasi tragis akan rentan konflik dan hubungan pasangan terguncang. Kita bisa menyaksikan ketika hubungan tersebut sudah saling tidak memuaskan, maka hubungan tersebut berada di ujung tanduk. Oleh karena itu, ketika suami dirundung masalah, kualitas relasi dua sudut pandang tersebut yang akan menentukannya. Bagi yang relasinya bagus, situasi tragis dapat dibangun makna hidup yang lebih positif dan orang akan tetap setiap mendampingi pasangannya.

Bagi seorang suami yang dirundung masalah atau ujian, pun seharusnya mulai berinstrospeksi, apakah dasar cinta yang sudah dibangun telah memberikan fondasi relasi yang seimbang dan berkualitas. ? Tidak hanya pada suami, tetapi juga pada istri. Jika berkualitas, maka istri akan menjadi sumber pendukung penting dalam menghadapi masalah. Sebaliknya, ketika mengalami ketimpangan relasi maka dukungan sosial yang datang dari istri akan diuji ?

Pasangan akan menjadi pendukung emosional yang tetap mampu menemukan arti hidup suami meskipun dalam situasi tragis. Dukungan tersebut akan menguatkan emosi dalam memaknai penderitaan. Suami jauh akan lebih bertumbuh positif dalam menghadapi  situasi krisis

Lantas, bagaimana gambaran situasi psikis suami ? Tetap, kualitas jiwanya ditentukan oleh nilai kehadiran pasangan. Jika sebelumnya suami memiliki relasi yang dipenuhi layanan pasangan yang transaksional, maka disaat situasi krisis tersebut mendera, bisa jadi suami akan kehilangan pemenuhan kebutuhannya. Suami jelas akan terasa kehilangan dukungan. Tetapi ketika kualitas relasi sebelumnya dimaknai saling memberi, maka suami kemungkinan tetap akan mendapatkan kualitas relasi yang baik dengan pasangan, yakni istrinya. Oleh karena itu, bukan bagaimana istri seharusnya bertindak, tetapi relasi apa yang telah dibangun sebelumnya.

Pasangan akan menjadi pendukung emosional yang tetap mampu menemukan arti hidup suami meskipun dalam situasi tragis. Dukungan tersebut akan menguatkan emosi dalam memaknai penderitaan. Suami jauh akan lebih bertumbuh positif dalam menghadapi  situasi krisis