Sabtu, Agustus 29, 2026
Beranda blog Halaman 91

Memahami Pandangan Dunia Murid

0

Ajarilah anakmu nama dan sifat Tuhan, kemudian ukir nama dan sifat Tuhan itu kedalam sanubari mereka. Namun, jangan lupa leburkan nama dan sifat Tuhan kedalam perilaku mereka (Amka).

Murid kita laksana anak-anak kita yang memiliki sarat nilai, pengetahuan dan pengalaman yang menjadikan mereka memutuskan untuk bertindak dan berperilaku. Perilaku mereka kadang ditentukan karena doktrin-doktrin nilai yang ditransfer dari orang tua mereka, atau bisa jadi ditentukan lingkungan atau budaya yang berkembang dari lingkungannya, setiap hari mereka merekam perilaku orang tua, masyarakat kemudian mereka mencoba memahami perilaku itu, lalu dihayati dan pada akhirnya diputuskan dalam suatu tindakan. Tindakan mereka itu sebagai akibat dari perekaman, pemahaman dan penghayatan lingkungan sekitar dan menjadi sistem konsep dan nilai atau saya sebut sebagai pandangan dunia murid.

Sebagai seorang guru yang bijaksana, maka seyogyanya mereka memahami sistem konsep, nilai dan perilaku ini sehingga guru akan menyesuaikan dengan beberapa pendekatan agar bisa memahamkan pesan atau materi yang disampaikan. Kadang seorang guru memberikan studi kasus tertentu dan meminta agar dibahas dan dipecahkan murid, dari studi kasus tersebut seorang guru sudah menyiapkan perangkat penilaian kompetensi yang diharapkan agar bisa memastikan bahkan mengkategorikan murid pada kategori kompetensi tertentu. Seorang guru hendaknya menentukan tujuan pembelajaran terlebih dahulu sebelum memberikan materi atau studi kasus tertentu. Tujuan pembelajaran atau capaian pembelajaran yang ditentukan harus berkaitan dengan perilaku atau kompetensi yang diharapkan.

Dari sudut pandang murid kadang materi menjadi daya tarik mereka karena bisa jadi karena materi yang disampaikan guru terdapat kesamaan dengan pandangan dunia yang mereka anut. Tapi kadang materi menjadi hal yang membosankan bagi mereka, karena banyak aspek misalnya aspek gaya mengajar guru, aspek muatan kompetensi yang berat, aspek waktu penyampaian bertepatan di akhir jam pelajaran dan lain sebagainya.

Murid selalu mengaitkan materi dengan pengalaman mereka, mereka berkeyakinan bahwa materi yang disampaikan oleh seorang guru ada pada kehidupan mereka. Maka ketika seorang guru yang mencoba menyampaikan materi tertentu, namun tidak terjadi pada pengalaman mereka bisa jadi materi itu menjadi materi yang sifatnya informatif saja, dan tidak mampu mempengaruhi mereka. Seorang guru hendaknya pandai memilih materi yang akan disampaikan dan memilih topik yang selalu update, karena pengalaman murid seringkali juga ditentukan dengan informasi terkini dan menjadi perbincangan di kalangan mereka. Murid juga selalu mengaitkan materi dengan kekuatan daya pikir mereka. Mereka berpandangan bahwa materi yang disampaikan oleh seorang guru berkaitan dengan kemampuan mereka. Maka seorang guru hendaknya selalu menanamkan motivasi kepada muridnya bahwa materi ini sangat menyenangkan dan mudah untuk dipahami.

Murid juga seringkali beracuan pada perilaku dan ungkapan gurunya, mereka selalu memberikan argumen tertentu dengan mengacu pada rekaman mereka pada perilaku dan ungkapan gurunya. Hasil rekaman itu kemudian diyakini murid menjadi satu pandangan dunia, ketika pandangan dunia itu berefek pada ketercapaian tujuan murid, maka menjadi pandangan dunia yang positif bagi motivasi belajar murid. Namun ketika pandangan dunia itu berefek pada kegagalan murid dalam mencapai tujuan pembelajarannya, maka akan menjadi pandangan dunia yang negative murid untuk mempelajari lebih dalam terhadap materi yang disampaikan oleh seorang guru.

Keyakinan murid adalah modal yang berharga

Untuk menjaga pandangan dunia murid agar menjadi pandangan dunia yang selalu positif dan bermakna, maka murid hendaknya selalu memiliki keyakinan bahwa materi yang disampaikan guru itu menyenangkan, mudah dipelajari, bermanfaat bagi kehidupan mereka. Murid harus senantiasa melakukan scanning terhadap virus negatif yang masuk kepada keyakinan mereka. Virus negatif itu bisa berupa rasa bosan, malas berfikir, lambat merespon dan selalu menunda pekerjaan, tidak konsentrasi pada materi dan tidak rileks menyelesaikan pekerjaan yang mereka hadapi dan lain sebagainya.

Rasa bosan seringkali menjangkiti murid ketika belajar. Bosan biasanya diawali dengan keyakinan murid bahwa materi yang disampaikan guru sudah pernah disampaikan, atau bisa karena gaya penyampaian materi kurang menarik. Jika sudah melihat gejala seperti ini hendaknya murid sesegera mungkin mengubah keyakinannya bahwa materi yang disampaikan adalah materi yang baru dan menarik, kemudian murid berusaha menggali materi tersebut dari sumber yang lain agar semakin memperkuat perspektif bahwa materi itu adalah bahan lama.

Malas berpikir, merupakan gejala tidak berkembangnya ide dan konsep di dalam pikiran murid. Gejala ini biasa disebabkan perasaan dan keinginan murid tidak dilibatkan ketika proses belajar terjadi. Menghadapi realitas seperti ini hendaknya murid menumbuhkan rasa ingin tahun (curiosity) dengan mengaitkan materi yang disampaikan guru dengan fenomena mutakhir atau fenomena yang unik yang pada saat itu dia mengalami fenomena tersebut. Selalu menunda pekerjaan juga menjadi gejala negatif murid di dalam kelas. Gejala ini biasanya ditandai dengan respon yang lambat ketika diberikan tugas tertentu oleh seorang guru. Seorang murid ketika dalam posisi seperti ini hendaknya memaksakan diri untuk minimal melihat pekerjaan itu kemudian mendiskusikan dengan temannya agar masih terikat dengan tugas itu.

Malas berpikir, merupakan gejala tidak berkembangnya ide dan konsep di dalam pikiran murid. Gejala ini biasa disebabkan perasaan dan keinginan murid tidak dilibatkan ketika proses belajar terjadi.

Penting ditanamkan niat serta membiasakannya ketika mereka mengawali pelajaran. Niat akan menjadi pintu gerbang murid untuk membuka mental blok yang menghambat aktivitas proses belajar. Setelah ditanamkan niat, maka perlunya ditunjukkan dengan usaha yang maksimal kemudian ketika akhir pelajaran perlu ditutup dengan relaksasi pikiran murid, agar mereka sadar bahwa niat dan usaha keras mereka pada ujungnya akan berhasil sesuai dengan kadar kemampuan mereka. Wallahu a’lam bi al Sawab

Amka,
Malang, 25 Februari 2018

Liburan Indie, Menemukan Pendidikan Sebenarnya di Luar Sekolah

0

Bertemu untuk Lebih Dekat

“Api yang dihasilkan lebih stabil birunya, sehingga proses memasaknya jadi lebih cepat”, ujar Pak Wasis menjelaskan panjang lebar tentang biogas. Saya dan Ibu Erma memperhatikan dengan seksama.

Walau sudah kenal lebih dari 4 tahun, baru kali ini saya mengerti betul tentang biogas dari Pak Wasis, mulai dari instalasi hingga pengembangan diluar dari penggunaan bahan bakar. Biogas adalah sebutan gas yang dihasilkan dari kotoran. Umumnya menggunakan kotoran sapi, tetapi bisa juga dengan kotoran ayam bahkan manusia sekalipun.

Saya sengaja datang berlibur dari ibukota ke kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember. Perjalanan panjang dan lamaaaa dimulai dengan menempuh perjalanan darat dari Malang ke Surabaya. Saya menjemput Ibu Erma di Surabaya. Beliau kawan lama bapak Wasis dan seorang aktivis kebudayaan dan perempuan.

Kenapa harus menjemput? Karena kami sama-sama diiming-imingi kolosal pergelaran seni dari Pak Wasis dan sebagai seorang aktivis, saya beranggapan Ibu Erma pasti sering melanglang buana, termasuk ke Jember, jadi saya tidak perlu plonga-plongo untuk sampai di Jember.

Bersama Ibu Erma saat berada di Jember

“Saya juga tidak pernah ke Jember loo, Pung. Pernah sih dulu pas masih kuliah”, alamak! Ekspektasi hancur. Satu hal yang tetap layak disyukuri, saya tidak sendiri plonga-plongo di jalan. Yeay.

Sepanjang perjalanan saya ngobrol banyak hal dengan Ibu Erma. Saya jadi tahu betapa Ibu Erma membebaskan anaknya mencoba berbagai hal, saya tahu beliau LDR dengan sang suami dan saya tahu dalam dirinya mengalir darah Sumba.

“Tante saya telepon, dia bilang di Sumba sudah bagus. Hotel berbintang sudah ada”, ucap Ibu Erma kondisi Sumba saat ini.

Belajar Indie

Banyak cara yang dapat menjadikan kita menjadi tahu banyak hal. Misal baca buku, ke sekolah/kampus dan menonton televisi. Beberapa orang lugu mendapatkan ilmu setelah baca pesan berantai yang minta disebarkan di grup WhatsApp. Ilmu ada dimana-mana, bertebaran seperti isu-isu provokasi di tahun politik.

Saya memiliki cara tersendiri untuk belajar hal-hal yang ingin saya pelajari di luar jalur formal akademik. Saya tidak tahu,maka saya menulis. Saya tidak tahu, maka saya travelling. Saya tidak tahu, maka saya bertemu banyak orang. Beragam cara memperoleh ilmu, sehingga sekolah tidak lagi saya anggap sebagai satu-satunya cara melahirkan orang terdidik. Sekolah hanya menjadi salah satu alternatif dari banyaknya pilihan untuk belajar.

Beragam cara memperoleh ilmu, sehingga sekolah tidak lagi saya anggap sebagai satu-satunya cara melahirkan orang terdidik. Sekolah hanya menjadi salah satu alternatif dari banyaknya pilihan untuk belajar.

Perjalanan ke Jember sejatinya bukan hanya untuk mengisi waktu liburan, tetapi cara saya belajar melalui travelling, bertemu banyak orang sebelum akhirnya menuliskannya. Saya tengah memberi hadiah ulangtahun kepada diri sendiri. Hadiah yang jauh lebih berharga dari sebuah benda ataupun perayaan dengan makan-makan; yakni belajar indie.

Konsep belajarnya berasal dari studi tour yang sering dilakukan ketika sekolah dulu. Bedanya jika study tour lebih banyak rasa liburan daripada belajar, maka belajar indie menjadikan liburan rasa belajar. Belajar indie menjadikan saya belajar dari lokalitas daerah yang saya datangi atau apapun yang saya temui di sepanjang perjalanan.

Belajar indie adalah cara menjadikan kehidupan sebagai ruang belajar untuk semua orang. Maka setiap perjumpaan dengan orang lain, temuilah dengan tatapan bahwa dia individu yang unik. Sehingga saya mampu belajar dari perjalanan hidup orang lain. Belajar indie menjadikan semua guru dan semua murid. Selayaknya guru yang menjadi sumber informasi dari muridnya, bisa jadi apa yang diceritakan oleh orang lain menjadi pengetahuan.

Saya jadi tahu dari Ibu Erma, betapa saudara-saudara kita di Sumba sedang bergembira dengan pembangunan yang sedang terjadi di sana. Kebahagiaan mereka terekam sederhana dengan mengajak Ibu Erma pulang kampung ke Sumba karena di sana sudah ada hotel berbintang. Hanya hotel berbintang, tetapi hal ini membuat saya paham bahwa pemerintah saat ini mengupayakan pembangunan merata.

Dari kisah Pak Wasis yang memutuskan keluar dari perusahaan biogas dengan alasan sederhana; sudah tidak menemukan tantangan. Lalu kemudian menjadi petani di Ambulu. Suatu hal yang antimainstream, saat beberapa teman saya alumni fakultas pertanian, sibuk bertani karier pada perusahaan-perusahaan.

Alama sea-sea mua

Sepanjang jalan pulang dari Jember, saya teringat sebuah lagu yang sering saya nyanyikan di depan kelas. Judul lagu tersebut alama sea-sea, menggunakan bahasa Bugis halus dan tidak ada yang tahu siapa pengarangnya. Liriknya seperti ini:

Alamasea sea mua, tau na ompo ri sesse’ kale. Nasaba riwettu baiccu’na, de’ memeng na engka na’guru. Baiccu’ ta mitu na wedding siseng narekko battoa ni’ masussani. Nasaba’ maraja nawa-nawani, enrenge pole toni kuttue.

(Alangkah sia-sianya hidup manusia yang disertai dengan penyesalan, karena semasa muda dia tidak pernah belajar. Masa mudalah belajar itu sangat diperlukan, karena jika telah tua akan sangat susah. Sebab sudah banyak hal yang dipikirkan dan kemalasan pun menghampiri).

Lagu ini memberikan pesan tentang pentingnya menimba ilmu, terutama di masa muda. Saya mengalami sendiri ketika para orang tua menceritakan susahnya belajar. Ada yang karena tidak bisa duduk lama, harus pakai kacamata dan ada yang terkendala kesibukan kerja. Saya pun sering kali dipesankan oleh orang tua yang saya temui agar tekun dan serius untuk belajar, alasan mereka mumpung masih muda dan belum berkeluarga.

Atas dasar mumpung masih muda, persendian tidak nyeri dan fisik masih josgandos, menjadi alasan kenapa saya betah di perantauan. Mengambil banyak kesempatan pengalaman kesana kemari dan tertawa. Belajar indie dengan travelling, bertemu banyak orang sebelum akhirnya menuliskan adalah proses melahirkan pemaknaan akan kehidupan yang kaya ilmu kearifan.

Belajar indie dengan travelling, bertemu banyak orang sebelum akhirnya menuliskan adalah proses melahirkan pemaknaan akan kehidupan yang kaya ilmu kearifan.

Travelling membuat saya paham keanekaragaman nilai-nilai kehidupan. Bertemu banyak orang membuat saya belajar banyak hal yang tidak saya temui atau ketahui, terakhir menuliskan memperkaya refleksi diri sebagai pemahaman dan cara pandang kepada dunia.

Penutup, semua cerita dan hal-hal yang saya amati sepanjang belajar indie menjadi pelajaran yang berharga. Pelajaran tentang kearifan hidup yang tidak saya temui dari lembaga pendidikan. Belajar indie menghindari saya dari sindiran puisi Seno Gumira Ajidarma.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” (Menjadi Tua di Jakarta).

Membandingkan Anak, Itu Kejahatan!

0

“Nih lho Dik, temenmu pas Play Group juara nari. Hebat, kan? Lha soale dia kendel kok, makanya juara. Kalau kamu nggak kendel, ya nggak juara!”

“Lha gambarannya bagus kok, ya jelas menang. Lha kamu? Nggambar kok kayak bening ruwet!”

“Dia diterima di SMPN 1 lha Kak, Wong juara satu. Kakak sih, kalau dikasih tahu Ibu ngeyel! Ya udah, jadi mepet kan nilainya? Mau sekolah di mana kamu, Kak? Malah mumet Ibu!”

Ayah & Bunda pernah mendengar atau melihat sikap orang tua yang seperti itu? Menekan dan menyalahkan anak atas hasil perjuangannya. Membandingkan anak dengan orang lain. Menuntut anak agar menjadi the best, sesuai dengan keinginannya. Saya pernah, sering bahkan.

Ya, tak jarang, orang tua keliru dalam memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak. Inginnya memberikan motivasi agar anak lebih giat lagi dalam belajar, eh tapi malah membandingkan dengan orang lain. Disadari atau tidak, itu adalah tindakan yang menyakiti batin anak. Mengapa harus membanding-bandingkan? Toh, orang tua bisa memilih cara yang baik dan menyenangkan hati anak. Misalnya, dengan mengatakan:

“Dik, ingat nggak temen kamu di Play Group yang pinter nari? Nah, iya Fina. Hebat ya, Dik? Adik masih suka nari nggak, pingin ikut lomba nari nggak? Kapan-kapan, kita coba ikut lomba nari yuk, Dik? Biar dapet pengalaman.”

“Nggak apa-apa, Dik. Kemenangan bukan tujuan kita mengikuti perlombaan. Adik kan tahu, dalam perlombaan itu selalu ada dua kemungkinan. Menang atau kalah. Kalau kita menang, kita akan mendapatkan dua keuntungan. Kemenangan dan pengalaman. Kalau kita kalah, kita tetap akan mendapatkan pengalaman dan kemenangan? Lho, kok kemenangan? Iya, kemenangan melawan rasa takut dan tidak percaya diri kita.”

“Ibu bangga sama kamu, Kak. Akhirnya, kamu lulus SD dengan hasil perjuangan kamu selama ini. Alhamdulillah, terima kasih ya Kak? Semoga nanti Allah pilihkan sekolah yang terbaik buat kamu.”

Nah, Ayah & Bunda, bagaimana dengan contoh yang saya berikan? Lebih hangat, dekat dan penuh kasih sayang kan? Sebenarnya, tidak sulit kok, untuk menjadi orang tua yang dewasa, cerdas, tenang dan bijak dalam membersamai perjalanan hidup anak. Cukup dengan kesabaran hati, kekuatan jiwa, kecerdasan pikir, rasa dan karsa yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang.

Dengan kesabaran hati, kita akan menerima anak dengan lapang dada. Menerima segala sisi yang ada dalam diri anak, baik kekurangan maupun kelebihan.

Kekuatan jiwa, akan membuat kita mampu membantu anak untuk memaksimalkan kelebihan diri. Bukan hanya itu, kekuatan jiwa juga akan membantu anak untuk meminimalkan kekurangan diri. Bahkan, mengolah kekurangan menjadi keistimewaan.

Kekuatan jiwa, akan membuat kita mampu membantu anak untuk memaksimalkan kelebihan diri. Bukan hanya itu, kekuatan jiwa juga akan membantu anak untuk meminimalkan kekurangan diri. Bahkan, mengolah kekurangan menjadi keistimewaan.

Begitu juga dengan kecerdasan pikir, rasa dan karsa. Ini, akan membuat kita mampu berperang secara total sebagai guru bagi anak. Guru yang dekat, bersahabat dan penuh cinta kasih sayang kepada anak.

Bagaimana Ayah & Bunda, masih ingin membandingkan anak dengan orang lain?

Sleman, 25 Februari 2018

Solusi Islam untuk Problematika Pluralitas

0

KEHIDUPAN memang tak akan pernah lepas dari keragaman. Karena memang kita diciptakan dalam keadaan beragam. Jangankan satu negara, dalam satu keluarga saja banyak terdapat keragaman. keragaman yang belakangan disebut sebagai pluralitas merupakan sunnatullah. Kita tak bisa menghindarinya atau meniadakannya. Justru dengan adanya pluralitas, dinamika kehidupan menjadi menarik dan penuh gairah.

Puralitas tidak menjadi masalah sepanjang tidak ada kepentingan-kepentingan untuk melakukan hegemoni antara satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Pluralitas juga tidak akan menjadi masalah sepanjang manusia dengan penuh kesadaran menerima dan mengakui perbedaan yang ada di sekitarya. Kesadaran ini disebut dengan pluralisme.

Pluralisme mutlak diperlukan dalam kehidupan berbangsa yang plural. Tanpa pluralisme, kehidupan berbangsa akan sangat rentan konflik horizontal. Golongan mayoritas akan semakin menekan minoritas. Sementara golongan minoritas semakin terpinggirkan, terisolasi dan termarjinalkan. Interaksi sosial pun menjadi selalu tegang karena adanya prasangka dan saling curiga. Akibatnya? Gampang ditebak, masyarakat menjadi terkotak-kotak menurut golongan masing-masing, masyarakat menjadi sensitif, fanatik, dan lahir kebencian membabi buta yang muaranya melahirkan kekerasan sara.

Ironisnya, belakangan ini umat Islam turut dan bahkan kerap menjadi aktor dalam fenomena ini. Serentetan peristiwa seperti penyerangan terhadap siswa SMA PIRI yang merupakan sekolah milik Gerakan Ahmadiyah Indoneia (GAI) di Yogyakarta karena dianggap sesat dan menyesatkan, perusakan gereja, teror bom (bom bali I, Bali II, JW. Marriot, Bom kuningan, dan sebagainya), ujaran kebencian dan saling hujat serta mendiskreditkan pihak-pihak tertentu menunjukkan rasa kepedulian, persaudaraan, dan toleransi umat Islam patut dipertanyakan. Hal ini tentu kontradiksi dengan konsep pluralitas dalam Islam, misalnya konsep peraudaraan atau ukhuwah.

Baik Al-Qur’an maupun hadits telah menegaskan bahwa umat manusia diciptakan dalam keragaman. Keragaman adalah rahmat Tuhan supaya manusia bisa saling mengenal, menjalin persaudaraan, dan tolong menolong. Bukan malah sebaliknya, saling menindas dan menguasai. Ukhuwah dalam Islam berperan untuk mengindahkan keragaman ini.

Terdapat empat level ukhuwah dalam Islam, yaitu ukhuwah nahdliyah, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah. Ukhuwah nahdliyah adalah rasa persaudaraan karena kesamaan golongan. Ukhuwah Islamiyah adalah rasa persaudaraan karena kesamaan agama, yaitu Islam. Ukhuwah wathaniah adalah rasa persaudaraan karena kesamaan warga negara. Sementara ukhuwah basyariah adalah rasa persaudaraan atas dasar prinsip kemanusiaan.

KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam ceramahnya di acara sewindu haul Gus Dur menyayangkan umat Islam sampai dengan saat ini masih berada di level ukhuwah nahdliyah. Yang hanya merasa bersaudara dengan mereka yang sepaham, sealiran, dan segolongan. Seharusnya, lanjut Gus Mus, umat Islam meneladani Gus Dur yang mampu mencapai level ukhuwah basyariah. Gus Dur dalam bergaul, menolong, berdialog dan beragam aktivitasnya didasarkan atas prinsip ukhuwah ini. Maka tak heran, sepeninggalnya, tidak hanya umat nahdliyin, umat Islam, dan orang Indonesia saja yang merasa kehilangan. Tapi mereka yang berbeda golongan, agama, dan negara turut berduka cita atas kepergiannya.

Seharusnya, lanjut Gus Mus, umat Islam meneladani Gus Dur yang mampu mencapai level ukhuwah basyariah. Gus Dur dalam bergaul, menolong, berdialog dan beragam aktivitasnya didasarkan atas prinsip ukhuwah ini.

Ukhuwah basyariah inilah yang hari ini diperlukan oleh umat Islam. Sebuah konsep persaudaraan yang tidak memandang manusia berdasarkan derajat sosialnya, golongannya, alirannya, agamanya, sukunya, dan negaranya. Melainkan memandang manusia berdasarkan kemanusiaannya. Ukhuwah basyariah menempatkan keragaman sebagai hak dan karakteritik khusus manusia. Sehingga harus dihormati, bukan untuk diberangus. Sebagaimana diajarkan dalam Islam, bahwa manusia memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Satu-satunya hal yang membedakan adalah kualitas keberagamaannya (ketakwaannya).

Semakin berkualitas keberagamaan seseorang, maka semakin mulia lah derajatnya. Maka dari itu, umat Islam diwajibkan untuk men-drive dirinya menuju ke arah itu. Konsep takwa secara sederhana dimaknai sebagai upaya untuk senantiasa menjalankan segala bentuk perinta Allah dengan penuh keikhlasan, kesadaran, dan kesabaran dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Orang yang mampu melakukan takwa ini berhak menyandang predikat Muttaqin. Dan sekali lagi, predikat ini adalah hak siapa saja, bukan hanya milik NU, Muhammdiyah, LDII, FPI, Ahmadiyah, Syi’ah, Wahabi, dan sebagainya.

Adapun indikator kadar ketakwaan sangat beragam, baik menurut Al-Qur’an maupun Hadits. Satu di antaranya adalah kepedulian sosial sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 177. Ketakwaan juga diukur dari bagaimana kemampuan seorang muslim dalam menahan amarah, sabar, dan memaafkan sesama.

Nah mari kita pertemukan kedua konsep ini, ukhuwah basyriah dan takwa dengan isu-isu kontemporer di tengah umat Islam hari ini. Patutkah sebagai manusia, apalagi muslm, saling menghujat satu sama lain, berbuat anarkis terhadap golongan lain, mendiskreditkan umat agama lain? Pantaskah umat dari agama yang penuh cinta kasih dan sayang menebar teror kepada umat lain?

Sekali lagi, pluralitas hendaklah dimaknai sebagai rahmat dan alat pemersatu. Bukannya pemecah belah persatuan. Umat Islam yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai “khairul ummah” haruslah mampu merepresentasikan kebesaran Islam sebagai agama cinta kasih dan rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.[]

Generasi Zaman Now Wajib Cerdas, Pesan Panglima TNI

0

Malang — MALAM TANGGAL 23 Februari 2018, saya hadir pada Pengajian Eksekutif Malang Raya di Masjid Sabilillah Malang. Pengajian tingkat eksekutif, yakni tempat berkumpulnya orang-orang yang berpangkat atau berstatus sosial khusus. Apakah tidak mubadzir? Ya tidaklah. Kan orang-orang tersebut biasanya sudah terjebak dengan waktu sibuk habis. Di sinilah kesempatan para tokoh dan orang-orang sibuk tersebut bertemu, meremajakan semangat dan saling membangun pencerahan agar kualitas mengemban amanat untuk bangsa dapat dikendalikan secara lebih asli, sehingga tugas-tugas utamanya dapat lebih berkah dan manfaat.

Pengajian ini didahului wejangan KH. Tholhah Hasan, dengan menekankan bahwa pertama, umat Islam bisa mempertahankan Indonesia karena kita memiliki kekuatan persatuan untuk bangsa. Kekuatan ini yang tidak dimiliki oleh umat Islam di negara lain. KH. Tholhah Hasan juga menegaskan, masjid Sabilillah harus menjadi pusat peradaban, bahkan perlu punya mall, pabrik dan lain sebagainya. Masjid dengan demikian ditambah tidak hanya sebagai tempat ibadah utama.

Hai, hai, ternyata pengajian eksekutif kali ini dihadiri Panglima TNI di tahun terakhir kepemimpinan Jokowi, yakni Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S. Ip dengan tajuk silaturrahmi tokoh masyarakat Malang Raya dengan pesan agar kita semua waspada meningkatkan ketahanan di tengah era disruption. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya memiliki kemampuan menguatkan karakter perubahan di era digitalisasi.

Kita tahu era kejahatan sudah berkembang ke ranah sunia maya. Cyber crime adalah bagian dari ancaman global termasuk yang sekarang dihadapi oleh TNI. Di media ada beberapa ancaman. Setidaknya ada tiga ancaman yang nyata. Tiga ancaman tersebut pun bisa menyerang ketahanan bangsa dan negara ini. Apa itu ?

Pertama, lone wolf (srigala tunggal). Istilah yang mengarah pada penyucian otak para anak muda untuk dijadikan sebagai pelaku-pelaku teror dari berbagai kemungkinan yang terjadi dan dilakukan seorang diri. Seperti kasus penyerangan gereja oleh orang gila. Peristiwa ini boleh jadi sebagai bagian dari salah satu ancaman serius untuk bangsa ini. Oleh karena itu Panglima TNI mengatakan lonewolf adalah bagian dari bahaya yang akan mengancam negara ini pada tahun-tahun mendatang. Semua harus peka dan waspada. Para pelakunya boleh jadi memang digembleng agar mereka mampu melaksanakan dengan baik untuk menebar teror. Cara-cara ini bisa menggunakan jalur komunikasi internet.

Hadi Tjahjanto mengingatkan pada hadirin, calon serigala tunggal ini bisa direkrut melalui saluran media sosial. Mereka diamati terus-menerus. Mereka diprospek sesuai dengan karakteristik postingan dan perilaku di media. Suatu contoh, kalau anak-anak ini suka bermain mercon ces-dor, mereka bisa didekati melalui media sampai menjadi terobsesi mercon ces-dor yang berhulu ledak tinggi. Saat terobsesi, niscaya mereka akan langsung menjadi agen serigala tunggal. Di sinilah, kita semua harus waspada dari berbagai ancaman yang menumpangi kesukaan kita saat menggunakan media online.

Suatu contoh, kalau anak-anak ini suka bermain mercon ces-dor, mereka bisa didekati melalui media sampai menjadi terobsesi mercon ces-dor yang berhulu ledak tinggi. Saat terobsesi, niscaya mereka akan langsung menjadi agen serigala tunggal

Kedua adalah adanya gejala bio-threat (ancaman biologis). Ancaman satu lagi yang disebut oleh Hadi Tjahjanto adalah ancaman biologis. Ancaman ini bisa dalam berbagai bentuk sebaran virus atau penyakit yang menimbulkan dampak nasional. Bisa berbentuk munculnya hama yang mewabah di suatu tempat. Hama tersebut menyerang aneka jenis pertanian. Mengapa disebut ancaman ketahanan negara ini? Berbagai gejala tersebut tidak hanya disebabkan oleh gangguan alam (natural) tetapi bisa juga digerakkan oleh penyebaran virus dan penyakit dari tangan-tangan para ahli yang tidak kelihatan.

Panglima TNI lantas menyontohkan kasus suku Asmad yang baru saja menjadi isu santer. Ada 71 jiwa orang yang meninggal dari suku Asmad, kemarin. Melihat kenyataan ini, TNI segera turun melakukan tindakan berdasarkan perintah Presiden Jokowi, sehingga dalam dua Minggu, para anggota TNI sigak menangani kasus yang sedang menimpa saudara kita di Asmad. Ini adalah tantangan TNI untuk memastikan dan menjaga agar warga Indonesia tidak berada dalam ancaman biologis. Oleh karena itu, tugas TNI menjadi lebih kompleks dalam menjaga kedaulatan Indonesia.

Ini adalah tantangan TNI untuk memastikan dan menjaga agar warga Indonesia tidak berada dalam ancaman biologis.

Terakhir adalah inequality-threat (ancaman kesenjangan). Apa kok ya teknologi juga menjadi bagian dari ancaman kesenjangan. Hari ini, orang yang menguasai teknologi akan menguasai dunia. Begitu juga dia akan bisa menguasai sebuah bangsa. Bayangkan saja, kita ini saat selfie, maka jelas data kita akan mudah tersebar dan orang akan bisa membuat jejak data kita yang tersebar di dunia maya. Kekuatan ini akan menjadikan seseorang bisa melejit menguasai dunia dengan revolusi informasi.

Tidak hanya orang yang pintar dan membaca buku yang menguasai jendela dunia, tetapi hari ini dia akan bisa menjadi orang yang menguasai dunia dengan kemahiran teknologi informasi. Namun, sayangnya, bagi yang tidak cukup mampu menyesuaikan diri dengan teknologi informasi, mereka akan menjadi jauh ketinggalan. Dampaknya, secara ekonomi mereka akan menjadi jauh lebih timpang kepemilikannya daripada yang canggih menguasai teknologi. Ini bukan kekhawatiran saja. Peristiwa ini sudah terjadi pada kasus transportasi online. Bagaimana yang menguasai teknologi melejit menguasai bisnis global, tetapi yang tidak menguasai teknologi mereka merasa dikalahkan secara tidak adil.

Oleh karena itu bangsa kita harus menjadi bangsa yang pintar. Oleh karena itu mesjid sebagai pusat peradaban sudah semestinya mampu melahirkan generasi-generasi yang pintar atau cerdas yang juga pada akhirnya akan menjadi sosok yang bisa membentengi bangsa ini dan menjaga kedaulatan bangsa ini lebih nyata. Masjid dengan demikian sangat cocok jika digaungkan menjadi kekuatan peradaban bangsa ini. Itu artinya, masjid akan turut memberikan fundasi bagi ketahanan bangsa ini.

Sudah ya sahabat belajar kampusdesa, semoga bermanfaat cerita singkatnya ketika admin mengikuti sesi Pengajian Eksekutif di Masjid Sabilillah Malang (M2-Channel).

Mengapa Usaha Tidak Linier dengan Hasil ?

0

BANYAK hal yang timpang dan tidak linier dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang bekerja keras belum tentu ia berhasil mencapai tujuannya, karena belum tentu orang berhasil karena kerja kerasnya, sebaliknya karena tahu betul bagaimana cara bekerja yang menghasilkan. Menjadi pintar bukan semata-mata karena ia belajar paling rajin, namun karena mereka tahu betul bagaimana cara belajar yang terbaik. Anak merasa dicintai bukan karena selalu bersama 24 jam sehari, namun tahu menempatkan kebersamaan secara tepat pada waktu yang sesuai.

Tulisan singkat ini berusaha memotret paradoks yang terjadi dalam linieritas hasil. Konteks kemajuan era revolusi industri 4.0 membawa revolusi besar-besaran pada cara kerja orang. Keterhubungan dengan internet dan interkoneksivitas antara creator dan customer, customer dengan customer dari berbagai belahan dunia telah memotong luasnya dunia. Semua orang dengan mudah menemukan informasi, peluang, dan momentum dari setiap perubahan.

Seorang teman dosen dari Univ. Negeri Padang – Mas Yanladilla, saya biasa memanggilnya – menceritakan sebuah kisah kepada saya dan cerita ini mirip dengan yang saya dengar Pak Tung Desem Waringin. Ada seorang pegawai yang sudah bekerja di sebuah kantor selama 20 tahun merasakan ketidakadilan karena tidak dipromosi naik jabatan, sementara pegawai baru yang bekerja selama 2 tahun berhasil naik jabatan dengan mudah. Ia protes kepada atasannya dan merasa tidak terima dengan perlakuan tersebut. Protes itu dijawab oleh atasannya dengan sangat baik. Si pekerja 20 tahun ini, sebenarnya tidak bekerja selama 20 tahun, namun ia bekerja selama setahun dan diulang selama 20 kali. Sementara pekerja 2 tahun berhasil melakukan perubahan dan kemajuan 20 kali dalam 2 tahun.

Hasil kinerja besar atau tidak bukan karena kerja kerasnya (meski ini tetap harus dilakukan) tetapi karena tahu cara kerja yang paling efektif dan efisien.

Saya nda tahu, apakah kisah di atas benar adanya atau tidak, namun kita dapat belajar tentang satu hal, yaitu hasil kinerja besar atau tidak bukan karena kerja kerasnya (meski ini tetap harus dilakukan) tetapi karena tahu cara kerja yang paling efektif dan efisien. Dengan kemajuan teknologi dan serba digitalisasi proses, seharusnya membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah terbantu diselesaikan tepat waktu. Output-nya menjadi lebih banyak pekerjaan yang diselesaikan dengan prioritas terutama.

Bagaimana Startegi Energi Minimal Hasil Maksimal?

Sambil menulis ini, saya mengevaluasi beberapa hal, seperti pekerjaan yang luput dari prioritas, projek yang belum selesai dikerjakan, dan jadwal-jadwal training yang harus ditata. Saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana cara yang paling efektif untuk meng-arrange ini menjadi sangat jauh lebih efektif dan efisien. Saya yakin pasti ada suatu hal yang dapat memudahkan dan mempercepat semua pekerjaan ini. Saya sampai pada kesimpulan betapa banyak aktivitas yang menyibukkan namun tidak menghasilkan sehingga mengganggu produktivitas utama.

Berangkat dari pengalaman saya (mungkin ini tidak berlaku buat Anda) maka saya mencatat 3 poin penting sebagai langkah awal perubahan:

Strategi 1 : Fokus pada Tujuan Utama

Menemukan Tujuan Utama dalam hidup, perjalanan karir, bisnis, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya ternyata tidak mudah. Banyak hal yang menjadi kamuflase sehingga menutupi hal-hal yang paling penting dalam aspek utama kehidupan kita. Konsekuensinya kita tidak mampu menemukan orientasi yang jelas dan prioritas the most important.

Apa yang bisa dilakukan? Temukan cara yang paling sesuai dan cocok untuk diri Anda. Apakah ada contohnya? Tentu banyak, namun belum pasti pas dengan kebutuhan kita. Mungkin lain kali saya share tentang beberapa contoh yang dapat jadi acuan (bersambung).

Sibuk Kerja Bukan Kendala Menjalin Hubungan Baik Dengan Anak

0

IMPIAN TERBESAR dari setiap laki-laki dan perempuan adalah menjadi ayah atau bunda, satu harapan yang menjadi salah satu titik kesuksesan bagi setiap manusia adalah menjadi orang tua. Namun pada kenyataannya apa yang menjadi harapan besar tidak dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang panjang. Ketika telah menjadi ayah dan bunda tetapi menjadi lupa dengan bagian dari kewajibannya.

Menjadi orang tua selain merupakan tugas yang besar juga dapat diartikan untuk menguji kemampuan, melihat sangat tidak mudah untuk dapat menjalankan semua tugas sebagai orang tua, merawat, melindungi, mendidik dan mengajarkan semua yang seharusnya diberikan dan menjadi hak sang anak. Ketika belum menjadi orang tua memang belum dapat memandang semua hal itu namun ketika kita sudah menjadi bagian dari itu akan mampu merasakannya.

Orang tua adalah kebutuhan dasar bagi anak, adanya orang tua merupakan satu jalan keberhasilan bagi kehidupan anak nantinya. Namun apakah yang harus orang tua lakukan untuk menjadi super model bagi semua anak-anak? Banyak orang tua yang belum memahami untuk memposisikan dirinya sebagai orang tua.

Apalagi saat ini, fenomena yang ada, orang tua sering menelantarkan anak-anaknya. Belum banyak yang meyadari kalau pada kenyataannya mereka melakukan hal tersebut. Banyak anak-anak yang secara psikologis berjuang untuk menata kehidupannya sendiri, hasilnya tidak selalu seperti yang para orang tua inginkan. Ketika semua problem yang datang pada diri anak yang paling utama bertanggung jawab adalah orang tua, karena pada dasarnya yang membentuk kepribadian anak sebagian besar diletakkan pada pengasuhan yang anak dapatkan dari orang tuanya.

Orang tua sering tidak paham untuk merawat anak-anak mereka, karena pada realitasnya saat ini banyak orang tua yang menghabiskan waktunya dengan dunia kerjanya dibandingkan dengan anak-anaknya sehingga ketika  problem besar terjadi pada anak di kemudian hari, orang tualah yang perlu bertanggungjawab pertama kalinya. Peran aktif orang tua sangat diharapkan dan dibutuhkan oleh anak. Jangan mudah menyalahkan ketika sesuatu hal besar sering disembunyikan oleh anak, karena mereka kurang  mendapatkan kepedulian dari orang tuanya.

Kesibukan yang dihadapi oleh para orang tua membuat mereka untuk mempercayakan pengasuhan anaknya pada orang lain, ataupun dengan sekolah tanpa memantau jauh lebih dalam perkembangannya. Yang terpenting bagi mereka kebutuhan anaknya tercukupi, soal apa yang sedang terjadi pada anak mereka terkadang menjadi tanggung jawab pengasuh atau sekolah. Hal ini cukup membantu meringankan beban orang tua dalam pengasuhan namun apa yang terjadi ketika orang tua salah memilih pengasuh atau sekolah? Akankah anak akan mampu berkembang dengan baik dilingkungannya? Hal ini perlu diperhatikan lebih lagi oleh para orang tua.

Memang kebutuhan ekonomi yang para orang tua usahakan akan kembali juga pada diri anak,  bukan hal tersebut yang paling utama yang dibutuhkan oleh anak, akan tetapi ketika orang tua mampu menciptakan suasana yang penuh kasih sayang dan kenyamanan pada anak akan jauh lebih membantu anak untuk kehidupannya. Orang tua sering tidak menyadari hal ini, kebutuhan asih (kasih sayang yang lebih) merupakan kebutuhan paling urgen, dan kebutuhan inilah yang tidak memerlukan banyak materi namun menjadi terlupakan karena hal yang terfikir oleh orang tua adalah memenuhi kebahagiaan anak dengan membuat semua anak hidup secara berkecukupan secara materi, yang sebenarnya cara ini dianggap kurang tepat.

Saat ini banyak orang tua demi mencukupi kebahagiaan anaknya rela mengorbankan waktu yang sangat berharga yang seharusnya itu adalah waktu untuk anaknya. Mereka mengatakan tidak menginginkan anak-anaknya hidup kekurangan, dengan inilah mereka berjuang meskipun harus rela terpisah jauh dari anak-anak mereka. Akan tetapi apa yang setelah itu terjadi? Anak menjadi lebih tidak terkontrol perilakunya karena sikap sebagai orang tua juga kurang mengontrol aktivitas anak-anaknya, fenomenanya jelas terlihat pada anak zaman now. Orang tua juga mengatakan sering kesulitan untuk menasehati anak-anak mereka, terkadang cara-cara yang tidak diharapkan sering terjadi meskipun tujuannya untuk kebaikan anak-anaknya.

Si Kecil ; Batas Pertumbuhan Anak-anak Desa dan Kota

Sulit untuk mengubah karakter anak kalau tidak terbentuk baik sedini mungkin. Faktor terpenting dalam pembentukan pribadi anak adalah peran aktif dari orang tua. Dengan adanya peran aktif akan dapat membantu anak berkembang secara positif. Memang kebutuhan materi juga penting selain mampu menunjang kecukupan kebutuhan pertumbuhan mereka tetapi tidak diberengi juga dengan menelantarkan kebutuhan psikologis sang anak.

Kesibukan pekerjaan bukan merupakan hal yang patut dipersalahkan sepenuhnya, jika orang tua mampu menyadari untuk membuat waktu yang seimbang dengan anak. Jauh dari anak juga bukan merupakan masalah tertinggi yang menyumbang kepribadian kurang baik pada anak ketika komunikasi tetap terjaga didalamnya. Saat hubungan tidak baik antara orang tua dengan anak terjadi kemungkinan disebabkan karena adanya waktu yang sering tidak dipedulikan oleh para orang tua.

Komunikasi inilah yang menjadi solusi lebih tepat pada orang tua yang sibuk bekerja namun ingin tetap menjaga hubungan yang baik dengan anak-anaknya. Komunikasi mampu memperbaiki segala kekosongan yang terjadi pada sebuah hubungan.

Komunikasi inilah yang menjadi solusi lebih tepat pada orang tua yang sibuk bekerja namun ingin tetap menjaga hubungan yang baik dengan anak-anaknya. Komunikasi mampu memperbaiki segala kekosongan yang terjadi pada sebuah hubungan. Tapi kesibukan kerja kembali membuat orang tua juga belum memahami bagaimana cara berkomunikasi yang baik pada anaknya. Banyak yang melakukan komunikasi hanya karena anak mereka melakukan sebuah kesalahan atau ketika ada hal yang perlu untuk dibicarakan saja. Cara berkomunikasi juga belum sepenuhnya diperhatikan. Orang tua masih menggunakan bahasa-bahasa yang kemungkinan belum dipahami oleh sang anak seluruhnya.

Komunikasi merupakan langkah awal untuk lebih dekat dengan anak-anak, bukan seberapa sering komunikasi itu dilakukan namun lebih kepada bagaimana komunikasi itu dilakukan, bukan seberapa banyak kata yang dikeluarkan namun lebih kepada apa yang dikatakan itu akan lebih membantu memperbaiki hubungan yang positif, bukan juga berapa banyak waktu yang dihabiskan dengan anak-anak namun juga lebih kepada bagaimana waktu itu digunakan dengan anak.

Memaksimalkan Kekuatan Pesan dalam Pembelajaran (2)

0

Jika kau sampaikan pesan itu melalui media, maka dia akan menjadi informatif, menarik, Jika kau sampaikan pesan itu dengan ketulusan hatimu maka dia akan menjadi pesan yang berkekuatan dan mampu meledakkan hati jutaan manusia (Amka)

Aspek yang penting dalam pembelajaran adalah materi atau pesan yang disampaikan seorang guru. Belajar dari media masa, maka kita melihat bagaimana sebuah pesan mampu menggerakkan jutaan manusia untuk bersatu, mampu memecahbelah persatuan dan kesatuan hanya gara-gara satu pesan yang provokatif yaitu pesan yang mampu memberikan penghayatan, pemahaman dan mendorong orang lain untuk merespon melakukan sesuatu. Ada beberapa kategori pesan yang jika dimaksimalkan, maka akan menjadi pesan yang mudah diterima oleh murid di dalam kelas, kategori pesan yang pertama adalah pesan informatif , yang kedua adalah pesan persuatif, yang ketiga adalah pesan reflektif dan yang keempat adalah pesan kunci.

Sebelum membahas keempat pesan tersebut, maka perlu diketahui bahwa dalam proses pengajaran di kelas ada tiga tahap, yaitu tahap pembukaan, kedua adalah tahap penjelasan materi, dan yang ketiga adalah tahap penutup. Ketiga tahapan tersebut harus diperhatikan oleh seorang guru untuk memilih pesan mana yang sesuai dengan tahapan tersebut. Dari penjelasan diatas, maka mari kita pelajari keempat kategori pesan beserta karakteristiknya.

Pesan informatif adalah pesan yang memberikan informasi dan dipahami dengan mudah oleh penerima pesa dalam hal ini adalah murid. Kita sering mengajar di kelas menyampaikan materi tertentu dengan memaksimalkan kemampuan orasi kita akan tetapi murid susah memahaminya, misalnya seorang guru menjelaskan pengertian sholat dengan bahasa yang menarik, tentunya akan mudah dipahami oleh orang yang sudah mengerti sholat akan tetapi bagi para pemula yang belum memahami sholat, akan merasa kesulitan untuk memahaminya. Maka pesan harus disiapkan secara sistematis yaitu dengan meletakan pesan itu dalam sebuah media yang memiliki karakter agar bisa dilihat dan di dengarkan (dalam hal ini adalah media audio visual) oleh murid, agar mereka menerima pesan tersebut secara maksimal, serta media mampu menyederhanakan pesan yang dirasa sulit diterima oleh murid.

Pesan kategori ini biasanya disampaikan pada sesi penjelasan, karena seorang guru harus menajamkan materinya secara informatif kepada muridnya agar mampu menerima pesan atau materi yang disampaikan oleh seorang guru. Kategori pesan informatif akan lebih memiliki kekuatan (power) jika disertai dengan data-data pendukung, sehingga informasinya semakin meyakinkan dan berkesan kepada murid dalam proses pembelajaran tersebut. Seorang guru harus memperhatikan karakteristik pesan pada kategori ini yaitu novelty (sesuatu yang baru), proximity (kedekatan dengan pengalaman murid), popularitas, conflict (memiliki nuansa yang diperdebatkan di masyarakat), pesan yang humor, memiliki nilai keindahan, emosi, nostalgia dan human-interest (yaitu pesan-pesan yang sekarang menjadi tren di masyarakat).

Pesan persuatif, adalah pesan yang sifatnya mengajak bahkan mampu menggerakkan kepada orang lain agar melakukan isi dari pesan yang diinginkan oleh penyampai pesan. Di dalam kelas guru harus memperhatikan menganalisis pesan seperti ini karena harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran itu sendiri, misalnya tujuan pembelajaran adalah siswa mampu mempraktekan prinsip-prinsip hidup bertetangga dengan baik. Maka seorang guru harus memilih pesan yang berkarakter mengajak kepada murid, misalnya “Mari hidup saling toleransi, karena hidup toleransi akan menjadikan masyarakat saling menghormati sesama”, atau “Mari saling membantu sesama manusia, karena bantuan kita akan mampu meringankan beban hidup orang lain” dan lain sebagainya.

Kategori pesan persuatif, akan lebih memiliki kekuatan (power), ketika seorang guru menyampaikan dengan nada dan ekspresi yang provokatif juga. Selain itu juga pesan kategori ini akan lebih powerfull, ketika disertai dengan bahasa motivasi. Pesan kategori ini lebih pas jika disampaikan pada tahap awal pembelajaran, karena isinya memberikan motivasi murid agar senang mempelajari materi (pesan) yang akan disampaikan oleh seorang guru.

Kategori yang ketiga adalah pesan reflektif, pesan reflektif merupakan pesan yang memiliki karakter imajinatif, yaitu pesan yang menuntut murid untuk berpikir dan mengesankan pada realitas yang ada di dalam materi atau pesan yang disampaikan oleh seorang guru. Pesan kategori ini lebih banyak pesan yang bernuansa nilai atau sikap-sikap tertentu yang menjadi tujuan dalam pembelajaran di dalam kelas. Pesan ini biasanya akan memiliki kekuatan ketika disampaikan pada tahapan akhir pelajaran. Bisa juga disampaikan pada tahap penjelasan ketika ada materi atau pesan yang mengarah pada kasus-kasus yang dituntut agar murid merefleksikan kasus tersebut.

Kategori yang keempat adalah pesan kunci. Pesan kunci adalah pesan yang berupa kesimpulan inti dari materi atau pesan yang disampaikan oleh seorang guru. Pesan ini menjadi penting, karena akan menyederhanakan pemahaman yang disampaikan oleh seorang guru, dan biasanya lebih pas ketika disampaikan pada tahap paling akhir pembelajaran yaitu penutup. Seorang guru bisa mengemas pesan kunci ini dengan rumus sederhana bisa dengan huruf atau dengan angka, misalnya di tulisan yang anda baca ini sebenarnya penulis ingin menjelaskan 4 kategori pesan yang terangkum dalam Proforefci yaitu Persuatif, Informatif, Reflektif dan kunci. Pesan ini bisa juga disampaikan pada awal atau penjelasan di dalam kelas tetapi harus disampaikan pada saat yang tepat.

Wallahu a’lam bi al Sawab

Amka, 21 Februari 2018