Selasa, September 1, 2026
Beranda blog Halaman 79

Perjalan dan Sosok Dibalik Ojo Leren Dadi Wong Apik dan Konvensi Pendidikan

0

Ojo Leren Dadi Wong Apik (OLDWA), bisa dibilang orang gila. Mereka membuat terobosan untuk membangun kesadaran baru mengenai pendidikan yang memanusiakan. Kesadaran kolektif yang memantik lahirnya sebuah konvensi, bisa dibilang marjinal. Eh, maksudnya konvensi tanpa dasi. Pertemuan yang mengompilasi pemikiran-pemikiran alternatif untuk mengembangkan pendidikan yang terjerat sistem kuasa dan politik hegemonik. Entah sebutan ini terlalu kasar atau upaya membangun ruang merdeka, bahwa pendidikan masih butuh transformasi menuju pendidikan yang memanusiakan. Siapa toh mereka ini?

Kampusdesa.or.id–Banyak yang mempertanyakan hal-hal aneh di Konvensi Pendidikan VIII di Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk kemarin, Ada yang heran kok bisa seramai itu dan betapa banyak terjadi saling berbagi ilmu. Namanya juga aneh-aneh, ada OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik), ada kata Konvensi, ada Sekolah Rakyat dan sebagainya.

Apa itu OLDWA, apa kumpulannya orang-orang tua karena ada OLD? Namun yang hadir kok ya banyak yang belum tua?

Apa itu Konvensi, kan biasanya konvensi itu dihadiri tokoh-tokoh dengan berjas dan berdasi dan tempatnya di hotel mewah di kota? Lha ini kok yang datang kayak mau buwuh ke kemanten aza? Apa hanya karena ingin terkenal menggunakan kata Konvensi?

Apa itu Sekolah Rakyat? Bukankah sekarang sudah diganti dengan Sekolah Dasar (SD). Apa ini ada kaitannya dengan program partai tertentu?

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menjawabnya, namun belum semuanya.

Peristiwa ini berawal pada suatu hari di tahun 2013, ingat saya bulan September 2013, ada beberapa orang duduk-duduk di kantin di belakang Kantor Dinas Pendidikan di Jagir Surabaya. Ada mas Totok Isnanto, ada mas Hardjito, ada om Thomas Muda dan saya hanya membersamai sarapan siang saat itu. Mas Totok Isnanto saat itu Kasi PAUD Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, sedang mas Hardjito dan mas Thomas Muda adalah stafnya mas Totok Isnanto.

Keempatnya adalah sahabat akrab saya, saat masih di Kanwil Departemen Pendidikan Jawa Timur, nama kantor semasa masih belum otonomi daerah dan Mas Totok Isnanto serta mas Hardjito adalah pegawai di bagian Pendidikan Masyarakat, sementara oom Thomas Muda adalah Kepala SKB Ngoro, Jombang. Saat itu PAUD belum lahir, bahkan masih belum dikandung badan.

Terjadilah reformasi di tahun 1998, dari semula sentralistik menjadi otonomi daerah. Kanwil Departemen Pendidikan yang merupakan perpanjangan pemerintah pusat diganti dengan Dinas Pendidikan Propinsi yang merupakan dinas propinsi dan kabupaten. Dalam zaman reformasi itulah lahir Direktorat PAUD di Dirjen PLSPO Departemen Pendidikan Nasional, saat presidennya Gus Dur, Dirjen PLSPO nya bapak Fasli Jalal PhD dan Direktur PAUDnya pertama bunda Faiqoh dan kemudian diganti dengan Bapak Dr Gutomo.

Dalam peralihan di tingkat Propinsi, Kanwil menjadi Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, dibentuklah Seksi PAUD yang untuk pertama (dan terakhir) dijabat oleh sahabat baik saya, mas Totok Isnanto.

Saat itu angka partisipasi kasar PAUD hanya 26%, hampir seluruhnya di TK. Dirjen PLSPO, bapak Fasli Jalal, dokter yang doktor gizi sangat melihat bahayanya anak-anak usia dini yang 74% itu bila stimulasi pendidikan dan gizi untuk mereka diabaikan. Memperbanyak TK empat kali lipat tidaklah mungkin, karena ketatnya persyaratan administrasi, sementara saat itu PAUD Nonformal dalam bentuk Play Group hanya di perkotaan dan hanya bisa diakses oleh masyaralat lapisan menengah atas. Itupun jumlahnya sangat terbatas. Lalu stimulasi pendidikan untuk anak-anak dari lapisan menengah ke bawah yang 74% itu harus diwadahi dalam bentuk apa?

Pemerintah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membentuk PAUD nonformal, baik dalam bentuk Kelompok Bermain (Play Group), Taman Penitipan/Pengasuhan Anak maupun kelompok-kelompok PAUD sejenis.

Dengan penuh keberanian bapak Fasli Jalal dan bapak Gutomo serta beberapa orang pemeduli PAUD membuat suatu terobosan, suatu breaktrough yang benar-benar menembus batas-batas yang ada. Pemerintah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membentuk PAUD nonformal, baik dalam bentuk Kelompok Bermain (Play Group), Taman Penitipan/Pengasuhan Anak maupun kelompok-kelompok PAUD sejenis. Diberikan kemudahan yang ruaar biasa untuk membentuk lembaga PAUD, bahkan pemerintah menyediakan dana rintisan pendirian PAUD sebanyak 25 juta. Alhamdulillah, PAUD menurut istilah masyarakat untuk membedakan dengan TK, yang sebenarnya PAUD Nonformal tumbuh dengan pesat seperti jamur di musim hujan. Alhamdulillah Gusti Allah memberi saya kesempatan untuk bersama beliau-beliau tersebut merintis PAUD.

Kondisi di Jawa Timur juga tak banyak berbeda. Adalah kehendak Allah juga, di hari saat mas Totok Isnanto dilantik menjadi Kasi PAUD Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, saat itu saya kebetulan dari Kantor Muslimat NU Jawa Timur di Jl Darmo bersama sahabat saya Dr Ach Rasyad untuk menemui bunda Hj Maryam Halim dan mb Dwi Astutik untuk masalah PAUD juga, mampir ke kantor Jl Genteng Kali. Allah yang merencanakan, kami berdua ketemu Mas Totok Isnanto di mushola kantor dinas di jalan Genteng Kali itu untuk sholat dhuhur.

Mas Totok Isnanto berceritera bahwa beliau baru saja dilantik sebagai Kasi PAUD dengan tantangan seberat itu, melipatgandakan daya tampun pendidikan untuk anak usia dini hampir 3 kali lipat. Alhamdulillah tugas bisa dilaksanakan dengan baik dibantu oleh beberapa pegiat pendidikan, antara lain Bapak Muyadi alm., bunda Kusandrini Prajitnoi dan beberapa teman, yang kemudian menjadi cikal bakal lembaga yang namanya Forum PAUD Jawa Timur. Anggotanya lintas instansi dan lembaga, ada Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Perguruan Tinggi dan pihak-pihak lain yang peduli PAUD Nonformal. Alhamdulillah mas Totok Isnanto bersama Forum PAUD ini membuat gebrakan yang benar-benar ruarr biasaa. sehingga pegiat PAUD semakin banyak dan APK bisa mencapai lebih dari 70% hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Kembali ke peristiwa omong-omong di Kantin di belakang Kantor Dinas Pendidikan jalan Jagir Wonokromo. Alhamdulillah dengan semakin banyaknya pemeduli dan pegiat PAUD serta semakin meluasnya kegiatan di daerah-daerah, serta urusan lembaga masing-maisng yang semakin padat, para perintis yang babad alas awal perkembangan PAUD menjadi jarang bertemu. Kalau pada awalnya, hampir setiap minggu kami bertemu, bahkan bisa lebih dari sekali dalam seminggu, akhirnya beberapa bulan sekali kami bisa ketemu. Dalam hati kami bersyukur sebab semakin banyak yang aktif dalam membina dan melaksanakan PAUD, namun di sisi lain ada rasa kangen untuk bertemu dan bernostalgia. Juga ada keinginan untuk merefleksi tindakan-tindakan pendidikan di tahun itu serta prospek di tahun mendatang, Dari pertemuan di kantin inilah timbul gagasan untuk mengumpulkan teman-teman yang dulu aktif bersama-sama.

Sesuai dengan kesepakatan, pertemuan akhir tahun 2013 dilaksanakan di salah satu ruang Seksi PAUD di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur pada akhir Desember 2013. Yang hadir seingat saya selain mas Totok Isnanto sebagai tuan rumah dan pemrakarsa pertemuan, ada juga bund Kusandrini yang juga perintis PAUD di Jawa Timur, Ketua Forum PAUD setelah almarhum bapak Muyadi, juga hadir bund Gadis, Ketua Forum PAUD setelah bund Kusandrini Prajitnoi.

Saya dari Malang hadir mengajak sahabat baik saya, Gus Lukman Hakim bersama pasangannya bund Titin Nurhanendah dan putranya yang masih 13 tahun yang menjadi driver mobilnya. Saya juga mengajak Eyang Wiwik Wiwiek Joewono, pegiat pendidikan yang sudah yuswa menjelang 70 tahun dikawal oleh Cak Mustofa Sam dan teman-temannya dari Inspiring Youth Educator (kalau nggak bener namanya mohon dikoreksi cak Mustofa Sam) serta seorang guru muda yang sangat kepo terhadap pembaharuan pendidikan mas Diedick’s UqiAbhi Addien. Juga hadir dari Bojonegoro, kakak Kakak Rubi dan rekannya dan mbak Wiwin dari Pandaan.

Dalam pertemuan itulah muncul ide menamakan komunitas ini komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik, yaitu kumpulan orang-orang yang selalu berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sesama. Namun nama ini menurut Eyang Wiwiek Joewono bisa juga dimaknai sebagai orang yang sudah baik sehingga bisa menimbulkan kesombongan dan ujub, kumpulane wong-wong yang mengaku dirinya telah baik. Karena itu harus hati-hati memaknai nama OLDWA agar tidak menjadi manusia yang merasa dirinya adalah wong apik, namun orang-orang yang merasa belum baik dan senantiasa ingin berbuat baik agar menjadi orang baik.

Dalam pertemuan yang seingat saya dihadiri oleh belasan orang itu diambil keputusan bahwa forum, ajang dan wadah ini akan dilaksanakan setahun sekali, pada akhir tahun untuk melakukan kegiatan refleksi pada tahun berjalan dan berpikir tentang prospek yang terjadi di tahun mendatang.

Pertemuan kedua dihadiri sekitar 30 an orang, dilakukan pada akhir Desember 2014, berlokasi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang. Pesertanya bertambah, ada pegiat homeschooling dari Jakarta mas Budi Trikorayanto dan bund Erlina Vf Ratu dengan puteranya, ada bunda Bundadiana Dwi dari Lamongan, ada mas Didid Supramono dan beberapa orang lagi.

Pertemuan ketiga dilakukan di Bojonegoro, di negaranya Kakak Rubi dan kakak Djihan (maaf kalau salah nama) di pelosok desa di Kecamatan Sumberejo, dihadiri lebih 20 orang dalam suasana santai namun serius.

Pertemuan keempat diselenggarakan di tempat saya, di Sekolah Garasi Turen, Kabupaten Malang dengan peserta lebih dari 100 orang dengan peserta terjauh dari Kaltim,, Jakarta mas Budi Trikoyanto juga rawuh, dari berbagai tempat di Jawa Timur seperti Surabaya, Situbondo, Blitar, Gresik dan tentu saja Malang. Hadir sahabat-sahabat dari UM, dan dari sahabat-sahabat Jagongan Para Pakar yang dipelopori oleh Gus Mohammad Mahpur dan teman-teman Gusdurian Malang.

Pertemuan kelima digeber di lokasi mewah, di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan dengan bunda Mimi Yudha dari sahabat-sahabat Taman Bunda Pasuruan sebagai hostnya. Alhamdulillah saat itu pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 300 orang itu selain diresmikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, juga dihadiri oleh Direktur GTK PAUD, mas Abdullah. Saat inilah mucul usulan untuk menamakan forum ini sebagai suatu konvensi tempat kita saling berbagi success story dan best practice pendidikan dengan dimotori oleh sahabat kita Mr Nafik dari the Naff School. Juga usulan agar pertemuan dilakukan setahun dua kali.

Pertemuan keenam, 6 bulan kemudian di kampusnya Mr Nafik di The Naff School Kediri dengan hadirin juga sekitar 300 orang lebih dan alhamdulillah sukses besar menyaksikan dan melihat dengan mata kepala sendiri the Naff school yang wwaoouuwww, subhanallah…amazing.

Pertemuan ke tujuh, di tempat Bapak Suroto Jombang tidak kalah wouuwnya, dihadiri antara lain Ibu Bupati Jombang dan Bapak Ananto dari kemendikbud Jakarta dan mas Wahyu Nugroho Cak Kumis dari LPKP Jawa Timur.

Pertemuan kedelapan baru saja kita lakukan di Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk yang dengan segala kelemahan dan kehebatannya sangat membawa makna bagi kita sekalian untuk bergandengan tangan saling berbagi

Tak dapat dipungkiri sosok yang sangat berperanan dalam terbentuknya komunitas OLDWA menonjol adalah mas Totok Isnanto, dengan pembawaan beliau yang sederhana, apa adanya dan terbuka sangat bersahabat kepada siapa saja, dengan didukung oleh semua sahabat-sahabat yang lain.

Turen, 11 Juli 2019

EDITOR: MOHAMMAD MAHPUR

Skripsi : Menjadi Cantik dengan Perjuangan yang Cantik

0

Sudah banyak cerita dan pengalaman mengenai mengerjakan tugas akhir. Bagi Anda yang sudah menempuh sarjana, tugas akhir adalah proses terakhir calon sarjana untuk membuat tawaran pemikiran yang akan dipertahankan di dewan penguji. Sebelum sampai di dewan penguji, usaha menyiapkan skripsi akan berkelindan dengan dosen pembimbing. Selain tentang pembimbingan tentang isi skripsi, dinamika relasional mahasiswa-dosen melahirkan aneka proses yang menegangkan. Bagaimana seharusnya menghadapinya ?

Ketika berkunjung di sebuat tempat kerajinan dari tanah liat, saya sudah terpesona dengan jejeran vas-vas bunga cantik dan tersusun rapi di etalase depan rumah, tempatnya tidak begitu luas namun pemandangan yang disediakan sungguh menarik hati saya untuk berlama-lama ditempat itu.

Lama saya memandangi deretan pernak-pernik rumah tangga, muncul seorang pemuda dari ruang gelap di belakang sana. Terjadi perbincangan yang menyenangkan, yang ternyata pemuda inilah pemilik tokonya. Pemuda ini mengajakku untuk melihat proses  vas-vas itu untuk menjadi  cantik dan menarik.

Berbeda dari ruangan depan yang rapi dan mempesona, ruang belakang ini adalah tempat pembuatan vas-vas itu, berantakan, gelap, penuh tanah liat berceceran dan asap hitam yang membuat sesak. Pemuda ini hanya menunjukkan proses pembuatan vas dan hiasan dari tanah liat lainnya. Mulai dari pengadukan, pembentukan, pembakaran hingga pengukiran.

Ada yang mengatakan bahwa pemuda yang hebat, adalah dia yang memiliki karya. Dan Kali ini saya tidak hanya menceritakan kisah seorang pemuda yang  telah berjuang keras untuk mengispirasi banyak pemuda lainnya. Namun ada sisi lain yang membuat saya berpikir lebih dari perjuangan seseorang, yaitu perjuangan dari vas-vas bunga dan hiasan lainya untuk menjadi cantik dan mempesona.

Satu benda yang selalu terinjak-injak oleh manusia, tapi  juga telah berhasil mengubah dirinya menjadi sebuah benda yang elok dan menenangkan jika dipandang. Yah, tanah liat, bahan dasar dari vas-vas cantik itu. Tidak lagi terinjak-injak tapi menjadi benda yang ditinggikan di ruangan orang-orang yang telah menginjak-injaknya dulu.

Bagaimana ia dapat menjadi istimewa padahal ia adalah hal yang sangat rendah? Perjuangan vas-vas inilah yang membuat saya menyadari bahwa menjadi cantik, menarik, indah dan terpandang itu bukanlah hal yang mudah. Ada tahapan-tahapan yang begitu keras dan menyakitkan yang harus terlewati. Memang semua orang tidak harus berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa untuk menjadi hal yang istimewa, tapi vas-vas cantik ini mengajarkan saya bahwa menjadi yang istimewa itu butuh perjuangan yang istimewa juga.

Kalau saya membahasakan bahasa tanah-tanah ini mungkin sama halnya dengan bahasa kita. Dari mulai pemilihan tanah, tanah-tanah ini sudah tersakiti oleh cangkul-cangkul yang mencabik-cabik tubuh mereka, jeritan sakit dari mereka tentu tak dapat saya dengar namun dapat saya bayangkan.  Dan tanah yang baik dan kuatlah yang dipilih untuk proses selanjutnya.

Ketika mulai proses pengadukan, tanah-tanah ini harus menahan rasa sakit lagi, dengan pukulan-pukulan keras dari para pengrajin. Belum hilang rasa sakit, tanah-tanah ini harus segera menghadapi proses pembetukan dari pengrajin, mereka diputar-putar sangat kencang di atas papan, kalau boleh merasakan apa yang tanah-tanah ini rasakan, tentu mereka sangat pusing dan mual. Tidak semua dapat terbentuk dengan sempurna, bahkan banyak tanah yang hancur tiba-tiba sebelum terbentuk sempurna. Dan mereka yang hancur menjadi tanah yang terinjak-injak kembali nantinya.

Usai proses pembentukan, penderitaan tanah ini belum begitu saja berakhir, mereka harus melewati proses pembakaran agar bentuk mereka tidak mudah pecah dan rapuh. Kayu bakar dan api begitu lahapnya membakar tubuh tanah-tanah ini hingga menghitam. Saya berfikir bahwa tanah-tanah ini tentu menguatkan diri mereka sendiri, kalau tidak tentu mereka tidak akan keluar dari tempat pembakaran dengan utuh seperti bentuk mereka ketika masuk dalam  ruang pembakaran.

Dua hingga tiga hari tanah ini dapat beristirahat dari siksaan para pengrajin, hingga tubuh mereka mulai mendingin, pengrajin-pengrajin ini mulai menusuk-menusuk lagi untuk membuat motif-motif cantik ditubuh vas bunga, dengan pahatan dan ukiran yang detail tentu saja lebih menyakitkan dari proses-proses sebelumnya. Tak dapat saya bayangkan lagi rasa sakitnya, Namun dari proses inilah mereka akan terlihat anggun dan mempesona.

Lalu, mungkin saja tanah-tanah ini telah bahagia dengan tubuh mereka yang sangat indah dari sebelumnya yang hanya butiran-butiran yang terinjak-injak. Tapi kebahagiaan belum begitu sempurna untuk mereka. Ada satu tahap lagi hingga dapat dikatakan karya sempurna, vas-vas ini harus melewati proses pembakaran kembali untuk menguatkan polesan, ukiran dan cat di tubuh mereka, hingga pada akhirnya mereka dapat keluar dari semua penderitaan yang mereka lalui dengan hasil yang sangat memuaskan.

Tangisan, jeritan yang menyakitkan harus kuat untuk kita lalui. Motivasi yang kuat adalah dari dalam diri kita sendiri, kita dapat menyakinkan diri kita sendiri (self talk) bahwa kita dapat menjadi yang terbaik dari yang paling baik.

Perjuangan tanah itu sama halnya dengan apa yang harus kita lewati, ketika kita menginginkan hal yang indah pada diri kita, tidak begitu saja kita dapat meraihnya. Tangisan, jeritan yang menyakitkan harus kuat untuk kita lalui. Motivasi yang kuat adalah dari dalam diri kita sendiri, kita dapat menyakinkan diri kita sendiri (self talk) bahwa kita dapat menjadi yang terbaik dari yang paling baik.

Mengeluh akan semakin membuat kita berpeluang untuk menyerah, namun dengan menguatkan diri sendiri tentu akan membantu kita keluar dari proses

Banyak mengeluh akan semakin membuat kita berpeluang untuk menyerah, namun dengan menguatkan diri sendiri tentu akan membantu kita keluar dari proses yang bisa kita sebut kejam dan menyakitkan.

Kalau saya kaitkan dengan  kisah mahasiswa semester akhir, hampir  80% dari mereka selalu frustasi kalau dihadapkan dengan skripsi. Menyelesaikan tugas apa adanya bukanlah solusi yang baik, terkadang ada sesuatu yang indah untuk dikorbankan jika ingin menjadi bintang. Bukan berarti menunda-nunda hanya tidak terburu-buru dan memaksa proses. Sama halnya dengan perjuangan tanah liat untuk menjadi vas bunga yang cantik.

Ingin cepat lulus, cepat wisuda, lanjut kerja atau S2, tapi pekerjaan (skripsi) selalu diabaikan. Sebagian mahasiswa terlalu membuat keadaan (skripsi) ini adalah keadaan yang paling dramatis di sepanjang perjalanan kuliah, baru ketemu dosen pembimbing sekali saja, sudah menangis berhari-hari, belum lagi diberi tugas revisi yang berkali-kali. Atau dosen yang sulit ditemui dan hanya memberi janji, yang pada akhirnya mereka memilih untuk berhenti.

Kalau berhenti maka sama dengan kita memilih untuk terinjak-injak kembali layaknya tanah liat yang gagal menjadi vas bunga yang cantik. Tetapi ketika kita mampu menguatkan diri dari proses yang begitu sulit untuk kita lewati tentu kita dapat seperti vas bunga itu yang menjadi rebutan untuk dimiliki oleh semua orang.

Skripsi ini mengajarkan kita untuk lebih kuat ketika berdiri di kehidupan yang mungkin akan lebih menyakitkan nantinya.

Untuk sahabatku para pejuang skripsi, jangan pernah memilih untuk berhenti. kita masih jauh lebih baik dari perjuangan vas-vas bunga itu, masih secuil penderitaan yang kita alami, karena skripsi ini mengajarkan kita untuk lebih kuat ketika berdiri di kehidupan yang mungkin akan lebih menyakitkan nantinya.

Kerusakan Lingkungan, Empat Desa di Trenggalek Tercemar Limbah Pindang

0

Empat desa yang disebut adalah MARGOMULYO, PRIGI, TASIKMADU, DAN KARANGGANDU. Warga memang sudah merasa tolerans hidungnya sehingga bahu yang menyengat tidak lagi dianggap mengganggu. Yang pasti, secara ekologis, limbah akan merusak ekosistem. Ditunggu peran pemerintah setempat secepatnya atau terjadi kerusakan yang ongkosnya jauh lebih besar karena terlambat. Mungkinkah limbah pindang adalah peristiwa tersisa yang luput ditengah kesuksesan Emil Dardak ?

KampusDesa, Tenggalek–Minggu 09 Juli 2018. Dalam keadaan badan tidak sehat, saya meluncur ke acara “kumpulan” yang diadakan oleh para pemuda di Watulimo, Trenggalek. Acara bertempat di Dukuh Sempu, Desa Margomulyo. Kumpulan ini adalah untuk mendiskusikan keberadaan pencemaran limbah yang mencemari sungai-sungai mereka akibat industri ikan pindang di beberapa titik (tempat) oleh beberapa pengusaha di Desa tersebut.

Ada 20-an pemuda yang hadir, selain dari Desa Margomulyo juga hadir pemuda dari desa dan kecamatan lain dalam diskusi mengatasi masalah yang menjadi ancaman serius terhadap ekologi dan kesehatan, air tanah, air sumur, dan efek perusakan keanekaragaman hayati bagi masyarakat desa. Mereka hadir dari desa Tasikmadu, desa Watu Agung, dari Pogalan, dan Kampak yang merupakan teman teman yang bersolidaritas untuk mendukung penyikapan limbah pindang.

Sebelum rapat dan diskusi di siang harinya, beberapa pemuda sempat melalukan susur sungai untuk kembali mendokumentasikan keberadaan limbah. Saya juga ikut di dalamnya, menyusuri beberapa sungai besar dan kecil yang ada di Dukuh tempat saya dilahirkan itu, termasuk sungai yang memisahkan desa kami dengan desa satunya. Hasilnya, ternyata kondisinya amat parah, hingga kami pada suatu kesimpulan bahwa limbah pindang ini tak boleh lagi dibuang ke sungai.

Sekitar jam 14.00 para pemuda sudah berkumpul di rumah Joko, salah seorang pemuda, yang rumahnya tepat 4 meter dari sungai kecil yang penuh limbah. Dalam rapat ini, di bahasa sejarah muculnya limbah yang tentunta bersamaan dengan keberadaan limbah pindang yang mulai muncul sudah lama sekali, sejak tahun 1990-an. Dampak sekian tahun membuat lingkungan tak bisa lagi menjaga keseimbangan ekosistem, dampak kesehatan, dan dampak pada air sumur yang tak layak lagi dikonsumsi.

Para Aktifis Lingkungan bergerak

Joko, pemuda gagah yang sering memviralkan keberadaan limbah pindang di dekat rumahnya itu memang merasa geram, demikian juga para pemuda lainnya. Upaya mencari solusi tak pernah mulus, karena memang masih belum ada kesadaran massif di kalangan lingkungan yang kebanyakan hanya pasrah. Bahkan seperti sudah biasa dengan bau busuk limbah yang lewat sungai-sungai. Upaya pemerintah daerah beberapa tahun sebelumnya untuk mensentralisir usaha pindang di satu titik, juga tak dikawal. Hanya sebatas kegiatan “proyek” yang hanya dilihat anggarannya saja.

Rakyat sendiri menganggap hidung yang sudah terbiasa dengan bau busuk adalah hal yang biasa dan bahkan adaptasi organ tubuh terhadap limbah ini tak lagi membuat bau busuk dari hidung mengganggu pikiran.

Efeknya, tanpa kawalan dan keseriusan untuk menyelesaikan masalah ini, rakyatlah yang menerima dampak buruknya. Karena industri yang mengasilkan limbah membahayakan ini tetap ada yang beroperasi di lingkungan pemukiman penduduk dan limbahnya dibuang ke sungai. Rakyat sendiri menganggap hidung yang sudah terbiasa dengan bau busuk adalah hal yang biasa dan bahkan adaptasi organ tubuh terhadap limbah ini tak lagi membuat bau busuk dari hidung mengganggu pikiran. Padahal, efek yang paling nyata adalah pada air tanah serta jelas-jelas pada jilangnya keanekaragaman hayati.

Limbah pindang telah menghilangkan spesies yang ada di sungai kami. Dulu di sungai itu hidup berbagai spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan di sisi sungai. Ada udang, berbagai jenis ikan (Wader, Sidat atau ‘Gatheng’, Kepiting berbagai jenis, Ikan Cerek, Ikan Glendeng, Lele lokal, dan berbagai jenis spesies dalam sebuah ekosistem. Sekarang ekosistem hilang dan keanekaragaman hayati musnah. Yang ada adalah air busuk, penuh racun, masuk ke dalam tanah yang kemungkinan besar masuk ke air sumur.

Ada kabar bahwa Bupati Trenggalek akan datang ke Prigi untuk meninjau limbah pindang ini karena isu limbah ini memang santer beredar beberapa minggu terakhir ini.

Dalam diskusi, Joko juga menginformasikan bahwa ada kabar bahwa Bupati Trenggalek akan datang ke Prigi untuk meninjau limbah pindang ini karena isu limbah ini memang santer beredar beberapa minggu terakhir ini. Bahkan konon Badan Perencanaan Daerah (Bapeda), dinas Lingkungan Hidup, kataya sudah turun, tapi dalam diskusi ini semua mengaku tidak tahu di mana di mana turunnya. Serta belum jelas pula hasil dan tindaklanjutnya.

Sehingga, dalam diskusi ini, 20-an orang termasuk pak RT, tokoh di dukuh Sempu, dan beberapa pengurus Karangtaruna yang datang di rapat kemarin juga membentuk wadah yang bernama Jaringan Aksi Masyarakat untuk Budaya dan Ekologi (JAMBE) yang ingin menjadikan wadah ini sebagai lembaga pemberdayaan di bidang lingkungan dan dalam proses berjejaring dengan organisasi lingkungan di kabupaten lain, di propinsi, dan nasional ke depannya.

Potret pencemaran lingkungan dari limbah pindang

Pembentukan organisasi ini adalah salah satu metode membangun gerakan yang terorganisir. Sebab ternyata masalah yang dihadapi masyarakat Sempu, Margo, dan desa-desa lainnya di Watulimo, bahkan masyarakat Trenggalek bukan hanya masalah limbah pindang saja, tapi juga sampah serta setumpuk persoalan ekologi dan kebudayaan yang parah.

Dari diskusi ini juga dinyatakan sikap yang harus disampaikan pada publik. Berpatok pada isu awal yang harus diatasi adalah limbah pindang dan sampah sungai. Mereka menyepakati tuntutan mendesak yang akan dilontarkan ke media massa, antara lain.

Pertama, mereka memohon jika Bupati benar-benar terjun ke lapangan, pastikan terjun ke Dukuh Sempu tepatnya RT 14 RW 01 Desa Margomulyo karena memang merupakan tempat limbah yang parah. Dukuh sempu adalah wilayah yang memang dilingkari sungai yang semuanya kebak limbah. Mereka juga menuntut agar pemerintah menjadikan isu limbah ini sebagai prioritas untuk diatasi dan dituntaskan.

Kedua, TOLAK BUANG LIMBAH DI SUNGAI adalah harga mati, tuntutan yang tak bisa ditawar lagi. Ketiga, mengajak pemerintah, mulai kabupaten, kecamatan, dan desa untuk melakukan penyadaran massif atasi masalah limbah dan sampah di sungai.

Negara Indonesia punya tujuan untuk “melindungi segenap bangsa” dan “memajukan kesejahteraan umum”. Frase indah dalam Preambule UUD 1945 itu bermakna bahwa semua orang harus dilindungi, diberi penghidupan yang layak, bebas dari imbas buruk. Kegiatan yang dilakukan dalam keseharian, termasuk membangun usaha, tidak boleh merugikan orang lain, tak boleh memberikan pencemaran pada orang lain sementara si pembuat limbah yang hanya memikirkan keuntungan pribadi tak peduli lingkungan sekitarnya.

Konstitusi kita (UUD 45) menegaskan bahwa salah satu hak rakyat adalah dalam hal LINGKUNGAN HIDUP. Lingkungan hidup merupakan bagian yang mutak dari kehidupan manusia. Dalam UUD 45, dari pasal 28 H ayat 1 dinyatakan: “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan LINGKUNGAN HIDUP YANG BAIK DAN SEHAT serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Sebagai warga masyarakat (apalagi Negara/pemerintah) Indonesia kita mungkin bisa memperjuangkan hak-hak tersebut karena hal itu akan menjamin utuhnya sila ke-5 “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” agar tidak tercoreng oleh orang yang mengaku orang Indonesia tetapi tidak bisa menjaga HAM yang telah diatur di Undang-Undang Dasar 1945. Untuk menghentikan ketidakadilan di Indonesia sebelum pelanggaran HAM merajai Indonesia kembali kita perlu menamkan kepada diri kita sendiri tentang pentingnya menjaga hak asasi orang lain, mungkin secara tidak sadar atau tidak sengaja kita telah melanggar HAM tapi jika kita telah mengetahui hak yang telah kita langgar kita harus segera meminta maaf untuk mencegah pelanggaran HAM yang lebih besar.

Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, ditegaskan bahwa harus ada upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam berbagai kegiatan, termasuk usaha.

UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menjadi payung hukum bagi setiap kegiatan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam melakukan pembangunan, termasuk industri dan penataan kawasan. Pemerintah (Negara) harus hadir ketika ada kepentingan yang tak terdamaikan di masyarakat.

Prinsip ini berkaitan dengan peraturan pemerintah tentang penataan ruang dan wilayah yang harus memperhatikan dampak lingkungan. Sudah benarkah bahwa industri yang membawa dampak kerusakan lingkungan baik jangka pendek maupun jangka panjang berada di daerah pemukiman di mana air bersih dan sungai bersih amat dibutuhkan? Sudahkah Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Trenggalek ditegakkan dengan prinsip tersebut?

Perlu sekali untuk membuat gerakan bersama melakukan pelestarian lingkungan hidup Trenggalek. Kasus Limbah Pindang di dukuh kami, dan di Prigi umumnya, harus kita jadikan gerakan penyadaran. Harus kita jadikan test-case apakah Negara ini serius dalam mengurusi lingkungannya, melindungi korban limbah industri. Serta bagaimana menata industri itu sesuai dengan prinsip-prinsip UU dan peraturan daerah. Untuk apa UU dan Peraturan dibuat kalau tidak ditegakkan?*

Jebakan Politik Prosedural

Kematangan demokrasi secara ideal adalah lahirnya partisipasi dan praktik politik yang mencerdaskan. Kecerdasan ini akan melahirkan budaya dan peradaban demokrasi yang bertumpu pada nilai-nilai. Kalau ideologi kita Pancasila berarti ya nilai Pancasila. Tetapi, demokrasi kita masih bersifat prosedural dan praktik politiknya pun masih sama pula. Lalu, bagaimana semestinya kita berproses menjadi pelaku politik untuk mewujudkan demokrasi Pancasila yang paripurna ?

Kehidupan bernegara selalu mengalami kompleksitas yang menarik untuk dikaji karena didalamnya terdapat sejumlah masalah yang saling terkait baik masalah antar individu, antar kelompok, antar pemerintah, antar masyarakat dan lain sebagainya. Sebagai warga negara yang ikut memiliki tanggungjawab dalam menciptakan stabilitas politik maka pemahaman atau persepsi tentang politik itu sendiri tidak terbatas pada satu aspek saja. Salah satu konsep besar dalam menciptakan stabilitas politik adalah demokrasi. Memahami demokrasi memerlukan pemikiran yang terbuka agar demokrasi tidak mendoktrin kita dan menciptakan kesalahpahaman dalam melaksanakan tata kelola negara.

Mengutip pernyataan Robert Dahl (1989) bahwa demokrasi memiliki tujuh aspek yaitu 1) pejabat yang dipilih; 2) pemilu bebas dan adil; 3) hak memilih inklusif; 4) hak dicalonkan dalam pemilu; 5) kebebasan menyatakan pendapat; 6) kebebasan berserikat.; dan, 7) hak mendapat informasi alternatif. Aspek tersebut sebagian besar mengarah pada prinsip prosedural yang harus dilakukan jika pemilu ingin sukses.

Namun, demokrasi yang kita jalankan selama ini apakah demokrasi yang sudah benar? Untuk menjawab pertanyaan ini maka diperlukan pengamatan yang tepat dan cermat tentang kondisi existing tentang kualitas demokrasi.

Patologi politik yang sering diperbincangkan yakni korupsi. Terdapat banyak sumber data yang menyajikan data korupsi dari tahun ke tahun. Wakil ketua KPK Busyro (2014) menyebut, banyak kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Terutama dari 12 provinsi dengan potensi kekayaan alam melimpah, ditemukan ada 400 Izin Usaha Pertambangan bermasalah dilegalkan oleh bupati yang pro asing. Kenyataan demikian ini memberikan isyarat bahwa elit politik yang dipilih melalui pemilu belum sepenuhnya menjalankan hakekat dari demokrasi sehingga yang terjadi adalah penggerusan demokrasi itu sendiri.

Bahkan terdapat beberapa partai yang melakukan penjaringan caleg melalui media cetak nasional. Hal ini menunjukkan kurangsiapnya partai politik untuk menghasilkan kader melalui kaderisasi internal partai.

Hampir 10 tahun pasca pemilu 2009 dan 20 tahun pasca reformasi 1998 Indonesia melakukan reformasi bidang politik dengan memberikan hak pilih sepenuhnya pada rakyat. Selama itu pula semakin mempertegas proses individualisasi dan personalisasi kekuasaan di Indonesia. Partai politik yang digadang-gadang mencetak pemimpin amanah justru keteteran. Organisasi partai politik sebagai organisasi modern harus bersaing dengan para tokoh politiknya sendiri. Bahkan terdapat beberapa partai yang melakukan penjaringan caleg melalui media cetak nasional. Hal ini menunjukkan kurangsiapnya partai politik untuk menghasilkan kader melalui kaderisasi internal partai. Kasus ini ditemukan pada partai politik yang baru didirikan dan hanya untuk sekedar memenuhi kuota komposisi caleg.

Perlu juga disadari wajah demokrasi di Indonesia penuh dengan semangat persaingan. Jumlah partai politik yang besar, sistem perhitungan dengan voting baik tingkat daerah maupun nasional mempertegas persaingan terbuka dalam demokrasi Indonesia.

Keterlibatan tim sukses, konsultan politik dan media cetak maupun online memberikan warna tersendiri bagi marketing politik hingga pemilu di Indonesia benar-benar menjadi pesta demokrasi. Praktik demokrasi prosedural ini terlalu menghegemoni sehingga dapat memicu politik primordialisme. Dalam demokrasi prosedural ada jaminan dan prosedur pemilihan pejabat politik. Hak pilih masyarakat dijamin konstitusi. Masyarakat memilih pemimpin politik yang bersaing dalam pemilu. Sedangkan para politisi diberi kesempatan berkompetisi untuk memperebutkan jabatan politik. Demokrasi prosedural inilah yang memberikan ruang bagi politik primordialisme.

Hasrat ingin berkuasa muncul dalam demokrasi prosedural justru tumbuh subur dalam ciri masyarakat tradisional Indonesia. Tak heran hubungan darah atau keluarga/ rezim keluarga tampil sebagai pemimpin dalam proses demokrasi tingkat lokal. Pilkada tingkat lokal diisi oleh elit suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik (subhan,2010).

Demokrasi deliberatif menekankan pada diskusi atau musyawarah untuk kepentingan publik dengan mengutamakan persamaan dan kesetaraan bagi warga negara. Demokrasi partisipatoris menjadikan warga negara berinteraksi secara langsung dalam pembahasan perumusan kebijakan guna mengatasi permasalah yang ada pada mereka.

Dari sini sudilah kita memahami bahwa demokrasi tidak hanya dari aspek prosedural melainkan juga demokrasi agregatif, deliberatif dan partisipatoris. Demokrasi agregatif  menuntut adanya partisipasi rakyat dalam menentukan kebijakan publik karena rakyatlah yang paling tahu kebijakan terbaik bagi dirinya. Demokrasi deliberatif menekankan pada diskusi atau musyawarah untuk kepentingan publik dengan mengutamakan persamaan dan kesetaraan bagi warga negara. Demokrasi partisipatoris menjadikan warga negara berinteraksi secara langsung dalam pembahasan perumusan kebijakan guna mengatasi permasalah yang ada pada mereka.

Selain pemahaman tersebut, meminjam istilah Nurcolish Madjid bahwa demokrasi bisa dibentuk sebagai perwujudan masyarakat madani jika terdapat civility (keberadapan dan keadilan) dalam penyelenggaraan pemerintahan. Untuk itu, konsentrasi pada politik prosedural tidak dijadikan justifikasi politik untuk kepentingan politik jangka pendek karena pembangunan politik (civility) jauh lebih penting daripada modernisasi politik.

BURHANUDIN MUKHAMMAD FATURAHMAN, LULUSAN MAGISTER ILMU ADMINISTRASI  UNIVERITAS BRAWIJAYA, TERTARIK PADA KAJIAN KEBIJAKAN PUBLIK, SOSIAL POLITIK 

Ribuan Inspirasi Membanjiri Konvensi Pendidikan Indonesia VI

0

KampusDesa, Kediri–Pendidikan merupakan salah satu pilar dalam mengembangkan suatu Negara. Pendidikan pada umumnya, merupakan suatu daya upaya untuk memajukan pertumbuhan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), fikiran, dan tubuh anak, hal ini memiliki pengertian agar selalu memadukan antar kesempurnaan hidup, yakni kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya.

Di era yang semakin berkembang, harapanya pendidikan ikut serta berkembang bisa mewadahi setiap bakat, kecerdasan peserta didik masing-masing. Hal ini memberikan ruh semangat partisipasi dari beberapa para pemerhati pendidikan untuk mengawal generasi Milineal yang selalu berevolusi menjadi yang lebih baik lagi.

OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik) merupakan suatu gerakan untuk selalu berjabat tangan dan gotong royong dalam lingkup pendidikan. Gelar wicara Konvensi Pendidikan Indonesia yang selalu di laksanakan oleh OLDWA bersama para antek-anteknya seperti Sekolah Dolan, Sekolah Garasi, Kampus Desa, The Naff A Creative and Fun School, Sekolah MI Modern Sakti Permata Hati Ibu, dan lain sebagainya. Segenap jajaran itu memberikan inspirasi terhadap sahabat-sahabat muda dan para praktisi lainnya agar selalu ikut serta dalam ikhtiar Menumbuhkan Pendidikan yang Mencerahkan.

Sekolah Tanpa PR. Simulasi ketuntasan belajar melalui penguatan kepemimpinan

Pada tahun ini, Konvensi Pendidikan bertepatan pada hari Minggu 01 Juli 2018 yang bertempat di Kediri. Meskipun di hari minggu merupakan hari yang selalu di tunggu untuk berlibur maupun berkumpul dengan keluarga, para praktisi, pemerhati dan pengamat pendidikan tetap membanjiri The Naff, A Creative and Fun School yang terletak di Gg. 7 Mojoroto No.9 Kediri guna ikut serta dalam Konvensi Pendidikan Indonesia VI di Kediri.

Kegiatan ini terbungkus sederhana, namun sangat professional yang dibanjiri oleh para narasumber pastinya nyentrik luar biasa. Pembukaan diawali sambutan oleh Mr. Nafik Palil founder The Naff A Creative and Fun School selaku tuan rumah. Di sela-sela sambutan, beliau memberikan ice breaking agar seluruh peserta dalam gelombang frekuensi yang sama, dan memaparkan beberapa SOP (Standar Operasional Prosedure) dengan contoh yang sederhana yaitu SOP ketika hendak memulai makan, dan ternyata hal itu sangat luar biasa, bisa diaplikasikan di ranah kegiatan yang lainnya, meninggalkan bekas karakter sampai usai acara.

Selanjutnya sambutan oleh Prof. Kentar Budhojo selaku salah satu Founder OLDWA dan Founder Sekolah Garasi Turen Malang, yang selalu menginspirasi para sahabat muda untuk selalu berevolusi dalam perubahan. Selanjutnya menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai simbol dimulainya gelar wicara pada pagi ini.

Community based education. Peserta memresentasikan hasil mindmapping rumusan pengembangan sekolah berbasis komunitas

Para peserta terlihat antusias sekali dalam mengikuti acara dari awal sampai selesai, meskipun acara ini padat merayap sampai sore hari, mereka tidak merasa lelah dengan suntikan inspirasi ilmu yang di mulai pukul 08.15 sampai 12.30 bertema “Pendidikan yang Mencerahkan, Keluar Dari Paradog Belenggu Pendidikan” oleh Prof. Kentar Budhojo, Dr. Najmah Katsir, Mr. Nafik Palil, Sri Saktiani, dan Bapak Lukman Hakim dengan fasilitator Dr. Moh. Mahpur. Selanjutnya para peserta menikmati jamuan makan siang, sholat dhuhur sekaligus menikmati pameran pendidikan.

Waktu menunjukkan pukul 13.30, acara segera dimulai kembali, tentunya dengan gelombang yang lebih seru lagi. Di awali oleh ice breaking oleh kak Rubi dan dilanjutkan diskusi panel tanya jawab secara keseluruhan, hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi peminatan yang akan di pelajari lebih mendalam oleh peserta konvensi sebelum memasuki kelas-kelas berbagi inspirasi bersama pakar ahli masing-masing.Setelah usai diskusi panel, dibentuklah kelompok kelas Forum Group Discussion sesuai dengan minat peserta.

Konvensi pendidikan Indonesia VI di Kediri, memberikan beragam oleh-oleh nuansa ilmu baru dari hasil FGD diantaranya; Pertama, Lingkup Pendidikan Karakter dan Kreatif dengan fasilitator Lukman hakim. Kedua; pendidikan inklusif dengan fasilitator Prof. Kentar Budhojo dan Bu Rachmi Aida. Ketiga; pendidikan untuk semua dan pemberdayaan Komunitas dengan fasilitator kak Rubi dan Dr. Sakbhan Rosidi. Keempat; Membangun Manajemen dan Mutu Kelembagaan Pendidikan dengan Fasilitator Dr. Najmah Katsir dan Mr. Nafik Palil. Sebelum menuju pada sesi group discussion Mr. Nafik seperti biasa menyuntikkan beberapa ice breaking agar peserta tetap dalam zona nyamannya.

Di akhir Group Discussion, masing-masing forum menunjuk salah satu dari anggota mereka utuk memaparkan hasil yang sudah diulas dengan fasilitator masing-masing di depan semua semua peserta. Kegiatan ini memberikan harapan, semua materi meskipun sangat singkat dan padat pada satu hari itu bisa di pahami oleh seluruh peserta Konvensi pendidikan Indonesia.

Dengan demikian, semoga dari Konvensi ini, membawakan beragam perubahan dan pembenahan yang lebih kreatif, inovatif yang bisa memanusiakan seluruh peserta didiknya. Selain itu hasil dari konvensi ini bisa menjadi pijakan kebijakan pendidikan di Nusantara khususnya di Jawa Timur Tutur Isa Anshor selaku Dewan pendidikan Jawa Timur (YW).

Postmodern dan Bule Masuk Kampung

0

Kesadaran mengenai asupan tubuh yang lebih orisinil sehingga tubuh kita terjamin dari ancaman micin, apakah sebuah keutuhan pemahaman mengenai hidup sehat ? Seorang bule Jerman begitu selektif memilih makanan yang dia santap. Dia pun menolak makan bakso, setelah bertanya, apakah di bakso itu ada micin? Apakah lidah kita sudah mengalami doktrin micinisasi hingga jauh merasuk dalam keyakinan kita ?

3 Februari lalu, Alhamdulillah masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk pulang ke tanah kelahiran setelah hampir dua tahun terdampar di Negeri der Panzer. Momen tersebut begitu berarti setelah sekian lama menabung kerinduan di Negeri seberang. Mudik dan Desa dua khasanah yang tak akan pernah bisa dipisahkan dalam perjalanan kehidupan saya. Suasana kekerabatan, gotong royong, hidup sederhana, dan beragam kekhasan lain yang mungkin telah memudar atau bahkan langka ditemukan lagi hari-hari ini.

Dikarenakan tidak banyak barang yang akan dibawa pulang berinisiatiflah saya untuk ikut tradisi teman-teman di perantauan berupa jasa jual bagasi. Jasa jual bagasi ini kebanyakan dilakukan oleh para mahasiswa dari Jerman yang hendak pulang ke Indonesia dan menjual bagasinya dengan harga per kilogram sekian Euro. Selain menguntungkan bagi para mahasiswa yang rata-rata di Jerman ini Kuliah sambil Bekerja, tradisi tersebut juga menguntungkan para pembeli jasa sebagai alternatif mengirimkan barang dengan segera sebab kesempatan untuk pulang ke Tanah Air yang memang masih jauh dari perencanaan.

Dari sekian nama yang menitipkan barang ke saya, kebetulan satu diantaranya adalah Mbak Bule Jerman yang telah tinggal lebih dari tiga tahun di Yogyakarta, sebut saja namanya Mbak Susie. Hari berikutnya, tanggal 4 Mbak Susie berencana mengambil barang ke rumah. Dengan modal share-loc dari Whatsapp berangkatlah Mbak Susie beserta sang anak mencari alamat yang juga berada sekitar 12 Km dari puncak Merapi itu. Meski dihadang hujan deras bulan Februari dan bertanya ke orang di jalan, sampailah Mbak Susie di rumah saya. Entah kebetulan atau tidak Mbak Susie ini sepertinya orang Bule pertama yang masuk ke dusun kami dan dia sangat terkesan dengan hijaunya rerimbunan pohon Salak yang tak putus-putusnya di daerah kecamatan kami.

Makanan-makanan Bio setidaknya 5 sampai 15 tahun terakhir menjadi pilihan utama mayoritas warga Jerman yang telah sadar akan pentingnya makanan yang diproduksi secara baik, sehat serta tidak banyak campuran zat kimia bagi kesehatan.

Setelah menyerahkan barang-barang titipan yang kebanyakan adalah makanan berlabel Bio, kami pun mengobrol panjang lebar. Makanan-makanan Bio setidaknya 5 sampai 15 tahun terakhir menjadi pilihan utama mayoritas warga Jerman yang telah sadar akan pentingnya makanan yang diproduksi secara baik, sehat serta tidak banyak campuran zat kimia bagi kesehatan. Harga produk-produk Bio ini pun lebih mahal daripada produk makanan biasa lainnya. Mbak Susie ini rela membeli hampir 10 Kg produk-produk Bio dari Jerman untuk sediaan bagi dirinya dan sang anak. Bio di Indonesia bisa hampir disamakan dengan produk-produk organik yang tidak menggunakan obat atau bahan kimia tambahan dalam proses produksinya.

Ada tiga hal lain yang membuat saya terperanjat dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 4 jam itu. Kalau hal-hal tersebut terjadi di Jerman maka saya tak akan heran, namun saya sangat salut karena kebetulan itu terjadi di Indonesia dan di Rumah kami. Oh ya, Mbak Susie ini usianya kira-kira masih dibawah 35 tahun, saya pribadi enggan bertanya karena itu merupakan wilayah privasi yang kebanyakan Bule tidak menyukainya jika ada yang bertanya.

Pertama, dikarenakan dingin setelah hujan kami berinisiatif menyajikan bakso hangat bagi Mbak Susie dan sang anak. Sejurus kemudian Mbak Susie bertanya, itu di dalamnya apakah ada kandungan micin-nya? Sontak kami pun mengangguk sebagai tanda mengiyakan. Meskipun si Anak sangat menginginkannya, Mbak Susie hanya memperbolehkan si Anak mengambilnya satu butir. Sedang minumannya pun dia tak mau teh dengan gula yang kebanyakan menjadi minuman utama bagi tamu, Mbak Susie memilih untuk segelas air  putih hangat saja.

Momen kedua, kala Mbak Susie menengok kolam belakang rumah kami yang kebetulan ikannya sudah besar-besar karena Bapak memang merencakan untuk menangkapnya setelah saya pulang ke rumah. Mbak Susie pun bertanya, ikannya dikasih makan apa kalau di sini? Tradisi di rumah kami sekian lama sebenarnya hanya memberinya dedaunan lalu entah sudah berapa lama akhir-akhir ini juga menggunakan pelet sebagai tambahan. Mbak Susie pun bilang kalau pelet itu pun sebenarnya tidak baik buat ikan, karena banyak kimianya. Saya sendiri pun saat itu sebenarnya belum menyelidiki dari apakah pelet terbuat? Momen menohok yang luput dari pengetahuan saya pribadi dan hanya berarti harus lebih teliti dan belajar lebih lagi tentang apa-apa saja kandungan dalam setiap makanan itu.

Momen ketiga, setelah dua hingga tiga jam mengobrol kesana-kemari dan hujan sepertinya telah usai Mbak Susie beserta anak ingin ditemani jalan-jalan ke luar melihat-lihat dusun. Di sebelah timur dusun kami terdapat Benteng yang dibangun lebih tinggi dari pemukiman warga sebab berbatasan langsung dengan Kali Bebeng (Sungai Bebeng) yang dulunya dibuat untuk menanggulangi Banjir Lahar Dingin Merapi yang dulu pernah menyapa dusun kami. Hilir dari Kali Bebeng ini nantinya adalah Kali Krasak yang menjadi batas antara Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dengan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mbak Susie menyampaikan kesannya akan sangat senang bisa jalan-jalan di hijaunya dusun kami, melihat banyak tanaman palawija, kolam, juga pohon-pohon Kelapa yang begitu langka. Saya sendiri sangat maklum sebab di Jerman tidak ada pohon Kelapa dan imajinasi mereka tentang liburan indah ialah bisa berjemur di Pantai dibawah pohon-pohon Kelapa dengan hangatnya sinar mentari yang menyinari.

Posmodernisme, Kembali ke yang Aslikah ?

Salah satu ide positif dalam Postmodernisme ialah penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi dan spiritual yang tergeser oleh rasionalisme yang pragmatis. Masa dimana suatu hal dapat mudah sekali terganti dengan hal yang baru yang memiliki nilai lebih tinggi sebab manusia tak lagi memandang modernisasi sebagai suatu upaya yang dapat memuaskan kebutuhan mereka. Salah satu ciri postmodern sebagaimana cerita di atas bisa kita sebut kecenderungan adanya Bali Ndeso, Kembali ke Desa, kembali pada kearifan-kearifan yang telah lahir dan mengakar sejak dahulu di sana. Seperti semangat bule yang saya ceritakan di atas, barangkali peristiwa tersebut bisa dikait-kaitkan, oh ternyata postmodern sendiri pertama kali muncul dari Jerman pada tahun 1917 oleh Rudolf Pannwitz. Kalau ada bule Jerman sadar terhadap kebutuhan otentik tubuhnya dan selalu bertanya yang asli-asli, maka posmodern adalah kesadaran membongkar kepalsuan menuju keaslian. Dan gaya hidup resto kembali ke budaya dan tradisi akan menjadi bagian dari kesadaran akan yang asli.

Pada budaya makan sendiri orang-orang Indonesia terutama konsep-konsep restoran sudah banyak yang kembali menampilkan suasana budaya adat sebagai ikon yang dihadirkan tahun-tahun belakangan ini. Di Jogja misalnya telah menjamur konsep resto dengan dekor Joglo, Saung, hiburan instrumen gamelan, Lesehan, Makan dengan tangan langsung, Kendi, dan suasana khas Jogja dan Jawa lainnya. Pada perjalanan waktu benar bahwa jadilah dirimu sendiri, diri yang ditakdirkan Tuhan terlahir bersuku Jawa dengan budaya dan keluhurannya yang tinggi. Jangan mudah latah, ikut-ikutan budaya lain yang malah jauh melenceng dari sejatinya diri kita. Terimakasih kepada Mbak Susie dan family yang telah mengingatkan akan budaya Jawa kami yang setidaknya telah banyak berubah sekitar 20 tahun terakhir ini.

Apakah Bali Deso itu berarti kembalinya lidah orisinil tanpa micin. Orang Jerman mengingatkan saya, kehadiran Bule Kampung menyadarkan jika reproduksi kebudayaan Jawa dalam berbagai ekshibisi modern seperti kuliner, ekonomi kreatif dan berbagai pilihan barunya, apakah sejatinya mereka hanya sebagai kegiatan membangun branding atau mereka pun telah mampu mengembalikan taste lidah kulinernya tanpa micin ? Posmodernisme berarti melawan hegemoni micinisasi yang meninabobokkan.

30 JUNI 2018. BADEN WUERTTEMBERG, JERMAN

Aku Cah Ndeso Maka Aku Menulis

0

KampusDesa, Bojonegoro – Sabtu (30/6) menjadi hari bersejarah bagi komunitas menulis KBM (Kita Belajar Menulis). Pasalnya, pada hari itu KBM sedang punya gawe besar. Gawe tersebut adalah Workshop Menulis dan Kopdar II. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara KBM dengan MTs Negeri 3 Bojonegoro.

Sekitar seratus orang dari berbagai latar belakang hadir dalam acara ini. Turut hadir pula Kepala MTs Negeri 3 Bojonegoro, Kepala MA Bahrul ulum (MABU) Kepohbaru, dan sejumlah guru baik dari kedua lembaga tersebut maupun lembaga lain di Kecamatan Kepohbaru. Kegiatan yang masih terhitung jarang di Kecamatan Kepohbaru ini bertempat di Aula MTs Negeri 3 Kepohbaru.

Kemeriahan sudah terasa bahkan sebelum acara dimulai. Lantunan merdu lagu-lagu grup band siswa MABU, “Malibu Band” menyambut peserta yang datang. Sekitar pukul 09.00, acara pun dimulai. Narasumber dalam acara ini adalah penulis dan penyunting buku-buku inspiratif asal Lamongan, M. Husnaini.

Acara dibagi ke dalam tiga sesi. Sesi pertama pembukaan, dilanjutkan workshop menulis, dan terakhir Kopdar II khusus untuk anggota KBM. Dalam acara pembukaan tersebut terdapat penampilan deklamasi puisi oleh tiga siswi SMAN 1 Kepohbaru yang merupakan anggota KBM. Mereka adalah Siska Monika Ispurwadi, Siska Monika Ispurwadi, dan Putri Novitasari. Mereka bertiga membawakan puisi karya anggota KBM lainnya, Sigit Priatmoko dan Muhammad Alim.

Meski KBM baru berusia delapan bulan, namun kiprahnya dalam membumikan literasi di daerah Kepohbaru dan sekitarnya sudah mulai terasa. Terbukti, dari waktu ke waktu jumlah anggotanya terus bertambah. Hingga sekarang sudah terdapat 41 orang anggota. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari siswa, petani, karyawan, guru, dosen, hingga kepala kantor kementerian agama. Daerah asal mereka pun beragam. Mulai dari Kepohbaru sendiri, Modo, Sumberejo, bahkan Bubulan.

Acara ini juga dimanfaatkan oleh KBM untuk launching buku antologi perdana mereka. Judul buku ini cukup menggelitik, “Karyane Cah Ndeso, Aku Cah Ndeso Maka Aku Menulis”. Spirit yang diusung buku ini adalah ingin membuang jauh-jauh kesan bahwa Cah Ndeso (anak desa; bahasa khas Kabupaten Bojonegoro) udik, tertinggal, dan sulit maju. Demikian tutur Slamet Widodo, Pendiri dan Ketua KBM, dalam sambutannya.

Drs. Juki, M.Pd, Kepala MTs Negeri 3 Bojonegoro menyambut baik dan sangat mengapresiasi kegiatan yang diadakan KBM ini. “Terima kasih saya sampaikan kepada komunitas KBM yang telah berkenan menjalin kerjasama dengan MTs Negeri 3 Bojonegoro. Kami mendukung sepenuhnya apa yang telah dilakukan KBM, kebetulan kegiatan seperti ini juga sejalan dengan Program Adhiwiyata” paparnya dalam sambutan selaku tuan rumah. Ia juga berharap siswa-siswi MTs Negeri 3 Bojonegoro tetap giat dan semanagt mengikuti kegiatan positif di KBM.

Memasuki sesi inti, yakni workshop menulis, peserta terlihat semakin antusias. Paparan materi yang lugas, cerdas, santai, dan aplikatif oleh M. Husnaini membuat peserta gayeng menyimak. Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya yang sedang menempuh doktoral di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini menyayangkan banyaknya orang bergelar akademik tinggi namun tidak bisa menulis. Oleh karenanya, ia sangat mengapresiasi adanya komunitas-komunitas yang concern membumikan literasi dan menulis seperti KBM.

Husnaini sengaja tidak menyiapkan slide materi, karena menurutnya hal demikian tidak efektif untuk pelatihan. Ia lebih menekankan pada praktik. “saya sengaja tidak menyiapkan slide materi. Karena tujuan kita adalah latihan menulis. Jadi, nanti kita akan langsung praktik saja.”tandasnya. Ia juga mengatakan bahwa menulis itu semudah bercerita. “Menulis itu menjelaskan sesuatu kepada orang di depan kita. Menulis itu bercerita” tambahnya.

Sesi workshop menulis berakhir pada pukul 12.00. Di akhir acara para peserta yang aktif diberi buku sebagai wujud apresiasi. Sesi terakhir adalah Kopdar II KBM. Sesi ini dikhususkan bagi anggota KBM. Pembahasan yang diagendakan adalah perumusan visi, penjelasan kegiatan, dan rencana tindak lanjut workshop menulis. Adapun visi yang disepakati adalah “Membangun Tradisi Menulis Cah Ndeso”. Rangkaian kegiatan hari itu diakhiri dengan ramah tamah di Rumah Literasi, yang tak lain merupakan kediaman Pendiri KBM, Slamet Widodo.[]

Media Massa dan Kebobrokan Bangsa

0

Reformasi membawa perubahan pada media massa. Ekspresi media juga beragam. Mungkinkah media netral dan memotret kepentingan politik demokrasi di tanah air? Ketika media massa sebagai bagian dari dunia bisnis, kemudian mendapatkan keuntungan bisnis, mungkinkah mereka tetap menjaga independensi ? Lalu, bagaimana kalau yang penting untung ?

Dalam konteks bernegara, peran media massa dalam kehidupan demokrasi memang tak diragukan lagi. Ia tidak hanya berperan sebagai penyalur informasi, namun juga sebagai sarana check and balance dalam rangka terciptanya good governance. Bahkan menurut Cak Nur (M. Nurcholis Madjid), media massa atau pers dapat dikatakan sebagai pilar keempat demokrasi di samping legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Sejak berakhirnya cengkraman tangan besi rezim Orde Baru dan berdentangnya lonceng reformasi, media massa pun turut meraih kemerdekaannya. Insan media tak perlu lagi takut untuk memberitakan dan menyampaikan informasi dan/atau fakta-fakta yang kontra terhadap pemerintah. Banyak yang percaya hal ini menandai kebangkitan demokrasi di Indonesia.

Pertanyaan yang laik diajukan sekarang adalah, apakah setelah 20 tahun reformasi digelorakan, media massa/pers telah menjalankan peran yang diamanatkan kepadanya? Sudahkah cita-cita reformasi tercapai?

Dalam beberapa hal memang patut kita apresiasi kiprah dan sepak terjang media massa dalam mengawal jalannya demokrasi. Namun dalam beberapa hal patut pula kita pertanyakan kembali independensi mereka dari kontestasi politik tanah air. Tak perlu menyebut merk, kita semua bisa merasakan mana media massa yang benar-benar menjaga independensi dengan yang tidak. Sederhana saja, cukup kita tengok who’s man behind the gun?

Pengaruh sosok di balik media massa sangat menentukan ke arah mana media tersebut mencondongkan diri.

Pengaruh sosok di balik media massa sangat menentukan ke arah mana media tersebut mencondongkan diri. Jika sosok yang ada di baliknya pro pemerintah, maka hampir dapat dipastikan konten berita yang dimuat jarang menampilkan kritik tajam pada pemerintah. Sebaliknya, jika sosok di baliknya kontra atau oposan pemerintah, maka tidak sulit kita menemukan kritik-kritik tajam yang terselip di program-programnya.

Bagaimana mungkin akan tercipta good governance jika netralitas media massa tak lagi ada? Sungguh sulit untuk diwujudkan.

Hal lain yang laik juga untuk dipertanyakan adalah komitmen media massa untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama televisi dengan gemerlap industri hiburannya. Ketatnya persaingan dan bertambahnya tuntutan inovasi hiburan menjadi faktor utama mereduksi hal ini.

Bagaimana tidak? Mari kita hitung berapa banyak tontonan di televisi kita yang bukannya memberi teladan baik, namun justru mempertontonkan hal-hal yang tak laik dikonsumsi publik. Dan tentu saja sangat sukar menemukan nilai-nilai positif di dalamnya.

Nilai positif apa yang bisa kita ambil dari program talk show yang mengumbar aib orang? Nilai karakter apa yang bisa kita cecap dari sinetron yang mempertontonkan tindakan brutal, kedurhakaan, balapan liar, mabuk-mabukan? Di mana sisi positifnya dari program yang menayangkan tindakan perselingkuhan?

Ironisnya, hal-hal yang demikian justru semakin digandrungi para pemirsa televisi. Asal suatu program berbau kontroversi, berbalut konflik, percekcokan, pendiskreditan, dan fitnah akan dengan mudah laris di masyarakat. Dan parahnya, program-program yang bermuatan hal-hal seperti ini tayang pada jam-jam dimana anak-anak sedang menikmati waktu luangnya.

Di satu sisi kita mendengungkan perubahan, pembangunan, dan penataan masa depan yang lebih baik, namun di sisi yang berbeda kita justru sibuk memperkaya diri dengan hal-hal yang justru mengantarkan kita pada kebobrokan. Wallahu a’lam

LAMONGAN, 29 JUNI 2018