Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 78

Konvensi Pendidikan Indonesia VI, Sebut Mereka Gila

0

KampusDesa, Kediri — Dua buku keren yang ada di gambar bawah adalah hadiah yang diberikan oleh penulis hebat yang sekaligus merupakan praktisi-praktisi pendidikan dan juga pendidik sejati yang ilmu serta teladannya sudah tidak diragukan lagi.

Buku yang berjudul ‘Sekolah Tanpa PR’ yang di dalamnya berisi 4 model pembelajaran ini merupakan karya Mr. Nafik Palil Yuniro yang mana beliau adalah CEO The Naff A Creative and Fun School. Sedangkan buku yang berjudul ‘Strategi Najmah’ ini karya Bu Najmah yang mana beliau merupakan Kepala Sekolah MTs NU Pakis-Malang yang juga pendidik sejati.

Kegiatan Konvensi Pendidikan Indonesia VI yang diadakan di Kediri pada tanggal 1 Juli 2018 ini, selain dihadiri oleh Mr. Nafik selaku tuan rumah dan Bu Najmah dari MTs NU Pakis, kegiatan tersebut jg dihadiri oleh para praktisi pendidikan lain seperti Eyang Kentar Budhojo (Founder Sekolah Garasi), Pak Lukman Hakim (Founder Sekolah Dolan), Pak Mahpur (Founder Kampus Desa), Bu Sri Saktiani (Founder MI Modern Sakti permatahati Ibu TA), dan masih banyak lagi.

Para praktisi pendidikan yang hadir dalam kegiatan tersebut merupakan orang-orang yang mampu berpikir out of the box, kalau dawuhnya Eyang Kentar adalah kumpulan orang-orang gila. Kenapa? Karna mereka mempunyai aturan-aturan sendiri dalam menjalankan program pendidikan yang tentu saja dengan berbagai pertimbangan pemikiran, serta mampu melahirkan generasi-generasi muda hebat yang tkdak hanya berpikiran luas (pandai), tetapi juga berkarakter.

Orang hebat itu tidak akan menunggu dan terus menuntut pemerintah/atasan melakukan sesuatu, tetapi mereka yang hebat adalah yang mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sekitarnya. Sekecil apapun yang kita berikan, akan memiliki manfaat yang bernilai besar jika dilakukan dg tulus ikhlas. Termasuk yang dilakukan beliau-beliau ini.

Terimakasih sudah diberi kesempatan menimba ilmu dan menjadi bagian dari komunitas OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik). Semoga keberkahan dan kemanfaatan ilmu senantiasa ada dalam setiap proses perjalanan belajar bagi para pebelajar. Dan semoga tidak pernah lelah untuk terus belajar, belajar, dan belajar, aamiin.

MOJOROTO, GANG 7 NO.9 KOTA KEDIRI
MAHALA SARI. PEGIAT LITERASI DAN SEORANG GURU DI KOTA TRENGGALEK. SALAH SATU YANG TERLIBAT DALAM KEPANITIAN KONVENSI PENDIDIKAN INDONESIA VI. PERNAH MENJADI PEGIAT GUSDURIAN DI MALANG.

Manfaat Buah Kurma Bagi Kesehatan Bibir

0

Pernah mengalami bibir pecah-pecah. Tentu rasanya tidak nyaman terlebih perempuan. Bibir pecah-pecah akan mengganggu penampilan, bahkan mengurangi rasa percaya diri kita. Ternyata, sebuah pengalaman menunjukkan jika buah kurma menjadi salah satu solusi.

Bagi setiap wanita, kecantikan amatlah penting. Khusus pada bagian bibir. Namun, masalahnya terkadang kita menyepelekan perawatan bibir. Padahal kalau sudah kering dan pecah-pecah, apalagi berlanjut sampai iritasi, berdarah dan bernanah. Akan lebih sulit mengatasinya loh. So, sebelum yang tidak diinginkan terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Beberapa hari yang lalu aku sempat mengalami masalah itu, aku pikir karena kurang vitamin C, lalu aku banyak mengkonsumsi jeruk. Ternyata, makan jeruk justru membuatku radang dan sariawan. Entah karena jeruknya yang banyak tercemar oleh zat kimia atau apalah, aku tak mengerti. Intinya, keluhanku pada mulut semakin banyak.

Kemudian aku mengkonsumsi protecal yang bagus untuk kesehatan tulang. Sebenernya enggak nyambung sih, tapi demi kesembuhan. Bismillah aja deh.

Rutin tiga malam setiap mau tidur. Alhamdulilah radang dan sariawan hilang. Tapi masalah bibir masih belum ketemu solusinya, padahal jari jemariku sudah tak bisa dikendalikan. Sehingga, bibirku berdarah.

Melihat ada buah kurma di atas meja makan, langsung saja aku makan. Vitamin yang terkandung dalam buah kurma antara lain vitamin A, tiamin (Vit B1), riboflavin (Vit B2), niasin (Vit B3), dan asam pantotenat (Vit B5) dalam jumlah yang bisa diandalkan. Selain itu terdapat juga kandungan vitamin C dan vitamin E. Vitamin A berfungsi untuk memelihara fungsi mata dan mencegah kekeringan dan penyakit mata. Vitamin B berfungsi menenangkan sistem syaraf dan untuk relaksasi jantung serta membuat pikiran menjadi lebih riang. Tak hanya vitamin, kurma juga mengandung kalium, mineral-mineral penting seperti kalsium, besi, magnesium, mangan, tembaga dan fosfor.

Aku sih orangnya enggak mau repot dan jenius, jadi saat kurma yang ada di dalam mulutku aku kunyah, aku biarkan lidah ini membantu untuk mengeluarkan sari kurma yang sudah bercampur saliva ke bibirku. Hehe

Atau kalian juga bisa menggerusnya dengan sendok, lalu tambahkan sedikit madu dan oleskan pada bibir yang kering dan pecah-pecah.

Alhamdulilah, hanya beberapa menit setelahnya, bibir terasa lembab dan lebih kenyal. Tentu saja hal ini berdampak pada citra tubuh yang menyebabkan semakin percaya diri dengan penampilan yang dimiliki. Selamat tinggal bibir kering dan pecah-pecah.

Kini, saatnya aku menikmati keindahan bibir yang tampak merah secara alami. Luar biasa sekali bukan? Tujuannya satu-bibir sehat- tapi dapatnya lebih daripada itu, selain kesembuhan, kecantikan alami pun didapatkan.

Selamat mencoba, semoga mendapatkan lebih banyak dariku.

Tambun, Bekasi 22 Juli 2018

Kampoeng Dolanan Goes to School

0

Saatnya, sekolah memiliki aneka permainan tradisional untuk meningkatkan gerak motorik secara kontinyu. Permainan ini menyehatkan mental anak. Kampoeng Dolanan bergerak melintasi berbagai kota di Indonesia untuk mengampanyekan dolanan sebagai bagian yang penting bagi perkembangan menta generasi.

KampusDesa, Surabaya — Pekan ini menjadi pekan produtif komunitas kampoeng dolanan dalam menyosialisasikan permainan tradisional. Bagaimana tidak, dalam empat hari terakhir, terhitung sejak tanggal 16-19 juli kemarin keliling untuk memperkenalkan permainan tradisional di Surabaya dan Lamongan.

Animo masyarakat terutama para pendidik yang ada di lingkungan sekolah cukup tinggi. Dalam empat hari berkunjung ke 5 sekolah yakni di SDN Mojo III, SDN Pakis V, MI Muhammadiyah 28 dan SD Ahmad Yani yang berlokasi di Surabaya, sedangkan satu sekolah berdomisili di Lamongan yakni SMPN 2 Ngimbang.

Permainan tradisional nampaknya mulai mendapat perhatian di kalangan pendidik dan masyarakat. Bahkan, SDN Mojo III hingga dengan berani mengangkat sekolahnya sebagai sekolah pelestari permainan tradisional. Hari pertama Layanan Orientasi Sekolah (LOS) SDN Mojo III, anak-anak kelas I langsung diperkenalkan dengan permainan tradisional. Sedangkan untuk kelas 2-6 sudah disiapkan pojok dolanan sebagai tempat untuk bermain permainan tradisional.

Mengangkat teman dengan tangan yang ditelengkupkan dengan pasangan

Yang uniknya lagi adalah dalam perencanannya, di setiap hari Rabu menjadi waktu yang wajib bagi anak-anak untuk bermain permainan tradisional. Mari kita dukung niat baik masyarakat dan pendidik yang sudah mulai muncul kepedulian dalam melestarikan permainan tradisional.

Kami berharap, permainan tradisional bisa dikenalkan kepada anak-anak supaya nilai-nilai yang ada di permainan tradisional bisa tersampaikan kepada anak-anak. Sebuah nilai tentang kejujuran, sportivitas, team work, disiplin, tanggung jawab dan lain-lain.

Kesempatan itu pasti ada, tinggal kita mau mengambil kesempatan tersebut atau tidak.

Salam Lestari, Kampoeng Dolanan

Mustofa. Founder Kampoeng Dolanan Jawa Timur

Festival Permainan Tradisional dan Gerakan Kendari Mengajar

0

Usaha melestarikan permainan tradisional selalu banyak cara. Meski perubahan teknologi dan informasi semakin mengubah perilaku bermain dari fisik ke virtual, para pegiat Gerakan Kendari Mengajar (GKM) merasa terpanggil untuk memecah aktifitas online non-fisik menggunakan gelar permainan tradisional di Taman Kota Kendari. Waktu mereka dicuri untuk ditukar dengan kegembiraan fisik di tengah zaman virtual.

KampusDesa, Kendari — Kita pasti pernah melihat gedung megah nan menjulang tinggi entah secara langsung maupun tidak. Apa yang terlintas dibenak kita ketika melihat gedung tersebut? Pemodal besar? Arsitektur hebat? Desain yang luar biasa? Dan sederet pemikiran lainnya.

Ya, memang benar mereka semua turut andil. Tapi jarang yang berpikir tentang pekerja kasar yang bekerja siang dan malam hingga fisik bangunan yang dulunya hanya sebuah khayalan kini terlihat nyata di depan mata. Bangunan semegah itu tentu dapat berdiri tidak terlepas dari kontribusi-kontribusi kecil yang seringkali terlupakan oleh banyak orang.

Di sana ada penambang pasir, sopir yang mengangkut bahan baku, perusahaan penyedia bahan baku yang didalamnya terdapat karyawan-karyawan kecil dan masih banyak lagi pihak lainnya yang terlibat.

Berbicara mengenai kontribusi, setiap orang mungkin saja memiliki versi masing-masing. Namun, satu hal yang pasti bahwa setiap kontribusi sekecil apapun itu akan selalu memberikan pengaruh, disadari ataupun tidak. Begitupula yang dilakukan oleh Gerakan Kendari Mengajar (GKM), sebuah organisasi relawan yang memfokuskan kegiatannya pada bidang pendidikan.

Organisasi ini terletak di provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di kota Kendari. Mungkin tak banyak yang tahu keberadaannya, tapi para kontributor yang terlibat didalamnya akan tetap berkarya demi memberikan sebuah arti dari berbagi. Kini usia GKM telah memasuki tahun ke-5. Tidak sedikit kontribusi yang telah diberikan dan bukan hal yang mudah untuk menjaga agar organisasi ini tetap ada. Semua itu tidak terlepas dari andil para pemercaya tulus didalamnya sebagaimana yang selalu diungkapkan oleh koordinator GKM, kak Asni.

Tarik Tambang

Tepat pada tanggal 15 Juli 2018, dalam rangka apresiasi 5 tahun GKM berkarya, organisasi ini kembali memberikan berbagai kontribusi positif salah satunya adalah dengan menggelar festival permainan tradisional.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Kemajuan teknologi walaupun memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, namun tidak sedikit pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Kehadiran gadget seringkali menyita sebagian besar porsi waktu kita untuk dihabiskan dengan aktivitas yang kurang bermanfaat.

Game online dan media sosial telah melahirkan individu-individu yang aktif di dunia maya namun pasif didunia nyata. Jadi tidak mengherankan jika kita sering menjumpai orang-orang yang individual dan cenderung anti sosial. Akses media sosial yang semakin mudah menjadikan penggunanya bebas berekspresi, namun sangat disayangkan ketika kebebasan berkespresi ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik.

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dikagetkan dengan kabar anak SD yang sudah menjalin hubungan asmara, padahal di usia seperti itu adalah saat dimana seharusnya mereka belajar dan bermain. Maraknya kasus bullying antar sesama pelajar dan yang sangat memprihatinkan ketika mereka tanpa segan merekam dan membagikannya seolah-olah itu bukanlah aib bagi pelakunya.

Aksi saling menghujat sesama netizen yang kerap ditemui di kolom komentar di berbagai postingan. Dan masih banyak lagi kasus penggunaan media sosial yang salah kaprah. Belum lagi kehadiran berbagai aplikasi yang sangat tidak mendidik. Padahal, dulu masa kanak-kanak lebih banyak dihabiskan dengan bermain, berbeda dengan generasi saat ini.

Oleh karena itu, GKM berinisiatif menyuguhkan permainan tradisional yang telah tergerus arus teknologi. Festival permainan tradisional ini dimaksudkan untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional yang kaya akan budaya. Permainan tradisional juga merupakan identitas dan kekayaan bangsa yang harus dijaga.

Nilai yang terkandung didalamnya, antara lain nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, persahabatan, dan menumbuhkan keceriaan

Ada banyak nilai yang terkandung didalamnya, antara lain nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, persahabatan, dan menumbuhkan keceriaan. Selain itu, permainan tradisional juga dapat melatih emosi, seperti toleransi, sportifitas, dan empati.

Bakiak Kelompok

Kegiatan ini digelar beberapa waktu lalu di Taman Kota Kendari dan menarik perhatian hampir setiap orang yang melihatnya. Ada berbagai kalangan yang tertarik ikut serta, tua dan muda, pria maupun wanita. Adapun jenis permainan yang disuguhkan antara lain egrang, sodokoro, tarik tambang, bakiak, gasing, masuke, ketapel tangan, lompat tali, kalego, balap karung, dan panahan.

Semua jenis permainan ini dulu sangat popular diprovinsi Sulawesi Tenggara dan mungkin juga didaerah lain yang ada di Indonesia. Selama kegiatan berlangsung, terlihat keceriaan di wajah para peserta. Ini menandakan bahwa permainan seperti ini sebenarnya disukai oleh setiap kalangan. Kini adalah tugas kita untuk mempopulerkannya kembali.

Kegiatan tersebut mungkin tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh generasi kita saat ini, namun harapannya adalah hal tersebut mampu membawa perubahan positif sekecil apapun itu. Sebagaimana GKM telah memberikan kontribusinya, Anda juga bisa memberikan kontribusi terbaik sesuai versi masing-masing. Selama itu positif, maka selalu ada yang akan menanti karya-karya tersebut. Salam hangat GKM, mengajar, mendidik, dan menginspirasi.

Kendari, Juli 2018

Kompetensi Tenaga Pendidik dalam Menghadapi Era Pendidikan 4.0

0

Dipungkiri atau tidak, teknologi informasi telah bergerak mengubah cara orang hidup dan mendapat penghidupan. Bahkan kepingan uang hari ini tidak lagi menjadi bukti bagi transaksi jual beli. Metode pembayaran juga tidak lagi berhadap-hadapan. Uang beralih bentuk menjadi bukti virtual. Kopi atau screenshoot bukti transfer dari rekening, transaksi bisa dipenuhi dan barang akan datang dalam hitungan jam atau hari. Supercepat atau quantum semakin menjadi kenyataan. Pertanyaannya, Apakah kompetensi alih teknologi masih gagap di kalangan pendidik ?

Sekarang ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi ke empat (Revolusi Industri 4.0) yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem di­gital, artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai lintas sektor kehidupan. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang, pasti membawa perubahan yang cukup signifikan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia.

Perubahan era ini tidak dapat dihindari oleh siapapun se­hingga dibutuhkan penyiapan sum­ber ­daya manusia (SDM) yang mewadahi agar siap menyesuaikan dan mampu bersaing dalam skala global. Peningkatan kualitas SDM melalui jalur pendidikan formal mulai dari ting­kat pendidikan dasar dan menengah hing­ga ke perguruan tinggi adalah kunci un­tuk mampu mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0 ini. Tak terkecuali dalam menempuh pendidikan, penyesuaian juga bisa dilakukan dengan cara reorientasi kurikulum untuk membangun kompetensi era Revolusi Industri 4.0 dan menyiapkan pembelajaran berbasis daring (online).

Para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global.Para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global.

Keberhasilan Indonesia untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti dosen, guru maupun tenaga pendidik lainnya. Para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Setiap lembaga pendidikan di Tanah Air harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan, terutama yang sangat terkait erat dengan persiapan SDM dalam menghadapi Revolusi Industri ke-4. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter.

Bagi lembaga pendidikan, penerapan e-learning sangat mem­bantu pendidik maupun peserta didik dalam proses belajar mengajar. Materi pembelajaran dapat tercapai setiap semester untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Karena harus kita pahami, bahwa pertemuan atau tatap muka di ruang kelas (face to face system) sering tidak memadai waktunya untuk penyampaian suatu topik bahasan secara menyeluruh atau kompre­hensif. Dengan adanya bantuan teknologi seperti in­ternet, maka materi yang kurang lengkap dapat dikirimkan dosen/guru kepada maha­siswa/siswa melalui surat elektronik (email) sehingga transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Mendikbud (Permendikbud) Nomor 4 Tahun 2018 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan dan Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah, ujian nasional (UN) yang diselenggarakan oleh pemerintah, dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang diselengarakan oleh satuan pendidikan terus menerus disempurnakan. Secara substantif peningkatan kualitas soal ujian baik ujian nasional maupun ujian sekolah berstandar nasional, yaitu dengan memasukkan secara bertahap standar yang disebut High Order Thinking Skill (HOTS). Guru-guru juga sudah dilatih untuk dapat membuat soal dengan standar HOTS ini.

Hasil penilaian menunjukkan bahwa siswa-siswa Indonesia masih lemah dalam kecakapan kognitif order tinggi (higher order thinking skill/HOTS); seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi.

Harapannya nanti akan ditemukan keselarasan antara pengukuran capaian hasil belajar siswa berdasar ujian nasional dengan capaian beberapa penilaian internasional. Hasil ujian nasional tidak jauh berbeda dengan hasil capaian siswa Indonesia pada Program for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Hasil penilaian menunjukkan bahwa siswa-siswa Indonesia masih lemah dalam kecakapan kognitif order tinggi (higher order thinking skill/HOTS); seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi. Fakta tersebut mendorong upaya penguatan kemampuan penalaran siswa dalam pembelajaran. Siswa perlu dilatih dan dibiasakan mengerjakan soal-soal yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan solusi, sebagai salah satu kecakapan untuk bersaing di abad ke-21.

Namun yang terjadi sekarang dan masih menjadi kendala adalah sistem pendidikan yang ada tidak banyak memberikan ruang untuk pengembangan diri dan cenderung membelenggu kreativitas anak. Pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal mengungkapkan bahwa saat ini anak-anak lebih banyak terbebani materi pelajaran yang membuat daya kritis mereka justru tidak muncul. Hal ini dikarenakan orientasi sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi. Di sisi lain, fungsi pengajar (guru) belum mampu memberikan perubahan yang besar bagi peserta didiknya. Itu artinya, guru belum siap mengantarkan anak didiknya untuk menjawab tantangan pendidikan di masa mendatang.

Oleh karenanya perlu ada transformasi mendasar pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem yang dimaksud berupa pendidikan yang benar-benar memberikan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator dalam meningkatkan kompetensi anak. Lembaga pendidikan seharusnya menggunakan metode belajar yang tidak hanya abstraksi membaca buku lalu ujian. Namun lebih memandang kepada persoalan nyata atau tematik dan itu membutuhkan paradigma yang berkembang di masa mendatang.

Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri.

Jika mengacu pendapat Martadi Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada; b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif.

Ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.

Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi guru yang dibutuhkan di era Pendidikan 4.0. Kelimanya meliputi: (1) Educational competence, kompetensi mendidik/pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill di era ini; (2) Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi siswa; (3) Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional; (4) Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s, dan lain sebagainya. (5) Conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.

Selain itu, pengembangan system cyber dalam dunia pendidikan akan memungkinkan guru maupun dosen dapat memberikan materi ajar yang mutahir sesuai perkem­bangan zaman, karena langsung dapat menayangkan materi itu dalam ruang kelas secara online.  Dengan kata lain, pemba­ngunan atau penyediaan fasilitas jaringan siber sebagai bagian integrasi dengan jaringan teknologi informatika di lembaga pendidikan akan mencip­takan berbagai kemudahan, baik dalam adminsitrasi akademik, non akademik, dan proses belajar me­ngajar, yang bermuara kepada pe­ningkatan kua­litas SDM output dari sebuah lembaga pendidikan.  Bila hal ini dapat terwujud secara me­rata di seluruh penjuru tanah air maka tenaga pendidik di Indonesia mampu memasuki era pendidikan 4.0. []

Mengatasi Public Distrust: Menakar Kualitas Calon Pemimpin Melalui Personal Data

Membangun demokrasi yang sehat mustahil dilakukan tanpa adanya sistem perpopilitikan yang transparan dan akuntabel. Absennya dua syarat penting ini akan melahirkan ketidakpercayaan masyarakat (public distrust) pada sistem yang berjalan. Akibatnya, partisipasi masyarakat dalam pemilu kian menyusut karena minimnya informasi tentang calon pemimpin yang tersedia. Muara dari semua ini adalah bermunculannya para pemimpin yang hobinya mengobral janji, tapi minim bukti. Lalu, bagaimana langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi public distrust?

Proses pemilihan umum dalam demokrasi adalah sebuah keniscayaan namun persoalan pemilihan umum tidak selalu yang utama dalam demokrasi. Demikianlah pernyataan yang muncul saat pesta demokrasi digelar secara nasional. Sekilas dari pernyataan tersebut memberikan sinyalemen bahwa pesta demokrasi di Indonesia lebih condong pada proses politik prosedural yang lebih dikenal sebagai modernisasi bidang politik, lebih tepatnya demokrasi yang fokus pada pembentukan partai politik, tata cara pemenuhan kouta calon legistatif, kampanye, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya praktik yang demikian ini menimbulkan efek buruk yakni persaingan tidak sehat antara lain money politik, cyber crime, berita hoax, terdapat juga figur politik yang dinilai dari sebatas popularitasnya saja.

Esensi dari pada pemilu adalah diusungnya calon pemimpin yang dianggap memiliki kompentensi dan kapabilitas dalam menyelesaikan masalah publik. Sebagai warga biasa tentunya sangat sulit untuk menentukan calon yang paling sesuai karena minimnya informasi terkait calon pemimpin. Kekurangan informasi ini harus menjadi perhatian bersama para penyelenggara pemilu baik ditingkat daerah maupun pusat. Selama ini informasi calon pemimpin yang dipublikasikan hanya seputar pendidikan dan pengalaman organisasi (oleh partai pengusung atau tim sukses) dirasa belum memuaskan para konstituen. Jangan sampai informasi yang sangat minim ini memicu public distrust karena saat terpilih justru lupa akan janji saat kampanye.

Setelah tiga kali dilaksanakan pemilu legislatif dan presiden secara langsung, Indonesia memasuki era pelaksanaan pilkada serentak mulai 2015. Semangat demokrasi demikian ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan partisipasi masyarakat, bahkan cenderung menurun.

Public distrust dapat dilihat dari angka partisipasi masyarakat saat pemilu masa Orde Baru pada 5 Juli 197. Pemilu tersebut merupakan pemilu pertama hingga pada tahun 1997 adalah pemilu terakhir masa Orde Baru. Selanjutnya, pasca-reformasi 1998, pemilu diselenggarakan tahun 1999. Kesadaran untuk membangun pemilu yang semakin demokratis diwujudkan dengan memilih secara langsung partai, legislator yang mewakili mereka, bahkan presiden dan wakil presiden. Setelah tiga kali dilaksanakan pemilu legislatif dan presiden secara langsung, Indonesia memasuki era pelaksanaan pilkada serentak mulai 2015. Semangat demokrasi demikian ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan partisipasi masyarakat, bahkan cenderung menurun. Komisi Pemilihan Umum menjelaskan, tahun 2014 partisipasi dalam pileg sebesar 75,11 persen sedang angka golput sebesar 24,89 persen. Tahun 2009 partisipasi dalam pileg sebesar 70,99 persen sedang angka golput sebesar 29,01 persen. Angka tersebut  jauh dari pemilu 2004 tingkat partisipasi sebesar 84,07 persen dengan angka golput mencapai 15,93 persen. Partisipasi masyarakat sebesar 93,30 persen dengan angka golput 6,70 persen pada Pemilu 1999 (detik.com)

Menurut Danang Girindrawardana (Ketua Ombudsman 2011-2016), pelayanan publik di Indonesia tidak membaik dalam 4 tahun terakhir. Jika pilkada tidak memberikan peningkatan kualitas pelayanan publik, maka masyarakat akan menilai pilkada sebagai sesuatu yang percuma. Oleh karena itu, memilih calon pemimpin yang kompeten dan kapabel dapat dilihat dari personal data calon pemimpin yang disediakan secara cyber space untuk dijadikan patokan bagi konstituen. Penyediaan data personal melalui media internet dapat mengurangi gap informasi calon pemimpin (M.Veale, University College London). Isu menyebarluaskan data di sektor publik merupakan hal yang sulit dilaksanakan. Masyarakat melihat pemerintahan sebagai entitas yang besar memiliki kekurangan tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan. Termasuk bagian dari kekurangan komunikasi terkait manfaat yang diperoleh dengan data sharing. Tugas dan fungsi ini semestinya ditujukan pada lembaga pusat keamanan jaringan nasional. Hambatan terbesar terdapat pada budaya dan kompleksitas dari pada teknologi (Peter Wells, a policy associate at the the Open Data Institute.)

Pengguna internet di Indonesia sendiri terbilang cukup banyak kecuali daerah dengan hambatan geografis yang berarti, menjadikan pemanfaatan teknologi personal data calon pemimpin terbuka lebar. Terlebih lagi pelimpahan wewengan dari pemerintah pusat ke daerah (baca: desentralisasi) mempermudah pelaksanaan yaitu dengan menyediakan lembaga khusus yang menghimpun data personal calon pemimpin di daerah secara spesifik mulai dari pendidikan, karier, kesehatan, keluarga, tindakan kriminal dan rincian lainnya. Untuk mempermudah pelaksanaan bisa bekerjasama dengan pihak penyedia layanan internert swasta nasional untuk menjangkau berbagai daerah. Dengan begitu preferensi masyarakat dalam menentukan pilihan menjadi jelas dan dapat mengurangi gap informasi calon pemimpin.

Membangun kepercayaan pada pemerintah sangatlah sulit. Realitas menunjukkan sistem manajemen data sangat buruk membuat kebenaran sejarah, privasi dan informasi tidak pernah didapatkan oleh pemilih

Membangun kepercayaan pada pemerintah sangatlah sulit. Realitas menunjukkan sistem manajemen data sangat buruk membuat kebenaran sejarah, privasi dan informasi tidak pernah didapatkan oleh pemilih. Hal ini membuat pengeluaran dana untuk memproteksi data sangat minim. Jika masyarakat ingin memiliki gagasan lebih baik, mereka seharusnya diberikan tempat dalam agenda politik, mengutarakan ketidakpuasan kepada lembaga informasi nasional. Agar pelayanan publik digital dapat memuaskan pengguna Craig (government sector strategy director at Sopra Steria) paling tidak memenuhi hal-hal sebagai berikut: 1) user dapat mengungkapkan data pribadi dengan aman 2) user dilindungi dari penipu 3) user memahami dan senang tentang perolehan data dan pembagian data. Pada akhirnya, kunci membangun kepercayaan datang pada politik maupun teknologi. Politik dibutuhkan untuk menyakinkan dan membuat masyarakat paham terhadap data yang disajikan dan bagaimana data tersebut digunakan (dan bermanfaat bagi mereka). Sedangkan teknologi harus memiliki tingkat akuntabilitas dan keamanan yang meyakinkan masyarakat dimana hukum harus ditegakkan.

Perjalan dan Sosok Dibalik Ojo Leren Dadi Wong Apik dan Konvensi Pendidikan

0

Ojo Leren Dadi Wong Apik (OLDWA), bisa dibilang orang gila. Mereka membuat terobosan untuk membangun kesadaran baru mengenai pendidikan yang memanusiakan. Kesadaran kolektif yang memantik lahirnya sebuah konvensi, bisa dibilang marjinal. Eh, maksudnya konvensi tanpa dasi. Pertemuan yang mengompilasi pemikiran-pemikiran alternatif untuk mengembangkan pendidikan yang terjerat sistem kuasa dan politik hegemonik. Entah sebutan ini terlalu kasar atau upaya membangun ruang merdeka, bahwa pendidikan masih butuh transformasi menuju pendidikan yang memanusiakan. Siapa toh mereka ini?

Kampusdesa.or.id–Banyak yang mempertanyakan hal-hal aneh di Konvensi Pendidikan VIII di Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk kemarin, Ada yang heran kok bisa seramai itu dan betapa banyak terjadi saling berbagi ilmu. Namanya juga aneh-aneh, ada OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik), ada kata Konvensi, ada Sekolah Rakyat dan sebagainya.

Apa itu OLDWA, apa kumpulannya orang-orang tua karena ada OLD? Namun yang hadir kok ya banyak yang belum tua?

Apa itu Konvensi, kan biasanya konvensi itu dihadiri tokoh-tokoh dengan berjas dan berdasi dan tempatnya di hotel mewah di kota? Lha ini kok yang datang kayak mau buwuh ke kemanten aza? Apa hanya karena ingin terkenal menggunakan kata Konvensi?

Apa itu Sekolah Rakyat? Bukankah sekarang sudah diganti dengan Sekolah Dasar (SD). Apa ini ada kaitannya dengan program partai tertentu?

Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menjawabnya, namun belum semuanya.

Peristiwa ini berawal pada suatu hari di tahun 2013, ingat saya bulan September 2013, ada beberapa orang duduk-duduk di kantin di belakang Kantor Dinas Pendidikan di Jagir Surabaya. Ada mas Totok Isnanto, ada mas Hardjito, ada om Thomas Muda dan saya hanya membersamai sarapan siang saat itu. Mas Totok Isnanto saat itu Kasi PAUD Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, sedang mas Hardjito dan mas Thomas Muda adalah stafnya mas Totok Isnanto.

Keempatnya adalah sahabat akrab saya, saat masih di Kanwil Departemen Pendidikan Jawa Timur, nama kantor semasa masih belum otonomi daerah dan Mas Totok Isnanto serta mas Hardjito adalah pegawai di bagian Pendidikan Masyarakat, sementara oom Thomas Muda adalah Kepala SKB Ngoro, Jombang. Saat itu PAUD belum lahir, bahkan masih belum dikandung badan.

Terjadilah reformasi di tahun 1998, dari semula sentralistik menjadi otonomi daerah. Kanwil Departemen Pendidikan yang merupakan perpanjangan pemerintah pusat diganti dengan Dinas Pendidikan Propinsi yang merupakan dinas propinsi dan kabupaten. Dalam zaman reformasi itulah lahir Direktorat PAUD di Dirjen PLSPO Departemen Pendidikan Nasional, saat presidennya Gus Dur, Dirjen PLSPO nya bapak Fasli Jalal PhD dan Direktur PAUDnya pertama bunda Faiqoh dan kemudian diganti dengan Bapak Dr Gutomo.

Dalam peralihan di tingkat Propinsi, Kanwil menjadi Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, dibentuklah Seksi PAUD yang untuk pertama (dan terakhir) dijabat oleh sahabat baik saya, mas Totok Isnanto.

Saat itu angka partisipasi kasar PAUD hanya 26%, hampir seluruhnya di TK. Dirjen PLSPO, bapak Fasli Jalal, dokter yang doktor gizi sangat melihat bahayanya anak-anak usia dini yang 74% itu bila stimulasi pendidikan dan gizi untuk mereka diabaikan. Memperbanyak TK empat kali lipat tidaklah mungkin, karena ketatnya persyaratan administrasi, sementara saat itu PAUD Nonformal dalam bentuk Play Group hanya di perkotaan dan hanya bisa diakses oleh masyaralat lapisan menengah atas. Itupun jumlahnya sangat terbatas. Lalu stimulasi pendidikan untuk anak-anak dari lapisan menengah ke bawah yang 74% itu harus diwadahi dalam bentuk apa?

Pemerintah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membentuk PAUD nonformal, baik dalam bentuk Kelompok Bermain (Play Group), Taman Penitipan/Pengasuhan Anak maupun kelompok-kelompok PAUD sejenis.

Dengan penuh keberanian bapak Fasli Jalal dan bapak Gutomo serta beberapa orang pemeduli PAUD membuat suatu terobosan, suatu breaktrough yang benar-benar menembus batas-batas yang ada. Pemerintah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membentuk PAUD nonformal, baik dalam bentuk Kelompok Bermain (Play Group), Taman Penitipan/Pengasuhan Anak maupun kelompok-kelompok PAUD sejenis. Diberikan kemudahan yang ruaar biasa untuk membentuk lembaga PAUD, bahkan pemerintah menyediakan dana rintisan pendirian PAUD sebanyak 25 juta. Alhamdulillah, PAUD menurut istilah masyarakat untuk membedakan dengan TK, yang sebenarnya PAUD Nonformal tumbuh dengan pesat seperti jamur di musim hujan. Alhamdulillah Gusti Allah memberi saya kesempatan untuk bersama beliau-beliau tersebut merintis PAUD.

Kondisi di Jawa Timur juga tak banyak berbeda. Adalah kehendak Allah juga, di hari saat mas Totok Isnanto dilantik menjadi Kasi PAUD Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, saat itu saya kebetulan dari Kantor Muslimat NU Jawa Timur di Jl Darmo bersama sahabat saya Dr Ach Rasyad untuk menemui bunda Hj Maryam Halim dan mb Dwi Astutik untuk masalah PAUD juga, mampir ke kantor Jl Genteng Kali. Allah yang merencanakan, kami berdua ketemu Mas Totok Isnanto di mushola kantor dinas di jalan Genteng Kali itu untuk sholat dhuhur.

Mas Totok Isnanto berceritera bahwa beliau baru saja dilantik sebagai Kasi PAUD dengan tantangan seberat itu, melipatgandakan daya tampun pendidikan untuk anak usia dini hampir 3 kali lipat. Alhamdulillah tugas bisa dilaksanakan dengan baik dibantu oleh beberapa pegiat pendidikan, antara lain Bapak Muyadi alm., bunda Kusandrini Prajitnoi dan beberapa teman, yang kemudian menjadi cikal bakal lembaga yang namanya Forum PAUD Jawa Timur. Anggotanya lintas instansi dan lembaga, ada Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Perguruan Tinggi dan pihak-pihak lain yang peduli PAUD Nonformal. Alhamdulillah mas Totok Isnanto bersama Forum PAUD ini membuat gebrakan yang benar-benar ruarr biasaa. sehingga pegiat PAUD semakin banyak dan APK bisa mencapai lebih dari 70% hanya dalam waktu kurang dari 10 tahun.

Kembali ke peristiwa omong-omong di Kantin di belakang Kantor Dinas Pendidikan jalan Jagir Wonokromo. Alhamdulillah dengan semakin banyaknya pemeduli dan pegiat PAUD serta semakin meluasnya kegiatan di daerah-daerah, serta urusan lembaga masing-maisng yang semakin padat, para perintis yang babad alas awal perkembangan PAUD menjadi jarang bertemu. Kalau pada awalnya, hampir setiap minggu kami bertemu, bahkan bisa lebih dari sekali dalam seminggu, akhirnya beberapa bulan sekali kami bisa ketemu. Dalam hati kami bersyukur sebab semakin banyak yang aktif dalam membina dan melaksanakan PAUD, namun di sisi lain ada rasa kangen untuk bertemu dan bernostalgia. Juga ada keinginan untuk merefleksi tindakan-tindakan pendidikan di tahun itu serta prospek di tahun mendatang, Dari pertemuan di kantin inilah timbul gagasan untuk mengumpulkan teman-teman yang dulu aktif bersama-sama.

Sesuai dengan kesepakatan, pertemuan akhir tahun 2013 dilaksanakan di salah satu ruang Seksi PAUD di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Timur pada akhir Desember 2013. Yang hadir seingat saya selain mas Totok Isnanto sebagai tuan rumah dan pemrakarsa pertemuan, ada juga bund Kusandrini yang juga perintis PAUD di Jawa Timur, Ketua Forum PAUD setelah almarhum bapak Muyadi, juga hadir bund Gadis, Ketua Forum PAUD setelah bund Kusandrini Prajitnoi.

Saya dari Malang hadir mengajak sahabat baik saya, Gus Lukman Hakim bersama pasangannya bund Titin Nurhanendah dan putranya yang masih 13 tahun yang menjadi driver mobilnya. Saya juga mengajak Eyang Wiwik Wiwiek Joewono, pegiat pendidikan yang sudah yuswa menjelang 70 tahun dikawal oleh Cak Mustofa Sam dan teman-temannya dari Inspiring Youth Educator (kalau nggak bener namanya mohon dikoreksi cak Mustofa Sam) serta seorang guru muda yang sangat kepo terhadap pembaharuan pendidikan mas Diedick’s UqiAbhi Addien. Juga hadir dari Bojonegoro, kakak Kakak Rubi dan rekannya dan mbak Wiwin dari Pandaan.

Dalam pertemuan itulah muncul ide menamakan komunitas ini komunitas Ojo Leren Dadi Wong Apik, yaitu kumpulan orang-orang yang selalu berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk sesama. Namun nama ini menurut Eyang Wiwiek Joewono bisa juga dimaknai sebagai orang yang sudah baik sehingga bisa menimbulkan kesombongan dan ujub, kumpulane wong-wong yang mengaku dirinya telah baik. Karena itu harus hati-hati memaknai nama OLDWA agar tidak menjadi manusia yang merasa dirinya adalah wong apik, namun orang-orang yang merasa belum baik dan senantiasa ingin berbuat baik agar menjadi orang baik.

Dalam pertemuan yang seingat saya dihadiri oleh belasan orang itu diambil keputusan bahwa forum, ajang dan wadah ini akan dilaksanakan setahun sekali, pada akhir tahun untuk melakukan kegiatan refleksi pada tahun berjalan dan berpikir tentang prospek yang terjadi di tahun mendatang.

Pertemuan kedua dihadiri sekitar 30 an orang, dilakukan pada akhir Desember 2014, berlokasi di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Malang. Pesertanya bertambah, ada pegiat homeschooling dari Jakarta mas Budi Trikorayanto dan bund Erlina Vf Ratu dengan puteranya, ada bunda Bundadiana Dwi dari Lamongan, ada mas Didid Supramono dan beberapa orang lagi.

Pertemuan ketiga dilakukan di Bojonegoro, di negaranya Kakak Rubi dan kakak Djihan (maaf kalau salah nama) di pelosok desa di Kecamatan Sumberejo, dihadiri lebih 20 orang dalam suasana santai namun serius.

Pertemuan keempat diselenggarakan di tempat saya, di Sekolah Garasi Turen, Kabupaten Malang dengan peserta lebih dari 100 orang dengan peserta terjauh dari Kaltim,, Jakarta mas Budi Trikoyanto juga rawuh, dari berbagai tempat di Jawa Timur seperti Surabaya, Situbondo, Blitar, Gresik dan tentu saja Malang. Hadir sahabat-sahabat dari UM, dan dari sahabat-sahabat Jagongan Para Pakar yang dipelopori oleh Gus Mohammad Mahpur dan teman-teman Gusdurian Malang.

Pertemuan kelima digeber di lokasi mewah, di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan dengan bunda Mimi Yudha dari sahabat-sahabat Taman Bunda Pasuruan sebagai hostnya. Alhamdulillah saat itu pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 300 orang itu selain diresmikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, juga dihadiri oleh Direktur GTK PAUD, mas Abdullah. Saat inilah mucul usulan untuk menamakan forum ini sebagai suatu konvensi tempat kita saling berbagi success story dan best practice pendidikan dengan dimotori oleh sahabat kita Mr Nafik dari the Naff School. Juga usulan agar pertemuan dilakukan setahun dua kali.

Pertemuan keenam, 6 bulan kemudian di kampusnya Mr Nafik di The Naff School Kediri dengan hadirin juga sekitar 300 orang lebih dan alhamdulillah sukses besar menyaksikan dan melihat dengan mata kepala sendiri the Naff school yang wwaoouuwww, subhanallah…amazing.

Pertemuan ke tujuh, di tempat Bapak Suroto Jombang tidak kalah wouuwnya, dihadiri antara lain Ibu Bupati Jombang dan Bapak Ananto dari kemendikbud Jakarta dan mas Wahyu Nugroho Cak Kumis dari LPKP Jawa Timur.

Pertemuan kedelapan baru saja kita lakukan di Sekolah Rakyat Petung Ulung Nganjuk yang dengan segala kelemahan dan kehebatannya sangat membawa makna bagi kita sekalian untuk bergandengan tangan saling berbagi

Tak dapat dipungkiri sosok yang sangat berperanan dalam terbentuknya komunitas OLDWA menonjol adalah mas Totok Isnanto, dengan pembawaan beliau yang sederhana, apa adanya dan terbuka sangat bersahabat kepada siapa saja, dengan didukung oleh semua sahabat-sahabat yang lain.

Turen, 11 Juli 2019

EDITOR: MOHAMMAD MAHPUR

Skripsi : Menjadi Cantik dengan Perjuangan yang Cantik

0

Sudah banyak cerita dan pengalaman mengenai mengerjakan tugas akhir. Bagi Anda yang sudah menempuh sarjana, tugas akhir adalah proses terakhir calon sarjana untuk membuat tawaran pemikiran yang akan dipertahankan di dewan penguji. Sebelum sampai di dewan penguji, usaha menyiapkan skripsi akan berkelindan dengan dosen pembimbing. Selain tentang pembimbingan tentang isi skripsi, dinamika relasional mahasiswa-dosen melahirkan aneka proses yang menegangkan. Bagaimana seharusnya menghadapinya ?

Ketika berkunjung di sebuat tempat kerajinan dari tanah liat, saya sudah terpesona dengan jejeran vas-vas bunga cantik dan tersusun rapi di etalase depan rumah, tempatnya tidak begitu luas namun pemandangan yang disediakan sungguh menarik hati saya untuk berlama-lama ditempat itu.

Lama saya memandangi deretan pernak-pernik rumah tangga, muncul seorang pemuda dari ruang gelap di belakang sana. Terjadi perbincangan yang menyenangkan, yang ternyata pemuda inilah pemilik tokonya. Pemuda ini mengajakku untuk melihat proses  vas-vas itu untuk menjadi  cantik dan menarik.

Berbeda dari ruangan depan yang rapi dan mempesona, ruang belakang ini adalah tempat pembuatan vas-vas itu, berantakan, gelap, penuh tanah liat berceceran dan asap hitam yang membuat sesak. Pemuda ini hanya menunjukkan proses pembuatan vas dan hiasan dari tanah liat lainnya. Mulai dari pengadukan, pembentukan, pembakaran hingga pengukiran.

Ada yang mengatakan bahwa pemuda yang hebat, adalah dia yang memiliki karya. Dan Kali ini saya tidak hanya menceritakan kisah seorang pemuda yang  telah berjuang keras untuk mengispirasi banyak pemuda lainnya. Namun ada sisi lain yang membuat saya berpikir lebih dari perjuangan seseorang, yaitu perjuangan dari vas-vas bunga dan hiasan lainya untuk menjadi cantik dan mempesona.

Satu benda yang selalu terinjak-injak oleh manusia, tapi  juga telah berhasil mengubah dirinya menjadi sebuah benda yang elok dan menenangkan jika dipandang. Yah, tanah liat, bahan dasar dari vas-vas cantik itu. Tidak lagi terinjak-injak tapi menjadi benda yang ditinggikan di ruangan orang-orang yang telah menginjak-injaknya dulu.

Bagaimana ia dapat menjadi istimewa padahal ia adalah hal yang sangat rendah? Perjuangan vas-vas inilah yang membuat saya menyadari bahwa menjadi cantik, menarik, indah dan terpandang itu bukanlah hal yang mudah. Ada tahapan-tahapan yang begitu keras dan menyakitkan yang harus terlewati. Memang semua orang tidak harus berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa untuk menjadi hal yang istimewa, tapi vas-vas cantik ini mengajarkan saya bahwa menjadi yang istimewa itu butuh perjuangan yang istimewa juga.

Kalau saya membahasakan bahasa tanah-tanah ini mungkin sama halnya dengan bahasa kita. Dari mulai pemilihan tanah, tanah-tanah ini sudah tersakiti oleh cangkul-cangkul yang mencabik-cabik tubuh mereka, jeritan sakit dari mereka tentu tak dapat saya dengar namun dapat saya bayangkan.  Dan tanah yang baik dan kuatlah yang dipilih untuk proses selanjutnya.

Ketika mulai proses pengadukan, tanah-tanah ini harus menahan rasa sakit lagi, dengan pukulan-pukulan keras dari para pengrajin. Belum hilang rasa sakit, tanah-tanah ini harus segera menghadapi proses pembetukan dari pengrajin, mereka diputar-putar sangat kencang di atas papan, kalau boleh merasakan apa yang tanah-tanah ini rasakan, tentu mereka sangat pusing dan mual. Tidak semua dapat terbentuk dengan sempurna, bahkan banyak tanah yang hancur tiba-tiba sebelum terbentuk sempurna. Dan mereka yang hancur menjadi tanah yang terinjak-injak kembali nantinya.

Usai proses pembentukan, penderitaan tanah ini belum begitu saja berakhir, mereka harus melewati proses pembakaran agar bentuk mereka tidak mudah pecah dan rapuh. Kayu bakar dan api begitu lahapnya membakar tubuh tanah-tanah ini hingga menghitam. Saya berfikir bahwa tanah-tanah ini tentu menguatkan diri mereka sendiri, kalau tidak tentu mereka tidak akan keluar dari tempat pembakaran dengan utuh seperti bentuk mereka ketika masuk dalam  ruang pembakaran.

Dua hingga tiga hari tanah ini dapat beristirahat dari siksaan para pengrajin, hingga tubuh mereka mulai mendingin, pengrajin-pengrajin ini mulai menusuk-menusuk lagi untuk membuat motif-motif cantik ditubuh vas bunga, dengan pahatan dan ukiran yang detail tentu saja lebih menyakitkan dari proses-proses sebelumnya. Tak dapat saya bayangkan lagi rasa sakitnya, Namun dari proses inilah mereka akan terlihat anggun dan mempesona.

Lalu, mungkin saja tanah-tanah ini telah bahagia dengan tubuh mereka yang sangat indah dari sebelumnya yang hanya butiran-butiran yang terinjak-injak. Tapi kebahagiaan belum begitu sempurna untuk mereka. Ada satu tahap lagi hingga dapat dikatakan karya sempurna, vas-vas ini harus melewati proses pembakaran kembali untuk menguatkan polesan, ukiran dan cat di tubuh mereka, hingga pada akhirnya mereka dapat keluar dari semua penderitaan yang mereka lalui dengan hasil yang sangat memuaskan.

Tangisan, jeritan yang menyakitkan harus kuat untuk kita lalui. Motivasi yang kuat adalah dari dalam diri kita sendiri, kita dapat menyakinkan diri kita sendiri (self talk) bahwa kita dapat menjadi yang terbaik dari yang paling baik.

Perjuangan tanah itu sama halnya dengan apa yang harus kita lewati, ketika kita menginginkan hal yang indah pada diri kita, tidak begitu saja kita dapat meraihnya. Tangisan, jeritan yang menyakitkan harus kuat untuk kita lalui. Motivasi yang kuat adalah dari dalam diri kita sendiri, kita dapat menyakinkan diri kita sendiri (self talk) bahwa kita dapat menjadi yang terbaik dari yang paling baik.

Mengeluh akan semakin membuat kita berpeluang untuk menyerah, namun dengan menguatkan diri sendiri tentu akan membantu kita keluar dari proses

Banyak mengeluh akan semakin membuat kita berpeluang untuk menyerah, namun dengan menguatkan diri sendiri tentu akan membantu kita keluar dari proses yang bisa kita sebut kejam dan menyakitkan.

Kalau saya kaitkan dengan  kisah mahasiswa semester akhir, hampir  80% dari mereka selalu frustasi kalau dihadapkan dengan skripsi. Menyelesaikan tugas apa adanya bukanlah solusi yang baik, terkadang ada sesuatu yang indah untuk dikorbankan jika ingin menjadi bintang. Bukan berarti menunda-nunda hanya tidak terburu-buru dan memaksa proses. Sama halnya dengan perjuangan tanah liat untuk menjadi vas bunga yang cantik.

Ingin cepat lulus, cepat wisuda, lanjut kerja atau S2, tapi pekerjaan (skripsi) selalu diabaikan. Sebagian mahasiswa terlalu membuat keadaan (skripsi) ini adalah keadaan yang paling dramatis di sepanjang perjalanan kuliah, baru ketemu dosen pembimbing sekali saja, sudah menangis berhari-hari, belum lagi diberi tugas revisi yang berkali-kali. Atau dosen yang sulit ditemui dan hanya memberi janji, yang pada akhirnya mereka memilih untuk berhenti.

Kalau berhenti maka sama dengan kita memilih untuk terinjak-injak kembali layaknya tanah liat yang gagal menjadi vas bunga yang cantik. Tetapi ketika kita mampu menguatkan diri dari proses yang begitu sulit untuk kita lewati tentu kita dapat seperti vas bunga itu yang menjadi rebutan untuk dimiliki oleh semua orang.

Skripsi ini mengajarkan kita untuk lebih kuat ketika berdiri di kehidupan yang mungkin akan lebih menyakitkan nantinya.

Untuk sahabatku para pejuang skripsi, jangan pernah memilih untuk berhenti. kita masih jauh lebih baik dari perjuangan vas-vas bunga itu, masih secuil penderitaan yang kita alami, karena skripsi ini mengajarkan kita untuk lebih kuat ketika berdiri di kehidupan yang mungkin akan lebih menyakitkan nantinya.