Selasa, September 1, 2026
Beranda blog Halaman 78

Menyongsong Kedaulatan Tani

0

Mewujudkan kedaulatan pangan tanpa memberdayakan petani ibarat pungguk merindukan bulan. Mustahil tercapai. Masih banyak PR yang harus segera diselesaikan, sebelum para petani bernasib seperti ayam yang mati di lumbung padi.

Seringkali ketika ngobrol perihal bertani dengan adik ipar, tetangga, maupun bapak-bapak yang baru saja bertemu, berbagai perasaan membuncah di hati saya. Ada gregetan, miris, prihatin, optimis, dan masih banyak yang lainnya. Namun satu kesimpulan yang saya peroleh adalah bertani di Indonesia sekarang ini ternyata tidak mudah.

Para petani, yang ngobrol dengan saya, mengeluhkan banyak hal. Pertama, musim yang sulit diprediksi. Kita semua bisa merasakannya hari ini, bahwa lamanya musim hujan dan musim kemarau sungguh sulit diprediksi. Jaman SD dulu kita diajarkan bahwa musim hujan berlangsung antara bulan Oktober hingga Maret dan musim kemarau antara April hingga September. Namun sekarang, rumusan ini tidak berlaku lagi. Tahun ini, kemarau berlangsung hampir sepanjang tahun.

Akibat dari anomali alam ini adalah banyak petani yang gagal panen dan gagal tanam. Minimnya curah hujan membuat tempat-tempat penampungan air kosong melompong dan kering kerontang. Bahkan, waduk-waduk juga turut mengering. Sehingga, tanaman yang mulai masuk masa panen tidak dapat tumbuh dengan sempurna.

Kedua, biaya tanam mahal. Hal yang paling banyak dikeluhkan adalah harga pupuk. Meski sudah disubsidi, harga pupuk belum sepenuhnya terjangkau bagi para petani. Selain itu, sistem paket yang diberlakukan pemerintah, ternyata kurang begitu didukung oleh petani. Mereka mengatakan ada jenis pupuk di dalam paket tersebut yang tidak terlalu berpengaruh terhadap tanaman. Masalah lainnya adalah kelangkaan. Meski sudah dijatah dan dikoordinir oleh gapoktan (gabungan kelompok tani), kelangkaan pupuk masih terjadi di sana-sini.

Selain pupuk, mahalnya biaya tanam juga datang dari sektor benih. Jika ingin kualitas hasil panenya jempolan, petani harus merogoh kocek yang dalam untuk membeli bibit varietas unggulan. Mirisnya, tidak semua bibit unggulan itu bisa ditanam kembali pasca panen. Kata para petani, hasilnya jauh dibandingkan panen pertama yang menggunakan bibit asli. Mahalnya biaya tanam juga dipicu oleh mahalnya obat-obat hama dan ongkos tenaga.

para petani lokal harus berjibaku bersaing dengan produk pertanian luar negeri yang dengan leluasanya memasuki pasar. Harga murah dan kualitas yang lebih baik, membuat para konsumen lebih memilih produk impor dibanding produk lokal

Ketiga, harga jual rendah. Masalah ini selalu terjadi setiap kali panen raya. Banyak teori yang mengungkap penyebabnya, mulai dari permainan para spekulan, stok yang melimpah, sampai kualitas produk yang rendah. Parahnya lagi, para petani lokal harus berjibaku bersaing dengan produk pertanian luar negeri yang dengan leluasanya memasuki pasar. Harga murah dan kualitas yang lebih baik, membuat para konsumen lebih memilih produk impor dibanding produk lokal. Pernah ada yang cerita ke saya, petani ramai-rami membuang dan memusnahkan hasil panennya karena kesal dengan harga jual yang rendah ini.

Keempat, irigasi yang buruk. Kelangkaan air akibat anomali musim sebagaimana diungkapkan sebelumnya dilengkapi dengan tidak tersedianya irigasi yang memadai. Irigasi buruk ini sangat terasa sekali dampaknya di daerah-daerah tadah hujan. Mereka kesulitan memulai masa tanam karena minimnya stok air. Sumur bor yang ada pun tidak terlalu bisa diandalkan karena debit air yang tidak seberapa, sementara mereka harus berbagi dengan petani lain yang tidak memiliki sumur.

Kelima, serangan hama. Masalah ini didera oleh semua petani. Tidak ada petani yang steril dari hama. Bahkan tidak jarang terjadi gagal panen akibat ulah hama. Masalah ini didukung dengan mahalnya obat-obat hama yang tersedia dan metode pemberantasan hama yang kurang efektif. Para petani masih minim pengetahuan akan hal ini.

Lima masalah mendasar tersebut memang telah menjadi isu utama pemerintah dalam upaya memberdayakan petani. Banyak program juga sudah diluncurkan. Informasi mengenai hal ini bisa kita akses dengan mudah di website Kementan. Namun dalam realitasnya, para petani yang saya jumpai masih mengeluhkan hal ini.

Jika dicermati dengan seksama, sepertinya masih ada beberapa hal yang belum dilakukan dengan maksimal. Sehingga program-program pro petani belum terealisasi sepenuhnya. Jika pun sudah terrealisasi, namun dampaknya belum begitu dirasakan oleh para petani. Apakah itu? Kementan tentunya lebih dari tahu akan hal ini.

Paling tidak ada beberapa hal menurut saya yang harus lebih dioptimalkan lagi oleh Kementan dan jajarannya. Pertama, menyediakan irigasi yang memadai bagi petani, terutama di daerah tadah hujan. Upaya ini juga harus diiringi sistem dan tata kelola yang baik. Beberapa langkah yang bisa diupayakan antara lain; membuat waduk atau tampungan air, normalisasi sungai, penyediaan pompa, dan pembangunan saluran air.

Kedua, menjamin ketersediaan bibit unggul, pupuk, dan obat hama dengan harga yang lebih terjangkau. Ketiga aspek ini akan memangkas mahalnya biaya tanam. Ketiga, modernisasi alat-alat dan sistem pertanian. Petani kita sudah tertinggal jauh dengan petani di negera tetangga. Mereka telah beralih ke pertanian modern yang lebih memprioritaskan efektivitas dan efisiensi. Tak heran jika kualitas produknya bisa menembus pasar internasional. Sementara petani kita, masih minim literasi dan alat-alat modern penunjang produksi.

Keempat, optimalisasi peran penyuluh. Minimnya literasi pertanian di kalangan petani desa adalah akibat dari minimnya akses informasi. Mereka belum menjadi bagian dari dunia digital sehingga tidak bisa mengikuti perkembangan terbaru dunia pertanian. Maka di sinilah peran sentral penyuluh pertanian diperlukan. Mereka harus menjadi jembatan informasi dan pengetahuan terbaru tentang sistem tanam, perawatan, pengolahan hasil panen, dan penjualan produk.

Kelima, mendorong para petani untuk berwirausaha. Kompetensi ini diperlukan untuk mengantisipasi jika terjadi penurunan harga hasil panen. Petani harus dibekali cara mengolah hasil panen dan bagaimana cara memasarkannya. Selain itu, dengan mindset wirausaha, para petani menjadi semakin mandiri dan memiliki sumber pendapatan baru. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, bank, kelompok tani, dan petani sangat dibutuhkan.

Keenam, sinergi pemangku kebijakan. Presiden harus mendorong para pembantunya, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam upaya pemberdayaan petani, untuk memperkuat sinergi. Hal ini perlu agar terwujud kebijakan yang terintegrasi di antara mereka. Sehingga tidak terjadi overlapping program pemberdayaan.

Mewujudkan kedaulatan tani memang tidak mudah. Dibutuhkan kerja keras dan komitmen semua pihak. Petani kita hari ini tengah dihadapkan dengan era baru. Sebuah era dimana jarak dan waktu tak lagi berpengaruh. Era dimana produk pertanian bisa leluasa keluar-masuk pasar kita. Jika kualitas produk pertanian kita tak kunjung naik, maka nasib petani akan kian tergerus. Akibatnya, semakin banyak generasi mendatang yang tidak berminat menjadi petani. Jika sudah demikian, bagaimana nasib predikat kita sebagai negara agraris?

Dahsyatnya Parenting Mengawal Generasi Milenial

0

Orang tua dan guru merupakan pamong bagi anak dan peserta didik yang mana mereka merupakan penerus generasi kelak. Memasuki Revolusi 4.0, teknologi digital memberikan cara yang optimal pula untuk mengawal generasi milenial.

Agar tidak salah kaprah mengelola pola asuh dan komunikasi, diperlukan cara yang milenial pula.

Banyak yang berdalih pendidikan Finlandia dan kecerdasan jamak merupakan salah satu solusi dalam Pendidikan. Saat ini, bukankah pendidikan Taman siswa Ki Hajar Dewantara juga memiliki sistem yang baik.

Yuk ikuti gelar wicara Dahsyatnya Parenting Mengawal Generasi Milenial di Sasana Al-Muhajirin.

Sasana Al-Muhajirin merupakan Rintisan Laboratorium Belajar dengan spirit Pemikiran Ki Hajar Dewantara yang didukung oleh Kampus Desa Indonesia. Bagi masyarakat Kediri, bisa berguru dan merintis pelatihan bersama Sasana Al-Muhajirin sebagai perwakilan resmi Kampus Desa Indonesia.

Konvensi Pendidikan Indonesia VI, Sebut Mereka Gila

0

KampusDesa, Kediri — Dua buku keren yang ada di gambar bawah adalah hadiah yang diberikan oleh penulis hebat yang sekaligus merupakan praktisi-praktisi pendidikan dan juga pendidik sejati yang ilmu serta teladannya sudah tidak diragukan lagi.

Buku yang berjudul ‘Sekolah Tanpa PR’ yang di dalamnya berisi 4 model pembelajaran ini merupakan karya Mr. Nafik Palil Yuniro yang mana beliau adalah CEO The Naff A Creative and Fun School. Sedangkan buku yang berjudul ‘Strategi Najmah’ ini karya Bu Najmah yang mana beliau merupakan Kepala Sekolah MTs NU Pakis-Malang yang juga pendidik sejati.

Kegiatan Konvensi Pendidikan Indonesia VI yang diadakan di Kediri pada tanggal 1 Juli 2018 ini, selain dihadiri oleh Mr. Nafik selaku tuan rumah dan Bu Najmah dari MTs NU Pakis, kegiatan tersebut jg dihadiri oleh para praktisi pendidikan lain seperti Eyang Kentar Budhojo (Founder Sekolah Garasi), Pak Lukman Hakim (Founder Sekolah Dolan), Pak Mahpur (Founder Kampus Desa), Bu Sri Saktiani (Founder MI Modern Sakti permatahati Ibu TA), dan masih banyak lagi.

Para praktisi pendidikan yang hadir dalam kegiatan tersebut merupakan orang-orang yang mampu berpikir out of the box, kalau dawuhnya Eyang Kentar adalah kumpulan orang-orang gila. Kenapa? Karna mereka mempunyai aturan-aturan sendiri dalam menjalankan program pendidikan yang tentu saja dengan berbagai pertimbangan pemikiran, serta mampu melahirkan generasi-generasi muda hebat yang tkdak hanya berpikiran luas (pandai), tetapi juga berkarakter.

Orang hebat itu tidak akan menunggu dan terus menuntut pemerintah/atasan melakukan sesuatu, tetapi mereka yang hebat adalah yang mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sekitarnya. Sekecil apapun yang kita berikan, akan memiliki manfaat yang bernilai besar jika dilakukan dg tulus ikhlas. Termasuk yang dilakukan beliau-beliau ini.

Terimakasih sudah diberi kesempatan menimba ilmu dan menjadi bagian dari komunitas OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik). Semoga keberkahan dan kemanfaatan ilmu senantiasa ada dalam setiap proses perjalanan belajar bagi para pebelajar. Dan semoga tidak pernah lelah untuk terus belajar, belajar, dan belajar, aamiin.

MOJOROTO, GANG 7 NO.9 KOTA KEDIRI
MAHALA SARI. PEGIAT LITERASI DAN SEORANG GURU DI KOTA TRENGGALEK. SALAH SATU YANG TERLIBAT DALAM KEPANITIAN KONVENSI PENDIDIKAN INDONESIA VI. PERNAH MENJADI PEGIAT GUSDURIAN DI MALANG.

Manfaat Buah Kurma Bagi Kesehatan Bibir

0

Pernah mengalami bibir pecah-pecah. Tentu rasanya tidak nyaman terlebih perempuan. Bibir pecah-pecah akan mengganggu penampilan, bahkan mengurangi rasa percaya diri kita. Ternyata, sebuah pengalaman menunjukkan jika buah kurma menjadi salah satu solusi.

Bagi setiap wanita, kecantikan amatlah penting. Khusus pada bagian bibir. Namun, masalahnya terkadang kita menyepelekan perawatan bibir. Padahal kalau sudah kering dan pecah-pecah, apalagi berlanjut sampai iritasi, berdarah dan bernanah. Akan lebih sulit mengatasinya loh. So, sebelum yang tidak diinginkan terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Beberapa hari yang lalu aku sempat mengalami masalah itu, aku pikir karena kurang vitamin C, lalu aku banyak mengkonsumsi jeruk. Ternyata, makan jeruk justru membuatku radang dan sariawan. Entah karena jeruknya yang banyak tercemar oleh zat kimia atau apalah, aku tak mengerti. Intinya, keluhanku pada mulut semakin banyak.

Kemudian aku mengkonsumsi protecal yang bagus untuk kesehatan tulang. Sebenernya enggak nyambung sih, tapi demi kesembuhan. Bismillah aja deh.

Rutin tiga malam setiap mau tidur. Alhamdulilah radang dan sariawan hilang. Tapi masalah bibir masih belum ketemu solusinya, padahal jari jemariku sudah tak bisa dikendalikan. Sehingga, bibirku berdarah.

Melihat ada buah kurma di atas meja makan, langsung saja aku makan. Vitamin yang terkandung dalam buah kurma antara lain vitamin A, tiamin (Vit B1), riboflavin (Vit B2), niasin (Vit B3), dan asam pantotenat (Vit B5) dalam jumlah yang bisa diandalkan. Selain itu terdapat juga kandungan vitamin C dan vitamin E. Vitamin A berfungsi untuk memelihara fungsi mata dan mencegah kekeringan dan penyakit mata. Vitamin B berfungsi menenangkan sistem syaraf dan untuk relaksasi jantung serta membuat pikiran menjadi lebih riang. Tak hanya vitamin, kurma juga mengandung kalium, mineral-mineral penting seperti kalsium, besi, magnesium, mangan, tembaga dan fosfor.

Aku sih orangnya enggak mau repot dan jenius, jadi saat kurma yang ada di dalam mulutku aku kunyah, aku biarkan lidah ini membantu untuk mengeluarkan sari kurma yang sudah bercampur saliva ke bibirku. Hehe

Atau kalian juga bisa menggerusnya dengan sendok, lalu tambahkan sedikit madu dan oleskan pada bibir yang kering dan pecah-pecah.

Alhamdulilah, hanya beberapa menit setelahnya, bibir terasa lembab dan lebih kenyal. Tentu saja hal ini berdampak pada citra tubuh yang menyebabkan semakin percaya diri dengan penampilan yang dimiliki. Selamat tinggal bibir kering dan pecah-pecah.

Kini, saatnya aku menikmati keindahan bibir yang tampak merah secara alami. Luar biasa sekali bukan? Tujuannya satu-bibir sehat- tapi dapatnya lebih daripada itu, selain kesembuhan, kecantikan alami pun didapatkan.

Selamat mencoba, semoga mendapatkan lebih banyak dariku.

Tambun, Bekasi 22 Juli 2018

Kampoeng Dolanan Goes to School

0

Saatnya, sekolah memiliki aneka permainan tradisional untuk meningkatkan gerak motorik secara kontinyu. Permainan ini menyehatkan mental anak. Kampoeng Dolanan bergerak melintasi berbagai kota di Indonesia untuk mengampanyekan dolanan sebagai bagian yang penting bagi perkembangan menta generasi.

KampusDesa, Surabaya — Pekan ini menjadi pekan produtif komunitas kampoeng dolanan dalam menyosialisasikan permainan tradisional. Bagaimana tidak, dalam empat hari terakhir, terhitung sejak tanggal 16-19 juli kemarin keliling untuk memperkenalkan permainan tradisional di Surabaya dan Lamongan.

Animo masyarakat terutama para pendidik yang ada di lingkungan sekolah cukup tinggi. Dalam empat hari berkunjung ke 5 sekolah yakni di SDN Mojo III, SDN Pakis V, MI Muhammadiyah 28 dan SD Ahmad Yani yang berlokasi di Surabaya, sedangkan satu sekolah berdomisili di Lamongan yakni SMPN 2 Ngimbang.

Permainan tradisional nampaknya mulai mendapat perhatian di kalangan pendidik dan masyarakat. Bahkan, SDN Mojo III hingga dengan berani mengangkat sekolahnya sebagai sekolah pelestari permainan tradisional. Hari pertama Layanan Orientasi Sekolah (LOS) SDN Mojo III, anak-anak kelas I langsung diperkenalkan dengan permainan tradisional. Sedangkan untuk kelas 2-6 sudah disiapkan pojok dolanan sebagai tempat untuk bermain permainan tradisional.

Mengangkat teman dengan tangan yang ditelengkupkan dengan pasangan

Yang uniknya lagi adalah dalam perencanannya, di setiap hari Rabu menjadi waktu yang wajib bagi anak-anak untuk bermain permainan tradisional. Mari kita dukung niat baik masyarakat dan pendidik yang sudah mulai muncul kepedulian dalam melestarikan permainan tradisional.

Kami berharap, permainan tradisional bisa dikenalkan kepada anak-anak supaya nilai-nilai yang ada di permainan tradisional bisa tersampaikan kepada anak-anak. Sebuah nilai tentang kejujuran, sportivitas, team work, disiplin, tanggung jawab dan lain-lain.

Kesempatan itu pasti ada, tinggal kita mau mengambil kesempatan tersebut atau tidak.

Salam Lestari, Kampoeng Dolanan

Mustofa. Founder Kampoeng Dolanan Jawa Timur

Festival Permainan Tradisional dan Gerakan Kendari Mengajar

0

Usaha melestarikan permainan tradisional selalu banyak cara. Meski perubahan teknologi dan informasi semakin mengubah perilaku bermain dari fisik ke virtual, para pegiat Gerakan Kendari Mengajar (GKM) merasa terpanggil untuk memecah aktifitas online non-fisik menggunakan gelar permainan tradisional di Taman Kota Kendari. Waktu mereka dicuri untuk ditukar dengan kegembiraan fisik di tengah zaman virtual.

KampusDesa, Kendari — Kita pasti pernah melihat gedung megah nan menjulang tinggi entah secara langsung maupun tidak. Apa yang terlintas dibenak kita ketika melihat gedung tersebut? Pemodal besar? Arsitektur hebat? Desain yang luar biasa? Dan sederet pemikiran lainnya.

Ya, memang benar mereka semua turut andil. Tapi jarang yang berpikir tentang pekerja kasar yang bekerja siang dan malam hingga fisik bangunan yang dulunya hanya sebuah khayalan kini terlihat nyata di depan mata. Bangunan semegah itu tentu dapat berdiri tidak terlepas dari kontribusi-kontribusi kecil yang seringkali terlupakan oleh banyak orang.

Di sana ada penambang pasir, sopir yang mengangkut bahan baku, perusahaan penyedia bahan baku yang didalamnya terdapat karyawan-karyawan kecil dan masih banyak lagi pihak lainnya yang terlibat.

Berbicara mengenai kontribusi, setiap orang mungkin saja memiliki versi masing-masing. Namun, satu hal yang pasti bahwa setiap kontribusi sekecil apapun itu akan selalu memberikan pengaruh, disadari ataupun tidak. Begitupula yang dilakukan oleh Gerakan Kendari Mengajar (GKM), sebuah organisasi relawan yang memfokuskan kegiatannya pada bidang pendidikan.

Organisasi ini terletak di provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di kota Kendari. Mungkin tak banyak yang tahu keberadaannya, tapi para kontributor yang terlibat didalamnya akan tetap berkarya demi memberikan sebuah arti dari berbagi. Kini usia GKM telah memasuki tahun ke-5. Tidak sedikit kontribusi yang telah diberikan dan bukan hal yang mudah untuk menjaga agar organisasi ini tetap ada. Semua itu tidak terlepas dari andil para pemercaya tulus didalamnya sebagaimana yang selalu diungkapkan oleh koordinator GKM, kak Asni.

Tarik Tambang

Tepat pada tanggal 15 Juli 2018, dalam rangka apresiasi 5 tahun GKM berkarya, organisasi ini kembali memberikan berbagai kontribusi positif salah satunya adalah dengan menggelar festival permainan tradisional.

Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan. Kemajuan teknologi walaupun memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, namun tidak sedikit pula dampak negatif yang ditimbulkannya. Kehadiran gadget seringkali menyita sebagian besar porsi waktu kita untuk dihabiskan dengan aktivitas yang kurang bermanfaat.

Game online dan media sosial telah melahirkan individu-individu yang aktif di dunia maya namun pasif didunia nyata. Jadi tidak mengherankan jika kita sering menjumpai orang-orang yang individual dan cenderung anti sosial. Akses media sosial yang semakin mudah menjadikan penggunanya bebas berekspresi, namun sangat disayangkan ketika kebebasan berkespresi ini tidak diimbangi dengan pemahaman yang baik.

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dikagetkan dengan kabar anak SD yang sudah menjalin hubungan asmara, padahal di usia seperti itu adalah saat dimana seharusnya mereka belajar dan bermain. Maraknya kasus bullying antar sesama pelajar dan yang sangat memprihatinkan ketika mereka tanpa segan merekam dan membagikannya seolah-olah itu bukanlah aib bagi pelakunya.

Aksi saling menghujat sesama netizen yang kerap ditemui di kolom komentar di berbagai postingan. Dan masih banyak lagi kasus penggunaan media sosial yang salah kaprah. Belum lagi kehadiran berbagai aplikasi yang sangat tidak mendidik. Padahal, dulu masa kanak-kanak lebih banyak dihabiskan dengan bermain, berbeda dengan generasi saat ini.

Oleh karena itu, GKM berinisiatif menyuguhkan permainan tradisional yang telah tergerus arus teknologi. Festival permainan tradisional ini dimaksudkan untuk mempopulerkan kembali permainan tradisional yang kaya akan budaya. Permainan tradisional juga merupakan identitas dan kekayaan bangsa yang harus dijaga.

Nilai yang terkandung didalamnya, antara lain nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, persahabatan, dan menumbuhkan keceriaan

Ada banyak nilai yang terkandung didalamnya, antara lain nilai kekeluargaan, semangat kebersamaan, persahabatan, dan menumbuhkan keceriaan. Selain itu, permainan tradisional juga dapat melatih emosi, seperti toleransi, sportifitas, dan empati.

Bakiak Kelompok

Kegiatan ini digelar beberapa waktu lalu di Taman Kota Kendari dan menarik perhatian hampir setiap orang yang melihatnya. Ada berbagai kalangan yang tertarik ikut serta, tua dan muda, pria maupun wanita. Adapun jenis permainan yang disuguhkan antara lain egrang, sodokoro, tarik tambang, bakiak, gasing, masuke, ketapel tangan, lompat tali, kalego, balap karung, dan panahan.

Semua jenis permainan ini dulu sangat popular diprovinsi Sulawesi Tenggara dan mungkin juga didaerah lain yang ada di Indonesia. Selama kegiatan berlangsung, terlihat keceriaan di wajah para peserta. Ini menandakan bahwa permainan seperti ini sebenarnya disukai oleh setiap kalangan. Kini adalah tugas kita untuk mempopulerkannya kembali.

Kegiatan tersebut mungkin tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh generasi kita saat ini, namun harapannya adalah hal tersebut mampu membawa perubahan positif sekecil apapun itu. Sebagaimana GKM telah memberikan kontribusinya, Anda juga bisa memberikan kontribusi terbaik sesuai versi masing-masing. Selama itu positif, maka selalu ada yang akan menanti karya-karya tersebut. Salam hangat GKM, mengajar, mendidik, dan menginspirasi.

Kendari, Juli 2018

Kompetensi Tenaga Pendidik dalam Menghadapi Era Pendidikan 4.0

0

Dipungkiri atau tidak, teknologi informasi telah bergerak mengubah cara orang hidup dan mendapat penghidupan. Bahkan kepingan uang hari ini tidak lagi menjadi bukti bagi transaksi jual beli. Metode pembayaran juga tidak lagi berhadap-hadapan. Uang beralih bentuk menjadi bukti virtual. Kopi atau screenshoot bukti transfer dari rekening, transaksi bisa dipenuhi dan barang akan datang dalam hitungan jam atau hari. Supercepat atau quantum semakin menjadi kenyataan. Pertanyaannya, Apakah kompetensi alih teknologi masih gagap di kalangan pendidik ?

Sekarang ini dunia telah memasuki era revolusi industri generasi ke empat (Revolusi Industri 4.0) yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem di­gital, artifisial, dan virtual. Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai lintas sektor kehidupan. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa dengan semakin canggihnya teknologi yang sedang berkembang, pasti membawa perubahan yang cukup signifikan. Salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia.

Perubahan era ini tidak dapat dihindari oleh siapapun se­hingga dibutuhkan penyiapan sum­ber ­daya manusia (SDM) yang mewadahi agar siap menyesuaikan dan mampu bersaing dalam skala global. Peningkatan kualitas SDM melalui jalur pendidikan formal mulai dari ting­kat pendidikan dasar dan menengah hing­ga ke perguruan tinggi adalah kunci un­tuk mampu mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0 ini. Tak terkecuali dalam menempuh pendidikan, penyesuaian juga bisa dilakukan dengan cara reorientasi kurikulum untuk membangun kompetensi era Revolusi Industri 4.0 dan menyiapkan pembelajaran berbasis daring (online).

Para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global.Para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global.

Keberhasilan Indonesia untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti dosen, guru maupun tenaga pendidik lainnya. Para pendidik dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global. Setiap lembaga pendidikan di Tanah Air harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan, terutama yang sangat terkait erat dengan persiapan SDM dalam menghadapi Revolusi Industri ke-4. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia. Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital. Kemudian, literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja. Sedangkan literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter.

Bagi lembaga pendidikan, penerapan e-learning sangat mem­bantu pendidik maupun peserta didik dalam proses belajar mengajar. Materi pembelajaran dapat tercapai setiap semester untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. Karena harus kita pahami, bahwa pertemuan atau tatap muka di ruang kelas (face to face system) sering tidak memadai waktunya untuk penyampaian suatu topik bahasan secara menyeluruh atau kompre­hensif. Dengan adanya bantuan teknologi seperti in­ternet, maka materi yang kurang lengkap dapat dikirimkan dosen/guru kepada maha­siswa/siswa melalui surat elektronik (email) sehingga transfer ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berlangsung lebih efektif dan efisien.

Sebagaimana diatur dalam Peraturan Mendikbud (Permendikbud) Nomor 4 Tahun 2018 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan dan Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah, ujian nasional (UN) yang diselenggarakan oleh pemerintah, dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang diselengarakan oleh satuan pendidikan terus menerus disempurnakan. Secara substantif peningkatan kualitas soal ujian baik ujian nasional maupun ujian sekolah berstandar nasional, yaitu dengan memasukkan secara bertahap standar yang disebut High Order Thinking Skill (HOTS). Guru-guru juga sudah dilatih untuk dapat membuat soal dengan standar HOTS ini.

Hasil penilaian menunjukkan bahwa siswa-siswa Indonesia masih lemah dalam kecakapan kognitif order tinggi (higher order thinking skill/HOTS); seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi.

Harapannya nanti akan ditemukan keselarasan antara pengukuran capaian hasil belajar siswa berdasar ujian nasional dengan capaian beberapa penilaian internasional. Hasil ujian nasional tidak jauh berbeda dengan hasil capaian siswa Indonesia pada Program for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Hasil penilaian menunjukkan bahwa siswa-siswa Indonesia masih lemah dalam kecakapan kognitif order tinggi (higher order thinking skill/HOTS); seperti menalar, menganalisis, dan mengevaluasi. Fakta tersebut mendorong upaya penguatan kemampuan penalaran siswa dalam pembelajaran. Siswa perlu dilatih dan dibiasakan mengerjakan soal-soal yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan solusi, sebagai salah satu kecakapan untuk bersaing di abad ke-21.

Namun yang terjadi sekarang dan masih menjadi kendala adalah sistem pendidikan yang ada tidak banyak memberikan ruang untuk pengembangan diri dan cenderung membelenggu kreativitas anak. Pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal mengungkapkan bahwa saat ini anak-anak lebih banyak terbebani materi pelajaran yang membuat daya kritis mereka justru tidak muncul. Hal ini dikarenakan orientasi sekolah hanya untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi. Di sisi lain, fungsi pengajar (guru) belum mampu memberikan perubahan yang besar bagi peserta didiknya. Itu artinya, guru belum siap mengantarkan anak didiknya untuk menjawab tantangan pendidikan di masa mendatang.

Oleh karenanya perlu ada transformasi mendasar pada sistem pendidikan di negeri ini. Sistem yang dimaksud berupa pendidikan yang benar-benar memberikan ruang kreativitas bagi anak dengan para guru yang bisa menjadi motivator dalam meningkatkan kompetensi anak. Lembaga pendidikan seharusnya menggunakan metode belajar yang tidak hanya abstraksi membaca buku lalu ujian. Namun lebih memandang kepada persoalan nyata atau tematik dan itu membutuhkan paradigma yang berkembang di masa mendatang.

Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri.

Jika mengacu pendapat Martadi Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada; b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat penting yang harus dipenuhi adalah bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas. Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif.

Ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.

Setidaknya terdapat lima kualifikasi dan kompetensi guru yang dibutuhkan di era Pendidikan 4.0. Kelimanya meliputi: (1) Educational competence, kompetensi mendidik/pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill di era ini; (2) Competence for technological commercialization, punya kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) dengan teknologi atas hasil karya inovasi siswa; (3) Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid, yaitu global competence dan keunggulan memecahkan problem nasional; (4) Competence in future strategies, dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan dan strateginya, dengan cara joint-lecture, joint-research, joint-resources, staff mobility dan rotasi, paham arah SDG’s, dan lain sebagainya. (5) Conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin komplek dan berat.

Selain itu, pengembangan system cyber dalam dunia pendidikan akan memungkinkan guru maupun dosen dapat memberikan materi ajar yang mutahir sesuai perkem­bangan zaman, karena langsung dapat menayangkan materi itu dalam ruang kelas secara online.  Dengan kata lain, pemba­ngunan atau penyediaan fasilitas jaringan siber sebagai bagian integrasi dengan jaringan teknologi informatika di lembaga pendidikan akan mencip­takan berbagai kemudahan, baik dalam adminsitrasi akademik, non akademik, dan proses belajar me­ngajar, yang bermuara kepada pe­ningkatan kua­litas SDM output dari sebuah lembaga pendidikan.  Bila hal ini dapat terwujud secara me­rata di seluruh penjuru tanah air maka tenaga pendidik di Indonesia mampu memasuki era pendidikan 4.0. []

Mengatasi Public Distrust: Menakar Kualitas Calon Pemimpin Melalui Personal Data

Membangun demokrasi yang sehat mustahil dilakukan tanpa adanya sistem perpopilitikan yang transparan dan akuntabel. Absennya dua syarat penting ini akan melahirkan ketidakpercayaan masyarakat (public distrust) pada sistem yang berjalan. Akibatnya, partisipasi masyarakat dalam pemilu kian menyusut karena minimnya informasi tentang calon pemimpin yang tersedia. Muara dari semua ini adalah bermunculannya para pemimpin yang hobinya mengobral janji, tapi minim bukti. Lalu, bagaimana langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi public distrust?

Proses pemilihan umum dalam demokrasi adalah sebuah keniscayaan namun persoalan pemilihan umum tidak selalu yang utama dalam demokrasi. Demikianlah pernyataan yang muncul saat pesta demokrasi digelar secara nasional. Sekilas dari pernyataan tersebut memberikan sinyalemen bahwa pesta demokrasi di Indonesia lebih condong pada proses politik prosedural yang lebih dikenal sebagai modernisasi bidang politik, lebih tepatnya demokrasi yang fokus pada pembentukan partai politik, tata cara pemenuhan kouta calon legistatif, kampanye, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya praktik yang demikian ini menimbulkan efek buruk yakni persaingan tidak sehat antara lain money politik, cyber crime, berita hoax, terdapat juga figur politik yang dinilai dari sebatas popularitasnya saja.

Esensi dari pada pemilu adalah diusungnya calon pemimpin yang dianggap memiliki kompentensi dan kapabilitas dalam menyelesaikan masalah publik. Sebagai warga biasa tentunya sangat sulit untuk menentukan calon yang paling sesuai karena minimnya informasi terkait calon pemimpin. Kekurangan informasi ini harus menjadi perhatian bersama para penyelenggara pemilu baik ditingkat daerah maupun pusat. Selama ini informasi calon pemimpin yang dipublikasikan hanya seputar pendidikan dan pengalaman organisasi (oleh partai pengusung atau tim sukses) dirasa belum memuaskan para konstituen. Jangan sampai informasi yang sangat minim ini memicu public distrust karena saat terpilih justru lupa akan janji saat kampanye.

Setelah tiga kali dilaksanakan pemilu legislatif dan presiden secara langsung, Indonesia memasuki era pelaksanaan pilkada serentak mulai 2015. Semangat demokrasi demikian ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan partisipasi masyarakat, bahkan cenderung menurun.

Public distrust dapat dilihat dari angka partisipasi masyarakat saat pemilu masa Orde Baru pada 5 Juli 197. Pemilu tersebut merupakan pemilu pertama hingga pada tahun 1997 adalah pemilu terakhir masa Orde Baru. Selanjutnya, pasca-reformasi 1998, pemilu diselenggarakan tahun 1999. Kesadaran untuk membangun pemilu yang semakin demokratis diwujudkan dengan memilih secara langsung partai, legislator yang mewakili mereka, bahkan presiden dan wakil presiden. Setelah tiga kali dilaksanakan pemilu legislatif dan presiden secara langsung, Indonesia memasuki era pelaksanaan pilkada serentak mulai 2015. Semangat demokrasi demikian ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan partisipasi masyarakat, bahkan cenderung menurun. Komisi Pemilihan Umum menjelaskan, tahun 2014 partisipasi dalam pileg sebesar 75,11 persen sedang angka golput sebesar 24,89 persen. Tahun 2009 partisipasi dalam pileg sebesar 70,99 persen sedang angka golput sebesar 29,01 persen. Angka tersebut  jauh dari pemilu 2004 tingkat partisipasi sebesar 84,07 persen dengan angka golput mencapai 15,93 persen. Partisipasi masyarakat sebesar 93,30 persen dengan angka golput 6,70 persen pada Pemilu 1999 (detik.com)

Menurut Danang Girindrawardana (Ketua Ombudsman 2011-2016), pelayanan publik di Indonesia tidak membaik dalam 4 tahun terakhir. Jika pilkada tidak memberikan peningkatan kualitas pelayanan publik, maka masyarakat akan menilai pilkada sebagai sesuatu yang percuma. Oleh karena itu, memilih calon pemimpin yang kompeten dan kapabel dapat dilihat dari personal data calon pemimpin yang disediakan secara cyber space untuk dijadikan patokan bagi konstituen. Penyediaan data personal melalui media internet dapat mengurangi gap informasi calon pemimpin (M.Veale, University College London). Isu menyebarluaskan data di sektor publik merupakan hal yang sulit dilaksanakan. Masyarakat melihat pemerintahan sebagai entitas yang besar memiliki kekurangan tentang apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan. Termasuk bagian dari kekurangan komunikasi terkait manfaat yang diperoleh dengan data sharing. Tugas dan fungsi ini semestinya ditujukan pada lembaga pusat keamanan jaringan nasional. Hambatan terbesar terdapat pada budaya dan kompleksitas dari pada teknologi (Peter Wells, a policy associate at the the Open Data Institute.)

Pengguna internet di Indonesia sendiri terbilang cukup banyak kecuali daerah dengan hambatan geografis yang berarti, menjadikan pemanfaatan teknologi personal data calon pemimpin terbuka lebar. Terlebih lagi pelimpahan wewengan dari pemerintah pusat ke daerah (baca: desentralisasi) mempermudah pelaksanaan yaitu dengan menyediakan lembaga khusus yang menghimpun data personal calon pemimpin di daerah secara spesifik mulai dari pendidikan, karier, kesehatan, keluarga, tindakan kriminal dan rincian lainnya. Untuk mempermudah pelaksanaan bisa bekerjasama dengan pihak penyedia layanan internert swasta nasional untuk menjangkau berbagai daerah. Dengan begitu preferensi masyarakat dalam menentukan pilihan menjadi jelas dan dapat mengurangi gap informasi calon pemimpin.

Membangun kepercayaan pada pemerintah sangatlah sulit. Realitas menunjukkan sistem manajemen data sangat buruk membuat kebenaran sejarah, privasi dan informasi tidak pernah didapatkan oleh pemilih

Membangun kepercayaan pada pemerintah sangatlah sulit. Realitas menunjukkan sistem manajemen data sangat buruk membuat kebenaran sejarah, privasi dan informasi tidak pernah didapatkan oleh pemilih. Hal ini membuat pengeluaran dana untuk memproteksi data sangat minim. Jika masyarakat ingin memiliki gagasan lebih baik, mereka seharusnya diberikan tempat dalam agenda politik, mengutarakan ketidakpuasan kepada lembaga informasi nasional. Agar pelayanan publik digital dapat memuaskan pengguna Craig (government sector strategy director at Sopra Steria) paling tidak memenuhi hal-hal sebagai berikut: 1) user dapat mengungkapkan data pribadi dengan aman 2) user dilindungi dari penipu 3) user memahami dan senang tentang perolehan data dan pembagian data. Pada akhirnya, kunci membangun kepercayaan datang pada politik maupun teknologi. Politik dibutuhkan untuk menyakinkan dan membuat masyarakat paham terhadap data yang disajikan dan bagaimana data tersebut digunakan (dan bermanfaat bagi mereka). Sedangkan teknologi harus memiliki tingkat akuntabilitas dan keamanan yang meyakinkan masyarakat dimana hukum harus ditegakkan.