Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 62

Heboh Kiamat: Antara Kenaifan Beragama dan Ketidakbijakan Dakwah

0

Kiamat pasti terjadi dan kebenaran kitab suci tidak mungkin terbantahkan. Sesungguhnya, tidak hanya agama, di hampir semua kebudayaan ditemukan adanya keyakinan akan berakhirnya dunia yang didahului dengan beberapa tanda kehadirannya. Tidak ada satu pun orang beragama yang meragukan akan hadirnya kiamat. Sekalipun demikian, cara sehat untuk menyongsongnya tentu saja bukan dengan menjual rumah dan menghabiskan tabungan untuk pendidikan anak-anak kita, tapi dengan berbuat kebaikan dan menebar cinta kepada sesama.

KampusDesa–Seorang tokoh agama mengumumkan bahwa kiamat akan segera tiba dalam hitungan hari atau bulan. Dia tahu pasti kapan kiamat akan tiba tanpa secuil pun keraguan. Keyakinan ini sebegitu pasti hingga tak ada yang disebut dengan rencana cadangan. Seluruh tanda-tanda kedatangan kiamat yang dinubuatkan dalam kitab suci terasa sudah terjadi. Karena kiamat pasti terjadi dan kebenaran kitab suci tidak mungkin terbantahkan, maka pengumuman ini seperti sebuah terompet malaikat yang menandai berakhirnya sejarah semesta. Para jamaah telah bersiaga menyambut datangnya kiamat dengan keimanan yang menggelora. Tidak sedikit di antaranya telah menguras habis hartanya karena saat kiamat tiba, harta tidak lagi dibutuhkan. Ada yang menjual rumah, ada yang menghabiskan seluruh tabungannya.

“Kiamat pasti terjadi dan kebenaran kitab suci tidak mungkin terbantahkan”

Peristiwa di atas sama sekali tidak terjadi di sebuh desa kecil di wilayah barat Kabupaten Ponorogo, Jawa timur, di tahun 2019. Kegaduhan beberapa keluarga di Ponorogo akibat “ajaran kiamat segera tiba” hanyalah salah satu dari fenomena sosial-keagamaan yang telah terjadi di beberapa belahan dunia. Peristiwa yang tergambarkan di awal tulisan ini terjadi di Amerika Serikat, tepatnya di California, pada 2011. Peristiwa ini bermula ketika seorang pemuka Gereja Evangelis, Harold Camping, mengumumkan dengan sangat yakin dan pasti berdasarkan naskah Injil yang diyakininya tentang datangnya kiamat pada Sabtu, 21 Oktober 2011. Camping menyebarkan prediksinya melalui jaringan media dan papan iklan. Informasi ini kemudian menyebar ke berbagai negara. Begitu kuatnya seruan ini, hingga seorang remaja putri di Rusia usia 14 tahun memutuskan bunuh diri karena ketakutan. Dalam catatan buku hariannya dia menulis bahwa dia telah melihat tanda-tanda kedatangan kiamat saat dia melihat terdamparnya ikan paus di pantai dan matinya burung-burung.

“Kiamat adalah salah satu doktrin iman yang nyaris ditemukan di semua agama.”

Di tahun yang sama, Negara Taiwan juga dihebohkan dengan orang yang menyebut dirinya dengan nama Guru Wang yang memprediksi kedatangan kiamat pada 11 Mei. Dia menyarankan agar orang-orang berlindung di peti kemas. Sontak penjualan peti kemas melonjak sangat tajam hingga ditemukan ada sebuah desa yang sudah menyiapkan 100 buah peti kemas kosong. Kiamat adalah salah satu doktrin iman yang nyaris ditemukan di semua agama. Agama Islam adalah salah satu agama yang meyakini akan datangnya kiamat, bahkan menjadi salah satu dari enam pilar iman. Lebih dari itu, beberapa hadits menyebutkan tanda-tanda kedatangannya, misalnya, terjadinya malapetaka besar, munculnya Dajal, dsb. Sekalipun demikian, dengan jelas dinyatakan bahwa tidak ada satu pun yang mengetahu kapan kiamat tiba selain Allah sendiri.

Sesungguhnya, tidak hanya agama, di hampir semua kebudayaan ditemukan adanya keyakinan akan berakhirnya dunia yang didahului dengan beberapa tanda kehadirannya. Biasanya, narasi tentang kiamat muncul saat situasi sedang tidak menentu, orang-orang berada dalam himpitan kehidupan berat. Situasi ini akan menuntun kepada harapan-harapan supra-alami karena situasi alamiah tidak lagi memberi harapan akan perubahan yang lebih baik. Tidak mengherankan jika narasi kiamat selalu berpadu dengan dua hal lain: kejadian alam yang tidak bisa dijelaskan dan harapan akan datangnya pertolongan dari sosok yang akan menegakkan keadilan. Orang Jawa menyebut sosok imajiner itu dengan istilah ‘Ratu Adil”.

“Tidak seperti kebenaran sains yang selalu memberi ruang untuk sebuah keraguan, narasi agama selalu dihadirkan dalam paket kebenaran mutlak yang melarang siapa saja untuk meragukannya.”

Dalam situasi seperti ini, isu kiamat biasanya akan lahir. Suasanya lebih mengkhawatirkan jika isu kiamat ini muncul dari tokoh agama yang menjustifikasi isu tersebut dengan dalil-dalil agama. Tidak seperti kebenaran sains yang selalu memberi ruang untuk sebuah keraguan, narasi agama selalu dihadirkan dalam paket kebenaran mutlak yang melarang siapa saja untuk meragukannya. Keraguan terhadap ajaran agama adalah pelanggaran terhadap batas-batas iman. Alternatif yang ditawarkan hanya dua: iman atau tidak iman; beragama atau tidak beragama; selamat atau tersesat.

“Jika perintah kebaikan dari agama bertentangan dengan akal sehat, maka semakin orang menjalankan agama, semakin ia teralienasi dari dirinya.”

Di sini, agama sepenuhnya diperlawankan dengan akal sehat. Seakan-akan, semakin seseorang beriman, semakin dia harus menanggalkan akal sehatnya, nalar kritisnya. Padahal, sekalipun ada bagian-bagian dalam doktrin agama yang tidak bisa dinalar, misalnya jumlah rakaat shalat, namun perintah kebaikan agama seharusnya sejalan dengan akal sehat manusia. Jika perintah kebaikan dari agama bertentangan dengan akal sehat, maka semakin orang menjalankan agama, semakin ia teralienasi dari dirinya. Agama berfungsi sebagai pembebas jika ajaran-ajarannya adalah jawaban atas kebutuhan konkret manusia, bukan manipulasi atas keterpurukan situasi dan pengingkaran atas nalar kritis. Agama justru seharusnya membuka ruang-ruang kritis agar pengikutnya sanggup mengenali dirinya dan lingkungannya dengan tepat.

“Seorang pendakwah pada hakikatnya adalah seorang pendidik.”

Yang tidak kalah pentingnya adalah kearifan tokoh agama dalam berdakwah. Berdakwah tidak hanya menyampaikan apa yang diyakini seorang pendakwah sebagai kebenaran iman. Yang tidak kalah pentingnya dari aktivitas dakwah adalah mempertimbangkan akibatnya. Seorang pendakwah pada hakikatnya adalah seorang pendidik. Pendidik yang baik tentu saja haruslah orang yang menguasai bidang ilmunya. Namun penguasaan ilmu saja tidak cukup, pendidik yang baik juga dituntut untuk tahu kepada siapa, kapan, dan materi apa yang tepat untuk disampaikan.

Tidak ada satu pun orang beragama yang meragukan akan hadirnya kiamat. Sekalipun demikian, cara sehat untuk menyongsongnya tentu saja bukan dengan menjual rumah dan menghabiskan tabungan untuk pendidikan anak-anak kita, tapi dengan berbuat kebaikan dan menebar cinta kepada sesama. Hingga, saat kiamat itu tiba, kita bisa menyongsongnya dengan iman dan senyuman.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah 

Merajut Asa Di Tanah Cendrawasih (Part 2)

0

Adakah yang paling indah daripada senyuman hangat? Senyum tawa mereka saat sedang pergi ke sekolah, riang gembira menjelajahi wahana pengetahuan. Di situ para guru menyambut dengan penuh ketulusan. Seperti menanam padi di pematang sawah, bulir-ulir harapan itu akan menguning dengan pendidikan yang mapan. Maka benar guru adalah penentu peradaban.

KampusDesa- Sejak Wahiddin kembali ke Makassar, tidak ada kabar lagi tentangnya. Artikel yang ku tulis untuknya sudah sebulan lamanya centang satu di dasboard Whatsapp- ku. “Kelak jika sudah tiba di distrik Venaha, Papua, maka tak ada lagi cara bersosial media kecuali sekali dalam sebulan, itupun jika tak ada gangguan,” jelasnya padaku beberapa waktu yang lalu. Hingga akhirnya aku teringat pesan ayah kala itu di mana aku sedang  mempersiapkan Praktek Kerja lapangan (PKL).

 “Kalau kamu benar benar ingin tahu permasalahan pendidikan, datanglah ke sekolah kecil yang terletak di pinggiran, di sana kamu akan mendapatkan segudang pelajaran.”

Wejangan singkat itu membuatku berimajinasi, bagaimana dengan daerah yang lebih sulit dijangkau seperti Provinsi Papua misalnya? Cerita Muwahiddin tentang ekspedisinya di pulau Jayapura itu seperti hujan sekilas di terik siang, menyapa bahwa di lain persemayaman ada mendung yang tak terkirakan.

Acuan pendidikan baik rencana dan sarana untuk mencapai output yang diharapakan silih berganti, yang terbaru adalah K13 di mana siswa dituntut aktif dalam pembelajaran difasilitasi dengan komputer dan teknologi komputasi lainnya. Di SD Inpress memes atau di sekolah yang belum berkembang nampaknya kurikulum KTSP masihlah relevan, tentu langkah ini melalui pertimbangan yang tidak main-main. Bahkan jajaran guru SD Inpress memes perlu usaha keras untuk mengimplementasikan KTSP 2006.

 “Di sini diperlihatkan bahwa kurikulum dalam keadaan tertentu bukanlah standar segalanya, ada kebutuhan intrinsik murid yang hanya bisa dipahami oleh guru di lapangan, itulah seni dalam mengajar”.

“RPP silabus kita singkirkan dahulu, kita fokus calistung, membaca menulis dan berhitung anak anak. Bahkan masih banyak 90% buta huruf, kelas empat, lima dan enam masih banyak yang belum lancar membaca.“ Ungkap Muwahiddin saat ditanya tentang tantangan pengajar.

Selama ia mengajar, Muwahiddin menandai bahwa setiap semester ada tiga anak yang mulai bisa membaca, hal itu merupakan kebersyukuran yang amat menyenangkan baginya bersama rekan pengajar. Bagaimanapun pola hidup seperti sandang pangan, fasilitas dan sistem sosial tentu berdampak terhadap kemampuan adaptasi siswa untuk menangkap apa yang disampaikan oleh guru. Aku meyakini bahwa membandingkan anak didik adalah kejahatan, menyamakan peserta didik juga suatu penghinaan. Setiap siswa unik, tidak ada siswa yang bodoh, mungkin dia berpotensi di bidang tertentu, hanya saja belum terekspos.

“Membandingkan anak didik adalah kejahatan, menyamakan peserta didik juga suatu penghinaan. Setiap siswa unik, tidak ada siswa yang bodoh, mungkin dia berpotensi di bidang tertentu hanya saja belum terekspos.”
Dokumentasi Upacara Bendera Guru-guru Bersama Siswa-siswi SD Inpres Memes

Terkonfirmasi untuk tahun ini, menurut keterangan Muwahiddin, Distrik Venaha akan memiliki dua putra-putri daerah yang bergelar sarjana untuk pertama kalinya. Kedua orang yang beruntung tersebut mendapat pembiayaan kuliah melalui dana desa, masing-masing mendalami bidang keguruan dan ilmu pemerintahan.

Guru mulyo jalaran wani rekoso (guru mulia karena berani bersusah payah), begitulah pepatah Jawa mengatakan. Kemuliaan seorang pengajar akan didapatkan setelah ia mau memeras keringat untuk kepentingan murid-muridnya. Orang dahulu sering berargumen jika ingin memprediksi keberhasilan seorang murid, lihat dulu siapa gurunya, kelimuannya, akhlaknya dan semangatnya. Sesaat sebelum berpisah, Muwahiddin dengan segenap hati ia ingin “say hello” kepada seluruh pengajar di Indonesia, kepada pemuda yang peduli dengan pendidikan bangsa, ia berpesan :

“Jangan pernah menyerah, jangan pernah mengeluh dengan keadaan, tetap jalani, syukuri, karena jika dibandingkan dengan kami yang ada di sini, teman-teman lebih memiliki fasilitas yang layak, jadi jangan pernah berputus asa untuk berbagi ilmu. Satu ilmu yang kita berikan bisa menciptakan generasi-generasi yang lebih baik lagi.”

Apa gunanya kemenyan setungku kalau tidak dibakar? Begitu juga ilmu haruslah bermanfaat. Bukan seberapa banyak tapi seberapa ikhlas kita dalam mengajar. Mari bersama bersusah payah (rekoso) untuk mereka para pemegang harapan bangsa. Selamat menjadi Guru!

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Membawa Lamongan Kemanapun Saya Pergi

0

Sepanjang usia ini dan untuk seterusnya, masih ada lebih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih ada peran-peran besar yang akan turut diambil, masih ada lebih banyak momen-momen bersejarah lain untuk ikut berpartisipasi bersama Lamongan di dalamnya. Eropa, Amerika, Australia, maupun Asia Timur, tidak ada yang tahu. Deklarasi kebijakan luar negeri, perjanjian antar negara, momen olahraga bersejarah, atau sidang tingkat tinggi PBB, sekali lagi tidak ada yang tau. Kemanapun itu, dimanapun itu “Aku adalah Lamongan” dan “Lamongan adalah Aku”.

Kampusdesa.or.id–Setiap orang menanamkan mindset “Saya Ingin Sukses”, mungkin itu terlalu mainstream. Mengapa tidak mengubahnya menjadi “Saya Ingin Menjadi Pemuda Lamongan yang Sukses”, akan lebih menarik jika seperti itu. Bicara lebih banyak, sebenarnya bukan hanya soal menarik dan tidak menarik saja yang perlu dijadikan alasan. Melainkan, soal jati diri. Kemanapun kita pergi, tentu pertanyaan yang kerap ditanyakan pertama kali adalah asal dan nama. Di sini kita coba refleksikan, bagaimana membawa Lamongan kemanapun kita pergi.

Pertanyaan sederhana dengan jawaban yang pasti. Namun jarang orang memikirkan bagaimana hal tersebut menjadi tidak sesederhana itu. Mengambil poin-poin penting yang hampir selalu nyelip dalam perjalanan menjelajahi banyak tempat dan bergabung bersama banyak momen-momen besar memberikan dorongan untuk berfikir secara lebih struktural agar hal ini tidak menjadi sesederhana pertanyaan dan jawaban yang umumnya dijumpai.

Masa-masa awal menetap di regional Ibu Kota menyumbang banyak pemikiran bagaimana pergi ke suatu tempat dengan tidak sekedar membawa identitas diri sendiri melainkan juga identitas kota kelahiran. Lebih jauh, pada acara yang menamai dirinya AYIMUN 2018 yang diselenggarakan di Bangkok, dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama pula, bentuk pelajaran lain hadir.

Masa-masa awal menetap di regional Ibu Kota menyumbang banyak pemikiran bagaimana pergi ke suatu tempat dengan tidak sekedar membawa identitas diri sendiri melainkan juga identitas kota kelahiran. Lebih jauh, pada acara yang menamai dirinya AYIMUN 2018 yang diselenggarakan di Bangkok, dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama pula, bentuk pelajaran lain hadir. Pemuda Lamongan usia 18 tahun turut serta dalam salah satu agenda Model UN yang dihadiri ribuan delegasi dari kurang lebih tujuh puluh negara di dunia. Menakjubkan, mari coba untuk yang lain lagi!

Konotasi “mencoba yang lain lagi” adalah mencoba untuk partisipasi yang bersifat lebih dominan. Bagaimana itu? ketika Model UN bersifat bebas diikuti siapa saja dan bentuknya adalah simulasi sidang PBB dengan council-council dan topik-topik tertentu, berbeda dengan APFSD Youth 2019 yang serupa diselenggarakan di Bangkok. Proses pemilihan peserta lebih ketat sebab tidak semua pengisi pendaftaran akan terpilih. Hanya enam puluh peserta dari kurang lebih lima belas negara seluruh Asia Pasifik saja yang akan lolos mengikuti Asian Pasific Forum for Sustainable Development (APFSD) Youth 2019 ini.

Sedikit rincian mengenai deskripsi APFSD Youth 2019, acara ini diselenggarakan pada tanggal 21-23 Maret 2019. Acara ini didukung oleh banyak organisasi sosial seperti ARROW, Right Here Right Now, Youth Lead, YPEER, dan AP-RCEM serta difasilitasi oleh UNESCAP. Dengan tema yaitu “Empowering Young People and Ensuring Inclusivity and Equality in Asia Pacific”. Acara ini diselenggarakan guna melakukan peninjauan terhadap terlaksanakannya SDG-2030 pada poin-poin tertentu. Yaitu poin nomor 4, 8, 10, 13, 16, dan 17 pada regional masing-masing. Dengan konsep metodologi yang melibatkan Panel Discussion dan sesi dialog serta Group Work on Recommendation, maka peserta juga akan ikut menganalisis permasalahan implementasi SDG’s, memberikan usulan untuk memperbaiki, dan mengawal pelaksanaannya di regional Asia Pasifik. Dengan masing-masing perwakilan dari negara Asia Pasifik dan pertanyaan yang sama serta jawaban yang sama pula:

“Where do you come from?”

“Lamongan, Indonesia”

Akan memberikan hasil pemikiran berbeda. Orang-orang diluar sana akan penasaran dimana persisnya Lamongan dan bagaimana Lamongan itu misalnya. Dari sini bisa diketahui apa yang dimaksud membawa Lamongan kemanapun saya pergi, pun tentang bagaimana saya membawa Lamongan turut berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan besar. Cara sederhana dengan efek yang tidak sederhana, melalui pertanyaan dan jawaban.

Kemudian, sepanjang usia ini dan untuk seterusnya, masih ada lebih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih ada peran-peran besar yang akan turut diambil, masih ada lebih banyak momen-momen bersejarah lain untuk ikut berpartisipasi bersama Lamongan di dalamnya. Eropa, Amerika, Australia, maupun Asia Timur, tidak ada yang tahu. Deklarasi kebijakan luar negeri, perjanjian antar negara, momen olahraga bersejarah, atau sidang tingkat tinggi PBB, sekali lagi tidak ada yang tau. Kemanapun itu, dimanapun itu…

Aku adalah Lamongan dan Lamongan adalah Aku.

Korelasi Problema Masyarakat Non Produktif dalam Bidang Pendidikan dengan Kampus Desa

0

Masyarakat non produktif seringkali menjadi salah satu problema yang tidak bisa dipungkiri. Minimnya pendidikan menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh setiap orang. Di samping itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi salah satu penyebab lambannya kualitas hidup manusia.

KampusDesa–Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasanya Negara Indonesia adalah negara berkembang yang apabila dilihat dari segi pembangunannya kurang merata. Hal tersebut berakibat pada daerah-daerah tertentu yang tidak terealisasi baik dari segi pendidikan maupun sarana prasarana. Sedangkan dalam konstitusi sendiri tepatnya pada Pasal 28 (C) Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap orang berhak mengembangkan dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya, dan demi kesejahteraan manusia. Dari sini kita dapat menyimpulkan faktor yang paling mendominasi ialah rendahnya kesadaran masyarakat dan kurangnya perhatian dari pemerintah itu sendiri.

Para pemuda di desa tersebut kebanyakan seorang pengangguran karena latar belakang yang hanya lulusan Sekolah Dasar dan tingkat kesulitan mencari lapangan pekerjaan bagi mereka.

Di sisi lain berdasarkan kebijakan pada tahun 2015 terkait dengan wajib pendidikan 12 tahun sudah memberikan peluang besar bagi masyarakat yang istilahnya non produktif supaya mampu mengenyam pendidikan. Namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri adanya keterbatasan infrastruktur menghambat berjalanya kebijakan tersebut. Misalnya yang terjadi di Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Di desa tersebut terdapat 6 Sekolah Dasar yang sebagian besar non aktif. Kenapa saya mengatakan non aktif, bagaimana tidak? Rata-rata setiap SD mempunyai murid sekitar 100 lebih dengan tenaga pengajar 3 orang. Apabila kelas 1, 2 dan 3 sedang melangsungkan KBM maka secara otomatis kelas 4, 5 dan 6 tidak terkondisikan. Sehingga kegiatan belajar mengajar kurang maksimal. Selain itu para pemuda di desa tersebut kebanyakan seorang pengangguran karena latar belakang yang hanya lulusan Sekolah Dasar dan tingkat kesulitan mencari lapangan pekerjaan bagi mereka.

Kondisi Indonesia saat ini secara kualitas dapat dikatakan sangat miris baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi.

Nah di sini kita sebagai pemuda penerus bangsa yang baik sudah semestinya merubah kondisi dan mindset masyarakat desa yang istilahnya masih kategori tertinggal. Apalagi dengan adanya program sosial “Kampus Desa” ini memberikan peluang yang sangat besar dan luar biasa untuk terjun ke masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Mengingat bahwa kondisi Indonesia saat ini secara kualitas dapat dikatakan sangat miris baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi. Maka dari itu sebagai bentuk kontribusi, perlu adanya sumbangsih yang besar untuk mengatasi problematika tersebut. Entah dalam bentuk finansial berupa pembagian buku bagi anak-anak secara gratis maupun dari segi jasa.

Diharapkan dengan adanya Kampus desa ini prosentase perolehan pendidikan semakin meningkat dan memperkecil angka buta huruf di kemudian hari.

Tidak berhenti di situ saja, didukung dengan adanya pihak-pihak dari Kampus Desa yang notabene mayoritas masih mempunyai status mahasiswa menjadi suatu keunggulan tersendiri untuk meminimalisir problematika yang terjadi di dalam masyarakat non produktif terutama dalam hal pendidikan. Sehingga secara tidak langsung peran mahasiswa dapat diaplikasikan ketika menangani masalah seperti ini. Diharapkan dengan adanya Kampus desa ini prosentase perolehan pendidikan semakin meningkat dan memperkecil angka buta huruf di kemudian hari. Seperti halnya sebuah lentera semangat yang dikutip dari Metropol pada 06 September 2015 dengan judul Indonesia Pintar: wajib belajar 12 tahun gratis tertera bahwa “Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan terhadap rakyatnya”.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Nasib Dunia Pendidikan Dalam Debat Pilpres 2019

0

Saya membayangkan suatu hari ke depan, wujud pendidikan Indonesia nanti lebih baik lagi. Bagaimana siswa maupun mahasiswa sudah bisa mandiri. Sekolah dan kampus sejalan dengan pemerintah dan industri. Bukan malah berjalan sendiri-sendiri.

Kampusdesa.or.id–Pada Minggu (17/3) malam dua calon wakil presiden yaitu Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno saling beradu pandangan dalam debat calon wakil presiden di Pilpres 2019. Jika di sesi debat sebelumnya mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme (debat pertama) serta tema Energi dan Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dan Infrastuktur (debat kedua). Tema yang ditentukan dalam debat ketiga ini adalah tentang Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sosial, dan Kebudayaan.

Dalam lima debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU), kali ini adalah satu-satunya debat yang hanya mempertemukan calon wakil presiden, yang digelar di Hotel Sultan Jakarta. Malam itu saya turut menyaksikan live streaming debat pilpres 2019 tahap ketiga ini. Cukup seru dan menarik.

Namun saya sebagai seorang akademisi yang pernah kerja di industri sebenarnya menanti gagasan baru terkait kebijakan untuk link dan match antara pendidikan dan dunia kerja. Berikut beberapa poin program kerja yang ditawarkan oleh kedua perwakilan paslon di bidang Pendidikan. Kubu Jokowi-Maruf Amin tampak memaparkan program-program yang sudah dijalankan presiden Jokowi di periode pertama. Program-program ini cenderung fokus lebih ke fisik bangunan (infrastruktur) seperti apa yang selama ini diprioritaskan Pak Jokowi.

Berikut program yang ditawarkan: 1. Kartu Indonesia Pindar (KIP) Kuliah; 2. Mempercepat pemerataan penyediaan sarana-prasarana pendidikan dan infrastruktur pendukungnya, termasuk untuk madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan; 3. Memepercepat pemerataan kualitas pendidikan dengan peningkatan standar pendidikan dan BOS berdasarkan kinerja; 4. Mempercepat gerakan literasi masyarakat dengan memperbanyak perpustakaan dan taman-taman baca serta pemberian intensif bagi industri perbukuan nasional; 5. Meneruskan revitalisasi pendidikan vokasi untuk peningkatan kualitas SDM dalam mengahdapi dunia kerja.

Dikarenakan background Maruf Amin adalah seorang Kyai, beliau tidak lupa memasukan poin konsentrasi ke lembaga pendidikan agama. Sedangkan untuk upaya integrasi dengan ranah dunia kerja, paslon 01 lebih memilih memperbaiki program pendidikan vokasi yang sudah ada di Indonesia. Jadi anak-anak sekolah dididik agar mampu dan terserap di dunia industri.

Adapun di kubu Prabowo-Sandiaga Uno disampaikan bahwa program-program kerja yang dapat ditawarkan nantinya jika terpilih di antaranya: 1. Meningkatkan kualitas dan kompentensi guru, diimbangi peningkatan kesejahteraan untuk guru; 2. Mengangkat status guru honorer menjadi pegawai tetap; 3. Pendidikan tidak sekedar mengejar prestasi, tapi berbasis peningkatan kecerdasaan dan karakter moral; 4. Mengintegrasikan sektor idustri dengan pendidikan SMK untuk menciptakan lapangan kerja baru; 5. Memberikan beasiswa untuk masyarakat kurang mampu seperti anak petani, bunuh, nelayan, guru, dan santri untuk pemerataan kualitas pendidikan.

Menurut saya program-program paslon 02 lebih ideal menjawab harapan dan problematika yang memang sekarang ada di lapangan. Tim BPN cukup jeli membaca kekurangan dari pemerintahan Presiden Jokowi di periode pertama. Atau mungkin karena menampung beberpa aspirasi masyarakat yang merasakan realitas  pendidikan dan dunia kerja di Indonesia.

Calon wakil presiden RI Sandiaga Uno juga menawarkan konsep yang selama ini menjadi usulan banyak akademisi yakni adanya penggabungan (merger) antara dunia pendidikan dan industri untuk mengentaskan persoalan pengangguran di Indonesia.

Namun di sisi lain, salah satu hal yang mereka tawarkan dalam konsep link and match, yang tujuannya untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan industri malah dinilai oleh Dewan Pembina Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK) Najeela Shihab sebagai solusi jangka pendek. Disebut solusi jangka pendek karena mereka hanya dilatih untuk menghadapi dunia industri saat ini, sementara perkembangan industri itu sendiri sangat dinamis.

“Karena dalam revolusi industri ini yang dibutuhkan bukan hanya keterampilan, tapi juga kemampuan beradaptasi, berpikir jitu, dan memahami informasi,” ujarnya seperti  dikutip oleh Tirto.id (19/03)

Najeela menilai pembahasan tema pendidikan oleh kedua cawapres hanya menyempitkan makna pendidikan itu sendiri. Meski begitu, pendiri Kampus Guru Cikal  ini memakluminya karena debat pilpres tak ubahnya semata-mata hanya kepentingan politik untuk menarik simpati pemilih saja. Jadi isu yang dibicarakan kurang adanya tawaran konsep berupa program pelatihan skill untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri itu lebih baik daripada dilatih untuk mencetak tenaga kerja-tenaga kerja baru.

Meski demikian saya selaku pemilih dari kalangan generasi muda, dengan harapan besar bahwa apa yang telah diutarakan dalam debat ini tidak hanya sekedar wacana belaka. Saya membayangkan suatu hari ke depan, wujud pendidikan Indonesia nanti lebih baik lagi. Bagaimana siswa maupun mahasiswa sudah bisa mandiri. Sekolah dan kampus sejalan dengan pemerintah dan industri. Bukan malah berjalan sendiri-sendiri. []

Sebelum Ibu Terpapar Radikalisme, Apa yang Seharusnya Dilakukan?

0

Terorisme telah mengambil peran keluarga. Pelaku bom bunuh diri pun telah terbukti dilakukan oleh sebuah keluarga yang melibatkan istri dan anak-anak pelaku teroris. Ketahanan keluarga menjadi soko guru bagi masyarakat. Simpul hubungan di dalam keluarga menjadi tolak ukur dalam membangun keberagamaan kritis. Situasi ini memberikan gambaran bahwa terorisme telah memasuki ruang keluarga sehingga kita perlu memagari kewaspadaan beragama bagi seluruh anggota keluarga kita agar tidak terpapar radikalisme, termasuk perempuan dan anak-anak.

Kampusdesa.or.id- Berita tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendapat saksi hukum dan dicopot dari jabatannya karena unggahan status sosial media istrinya mengusik pikiran saya sampai sekarang. Meskipun berita itu sudah terjadi beberapa waktu lalu. Khalayak sudah paham sebab pencopotan itu karena mereka dinilai berujar secara tidak pantas di media sosial, terkait kasus penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto. Saya tidak membahas seputar penusukan ini lebih jauh. Saya terusik karena mereka selain istri TNI juga ibu bagi anak-anaknya. Menurut ajaran di agama saya, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Tentu untuk menjadi sekolah bagi anaknya ibu harus memiliki sekian ilmu pengetahuan untuk mendidik anak-anaknya agar tumbuh dan berkembang baik sesuai jamannya dan tentu saja menjadi generasi unggul dalam kebaikan.

Kasus istri TNI yang notabene ibu bagi anak-anak mereka yang dinilai tidak etis dalam bersosial media ini dinilai oleh banyak kalangan bahwa mereka diduga terpapar paham radikalisme. Apa itu radikalisme? Menurut Badan Nasional Penanggulagan Terorisme (BNPT), radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan (violence) dan aksi-aksi yang ekstrem. Sedangkan cirinya menurut BNPT yang bisa dikenali adalah dari sikap dan paham radikal antara lain; 1) intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain), 2) fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), 3) eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) dan 4) revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan).

Menyoal radikalisme yang pelakunya dari kaum ibu ini, saya teringat beberapa peristiwa-perstiwa berikut ini.

Peristiwa 15 Mei 2018 di Surabaya, 3 hari setelah teror bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak dalam satu keluarga, di tanggal 15 Mei saya pernah menulis status facebook yang menyoal tanyangan acara religi salah satu TV yang mana anak sulung saya heran dengan konten ajaran yang disampaikan berupa larangan ziarah ke makam wali. Stasiun TV ini beberapa hari kemudian muncul dalam pemberitaan online bahwa tayangan religinya ada yang tidak sesuai dengan aqidah keluarga saya maupun mata pelajaran di sekolah dan tentunya hampir seluruh umat Islam di negara ini. Mengingat pemberitaan ini, saya tulis dalam status facebook saya kurang lebih begini,

“Kakak, kalau lihat TV yang tayangannya tidak sama dengan yang diajarkan umi, abi, guru-guru di MI dan di TPQ, pean percaya yang diajarkan umi, abi dan guru- guru saja geh.”

Status ini saya tulis tahun 2013 lalu. Tiga tahun kemudian ada pemberitaan Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar. Gerakan ini mendadak heboh setelah seorang dokter bernama Rica Tri Handayani dan anaknya di Yogyakarta menghilang sejak 30 Desember 2015 lalu.Dokter Rica kemudian ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, 11 Januari 2016. Dari hasil penyelidikan, dokter Rica diketahui adalah anggota Gafatar. Dia menjadi anggota sejak 2012. ( Liputan6.com, 20 Januari 2016). Gafatar yang diketahui sebagai organisasi yang menghembuskan ajaran sesat inipun di Jombang sudah ada titik-titik yang digunakan oleh Gafatar Jombang atau organisasi sejenis sebagai basisnya, diantaranya di desa Ngumpul, kecamatan Jogoroto, kemudian di Denanyar dan Plandi, kecamatan Jombang (Surya.co.id , 13 Januari 2016).

Betapa beratnya pendidikan keluarga dengan kepungan informasi berisi terorisme dan aliran sesat ini. Tentunya orang tua tidak boleh lengah, orang tua harus semakin membekali dirinya dengan pengetahuan agar bisa memberi penjelasan yang tepat tentang dinamika informasi, dalam hal ini radikalisme, terorisme dan aliran sesat.

Pada Minggu 13 Mei 2018 sampai Rabu (16 Mei 2018) terorisme muncul kembali setelah tragedi Kampung Melayu pada 24 Mei 2017. Mengejutkan pula karena jaringan terorist yang menyerang 3 gereja di Surabaya pengeboman tidak lagi dilakukan oleh pria, tapi juga anak dan istri. Saya terhenyak, heran dan kuatir. Begitu dasyatnya serangan terorisme mencuci otak mereka hingga melakukan tindakan yang tidak bisa dinalar akal dan tidak dibenarkan agama (membunuh dan bunuh diri ajaran manapun melarang) yang melibatkan anak dan perempuan, satu keluarga. Betapa beratnya pendidikan keluarga dengan kepungan informasi berisi terorisme dan aliran sesat ini. Tentunya orang tua tidak boleh lengah, orang tua harus semakin membekali dirinya dengan pengetahuan agar bisa memberi penjelasan yang tepat tentang dinamika informasi, dalam hal ini radikalisme, terorisme dan aliran sesat.

Keluarga memiliki peran sebagai benteng bagi pertumbuhan bibit radikalisme anak-anak muda. Data BNPT memperlihatkan lebih dari 52 persen narapidana teroris yang menghuni lembaga pemasyarakatan berusia 17-34 tahun ( A Safril, Jawa Pos, 15 Mei 2018).

Kenyataan ini membukakan mata saya, bahwa aliran sesat, radikalisme dan terorisme tidak saja ada di pemberitaan media elektronik maupun media online yang jauh dari pandangan kita, tapi kenyataannya ada di sekitar kita, di sekitar keluarga kita dan anak-anak kita. Media -media tersebut juga mudah diakses oleh keluarga kita, sehingga kita, anak-anak kita mengetahui kejadian apa saja di luar rumah termasuk gerakan gerakan yang berbau terorisme, pemikiran radikal maupun aliran sesat. O ya, menyaksikan Gafatar kala itu, lagi-lagi saya berpesan kepada anak saya.

“Kelak, kalau kalian jauh dari umi dan abi untuk melanjutkan sekolah, dan di sana ada pengajian atau kumpul-kumpul ngomong soal agama, kalau ada yang tidak sesuai dengan yang diajarkan umi dan abi atau bertentangan dengan pelajaran jaman sekolah MI, kalian tanyakan dulu kepada umi, abi atau guru- guru MI dulu.”

“Kelak, kalau kalian jauh dari umi dan abi untuk melanjutkan sekolah, dan di sana ada pengajian atau kumpul-kumpul ngomong soal agama, kalau ada yang tidak sesuai dengan yang diajarkan umi dan abi atau bertentangan dengan pelajaran jaman sekolah MI, kalian tanyakan dulu kepada umi, abi atau guru- guru MI dulu.” Saya berpesan seperti ini karena anak saya usia madrasah ibtidaiyah waktu itu. Saya berharap, pesan -pesan masa kecilnya akan diingat terus di masa yang akan datang. Saya merasa penting berpesan seperti itu, karena saya tidak tahu apa yang direncanakan oleh penyebar aliran sesat dan pemelihara sel tidur radikalisme kelak. Saya ‘njagani’ agar anak -anak punya komitmen tepat dan benar dalam menjalankan agamanya di eranya nanti. Dan kekhawatiran saya ini beralasan dengan kejadian pengeboman pelayanan publik menjadi sasaran gerakan terorisme .

Maka, 15 Mei 2018, saya tergerak mengajak kawan-kawan facebook saya dengan status seperti ini,

Tugas orang tua pada pendidikan anak, tidak saja seputar urusan akademik sekolahnya (formal, nonformal, informal) dan tata krama bermasyarakat, tapi urgen membekalinya aqidah akhlaq di tengah berhamburannya ideologi sesat, adanya bom bunuh diri, aliran sesat, organisasi terlarang yang dapat mereka saksikan kapan saja. Jangan tunggu sekolah yang bergerak, kelamaan.

Handphone adalah jendela bagi orang tua untuk mengetahui informasi lebih banyak. Jangan hanya nge-share tentang korban-korban terorist, menulis kecaman di status sosial media saja. Mari kita berbisik sayang kepada anak anak kita.

Semua orang tua sudah pegang handphone, selain untuk bisnis, “say hello’ dengan kawan nun jauh di sana, berhaha-hihi dengan komunitas. Handphone adalah jendela bagi orang tua untuk mengetahui informasi lebih banyak. Jangan hanya nge-share tentang korban-korban terorist, menulis kecaman di status sosial media saja. Mari kita berbisik sayang kepada anak anak kita.

“Anakku, kalau kalian diajak beribadah dengan berjihad lalu pahalanya dapat surga dan bidadari, maka taat pada orang tua juga ibadah, membantu sesama di sekitar kita juga ibadah, sholat berjamaah, zakat, puasa, berhaji juga ibadah. Kalau ada orang lain selain ayah dan ibu, guru kalian sekalipun mengajari kalian yang tidak sama diajarkan oleh ibu dan ayah, guru ngaji kalian, guru-guru senior kalian di sekolah, jangan percaya pada nasehat, atau pelajaran atau cerita aneh aneh tersebut ya.”

Mari lebih banyak belajar, membaca (tulisan dan situasi) agar bisa melawan radikalisme, terorisme, dan aliran sesat dari pola pendidikan keluarga. Saya juga belajar.

Menyibak Intan yang Tersembunyi pada Masyarakat Desa

0

Tanpa kita sadari, seringkali kita menganggap remeh masyarakat desa. Baik kehidupannya, pola pikirnya, atau bahkan pendidikannya. Padahal ada sebuah intan yang tersembunyi yang barangkali ketika kita menyibaknya dengan sempurna, intan tersebut mampu memberikan manfaat bagi semua orang bak hujan yang mengairi seluruh alam. Intan yang dimaksud di sini adalah perihal metode belajar masyarakat desa yang tampak ringan namun padat dan berisi.

KampusDesa–Belajar, secara sederhana diartikan sebagai proses dari tidak tahu menjadi tahu. Setiap manusia melakukan usaha atau metode yang berbeda-beda dalam rangka  menambah pemahaman dan pengetahuan mereka. Berbicara mengenai metode untuk mencapai pemahaman mendalam, kebanyakan dari kita terfokus pada metode-metode yang terlalu rumit seperti olahraga otak, atau membaca secara berulang-ulang sebuah redaksi untuk mendapatkan informasi dan pemahaman secara maksimal. Namun, metode ini terkadang hanya sampai pada konsep teori dan tidak terealisasi dalam bentuk praktek yang seharusnya menjadi hasil akhir dalam proses belajar. Saat kita masih membahas tentang teori-teori tentang kehidupan, masyarakat desa telah jauh lebih dulu mempraktekkan berbagai  ilmu pengetahuan yang kita bahas di bangku-bangku pendidikan formal atau forum-forum ilmiah.

Pengaplikasian dalam kehidupan yang dimaksud pada pembahasan sebelumnya sejatinya meliputi berbagai aspek dari segi sosial budaya, bahkan bidang ilmiah dapat pula kita jumpai dalam kehidupan masyarakat desa. Sebagai contoh dari bidang pengobatan herbal, ketika pihak pemerintah Indonesia baru memulai menggalakkan kembali pemakaian obat-obat herbal kepada masyarakat Indonesia. Sementara masyarakat desa telah lama mengandalkan berbagai tanaman liar di alam untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa mereka.  Contohnya seperti daun coklat sebagai pengobatan luka, daun pepaya sebagai solusi pengobatan malaria.

Masyarakat desa telah sejak dahulu memegang nilai-nilai adat kesopanan dan mengajarkan hal-hal semacam itu sejak usia dini dalam lingkup keluarga.

Selanjutnya ketika mahasiswa membicarakan mengenai degradasi moral dan solusi dalam mengatasinya, masyarakat desa telah sejak dahulu memegang nilai-nilai adat kesopanan dan mengajarkan hal-hal semacam itu sejak usia dini dalam lingkup keluarga. Melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan mengenai pentingnya mempelajari  pola kehidupan masyarakat desa yang sarat akan praktek mendalam terhadap berbagai permasalahan kehidupan yang selama ini kerap menjadi perbincangan dalam berbagai forum diskusi. Tentunya hal tersebut dapat terwujud jika kita mampu terjun langsung dan melakukan pengamatan mengenai kehidupan di desa secara langsung.

Lahir sekitar awal tahun 2000-an, penulis masih merasakan bagaimana pola pendidikan ala-lingkungan desa yang tentunya belum terkontaminasi oleh kemajuan-kemajuan dari segi teknologi atau yang kini familiar dengan sebutan pengaruh zaman milenial. Hal ini merupakan penyebab utama  yang membuat anak-anak desa mampu menyerap dengan baik berbagai informasi yang diajarkan oleh orang tua mereka. Dalam hal ini keterbatasan akses terhadap teknologi ternyata menjadi point plus untuk penerapan metode tersebut, yaitu metode bercerita. Mendengarkan cerita tentu merupakan hal yang terasa menyenangkan yang disukai oleh hampir semua orang. Metode penyampaian informasi secara menyenangkan akan membuat kita menjadi mudah untuk menerima sebuah informasi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tentu akrab dengan cerita Malin Kundang, Bawang Putih-Bawang Merah, Si Kancil, dan masih banyak lagi cerita-cerita lain yang tentu tersimpan rapi dalam memori kita.

Tentu kita pernah bertanya dalam hati mengapa cerita tersebut masih melekat walau telah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi kita dengar. Satu-satunya jawaban dari pertanyaan tersebut ialah karena kita menerima cerita tersebut dengan hati lapang dan perasaan yang gembira sehingga alam bawah sadar kita ikut merekam saat cerita tersebut disampaikan kepada kita. Biasanya setelah membawakan cerita tersebut para orang tua akan menanyakan ibrah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita yang baru saja dibawakannya, kemudian ditutup dengan nasehat-nasehat untuk mencontoh maupun menghindari watak dari tokoh-tokoh dalam cerita. Seperti itulah metode pendidikan orang tua untuk menanamkan nila-niai moral bagi anak-anaknya, metode sederhana yang tidak cenderung menggurui.

Metode belajar yang hangat dan tidak kaku merupakan solusi yang dapat kita terapkan pada semua jenis cabang keilmuan.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, mari kita kembali mengambil pelajaran dari metode belajar yang diterapkan oleh mansyarakat pedesaan yang sarat akan nilai moral dan tentunya lebih menyenangkan. Metode belajar yang hangat dan tidak kaku merupakan solusi yang dapat kita terapkan pada semua jenis cabang keilmuan. Termasuk dalam bidang-bidang sains, jika kita mampu mengemas berbagai teori dan rumus-rumus rumit dalam bentuk sebuah cerita seperti  metode pendidikan yang dilakukan para orang tua kita dahulu.  Tentu hal ini dapat merubah pandangan kita tentang sains menjadi lebih menarik dan menyenangkan serta mampu untuk diingat dalam jangka waktu panjang.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Islam Nusantara, Ruang Tengah Moderatisme

1

Islam Nusantara merupakan pendekatan keilmuan yang tidak bisa hanya diterima sebagai kata yang memecah makna Islam. Islam nusantara adalah proses mengambil pengalaman perkembangan Islam ke Indonesia yang didasari oleh pengetahuan etnografi, antropologi, dan sosiologis. Bahkan Islam kemudian menjadi sebuah fakta yang dipahami dalam kerangka pengalaman yang paling fleksibel dalam ranah budaya hingga menghasilkan sebuah pemahaman Islam yang utuh di Indonesia.

KampusDesa– Menyerang istilah Islam nusantara dengan kecurigaan, bahkan dianggap sebagai mazhab baru atau bagian dari Islam liberal itu sendiri adalah reaksi kontra ideologis yang muaranya terletak pada perbedaan kepentingam dan kelompok agama. Apakah kontra wacana terhadap Islam nusantara merupakan konsekuensi terhadap cara pembid’ahan dan pengingkaran terhadap kajian-kajian pemahaman kontekstual Islam dalam persepktif lintas kawasan, historiografi perkembangan Islam Indonesia dan antropologi kehidupan yang turut serta dimaknai sebagai bagian memahami Islam melampaui doktrin-doktrin yang ada.

Islam nusantara harus terus diusung agar tidak terjadi framing yang semata bernilai ideologis, seolah kepentingan NU saja karena memang diktum Islam nusantara muncul ketika Muktamar NU di Jombang 2015. Selain itu tidak juga diframing  anti-NU kedalam pentaqdisan (penyucian/purifikasi) keagamaan. Islam nusantara dikatakan tidak pernah ada dan hanya katabelece dari NU saja. Islam hanya satu, maka kalau ada Islam nusantara berarti itu menyimpang dari Islam itu sendiri. Ini salah satu serangan terhadap wacana Islam nusantara yang sebenarnya serangan itu lebih bersifat kontra-framing untuk saling berebut pengaruh.

Meski geger Islam nusantara tidak lagi terlalu kuat tapi rekam jejak digital masih menyisakan tracking Islam nusantara yang dianggap keluar dari keaslian Islam. PC Lakpesdam NU Kota Malang, LTNU Jawa Timur, Pusat Studi Pesantren dan Peradaban Universitas Brawijaya dan Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah Situbondo masih merasa perlunya menelaah lebih klir Islam nusantara. Kamis, 28 Februari 2019 bertempat di gedung layanan bersama Universitas Brawijaya Malang, Islam Nusantara dibeberkan dengan apik dari berbagai telaah disiplin keagamaan yang berbeda-beda. Tujuannya untuk memberikan suguhan bahwa secara akademik, Islam nusantara dapat dibeberkan dengan telaah historiografi, antropologi, sosiologi, dan bahkan politik.

Khazanah Islam Nusantara perlu didudukkan dalam studi lintas kawasan karena tidak bisa dipungkiri, sejak 15 tahun setelah Rasulullah wafat, terdapat perkampungan muslim di seputaran Aceh. Ini membuktikan adanya ketersambungan Arab dengan nusantara. Persamaan Arab Aceh adalah bukti adanya pergeseran lintas kawasan agama Islam dari Arab ke Aceh. Inilah babak baru Islam nusantara, jelas KHR Azaim Ibrahimy M.Hi, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Tidak relevan jika Islam nusantara dianggap sebagai mazhab baru atau model lain Islam liberal. Oleh karena itu Islam nusantara pun dikembalikan ke model pemahaman akademik ketimbang digadang-gadang sebagai kepentingan NU saja atau politik.

Menurutnya, problematika Islam Nusantara perlu diperjelas kedalam dua hal. Secara ushuli, Islam nusantara memiliki akarnya di Indonesia karena ada dukungan budaya, akademik, kajian keilmuan termasuk bukti-bukti historis, arkheologis dan berbagai manuslrip yang dapat menjadi bukti otentik bahwa perkembangan Islam nusantara didukung oleh berbagai bukti peradaban dan kebudayaan. Ruang ini akan lebih orisinil dan otoritatif secara akademik untuk menjelaskan kebutuhan terhadap penghadiran Islam nusantara. Jadi Islam nusantara adalah sebuah pendekatan kajian untuk memahami konteks persebaran Islam Indonesia, bukan ajaran baru Islam. Tidak relevan jika Islam nusantara dianggap sebagai mazhab baru atau model lain Islam liberal. Oleh karena itu Islam nusantara pun dikembalikan ke model pemahaman akademik ketimbang digadang-gadang sebagai kepentingan NU saja atau politik. Menurut Azaim, Islam nusantara lebih baik jika dikembalikan pada akar sejarah, perkembangan, budaya, yang memang bisa didekati menggunakan bahasa ilmu ketimbang menjadi proyek politik kekuasaan. Azaim justru pesimis dan tidak menguntungkan jikalau Islam nusantara jatuh pada kepentingan ideologis dan politis.

Ahmad Tohe mengajak untuk turut mengembangkan Islam nusantara melampaui tataran ideologis, yakni berpijak melalui acuan ilmiah, akademis dan metodologis sehingga Islam nusantara akan melahirkan narasi komprehensif yang bisa dipertanggungjawaban secara keilmuan dan keagamaan sebagai praktik beribadah.

Beda lagi menurut Ahmad Tohe, pakar tafsir lulusan Amerika ini justru menempatkan Islam nusantara lahir dari proyek ideologis. Ideologis dalm konteks kepentingan NU untuk menjaga Islam dari rongrongan kelompok fanatik dan berimplikasi pada perebutan negara dari dasar konstitusi yang sudah purna dengan ideologi Pancasila. Frasa itu diusung saat muktamar NU Jombang 2015 dan melahirkan reaksi dari kalangan luar NU. Tentu basis pertentangannya lahir dari kelompok yang tidak paham atau tidak sepaham. Oleh karena itu, Islam nusantara harus dinaikkan ke tingkatan yang lebih akademis dan metodologis sehingga Islam nusantara tidak rapuh dalam pembicaraan jargon saja. Memang, secara masif Islam nusantara hanya dipahami sebagai jargon dan direaksi berdasarkan sudut pandang penuh prasangka dan pertentangan ideologis sehingga yang berkembang di kelompok penentang pun dikomodifikasi sebatas jargon dan kecurigaan-kecurigaan, persis seperti menentangkan ziarah kubur, slametan dan sebagainya yang identik dengan bid’ah dan sejenisnya. Padahal secara teoritis, sejumlah buku tentang Islam nusantara sudah beberapa dipublikasikan. Di situ, konseptualisasi Islam nusantara menjadi lebih ilmiah dan mendapatkan pemahaman komprehensif. Ahmad Tohe mengajak untuk turut mengembangkan Islam nusantara melampaui tataran ideologis, yakni berpijak melalui acuan ilmiah, akademis dan metodologis sehingga Islam nusantara akan melahirkan narasi komprehensif yang bisa dipertanggungjawaban secara keilmuan dan keagamaan sebagai praktik beribadah.

Islam Nusantara, Islam Lentur dalam Dakwahnya

Menarik menyimak Muzamil Qomar, Profesor dari IAIN Tulungagung, menyatakan bahwa Islam nusantara sebagai sebuah pendekatan, bukan sebagai agama baru. Jika ada yang menyerang Islam nusantara sebagai gagasan liberal dan penuh dengan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) maka anggapan tersebut pun salah kaprah. Muzamil menandaskan, secara historis, perkembangan Islam Nusantara tidak serta-merta sama dengan Arab, terutama paska Nabi wafat, Islam di Arab lebih banyak bertumpu pada pergolakan Aqidah sehingga mudah geger, bahkan melahirkan perang karena memang pendekatan Aqidah lebih kaku.

Islam nusantara justru menemukan formula perkembangannya. Islam lebih lentur karena melebur kedalam pendekatan tradisi. Suatu contoh perjumpaan Islam dalam kebudayaan Jawa, seperti Wayang, munculnya aneka tembang Jawa, Lir Ilir, dan aneka gubahan artistik menjadi salah satu cara berdakwah adalah produk Islam nusantara. Bahkan lebih familier dan setara. Contohnya pertunjukan wayang dari Sunan Kalijaga boleh ditonton siapapun, tua-muda, rakyat biasa, priayi, agama apaun boleh menonton. Mereka semua itu hanya mengambil tiket mengucapkan kalimat syahadat saja sudah boleh menonton wayang secara bebas. Tegas Muzamil Qomar.

Pendekatan tradisi dan kebudayaan menciptakan penyampaian ajaran Islam menjadi diterima secara fleksibel, lembut dan bersifat menghibur serta artistik karena diakui masyarakat sudah memiliki karakteristik berbudaya dan bertradisi.

Jejak ini membuktikan bahwa perkembangan Islam memiliki ritme yang mencair dan tidak kaku. Pendekatan tradisi dan kebudayaan menciptakan penyampaian ajaran Islam menjadi diterima secara fleksibel, lembut dan bersifat menghibur serta artistik karena diakui masyarakat sudah memiliki karakteristik berbudaya dan bertradisi. Sebagai agama baru, maka proses penyampaiannya butuh metamorfosis kognitif yang bersifat substansial daripada simbolik dan memaksa. Berbeda dengan pendekatan yang mengutamakan penyampaian aqidah hitam putih dan sering menjadi saling berbenturan dengan keyakinan asal masyarakat. Upaya ini menurut Muzammil Qomar bisa dilihat dari perbandingan sekulerisasi Kemal Attatruk Turki yang gagal karena meninggalkam tradisi dengan pemisahan agama dan negara. Dan barangkali tak pernah mencoba mendialogkan anchor (jangkar) tradisi dengan agama seperti Islam Indonesia

Berbeda dengan Jepang yang menempatkan tradisi sebagai penopang kebudayaan dan kemajuan. Tradisi menjadi jangkar (anchor) perubahan dan kemajuan Jepang. Tradisi mengikat masyarakat kedalam ketahanan dan mentalitas yang kokoh untuk tetap meneguhkan semangat juang dan kemajuan. Nah Indonesia, menurut Guru Besar IAIN Tulungagung, memiliki polarisasi perkembangan keislaman yang berakar pada tradisi. Penyampaian juga berusaha untuk tetap menjaga tradisi pada proses menyesuaikan perubahan termasuk penyampaian Islam sebagai agama yang datang kemudian.

Ruang Tengah Tradisi, Cara Menemukan Otentisitas Islam Nusantara yang Moderat

Beradasarkan realitas tersebut maka ulama atau para kyai kemudian melahirkan kata-kata bijak, al muhafadhotu ‘ala qodhim al-sholih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah. Di sinilah Islam Indonesia akan selalu mampu mermetamorfosis dengan perubahan karena tetap mampu menjadikan tradisi sebagai kekuatan dalam peradaban Islam Indonesia. Islam nusantara dengan demikian adalah metodologi yang disandarkan kepada proses etnografis. Suatu penyampaian Islam yang menghargai lokalitas dan mencari nilai-nilai atau siasat yang bisa didialogkan sehingga memiliki nilai-nilai yang bisa dipertemukan, lantas Islam mengambil kekuatan baru dari hasil-hasil dialog tersebut tanpa meninggalkan tradisi yang sudah dipraktikkan masyarakat setempat. Ketika nilai-nilai itu diterima, kesamaan keimanannya bertemu, maka simbolisasi keislaman dilekatkan kemudian berdasarkan pada tanda-tanda lokalitas juga. Suatu  contoh sederhana, slametan. Dialog nilai dibangun berdasarkan spirit slametan itu sebagai doa untuk sebuah hajatan. Maka pengakuan doa itu tetap dipelihara karena realitas doa adalah anchor yang sudah mapan dan dipraktikan dalam berbagai budaya setempat. Kepercayaan yang menjangkar tersebut sulit digeser.

Kosa kata Islam kemudian menjadi praktik-praktik berbahasa yang mudah dikenali dan dengan demikian dapat dikapitalisasi sebagai bagian dari pilihan berbahasa. Ketika bahasa tersebut kemudian mendapat kekuatan otoritatif, maka bahasa itu diperluas maknanya bagi masyarakat setempat sehingga akan mudah diterima.

Melalui perjumpaan nilai kepercayaan, Islam Indonesia mencoba menemukan substansi kepercayaan dan tradisi tersebut dipinjam sebagai media yang tetap mampu menghubungkan doa dengan nalar kemanusiaan penduduk setempat. Ketika momentum hubungan kemanusiaan tersebut mendapat tempat dalam praktik-praktik tradisi, maka pesan keislaman mencoba disertakan untuk membedakan dengan bahasa keyakinan masyarakat setempat tanpa menggeser secara langsung, tetapi dipersandingkan agar bahasanya lebih akrab. Islam kemudian menyumbangkan keragaman kosa-kata kepercayaan. Persandingan ini kemudian diperkuat dengan tetap menjadikan tradisi lokal sebagai wadahnya. Kosa kata ini kemudian menambah khazanah bahasa-bahasa lokal yang ketika mendapat momentum, maka perpindahan kosa-kata itu menjadi lebih dialogis. Kosa kata Islam kemudian menjadi praktik-praktik berbahasa yang mudah dikenali dan dengan demikian dapat dikapitalisasi sebagai bagian dari pilihan berbahasa. Ketika bahasa tersebut kemudian mendapat kekuatan otoritatif, maka bahasa itu diperluas maknanya bagi masyarakat setempat sehingga akan mudah diterima.

Inilah Islam nusantara menjadi salah satu pendekatan untuk memahami percaturan Islam Indonesia yang syarat dengan pendekatan-pendekatan antropologis, bukan pendekatan syar’i yang menutup formulasi dialog dengan tradisi setempat. Islam Nusantara tidak menyingkirkan lokalitas dengan serakah dan agresif tetapi memasukan ruang tengah dialektika kemasyarakatan. Adanya ruang tengah ini berarti menempatkan lokalitas sebagai sebuah subyek yang memiliki daya cipta dan pewarisan tradisi. Mereka terikat pada kebermaknaan atas praktik-praktik kepercayaan yang dipilih. Oleh karena itu ruang tengah tersebut dipahami sebagai bagian dari proses perjumpaan antara Islam sebagai agama pendatang dengan bahasa kepercayaan yang berbeda dengan lokalitas.

Ruang tengah kemudian dimanfaatkan untuk mendengar bahasa lokal dan memilah-milah bahasa Islam secara tepat untuk dipersandingkan agar supaya mampu menciptakan bahasa komunikasi yang lembut dan mencair dalam kepercayaan lokal yang lebih dulu mapan. Bahasa Islam itu seperti pasar yang ditransaksikan dalam relung mentalitas tradisi lokal. Lalu dibangunlah proses-proses otoritatif dari pada pendakwah, seperi para wali dan diperkaya oleh kiai NU. Ketika bahasa Islam yang selaras dengan makna dasar dari masyarakat setempat diperkokoh melalui otoritas dari figur-figur masyarakat, yang biasanya selalu dimiliki oleh para wali dan kiai maka bahasa itu direproduksi dengan praktik-praktik tradisi lokal sedemikian sehingga masyarakat tetap memiliki hak milik tradisi. Dengan begitu ruang tengah menjadi transaksi bahasa Islam yang lebih menghargai makna lokal sebagai hak milik dan bahasa Islam menjadi bagian dari proses evolusi kedalam mentalitas lokal. Tradisi kemudian tetap ditempatkan sebagai jangkar keislaman tetapi dengan transformasi pembaruan simbolisasi baru dengan penambahan kosa-kata keislaman.

Aspek-aspek budaya dan pengalaman hidup masyarakat terpadu menjadi pendekatan penyebaran Islam yang lebih inklusif. Penyebaran Islam dengan demikian lebih mengutamakan model-model dialogikalitas.

Islam nusantara dengan demikian tidak cukup mampu dipahami tanpa membangun sudut pandang multidisipliner karena pengalaman penyebaran Islam tidak dipungkiri memasuki persinggungan antara kepercayaan Islam dengan kepercayaan lokal. Selain itu, aspek-aspek budaya dan pengalaman hidup masyarakat terpadu menjadi pendekatan penyebaran Islam yang lebih inklusif. Penyebaran Islam dengan demikian lebih mengutamakan model-model dialogikalitas. Sebuah praktik komunikatif antara nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai lokal. Dialogikalitas ini memberikan ruang pengaruh yang lebih otoritatif karena dibangun berdasarkan kekuatan kesepahaman kemanusiaan daripada pemaksaan keimanan.

Islam menjadi konstruksi makna, bukan pada penerimaan yang bersifat doktriner. Artinya, ruang tengah yang melahirkan komunikasi budaya lebih tertuju pada kemampuan menempatkan kepercayaan Islam sebagai ekspresi yang ditaruhkan kepada budaya setempat sehingga pengakuan lokalitas adalah pengakuan harga diri masyarakat ketimbang menyerang dan menyingkirkan harga diri masyarakat lokal. Suatu contoh sebagaimana yang disampaikan oleh Muzamil Qomar, dalam tembang Lir-Ilir, Sunan Bonang tetap menempatkan ekspresi kesenian lokal sebagai harga diri kebudayaan sementara konten ekspresi tersebut digubah menjadi lebih bernilai keislaman. Bahkan lebih ekstrem, pelafalan bismillah dengan lidah jawa smillah pun dapat diterima dengan otoritatif oleh para salih dan wali serta kyai. Asalkan substansinya menuju pada keimanan Allah, penuturannya dengan logat lokal pun menjadi begitu diterima. Inilah penghargaan lokalitas menjadi dihargai secara manusiawi. Ya karena logat itu tidak bisa dipaksakan karena ekspresi bahasa tidak lain merupakan logat budaya yang sulit diubah seketika.

Kita bisa menqiaskan (membandingkan) lagu Rhoma Irama. Rhoma banyak menggubah lirik lagu India menjadi lagu dangdut dengan bahasa Indonesia sehingga irama India tersebut dijadikan sebagai ekspresi lagu sementara kontennya diisi dengan semangat-semangat keagamaan dengan bahasa keindonesiaan. Pembandingan ini yang saya sebut sebagai ruang tengah, bahwa ekspresi budaya tidak ditanggalkan tetapi diambil dan dimanfaat menjadi wadah bagi gubahan-gubahan konten sehingga makna dan ekspresi budaya tetap menyatu dalam gubahan bahasa baru.

ISLAM NUSANTARA SAYA SEBUT SEBAGAI RUANG TENGAH YANG MENGAPRESIASI EKSPRESI TRADISI. RUANG TENGAH ITU MENJADI TEMPAT DIALEKTIKA YANG SALING MENCERAHKAN. KETIKA SITUASI SALING TERBUKA, MAKA PESAN KEAGAMAAN DIMAINKAN DENGAN SANGAT INKLUSIF DAN MENGAMBIL SIMPATI LOKALITAS SEHINGGA KESAN YANG RAMAH TETAPI SUBSTANSIAL ITU MEMBAWA PERUBAHAN TERHADAP PROSES BERIMAN SESEORANG. ISLAM NUSANTARA MENJADI SEBUAH PENDEKATAN YANG MODERAT KARENA TIDAK MEMINGGIRKAN PENDUDUK LOKAL, TETAPI MENEMPATKAN PENDUDUK LOKAL YANG TELAH MEMILIKI TRADISI DAN KEBUDAYAAN YANG DIHARGAI. PESAN KEAGAMAAN KEMUDIAN DITEMPATKAN KEDALAM DIALOG KEMANUSIAAN DENGAN MAKNA YANG LEBIH EMPATIK TETAPI MUDAH DITERIMA DARIPADA DOGMATIK DAN AGRESIF.
TULISAN INI TELAH DIMUAT LEBIH DULU DI TASAMUH.ID DAN DIPOSTING ULANG DI KAMPUSDESA UNTUK PENAMBAHAN PENGETAHUAN WAWASAN KEISLAMAN DAN KEINDONESIAAN.