Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 61

Seksualitas Tanah Haram

0

Di sebuah tanah yang disucikan, kita membayangkan semua orang masuk dalam zona suci. Seperti saat berada di tanah haram, kehadiran kita selalu dipandu oleh keyakinan mengenai ketuhanan, keberagamaan dan spiritualitas. Apakah demikian halnya dengan Anda? Boleh jadi iya dan boleh jadi ada pengecualian. Perjalanan ke tanah haram ternyata juga membelalakkan mata saya tentang kisah-kisah tabu seks. Di sela-sela semangat penuh mendekatkan diri pada Tuhan, tersela sebuah kisah tentang seksualitas yang terekspresi dari interaksi dengan orang-orang di seputaran haramain dan kisah dibalik pengalaman seorang tenaga kerja Indonesia yang disekap oleh penjaga keamanan di sebuah mobil untuk pemuasan seksnya.

Kampusdesa.or.id – Seksualitas menjadi kebutuhan yang laten bagi manusia. Bahkan Sigmund Freud, bapak Psikoanalisis menempatkan dorongan seksual menjadi pusat pembentukan kepribadian manusia yang disebut libido. Porsi pembahasan seksualitas juga dikembangkan dalam narasi-narasi keagamaan. Bahkan yang sering disebut dalam pembahasan keagamaan tersebut masuk dalam narasi mesum, tetapi sangat dihindari untuk dibuka menjadi bagian dari kejujuran narasi besar. Narasi besar itu harus ditutup rapat agar kebesaran seksualitas tidak menjadi ancaman, apalagi ancaman kekuasaan, atau yoni keagamaan. Apakah sebenarnya memang seksualitas menjadi daya ungkit yang memorakporandakan kemapanan agama dan kekuasaan. Entahlah. Barangkali Sigmund Fruedlah yang merdeka menarik garis tegas bahwa libido adalah dorongan vital ekspresi kemanusiaan yang ditutupi atau terbuka.

Konon menjadi rahasia umum, kalau seorang perempuan yang sedang umroh atau haji, kemudian naik taksi, mereka perlu hati-hati. Para perempuan ini sebaiknya menghindari bepergian sendirian.

Saat berada di tanah haram, narasi seksualitas itu lirih-lirih saya dengarkan dari seorang yang lama tinggal di sana. Konon menjadi rahasia umum, kalau seorang perempuan yang sedang umroh atau haji, kemudian naik taksi, mereka perlu hati-hati. Para perempuan ini sebaiknya menghindari bepergian sendirian. Konon ada berita pernah ada seorang perempuan yang bepergian naik taksi kemudian hilang dan ditemukan terbunuh di sebuah padang pasir. Ada tips juga, kalau perempuan dan laki-laki naik taksi, maka yang masuk taksi lebih dulu harus laki-laki. Cara ini mengantisipasi bentuk kejahatan penculikan perempuan. Karena kalau yang masuk perempuan lebih dulu, sopirnya bisa menarik pedal gas dan melaju sehingga laki-lakinya tidak sempat masuk taksi. Jadi kalau mau naik taksi, maka laki-laki disarankan masuk dulu di mobil, baru menyusul perempuan sehingga peluang dilarikan kecil. Sebaliknya kalau keluar, perempuan lebih dulu dari laki-laki. Konon perempuan yang dilarikan itu akan diperkosa dan bahkan dihabisi nyawanya.

Kisah sumir lainnya, ada seorang teman laki-laki yang sudah tinggal lama di tanah haram, punya pengalaman diperlakukan sebsgai obyek seks oleh seorang petugas keamanan. Alkisah, dia waktu awal di Arab, tinggal bersama bibinya. Dia akan keluar untuk jalan-jalan. Bibinya mengingatkan agar tidak menyukur jenggot dan memakai parfum. Tapi saran itu diabaikan. Wajarlah kalau di Indonesia, ketika kita hendak keluar maka menjaga penampilan adalah bagian dari upaya meningkatkan daya tarik sosial. Namun, di Arab tidak sama dengan penampilan publik di sini. Daya tarik publik bisa menjadi daya tarik seksual (sexual appeal). Daya tarik seksual diartikan oleh mariam webster sebagai ketertarikan personal atau ketertarikan tubuh yang khusus mengarah pada kemenonjolan anggota seks. Secara lebih luas bisa tanda tubuh atau gaya tubuh yang secara seksual dilihat menimbulkan daya tarik (godaan birahi). Nah, laki-laki teman saya tadi bisa disebut penampilan mlipisnya (rapi) menimbulkan daya tarik seksual pada petugas sejumlah orang.

Daya tarik seksual ini telah memancing birahi seorang petugas keamanan. Saat dia di jalan, dia dipanggil oleh petugas yang sedang patroli. Agar dia mau menurut, dia dipanggil seolah sedang ada pelanggaran, entah surat menyuratnya sebagai imigran atau yang lainnya, pikirnya. Maka dia mendekat dan kemudian disuruh masuk mobil petugas. Apa yang terjadi kemudian? Dia tidak ditanya seputar surat menyurat, tetapi dia diminta untuk memuaskan birahi petugas.

Lah dalah. Petugas itu laki-laki dan dia juga laki-laki. Terjadilah adegan kilat seks ala sesama laki-laki. Teman saya tadi tidak bisa melawan karena memang dia dalam ancaman sebagai pendatang dan sebagai orang yang akan diadukan status dirinya ketika melawan. Krik, krik, krik, woles bro…. Tidak butuh waktu lama, ejakulasilah pelaku itu. Teman saya itu cekikan dan membuka rahasia yang hampir menjadi mitos. Orang arab itu anggapan kita besar-besar tubuhnya, termasuk alat kelaminnya. Sambil agak bergunjing, dia mengatakan, “haduh, ternyata mereka tidak tahan berereksi terlalu lama, alias segera mendapatkan ejakulasi.” Disebut dini atau tidak, ya tergantung kepada nilai kepuasannya. Realitas ini tentu menjadi fakta kasuistik. Tidak perlu dipikir secara generalis, fakta yang terjadi obyektif pada kasus yang lebih banyak.

Ada lagi kisah sarkasme seksual. Suatu kali, saya mengantar istri berbelanja di pusat perbelanjaan di haramain. Dia diajak berjabat tangan oleh pelayan dan bilang khoir-khoir. Agak kaget saya. Saya kira semua orang di haramain tidak boleh berjabat tangan, utamanya laki-laki dan perempuan. Sembari transaksi menawar harga yang cocok, terjadi komunikasi bahasa Indonesia dan sesekali bahasa Arab. Para penjaga ini memang super-aktif merayu calon pembeli. Bahkan terkesan memaksa. Pada suatu pembicaraan yang agak sensitif, penjaga ini bertanya pada istri saya, apakah masih gadis. Istri saya menjawab, wow sudah punya anak. Sembari bergurau dan melihat-lihat barang pilihan kami. Pada suatu kalimat, penjaga itu berseloroh, “kamu mau saya nikahi.” Bawa saja anak-anakmu ke sini. Tema ini muncul disela tawar menawar sehingga terkesan seperti guaruan. “Kamu cantik,” katanya. Si istri juga kurang menanggapi serius dan direspon bergurau juga. Yah, memang begitulah gayanya.

Seloroh si pelayan dilanjut, namun agak vulgar kali ini, “punya orang Arab itu besar-besar, punya orang Indonesia kecil,” pungkasnya dengan logat bahasa Indonesia yang kaku. Meski tidak terlalu ditanggapi, tetapi selorohan dalam bergurau tersebut implisit menunjukkan ekspresi seksual orang arab memiliki ruangnya sendiri. Bahkan ekspresi tersebut, kalau menurut kacamata psikoanalisis merupakan penampakan kebutuhan ego yang dirasionalkan melalui pilihan kata-kata tersebut, yang artinya pembaca tahu sendiri kan. Penis orang Arab lebih besar daripada orang Indonesia.

Melengkapi fenomena tentang ekspresi verbal seksual orang Arab pun saya dapati sendiri. Peristiwanya juga saat saya berbelanja dengan istri. Saya dihampiri pelayan toko. Saya juga bersama istri untuk melihat aneka kebutuhan belanja oleh-oleh. Saya dihampiri pelayan itu dan dirangkul dengan tanpa beban. Bahkan saya dikatakan seperri orang Arab. Hidungsaya dicomot-comot dan tangan saya dipegang sambil berkata ini dan itu. Saya berkesimpulan bahwa cara itu tidak lain dari upaya memikat pelanggan. Saya pun biasa. Saya menjadi tidak biasa dan kemudian agak risih ketika sudah mendapat cerita dari teman saya tadi yang pernah menjadi korban seorang petugas keamanan.

Saya risih bukan melampaui gaya pelayan yang SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) hanya untuk kepentingan memikat pelanggan. Saya risih karena pikiran saya sudah masuk dalam skema ekspresi seksual. Selain merangkul, memegangi hidung saya dan memegangi tangan saya, saya merasa menjadi obyek seksual ditengah-tengah relasi tawar menawar barang. Batangkali saya terlalu lebay berpikir kedalam ranah obyeks seksual. Pendekatan ini sepertinya wajar tetapi bagi saya yang Indonesia (terutama yang kurang familier) menjadi kurang nyaman. Padahal sebelum saya diceritai teman saya mengenai penyanderaan seksual oleh petugas keamanan laki-laki, saya biasa saja dirangkul dan dipegang-pegang tangan saya. Setelah cerita itu, saya kemudian menjadi tidak nyaman.

Bagi orang yang lebih terkendali oleh tatanan (super-ego), ekspresi seksual akan direpresi (ditekan) dan dapat diganti dengan model ekspresi yang lebih lazim.

Ekspresi seksual merupakan perilaku yang selalu muncul di mana saja saat stimulasi seksual hadir. Bagi orang yang lebih terkendali oleh tatanan (super-ego), ekspresi seksual akan direpresi (ditekan) dan dapat diganti dengan model ekspresi yang lebih lazim. Barangkali, ekspresi tersebut sebagaimana cerita saya di tempat perbelanjaan adalah ekspresi yang lazim di ruang publik, meski jika dilihat secara lebih privat, telah melanggar hak-hak seksual orang lain karena ada nuansa melecehkan tubuh. Namun, tatkala ditempatkan lebih tersembunyi, seperti contoh petugas keamanan tadi, menunjukkan bahwa ekspresi seksual orang Arab mengambil ruang di luar hegemoni atas nama klaim kemusliman.

Seksualitas Arab selalu berhadap-hadapan antara kebutuhan seksual dan represi kekuasaan untuk mengatur aneka kepentingan seksualitas yang pada akhirnya meminggirkan hak-hak seksualitas privat.

Jika menggunakan kacamata Shereen El Feki (terj. 2013), dalam sebuah buku, Seks dan Hijab, gairah dan intimitas di dunia Arab yang berubah, seksualitas Arab selalu berhadap-hadapan antara kebutuhan seksual dan represi kekuasaan untuk mengatur aneka kepentingan seksualitas yang pada akhirnya meminggirkan hak-hak seksualitas privat. Oleh karena itu, ekspresi-ekspresi yang saya ceritakan tadi tidak lain adalah kondisi berseberangan bagaimana seksualitas warga berusaha mencari ruang-ruang yang menguntungkan dan menjawab kebutuhan seksual yang terbatasi oleh kekuatan atasnama agama atau kekuasaan, bahkan batas-batas ekspresi seksualitas yang terlalu diatur, diseragamkan dan penuh pelarangan di sana-sini sampai pada wilayat privat akan menciptakan model pilihan seksual yang keluar dari norma yang ada.

Hal ini terjadi karena orang-orang sudah kelelahan menahan dorongan seksual dari berbagai aturan dan larangan, atau sebenarnya ekspresi seksual selalu ada momen yang bisa diperoleh oleh setiap orang. Bahkan, teman saya itu pun sempat bekerja di sebuah rumah yang mana seorang suaminya berprofesi sebagai penerbang sehingga jarang ke rumah. Tidak bisa dipungkiri, teman saya pun didekati oleh majikan perempuannya yang diduga akan mengarah ke hubungan seksual. Seksualitas membutuhkan ekpresinya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seksualitas Arab merupakan ekpresi yang tidak bisa terbantahkan, bahkan dia telah memasuki imperialisme pada pendatang. Kondisi ini mencerminkan kemungkinan bahwa patriakhi (berpusat pada lak-laki) Arab menjadikan seks sebagai bagian dari pembuktian dominasi kelelakian, baik dalam konteks hetero atau homo. Hal ini membuktikan ekspresi seksual melintasi normatifitas. Bahkan, jika normatifitas itu banyak mengekang seksualitas, justru seksualitas akan semakin menunjukkan kejujurannya mengambil ruang ekspresi, meskipun tersembunyi atau disembunyikan.

Ketika normatifitas terlalu banyak mengekang ekspresi seksual, aneka perlawanan atau ekspresi seksual biasanya berujung pada gaya perlawanan, ada yang tersembunyi ada yang terang-terangan, apakah dalam bentuk koersi, pelecehan dan imperialisme seksual pada jenis kelamin atau ras tertentu

Ketika normatifitas terlalu banyak mengekang ekspresi seksual, aneka perlawanan atau ekspresi seksual biasanya berujung pada gaya perlawanan, ada yang tersembunyi ada yang terang-terangan, apakah dalam bentuk koersi, pelecehan dan imperialisme seksual pada jenis kelamin atau ras tertentu. Atau sebaliknya, dia akan menjadi model perlawanan untuk mengambil inisiatif pembebasan. Nampaknya gejala perlawanan menuju pembebasan ini sudah dimulai dari wilayah yang lebih terbuka, yakni perempuan diperbolehkan mengemudi di Arab Saudi.

Perubahan kebijakan ini merefleksikan hadirnya perlawanan dan membuka lahirnya respon terhadap keterbukaan terhadap perempuan. Sebelum semua menjadi terbuka dalam kejujuran dan itu akan lebih mengguncang kekuasaan, maka memberi ruang kemerdekaan seksual sepertinya akan menjadi kekuatan baru bagi lahirnya demokratisasi seksual, ketimbang cerita-cerita saya tadi yang menjadikan ekpresi seksual lebih sebagai bentuk koersi (kekerasan), pelecehan atau imperialisme tubuh atas nama kepuasan seksual.

Ketika kemudian seksualitas berbicara atas nama kejujuran, sekali dia diangkat ke permukaan, dia akan menggunjang kemapanan.

Oleh karena itu, dalam konteks kebudayaan dan demokratisasi Arab, relasi seksual yang lebih memberi ruang bagi keterbukaan hubungan yang adil akan memberikan perubahan penting bagi khasanah seksualitas dalam kebudayaan yang syarat dengan kekuatan keagamaan. Shereen El Feki mengungkap aneka kebangkrutan praktik seksual akibat supremasi keagamaan menjadikan seksualitas dianggap sebagai ketabuan, bukan sebagai kejujuran meniscayakan kebudayaan yang bertumpu pada seksualitas hanya akan menjadi ancaman kemapanan, ketika realitas itu terbuka dengan sendirinya. Alasannya, karena kemapanan tersebut hanya akan melahirkan penindasan dan ketimpangan ekspresi seksual karena wicara seksualitas selalu dijinakkan atasnama norma atau kekuasaan. Ketika kemudian seksualitas berbicara atas nama kejujuran, sekali dia diangkat ke permukaan, dia akan menggunjang kemapanan. Contohnya tentang pelecehan seksual, sekali dia diwicarakan secara terbuka, maka sumber-sumber kemapanan akan terguncang. Begitu sebaliknya, ketika kebutuhan seksualitas diekspresikan sebagai dasar dari kepentingan manusia, diapun akan mengguncang lebih dahsyat pada kemapanan.

Ketika demokratisasi seksual berada dalam puncaknya tetapi selalu berseberapan dengan kekuasaan, dia biasanya akan berakhir pada tragedi atau keguncangan yang mengancam kemapanan.

Oleh karena itu, seksualitas semestinya tidak berada dalam posisi dihegemoni, dijinakkan atau ditabukan, jika hanya akan melahirkan perlawanan atas nama kebenaran dan kesucian. Ketika demokratisasi seksual berada dalam puncaknya tetapi selalu berseberapan dengan kekuasaan, dia biasanya akan berakhir pada tragedi atau keguncangan yang mengancam kemapanan. Memberi ruang demokratisasi seksual akan melahirkan suatu budaya baru bagaimana wicara dan ekpresi seksual akan lebih positif disalurkan dan akan memberikan ruang bagi kebudayaan seksual. Suatu contoh tentang Kamasutra, Serat Centini dan aneka kisah yang memberi ruang wicara seksual lebih terbuka, justru akan melahirkan berbagai citra kebudayaan yang lebih holistik.

Selain itu, proses demokratisasi seksual akan membuka ruang bagi perwujudan keadilan karena wicara seksual dapat dibangun secara seimbang. Berbeda jika seksualitas selalu dibungkus dalam aneka pentabuan, maka yang terjadi adalah ketidakadilan, pengekangan ekspresi seksual, dan ujung-ujungnya melahirkan model ketimpangan kemanusiaan, seperti penundukkan, pengorbanan dan pendisiplinan terhadap jenis kelamin tertentu (perempuan) demi untuk melanggengkan otoritas jenis kelamin yang lain (laki-laki).

Kemeriahan Suasana Bimtek Literasi di Jakarta

0

Kampus Desa, Jakarta (8-14 April 2019) – Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Hotel Grand Cempaka, Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, pada tanggal 8-14 April 2019 berlangsung seru dan meriah. Sejumlah 120 orang guru, penyuluh Bahasa Indonesia, serta penggiat literasi dari berbagai komunitas dari 34 provinsi di Indonesia terlihat bersemangat hingga hari terakhir. Mereka tetap setia mengikuti kegiatan hingga usai.

Keberanekaragaman Peserta

Berbagai instansi dan komunitas literasi yang terpilih mengikuti ini berasal dari berbagai penjuru negeri. Sebutlah mulai dari Aceh (SMAN 1 Takengon, Literasi Aceh, Balai Bahasa Aceh), Sumatra Utara (SMAN 7 Binjai, TBM Ridha, Balai Bahasa Sumatra Utara), Sumatra Barat (SMPN 2 Panti, Ruang Baca dan Kreativitas Tanah Ombak, Balai Bahasa Sumatra Barat), Sumatra Selatan (Komunitas Moma Kumbang, MA Ar-Riyadh Palembang,  Balai Bahasa Sumatra Selatan), Bangka Belitung (SDN 1 Pangkalpinang, Dewan Kesenian Belitung, Kantor Bahasa Bangka Belitung), Bengkulu (SMPN 3 Kabawetan, Komunitas Ayo Menulis Bengkulu, Kantor Bahasa Bengkulu), Riau (SMPN 8 Pekanbaru, Forum Lingkar Pena Wilayah Riau, Balai Bahasa Riau), Kepulauan Riau (SDN Nomor 011 Candi, Forum Literasi Kundur, FTBM Kepulauan Riau), Jambi (Komunitas Sembah Jambi, SMPN 26 Muarojambi, Kantor Bahasa Jambi), Lampung (Komunitas Tanggamus Membaca, SMPN 1 Sekampung Udik, Kantor Bahasa Lampung), DKI Jakarta (SMKN 51 Jakarta, SMKN 27 Jakarta, SMKN 30 Jakarta, SMAN 12 Jakarta, SMPN 231 Jakarta, SMAN 97 Jakarta, SMPN 205 Jakarta, SMPN 16 Jakarta, SMAN 3 Jakarta, SMAN 99 Jakarta, Forum Penulis Bacaan Anak, TBM Kampung Buku, Yayasan Pustaka Kelana, Rumah Baca Zhaffa, Rumah Baca Cahaya Ilmu, Taman Literasi Jaringan Anak, TBM Deni Rumah Baca, Taman Bacaan Anak Cerah, Fun Garden of Literacy, Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra), Banten (SMP Al Irsyad Banten, LP2T Rumah Pena, TBM Kedai Proses), Jawa Barat (SMKN 1 Cianjur, Komunitas Ngejah Garut, Balai Bahasa Jawa Barat), Jawa Tengah (MA Salafiyah, Bumiayu Creative City Forum atau BCCF, Balai Bahasa Jawa Tengah), Jawa Timur (SDN 2 Girimoyo, SMPN 1 Klabang, Sanggar Baca Lesanpura atau Sabaro), Daerah Istimewa Yogyakarta (MTS Negeri 9 Bantul, Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga, Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta), Bali (SMAN Bali Mandara, Desa Belajar, Balai Bahasa Bali), Kalimantan Utara (SDN 009 Tarakan, SMAN 1 Tarakan, TBM Baloy Aksara), Kalimantan Tengah (MIN 1 Palangka Raya, Rumah Baca Bahijau, Balai Bahasa Kalimantan Tengah), Kalimantan Timur (SMKN 11 Samarinda, Muda Mengajar, Kantor Bahasa Kalimantan Timur), Kalimantan Barat (SMAN 9 Pontianak, Balai Bahasa Kalimantan Barat, Klub Menulis Pena Merah), Kalimantan Selatan (SPK SMAN Banua, Forum Lingkar Pena Cabang Banjarbaru, Balai Bahasa Kalimantan Selatan), Sulawesi Utara (SMKN 7 Manado, Perkumpulan Literasi Sulawesi Utara, Balai Bahasa Sulawesi Utara), Sulawesi Barat (SMKN 1 Poliwali, Pustaka Anak Negeri, Forum Lingkar Pena Cabang Sulawesi Barat), Sulawesi Tengah (SD Inpres 1 Gio, TBM Sikola Pamore, Balai Bahasa Sulawesi Tengah), Sulawesi Tenggara (SDN 49 Kendari, Rumah Buku Firza, Lembaga Penelitian Pengembangan Pendidikan dan Sosial Kendari), Sulawesi Selatan (Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan, SMP Plus Al Ashri, SMAN 11 Pinrang), Gorontalo (SMAN 3 Gorontalo, Klub Penulis Spektakuler Gorontalo, Kantor Bahasa Gorontalo), Nusa Tenggara Timur (SMK Negeri Kokar, SMA Kristen Citra Bangsa, Agupena Cabang Flores Timur), Nusa Tenggara Barat (SDN 21 Ampenan, Sanggar Bale Anak Desa atau BalenAde, Kantor Bahasa Nusa Tenggara Barat), Maluku (SMPIT As Salam Ambon, Rumah Baca Suru, Kantor Bahasa Maluku), Maluku Utara (SMAN 4 Kota Ternate, Komunitas Baca NBCL, Komunitas Baca Halsel), hingga Papua (SMAN 3 Jayapura, SMAN 1 Jayapura, TBM Sekolah Menulis Papua), dan Papua Barat (Motor Noken Pustaka, Inisiatif Literasi Buku untuk Papua, Kemitraan Unimuda Sorong-UNICEF).

Terlebih lagi para pakar telah menyampaikan berbagai materi yang kiwari dan komprehensif, seperti Prof Dr Dadang Sunendar Mhum, Prof Dr Marsudi Wahyu Kisworo, Dr Hurip Danu Ismadi MPd, Prof Emi Emilia Med PhD, Habiburrahman El Shirazy, Drs Krisanjaya Mhum, Melvi, Dr Firman Hadiansyah Mhum, Bambang Trimansyah SS, Gol A Gong, Dr Tengku Syarfina Mhum, Retno Utami MHum, Billy Antoro SPd, Wien Muldian. Narasumber inti, yakni Prof Dr Muhadjir Effendy MAP, menyampaikan materi tentang Kebijakan GLN Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Diversifikasi Materi

Adapun materi lain yang disampaikan narasumber, yakni: Upaya Pembinaan Bahasa melalui Pembudayaan Literasi Baca-Tulis dan Bernalar Aras Tinggi (BAT), Pemanfaatan Literasi Siber/Multimedia dalam Literasi Baca-Tulis, Hubungan Literasi Baca-Tulis dengan Kemampuan Bernalar Aras Tinggi (BAT) STEM dan 4K, Pemahaman Berbagai Jenis Teks dalam Pembelajaran Literasi Baca-Tulis, Proses Kreatif Menulis Karya Inspiratif, Metodologi Pengajaran Literasi Baca-Tulis, Gerakan Literasi Masyarakat dan Cara Pengelolaan Komunitas Literasi, Menciptakan Kreasi dan Inovasi Literasi Baca-Tulis di Masyarakat, Jenis Strategi dan Teknik Membaca, Praktik Membaca berbagai Jenis Teks, Meringkas Menulis Ulang Menceritakan Kembali Mengonversi dan Merekonstruksi Teks, Praktik Meringkas Menulis Ulang Menceritakan Kembali Mengonversi dan Merekonstruksi Teks yang Telah Dibaca, Teknik Menangkap Ide dan Menulis Kreatif berbagai Jenis Teks Bacaan, Teknik Swasunting, Praktik Menyunting, Praktik Menulis Kreatif, Praktik Baik Berliterasi Baca-Tulis. Jumlah total proses pembelajaran mencapai 67 jam.

Beragamnya presentasi yang disajikan para peserta di depan dewan juri benar-benar memerkaya pengetahuan dan pengalaman peserta lainnya. Sebut saja Syamsurizal, penyuluh literasi dari Kantor Bahasa Bengkulu. Ia menyampaikan presentasi berjudul “Menanamkan Nilai-nilai Kearifan Lokal pada Anak melalui Literasi Membaca Menulis”.  Difa Stefanie, pegiat literasi dari Yayasan Pustaka Kelana, Rawamangun, Jakarta Timur, menguraikan tentang menulis itu menyenangkan. Sementara salah satu penggiat literasi dari Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan, dr Dito Anurogo MSc, menyampaikan presentasinya tentang Dokter Literasi Digital, dengan sub topik Melalui Opini, Menyehatkan Negeri. Dosen Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah (FKIK Unismuh) Makassar itu menyemarakkan suasana malam dengan tembang Macapat “Pangkur” dan olahraga otak berupa senam jari.

Para peserta terlihat bahagia dan ceria. Meskipun saat penilaian ada kelompok yang selesai melakukan presentasi hingga dini hari, namun tidak mengurangi semangat mereka. Jeda waktu istirahat digunakan para peserta untuk beribadah, melakukan dialog, menikmati kudapan, curah pendapat dan pikiran, swafoto, berkenalan, bersinergi, berkolaborasi, dan bertukar informasi tentang literasi dengan sesama peserta. Uniknya, beberapa peserta menawarkan buku hasil karya mereka dan kalung mutiara. Usai acara, ada yang masih intensif berdialektika dan mengobrol santai di pinggir kolam renang hingga larut malam.

Dadakan sehingga Ketagihan

Menariknya, “ujian” yang sering dilakukan secara mendadak membuat peserta menjadi “ketagihan”. Maksudnya, para peserta menjadi lebih bersemangat di dalam menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Terlebih lagi, ada beberapa cenderamata khas dari Gol A Gong sebagai stimulus. Beberapa menit tantangan membuat puisi kontemporer, pantun nasihat, dan Haiku usai dibacakan, seorang peserta langsung memberikan kertasnya kepada panitia. Ia berhasil mendapatkan topi merah dari Singapura sebagai hadiahnya.

Tanggapan

Tanggapan dan komentar positif bermunculan dari kegiatan ini. “Acara ini sangat bagus digelar untuk memberikan pembekalan standar di ranah literasi baca-tulis bagi penggiat literasi (sekolah, masyarakat, penyuluh bahasa) untuk berkiprah di daerah masing-masing. Namun menurut saya, yang lebih penting dari kegiatan pemberian materi itu adalah terjalinnya jejaring literasi di antara peserta dan munculnya kolaborasi kegiatan sekembali di daerah masing-masing. Acara Bimtek lebih kepada wadah para penggiat literasi untuk berinteraksi dan menetapkan kerja-kerja bersama yang akan dilakukan untuk membangun daerah. Langkah awalnya adalah melalui kegiatan bersama antara penggiat dan Balai Bahasa. Di ranah sekolah, kami berharap para penggiat literasi juga menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan pemangku literasi lain, seperti: Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota, dan warga sekolah. Kolaborasi beragam pemangku literasi ini akan semakin menguatkan Gerakan Literasi Sekolah,” ucap Billy Antoro, Sekretaris Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah Kemendikbud.

Lain halnya dengan Erni Wardhani MPd, guru bahasa Indonesia dari SMKN 1 Cianjur. Ia mengatakan, “Bimtek literasi penting sekali diadakan. Apalagi kalau yang menjadi peserta kemarin, seluruhnya dapat menindaklanjuti kegiatan. Jadi jangan terputus oleh 30 orang yang terpilih. Kalau perlu diadakan lagi semacam penggojlokan sehingga pada saat terjun ke masyarakat, kita benar-benar sudah siap dan mampu menjadi perwakilan yang memang dibutuhkan. Literasi bukan hanya sekadar kita mampu membuat karya, akan tetapi bagaimana kita mampu menyebarluaskan ilmu kepada orang banyak sehingga orang lain pun tidak hanya sebagai penikmat, akan tetapi mampu menjadi pelaku. Dengan ini, kita bersama masyarakat sudah berada di tingkatan bernalar aras tinggi.”

Seorang penulis 30 novel, Asri Rakhmawati, mengatakan bahwa Bimtek Literasi Baca Tulis membangun persepsi baru dalam gerakan literasi di masyarakat. Selanjutnya, pegiat literasi TBM Rumah Pena, Banten yang juga dikenal dengan sebutan Achi TM ini mengakui banyak ilmu yang ia dapatkan dari para narasumber dan mentor yang luar biasa.

“Kegiatan ini begitu inspiratif, penuh pembelajaran, meningkatkan kompetensi personal demi meningkatkan kualitas literasi pemuda zaman milenial. Pemahaman terkait literasi menjadikan kita memahami proses penciptaan dan pemaknaan sebuah pembelajaran,” ujar Rahmad Azazi Rhomantoro, pegiat di Muda Mengajar.

Senada dengan Rahmad, Gunawan berkomentar, “Kegiatan ini sangat baik, karena mampu menghimpun penggiat literasi dari seluruh Indonesia.” Guru SMA Negeri 9 Pontianak ini yakin melalui kegiatan ini, penggiat literasi semakin bersemangat di dalam menumbuhkembangkan kegiatan literasi di tempat masing-masing.

Manfaat Bimtek Literasi ini juga dirasakan oleh Kurniasari. Guru SMK Negeri 51 Jakarta itu mengakui kalau kegiatan Bimtek Instruktur Literasi Nasional 2019 merupakan kegiatan yang menambah wawasan, ilmu pengetahuan, dan berbagi pengalaman. “Selain menambah teman dari berbagai daerah, juga memotivasi kami untuk terus berjuang memajukan literasi di Indonesia,” tuturnya kalem

Puasa Itu Membangun Empati, Bukan Melakukan Persekusi

0

Puasa sesungguhnya adalah sebuah ibadah di dalam Islam yang justru hendak menumbuhkan karakter kepribadian mulia dalam diri pelakunya. Dengan puasa, seseorang akan menginsafi kesadaran agamannya dalam bingkai kasih sayang kepada sesama manusia. Puasa semestinya membuat kita menjadi pribadi yang penuh cinta, bukan malah menjadi alasan untuk melakukan tindakan-tindakan intimidatif.

KampusDesa–Ramadhan tidak hanya menghadirkan kekhusyukan, tapi juga keriuhan. Keriuhannya membuat Ramadhan laksana sebuah perayaan. Spanduk terpajang di sudut-sudut jalan, di gang-gang kampung, dan di tempat-tempat strategis lain. Rasanya, bulan Ramadhan kurang sempurna tanpa dimeriahkan dengan umbul-umbul dan spanduk-spanduk. Desainnya berbeda-beda, tapi isinya selalu sama: menuntut orang lain untuk menghormati orang yang sedang berpuasa.

Sampai di sini, tidak ada masalah apapun. Masalahnya baru muncul ketika spanduk-spanduk itu berubah menjadi instrumen intimidatif, yaitu ketika bunyi spanduk itu dibarengi dengan tindakan-tindakan persekusi di lapangan. Misalnya, karena menghormati orang berpuasa dipahami sebagai tidak adanya warung makan yang buka di siang hari, maka semua orang harus menutup warungnya. Orang yang membuka warung makan di sing hari dianggap tidak menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Melawan aksi penutupan paksa warung dianggap sebagai melawan umat Islam, dan karenanya, melecehkan Islam. Jadilah aksi tutup paksa warung makan, kios rokok, tempat hiburan, dsb. menjadi salah satu fenomena lumrah di bulan Ramadhan.

Puasa adalah pendidikan kesabaran.

Puasa sesungguhnya adalah sebuah ibadah di dalam Islam yang justru hendak menumbuhkan karakter kepribadian mulia dalam diri pelakunya. Puasa adalah pendidikan kesabaran. Selama bulan Ramadhan, umat Islam dilarang melakukan aktivitas yang pada hari biasa sepenuhnya diperbolehkan, misalnya, makan, minum dan bercinta dengan pasangan sahnya. Larangan ini bertujuan untuk membentuk pribadi yang mulia. Dengan puasa, manusia dididik bahwa dalam hidup kita tidak cukup hanya melakukan hal-hal yang selama ini dinyatakan boleh, tapi juga perlu menekan egoisme untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Salah satu kebaikan yang lebih besar di atas diri individu adalah kebaikan sosial.

Puasa adalah salah satu ibadah di dalam Islam dengan pesan sosial sangat kuat. Puasa melatih seseorang untuk menumbuhkan empati kepada orang lain, terutama kelompok lemah (mustadh’afin), dengan cara menunda menikmati kenikmatan yang pada dasarnya halal untuk dinikmati. Sikap empati adalah salah satu kemampuan penting dalam membangun kohesi sosial. Empati adalah kemampuan seseorang tidak hanya memahami perasaan orang lain, tapi menghubungkan dirinya dengan diri orang lain. Orang yang memiliki empati tidak hanya memiliki kesanggupan merasakan penderitaan orang lain, namun juga memiliki kualitas jiwa yang selalu memancarkan cinta kasih dan tindakan untuk berbagi.

Orang yang berpuasa semestinya mampu mengasah jiwanya sehingga dengan tulus mengulurkan tangannya untuk mengangkat beban orang lain, menghapus air mata mereka yang dilanda kesedihan, dan memberi ketenangan pada mereka yang ketakutan. Dengan puasa, seseorang akan menginsafi kesadaran agamannya dalam bingkai kasih sayang kepada sesama manusia.

Ketaqwaan adalah parameter bagi Allah untuk mengukur kemuliaan manusia.

Sebegitu pentingnya puasa bagi umat Islam, hingga Allah mengaitkan perintah puasa dengan ketaqwaan. Ketaqwaan adalah parameter bagi Allah untuk mengukur kemuliaan manusia. Ketaqwaan dan kasih sayang ibarat dua sisi dari satu mata uang. Islam tidak pernah memerintahkan ibadah kepada pemeluknya untuk pada akhirnya melahirkan kerusakan. Islam pada dasarnya adalah agama cinta. Dalam sebuah hadits, tegas sekali dinyatakan, “Orang-orang yang penyayang akan disayang Allah (Ar-Rahman). Karena itu, sayangilah penduduk bumi, niscaya (Allah) yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.”

Puasa tidak cukup hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga harus menahan dari sikap yang merendahkan orang lain.

Apakah puasa bisa gagal? Nabi pernah mengingatkan kepada umat Islam bahwa puasa yang punya kapasitas untuk melentingkan seseorang kepada kualitas jiwa yang sedemikian agung itu bisa tidak berarti apa-apa jika orang tersebut tidak sanggup masuk ke kedalaman hikmahnya. Sekalipun berpuasa, seseorang bisa tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa haus dan lapar, sebuah rasa jasmani yang bisa dialami siapa saja asalkan tidak makan dan minum, jika dia meliarkan kesombongan dan keangkuhannya. Oleh karena itu, puasa tidak cukup hanya menahan diri dari makan dan minum, namun juga harus menahan dari sikap yang merendahkan orang lain, perkataan yang culas dan menyakitkan, serta berbagai tindakan yang menebar ketakutan dan kerusakan.

Jelaslah bahwa puasa bisa luput untuk mencapai ketaqwaan jika seseorang tak sanggup membangun kualitas cinta dan kasih sayang dalam dirinya. Puasa semestinya membuat kita menjadi pribadi yang penuh cinta, bukan malah menjadi alasan untuk melakukan tindakan-tindakan intimidatif.

EDITOR : FAATIHATUL GHAYBIYYAH

Perbanyak Membaca Surat Al-Ashr di Era Transisi

0

Kampus Desa–Lama saya tidak memahami mengapa setiap akhir sekolah di madrasah atau mengaji selalu diminta untuk membaca surat al-Ashr bersama-sama. Sampai suatu saat saya memberanikan diri bertanya kepada ustadz saya. Di bawah ini saya sarikan jawaban ustadz saya tersebut.

Menurutnya, setiap huruf dalam al-Qur’an memiliki keajaiban ketuhanan. Setiap huruf dalam al-Qur’an memiliki kekuatan positif yang memberi pengaruh baik kepada orang yang membacanya. Tahu artinya atau tidak, membaca al-Qur’an akan memberi kebaikan kepada pembaca maupun pendengarnya. Hati akan damai dan segala urusan menjadi lancar.

Waktu transisi ini disebut chaos (kacau) yang dilawankan dengan cosmos (teratur). Semuanya serba abu-abu. Itulah mengapa, masa transisi selalu berada kerawanan.

Kandungan surat al-Ashr adalah semacam panduan saat kita menghadapi masa transisi atau masa peralihan. Masa transisi adalah masa in between (antara), ketika alam sedang tidak berada pada kepastian tatanannya. Waktu transisi ini disebut chaos (kacau) yang dilawankan dengan cosmos (teratur). Semuanya serba abu-abu. Itulah mengapa, masa transisi selalu berada kerawanan.

Masa transisi itu seperti waktu ashar, waktu peralihan dari siang ke malam. Orang Jawa menyebut waktu ashar ini dengan istilah “sande ala” (mendekati bahaya) atau risky menurut orang Inggris. Mengapa disebut sande’ ala? Waktu ashar adalah waktu remang-remang, saat orang merasa belum perlu menyalakan lampu karena belum datang gelapnya malam, tapi juga segalanya terasa buram karena cahaya matahari tidak cukup menerangi semesta.

Di waktu transisi ini, semua orang berada dalam situasi “dekat bahaya”, kecuali dua orang, yaitu orang yang teguh memegang keimanannya dan orang yang sanggup menjalankan perilaku baik. Orang yang teguh memegang keimanannya akan sanggup melampaui era transisi dengan baik. Namun, keimanan saja tidak cukup, manusia perlu mewujudkan keimanannya dalam perilaku baik kepada sesama. Inilah rumusan kebaikan yang biasa disebut dengan istilah keseimbangan antara hablum minallah dan hablum minannas.

Tapi rumus kebaikan itu sangat sulit dijalankan di era transisi. Orang mungkin merasa sudah teguh memegang iman, tapi mudah terpeleset menjadi penuhanan dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, kepentingannya sendiri. Orang juga mungkin sudah merasa melakukan kebaikan, tapi ternyata malah menebar kebencian, kerusakan dan kehancuran kepada umat manusia.

Mengapa bisa seperti ini? Jawabannya karena di masa transisi segala panduan sedang berada dalam keguncangan, termasuk panduan baik-buruk. Karena itu, di masa transisi, kita memerlukan kawan (jama’ah) agar saat tersesat ada yang mengingatkan. Kita memerlukan kawan yang selalu mengingatkan kita akan hakekat kebaikan dan kesabaran.

Kita memerlukan kawan yang selalu menyuarakan kebenaran, tidak lelah menasehati kita, bahwa kebaikan itu adalah keseimbangan hubungan vertikal dan horisontal. Kebaikan bukan hanya klaim di mulut, tapi juga harus dilakukan. Ukuran kebaikan adalah ketika orang-orang di sekitar kita merasa nyaman karena sebaran cinta kasih kita.

Tentu saja, di era transisi, saat segalanya terasa melelahkan, kesabaran seringkali kehilangan tempat di hati kita. Emosi cepat meruak, kemarahan mudah sekali menghambur ke luar. Saat-saat seperti ini, kehadiran kawan yang selalu menasehati kesabaran adalah faktor penting untuk mengarungi era transisi dengan selamat.

Penjelasan ustadz yang sangat saya hormati itu ditutup dengan wasiatnya agar memperbanyak membaca surat al-Ashr di masa transisi, seperti masa yang sedang kita hadapi saat ini. Tentu saja saya tahu bahwa ustadz saya tidak hanya menyuruh saya untuk membaca surat al-Ashr, sebagaimana ketika banyak kiai yang menjelaskan keutamaan membaca surah Yasin tak perlu dipahami bahwa kita hanya perlu membaca surat Yasin.

Tulisan ini sebelumnya dimuat di islami.co

Melanjutkan Asa dan Perjuangan Kartini

0

Peringatan hari Kartini merupakan bentuk ekspresi atas apresiasi dan kekaguman kita pada tokoh emansiapasi ini. Namun, sayangnya kita masih berhenti pada seremonial belaka. Banyak hal-hal substansial yang justru terlupa. Bagaimana semestinya?

Kampus Desa — Menyambut hari Kartini, kita selalu disuguhkan berbagai perayaan yang menakjubkan. Perayaan hari lahir tokoh emansipasi perempuan Indonesia ini dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Tidak hanya terbatas pada lembaga pendidikan, bahkan di tingkat masyarakat bawah pun tak mau kalah. Intinya, semua gegap gempita, berbahagia, bangga, haru, dan hormat atas perjuangan tokoh asal Jepara ini.

Namun, apakah cukup hanya begitu kita memperingati hari Kartini? Hanya seremonial dengan mengenakan kebaya, melakukan pawai, dan semacamnya? Apa yang sesungguhnya lebih esensial dan urgent dari peringatan hari Kartini? Terutama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara?

Apa yang selama ini kita lakukan setiap memperingati hari Kartini memang patut diapresiasi. Masyarakat, terutama kaum perempuan, begitu antusias menyambut hari istimewa ini. Semua pasti mengagumi sosok Kartini.

Namun sayangnya, peringatan hari Kartini masih berhenti pada upacara seremonial saja sebagaimana peringatan-peringatan hari besar lain yang kita lakukan. Kita masih saja berkutat pada level kulit. Belum menyentuh isi.

Jika kita renungkan sejenak, ada banyak substansi dari peringatan hari Kartini yang kerap kali kita lewatkan, salah satunya adalah semangat Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan dan keadilan.

Perempuan menjadi objek ketidakadilan, hak-haknya dikebiri, termarjinalkan, dan kedudukannya seperti barang

Zaman dimana Kartini hidup, perempuan diperlakukan tidak jauh beda dengan nasib perempuan di era pra Islam. Perempuan menjadi objek ketidakadilan, hak-haknya dikebiri, termarjinalkan, dan kedudukannya seperti barang.

Ketidakadilan inilah yang hendak didobrak oleh Kartini. Sebagai anak bangsawan, ia justru tak tertarik dengan glamornya kehidupan aristokrat. Alih-alih, ia justru prihatin dengan nasib rakyat yang kala itu menjadi korban biadabnya kolonialisme dan imperialisme. Terutama kaum perempuan.

Para penjajah waktu itu, bisa begitu leluasa menindas kaum perempuan pribumi. Berbalik 360 derajat dengan kemanusiaan yang mereka gaungkan di negeri asal mereka, Eropa.

Kesetaraan dan keadilan kian menjadi barang mahal di negeri ini. Padahal ia merupakan satu di antara tujuan utama berdirinya republik ini.

Semangat perjuangan ini yang masih absen dari kita. Kesetaraan dan keadilan kian menjadi barang mahal di negeri ini. Padahal ia merupakan satu di antara tujuan utama berdirinya republik ini. Bahkan, keduanya juga merupakan landasan atau dasar negara ini (baca sila kedua dan kelima Pancasila).

Berbagai ketimpangan dalam penegakan hukum yang sering kita saksikan di media massa, semakin memperkuat adagium hukum kita tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Penegakan hukum atas mereka juga terkesan sedemikian alot, rumit, dan berbelit-belit

Elit-elit politik yang korupsi milyaran masih dapat tersenyum manis dan say hello dengan bangganya kepada publik. Seolah apa yang dilakukannya bukanlah dosa. Penegakan hukum atas mereka juga terkesan sedemikian alot, rumit, dan berbeli-belit.Sementara jika rakyat kecil yang melakukan pelanggaran hukum, aparat begitu sigap dan tegas menindak.

Tidak hanya dalam hal penegakan hukum, dalam pergaulan sosial pun kita semakin menjauh dari semangat Kartini. Kentalnya politik identitas akhir-akhir ini semakin memupuk semangat ke-aku-an setiap orang. Pengistimewaan diri dan golongan semakin tampak dan marak.

Akibatnya, sekat-sekat antar etnis, suku, kelompok, agama, bahkan individu semakin menebal. Dampak nyatanya, kecurigaan tak berdasar mudah tersulut oleh isu-isu sensitif yang kerap dihembuskan pihak-pihak yang tak bertanggungjawab.

Dampak lainnya, semakin brutalnya masyarakat hina menghina satu sama lain. Apabila ada yang berbeda pendapat, mereka tak segan menghujat. Seolah yang benar hanyalah kelompok mereka sendiri. Yang lain yang berda dianggap salah, bahkan musuh.Toleransi kita kian menipis. Kesadaran akan pluralitas dalam kehidupan pun kian memudar dan meluruh.

Akhirnya, memperingati hari Kartini bukan semata tentang seberapa kagum kita pada sosok Kartini. Tapi, lebih pada seberapa jauh kita mampu meneruskan perjuangan Kartini dalam menegakkan kesetaraan dan keadilan di bumi pertiwi ini. Wallahu alam.

Mengapa Saya Tidak Golput

0

Besuk sudah coblosan. Malam ini yakinkan bahwa hak Anda adalah jawaban memilih atau tidak. Tapi, kalau ada kriteria yang lebih cocok meski belum idealis, berarti sudah mulai naksir. Jika sudah ada yang ditaksir, hak seorang untuk mengungkapkan rasa cinta, atau ya setidaknya bersimpat untuk mendekatinya. Jika demikian, mengapa tidak sebaiknya menjoblos kalau sudah bisa naksir?

KampusDesa–Bagi saya, memilih dalam Pemilu seperti memilih perempuan untuk dinikahi (maaf, contohnya tentang perempuan karena saya laki-laki hetero).

Menikah dan dengan siapa kita menikah itu harus dengan kebebasan. Menikah atau tidak itu adalah hak. Dan yang lebih penting, tidak dipaksa untuk menikahi perempuan yang disodorkan secara paksa ke kita.

Ada org yang menikah karena dijodohkan paksa. Sekalipun tidak bebas menentukan, mungkin saja mereka hidup bahagia karena ternyata pasangannya adalah org baik. Namun, bisa saja mereka tidak bahagia karena pasangannya tidak sesuai harapan.

Bagi orang seperti saya, saya memerlukan kebebasan dalam menentukan pasangan. Mengapa kita perlu bebas dalam memilih? Jawabannya adalah karena setiap pilihan dituntut tanggung jawab. Tanggung jawab hanya ada jika kita bebas dalam mengambil keputusan.
Memilih dalam pemilu adalah hak, maka kita bebas untuk mengambilnya atau tidak. Kalau memilih itu kewajiban, maka itu berarti pemaksaan. Saya akan melawan

Memilih dalam pemilu adalah hak. Karena hak, maka kita bebas untuk mengambilnya atau tidak. Kalau memilih itu kewajiban, maka itu berarti pemaksaan. Saya akan melawan karena, seperti dalam urusan pernikahan, saya tidak mau dipaksa menikah.

Kandidat yang saya pilih haruslah orang yang saya kehendaki. Mereka bukan orang-orang yang dipaksakan oleh sistem politik yang tidak demokratis. Harus ada sistem yang memungkinkan siapa saja yang memenuhi syarat bisa mengajukan dirinya menjadi kandidat.

Jika dua syarat di atas terpenuhi, saya akan memilih. Seperti dalam keputusan menikah, saya memutuskan menikah karena saya memang membuat keputusan untuk menikah.
Bersiap mencoblos. Sudahkah dipertimbangkan secara rasional ?

Jika dua syarat di atas terpenuhi, saya akan memilih. Seperti dalam keputusan menikah, saya memutuskan menikah karena saya memang membuat keputusan untuk menikah. Tidak dipaksa.

Saya akan menentukan perempuan terbaik untuk menjadi pasangan hidup saya. Saya tak mencari bidadari. Saya tahu dia punya kelemahan, seperi saya juga.

Jika ada yang tidak mau menikah ketika situasi seperti di atas, mungkin dia memutuskan untuk selibat. Bagi yang memutuskan selibat, saya menghormatinya. Tak perlu lagi penjelasan, karena memang selibat kok.[]

Sidoarjo, 15 Aprl 2019

APFSD Youth 2019: Bagaimana Kami Mulai Untuk Mengubah Dunia

0

Pemuda sebagai pemimpin garda terdepan perlu dipersiapkan, dilatih, dan diasah sedini mungkin. Di Asian Pacific Forum for Sustainable Development (APFSD) Youth 2019 ini, kami mulai ikut mengambil peran dalam perubahan. Acara ini didukung oleh banyak organisasi sosial seperti ARROW, Right Here Right Now, Youth Lead, YPEER, dan AP-RCEM serta difasilitasi oleh UNESCAP.

Banyak yang perlu diperbaiki dari dunia, pun banyak yang perlu dirubah. Setiap harinya, peradaban bertumbuh dan peraturan pun perlu untuk terus diperbaharui. Bangkit dari kesadaran bahwa setiap individu adalah bagian kecil dari perubahan, namun setiap dari mereka memiliki bobot power yang berbeda, sehingga jika disatukan akan dapat membentuk suatu pergerakan yang mampu memberikan efek yang besar bagi kelanjutan kehidupan. Dari Asian Pacific Forum for Sustainable Development (APFSD) Youth 2019 ini, kami mulai ikut mengambil peran dalam perubahan tersebut.

Acara ini diselenggarakan guna melakukan peninjauan terhadap terlaksanakannya SDG-2030 pada poin-poin tertentu.

Dihadiri kurang lebih enam puluh peserta dari berbagai latar pendidikan dan organisasi serta asal negara sebanyak kurang lebih lima belas negara seluruh Asia Pasifik, acara ini diselenggarakan selama tiga hari di Bangkok pada tanggal 21-23 Maret 2019. Acara ini didukung oleh banyak organisasi sosial seperti ARROW, Right Here Right Now, Youth Lead, YPEER, dan AP-RCEM serta difasilitasi oleh UNESCAP. Dengan tema yaitu “Empowering Young People and Ensuring Inclusivity and Equality in Asia Pacific”. Acara ini diselenggarakan guna melakukan peninjauan terhadap terlaksanakannya SDG-2030 pada poin-poin tertentu. Yaitu poin nomor 4, 8, 10, 13, 16, dan 17 pada regional masing-masing.

Dari tinjauan data, pemuda usia 15-24 tahun akan menduduki populasi sebanyak 1.2 milyar dari 7.5 milyar penduduk bumi sampai dengan tahun 2030.

Lalu, mengapa anak muda? Dari tinjauan data, pemuda usia 15-24 tahun akan menduduki populasi sebanyak 1.2 milyar dari 7.5 milyar penduduk bumi sampai dengan tahun 2030. Dengan rincian sebanyak 60% diantaranya tinggal di Asia Pasifik, atau sekitar 717 juta penduduk. Di sisi lain yang dijadikan sebagai pertimbangan, pada usia tersebut umumnya manusia berada pada tahap di mana tingkat keingintahuan dan kepedulian sedang berada pada level yang paling baik. Tentu hal ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin, sebab bagaimana dunia di masa depan adalah bentuk dari upaya pembangunan masa kini. Pemuda sebagai pemimpin garda terdepan perlu dipersiapkan, dilatih, dan diasah sedini mungkin.

Rangkaian agenda selama forum ini berlangsung berupa dialog bersama pemateri yang bergerak di bidangnya masing-masing. Seperti pada hari pertama, materi yang diberikan adalah “Universal Access to Education to Children, Adolescents, and Youth” dan “Full and Productive Employment and Decent Work for All Young People”. Dilanjutkan pada hari kedua yang diawali dengan Goup Work on Recommendation tentang poin SDG’s yang dibahas pada hari pertama yaitu mengenai Pendidikan dan Ketenagakerjaan. Dari ini, lahir inovasi baru yang perlu diterapkan dan yang perlu diperbaiki dari implementasi sebelumnya di masing-masing wilayah dengan bentuk poin analisis berupa kaitan penerapan dengan teknologi, pendanaan, dan poin-poin penghambat lainnya yang menyebabkan lambannya penerapan SDG’s di masing-masing regional. Pada hari kedua juga diberikan materi dan dilaksanakan Goup Work on Recommendation mengenai topik Perubahan Iklim.

Pada hari terakhir, agenda yang dilakukan adalah diskusi lanjutan mengenai langkah-langkah yang diambil kedepannya atas apa yang telah diidentifikasi kemarin atau bentuk kampanye maupun gerakan apa yang akan diambil untuk mendorong terlaksanannya agenda bersama sesuai tujuan.

Misi ke depannya, para peserta forum yang juga menjadi perwakilan masing-masing negara sekaligus organisasi dari fokus topik yang diangkat akan melakukan kontrol terhadap pelaksanaan juga menjadi penyelenggara daripada rangkaian agenda lanjutan untuk mengawal terlaksananya SDG’s dengan baik dan sesuai harapan. Partisipasi satu pemuda memang tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan, namun jika para pemuda bersatu dan saling bahu membahu untuk bersama-sama ikut membangun, maka perubahan yang diberikan akan bisa dirasakan di masa depan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Indonesia Menulis Online Bersama Kampus Desa

0

Hii kalian pecinta literasi !! Lagi bingung pengen nulis tapi ga punya wadah untuk publikasi?? Join yuk di sini, di Indonesia Menulis Online bersama Kampusdesa.or.id. Di sini kalian akan bertemu dengan mentor-mentor kece dan akan mendapatkan banyak relasi. Tunggu apa lagi, ga usah kelamaan mikirnya!! Tempat terbatas !! Orang males dilarang daftar!!

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.”
Seno Gumira Ajidarma