Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 55

Bedah Web Kampus Desa for Digital Literacy

0

Kampusdesa.or.id – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) BESTARI Mojowarno Jombang bekerjasama dengan Kampus Desa  menyelenggarakan Literacy Corner Kampus Desa. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendorong kolaborasi konten dan membagikan berbagai ketrampilan berteknologi digital dari Kampus Desa untuk memenuhi pengembangan inspirasi yang saling mendukung. Terkadang, lembaga, pribadi dan siapapun hanya bisa di satu hal, padahal apa yang sudah dilakukan perlu disalurkan ke berbagai wadah publikasi digital. Nah, berdasarkan potensi ini, kemampuan berkolaborasi akan saling menguntungkan banyak pihak atas potensi yang dimiliki. Bertemunya beragam kemampuan ini akan membantu mempercepat potensi tersebut menjadi tersalurkan lebih baik dalam mencapai tujuan.

Semangat ini menjadikan kami, dengan sumberdaya kerelawanan dari jaringan pertemanan Kampus Desa, ingin berbagi dan mempertemukan beragam kekuatan tersebut untuk saling melengkapi sehingga menjadi kekuatan bersama yang saling menguntungkan, memajukan, dan menyelamatkan potensi tersebut agar bisa membiak. Kami pikir, tidak harus semuanya menunggu menjadi ahli, setiap potensi sekecil apapun, jika mampu dikolaborasikan, akan melahirkan kekuatan yang lebih besar. Nah, semangat inilah yang menyegerakan Kampus Desa harus go public membagikan apa yang kami punya untuk disinergikan, tanpa harus menjadi sempurna semuanya.

Astatik dan para anak PAUD Bestari. Salah satu kegiatan PKBM Bestari yang akan menjadi tempat bedah web

Bersama PKBM Bestari, kami menginisasi sebuah kesadaran digital melalui berbagai potensi untuk ditemukan membuat kekuatan baru dalam bentuk kegiatan bertahap melalui,

Bedah Web Kampus Desa for Digital Literacy

Hadir dalam kolaborasi ini yang siap berbagai potensi adalah,

Mohammad Mahpur. Fasilitator Personal Transformation, dan juga Founder Kampus Desa akan membagikan berbagai ketrampilan digital, organisasi komunitas, kemitraan, dan transformasi personal. Beliau akan memfasilitasi pertumbuhan personal, lembaga, dan komunitas untuk saling berbagi tujuan sehingga melahirkan perubahan-perubahan penting dalam mencapai visi bersama.

Alfin Mustikawan. Fasilitator Pembelajar Otentik, Founder Kampus Desa akan mengisahkan bagaimana belajar otentik itu adalah pijakan penting dalam menumbuhkan motivasi. Jaringan strategisnya memberikan suntikan semangat. Ahli evaluasi pendidikan ini ingin berbagi sekitar pembelajaran otentik agar para kolaborator pembelajar mampu saling menjadi jangkar motivasi. Sebuah motivasi yang lebih mahal bukan karena dukungan pihak luar, tetapi semangat dari dalam yang bisa diterjemahkan menjadi alur belajar bersama.

Sigit Priatmoko. Pejuang literasi yang baru muncul tetapi mendadak sudah mengorganisir komunitas dan mampu berkarya. Beberapa buku seputar pendidikan sudah diterbitkan. Dan ada naskahnya yang tembus Penerbit Gramedia. Padahal lumayan berdarah-darah lo untuk bisa menembus Gramedia. Sosok humble ini pun berkecimpung sebagai pengelola dan redaksi kampusdesa.or.id. Sosok ini sekarang sudah menjejakkan profesinya di dosen tetap pada Prodi PGMI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Fathan Faris Saputro. Pejunag literasi yang masih sangat muda. Produktif menjadi beberapa kontributor media online, beberapa naskah berhasil diterbitkan dalam beberapa buku. Semangat produktifnya ingin dipantikkan ke orang lain agar tumbuh cara belajar mandiri dan supercepat, khususnya dalam bidang menulis, jurnalistik, dan mengelola beberapa admin media daring. Fathan akan terbang dari Lamongan menuju Bestari Jombang untuk berbagi. Oh ya, Sosok muda ini juga admin kampusdesa.or.id lo. Coba cari namanya di mesin pencari laman kampusdesa.

Relung Fajar. Instagram Content Creator, Penulis Buku. Di usia yang cukup muda (semester tiga), mahasiswa ini sudah berhasil menulis buku dari tugas mata-kuliah dan mampu menjualnya dalam waktu yang sangat cepat. Bukunya masih di penerbit, dan kuliahnya belum ujian, perempuan ini sudah mampu memiliki pre-order calon bukunya. Tentu ada beberapa buku lain. Bahkan, perempuan cantik dan penuh semangat ini, berhasil pergi ke Eropa setelah memenangkan lomba membikin caption di Instagram. Relung akan menyempatkan waktu berbagi di tengah-tengah kesibukannya Praktik Kerja Lapangan sebagai mahasiswa Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Yusuf Ratu Agung. Fasilitatot Senam Kecerdasan dari komunitas Radiasi Tenaga Dalam. Pergulatannya mendalami praktik senam kecerdasan, melalui olah cakra, akan berbagi seputar tata kelola tubuh dan spiritual untuk membantu memaksimalkan kecerdasan personal seorang pembelajar. Dengan pelatihan senam kecerdasan rutin, Sosok Ahli Psikologi Sosial, ini akan menularkan senam kecerdasan untuk meningkatkan spirit cakra diri sehingga mempercepat proses perubahan diri.

Ahmad Shihabuddin. Content creator untuk akun Tanah Alas Indonesia. Pun pengelola akun Sabdaexplore dan Sabdaperubahan yang followernya sudah ratusan ribu. Pengalamannya bisa menjadi pengungkit ketrampilan kita dalam menggunakan gadget untuk perluasan jangkauan market share kita. Siap berbagi teknik sederhana memoto dan video.

Astatik Bestari. Fasilitator Digital Literacy Corner dan Owner PKBM Bestari. Perempuan aktif ini akan menyediakan tempat belajar dan memfasilitas perjumpaan para kolaborator. Beliau sedang merintis, PKBM Bestari menjadi wadah pengembangan melek digital dan membuat peta lembaga dengan daya dukung infrastruktur digital. Beliau menjadi kolaborator Kampus Desa dan akan disiapkan sebuah pojok digital untuk pengembangan laboratorium PKBM dengan infrastruktur digital.

Bantu sebarin ya.

Target Kegiatan Bedah Web apa ya?

Pertemuan ini ditujukan untuk membuat peta potensi dan ditindaklanjuti sehingga,

Mendapat pengungkit motivasi dan menyiapkan diri menjadi pembelajar otentik
Mampu upload di kampusdesa.or.id melalui proses pendampingan literasi tatakelola website dan ketrampilan olah digital. Kalau mampu konsisten, anda layak didampingi membikin website.
Memiliki brand pribadi dan lembaga atau produk usaha.
Membuat content creator berbasis video dan foto untuk latihan promosi.
Mendapat setifikat pengakuan komptensi digital untuk pemula

Untuk informasi kegiatan ini, silahkan komunikasi 081231341035

Pelaksanaan, Sabtu-Minggu, 10-11 Agustus 2019

Tempat Belajar : PKBM BESTARI CATAKGAYAM, MOJOWARNO, JOMBANG

Kegiatan ini merupakan layanan berbagi Kampus Desa untuk pengembangan rintisan pilot percontohan Literasi Digital berbasis komunitas. Layanan ini dapat dikembangkan, khusus bagi PKBM yang ada di seputaran Jawa Timur.

Kami mengundang para Relawan Profesional di Bidang IT untuk turut berbagi dalam pengayaan teknologi digital. Kolaborasi para relawan turut menyumbangkan infaq profesional sehingga memperluas amal para profesional. Silahkan menghubungi IG, fanpage atau media sosial yang tertera di footer (halaman bawah) laman ini.

Salah Persepsi Tentang Anak Berkebutuhan Khusus

0

Persepsi salah kaprah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) adalah jatuh pada anak dengan disabilitas. Bahkan masih ada saja yang menyebutnya anak tidak normal, atau cacat. Beda lo, Bapak dan Ibu? Sekolah inklusif mewadahi anak-anak yang secara perkembangan adalah istimewa. Ada anak yang jenius, berbakat, lamban belajar, dan berbagai bentuk kendala perkembangan psikologi yang dilayani dan masih memungkinkan anak dapat terintegrasi dengan proses belajar. Bagi yang mengalami hambatan perkembangan tetap (disabilitas), maka mereka ditampung di SLB (Sekolah Luar Biasa), seperti anak dengan Tuna Rungu, dan lainnya.

Kampusdesa.or.id–Alhamdulillah Sekolah Garasi telah menerapkan konsep sekolah inklusif sejak berdiri tahun 2007. Begitu mendengar Sekolah Inklusif atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) maka yang terbayang adalah anak-anak disabilitas yang memiliki keterbatasan fisik, psikis, emosional dan sosial. Artinya anak-anak yang memiliki kekurangan dibanding dengan anak normal. Akibat salah persepsi tersebut, saat cucuku Binti Ara, mengubah lembaga pendidikannya menerima anak ABK, maka persepsi masyarakat pendidikan yang diselenggarakannya untuk anak-anak disabilitas. Celakanya, beberapa orang langsung memindahkan anaknya yang normal yang semula menjadi siswa di lembaga itu karena tidak mau anaknya dijadikan satu dengan anak disablitas dan ada pula yang takut anaknya ketularan disabilitasnya. Akibatnya seluruh anak normal pindah ke lembaga lain sehingga lembaga itu akhirnya berwujud “seperti” SLB.

Padahal kalau dilihat dari populasi anak secara keseluruhan yang di awal tahun 2019, posisinya sesuai dengan kurva normal, menurut pakar pendidikan Dr Sakban Rosidi Saminu, ada pencilan (out layer) kiri dan kanan, yang jumlahnya masing-masing sekitar 1 standar deviasi dari populasi, artinya di samping anak yang memiliki keterbatasan juga di sisi lain ada anak yang memiliki kelebihan yang ekstrem.

Sebetulnya, dalam Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 dan khusus untuk Propinsi Jawa Timur dalam Peraturan Gubernur No 30 Tahun 2018 tentang Pendidikan Inklusif jelas anak cerdas dan berbakat istimewa termasuk salah satu anak yang didefinisikan sebagai ABK.

Sayangnya dalam peraturan pelaksanannya belum dirumuskan secara rinci untuk layanan kepada anak cerdas dan berbakat istimewa ini, lebih banyak mengacu pada layanan anak yang disabilitas yang bersumber dari pengelolaan SLB. Padahal karakteristik antara kedua jenis anak, anak yang disabilitas dan anak cerdas/berbakat istimewa ini sangat berbeda.

Alhamdulillahm sejak berdiri tahun 2007, Sekolah Garasi MI Amanah Turen telah tersesat di jalan yang benar. Kami melayani, mendampingi, membimbing dan memfasilitasi ketiga golongan anak dalam kurva normal itu, yang lambat, sedang dan cepat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan belajar mereka. Alhamdulillah untuk anak yang lambat kami bisa mendampingi selama 8 tahun sehingga ananda tersebut bisa menamatkan pembelajaran selama 8 tahun dengan nilai hasil ujian yang normal dan kemampuan pengembangan diri berupa mendalang dan seni suara. Saat ini kami melayani dan mendampingi anak-anak lambat belajar ini belasan anak

Sementara untuk anak-anak yang cepat, kami bisa mendampingi dan membimbing mereka tamat selama 5 tahun, jumlahnya sekitar 35% dan 4 anak bisa menyelesaikan belajar sesuai dengan target tugas perkembangannya dalam waktu 4 (empat) tahun. Selebihnya, sekitar 60% normal berhasil menamatkan pembelajaran dalam waktu 6 tahun.

Senam Sehat Generasi Millenial

0

Kampusdesa.or.id, Mataram — Hidup sehat menjadi impian seluruh elemen masyarakat, yang merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan terutama bagi kalangan muda.

Ketua Umum IKP SAKTI (Ikatan Keluarga Pemuda Sakra Timur) Muazzin menyampaikan “Kami mengajak segenap keluarga pemuda sakra timur untuk sama-sama menjaga hidup sehat dengan melaksanakan senam pagi terutama kalangan millenial. Kegiatan ini juga kami agendakan tidak hanya untuk olah raga namun lebih pada membangun hubungan emosional antara pemuda khususnya pemuda yang ada di Sakra Timur.

Lebih lanjut, Muazzin menyampaikan pada pagi Minggu 14 Juli 2019 di lapangan umum Sakra Timur. Untuk kegiatan awal ini kami bekerjasama dengan mahasiswa KKP UIN Mataram dan KKN UNRAM, ketua karang taruna se-Sakra Timur, dengan tujuan untuk menyambung tali silaturrahim antara mahasiswa KKP/KKN bersama dengan masing-masing perwakilan Pemuda sakra timur.

Harapan besar kami dari IKP SAKTI, semoga dengan kegiatan ini kita bisa menjalin silaturrahim, sama-sama membangun hubungan baik di kalangan pemuda agar tetap harmonis dalam membangun generasi emas untuk Sakra Timur, karena kedepan masih banyak lagi program-program pengabdian lainya yang akan kami agendakan dalam rangka membentuk generasi penerus disakra timur, terang Muazzin

Mahasiswa KKP/KKN juga sangat mengapresiasi kegiatan yang diagendakan oleh IKP SAKTI. “Kegiatan ini sangat menginspirasi bagi kami selaku mahasiswa, dengan kegiatan ini kita bisa belajar dan menerapkan didesa masing-masing setelah pulang dari tempat ini, satu hal yang ada dalam benak kami adalah bagaimana pemuda bersatu untuk mengabdikan diri kepada masyarakat”. imbuhnya Riswan salah satu perwakilan ketua KKP/KKN.

“Jajanan Sembarangan”, Sebuah Telaah Psikologis

0

Sebagian masyarakat masih saja merasa cita rasa kuliner yang ada di desa adalah tempat yang aman dari segi kesehatan. Sementara makanan berpengawet, penyedap sintesis, zat pewarna dan makanan kurang bergizi nampaknya masih dilekatkan pada pola konsumsi orang kota. Tidak banyak yang menyadari bahwa trend makanan saat ini sudah bergeser. Sarana kesehatan yang lengkap  sedikit demi sedikit mendorong penduduk kota mulai sadar pola diet sehat, sementara di desa minimnya informasi  menggelincirkan mereka sembrono dalam mengkonsumsi makanan. Dampak dari produk makanan yang  minim nutrisi antara lain adalah gangguan mood, menghambat kecerdasan dan pertumbuhan anak.

KampusDesa–Berbagai akifitas  ekonomi, pendidikan dan pariwisata antara si Desa dan Si Kota menjadi pintu percontohan antara kedua belah pihak. Polanya sedikit berbalik arah, dengan tunjangan keilmuwan, sebagian masyarakat kota meniru pola makan orang desa yang terkenal sederhana dan sehat. Sementara itu, dengan latar belakang pengetahuan yang rendah membuat masyarakat desa latah, ikut-ikutan tanpa tahu resiko dari kreasi produk pangan buatan yang berasal dari Kota.

Pintarnya ide digital marketing saat ini  seakan mengesampingkan etika kesehatan. Gaya eye catching kemasan ditambah iklan yang menawan adalah hal yang lebih diprioritaskan bahkan kerap kali dainggap sebagai prestasi out of the box daripada qualitas gizi produk yang mereka tawarkan.

Varian rasa adalah inovasi zat aditif yang populer saat ini, bukan saja keindahan warna dan kelezatan yang menggoda, namun citra makanan modern yang kece menjadi motivasi konsumen  untuk memuaskan nafsunya. Pintarnya ide Digital marketing  seakan mengesampingkan etika kesehatan. Gaya eye catching kemasan ditambah iklan yang menawan adalah hal yang lebih diprioritaskan bahakn kerap kali dainggap sebagai prestasi out of the box daripada qualitas gizi produk yang mereka tawarkan.”

Bisa dibilang Sekolah dasar hingga perguruan tinggi adalah tempat yang disasar, dari pentol cilok, es sari manis, gorengan dan street food lainnya. Karena target pasar adalah mereka, maka harga ditekan semurah mungkin supaya laris manis. Disinilah permainan dimulai, siasat untuk memproduksi makanan yang enak tapi murah memutar akal akalan pedagang menggunakan cara yang beresiko, yaitu mengoplos bumbu masakan dengan zat aditif  (micin) secara berlebihan.

Para ahli kesehatan sering mengingatkan akan bahaya zat aditif jika dikonsumsi berkelanjutan. Sebut saja pemanis, pewarna, sirup buatan, pengawet (natrium nitrit) ,zat asam, soda (natrium benzoat) semua jenis zat sintesis tersebut dikonfirmasi dapat meningkatkan potensi Kanker, stroke dan diabetes. Ada banyak lagi jenis zat aditif yang belum disebutkan, rasanya semua produk minuman dan makanan cepat saji yang tersedia saat ini tak mungkin tidak mengandung komponen  tersebut, seperti mie instan, sarden, sosis, minuman energy dan sebagainya.

Lemak trans atau bisa disebut dengan minyak sayur sangat beresiko meningkatkan kolestrol jahat, plak kotoran menghambat saluran darah berimplikasi pada serangan jantung yang terkenal mematikan. Lemak trans dapat di temui dalam biskuit, pop corn dan segala macam makanan yang melalui tahap penggorengan. Minyak curah adalah hal yang mengerikan, mayoritas masyarakat menengah ke bawah, penjual lalapan terlebih lagi tukang gorengan acuh tak acuh dan tak punya pilihan lain selain  menggunakan minyak goreng berulang ulang demi mematangkan hidangan mereka sembari menghemat pengeluaran.

Lantas apa dampak produk pangan yang tidak sehat pada sisi psikologis seseorang?

Akal yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat, mau di balik pun hasilnya tetap sama. Fisik dan Psikis (segala hal yang berkaitan dengan emosi dan kognitif) adalah satu kesatuan yang saling menguatkan dan makanan merupakan salah satu faktor penting di dalamnya.

Ada tiga komponen kajian dalam psikologi yaitu psikomotorik, afektif dan kognitif, jika ketiganya tidak bermasalah maka bisa dipastikan individu dalam keadaan normal. Normal adalah titik kewajaran individu, jika salah satu aspek tersebut mengalami gangguan, peningkatan atau penurunan maka sangat mungkin bagian yang lain akan menerima dampaknya, saat itulah gangguan psikologis akan muncul. Akal yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat, mau di balik pun hasilnya tetap sama. Fisik dan psikis (segala hal yang berkaitan dengan emosi dan kognitif) adalah satu kesatuan yang saling berkaitan bahkan menguatkan dan makanan merupakan faktor penting di dalamnya.

Normal adalah titik kewajaran individu, Jika salah satu aspek tersebut mengalami gangguan , peningkatan atau penurunan maka sangat mungkin bagian yang lain akan menerima dampaknya, saat itulah gangguan psikologis akan muncul.

Gangguan Mood

Di dalam otak manusia terdapat neuron yang berfungsi untuk mengatur rasa senang, nyaman dan persepsi visual, neuron tersebut dinamakan serotonin. Untuk menjalankan perannya serotonin memiliki reseptor dimana 90% terletak pada usus atau sistem pencernaan manusia. Sehingga nutrisi yang diserap tubuh akan berdampak pada pengaturan mood.

Extrak makanan, makanan yang diawetkan, pewarna buatan dan penyedap rasa dapat mengakibatkan disfungsi pada microba yang terdapat dalam usus, ketidak seimbangan microba inilah yang memicu penyakit dan mengganggu kinerja reseptor serotonin yang kami jelaskan sebelumnya sebagai pengatur perasaan emosi individu. Anak rewel hilang nafsu makan bisa jadi akibat terlalu sering jajan. Bahkan kebiasaan mahasiswa terutama mahasiswi lebih suka ngemil makanan ringan yang notabenenya kurang bergizi membuat mereka sering melewatkan jatah sarapan atau makan malam.

Menghambat kecerdasan dan pertumbuhan anak

Makanan siap saji memang sangat menghemat waktu, selain rasanya sedap sangat mudah untuk mendapatkannya seperti pizaa, minuman ringan dan biskuit kering. Sebenarnya jenis makanan tersebut selain mengandung pemanis juga mensuplai kalori terlalu banyak bagi tubuh padahal kadar nutrisinya sangat rendah sekali.

Dalam usia pertumbuhan, anak anak memerlukan nutrisi yang cukup untuk perkembangan otak dan kecerdasannya. Anak yang tidak mendapatkan cukup asupan nutrisi akan mudah mengalami gangguan konsentrasi, lamban dalam mengingat, mudah lesu dan mudah mengantuk. Maka kebiasan makan seadanya, makan senemunya sering dijadikan landasan hidup ibu rumah tangga perlu di koreksi, kesederhanaan dalam pola makan seharusnya bisa memilah kebutuhan secara selektif bukan malah mengorbankan hak gizi anak dengan menyepelekan kaldu buatan.

Maka kebiasan makan seadanya, makan senemunya sering dijadikan landasan hidup ibu rumah tangga perlu di koreksi, kesederhanaan dalam pola makan seharusnya bisa memilah kebutuhan secara selektif bukan malah mengorbankan hak gizi anak dengan menyepelekan kaldu buatan.

Di era industri 4.0 saat ini, mustahil produk sintesis untuk dilarang, sebab zat aditif juga memiliki fungsi sebagai bahan pengganti. Baik penduuk Kota maupun Desa alangkah lebih bijak untuk mengurangi penggunaan produk pangan tersebut guna mengontrol kesehatan keluarga. Maka ibu  dan ayah bisa menyiasati dengan mengganti uang jajan anak dengan membawakan bekal dari rumah, jika ibu di rumah jago memasak dengan kaldu sintesis yang minim bahkan nol persen hal tersebut akan menjadi cara yang jitu untuk mengurangi pola konsumtif anggota keluarga terhadap produk pangan yang tidak jelas rimbanya.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Manajemen Lembaga WOW, Oleh-oleh Konvensi

0

“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.”
-Ki Hajar Dewantara-

kampusdesa.or.id–Mengingat semboyan tersebut, membawa kembali pada pendidikan Ki Hajar Dewantara mengenai nilai Kodrat Alam dalam panca darma. Pendidikan yang memanusiakan manusia, tanpa menghalangi tumbuh kembangnya bakat dan minat seseorang. Makna kodrat alam bisa masuk dalam ranah memahami masing-masing kecerdasan personal. Sehingga peserta didik, maupun pendidik memiliki kreativitas tanpa batas untuk menggapai impian pendidikan. Mereka bisa tumbuh merekah mengharumkan pendidikan dengan caranya masing-masing.

Namun, baru-baru ini pendidikan dihebohkan dengan permasalahan sistem Zonasi. Banyak hal yang menunjukkan bahwa para pelaku pendidikan dan masyarakat belum sampai memahami pada kodrat alam. Jika penanaman mindset, bahwa setiap pendidik bisa merawat benih, dan benih bisa disemai dimana saja. Maka tidak perlu di bingungkan dengan permasalahan Zonasi. Justru menanam benih di lingkungan sekitar dengan mendatangkan professional ahli di bidangnya, akan berdampak luar biasa bagi wilayah tersebut.

Sehingga dengan sistem mutasi guru, teacher mapping, diharapkan bisa memajukan satu titik ke titik lain supaya lebih bermartabat. Mengurai simpul permasalahan dengan beragam inovasi di tempat baru. Namun, Apakah permasalahannya semudah itu? apakah semua guru juga berkenan di tempatkan pada daerah-daerah tertentu bahkan terpencil? Meskipun sebelum menjabat sebagai ASN ada komitmen mau di tempatkan dimana saja. Tetap saja lembaga-lembaga menjadi kelabakan saat menerima beragam karakter dan tingkat kecerdasan peserta didik.

Dengan demikian Manajemen Lembaga WOW, tentu diperlukan oleh siapapun dan dimanapun, baik di sekolah favorit maupun sekolah yang diberi label kurang atau bahkan tidak favorit. Manajemen lembaga WOW diawali dengan membangun komitmen bersama orang tua siswa dan pengelola pendidikan di sekolah yang bersangkutan.

Harapannya dengan adanya komitmen diawal, akan mampu mengokohkan impian, dan arah pendidikan yang dicita citakan. Salah satu alternatifnya adalah Pembuatan kurikulum dengan saling bersinergi mendengar kebutuhan masyarakat, yang kemudian disempurnakan bersama guru atau pengelola pendidikan.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika suatu inisiatif berangkat dari lingkungan lembaga yang bersangkutan. Sehingga tidak harus menunggu bola datang dari kebijakan pemerintah, atupun surat perintah mengikuti suatu pelatihan, namun berangkat dari diri sendiri yang menjemput bola itu. Misalnya seperti mengikuti kegiatan Konvensi Pendidikan Indonesia yang di selenggarakan oleh komunitas OLDWA (Ojo Leren Dadi Wong Apik) secara Cuma-Cuma.

Kegiatan ini bertujuan untuk ikut serta mengangkat mutu pendidikan di Nusantara, dengan beragam menu sajian inovasi pendidikan baik formal, non formal maupun informal yang tersebar di lingkungan masyarakat. Dalam Acara ini Peserta tidak harus mendapatkan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas). Kegiatan yang berangkat dari hati, tanpa paksaan, akan jauh lebih berdampak dalam membenahi dan menyempurnakan lembaga yang dikelola. Sebab, untuk menghasilkan pengelolaan yang luar biasa, tentu membutuhkan strategi yang luar biasa pula.

Kegiatan yang berangkat dari hati, tanpa paksaan, akan jauh lebih berdampak dalam membenahi dan menyempurnakan lembaga pendidikan. Sebab, untuk menghasilkan pengelolaan yang luar biasa, tentu membutuhkan strategi yang luar biasa pula.

Misalnya dengan strategi MLBS yang dituturkan oleh Mr. Nafik Palil Yuniro, seorang konsultan dan assessor pendidikan di Jawa Timur. Beliau sudah berhasil menjembatani ratusan lembaga di Nusantara dengan sistem MLBS (Manajemen Lembaga Berkarakter dan Sistemik) dan SLC (Student Led Confrence). Dengan MLBS, beliau selalu menuturkan kita boleh idealis, namun harus ada sistem yang rasional tertata rapi misalnya dengan SOP.

Begitu pula dengan ide gemilangnya, yaitu model laporan hasil belajar siswa yang tidak lagi membosankan, beliau menggagas model SLC sebagai model laporan hasil belajar. Model SLC tidak hanya digandrungi lembaga dalam negeri, namun saat ini lembaga-lembaga di kancah Internsional pun sudah banyak yang menerapkannya.

SMP ISLAM TERPADU AL IMRON SUMENEP, TIRU DAN MODIFIKASI GAYA PARENTING COACH MR NAFIK PHALIL, SOSOK PENTING DI KONVENSI PENDIDIKAN.

Ulasan keilmuan MLBS dan SLC pada acara Konvensi Pendidikan dikemas rapi menjadi materi bertajuk “ Manajemen Lembaga WOW “. Penjabaran yang renyah tanpa paksaan namun langsung bisa diterima telah menghipnotis peserta menjadi sangat antusias. Pasalnya, beliau memberikan ilmu bukan dengan teori-teori yang panjang, namun langsung diajak mengambil secarik kertas untuk mengaplikasikan bersama. Dalam kerta putih itu, tergores “ Mind Maping Manajemen Lembaga WOW ”.

Konsep Mind Mapping memudahkan untuk selalu mengingat dengan cara kerja otak manusia. Diantara lima langkah membangun lembaga WOW yaitu dengan, Conditioning, Siapkan Konsep, Reward and Punishment, Monitoring and evaluating, serta Enjoy the result.

Lima pola tersebut dimulai dengan pola Conditioning. Mengawali setiap sesuatu dengan dipaksa. Jika mengetahui strategi memaksa, tidak dirasakan kalau hal itu sebenarnya dipaksa. Sehingga paksaan disini dalam artian mengarahkan dengan nyaman namun pasti. Sehingga suatu saat akan menjadi biasa, lebih terbiasa bahkan menjadi budaya dalam keseharian.

Pola yang kedua, dengan Menyiapkan Konsep, hal ini dilakukan agar arah tujuan suatu lembaga lebih terprediksi. Dengan membuat sistem dan Standar Operasional Prosedure akan menghasilkan tenaga yang bertanggung jawab di masing-masing project lembaga. Sehingga suatu saat, ketika pejabat  atau pegawai yang mendapatkan amanah tidak ada di lingkungan lembaga, sistem sudah bisa di jalankan.

Kemudian pola yang ketiga,  Menyiapkan Reward And Punishment dengan cara yang professional, konsisten, transparan dan adil. Akan memberikan suntikan semangat kepada setiap warga sekolah. Sehingga, ketika memasuki monitoring and evaluating sudah terbiasa rapi, secara berkelanjutan, dan menggunakan teknologi yang sesuai dengan perkembangan zaman.

MR. NAFIK PHALIL MEMAMERKAN BUKU “ SUCCES STORIES MANAJEMEN SUKSES “ YANG DI TULIS OLEH SYARIFAH, KEPALA SMP ISLAM TERPADU AL IMRON SUMENEP. BUAH SEMANGAT BELAJAR DARI KONVENSI PENDIDIKAN VII JOMBANG.

Langkah terakhir, yakni Enjoy The Result, saat warga sekolah melakukan sesuatu sudah menjadi budaya, menjalankan tanpa harus diperintah, kemudian mendapatkan reward ataupun punishment yang adil. Maka mereka akan menikmati hasil dengan senang, lapang dada, dan bahagia. Saat menerima dan memberikan laporan hasil akhir belajar, peserta didik dan orang tua saling berkomunikasi dengan cara santai seperti bercakap-cakap, namun sang anak memaparkan hasil laporannya. Begitu pula sebaliknya orang tua dan guru akan bisa lebih memahami tumbuh kembangnya, baik dari kelebihan maupun kekurangan masing-masing anak.

Lima langkah ini, meskipun terlihat sederhana namun berimplikasi luar biasa pada lembaga, sebagaimana yang sudah di terapkan oleh syarifah dari Sumenep, sebagai oleh-oleh hasil sinau dari Konvensi Pendidikan Indonesia ke VII di Jombang. Bu Syarifah tidak hanya mengaplikasikan di lembaganya, namun ia berinisiatif untuk menuliskan success story nya menjadi sebuah karya buku. Harapannya apa yang di bawakan oleh syarifah mampu menginspirasi peserta konvensi selanjutnya.

editor:Arif Maulana

Merawat yang Dirawat

0

Aku tak lagi mampu menyembunyikan gerimis di hatiku ketika momy memaksaku untuk melakukan hal yang tidak ku inginkan. Namun demikian, ku lihat matanya berkaca-kaca saat sesekali aku membantah ucapannya. Sungguh, tiada niat untuk melukai hatinya, hanya saja, terkadang aku tak pandai mengekspresikan apa yang ada di benakku dengan ucapan yang baik.

KampusDesa–“Ah kamu mah emang nggak pernah bisa diandelin.” Komentar momy yang selalu dikatakan bila aku gagal mengerjakan tugasnya.

Seperti meletus balon hijau, hatiku sangat kacau; sedih, gelisah, galau, merana. Tak jarang bila emosiku tak terkontrol, aku langsung mengatakan, “Stop momy! Jangan katakan itu terus menerus! Ucapanmu adalah doa untukku.”

Namun, itu tak membuat momy jera. Justru kondisi semakin rumit lantaran momy yang selalu merasa benar. Aku tahu, tak ada wanita yang ingin disalahkan. Selalu merasa dan ingin benar sendiri. Tapi, tidak seharusnya momy melakukan itu padaku. Mengapa momy tidak memposisikan dirinya sebagai ibu? Ibu yang selalu menjadi pelipur lara bagi anaknya.

Dan saat ini pun yang terjadi, kembali seperti itu. Momy memintaku untuk cuti bekerja, agar waktu itu dapat digunakan untuk mengantar adikku ke pondok pesantren. Sebab, waktu yang ditetapkan oleh pondok pesantren adikku, posisi momy sudah tidak lagi di Indonesia. Melainkan di Mekkah dan Madinah untuk beribadah pada-Nya.

###

“Kalau nganterin adikmu nggak bisa, seenggaknya kamu ikut nganter momy sampai bandara.”

“Iya kak, lagi pula semua paman dan bibi nganterin aku dong sampai ke pondok.”

“Oh gitu, yaudah kalau gitu kakak tetap bekerja ya. Lagi nggak ada yang bisa diminta bantuan, bahkan cutiku nggak di-acc.”

“Jangan, kakak harus ikut nganter momy dan dady sampai bandara, sama aku.” Pintanya dengan merengek

“Kakak kerja sayang.” Usahaku menenangkan, nihil.

“Yaudah nanti uang saku adikmu momy titip sama tantemu. Jangan sampai uangnya momy kasih ke kamu, eh kamunya tak ikut.”

“Yaudah, kan’ kakak mah tidak bisa diandelin. Ya beginilah jadinya, mungkin ini jawaban atas doa-doa yang selama ini disebut.” Ucapku dengan suara sedikit gemetar. Aku tak sampai hati mengatakan itu, hingga akhirnya air mata membasahi pipi.

“Jangan membesarkan masalah, tapi cari solusi. Dimatamu momy selalu salah, pinternya kamu bukan karena momy.” Seru momy yang juga pecah air matanya.

“Solusi itu bukan dicari, karena pertolongan-Nya lebih dekat daripada jarak antara kening dengan tempat sujud. Kalau momy selalu mencari solusi, akhirnya momy nggak pernah instropeksi diri. Makannya, momy nggak bisa melihat kalau ini adalah sebuah pembelajaran. Pelajaran agar momy tidak berkata sembarangan.” Kali ini suaraku pecah dengan isak tangis dengan nada tinggi, tanpa sadar.

“Coba tanyain rekan-rekan yang lain, barangkali ada yang mau tukeran jadwal.” Pintanya dengan suaranya kembali seperti semula, seolah menemukan ide baru, padahal gagasan itu sudah kulakukan jauh sebelum ia berkata.

“Lagi nggak ada yang bisa, kakak juga yang salah karena dadakan. Karena kakak pikir kepala akan acc cutiku, ternyata cutinya dapet tapi bukan di tanggal yang kakak minta.” Ujarku menjelaskan, lalu melanjutkan kembali, “Yaudahlah, emang kenapa sih kalau kakak tetep kerja?”

“Nah, kalau gitu, kamu nyamperin momy dan dady di asrama haji ya.”

Nyamperin? Untuk apa? Perpisahan? Ah dasar orang tua yang nggak pernah mau mengakui kesalahan. Berpisah denganmu adalah hal yang sangat kuinginkan. Pergilah! Aku lelah dengan semua keplin-planan-mu!

Yang ditunggu tak bersua, akhirnya momy kembali berkata, “Ya itu pun kalau kamu mau temui kami.” Ujarnya dengan nada pilu, tangannya beberapa kali menyeka air mata, berusaha menutupi tangisannya semakin menjadi.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Pendidikan Seni Sebagai Pendidikan Karakter

0

Iya to, bahwa pendidikan selalu dimaknai sebagai seorang pemenang, memasuki dunia kerja yang unggul sehingga peserta didik dipicu kompetisi demi kemenangan? Mengapa begitu monologis cara tersebut menjadi doktrin pendidikan? Bagaimana dengan artikulasi budaya dalam gerak dan irama tari? Apakah kelembutan budi mampu dipicu menstabilkan orang-orang terdidik dari budaya kompetisi, atau justru sebenarnya dari tarilah, kehalusan budi itu mampu menata emosi dan membentuk kehidupan manusia lebih beradab, bagian dari pilihan pendidikan karakter?

kampusdesa.or.id–Best Practice dari Pagelatan Seni Kang Rego Agus R. Subagyo dalam Acara Sambang Gunung di Kewden River Park Nganjuk

Ketika pendidikan diarahkan sebagai penyedia tenaga kerja, maka muatan pendidikan dalam kurikulumnya adalah kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja dalam dunia industri, apalagi di era 4.0 ini (#katanya)

Dunia industri yang merupakan dunia usaha dan bisnis membuat orang selalu berusaha untuk berjuang menjadi pemenang dan menjadi terbaik dari yang lain.

Siapa yang kalah dan tidak menjadi pemenang akan digilas oleh persaingan yang keras sehingga sepanjang hidup adalah selalu berusaha untuk mengalahkan yang lain.

Siapa yang tidak menjadi terbaik dan mengalahkan yang lain bakal ditinggalkan oleh pelanggannya atau tergeser dan termaginalisasikan dalam dunia kerja

Demikian juga dalam pendidikan, anak selalu dipacu untuk menjadi yang terbaik dari teman-temannya sehingga jiwa persaingan sudah ditanamkan di sekolah dengan pemberian ranking dan label anak juara, anak pandai dsb,

Rasa kebersamaan, rasa kesetiakawanan, rasa ingin harmonis dengan teman-teman lingkungannya secara pelan dimusnahkan dari diri anak, dari dunia bawah sadar anak sehingga dalam diri anak hanya ada sikap aku harus menang.

Rasa kebersamaan, rasa kesetiakawanan, rasa ingin harmonis dengan teman-teman lingkungannya secara pelan dimusnahkan dari diri anak, dari dunia bawah sadar anak sehingga dalam diri anak hanya ada sikap aku harus menang.

Sikap aku harus menang sering menumbuhkan sikap yang tidak jujur, culas dan menghalalkan segala cara, yang penting bisa mencapai tujuan. Hal ini sudah terbukti dengan pembocoran soal ujuan, pembuatan surat leterangan tidak mampu meski kaya, dan surat pindah domisili untuk bisa masuk sekolah favorit

Sebaliknya, pendidikan seni yang intinya keindahan dan keselarasan dengan lingkungan, menjadikan seorang merasa bagian dari lingkungannya, Dia selalu berusaha selaras, serassi dan seimbang (malih ingat P4 nya eyang Soeharto) dengan lingkungannya. Misalkan dalam seni tari, dia tidak mau menjadi terlalu maju di depan atau terlalu cepat dan sebaliknya terlalu lambat sehingga mengganggu kesatuan timnya. Dengan demikian, pendidikan seni bisa menghaluskan budi anak, menumbuhkan rasa kebersamaan dan loyalitas kesetiakawanan terhadap sahabat dan lingkungannya

Demikian pula dalam kejujuran, apa yang diungkapkan seniman adalah asli suara batinnya dengan penuh kejujuran. Dia akan menyuarakan dan mengekspresikan jeritan jiwanya. Dengan demikian pendidikan seni bisa melaktih kejujuran mengekspresikan suara hatinya dan mencegah ngathok, penjilatan asal mendapat kedudukan atau harta.

Mengembangkan Pendidikan Segar Rasa

0

Hari pertama sekolah mewujudkan karakter inklusif. Sekolah bukan “dokter,” yang menjadi momok saat anak dianggap nakal, anak ditakut-takuti akan disuntik “dokter.” Hari pertama sekolah adalah ujian bagi semua (guru, orang tua, dan murid) untuk menciptakan sekolah yang saling bersahaja, menjadi tempat bagi semuanya untuk udar rasa. Kangen dengan teman, guru, dan lingkungan sekolah yang seharusnya mengasyikkan. Semuanya berpaku pada segar rasa. Sebuah zona kehidupan yang meremajakan perkawanan sekaligus kebersahajaan emosional, bukan momok bagi setiap insan yang hendak kembali ke sekolah.

kampusdesa.or.id–15 Juli adalah hari pertama masuk sekolah. Mungkin bagi anak yang sudah masuk SMP atau SMA sudah nerupakan hari yang biasa-biasa saja karena mereka sudah biasa bersekolah bertahun-tahun, tapi bagi sebagian besar anak SD dan PAUD, hari ini merupakan hari yang menegangkan, seperti saat mau dibawa ke dokter saja.

Kita tentu masih ingat gebrakan pertama mas Menteri Anies Baswedan yang mengharapkan orangtua mengantar anaknya yang baru masuk sekolah, sampai beliau menyurati kepada semua dinas dan instansi yang bukan saja jajaran Depdikbud namun juga semua dinas dan instansi, bahkan lembaga-lembaga yang lain untuk memberikan izin bagi karyawannya untuk mengantarkan anaknya pada hari pertama sekolah.

Tindakan mas Menteri yang humanis ini tentu sangat bermakna bagi kehidupan anak di hari pertamanya ke sekolah, meski oleh penganut behaviorisme langkah ini tidak memiliki arti karena kalau anak tidak mau ya bisa dipaksa, dan memang benar, anak juga bisa belajar dengan dipaksa. Namun dampaknya bila paksaan itu hilang maka anak tidak akan belajar dengan motivasi instriksinya

Suatu iklan Deodoran yang saya kutip di atas, menekankan pentingnya kesan pertama karena kesan-kesan berikutnya sangat diwarnai oleh kesan pertama. Bila anak di hari pertama sudah diantar oleh orangtuanya, namun sambutan sekolah menimbulkan kesan yang negatif juga percuma saja. Minggu lalu saya mendapat kunjungan kerabat yang putranya kalau mau berangkat ke sekolah itu pasti perutnya sakit dan ogah-ogahan, padahal anak itu sudah kelas 2 dan tahun ini naik ke kelas 3. Ternyata di sekolahnya anak ini dan teman-temannya banyak yang dibully oleh kakak-kakak kelasnya, selain kekerasan fisik juga dipalak uang jajan. Sudah diadukan ke sekolah dan wali kelasnya namun tidak mendapat sambutan yang positif.

Menciptakan suasana menyenangkan di sekolah sangat penting, tidak hanya di hari pertama namun juga di hari-hari berikutnya

Karena itu, menciptakan suasana menyenangkan di sekolah sangat penting, tidak hanya di hari pertama namun juga di hari-hari berikutnya dan tidak saja oleh siswa lain tapi juga oleh gurunya.

Sumber Ketidakramahan Anak

Ada dua sumber ketidakramahan sekolah, pertama adalah dari antar teman dari kedua, dari guru. Biasanya dari kakak kelas ke adik kelas seperti yang menimpa putra kerabat saya di atas, atau oleh anak-anak penjajah yang merasa dirinya superior kepada anak-anak yang inferior. Anak-anak pelaku bullying ini merasa dirinya memiliki kelebihan sehingga bisa memaksa anak lain, kelebihan ini misalkan kelebihan fisik dengan memiliki tubuh yang lebih besar atau memiliki kekuatan nonfisik atau latar belakang pola asuh dalam keluarga anak tersebut.

Rasa sahabat dan saudara antar teman

Sumber perundungan dari anak akan semakin banyak bila sekolah membiarkan anak-anak yang dominan melakukan tindakannya membullying temannya. Karena itu sekolah harus menciptakan suasana pergaulan sesama siswa yang menyenangkan. Sekolah Garasi melakukan beberapa kebijakan untuk membuat zero bullying ini. Pertama adalah merancang pola pergaulan antar anak yang saling menyayangi dan mengasihi. Kebutuhan ini sangat dirasakan karena Sekolah Garasi adalah Sekolah Inklusif yang mendidik anak dengan segala kemampuannya, mulai dari yang cepat sampai yang lambat belajar. Tanpa rekasaya pola pergaulan maka potensi dan peluang terjadinya perundungan di sekolah inklusif menjadi lebih terbuka

Pertama adalah membentuk tim penyambut

Agar terjadi hubungan yang harmonis antara siswa yang senior terhadap adik-adiknya maka sekolah membentuk tim penyambutan yang terdiri siswa-siswa senior kelas tinggi, kelas 4, 5 dan 6 untuk menyambut dan melepas adik-adiknya saat datang dan pulang. Tim penyambutan ini terdiri dari 4 – 6 siswa yang bertugas membantu teman-temannya terutama pada adik kelasnya dengan memberinya salam dan bila ada yang kesulitan turun dari sepeda motor atau mobil, dan atau menyeberang jalan maka tim ini akan membantunya.

Tim penyambutan ini terdiri dari 4 – 6 siswa yang bertugas membantu teman-temannya terutama pada adik kelasnya dengan memberinya salam

Dengan pola pergaulan yang membantu teman terutama adik kelasnya maka tercipta rasa kasih sayang di antara siswa dan kebiasaan membantu temannya bila ada yang mengalami kesulitan.

Tentu saja dalam penyambutan selamat datang maupun saat pulang ini guru juga harus ikut menyambut anak-anak, bukan seperti kebiasaan yang terjadi, guru begitu datang parkir kendaraan lalu masuk kantor menyiapkan materi hari ini, namun gur bersama kepala sekolah wajib menyambut anak-anak yang datang, bukan hanya anak-anak kelas 1 yang baru tapi menyambut semua anak. dengan demikian kesan hari itu akan nyaman di sekolah sudah diperoleh semua siswa dengan sambutan yang penuh senyum ramah dari guru dan teman-temannya

Kedua adalah pola pergaulan yang inklusif

Keberagaman anak dalam sekolah inklusif yang tinggi memiliki peluang adanya dominasi anak yang kuat terhadap yang lemah. Karena itu penangangan anak-anak disablilitas tidak terpisah. Memang ada saatnya kelas khusus bagi anak-anak disabilitas yang kematangan kemandirian dan sosialnya belum tercapai.

Bagi anak-anak yang sudah mencapai kematangan kemandirian dan sosialnya maka pembelajarannya dicampur ke kelas normal, meski dengan materi yang berbeda. Ada kecenderungan anak-anak disabilitas ini untuk lebih dekat ke guru tertentu, sehingga bila anak-anak ini sudah bisa mandiri dan kematangan sosialnya tercapai maka anak ini diikutkan guru yang disenangi tadi, tidak masalah guru tadi mengajar di kelas berapa. Guru yang juga berfungsi sebagai Guru Pendamping Khusus ini pada dasarnya mendidik dua kelas, yang satu anak-anak normal sekelas dan kedua mengajar anak disabilitas dengan kurikulum dan materi belajar khusus untuk anak disabilitas yang ikut dengannya

TUREN, 14 JULI 2019
SEHARI SEBELUM HARI PERTAMA SEKOLAH

Editor : Mohammad Mahpur