Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 54

Berkawan dengan Literasi

0

Era 4.0, di mana berkembangnya teknologi yang semakin canggih menjadikan segalanya lebih mudah. Demikian halnya dengan literasi. Saat ini, literasi bukan lagi menjadi hal yang asing di khalayak ramai. Sayangnya, kurangnya budaya literasi justru menjauhkan kalangan anak muda yang seharusnya haus akan keilmuan.

KampusDesa–Empat Ramadhan 1440H lalu saya mendpat tagged status dari kawan sosial media saya. Judul statusnya Literasi Ramadhan.

“Wow, literasi benar-benar menjadi perbincangan menarik dan kosakata elok di kalangan para penyuka bacaan dan giat menulis”. Spontan hati saya takjub. Ya, baru kali itu saya tahu ada ‘Literasi Ramadhan’, biasanya ‘Safari Ramadhan’,  ‘Ramadhan Berbagi’ , ‘Tadarus Ramadhan’ dan apalah saja yang dilakukan di bulan Ramadhan bisa muncul istilah-istilah baru. Status yang berjudul Literasi Ramadhan ini memaparkan tentang simbiosis antara aktivitas baca tulis sebagai keniscayaan yang ada di dunia ilmu pengetahuan. Selain itu pula mengaitkan bahwa Ramadhan adalah bulan literasi dengan turunnya Surat al-Alaq (QS:96). Sumber literasi terhebat sepanjang sejarah ummat manusia adalah Al-qur’an itu sendiri. Ia adalah kalamullah dan sumber segala ilmu. Di bulan Ramadhan, aktivitas membaca, tadharus  Al-Qur’an meningkat, majelis ilmu tumbuh di mana-mana. Benar-benar bulan literasi!

Untuk tahu seputar uang tentang asal, penggunaan dan pengelolaannya ternyata “it is a must” ber’literasi’.

‘Literasi’ disandingkan dengan istilah yang berkesan baik, selalu pantas, tanpa ia memantaskan dirinya. 15 Maret  2019 saya terlibat dalam kepanitian halaqoh ekonomi dan keuangan yang diselenggarakan PC ISNU (Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nadlatul Ulama) Jombang di UNWAHA (Universitas Wahab Hasbullah). Ada makalah dari halaqoh ini yang menggadengkan keungan dengan literasi,  sehingga menjadi “literasi keuangan”. Gagasan literasi keuangan ini tentang kebijakan pemerintah terkait keuangan seperti sebaran pembangunan di Indonesia, pajak, bank syariah, komitmen pelaksana tugas bidang keuangan, entrepreneurs, satripreneur, ekonomi kreatif dan lain-lain. Ya, pantas kalau makalah tersebut mengambil gagasan keuangan yang disandingkan dengan “literasi”. Untuk tahu seputar uang tentang asal, penggunaan dan pengelolaannya ternyata “it is a must” ber’literasi’.

Dari “literasi keuangan” ini mengingatkan saya dengan siswa Paket C saya yang tahun lalu mempresentasikan mata pelajaran pengembangan kepribadian profesional. Ia menyajikan gagasan di depan teman sekelasnya tentang minatnya di tata rias kecantikan. FYI (for your information), mata pelajaran kepribadian profesional kami sajikan dalam bentuk tutorial dan berbasis pada minat dan bakat siswa yang dikemas dalam diskusi panel. Tutor sebagai moderator saja.

Literasi pantas bersanding dengan kecantikan sehingga menjadi literasi kecantikan.

Saya baru “ngeh” bahwa merias wajah itu tidak asal pasang bedak dasar, bedak tabur, alis mata, eye shadow, lipstick, dan lain sebagainya. Dari presentasi siswa saya ini, menginformasikan bahwa pilihan warna perangkat make up yang dipakai seseorang itu selayaknya agar menyesuaikan dengan warna urat nadi orang tersebut. Dari presentasi ini saya juga penasaran, saya menambah pengetahuan lagi dengan googling. Oh, ternyata “warna urat nadi” ini mengambil istilah “undertone”. Undertone ini bisa digunakan dalam memutuskan untuk memakai warna yang cocok dalam hal berbusana dan tata rias kecantikan. Dari sini, saya yakin bahwa “literasi” pantas bersanding dengan “kecantikan” sehingga menjadi “literasi kecantikan”.

Bedah Web Kampus Desa For Digital Literacy di Pusat Kegiatan masyarakat (PKBM) Bestari Jombang Jawa Timur pada tanggal 10-11 Agustus 2019.

Ada pula digital literacy, adalah literasi berbasis digital, menggunakan alat, menggagas dunia baca tulis dalam format digital, dalam format website (media sumber Literasi berupa bahan bacaan atau tulisan), format fotografi (sumber literasi dalam wujud gambar) dan video (sumber literasi dalam wujud rekaman kegiatan yang bergerak). Semuanya tersaji dalam wujud karya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Untuk literasi yang terakhir ini, Anda bisa pelajari bersama Kampus Desa dalam kegiatan Bedah Web Kampus Desa For Digital Literacy di Pusat Kegiatan masyarakat (PKBM)  Bestari Jombang Jawa Timur pada tanggal 10-11 Agustus 2019.

Akhir dari yang akhir, untuk tahu banyak hal, kita memang perlu berkawan dengan literasi.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Tiga Macam Gaya Piknik Perempuan Sibuk Di Ruang Publik

0

Menjadi wanita karier pasti tidak mudah. Sesekali kita memang harus istirahat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan yang menjenuhkan. Misalnya saja piknik. Namun piknik, tidak hanya perihal keluar rumah lalu pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan. Sederhananya, kita harus tahu apa saja yang bisa membuat kita bahagia. Bukankah jika seorang ibu bahagia, maka seluruh keluarga juga ikut bahagia?

KampusDesa–Wanita karier, mungkin sebutan singkatnya begitu bagi perempuan yang memilki aktivitas padat di ruang publik. Wanita karier dapat dipastikan memiliki pertimbangan baik dalam kerjanya temasuk membuat pilihan-pilihan aktivitas untuk mengurai kejenuhan dan keletihan tugas publiknya alias gaya pikniknya. Pilihan piknik bagi mereka tentunya didasari pada hasil yang membawa manfaat bagi diri dan lingkungannya, tidak sekedar piknik asal ‘happy’.

Berikut ini tawaran piknik  bijak dan membuat hati lega dan pikiran bisa segar kembali.

Bagi wanita karier, menciptakan lingkungan yang  indah atas jerih payahnya sendiri adalah kepuasan batin yang tak kalah pentingnya dengan deadline tugas kantornya.

Pertama, sebagai perempuan yang menyukai keindahan meskipun sibuk bekerja, wanita karier memenuhi kebutuhan pikniknya bisa dengan merawat bunga-bunga di halaman atau di kebun rumahnya, kesempatan memberi hari libur bagi tukang kebun juga bukan? Bagi wanita karier, menciptakan lingkungan yang  indah atas jerih payahnya sendiri adalah kepuasan batin yang tak kalah pentingnya dengan deadline tugas kantornya.

Kedua, kembali ke dapur.  Selain memasak, banyak yang dikerjakan di sana, bisa mencuci alat memasak dan alat makan, dan membersihkan dapur. Dijamin pikiran akan fresh kembali karena wanita karier  pasti menyukai lingkungan bersih dan tertata rapi, apalagi di rumahnya sendiri.

Ketiga, membersihkan, merapikan dan menata kembali rumahnya. Aktivitas ini bisa berupa menyapu rumah, mengepel lantai, mencuci baju anggota keluarganya dan lain-lain. Wanita karier adalah perempuan yang suka melihat semua pekerjaaan beres pada waktunya; tidak terbiasa menunda pekerjaan .

Bercengkrama dengan suami dan anak-anak boleh pula disebut piknik, namun tidak kalah menyenangkan apabila ketiga tawaran di atas bisa menjadi pilihan alternatif bijak berpiknik yang lebih mengarah pada hasil yang berkualitas daripada pergi ke tempat wisata dengan meninggalkan rumah yang selalu diurus asisten rumah tangga atau bahkan tidak terurus sama sekali. Bisa jadi fresh saat di resort namun pulang akan suntuk lagi melihat rumah dan perabotannya berantakan dan kotor.

Wanita karier yang sukses adalah perempuan cerdas yang mengabdikan dirinya untuk kebermanfaatan sebanyak banyaknya kehidupan, temasuk saat ia memilih bentuk pikniknya.

Tentu saja, ketiga tawaran tersebut tidak selalu harus dilaksanakan bersama -sama. Sekali lagi, perempuan harus menggunakan kecerdasannya untuk memutuskan  kegiatan apa yang mampu ia lakukan agar pikirannya fresh kembali dan menghasilkan suatu yang bermanfaat untuk lingkungannya. Wanita karier yang sukses adalah perempuan cerdas yang mengabdikan dirinya untuk kebermanfaatan sebanyak banyaknya kehidupan, temasuk saat ia memilih bentuk pikniknya.

Memang sepertinya ada naluri bahwa mengurusi ruang domestik bagi perempuan  itu membuathati menjadi tenang dan senang.

Ada ungkapan Jawa yang mengatakan “sakduwur duwur e pendidikan e wong wadon, mlayune tetap nang pawon”  (Bagaimanapun tingginya pendidikan perempuan, akan kembali juga ke dapur). Tidak bermaksud melakuan penggembosan terhadap perjuangan feminisme, memang sepertinya ada naluri bahwa mengurusi ruang domestik bagi perempuan  itu membuat hati menjadi tenang dan senang. Saya sudah membuktikan. Silakan Anda mencobanya.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah 

Grafoterapi ; Melatih Motorik Halus Anak-anak yang Memerdekakan Imajinasi

0

Dari diskusi hangat pada raker guru kemarin siang, pengalaman memulai pelajaran menjadi salah satu informasi pembelajaran. Diskusi demikian sangat bermanfaat untuk meningkatkan kreatifitas guru. Apalagi berdiskusi seputar pengembangan Grafoterapi untuk pembelajaran anak-anak PAUD.

Buku modul pembelajaran membaca dan menulis untuk anak-anak didik kami sudah lama siap. Sekarang saatnya mengupgrade para ibu guru nya yang akan memandunya. Merekalah yang akan berjuang di lapangan untuk mengajari anak-anak usia dini mengenal aksara dan mengembangkan kemampuan berbahasa.

Formula pembelajaran di dalam buku panduan jelas mengisyaratkan pelibatan secara sistematis aspek-aspek pembelajaran bahasa secara lengkap. Yaitu aspek pengamatan, aspek pendengaran atau menyimak, kemampuan berkomunikasi, pengembangan kosa kata serta motorik halus. Karena bahasa mencerminkan perilaku sekaligus tata krama, maka unsur pembiasaan akhlak mulia pun kami sertakan di dalamnya .

Dengan pencerahan berdasarkan teori ilmu grafologi saat ini, saya serasa memegang “Tongkat Nirmala.” Itu lho, bidadari baik hati yang suka membantu orang dengan tongkat saktinya dalam Kisah dari Negeri Dongeng di majalah Bobo. Untuk poin pembahasan penting dalam pertemuan saya dengan para guru saat itu, saya garis bawahi tentang keajaiban latihan motorik halus bagi pembentukan karakter anak usia dini. Jadi semacam melatih motorik halus anak sambil mengkode atau mengarahkan mereka pada perilaku yang baik dan ideal?

Bisa ya? Tanya mereka. Kenapa tidak? Grafoterapi tongkat saktinya. Jawab saya meningkatkan kadar kepo mereka.

Yah biar tidak kepo-kepo amat, sekalian saya pandu arah diskusi itu ke ujung dermaga tujuan pembelajaran kami 2 tahun mendatang. Saat itu perkembangan motorik halus/ kasar serta kemampuan kognitif mereka sudah semakin matang. Beberapa hal yang perlu kita ajukan:

Inginnya melihat anak-anak cekatan dalam berpikir dan bertindak atau slow respon?

Maunya anak-anak mudah bersosialisasi dan berbagi, atau malah tertutup dan egois?

Inginnya melihat mereka punya motivasi intrinsik tinggi, atau justru harus selalu didorong-dorong kayak mobil mogok kalau hendak maju?

Ingin anak-anak pandai mengelola uang jajannya atau boros tak terkendali?

Nah, biasanya diperlukan jurus-jurus pelajaran etika dan akhlak untuk mengarahkan anak pada nilai-nilai ideal tersebut. Ternyata, ada peluang besar untuk menuju perilaku yang positif itu dari moment melatih motorik halus ketika mereka belajar menulis di kelas? Dengan cara apa? Ya grafoterapi itu.

Grafoterapi bertujuan untuk mendapatkan perubahan yang spesifik untuk memperbaiki atau mengurangi, mengembangkan atau memperkuat karakter maupun sifat seseorang melalui perubahan tulisan tangannya.

Tulisan tangan adalah pesan pikiran bawah sadar seseorang yang tertuang di atas kertas melalui otot-otot dan saraf-saraf tubuhnya. Pun sebaliknya, seseorang dapat mengirimkan pesan pada pikiran bawah sadar melalui tulisan tangan. Grafoterapi bertujuan untuk mendapatkan perubahan yang spesifik untuk memperbaiki atau mengurangi, mengembangkan atau memperkuat karakter maupun sifat seseorang melalui perubahan tulisan tangannya. Ikhtiar yang dilakukan melalui grafoterapi tersebut selanjutnya akan menjadi respon otomatis dalam diri seseorang.

Grafologi. Teknik membebaskan anak dari pola. Berkarakter dan berdaya cipta

Dalam dunia pendidikan anak usia dini, guru adalah pelatih yang akan mengarahkan atau membantu secara sistematis anak didiknya sesuai dengan konsep dan tujuan yang telah ditetapkan. Bekal ilmu grafologi akan sangat berguna sebagai bekal mereka sehingga mereka tidak asal saja dan ngawur dalam memilih materi latihan untuk pembelajaran anak. Dengan pertolongan Allah, siang ini mereka akan paham, yakin dan penuh rasa percaya diri saat memutuskan untuk para anak didik mereka yang pintar, lucu dan polos itu:

Memilih tulisan baku dengan huruf cetak atau bersambung?
Menjaga keseimbangan 3 zona penulisan atau membiarkan anak-anak mengabaikannya?
Melatih ketelitian dalam penggunaan huruf kapital atau tidak?
Membiarkan anak membuat coretan di awal dan akhir kata atau mencegahnya?
Sebagai guru menggunakan komunikasi dengan tulisan yang dibubuhi emoticon atau tidak?

Dalam grafologi semua ada konsekuensi dan implikasinya. Sebagai guru tentu saja kita harus memilih yang terbaik untuk anak didik kita. Jadikan alat tulis mereka tongkat sakti yang akan mengantar mereka pada tumbuh kembang kepribadian yang lebih positif dan optimal!

Cemorokandang, 22 Juli 2018

Iin Takim Wahyuni. Praktisi Pendidikan Anak Usia Dini dan Certified Business Handwriting Analyst

Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 2)

0

Perjalanan panjang itu pun dimulai. Detik demi detik kami lalui dengan selalu menengadahkan harapan kepada Sang Kuasa. Aku meyakini Tuhan tak mungkin memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Meskipun tidak mudah, aku berusaha untuk tetap sabar, tegar, dan juga tangguh menghadapi kerikil yang terkadang membuatku terjatuh ini.

KampusDesa–Dan petualangan kami pun dimulai. Aku mulai menjalankan arahan-arahan dokter Sasanti satu persatu. Pertama-tama aku mencari alamat tempat terapi yang diberikan dokter Sasanti. Ternyata tempatnya lumayan jauh dari tempat tinggalku bahkan untuk ke sana harus nambang (menyeberangi sungai Brantas menggunakan perahu yang dikaitkan pada seling). Aku pun mencari informasi ke pengelola tentang persyaratan mendaftar dan apa saja yang akan dilakukan untuk menangani Wildan. Wow, ternyata pendaftarannya cukup mahal untuk ukuranku, belum uang bulanannya, sedangkan aku harus rutin ke Surabaya untuk terapi biomedis. Aku berkata kepada pengelolanya bahwa aku akan berpikir terlebih dahulu mengingat kondisiku yang akan melahirkan dan tempat yang lumayan jauh sedang suami tidak bisa mengantar karena harus bekerja. Tak lupa, aku mengamati bagaimana proses menerapi yang ada di tempat tersebut. Aku juga bertanya ke beberapa orang tua yang sedang menunggui putra putrinya diterapi. Dari situ aku mendapat info kalau terapisnya ternyata bukan orang yang sabar. Dia tahu anak-anak yang ditunggui orang tuanya dan tidak. Anak yang tidak ditunggui orang tuanya sering mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya, misal dikatai dengan kata-kata kasar bahkan diumpat. Berkata kasar? Mengumpat? Oh itu tentu tidak terjadi bila si terapis itu tulus dalam menerapi anak autis. Akhirnya tempat terapi aku masukkan blacklist meski aku belum tahu harus mencari terapis ke mana.

Kadang aku meneteskan air mata tiap kali melihatnya harus menelan kekecewaan karena tidak bisa makan sebebas teman-temannya. Tapi itulah perjuangan, semua butuh usaha keras dan pengorbanan, termasuk korban perasaan.

Langkah berikutnya adalah melakukan diet Casein Free-Gluten Free seperti yang disarankan. Semua makanan yang mengandung terigu dan susu harus dihindari. Wildan yang hobby berat makan mi goreng harus distop, mengurangi konsumsi gula, menyingkirkan jauh-jauh susu dan roti, menghentikan makan di luar rumah dan menghilangkan MSG dalam daftar bumbu masakan serta menyediakan air minum yang sehat yang tidak mengandung banyak logam berat. Aku pun memilih salah satu merk air kemasan dalam botol ukuran 1500 ml. Aku tidak memilih air isi ulang galon dengan merk yang sama karena rawan dipalsukan, dan tidak memilih yang dikemas dalam gelas plastik karena ditakutkan mengandung mikroplastik. Nampaknya mudah ya tinggal mengganti makanan yang dilarang dengan jenis yang lain? Wah tidak semudah itu. Wildan sering menangis setiap kali makanan yang dimauinya tidak dituruti. Mau dijelaskan juga percuma dia tidak akan mengerti penjelasanku. Kadang aku meneteskan air mata tiap kali melihatnya harus menelan kekecewaan karena tidak bisa makan sebebas teman-temannya. Tapi itulah perjuangan, semua butuh usaha keras dan pengorbanan, termasuk korban perasaan.

Anjuran dokter selanjutnya yang aku lakukan adalah mengganti alat-alat masak yang terbuat dari aluminium ke stainlees. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghindari masuknya logam berat ke dalam tubuh. Alat masak aluminium saat dipanaskan dalam suhu tertentu akan melepaskan logamnya sehingga dapat menambah jumlah logam berat dalam tubuh ketika kita mengkonsumsi masakan yang menggunakan alat masak dari bahan aluminium. Tentu ini juga butuh biaya. Apalagi tabungan kami untuk persiapan melahirkan habis untuk biaya ke rumah sakit dan dokter. Akhirnya kulakukan secara bertahap.

Ada satu hal esensial dalam menangani anak autis yaitu terapi perilaku (behaviour therapy). Alhamdulillah sebulan setelah aku membatalkan bergabung ke sebuah tempat terapi yang pernah aku kunjungi, ada kabar gembira dari kakak perempuanku. Dia memberi tahu ada terapis dari Surabaya yang pindah ke Pare karena melahirkan. Aku diberi nomor telponnya dan diminta segera menghubungi. Benar saja, sang terapis segera menyatakan kesediaannya setelah aku hubungi. Ah senangnya hatiku. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk terapi yang cukup mahal pada waktu itu. Hal ini disebabkan karena rumah beliau lumayan jauh dan rute perjalanannya harus memutar akibat belum ada akses jembatan sungai Brantas yang dapat menghubungkan Nganjuk dengan Kediri.

Wildan Fuadi

Banyak berdoa membuatku lebih tenang dan lebih optimis dalam menghadapi tantangan yang kami temui selama menangani Wildan.

Satu usaha lain yang aku lakukan adalah banyak berdoa. Setiap malam berusaha mendekatkan diri kepada Yang Maha Hidup, memohon diberi rizki, diberi kemudahan dalam menangani Wildan, dan tentu juga memohon agar Wildan kelak menjadi anak yang normal seperti teman-teman seusianya dan menjadi anak yang sholih. Tiap kali ada kyai yang memberikan doa untuk aku amalkan pasti aku lakukan. Banyak berdoa membuatku lebih tenang dan lebih optimis dalam menghadapi tantangan yang kami temui selama menangani Wildan.

Ternyata menangani anak autis seperti Wildan cukup menguras energi, biaya, waktu, dan perasaan atau mental. Kalau hanya soal biaya kita bisa meminta pada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kaya yaitu Allah SWT, menurutku. Tekanan mental dari keluarga dan lingkungan sangatlah berat. Alih-alih memberi semangat, banyak di antara mereka justru membuat down. Segala yang kulakukan dianggap hal yang aneh, tidak masuk akal, dan buang-buang uang. “Anak sehat kok dibawa ke dokter, buang-buang uang”. “Anak kecil lama-lama juga bisa bicara sendiri, gak perlu bingung”. Bahkan ada yang secara terang terangan mengatakan, ”Anakmu itu bukan autis. Itu karena kamu kurang memperhatikan dan tidak pernah mengajaknya berkomunikasi sehingga tidak bisa bicara. Kalau kamu tidak berhenti maka ekonomimu tidak akan berkembang karena uangmu habis untuk ke dokter, beli obat dan terapi”. Tidak heran jika aku punya banyak julukan: Ibu aneh, ibu yang tidak bisa mendidik anak (karena anakku hiperaktif dan seperti anak yang tidak punya sopan santun), istri yang tidak bisa diajak maju, orang gila, dan lain-lain. Hanya satu yang membuatku bertahan, yaitu sebuah pemikiran yang realistis: mereka tahu apa? Bukankah mereka tidak pernah kuliah di kedokteran apalagi memahami tentang psikologi anak? Maka yang harus aku ikuti adalah anjuran dokter yang mempunyai keilmuan tentang autis.

Rasa sungkan menolak makanan menjadi tantangan tersendiri.

Menjalankan program diet dan menghindari terpaparnya logam berat sebagai bagian penting dari menangani anak autis pun tak kalah susahnya. Lihatlah di toko-toko yang menjual makanan kecil. Bisa dibilang 99,9 % terbuat dari tepung terigu dan mengandung susu. Makanan olahan yang ada pun umumnya dimasak menggunakan alat masak yang terbuat dari aluminium. Itu artinya bila kita keluar rumah harus membawa makanan sendiri. Bagaiman kalau pas hari raya idul fitri? Nah itu dia. Rasa sungkan menolak makanan menjadi tantangan tersendiri. Namun aku tetap kukuh menjalankannya meski sering kali dikomentari “Ah ora po-po, anggep ae dadi tombo” (Ah, tidak apa-apa, anggap saja sebagai obat). Padahal sedikit atau banyak makanan tersebut mempunyai pengaruh yang sama. Bahkan kadang aku berselisih dengan ibu mertua karena diet ketat yang aku terapkan pada Wildan. Aku bisa mengerti, sebagai seorang nenek tentu beliau ingin menyenangkan cucunya dengan memberi makanan. Untungnya tetangga sekitar mengerti dengan program diet Wildan sehingga mereka tidak pernah memberi makanan kecuali buah.

Bersambung>>>

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

Tak Asal Jadi Guru, Jadi Guru yang Tak Asal

0

Satu di antara permasalahan mendasar dan laten dunia pendidikan kita yang sampai hari ini masih kerap dikeluhkan adalah rendahnya profesionalisme dan kompetensi guru.  Permasalahan ini kerap dituding sebagai akar dari rendahnya kualitas pendidikan tanah air. Berbagai upaya pun telah dilakukan untuk menggenjot kualitas guru. Namun, hasilnya belum juga signifikan dirasakan. Justru berbagai upaya tersebut, malah melahirkan masalah-masalah baru.

Di lain pihak, rendahnya kualitas pendidikan nasional tidak bisa begitu saja dibebankan kepada guru. Sebagaimana diketahui bersama, nasib guru di negeri ini juga tidak sedikit yang memprihatinkan. Beban kerja yang berat namun kurang mendapatkan apresiasi yang pantas. Banyak guru yang masih tertatih-tatih kesejahteraannya.

Buku ini bukanlah buku referensi akademik yang berat dan sarat teori berkaitan dengan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru. Buku ini hanya bermaksud menjadi teman ngopi dan nyantai bagi para guru dan calon guru yang bisa membangkitkan semangat transformasi diri. Bahasa yang digunakan juga bahasa ngopi.

Lewat buku ini, penulis ingin mengajak para guru untuk terus berpacu men-driving diri menjadi guru yang berkualitas, guru yang profesional dan berintegritas. Sehingga nantinya tidak asal menjadi guru dan menjadi guru yang tak asal.

Selamat membaca!

Penulis: Sigit Priatmoko
Tebal: 174 halaman
Penerbit: Madza Media
ISBN: 978-602-5833-76-2
Harga: Rp. 55.000*
Tahun: Mei 2019

*Harga belum termasuk ongkir (reseller dipersilakan, langsung kontak ke penulis)

Pemesanan bisa langsung ke penulis:

WA: 081216703170, email: sigitpriatmoko@gmail.com, Ig: sigit_priatmoko

Berproses Menjadi Juara Untuk Dirinya

0

Kampusdesa.or.id–Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Pak Kentar Budhojo dan Opa Budi Trikorayanto sudah tahu kalau dia suka pada kendaraan. Tes drive pertama adalah saat kami sekeluarga mengisi talk show tentang homeschooling di Bali.

Abinya yang memang ngantukan kalau pegang stir dia bantu. Kemudian menjadi bagian di team oprak-oprak mobil di salah satu kampus meski masih belajar di paket B (setara SMP). Berlanjut mencari sendiri bengkel yang dia bisa banyak magang, tujuannya yaitu supaya bisa belajar dan berkesempatan dipercaya bawa kendaraan dari mobil balap hingga alat angkut (towing) mobil balap.

Menyadari Abinya yang juga empot-empotan membangun satuan pendidikan alternatif, dia berusaha mencari pendana dari hobinya itu. Maklum menjadi Pembalap butuh modal yang tidak sedikit. Pernah saya ketemu sama pemilik mobil yang dipakai race di lintasan, dia perlu beli mobil seharga 500 juta dan masih butuh lagi sekitar 200 juta, biaya yang bagi saya sudah bisa membuat 3 rumah pohon yang nyaman bagi anak di komunitas “Sekolah Dolan”.

Alhamdulillah potensi bakat competition, focus, dan maximizer yang dimiliki membuat dia makin dipercaya menjadi marketing bengkel drag-nya, mengelola usaha jasa transpotasi (towing) dan sekaligus berkesempatan bisa ikut seri balapan diberbagai kota.

Beberapa pembalap memang akhirnya memutuskan selesaikan pendidikan SMA nya dengan homeschooling (legalitas paket C) karena dengan jalur itu dia bisa lebih leluasa menata jadwal belajarnya dan membuat kurikulum model pembalap yang harus rutin berlatih dan mbengkel tiap pekan.

Di antaranya ada mas Hidayat Fathan yang kuliah di UB juga punya banyak prestasi Balap bergengsi, masih ada Hafidz yang keluar dari MAN Jl. Bandung demi meraih preatasi dan lulus paket C sekarang kuliah di Jurusan Pengairan UB, masih ada lagi Mas Dimas yang lulus tahun ini paket C nya dan diterima di Sistim Informasi UB.

Meski tidak terlalu menonjol di akademiknya (biasa kebanggan Kakek, Nenek dan yang lain kan selalu tanya ranking berapa? Sekolah di mana? Favorit bukan sekolahnya? Dia bisa jawab dengan kemandirian, kepekaan pada kebutuhan keluarga, mengelola bisnis sejak SMA dan memiliki banyak teman karena dalam talents mapping juga ada potensi bakat lain yang dia punya yaitu relator.

Menikmati hubungan yang dekat atau erat dengan orang lain secara pribadi dan menemukan kepuasan mendalam saat bekerja keras dengan teman-temannya untuk mencapai tujuan. Kemarin dia pamit berangkat ke Jogja untuk evient seri Nasional, setelah sehari sebelumnya full tidur di bengkel. Sewaktu salim pada abi dan umminya dia masih merengek “sangunya dong Bi,” he he…

Saya yang lagi asyik baca, wah pembalap harus punya modal dong! Dia menjawab, iya ini hotel sudah dibayarin, mobil disiapkan saya hanya butuh untuk makan kok, maka sayapun janji untuk transfer sangunya esok hari karena udah malam.

Selamat ya Nak… Selalu bermanfaatlah bagi banyak orang. Semoga itu yang bisa membawamu sukses. Tetap belajar berproses sembari menjawab pesimis dengan menjadi juara. Nikmati petualangan pendidikanmu di bisnis-bisnis kreatif. Sehingga nantinya bisa membantu banyak orang yang butuh ilmu yang kamu pelajari. Aamiin

Kinerja Guru Tidak Sesuai Harapan, Mengapa?

0

Keluhan, kritik dan autokritik pada guru berhamburan, baik secara terbuka atau dalam berbagai saluran yang lebih ilmiah. Rumitkah guru didorong berubah? Alih-alih mengajak guru berubah, kristalisasi problem profesi guru sebagai tumpuan peradaban sepertinya terus terkoyak dan berada dalam himpitan politik kebijakan. Bagaimana sebaiknya guru?

Kampusdesa.or.id–Membaca status salah satu sahabat facebook saya dengan nama akun Budi Trikorayanto pada tanggal 26 Nopember 2017 dan komentar-komentar yang ada di dalamnya tentang kritiknya terhadap kinerja guru cukup menarik untuk diikuti, walaupun saya tidak ikut berkomentar.

Pendapat saya sebagai guru, tentang kritik terhadap kinerja guru ini tentunya sebagai koreksi positif agar bisa membenahi kualitas mengajar saya. Di sini saya tidak perlu menilai sesama teman seprofesi.

Banyak hal yang selalu saya amati pada diri saya sendiri dan mitra saya yaitu siswa siswa saya dalam proses belajar mengajar ini. Saya pernah melewati masa di mana saya pernah idealis sebagai guru dengan aturan kelas sedemikian rupa. Waktu itu ada yang pro dan kontra. Saya menyadari bahwa segala perjuangan untuk menjalani kebaikan pasti ada ujiannya, begitulah cara saya agar tetap idealis sebagai guru: yang memulai dan mengakhiri pelajaran tepat waktu, menjadi bawel ketika mengetahui ada siswa yang tidak patuh dengan aturan sekolah seperti seragamnya yang tidak sesuai dengan ketentuan, etika berkomunikasi dengan guru yang tidak santun, tidak menghargai kawannya, tidak menghargai waktu dan pelanggaran kecil yang sering dilakukan hingga menganggapnya hal itu sebagai hal biasa (tidak berkaos kaki, abaikan tugas rumah). Soal perangkat mengajar saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar, karena ini berkaitan dengan jabatan lain di dunia pendidikan.

Apa yang saya kerjakan dengan idealitas sebagai pendidik ini bisa terlihat tiga tahunan setelah siswa siswa tidak lagi belajar bersama saya. Pernah suatu kali saya benar benar kecewa dengan prilaku siswa saya yang terlambat masuk kelas lebih dari 10 menit. Ia tidak saya perkenaankan masuk kelas, dan tanpa sepatah kata permohonan maafpun ia meninggalkan kelas. Tiga tahun kemudian, saya mengajar adiknya di kelas 10, saya tidak mengetahui kalau ia adalah adik dari siswa yang pernah saya keluarkan tersebut. Ia bercerita singkat kepada saya.

“Jadilah orang seperti Bu Tatik, disiplin dan tegas….” Waktu itu saya tidak meminta penjelasan “disiplin dan tegas” ini, karena saya langsung menyimpulkan bahwa kakaknya yang saya keluarkan dari kelas tersebab datang terlambat di kelas ini menaati aturan saya, padahal saya berharap dia minta maaf dan memohon untuk mengikuti kelas saya. Rupanya ia ingin konsisten dengan aturan daripada melobi saya untuk belajar di kelas saya.

Saya juga masih ingat, betapa repotnya siswa saya ketika ia berbusana tidak sesuai dengan ketentuan. Dia akan pinjam kelas sebelah demi menaati aturan sekolah saat jam pelajaran saya. Mereka juga pernah berkata,

“Pengawas ujianya Bu Tatik? Siap siap saja pulang maghrib,” wajar pernyataan ini dilontarkan karena saya mengawasi betul proses ujian sehingga tidak ada kesempatan bagi siswa curang dalam ujian.

Saya tidak pernah mencari tahu atau survey apakah saya guru idola bagi siswa-siswa saya. Sejak awal jadi guru sampai kini yang ada dalam pikiran saya, bagaimana saya berhasil jadi guru sesuai amanat undang-undang dan aturan agama saya. Saya tahu bahwa menjadi guru memang mudah dibanding profesi lainnya, bahkan seolah profesi pelarian jika cita-cita utama tidak tecapai. Tapi, saya merasa bersalah kalau saya menjadikan prilaku biasa dalam mengabaikan tugas yang mulia ini.

Kembali kepada kinerja guru. Berdasarkan pengalaman saya, ternyata hari demi hari, waktu demi waktu sayapun mulai berubah. Yang mulanya saya idealis dalam mengajar dan membina siswa-siswa saya, segalanya berubah. Saya mulai repot dengan tugas sebagai pengelola pendidikan nonformal dan informal,  terlibat dalam organisasi, menggeluti hobby menulis, dan mengikuti kegiatan ilmiah. Sayapun melihat, bahwa ada hal yang berbeda dari siswa-siswa jaman dulu dan jaman sekarang.

Entahlah, banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar di dunia pendidikan di sekitar saya. Bagaimanapun mendidik adalah tugas dan tanggung jawab pribadi masing-masing guru di sekolahnya, tapi guru tidak dapat berjuang sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Guru juga butuh kerjasama dengan guru lainnya untuk membangun mental siswa agar suka belajar. Sekuat-kuatnya upaya guru agar siswanya senang belajar, ilmunya nampak bermanfaatnya dengan menaati aturan sekolah, juga terlibat dalam kegiatan tambahan di sekolah tidak akan berhasil dengan baik, kalau ada perilaku guru lainnya yang tidak peduli dengan dinamika belajar siswanya; ia hanya datang di kelas dan mengajar, lalu pulang. Apakah siswanya butuh perhatian dalam belajar dan pembenahan akhlak serta teladan bagi kepatuhan menjalankan aturan sekolah, guru ini tidak peduli.

Guru juga manusia, butuh diperlakukan baik, ya dihormati dan dihargai eksistensi dan keberadaannya sebagai pendidik. Guru bukan budak jaman dahulu, yang hanya kerja dan kerja untuk majikannya. Guru adalah mitra kepala sekolah

Gurupun butuh teladan dan kebijakan pimpinan dalam menjalankan tugas mengajar. Apakah mungkin kepala sekolah hanya menyuruh dan mengawasi kinerja guru semuanya akan beres? Rasanya tidak. Guru juga manusia, butuh diperlakukan baik, ya dihormati dan dihargai eksistensi dan keberadaannya sebagai pendidik. Guru bukan budak jaman dahulu, yang hanya kerja dan kerja untuk majikannya. Guru adalah mitra kepala sekolah, ia bisa dimintai pendapat, memberikan masukan demi kebaikan sekolah dan membutuhkan pendampingan yang proprosional dari kepala sekolah melalui kehadiran kepala sekolah di sekolah sebagai teladan, motivator, pemberi apresiasi bagi guru yang melaksanakan tugas dengan baik, memberi nasehat tanpa meninggalkan rasa menghormati pribadi guru. Silahkan dibaca Peraturan Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang standart Kepala sekolah/madrasah.

Pelaksanaan tugas guru juga perlu ditunjang suasana belajar yang nyaman melalui penyediaan sarana prasarana belajar yang baik, baik menurut saya tak harus mahal dan mewah, yang penting membuat guru dan siswa nyaman selama proses pembelajaran. Bisa dibayangkan dalam masa yang sudah memasuki pemanasan global ini, masih ada kelas dengan atap yang tak mampu mendinginkan hawa panas, seperti seng atau asbes, ditambah lagi pendingin ruangan yang peletakannya tidak bisa menyeluruh. Kondisi inipun tidaklah nyaman bagi siswa yang selama kurang lebih 5 jam di ruang kelas.

Bagaimanapun kreatifnya guru, kalau tidak didukung warga sekolah, kreatifitas guru seolah prilaku aneh, syukur kalau diapresiasi, bagaimana kalau justru dianggap biang ketidaktertiban warga sekolah.

Guru mungkin bisa menahan hawa panas ini, tapi sedikit kemungkinan ini bisa dilakukan siswa. Siswa akan duduk berebut di bawah kipas angin, berkipas-kipas yang dapat memicu kelas menjadi tidak tertib selama pembelajaran. Andaipun siswa diajak belajar di luar kelas, butuh seperangkat kebijakan yang mendukung agar tidak ada kelas lain yang dirugikan akibat pengaturan kelas yang berbeda dari kelas lain dengan mata pelajaran lain, bagaimanapun kreatifnya guru, kalau tidak didukung warga sekolah, kreatifitas guru seolah prilaku aneh, syukur kalau diapresiasi, bagaimana kalau justru dianggap biang ketidaktertiban warga sekolah.

Selain keterlibatan dalam kegiatan ilmiah, di era digital ini guru juga berkemungkinan mengikuti dinamika gaya hidup yang tidak jauh dari perangkat digital, terlibat dalam bisnis online, bisnis dengan metode MLM dan lain lain.

Disamping kedua faktor yang mempengaruhi kinerja guru tesebut, saya juga menyadari bahwa aktivitas guru dalam dinamika hidupnya tidak melulu berkutat dengan tugas mengajarnya. Sebagaimana yang saya singgung di atas, guru juga mungkin sibuk dengan urusan lain, seperti sibuk di organisasi profesi guru, selain MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), terlibat dalam organisasi kemasyarakatan, kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Keterlibatan ini saya kira sebagai upaya meningkatkan ilmu pengetahuannya sehingga guru memiliki pengetahuan dan pergaulan yang luas yang dapat menunjang profesinya. Selain keterlibatan dalam kegiatan ilmiah, di era digital ini guru juga berkemungkinan mengikuti dinamika gaya hidup yang tidak jauh dari perangkat digital, terlibat dalam bisnis online, bisnis dengan metode MLM dan lain lain.

Pembaca mungkin menganggap ini adalah apologi, agar bisa dimaklumi kinerja buruknya. Boleh saja disebut begitu, saat ini sayapun terus berupaya melawan kemalasan saya demi mencapai kinerja baik yang diharapkan semua pihak. Sebagai guru, sayapun tetap menghormati guru-guru baik dengan kinerja baik atau mungkin sedang berkinerja buruk. Bagi saya guru tetap harus dihormati terlebih guru-guru saya sendiri dan guru orang orang terdekat saya. Ini saya lakukan berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh ketika saya belajar di pesantren bahwa ketulusan guru dalam mengajar itu salah satu jalan ilmu kita bermanfaat. Saya pahami bahwa untuk mendapatkan ketulusannya dalam mengajar kita berkewajiban menghormatinya.

Adapun saya sebagai guru, senantiasa harus bersikap positif terhadap siswa dan orang tua wali murid. Andai mereka berperilaku tidak menyenangkan hati saya, saya anggap mungkin ia belum tahu bahwa hal itu tidak etis. Sementara siswa siswa yang sulit sekali fokus dan tidak begitu memperhatikan pelajaran saya, saya masih bersyukur ketika mereka tetap suka dengan aktivitas sekolah lainnya semisal kegiatan ekstra kurikuler, punya sikap suka menolong temannya dan lain sebagainya. Saya pegang pesan KH Maimoen Zubair

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik.

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”

Perempuan Dalam Pusaran Ekstremisme Islam (I)

0

Semakin hari, komodifikasi perempuan untuk gerakan radikalisme, ekstrimisme, dan pengantin bom bunuh diri atasnama agama mulai kentara. Bibit persemaiannya cukup beragam. Dari majlis taklim, testimoni media sosial melalui konten kebencian, turun jalan hingga bom bunuh diri. Sahdan, mengapa demikian? Apakah semua dibiarkan atau butuh prevensi sebelum para perempuan terjebak dalam komodifikasi?

Kampusdesa.or.id–Mei tahun lalu, publik seperti ditampar ketika mengetahui bahwa di antara pelaku pengeboman yang terjadi di tiga gereja di Surabaya adalah perempuan. Pemerintah, aparat keamanan, para pengamat, dan masyarakat umum seolah disadarkan bahwa ada gejala atau modus baru dalam aksi-aksi teror yang dilancarkan para jihadis. Modus tersebut adalah melibatkan perempuan di garis depan (front line) sebagai pengantin (istilah untuk pengebom bunuh diri).

Tidak hanya di Surabaya, bom panci yang terjadi di Jakarta Timur juga melibatkan perempuan. Berdasarkan laporan Direktur dari Rumah Kitab, Lies Marcus dalam acara workshop yang digelar oleh Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) FISIP UIN Jakarta (2017) penyerangan tersebut dirancang oleh perempuan.

Sebenarnya keterlibatan perempuan dalam pusaran ekstremisme bukanlah hal baru. Berbagai laporan menyebutkan bahwa perempuan memainkan beragam fungsi dalam gerakan ini sejak dulu. Misalnya laporan Maria Alvanoui yang dikutip Musdah Mulia menyebutkan beberapa fungsi yang dijalankan perempuan antara lain; informan, kurir, mata-mata, pendidik, perekrut, pelindung manusia (human shield), atau sekadar menjadi pemuas seks para jihadis.[ii]

Kasus bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya tahun lalu ini menunjukkan bahwa peran perempuan ternyata tidak sebatas apa yang dilaporkan oleh Maria Alvanou di atas. Melainkan telah meningkat perannya menjadi pengantin. Perempuan kini menjadi ‘senjata mematikan’ kaum jihadis yang lebih aman digunakan daripada laki-laki.

Perempuan tidak lagi memainkan peran domestik atau jihad shaghir (merawat keluarga dan menyiapkan logistik suami). Melainkan telah sejajar dengan laki-laki, yakni turut menjadi ‘syuhada’ dengan menjadi pelaku serangan.

Prof. Dr. Mufidah, M. Ag (kiri) sedang memberikan wawasan seputar tips mentransformasi dakwah damai bagi perempuan aktifis berpotensi ekstrimisme

Lalu bagaimana pola perekrutan perempuan hingga menjadi jihadis yang militan? Dalam kesempatan memberikan materi Pelatihan Penguatan Kapasitas Ulama Perempuan terhadap Isu Ekstremisme (22/7) yang dihelat AMAN dan Rahima di Hotel Pelangi, Malang, Mufidah Cholil, menjelaskan bahwa relasi gender patriarkhal memainkan peran siginifikan di sini.

Perempuan yang menjadi istri jihadis didoktrin bahwa menuruti peritah suami merupakan bentuk ketaatan yang imbalannya adalah surga. Selain itu, faktor lain adalah adanya iming-iming status sebagai istri dai/ustdaz yang gagah berani membela agama, fasilitas mewah. kurangnya daya kritis dan tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama.

Rendahnya posisi tawar tersebut menyebabkan perempuan mudah dipaksa untuk terlibat dalam aksi terorisme. Namun, masih menurut Mufidah, ada juga kasus dimana perempuan dengan sukarela menjadi pengebom. Hal ini terjadi terutama pada perempuan yang sudah melakukan internalisasi hikmah-hikmah yang ia petik dari posisinya sebagai istri kaum jihadis. Jika sudah sampai pada taraf ini, maka akan sangat sulit untuk diluruskan.[]

[i] Maria Alvanou, “Palestinian women suicide bombers: The interplaying effects of Islam, nationalism and honor culture,” Homeland Security Rev. 2 (2008): 1.

[ii] Siti Musdah Mulia, “Perempuan dalam Pusaran Fundamentalisme Islam,” MAARIF Journal 13, no. 2 (2018): 14–26.