Rabu, Mei 6, 2026
Beranda blog Halaman 53

Mengapa Jadi Sales Marketing Lebih Menarik daripada Jadi Guru?

0

Sungguhpun menjadi guru merupakan status sosial yang prestige di masyarakat, namun pada kenyataannya banyak guru yang ‘banting setir’ ke profesi lain karena ‘tanda jasa’ yang diterima tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Lagi-lagi kesejahteraan menjadi faktor utamanya. Persoalan laten ini ternyata belum juga terselesaikan di dunia pendidikan kita. Kisah menarik di bawah ini kiranya dapat kita jadikan bahan muhasabah.

Membaca buku yang berjudul  “Tak Asal Jadi Guru,  Jadi Guru yang Tak Asal” karya Sigit Priatmoko mengingatkan saya pada status di media sosial yang saya tulis dua tahun lalu. Status tersebut mendapatkan apresiasi like sebanyak 72 dan komentar sebanyak 19. Isi status tersebut adalah tentang pilihan hidup seseorang, antara jadi guru dan bukan guru. Cerita ini โ€œklikโ€ dengan penuturan Pak Sigit Priatmoko di awal-awal tulisan yang ada di bukunya itu. Seperti biasanya, saya tulis status tersebut dengan bahasa media sosial. Berikut saya tuturkan dengan gaya percakapan agar tidak merusak makna dari apa yang disampaikan lawan bicara saya.


Mejadi apa atau siapa adalah pilihan hidup. Pilihan dan jalan yang diambil mungkin memang lebih baik dan menyenangkan pribadi yang bersangkutan dan orang-orang terdekatnya. Pilihan-pilihan hidup itupun pasti tak jauh dari mind set yang sudah terbangun dalam diri masing-masing. Saya memiliki cerita dari apa yang saya dengar sendiri tentang pilihan profesi seorang anak yang dituturkan ibunya secara tak sengaja kepada saya .

Siang itu (31 Oktober 2017), saya ngobrol ringan dengan para pasien fisioterapi. Ruang tunggu pelayanan publik manapun pasti memunculkan interaksi sosial, termasuk ruang tunggu pelayanan fisioterapi di rumah sakit Kristen Mojowarno Jombang ini. Salah satu dari mereka, seorang ibu usia 60an tahun lebih, bertanya kepada saya.

โ€œMucal dateng pundi? โ€ (Memgajar di mana?) Hemmโ€ฆ penampilan saya menampakkan wajah pendidik rupanya. Padahal ini tidak sedang berbusana formal dan saya tidak sempat mengenalkan diri sebagai โ€œguruโ€ kepada ibu ini. Tanpa banyak pikir saya jawab pertanyaannya tersebut, singkat sesuai pertanyaannya. Lalu ia bercerita jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia begini.

โ€œAnak saya juga dulu ingin jadi guru, tapi mboten keturutan (tidak tercapai). Lulusan UNESAโ€ฆโ€

Ahai, rasanya saya bakal dapat calon guru baru ini! Hati saya bersorak suka cita mendengar ceritanya. Saat itu lembaga yang saya kelola membutuhkan guru, kalau putrinya mau mengajar di PAUD saya, kekosongan guru PAUD segera teratasi. Saya bersiap menawari ibu ini agar putrinya berkenan mengajar di PAUD yang saya kelola. Namun sebelumnya, tentu saya perlu mengetahui dulu penyebab tidak terpenuhinya cita-cita anak ibu tersebut.

โ€œKenging nopo mboten keturutan?โ€ (mengapa tidak tercapai?) tanya saya memacing informasi selanjutnya.

โ€œLha guru sukwan, gajinya Rp 400.000-Rp 500.000, tigang tahun dados guru, lajeng pindah dados salesโ€ฆโ€ (Jadi guru sukwan, gajinya  Rp 400.000- Rp 500.000. Tiga tahun jadi guru, kemudian pindah menjadi sales)

Ups! Langsung ciut nyali saya berharap mengajak putri ibu tersebut jadi guru PAUD. Tapi saya tidak selesai bertanya sampai di situ.

โ€œKerjanya di kantor ya, Bu?โ€ Tiba- tiba saja saya ingin tahu apakah pekerjaan yang dipilih anaknya ini selain pertimbangan gaji mungkin ada pertimbangan kenyamanan di tempat kerjanya, dan jawabanya di luar dugaan saya.

“Orang tua pasti memiliki kebanggaan tersendiri atas capaian anak-anaknya untuk diceritakan kepada orang lain”

โ€Tidak di kantor. Tapi jalan-jalan, sebagai sales marketingโ€ฆโ€ Jawabnya. Ia kemudian melanjutkan cerita pekerjaan anaknya yang lain, juga bukan guru. Saya mengira saja, mungkin gajinya juga besar atau lebih besar dari guru. Saya maklumi orang tua pasti memiliki kebanggaan tersendiri atas capaian anak-anaknya untuk diceritakan kepada orang lain. Saya jadi teringat pesan dan harapan almarhumah ibu saya, agar saya menjadi guru.

“Guru tidak dianggap sebagai aktivitas ekonomi karena saya disuruh ibu saya membuka toko pada siang harinya”

โ€œKalau kamu jadi guru, paginya mengamalkan ilmu di sekolah, pulang mengajar kamu bisa buka toko di rumah.โ€ Saya pahami dari pesan ibu saya ini, bahwa guru tidak dianggap sebagai aktivitas ekonomi karena saya disuruh ibu saya membuka toko pada siang harinya.

Semoga rezeki para pendidik Indonesia barokah, ada aktivitas lain selain menjadi guru agar tidak menggagu niat baik menjadi guru sebagaimana pesan Mbah Kyai Maimoen Zubair yang diviralkan sepanjang waktu.

โ€œNak, kamu kalau jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetep usaha, harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain, karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokahโ€.

Untuk mengingatkan saya sendiri, saya cuplik pesan sarat hikmah dari Ali Bin Abi Thalib  berikut ini. โ€œMencari rezeki jangan mencari banyaknya, tapi carilah barokahnya.”

Pramuka Digital, Melampaui Simbol Bendera Semaphore

0

Menyanyi, semaphore, menyanyi, tali-temali, ya, memang penting dalam kegiatan Pramuka. Tetapi gempuran teknologi informasi skill remaja telah bergeser begitu rupa. Jika tidak terinovasi kedalam kreatifitas digital, sepertinya tak juga semata disalahkan jika anak-anak remaja enggan tidak ikut Pramuka. Begitukah menurut Anda?

Kampusdesa.or.id–Pada momentum hari Pramuka ini perkenankan saya menyampaikan “Selamat Hari Pramuka ke-58. Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI.”

Apa yang ada dalam benak Anda ketika mendengar dan membaca ‘Pramuka’ sampai hari ini yang sudah memasuki era digital? Tentu di antaranya tetap lekat dalam benak kita adalah seragam coklat tua dan muda dengan dasi atau scarf berwarna merah putih dengan sebutan hasduk. Selain itu pula kita tidak bisa lupa bahwa di dalam Pramuka ada SKU (Syarat Kecakapan Umum) dan SKK (syarat Kecakapan Khusus). Penjelasan SKU dan SKK ini ada dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 9 ayat 3 disebutkan bahwa salah satu metoda pendidikan kepramukaan adalah Sistem Tanda Kecakapan. Sistem tanda kecakapan ini terdiri atas dua golongan yaitu tanda kecakapan umum dan tanda kecakapan khusus. Syarat tanda kecakapan umum (SKU) meliputi berbagai bidang dan semua Pramuka pada waktunya harus mencapainya. Sedangkan SKK (syarat tanda kecakapan khusus) meliputi hanya satu bidang saja. Selanjutnya lebih jauh mengenai SKK sesuai ketentuan tentang kecakapan khusus diatur oleh Gerakan Pramuka dengan Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 134/KN/76 Tahun 1976 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Kecakapan Khusus dengan 5 bidang kecapakan sebagai berikut.

Lima bidang SKK tersebut adalah:

Bidang agama, mental, moral, spiritual, pembentukan pribadi dan watak. Contoh SKK bidang agama, mental, moral, spiritual, pembentukan pribadi dan watak adalah SKK Sholat, SKK Penabung, SKK Khotib, SKK Muadzin,SKK Qori
Bidang patriotisme dan seni budaya. Contoh SKK bidang patriotisme dan seni budaya adalah SKK Pengatur Ruangan (khusus Pramuka siaga), SKK Pengatur Rumah, SKK Pengatur Meja Makan, SKK Pemimpin Menyanyi, SKK Menyanyi, SKK Pelukis, SKK Juru Gambar, SKK Pengarang.
Bidang Kesehatan dan ketangkasan. Contoh SKK bidang kesehatan dan ketangkasan adalah SKK Gerak Jalan, SKK Pengamat, SKK Perenang, SKK Penyelidik, SKK Juru Layar, SKK Juru Selam, SKK Pendayung, SKK Ski Air.
Bidang Ketrampilan dan teknik pembangunan. Contoh SKK bidang ketrampilan dan tekhnik pembangunan adalah SKK Juru Kebun, SKK Juru Potret, SKK Berkemah, SKK Peternak Ayam, SKK Pengumpul Perangko, SKK Juru Semboyan, SKK Menjahit, SKK Pengendara Sepeda, SKK Juru Masak, SKK Pencinta Dirgantara, SKK Pengenal Pesawat Terbang, SKK Juru Peta, SKK Navigasi Laut, SKK Komunikasi, SKK Penenun, SKK Perahu Motor.
Bidang sosial, perikemanusiaan, gotong royong, ketertiban masyarakat, perdamaian dunia dan lingkungan hidup. Contoh SKK sosial, perikemanusiaan, gotong royong, ketertiban masyarakat, perdamaian dunia dan lingkungan hidup antara lain SKK Pemadam Kebakaran,SKK Pengaman Lalu-Lintas, SKK Pengamanan Kampung/Desa, SKK Penunjuk Jalan, SKK Juru Bahasa, SKK Penerima Tamu, SKK Korespondensi, SKK PPPK, SKK Pembantu Ibu (khusus Pramuka siaga), SKK Perawatan Anak.
Sudah saatnya mengemas tolak ukur penilaian capaian masing-masing SKK dengan kemasan yang diminati para generasi muda (generasi Z) dengan melibatkan perangkat digital dengan atau tanpa jaringan internet.

Mencermati jenis-jenis SKK yang seharusnya dicapai oleh anggota gerakan Pramuka ini, sudah saatnya mengemas tolak ukur penilaian capaian masing-masing SKK dengan kemasan yang diminati para generasi muda (generasi Z) dengan melibatkan perangkat digital dengan atau tanpa jaringan internet.

Upacara Peringatan Hari Pramuka. MI Darul Faizin, Catakgayam, Mojowarno, Jombang.

Kita tahu bahwa gerakan Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah pada kurikulum 2013. Namun apakah hal ini akan menjadikan para siswa pasti mampu menjiwai visi misi dan tujuan gerakan Pramuka itu sendiri? Sepertinya sama dengan mata pelajaran lain, kemasan penyajian yang tidak peka jaman dan peka teknologi akan menyebabkan gerakan kepanduan ini tetap dikalahkan oleh aktivitas warnet-warnet yang dipenuhi para generasi muda, si Gen-Z ini. Tuntutan pengemasan kegiatan Pramuka yang peka digital ini akan menjadikan Pramuka sebagai kegiatan sekolah yang menarik, karena memang sasaran kegiatan Pramuka adalah para generasi muda yang hidup di era digital.

Saya kira kemasan kegiatan Pramuka yang melek digital tidak mengurangi makna dari ideologi kepanduan yang dicetuskan Bapak Pramuka sedunia Robert Baden Powell “Be prepared.”

HIS IDEA WAS THAT SCOUTS SHOULD PREPARE THEMSELVES TO BECOME PRODUCTIVE CITIZENS AND STRONG LEADERS AND TO BRING JOY TO OTHER PEOPLE. HE WANTED EACH SCOUT TO BE READY IN MIND AND BODY AND TO MEET WITH A STRONG HEART WHATEVER CHALLENGES AWAIT HIM (13TH/LATEST EDITION OF THE BOY SCOUT HANDBOOK).

Dalam praktek kekinian, menyelaraskan ideologi “be prepared” kegiatan Pramuka seharusnya mampu menstimulasi anggotanya (para siswa) agar menghasilkan karya yang memaksimalkan perangkat digital. Sehingga perangkat digital tidak hanya digunakan untuk ngegame, chat, dan aktivitas sosial media. Kegiatan Pramuka menjadi aktivitas yang menyenangkan tidak saja bagi para anggotanya tapi juga bagi orang-orang di sekelilingnya. Kegiatan Pramuka selain dipotret dan dibuat video untuk diunggah di akun sosial media, juga mampu memberi solusi pada dinamika kebutuhan hidup. Membuat catatan penting untuk disebarkan di sosial media atau media daring lainnya,  menyajikan foto dan video sebagai sumber informasi penyelesaian masalah yang bersesuaian dengan 5 bidang SKK, tentu akan menjadikan gerakan Pramuka ini lebih bermakna dan akan tetap diminati siswa. Pelibatan perangkat digital ini juga sangat memungkinkan anggota Pramuka menciptakan aplikasi yang terkait dengan salah satu atau bahkan 5 bidang SKK.

Jika kegiatan rutin Pramuka di sekolah masih seputar bernyanyi, membuat sandi, semaphore,  ketrampilan tali-temali dan pendalaman kegiatan yang merujuk kepada 5 bidang SKK, jangan beri sanksi kepada siswa yang tidak hadir dalam kepramukaan. Mari evaluasi, masih update-kah materi kegiatan Pramuka dengan kebutuhan dan peminatan siswa jaman digital ini.

Revolusi Kecerdasan Digital, Meningkatkan Branding Ala Kampus Desa

0

Digitalisasi di berbagai bidang kehidupan memaksa kita untuk turut melakukan upgrade diri. Kecerdasan baru pun harus kita miliki, yaitu kecerdasan digital. Penguasaan pada kecerdasan ini, akan membuat kita mampu melejitkan personal branding, sebuah kebutuhan dasar jika ingin ‘bicara banyak’ dalam kancah persaingan global. Peluang emas itulah yang ditangkap dan hendak dimaksimalkan oleh Kampus Desa.

Kampusdesa.or.idโ€“Sekitar pukul 08.00 WIB, acara Bedah Website Kampus Desa di PKBM Bestari dimulai. Acara dibuka langsung oleh Astatik Mufidah, selaku ketua PKBM Bestari. Kegiatan yang akan berjalan selama dua hari (10-11/08) tersebut dihadiri oleh 25 orang, baik dari PKBM Bestari maupun dari luar. Hari pertama, kegiatan dilaksanakan di MA Darul Faizin yang berjarak sekitar 300 meter ke utara dari PKBM Bestari.

Astatik dalam sambutannya menuturkan bahwa kegiatan semacam ini sangat diperlukan oleh PKBM Bestari. Menurutnya peserta didik di PKBM Bestari harus memiliki pengetahuan dan penguasaan media digital.

โ€œKami bersyukur sekali bisa dipertemukan dengan Kampus Desa. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat untuk lembaga dan diri peserta didik sendiriโ€ ujarnya.

Mengawali kegiatan, para peserta diajak Senam Kecerdasan oleh komunitas Radiasi Tenaga Dalam (RTD). Di bawah arahan instruktur Kholid Ahmad, mereka diajak mengenal titik-titik potensial yang berpengaruh siginifikan di dalam tubuh.

Antusiasme para peserta bedah web Kampus Desa

“Di dalam tubuh kita terdapat titik-titik yang jika dapat menjalankan fungsinya dengan baik mampu memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita”

โ€œSebenarnya di dalam tubuh kita terdapat titik-titik yang jika dapat menjalankan fungsinya dengan baik mampu memberikan dampak yang positif bagi kehidupan kita. Misalnya kelenjar tiroid, uluh hati, pankreas dan sebagainya.โ€

Memaksimalkan kinerja titik-titik syaraf tersebut, lanjut Kholid, akan membantu kita meningkatkan kecerdasan dalam bersikap dan menyelesaikan persoalan. Meski agak kikuk, peserta mengikuti setiap instruksi yang diberikan Kholid. Setelah diajak menghapal gerakan, peserta kemudian diajak olah nafas.

Kegiatan kemudian berlanjut kembali di kelas. Pada sesi kedua ini, giliran Rektor Kampus Desa, Mohammad Mahpur, yang menjadi fasilitator. Mahpur membeberkan tentang pentingnya membedah website Kampus Desa.

“Melalui media digital kita bisa membangun jejaring kerja atau network yang sangat dibutuhkan hari ini”

โ€œAcara ini sebenarnya untuk mengenalkan kepada saudara sekalian betapa pentingnya literasi digital di era sekarang ini. Melalui media digital kita bisa membangun jejaring kerja atau network yang sangat dibutuhkan hari ini. Selain itu, ya juga untuk promosi mengenalkan Kampus Desaโ€ paparnya diikuti gelak tawa peserta.

Mahpur menambahkan, media-media digital yang ada bisa dimanfaatkan untuk membangun citra diri (personal branding) dan menebar informasi manfaat yang kita berikan.

โ€œKita harus membuat cerita yang bisa membuat orang lain bercerita kepada orang lain dan seterusnya tentang kebaikan atau manfaat yang kita tawarkan. Manfaat yang tidak diceritakan, tidak akan diketahui orang lain. Kan percuma?โ€

Pada sesi berikutnya, para peserta kemudian diajak mengeksplor diri mereka sendiri oleh Alfin Mustikawan, Wakil Rektor Kampus Desa. Alfin mengajak para peserta menemukan otentisitas diri mereka. Otentisitas menjadi poin penting agar seseorang bisa bertahan di era global.

“Untuk dapat bertahan di era sekarang ini kita harus menjadi manusia otentik yang teredukasi”

โ€œSekarang ini kan banyak berkembang panjat sosial. Bahasa kerennya social climber. Seseorang jika ingin memiliki popularitas di dunia maya, ia harus mendompleng orang lain. Padahal untuk dapat bertahan di era sekarang ini kita harus menjadi manusia otentik yang teredukasi. Otentik itu sulit ditiru oleh orangโ€ paparnya.

Selain menggali potensi diri, peserta juga dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang literasi, terutama dalam hal menulis. Duo pemuda kreatif nan inspiratif yaitu Fathan Faris Saputro dan Relung Fajar Sukmawati didapuk sebagai fasilitator. Dua mahasiswa asal Lamongan ini memaparkan pentingnya menulis dan manfaat besar yang dapat diambil darinya.

Faris (Panggilan akrab Fathan Faris Saputro) merupakan founder Rumah Baca Api Literasi (RBAL) yang sudah malang melintang di dunia literasi. Tulisan-tulisannya sudah berserak di berbagai media. Beberapa Buku juga sudah ia terbitkan. Sementara Relung merupakan salah satu pemenang sebuah event berhadiah jalan-jalan ke Eropa yang diadakan oleh salah satu brand kosmetik ternama. Selain itu, ia juga aktif menulis. Beberapa buku sudah ia terbitkan dan laris manis di pasaran. Semua berkat kemampuannya โ€˜bermainโ€™ media digital.[]

Mengulik Pendekatan dan Strategi KBM Membudayakan Literasi di Pedesaan

1

Di era media sosial, literasi telah menjelma menjadi kebutuhan primer. Tanpa memiliki literasi yang baik, seseorang akan dengan mudah terjebak dalam pusaran efek negatif media sosial. Hoaks misalnya. Oleh karenanya, perlu pendekatan dan strategi yang tepat agar literasi tidak hanya dikuasai, tapi juga menjadi habit positif dan membudaya. Pendekatan dan strategi yang diterapkan oleh komunitas literasi KBM Bojonegoro kiranya laik untuk diketengahkan di sini.

Kampusdesa.or.idโ€“Kita Belajar Menulis (KBM) merupakan sebuah komunitas literasi yang didirikan oleh Slamet Widodo, Roni Hardiawan, dan M. Arfi Nur Iksan menjelang akhir 2017 silam. Komunitas ini memiliki concern membudayakan literasi di kalangan pemuda-pemudi desa, atau dalam dialek Bojonegoro disebut Cah Ndeso. Strategi yang ditempuh adalah dengan mengajak Cah-Cah Ndeso Jonegoro ini untuk mengasah dan mengembangkan keterampilan menulis mereka melalui media sosial berupa grup Whatsapp (WA).

Tulisan-tulisan anggota KBM sejak tahun 2018 sudah menghiasi berbagai media, baik cetak maupun online. Bahkan, banyak juga yang sudah berhasil menerbitkan buku.

Komunitas yang berpusat di Dusun Kedungsari, Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru ini dalam waktu yang relatif singkat telah berhasil memunculkan penulis-penulis muda berbakat. Tulisan-tulisan anggota KBM sejak tahun 2018 sudah menghiasi berbagai media, baik cetak maupun online. Bahkan, banyak juga yang sudah berhasil menerbitkan buku. Baik itu buku bunga rampai atau antologi, maupun buku solo.

Tidak hanya menulis, KBM juga berhasil mengembangkan berbagai potensi lain yang dimiliki anggotanya. Beberapa di antaranya ada yang telah muncul menjadi motivator, moderator, bahkan narasumber dalam berbagai event. Baik itu event daring maupun tatap muka.

Pencapaian KBM yang akseleratif ini tentu tak bisa dilepaskan dari pendekatan dan strategi yang diterapkan. Slamet Widodo sebagai figur sentral di komunitas ini berkali-kali dengan tegas menyatakan bahwa didirikannya KBM bukanlah untuk mengerek popularitas dirinya sendiri. Melainkan untuk dijadikan sebagai rumah belajar bersama bagi siapa saja yang berkomitmen untuk belajar.

Selain itu, Slamet Widodo juga selalu menekankan bahwa semua orang yang berada di KBM merupakan satu keluarga. Maka, panggilan akrab di dalam KBM tidaklah anggota, tetapi keluarga. Terhadap anggota yang masih berstatus sebagai pelajar, Slamet Widodo mampu tampil sebagai figur bapak sekaligus guru dan mentor.

Melalui pendekatan yang menitikberatkan interpersonal engagement ini, suasana di KBM terasa berbeda dengan komunitas menulis daring pada umumnya. Rasa kekeluargaan begitu kental di dalamnya

Melalui pendekatan yang menitikberatkan interpersonal engagement ini, suasana di KBM terasa berbeda dengan komunitas menulis daring pada umumnya. Rasa kekeluargaan begitu kental di dalamnya. Setiap ada keluarga KBM yang sakit, para pengurus dan keluarga lainnya yang berkesempatan selalu menyempatkan datang menjenguk. Jika ada keluarga KBM yang berhasil meraih prestasi tertentu, ucapan apresiasi meluncur deras dari segenap keluarga KBM.

Feedback demikian ini menjadikan yang bersangkutan terus termotivasi untuk meraih prestasi-prestasi lain ke depannya. Berkat pendekatan ini pula, sense of belonging dapat terinternalisasi dalam diri anggota KBM. Sehingga, semua anggota KBM mau terlibat aktif membesarkan KBM. Perlu diketahui, saat ini anggota KBM tidak hanya terdiri dari pemuda Bojonegoro saja, melainkan sudah lintas provinsi. Ada yang dari Lampung, Lombok, Demak, dan sebagainya.

Selain pendekatan tersebut, KBM juga menerapkan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada praktik (learning by doing). Anggota KBM diberi kesempatan untuk menjadi penanggungjawab event-event yang diadakan. Mereka juga diberi kesempatan untuk menjadi narasumber dan moderator. Semua dalam rangka memberikan pengalaman dan pembelajaran.

KBM memberikan ruang yang besar kepada segenap anggotanya untuk terus memacu diri mengembangkan potensi yang dimiliki. Meskipun potensi tersebut berada di luar dunia kepenulisan yang menjadi concern KBM. Hal tersebut tidak menjadi soal, karena KBM pada esensinya adalah rumah belajar.

Sementara untuk menyatukan visi, merancang program ke depan, dan mengevaluasi kekurangan dan kelamahan, KBM menjadikan ngopi sebagai strategi. Kegiatan ini diberi istilah Ngopi Literasi, yaitu ngopi dengan tema perbincangan seputar dunia literasi. Berbagai gagasan inspiratif dan solutif kerap muncul saat ngopi literasi ini.

Generasi muda desa harus bangga dengan ke-ndeso-annya. Tag line โ€œAku Bangga Jadi Cah Ndesoโ€ pun selalu didengungkan di KBM

Harapan utama KBM selain melahirkan penulis-penulis muda dari desa adalah menjaga otensitas para pemuda desa. Generasi muda desa harus bangga dengan ke-ndeso-annya. Tag line โ€œAku Bangga Jadi Cah Ndesoโ€ pun selalu didengungkan di KBM. Dengan demikian, para pemuda desa kedepan diharapkan tidak akan kehilangan otensitas dan jati dirinya sebagai Cah Ndeso yang mewarisi budaya dan kearifan adiluhung nenek moyangnya.[]

Satukan Visi, Kampus Desa Gelar Ngopi (Ngobrol Pintar)

0

Penguasaan terhadap digital literacy telah menjadi sebuah keharusan. Lembaga pendidikan seharusnya memiliki concern dalam hal ini. Di tengah dunia yang terus bergerak ke arah digitalisasi, kompetensi digital menjadi syarat bagi seseorang agar bisa ‘bicara banyak’ di kancah persaingan global. Menyadari hal itu, Kampus Desa siap menjadi media partner bagi lembaga pendidikan yang ingin mengembangkan digital literacy.

Kampusdesa.or.idโ€“Sesekali gelak tawa pecah di ruang tamu Alfin Mustikawan, salah satu founder Kampus Desa. Malam itu (04/08), kediamannya menjadi lokasi Ngopi (Ngobrol Pintar) para penggerak Kampus Desa. Hadir dalam forum gayeng tersebut; Moh. Mahpur (Rektor Kampus Desa), Sigit Priatmoko (Admin Kampus Desa), dan Ahmad Sihabuddin (conten creator Tanah Alas).

Ditemani segelas Kopi Toraja mereka mematangkan persiapan kegiatan Bedah Website Kampus Desa yang akan diadakan di PKBM Bestari, Cetakgayam, Mojowarno, Jombang 10 sampai dengan 11 Agustus mendatang. Ngopi malam itu bertujuan utama untuk menyamakan visi dan persepsi terkait proses pelaksanaan dan hasil akhir (outcome) dari kegiatan tersebut.

Bedah Web Kampus Desa For Digital Literacy

โ€œJadi, besok itu, kita targetkan selesai kegiatan peserta harus bisa menulis, mengambil foto dan video lalu mengunggahnya ke media daring. Dalam hal ini kita arahkan ke website kita saja, atau bisa menggunakan teknik collaborator upload, sehingga masing-masing bisa saling membantu menjadi influencer. Bagi pemula, cara ini bisa membantu menaikkan rating jejak digitalnya. Di sinilah Kampus Desa, sebagai kampus yang mengutamakan literasi digital akan bisa membantu tipis-tipis. Daripada menunggu sempurna tetapi tidak bermanfaat, mending punya kemampuan biasa saja, tetapi dapat bermanfaat, siapa tahu menjadi luar biasa,” ujar Mohammad Mahpur diamini yang lain.

Jika tidak ditopang dengan kompetensi digital yang mapan, maka peserta didik ke depan akan mengalami kesulitan dalam persaingan

Menurut Mohammad Mahpur, kompetensi digital literacy hari ini merupakan kompetensi yang mendesak dikuasai oleh peserta didik. Hal ini tak lepas dari realitas keseharian di berbagai bidang kehidupan yang terus bergerak ke arah digitalisasi. Jika tidak ditopang dengan kompetensi digital yang mapan, maka peserta didik ke depan akan mengalami kesulitan dalam persaingan. Bahkan bisa diprediksi, pada percepatan teknologi informasi, generasi yang tidak melek digital, mereka akan menjadi generasi miskin, karena tidak bisa mengakses pasar yang sekarang didominasi oleh arus besar pemasaran digital (digital marketing). Jika kesenjangan melek digital ini masif, utamanya di desa, boleh jadi akan ada bom waktu kemiskinan masif hanya gara-gara tidak mampu mengunggah karya kreatif, hasil kerja kesehariannya, ke media daring. Miris kan.

โ€œBesok kita arahkan para peserta agar bisa membuat konten-konten yang menarik Pak. Lalu, hasilnya kita upayakan diunggah di akun Kampus Desa dan diakun masing-masing peserta. Jika peserta sudah mempunyai akun, maka mereka kita bantu untuk memaksimalkan akun tersebut sehingga bisa meningkat ratingnya dan memiliki jejak digital yang bisa ditemukan bagi calon-calon konsumen ide, produk, atau inspiranya. Sudah saya siapkan aplikasi beserta langkah-langkah yang mudah diikuti,โ€ ujar Ahmad Sihabuddin menambahi.

Banyak orang, menurut Sihab, yang belum bisa memaksimalkan akun media sosial yang dimiliki karena kurang memahami dan kurang bisa mengkreasikan konten-konten yang menarik. Padahal pundi-pundi rupiah bisa mengalir dari akun-akun media sosial. Ia kemudian mencontohkan salah satu rekannya yang dalam sebulan bisa menghasilkan income sekitar empat juta rupiah melalui You Tube.

โ€œTapi memang harus teratur, segar, dan kreatif isinya. Kalau tidak, income tersebut tidak akan bertahan lama. Makanya coba kita lihat, rata-rata channel You Tube dengan jumlah viewer ratusan ribu biasanya selalu konsisten mengunggah konten. Selalu segar dan menarikโ€ tambahnya.

Sementara, menurut Alfin Mustikawan, dengan adanya kerjasama antara Kampus Desa dengan PKBM Bestari, diharapkan akan menjadi tonggak perubahan mindset dalam dunia pendidikan. Menurutnya, Pendidikan harus bisa menggali otensitas peserta didik dan merawatnya.

Pendidikan harus melahirkan manusia-manusia yang otentik dan bangga serta bisa mendayagunakan uniqueness yang dimiliki

โ€œOtensitas itulah yang akan menjadi uniqueness mereka. Pendidikan sudah waktunya melahirkan manusia-manusia yang otentik dan bangga serta bisa mendayagunakan uniqueness yang dimiliki. Lha, selama ini, hal-hal seperti itu kan tidak diperhatikan oleh sistem pendidikan kita. Kampus Desa harus mengawali itu. Kalau ini berjalan baik, bukan tidak mungkin kita bisa menggeser persepsi masyarakat tentang PKBM. Nantinya, PKBM bisa menjadi solusi dan alternatif bagi proses pendidikan masyarakat. Lah, nantinya justru para pembelajar kreatif akan berbondong-bondong ke PKBM dan meninggalkan sekolah, jikalau sekolah formal itu pada akhirnya bergerak semakin melemahkan kreatifitas pembelajar,โ€ lanjutnya.

Selain membahas agenda di PKBM Bestari, kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk membahas beberapa agenda besar lain dari Kampus Desa. Beberapa di antaranya adalah kaderisasi pemuda desa, pelatihan literasi digital, bedah buku, launching logo baru, dan lain  sebagainya. Ngopi malam itu diakhiri sekitar pukul 23.30 (SP).

PKBM Bestari; Inklusif Tidak Hanya Melayani ABK, tapi Juga Lintas Agama

0

Salah satu peserta belajar Paket C di PKBM Bestari mengirim pesan WA sebelum dia datang memulai pembelajaran baru. “Bu, saya itu Nasrani, kok lingkungan Bestari seperti lingkungan pesantren. Saya tidak apa-apa Bu masuk bukan sebagai seorang muslim.” Saya pun membalas pesan WA tersebut, “tidak apa-apa.” Setelah saya masuk di kelas PKBM, saya pun menyampaikan ke semua peserta belajar, “sebagai orang Indonesia dan berideologi Pancasila, kita biasa saja kalau dalam kelas ini ada peserta yang beragama Nasrani, meski kita banyak yang muslim. Kalau kita biasa menghadapi perbedaan, maka kita terlatih menjadi Indonesia yang luar biasa.”

Kampusdesa.or.id–Di dunia pendidikan tak jarang kita menemui pandangan-pandangan yang bias terhadap tujuan pendidikan itu sendiri. UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan, baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together.

Namun kenyataannya, pendidikan seolah menempatkan manusia hidup berkelompok berdasarkan identitas agama, status sosial, suku, dan ras. Seperti ada pola pikir dan pola laku sedang mempertegas perbedaan yang semestinya dan sudah bisa dihilangkan. Tidak lagi learning to live together. Satu sama lain, adakalanya merasa asing, padahal mereka tidak diperlakukan sebagai orang asing.

Boleh jadi ini akibat institutional branding yang menempatkan keterasingan itu pada pola pikirnya. Sekolah yang mem-branding lembaganya sebagai sekolah bervisi-misi agama, tentunya melayani pendidikan sesuai visi misi tersebut. Begitu juga sekolah yang melayani bidang ketrampilan, sekolah kepribadian dan sekolah bidang olah raga, juga sekolah pada umumnya tak jauh dari visi misinya. Saya pernah mengalami dampak dari branding lembaga pendidikan baru-baru ini.

Awal pembelajaran Paket C tahun pelajaran 2019-2020 di PKBM Bestari 3 Minggu lalu, saya menerima pesan pribadi menggunakan aplikasi WA (WhatsApp) Messenger, selanjutnya saya singkat wapri), dari siswa pindahan. Isi Wapri tersebut, “mohon dikirim google map.” Anda bisa tebak, pasti dia daftar Paket C secara daring. Iya, memang demikian. Semua berkas pendaftaran dikirim dengan media foto dan scan sebagai dasar input data di Dapodik (Data Pokok Pendidikan) adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu, dan merupakan sumber data utama pendidikan nasional, yang merupakan bagian dari program perancanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif (Wikipedia Bahasa Indonesia).

“Saya kirim posisi saya terkini di tempat tugas saya mengajar, karena saya sedang tugas mengajar waktu itu. Di luar lokasi PKBM Bestari. “Nanti kalau sampai di lokasi ini, tanya PKBM Bestari, dari lokasi tersebut kurang lebih lima puluh meteran menuju Bestari,” arahan saya by wapri juga tentunya.

Sejam kemudian tugas mengajar saya selesai. Tiba di rumah, langsung melihat kesiapan kelas PKBM Bestari menyambut siswa baru pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Tepat jam 13.30 WIB, kami memulai pembukaan orientasi belajar di PKBM. Saya sudah di depan semua siswa bersama dua orang tutor. Ada pesan dari siswa yang minta kiriman lokasi (google map), dari waktu pengirimannya setengah jam yang lalu.

“Bu, maaf saya Nasrani, ini lokasinya kok masuk pondok pesantren. Tidak apa-apa?” Saya baca saja pesan itu. “Berarti saya juga perlu menjelaskan kepada semua siswa baru tentang komitmen belajar, komitmen kebangsaan dan komitmen beragama.” Batin saya menemukan satu lagi materi orientasi belajar di PKBM Bestari.

Bestari memang di tengah lingkungan muslim, tapi layanan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C menerima siswa dengan agama apapun, yang penting dia menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Saya lihat dia (siswa Nasrani) juga sudah di kelas Paket C. Ini artinya ia tidak balik kucing meskipun ia ragu masuk lingkungan pesantren. “Bestari memang di tengah lingkungan muslim, tapi layanan pendidikan kesetaraan Paket A, B dan C menerima siswa dengan agama apapun, yang penting ia menerima Pancasila sebagai dasar negara,” penjelasan saya, setelah baca Wapri terakhir dari siswa yang mengaku beragama Nasrani tersebut.

Ini bukan kali pertama PKBM Bestari menerima siswa non muslim. Bukan pula pengalaman pertama menerima pandangan tentang keberagamaan yang ekslusif. Empat tahun lalu, Bestari juga menerima siswa non-muslim. Suatu ketika saya unggah foto kegiatan keterlibatan siswa PKBM Bestari dalam karnaval HUT RI ke- 70 di DP Blackberry saya. Ada 3 siswa dalam barisan karnaval itu membiarkan kepalanya tanpa hijab. Salah satu teman kontak Blackberry saya berkomentar begini,” rambutnya bagus. Coba sambil dakwah, Bu. Memakai jilbab tambah cantik.”

Sebagai pengelola layanan pendidikan, saya bersama pengurus PKBM Bestari membuat komitmen layanan lebih inklusif. Melaksanakan tugas melayani dengan menanggalkan pandangan yang mempertajam identitas agama, suku, ras, status sosial dan status ekonomi.

Spontan saya balas komentarnya. “Di antara mereka ada yang non-muslim.” Sebagai pengelola layanan pendidikan, saya bersama pengurus PKBM Bestari membuat komitmen layanan lebih inklusif. Melaksanakan tugas melayani dengan menanggalkan pandangan yang mempertajam identitas agama, suku, ras, status sosial dan status ekonomi.

Selain Pendidikan Anak Usia Dini dan madrasah diniyah, PKBM Bestari menerima siswa baru dari agama manapun dan apapun, yang penting mereka mengakui dan menerima Pancasila sebagai dasar negara. Syarat yang penting bagi siswa PKBM Bestari adalah mereka cinta bangsa dan negaranya, berakhlak mulia, dapat menjalankan agamanya masing-masing, dan menghormati keyakinan dan ibadah pemeluk agama lainnya.

Kedua peristiwa ini saya ceritakan di sosial media saya, teman sosial media saya berkomentar positif atas konten cerita yang saya tulis. Bahkan untuk peristiwa terbaru (siswa Nasrani yang ragu-ragu sekolah di PKBM Bestari karena Bestari di lingkungan pesantren) diapresiasi Kampus Desa agar ditulis kembali sebagai essay. Kata salah satu foundernya (Mohammad Mahpur), yang katanya juga terlibat sebagai inisiator Gusdurian Malang. PKBM Bestari dapat digolongkan sebagai PKBM inklusif karena menerima siswa lintas agama. Selain lintas agama, siswa Paket C PKBM Bestari ada pula dari warga keturunan Tionghoa dan dia sekarang mengambil jurusan perhotelan di UK Petra Surabaya.

Kami sadar dan berusaha menjadikan nilai PKBM Bestari dengan sikap dan perilaku beragama, bahwa perbedaan itu kamianggap sebagai kenyataan yang biasa saja. Kami ingin belajar dari Belajar Biasa Saja, termasuk biasa saja belajar dengan orang yang berbeda agama, untuk menjadi manusia Indonesia yang Luar Biasa.

Berdasarkan diskusi yang super duper ketjeh, Kampus Desa memberikan penegasan, bahwa pendidikan inklusif selama ini terlalu diartikan salah kaprah hanya pada pelayanan yang bersifat psiko-biologis. Sementara hal yang bersifat perbedaan tentang siswa itu perlu dimaknai benar-benar inklusif. Termasuk keragaman agama. Dengan wawasan baru dari Kampus Desa ini, entah dianggap nyleneh atau memang luput dari sudut pandang itu, PKBM Bestari lantas mencoba memperluas lagi bahwa keragaman latar belakang agama tidak harus kami anggap sebagai identitas yang lain, apalagi melainkan agama Nasrani yang bukan muslim. Kami sadar dan berusaha menjadikan nilai PKBM Bestari dengan sikap dan perilaku beragama, bahwa perbedaan itu kami anggap sebagai kenyataan yang biasa saja. Kami ingin belajar dari Belajar Biasa Saja, termasuk biasa saja belajar dengan orang yang berbeda agama, untuk menjadi manusia Indonesia yang Luar Biasa.

PKBM Bestari, Desa Catakgayam, Mojowarno, Jombang.

EDITOR: MOHAMMAD MAHPUR

Tutur Desa II: Menuturkan Pesantren Rakyat

0

Masih minimnya ilmu pengetahuan yang terlahir dari dalam diri masyarakat karena pendekatan penuturan hasil riset didominasi oleh orang luar, sehingga hasil ilmunya dikapitalisasi oleh orang luar. Subyek penutur pertama hanya terdapuk sebagai informan, bukan subyek ilmu itu sendiri. Jika diterus-teruskan, Indonesia tidak akan mencapai posisi berdikari secara ilmu pengetahuan, apalagi masyarakat desa.

31 Agustus – 1 September 2019
(dan 1 Minggu penguasaan lapangan dan penulisan)

Eksklusif bersama;

Dr. Ngainun Naim, M. Hi. Dosen dan Ketua LP2M IAIN Tulungagung, Penulis 32 Buku dan Tim Literasi. Ketekunannya menulis mengantarkanya menjadi penulis produktif. Mulai dari menulis opini, resensi, buku, dan berbagai jenis pelatihan menulis di berbagai seantero negeri. Bersama tim dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Tulungagung, beliau akan memandu menyusun pengalaman berserak Pesantren Rakyat menjadi konsep ilmu pengetahuan menurut orang lokal.

Didukung oleh trainer performa;

K. Abdullah Sam, S. Psi. Pendiri Pesantren Rakyat. Seorang Sarjana Psikologi yang berani kembali ke desa merintis pesantren di tanah kelahirannya. Bersamanya, partisipan akan mendapatkan motivasi dan kerangka aksi dalam menggerakkan komunitas sekitar rumah. Sosok yang multi-talenta ini, seringkali blusukan, bahkan harus main gendang, bernyanyi atau nembang Jawa sebagai bagian dari pendekatan yang ramah untuk mengajak masyarakat menjadi lebih baik. Pendekatan tersebut menjadikannya dipercaya masyarakat sekitar rumah. Beliau salah satu sarjana lulusan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang berani balik kampung bukan untuk mencari kerja tetapi mendedikasikan diri sebagai penggerak komunitas.

Ilhamuddin Nukman, MA. Motivator di lembaga Performa Puncak. Salah satu Founder Kampus Desa dan juga dosen Psikologi Industri dan Organisasi Universitas Brawijaya ini juga bergiat sebagai trainer dan coach berlisensi hipnoterapi. Beliau telah banyak dipercaya lembaga, termasuk beberapa perusahan untuk pelatihan pengembangan diri dan sumberdaya manusia. Beliau akan membantu membangkitkan semangat mahir lebih cepat dalam menulis dan bagaimana berdinamika kelompok dalam memperkuat kelahiran penulis-penulis lokal.

Ulfa Muhayani, MAP. Lulusan ANU (Australia National University), ini meminati riset feminis dan saat ini sedang meriset potensi radikalisme aktifis perempuan dan pola perkembangannya berbasis jamaah yang disponsori oleh Aman (Asian Moslem Association Network). Kehadirannya akan memandu bagaimana keterlibatan perempuan dan ilmu pengetahuan lokal memihak narasi ramah dan inklusif terhadap perempuan.

Dr. Mohammad Mahpur, M. Si. Peneliti PAR bidang Psikologi Sosial dan Community Development. Mempunyai pengalaman meneliti PAR di bidang Psikologi Sosial. Pengalaman ini memberikan testimoni kreatif bagaimana PAR dilaksanakan dengan pendekatan psikologi indi (orang lokal), bahwa pengetahuan lokal dapat dijadikan sebagai acuan dalam meningkatkan kualitas hidup kelompok masyarakat di desa miskin sekalipun. Beliau menemukan konsep kearifan lokal dapat disusun ulang sebagai kekuatan perlakuan psikologis untuk perubahan komunitas.

Calon Penulis Utama

Diikuti oleh 25 Santri Pesantren Rakyat berbagai usia. Calon penulis ini sudah dipilih dari dalam menejemen Pesantren Rakyat. Dan ditambah dari jaringan pesantren rakyat. Kesempatan ini tidak dibuka untuk umum.

Relawan Penulis Pendamping

Dibuka untuk umum dan terbatas 10 penulis dari luar.

Adapun syarat berpartisipasi sebagai relawan penulis ditentukan sebagai berikut;

  1. Sudah punya karya minimal sebagai blogger (dibuktikan beberapa contoh, atau buku (boleh buku kompilasi).
  2. Diutamakan yang sudah sarjana, sedang menunggu wisuda, dan meminati metodologi penelitian,
  3. Mengirimkan CV dengan diupload di google form,
  4. Bersedia menjadi pendamping untuk mentoring kepenulisan santri lokal,
  5. Komunikatif dan mudah menyesuaikan diri,
  6. Bertanggungjawab atas tugas yang diberikan selama di lapangan,
  7. Memiliki latar-belakang profesi atau keilmuan yang jelas,
  8. Menulis alasan tentang sudut pandang masa depan anda mengikuti kegiatan ini (700 kata),
  9. Membiayai diri sendiri ketika di lapangan (biaya menginap dan konsumsi). Bisa diwakilkan ke panitia. Relawan penulis pendamping dikenai infaq untuk pesantren Rp. 100.000,-
  10. Seluruh persyaratan dikirim bersamaan mengisi formulir online di google form (silahkan klik)

Bagi yang lolos seleksi akan diumumkan di laman kampusdesa.or.id dan pesantrenrakyat.com

Relawan Penulis Pendamping adalah seorang penulis yang sudah terlatih (boleh penulis pemula) dan ditugaskan menjadi pendamping penulis utama (santri lokal). Relawan Penulis Pendamping akan menjadi mentor penulis utama sehingga dapat dengan lebih mudah belajar menulis dengan baik. Anda akan diberi kesempatan berkolaborasi dalam membangun perspektif tulisan dengan semangat lokalitas (kearifan lokal).

Metode ini bermanfaat untuk membangun mindset pemberdayaan masyarakat menurut perspektif lokal (Kearifan Lokal) dan berpeluang meningkatkan literasi orang lokal dan kemampuan menyusun pengetahuan lokal menjadi ilmu pengetahuan yang lebih bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kehidupan bersama. Anda akan langsung belajar secara terlibat dalam memahami mentalitas perubahan masyarakat, bukan dari sudut pandang orang luar, tetapi dengan sudut pandang orang lokal.

Siapa Penulis Pendamping yang Cocok?

Cocok untuk penulis yang ingin belajar menjadi penggerak komunitas atau dosen muda yang meminati Penelitian Tindakan Partisipatoris atau Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset. Syarat dan ketentuan tambahan menyesuaikan kebutuhan.

Bagi penggerak komunitas. Sebagai penulis pendamping, Anda berkesempatan memahami strategi organisasi komunitas dan mentalitas dasar masyarakat dalam memahami potensi perubahan masyarakat. Melalui pendampingan, Anda akan memahaminya berdasarkan data dan pengalaman otentik dan kemudian menyusunnya menjadi kaidah konseptual perubahan sehingga Anda akan langsung mendapatkan pencerahan untuk diterapkan di masing-masing wilayah rintisan.

Bagi para dosen muda. Peluang ini menjadi salah satu wahana pelatihan praktis pembelajaran terlibat untuk meningkatkan keahlian PAR dan Pengabdian Masyarakat Berbasis Riset. Kemampuan dasar penggalian data terlibat dan mengonstruksi pengetahuan lokal masih cenderung tidak tuntas dalam praktik-praktik riset tindakan partisipatoris. Beberapa kasus, pendekatan riset dan pengabdian masih bersifat otoritatif dan berbentuk partisipasi semu. Kami sajikan sebuah kesempatan untuk praktik sederhana teknik partisipatoris yang lebih memihak pada pengetahuan lokal daripada perspektif orang luar dalam pengambilan penyusunan teoritis hasil riset.

Mari tumbuhkan kemandirian ilmu pengetahuan berdasarkan kearifan lokal. Saatnya ilmu pengetahuan tidak semata-mata dibangun dengan semangat kolonisasi.

Hasil tulisan dibukukan atas dukungan penuh LP2M IAIN Tulungagung

Nara hubung Pendaftaran khusus Relawan Penulis Pendamping, klik Annisa Putri (Kampus Desa), langsung tersambung dengan Whatsapp

Nara hubung internal Pesantren Rakyat klik Candra (Langsung tersambung dengan Whatsapp)

Kopi dan Gula Tidak Harus Selalu Bersama

0

Kopi seringkali menjadi menu minuman yang tidak boleh terlewat setiap harinya, biasa diminum saat pagi hari sebelum berangkat bekerja atau menjadi ajakan untuk berkumpul bersama teman-teman. Selain memiliki cita rasa yang unik dan banyak disukai oleh banyak orang. Kandungan kafein dalam kopi akan tetap terjaga jika tanpa diberi campuran gula. Pada dasarnya memang tidak mudah untuk mengonsumsi sesuatu tanpa adanya rasa manis, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan kita bahwa sesuatu yang manis itu adalah sesuatu yang enak dan nikmat.

KampusDesa–Secangkir kopi yang hitam pekat dan cenderung memiliki rasa yang pahit sudah menjadi minuman favorit oleh banyak orang. Kopi seringkali menjadi menu minuman yang tidak boleh terlewat setiap harinya, biasa diminum saat pagi hari sebelum berangkat bekerja atau menjadi ajakan untuk berkumpul bersama teman yang biasa muncul istilah โ€˜ayo ngopiโ€™. Cukup beragam cara menikmatinya, kopi biasanya dinikmati dengan cara langsung diminum tanpa menambahkan gula ataupun susu karena bagi si peminum tidak ingin merusak cita rasa kopi itu sendiri dan menerima apa adanya. Ada juga yang menambahkan gula ataupun susu karena tidak suka dengan rasa pahit yang merupakan ciri khas rasa dari kopi itu sendiri.

Di balik manfaat dan rasanya yang enak, ternyata kopi lebih baik diminum tanpa gula.

Selain memiliki cita rasa yang unik dan banyak disukai oleh banyak orang. Secangkir kopi memiliki manfaat yang baik bagi tubuh si peminumnya, seperti menghilangkan rasa kantuk dan meningkatkan mood karena kandungan kafein yang tinggi, baik untuk kesehatan jantung dan mencegah terjadinya demensia karena kopi memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Tetapi di balik manfaat dan rasanya yang enak, ternyata kopi lebih baik diminum tanpa gula, karena kopi tanpa gula berperan baik dalam mengontrol berat badan. Kopi itu sendiri memiliki kalori yang mendekati nol. Dalam hal ini, cukup baik bagi kamu yang sedang melakukan diet. Tak hanya itu, kopi tanpa gula dapat menangkal radikal bebas yang berdampak buruk bagi kesehatan. Tentunya membantu bagi si penikmat kopi untuk lebih waspada dan memberi energi tambahan pada saat sibuk bekerja atau sedang mengerjakan tugas-tugas harian.

Kopi tanpa campuran gula, membuat kafein akan lebih mudah terserap oleh tubuh.

Kandungan kafein dalam kopi akan tetap terjaga jika tanpa diberi campuran gula. Hasil dari reaksi kafein itu sendiri ialah tidak mudah mengantuk atau lelah, membuat si penikmat kopi akan tetap aktif dalam jangka waktu yang lama dan membuat si peminum menjadi terus bersemangat menjalani aktifitas yang padat. Perlu teman-teman ketahui bahwa kopi tanpa campuran gula, membuat kafein akan lebih mudah terserap oleh tubuh.

Jika kamu kurang suka dengan rasa pahit kopi yang unik, kamu bisa memberinya sedikit gula atau susu untuk mengurangi rasa pahit dari kopi itu sendiri. Akan tetapi jika kopi diminum dicampur dengan gula, apalagi dengan jumlah yang banyak justru membuat penikmatnya lebih mudah mengantuk atau kelelahan. Hal ini disebabkan karena darah menyerap kandungan gula yang berlebih, sehingga tubuh dipaksa untuk memproduksi insulin dengan sangat cepat. Produksi insulin yang berlebih selain membuat metabolisme glukosa terganggu, juga membuat seseorang menjadi pelupa, susah berkomunikasi, dan yang paling buruk dapat meningkatkan resiko terkena penyakit diabetes.

Sudah menjadi kebiasaan kita bahwa sesuatu yang manis itu adalah sesuatu yang enak dan nikmat.

Pada dasarnya memang tidak mudah untuk mengonsumsi sesuatu tanpa adanya rasa manis, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan kita bahwa sesuatu yang manis itu adalah sesuatu yang enak dan nikmat. Nah, sekarang coba untuk mengonsumsi kopi tanpa gula. Nikmati rasa kopi tersebut, apakah rasa pahit saja yang muncul dalam minuman tersebut. Selamat mencoba menikmati kopi dengan rasa apa adanya.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah