Hari Pendidikan Nasional, Tantangan dan Potensi Pendidikan di Indonesia Pasca COVID-19

1
354
Hari Pendidikan Nasional
Hari Pendidikan Nasional

0Shares
0

Hari pendidikan nasional seyogyanya menjadi ajang instropeksi seluruh warga negara yang menginginkan kemajuan sebuah bangsa. Kunjungan COVID-19 ke tanah air telah menyingkap dua hal, menyibak tabir lusuh praktek pembelajaran dan membisikkan harapan di masa mendatang. Analisa tantangan dan Potensi pendidikan merupakan strategi awal pembenahan kualitas individu masyrakat. Pendidikan nasional kunci penting membangun negara super power bernama “Indonesia”.

Kampusdesa.or.id-Hari pendidikan nasional selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei. Tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengusung tema “ Belajar dari Covid-19 ”. Agenda yang dihimbau ialah menonton acara HARDIKNAS di TVRI tepat tanggal 2 Mei 2020. Upacara bendera yang telah menjadi tradisi sebagaimana tahun tahun sebelumnya untuk sementara waktu ditiadakan demi mematuhi protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19. Fenomena ini juga memberi hikmah bahwa semangat HARDIKNAS tidak melulu sekedar upacara bendera, baliho, poster dan segala formalitasnya, lebih baik jika ada inovasi dan langkah praktis untuk berbenah di sektor pendidikan.

Semangat hardiknas tidak melulu sekedar upacara bendera, baliho, poster dan segala formalitasnya, lebih baik jika ada inovasi dan langkah praktis untuk berbenah di sektor pendidikan.

 

Di awal pemerintahan Joko Widodo jilid 2, praktisi pendidikan dengan suka cita menyambut semangat baru merumuskan konsep guru penggerak dan merdeka belajar. Tranformasi gaya belajar perlu dilakukan untuk mendongkrak prestasi dan kemandirian siswa. Belum genap setengah perjalanan, Covid-19 menekuk konsep merdeka belajar menjadi study from home via daring, bisa dikatakan pendidikan jarak jauh sangat jauh dari kata ideal. Fungsi kontrol sulit dilakukan karena tingkat keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak yang rendah.

Pendidikan jarak jauh sangat jauh dari kata ideal. Fungsi kontrol sulit dilakukan karena tingkat keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak yang rendah.

 

Keluhan wali murid dan guru terkait sistem belajar online semenjak diberlakukannya study from home membuka mata kita tentang persoalan-persoalan sekolah yang selama ini mangkir dari sorotan. Kualitas guru, keterlibatan orangtua dan implementasi kurikulum adalah tantangan yang sebenarnya sudah lama menjadi polemik sebelum datangnya Covid-19. Masa recovery pasca pandemi juga harus dipersiapkan dari sekarang.

1. Kualitas Guru

Munif Chatib penulis buku “ Sekolahnya Manusia ” menjelaskan bahwa pabrik guru di Indonesia masih bermasalah. Kampus kurang melakukan filtering terhadap calon guru, terutama pada bidang kedisiplinan dan attitude. Banyak mahasiswa yang menjadikan jurusan keguruan sebagai pilihan terakhir, mengganggap guru adalah pekerjaan yang mudah. Salah besar! Menjadi guru tak sekedar pintar, butuh kreatifitas, passion dan seni.

Teaching is Art and Science! untuk memunculkan potensi seorang siswa, seorang guru harus melakukan observasi, menganilisa, membaca, melatih, melakukan experiment strategi belajar dan mengukur academic performance siswa. Untuk melakukan itu semua apa iya guru itu orang yang gak bisa apa apa?

Upgrading skill keguruan masih kurang, banyak guru yang berhenti belajar setelah mendapat SK atau jabatan tetap. Need of Achievement guru belum terasah, kecakapan dan kesiapan teknologi masih terfokus pada guru IT. Padahal penguasaan teknologi akan sangat membantu guru menciptakan pembelajaran yang interaktif dan inovatif. Selain itu manajemen regulasi diri dan communication skill jarang dibekalkan terhadap guru. Info tahun 2016 berdasarkan Global Education Monitoring (GEM) 2016, kualitas guru Indonesia menempati urutan ke 14 dari 14 negara berkembang di Asia.

2.  Keterlibatan orangtua.

Telinga kita pasti hafal dengan istilah “keluarga adalah sekolah yang utama bagi anak”, sayangnya apa yang didengar hanya sebatas memory audiovisual tanpa diikuti internalisasi perubahan perilaku. Padahal Siswa yang mendapat dukungan emosional orangtua, akan lebih bertahan dibidang akademik serta menunjukkan prestasi yang baik (Nugrahani, & Widayarti, 2013; Rahmi, 2011).

Fakta yang akhir akhir ini banyak diseminarkan adalah fatherless in indonesia. Fatherless adalah kondisi dimana tidak ada peran ayah secara psikologis dalam sebuah keluarga. Ayah tidak tanggap dan tidak turut campur dalam mendidik, sehingga anak kehilangan figur pemimpin sebagai panutan. Ayah memiliki peran penting dalam membentuk sikap emosional anak ketika dewasa kelak, membentuk kedisipilinan dan role model (Ashari, 2018). Dilansir dari wartaekkonomi.co.id tahun 2017, Indonesia menampati ranking ke tiga kasus fatherless di dunia.

Dukungan orangtua akan sangat membantu siswa untuk suskes, orangtua diharap membimbing anak untuk menyelesaikan tugas serta menggait anak untuk terus mengasah diri sehingga senantiasa menjadi insan yang pembelajar. Pengetahuan ilmu parenting perlu terus menerus gencar dilakukan. Tidak heran jika study frome home malah menimbulkan masalah, karena fungsi orangtua dalam mendidik anak selama ini hanya dipasrahkan kepada guru.

3. Implementasi Kurikulum

Analoginya sebagai berikut, kurikulum tak ubahnya seperti mobil balap, pengemudinya adalah guru, dan solarnya adalah kesejahteraan guru. Indonesia selalu berganti-ganti mobil, padahal sopirnya adalah orang yang sama namun belum mahir mengemudi. Solarnya pun sering telat, apa yang terjadi? Bingung, panik dan nelongso itu yang dialami sopir.

Kurikulum KTSP dan K13 semuanya disusun oleh para ahli, pasti baik dan bermutu. KTSP memberi peluang bagi sekolah untuk menyelenggarakan pembelajaran sesuai potensi setempat, sementara K13 memungkinkan siswa untuk lebih aktif dan inovatif. Jika kurikulum yang disusun tidak sesuai target maka pengemudinya perlu dibina dan dicerdaskan. Namun jangan menutup mata, mobil pun tak akan bisa berjalan di atas air, artinya tidak semua wilayah di Indonesia cocok dengan kurikulum yang sudah ada. Papua dan daerah 3T misalnya, selain kurangnya tenaga pengajar, model pembelajaran di daerah tersebut masih fokus pada calistung. Sangat jauh dari metode belajar Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang digadang-gadang dapat menaikkan peringkat PISA Indonesia.

PISA Indonesia
PISA Indonesia 2016

PISA adalah survei evaluasi sistem pendidikan yang berlaku di sebuah negara yang mengukur performance siswa. Dari grafik di atas dapat dibandingkan keberhasilan pendidikan Indonesia dengan negara yang lain. Dari tahun 2000 hingga 2018, PISA Indonesia naik turun tidak signifikan.

Hingga saat ini, negara-negara Adidaya di dunia tengah berusaha memerangi Covid-19. Pandemi ini belum benar benar usai. Namun bukan berarti Covid-19 adalah sad ending dunia, ada chapter baru yang belum kita baca. Ketika tidak berdaya, manusia memiliki kekuatan yang bernama “hope“ ,  harapan merupakan senjata pamungkas manusia untuk terus berjuang karena percaya ada Tuhan yang maha kuasa bersiap membantu dari atas singgasana. Masih ada harapan!

Ketika tidak berdaya, manusia memiliki kekuatan yang bernama “ hope “.

 

1.Budaya Kolektivisme

Bangsa kita dikenal juga sebagai penganut budaya timur, ciri khas yang menjadi potensinya adalah sikap kolektivis. Kolektivisme adalah suatu pendirian moral yang fokus pada masyarakat bersama untuk kepentingan nasional. Itulah modal kita sebagai bangsa dan bernegara dalam konteks budaya timur.

Bangsa barat yang notabenenya berbudaya individualis, kini sedikit bergeser kepada paham kolektivis karena manfaatnya yang efektif dalam permasalahan sosial. Artikel yang berjudul Our United Response to Coronavirus Show the Power of Colectivism dalam morningstaronline.co.uk (5/2/2020). Menceritakan bahwa semangat kolektivism membantu para pekerja untuk saling berkontribusi menjaga keamanan setiap orang. Ciri kolektivisme timur ialah kreatifitas, spiritualitas dan kecakapan individu ditekankan untuk kontribusi sosial dalam masyrakat. (Shao, et al. 2019)

Tradisi timur, agama, kepercayaan dan  produk budaya itulah yang membentuk sikap kolektivis tumbuh. Inilah modal kita, sikap altruisme, sikap gotong royong semua terangkum dalam kolektivisme. Bentuk moderen nya adalah startup yang bergerak di layanan sosial, seperti kitabisa.com, kampusdesa.or.id, diaspora pemuda dan lain sebagainya. Semua bergerak atas dasar menggaungkan sosial impact, itulah budaya kolektivisme.

2. Influencer millenial.

Indonesia telah banyak melahirkan influencer pada sepuluh tahun terakhir. Influencer adalah individu yang memiliki banya followers dan ada hubungan emosional antara keduanya. Media masa seperti youtube, instagram dan tiktok saat ini dikuasai oleh berbagai macam influencer. Sybil grieb et al. (2019) dalam artikel the power of influencer menjelaskan bahwa jasa influencer sangat signifikan untuk menawarkan produk dan meningkatkan minat beli konsumen. Konsumen lebih percaya terhadap influencer daripada brand itu sendiri, sebab Influencer dipandang sebagai sosok yang menginspirasi, menghibur dan menarik.

Kita memiliki banyak influencer seperti Najwa Shihab, Deddy Corbuzier, Pandji Pragiwaksono dan lainnya. Silahkan pilih di www.sociabuzz.com, ada banyak infleuncer disitu, gunakan jasanya untuk mengkampanyekan pendidikan. Hal ini lebih bermanfaat daripada konten creator semu yang tidak ada nilai edukasinya.

3. Tri dharma perguruan tinggi

Indonesia sebenarnya memiliki pasukan yang siap bergerak dibidang pendidikan, pasukan itu adalah mahasiswa, dosen dan peneliti. Program pemerataan mutu pendidikan di daerah terpencil setiap tahun selalu dilakukan. Seperti progam guru penggerak daerah terpencil (GPDT) UGM, SCOLAH Unair mengajar di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Hal ini selaras dengan kebijakan mas menteri nadiem makarim, bahwa syarat kelulusan mahasiswa bisa diperoleh melalui praktek kerja lapangan. Selain itu, peluang tiga semester mahasiswa untuk magang sangat potensial jika diarahkan untuk sektor pendidikan. Hal ini juga menjadi challenge bagi mahasiswa supaya menguras otak menciptakan inovasi kegiatan belajar mengajar.

Masa recovery pasca pandemi.

Semoga hikmah Covid 19 mampu meningkatkan kesadaran masyrakat menjadi lebih kritis. Meminjam konsep kesadaran pendidikan ala Paulo friere, critical consciousness merupakan keberhasilan individu dalam memetakan sebab akibat kejadian berikut juga problem solving yang tepat. Masyarakat sudah bisa mengaitkan faktor sosial, budaya, pendidikan dan politik, mengkaji secara komprehensif permasalahan yang sedang terjadi.

Oragtua sudah paham selama study form home bagaimana susahnya menjadi guru. Guru juga paham selama online learning, kapasitas mereka untuk melek teknologi perlu ditingkatkan. Anak anak juga belajar mengerti, bahwa  bersekolah merupakan sebuah kenikmatan yang tak boleh disia siakan.

Badai pasti berlalu, begitu juga pandemi SARS COV-2 ini, namun perlu diingat setelah badai reda, maka yang tersisa adalah porak poranda puing puing bangunan. Indonesia harus segera menyusun recovery plan untuk membangkitkan segala sektor kehidupan bangsa.

Dalam dunia pendidikan, bisa diprediksi nanti proses pembukaan sekolah di negeri ini akan dilakukan dengan cara berlahan dan bertahap. Bisa jam belajar yang dipersingkat, atau dimulai dari tingkat perguruan tinggi terlebih dahulu. Bisa juga dimasa recovery nanti sekolah memberlakukan sistem belajar semi online. Hal itu harus dilakukan karena butuh evaluasi dan pengecekan kembali, dengan harapan Covid-19 under control oleh tenaga medis.

Dimasa itu, praktisi pendidikan harus berusaha membangun kembali engagement siswa terhadap kelas, terhadap sekolah dan engagement terhdap belajar. Puasa tidak bertemu teman sebaya akan menimbulkan hyper ekspresi remaja sehingga menggeser fungsi sekolah dari tempat belajar menjadi tempat hura hura.

Guru harus segera bangun dan sadar bahwa ada banyak materi pembelajaran yang tertinggal, ada banyak projek sosial yang terbengkalai. Maka diharapkan pada masa recovery semua akses pendidikan via online harus sudah 90% dikuasai guru, orang tua dan siswa. Dengan begitu pendidikan jarak jauh dimasa recovery lebih baik, efektif serta ada outcome pembelajaran yang jelas dibanding pembelajaran daring di masa krisis melawan Covid-19. Berdasarkan hal tersebut, pelatihan multimedia learning untuk guru harus diberikan meskipun dalam keadaan sulit seperti saat ini.

Pada masa recovery semua akses pendidikan via online harus sudah 90% dikuasai guru, orang tua dan siswa. Dengan begitu pendidikan jarak jauh dimasa recovery lebih baik, efektif serta ada outcome pembelajaran yang jelas dibanding pembelajaran daring di masa krisis melawan Covid-19.

 

Hari Pendidikan Nasional merupakan ajang mengapresiasi pahlawan tanpa tanda jasa. Indonesia negeri para pejuang, tak akan tumbang kecuali pendidikan telah hilang. Kelemahan dan potensi perlu dianalisa lebih mendalam guna menyusun master plan menata pendidikan bangsa. Selamat Hari Pendidikan Nasional!.

 

 

1 KOMENTAR

Comments are closed.