“Udun Mledos,” Rekruitmen CPNS yang Menyisakan Pilu Guru Honorer

0
68
Ratusan guru honorer kategori 2 (K-2) di Kabupaten Pamekasan Kamis (20 September 2018) melakukan unjuk rasa menuntut kejelasan berkas mereka. Sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/09/20/12380621/ratusan-guru-honorer-mogok-mengajar-ikut-aksi-minta-jadi-pns

Masalah guru hononer masih menyisakan pilu. Puluhan tahun mengabdi tidak serta merta menjadikan mereka terjamin menjadi CPNS. Problem ini terus menerus menjadi dilema. Mengangkat dengen rekuitmen CPNS sehingga lebih berkualitas atau menjadikan guru honorer yang sudah lama mengabdi dan berpengalaman menjadi CPNS. Persoalan ini juga terus menghadang musim rekuitmen CPNS 2018.

Beberapa hari terakhir ini ada sebuah pemandangan yang tidak seperti biasanya di beberapa sekolah. Siswa sering kali nampak hanya duduk atau bergerombol di luar kelas sambil bermain-main. Mereka tidak mendapatkan pembelajaran dari guru.

Apa yang sedang terjadi?  Rupanya beberapa hari terakhir ini banyak wilayah yang guru wiyata bhaktinya (GTT) mogok mengajar. Di tempat tinggal penulis, menurut informasi orang terdekat juga sedang mogok. Di dua kecamatan wilayah kepengawasan penulis juga sama kondisinya, GTT juga mogok.

Ada informasi di salah satu group, seorang Kepala Sekolah harus mengajar di tiga kelas karena gurunya tidak hadir. Adapula seorang guru binaan penulis yang juga menyampaikan informasi bahwa saat ini sedang mengajar kelas dobel-dobel karena gurunya yang masih GTT juga tidak masuk. Bahkan di salah satu kecamatan binaan penulis semua GTT beraudiensi dengan pengurus PGRI dan Koordinator Wilayah (Korwil) Dinas Pendidikan Kecamatan setempat.

Termasuk hari ini, ketika penulis melakukan perjalanan takziyah salah satu guru binaan penulis, melintasi dua kabupaten, di sepanjang jalan juga banyak penulis saksikan banyak siswa di beberapa sekolah berada di luar kelas. Tidak sedikit pula penulis temui beberapa orang guru, berseragam PGRI, berboncengan sepeda motor di jalan raya. Ada pula yang rombongan menggunakan bis mini. Sepertinya mereka menuju suatu tempat.

Bahkan yang jelas sekali adalah ketika penulis hampir melewati kantor Bupati salah satu kabupaten, kendaraan yang penulis tumpangi berpapasan dengan banyak kendaraan beriringan yang dikawal mobil polisi. Sebagian membawa bendera merah putih yang diikat di kendaraan dan mereka mayoritas berseragam PGRI. Ternyata iringan kendaraan itu masuk komplek kantor bupati. Dari kejauhan di sekitar kantor itu juga sudah banyak rekan mereka yang sudah menunggu. Sepertinya mereka hendak beraudiensi dengan bupati.

Rupanya sekarang inilah meletusnya bom waktu masa penantian para guru wiyata bhakti atau guru yang belum PNS, sering pula disebut GTT (Guru Tidak Tetap). Orang Jawa menyebutnya seperti “udun bledos.Udun adalah benjolan penyakit berdarah karena adanya darah kotor. Biasanya disebut bisul. Setelah sekian lama penyakit benjolan berdarah itu tertahan dengan rasa sakit yang tiada terkira, karena sudah masak darahnya dan si sakit sudah tiada tahan lagi, akhirnya bisul itu meletus.

Setelah penyakit itu meletus akhirnya darah keluar semua. Namun, bisul itu akan kambuh lagi selama “akar penyakit” belum diambil. Orang Jawa sering menyebut “Moto Udun.” Biasanya akar bisul itu berupa gumpalan kecil darah yang kenyal. Jika akar itu sudah di cabut, maka penyakit tidak akan kambuh lagi. Maka biasanya orang yang kena bisul akan berupaya mencabut akar penyakit itu walaupun sakitnya bukan main.

Sudah banyak perbaikan kebijakan untuk guru atas dasar perjuangan PGRI itu. Namun sekian lama perbaikan itu, masih jauh dari harapan utama tuntunan GTT. Tuntutan GTT, utamanya K2 dan yang sudah mengabdi belasan tahun bahkan diatas 20 tahun, yang paling utama adalah status kepegawaian mereka. Mereka menghendaki segera diangkat sebagai PNS.

Kejadian di dunia pendidikan saat ini sepertinya seperti udun mbledos. Selama ini para GTT masih setia menunggu kebijakan pemerintah yang berpihak pada mereka. Bertahun-tahun, belasan tahun mereka sabar dengan nasib mereka. Sangat jarang sekali terdengar para guru atau GTT melakukan tuntutan secara frontal melalui mogok atau demonstrasi. Kalaupun ada biasanya intensitasnya kecil saja. Segala tuntutan biasanya dilakukan oleh PGRI sebagai organisasi profesi guru. Sudah banyak perbaikan kebijakan untuk guru atas dasar perjuangan PGRI itu. Namun sekian lama perbaikan itu, masih jauh dari harapan utama tuntunan GTT. Tuntutan GTT, utamanya K2 dan yang sudah mengabdi belasan tahun bahkan diatas 20 tahun, yang paling utama adalah status kepegawaian mereka. Mereka menghendaki segera diangkat sebagai PNS.

Setelah sekian lama tidak ada pengangkatan PNS bagi guru, padahal mayoritas sekolah saat ini gurunya adalah GTT, ketika keluar keputusan Menpan RB akhir Agustus lalu, karena tidak sesuai harapan, meluaplah kegelisahan mereka. Yang sudah K2 sepertinya nasibnya juga belum jelas. Semua calon PNS harus masih melewati seleksi. Apalagi dibatasi bagi yang usia diatas 35 tahun tidak bisa mendaftar. Kuotapun juga masih sangat terbatas.

Itulah yang menyebabkan kegundahan GTT meletus akhir-akhir ini di sebagian besar wilayah negeri ini. Akhirnya mereka saat ini secara terorganisir melakukan aksi tuntutan sendiri. Bahkan mereka sampai men “tega” kan diri meninggalkan anak didik mereka dengan mogok mengajar. Sebenarnya mereka tidak sampai hati untuk meninggalkan anak didik mereka, namun karena pemerintah masih belum sepenuh hati memperhatikan nasib mereka, mereka dengan terpaksa melakukannya. Penulis yakin, jika akar masalahnya telah diatasi pemerintah, mereka akan kembali ke sekolah.

Semoga “Udon Mbledos” nya GTT yang sudah menasional ini dilihat oleh pihak terkait, pemberi kebijakan, sehingga tuntunan utama mereka segera mendapatkan perhatian. Ibarat bisul, pemerintah mampu mencabut “moto udun” sehingga selesailah masalah. Aamiiin

26 September 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here