Total Quality Management

0
170
Sumber: Yudharta.ac.id

0Shares
0

Kata manajemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi pendidikan, apapun status, posisi, jabatan dan kedudukannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing, termasuk petugas security sekali pun. Untuk menerapkan TQM, setidaknya harus konsisten melaksanakan lima prinsip.

Kampusdesa.or.id–Total Quality Management (Manajemen Mutu Terpadu) merupakan suatu keinginan untuk selalu mencoba mengerjakan sesuatu dengan baik sejak awal. Kata total (terpadu) dalam TQM menegaskan bahwa setiap orang yang berada dalam lingkungan sekolah atau civitas akademika harus terlibat dalam upaya melakukan peningkatan dan pengembangan institusinya secara berkala.

Kata manajemen dalam TQM berlaku bagi setiap orang, sebab setiap orang dalam sebuah institusi pendidikan, apapun status, posisi, jabatan dan kedudukannya adalah manajer bagi tanggung jawabnya masing-masing, termasuk petugas security sekali pun.

Ada lima prinsip yang harus konsisten diwujudkan dalam TQM, yaitu:

Pertama, continuous improvement.

Pertama, continuous improvement, artinya prinsip perbaikan secara terus menerus. Institusi pendidikan akan berjalan baik manakala ada perbaikan dan pengembangan dari semua lini dan unsur, tidak hanya terpaku pada satu elemen saja. Misalnya, hanya guru dan dosen yang senantiasa mendapatkan perhatian penuh sementara elemen lainnya kurang mendapatkan perhatian yang pada akhirnya mereka tidak maksimal menjalankan tugas pokok dan fungsinya karena kurang diperhatikan.

Kedua, quality assurance.

Kedua, quality assurance, artinya konsep menentukan standar mutu. Institusi pendidikan harus punya standar mutu lulusan yang akan dicapai, misalnya target lulusannya mampu menembus lapangan pekerjaan tingkat nasional bahkan internasional.

Ketiga, change of culture.

Ketiga, change of culture, artinya mempunyai konsep membentuk budaya organisasi yang menghargai mutu dan menjadikan mutu sebagai orientasi semua komponen organisasi. Tidak sedikit, keluarga besar pendidikan dan civitas akademika kurang memperhatikan mutu lulusannya. Prinsipnya, yang penting mereka bekerja tanpa memperhatikan mutu lulusannya.

Keempat, upside-down organization.

Keempat, upside-down organization, artinya mempunyai prinsip perubahan organisasi. Visi misinya barangkali sudah lawas yang perlu ada perubahan karena kurang relevan terhadap perkembangan pendidikan saat ini. Misalnya tidak sedikit pesantren yang tidak mau mengubah visi misinya, nyaris gulung tikar, hingga pengasuhnya turba (turun ke bawah) menemui alumninya, meminta putra-putrinya untuk dimondokkan di pesantrennya karena santrinya hanya tinggal beberapa santri saja, padahal pesantren tersebut terbilang pesantren besar dan mempunyai ribuan santri.

Kelima, keeping dose to the customer.

Kelima, keeping dose to the customer, artinya mempunyai prinsip mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Institusi pendidikan baik pesantren ataupun perguruan tinggi menghendaki kepuasan pelanggan, maka penting kiranya menjaga dan memelihara hubungan dengan para pelanggan pendidikan. Beberapa pondok pesantren ternama mempunyai jaringan alumni pesantren misalnya Sidogiri ada IASS, Sukorejo ada IKSASS, Lirboyo ada HIMASAL, Beddian ada ISBAD. Semua itu, tujuan utamanya menjaga dan mengikat jalinan dengan para pelanggan pendidikan agar tidak jatuh hati pada ‘pedagang’ pendidikan lainnya.

Jika kelima prinsip dalam TQM tersebut dihubungkan antara satu dan lainnya, maka akan terlihat, bahwa di dalam TQM ini terkandung misi besar untuk memusatkan manajemen pada upaya menggerakkan para stakeholder agar memberikan pelayanan prima kepada para pelanggan pendidikan dalam hal ini santri, siswa, mahasiswa dan walinya.

Salam.

Dr. Saeful Kurniawan, M.Pd.I.