Testimoni Santri, The Origin of Santri Unique on the Wall in Facebook Status

0
246
Sejumlah status di facebook alumni santri menarik dimuat kembali di sini. Kita bisa mengetahui bagaimana memori tentang masa lalu santri begitu menggemaskan. Ada yang lucu, ada yang serius dan ada yang dihukum ini dan itu. Sebagai kenangan yang indah, di sini, kampus desa mencoba untuk melakukan penayangan ulang status facebook tersebut agar lebih mudah dibaca. Semoga bisa menjadi bacaan menghibur memperingati hari santri, 22 Oktober 2017 yang telah lalu. Terbuka bagi pembaca yang pingin menulis seputar kehidupan pesantren dan pengalaman menjadi santri. Silahkan hubungi admin di footer web ini. Berikut sejumlah petikan-petikan status facebook dari teman-teman santri, tetapi sudah menjadi orang-orang sukses.
Aan Anshori | Ketika Santri not-Now Bertemu Kids Zaman Now

“Kak Aan pengen tahu siapa yang bisa doa sebelum makan. Ngacung dong,” saya bertanya pada puluhan kids Islam-Kristen zaman now yang berkumpul di Joglo Sinau milik Gereja Bethany Gudo Jombang, malam ini. Banyak sekali tangan diacungkan.

Saya senang melihat mereka bermain tanpa melihat latarbelakang agama. Acara ini digagas oleh PDM Petra dan alumni training penggerak perdamaian, Vivi.

“Kami selalu dicurigai akan melakukan kristenisasi, Mas. Padahal kami tulus lho,” kata Petra. Saya tertawa saja sembari terus memotivasinya agar tidak patah semangat mengajarkan kebhinnekaan di kampungnya.

Begitu saya diperkenalkan dan maju ke forum, orang tua yang muslim serentak ikut mendekat –sebelumnya mereka hanya mengawasi anak-anak mereka dari jauh.

“Kenalkan, saya Kak Aan, santri dari Jombang. Kalian senang nggak main di sini? Punya banyak kawan kan? Oh ya, meski Muslim, teman Kak Aan beragam lho. Ada yg Kristen, Katolik, Buddha, Khonghucu. Yang Tionghoa juga banyak. Punya banyak kawan enak lho seperti kalian saat ini,” saya nyerocos, mati-matian bergaya guru PAUD .


Roy Murtadho | Modyar Ditakzir 2 Juz Diulang Sampai Subuh

Hari santri. Dulu jaman masih ngafalin Qur’an dan nadzam Imrithi, dan Alfiyah. Sering tidur di makbarah Hadratus SyaiHasyim Asy’ari. Atau kalau enggak ya di makam Mbah Asy’ari di Keras. Namun sekarang sudah tidak bisa, sebab yang ziarah sudah buanyakkkk…

Nah, waktu di Krapyak yang paling ingat sering kena razia subuh Kiai Najib. Di kejar-kejar sampai masuk WC, Sebab malamnya begadang di masjid Krapyak, diskusi ngalor ngidul nggak jelas. Tapi kalau kena takzir ringan banget cuman disuruh nyapu tiap pagi di ndalem dan pelataran kompleks. Yang paling berat kalau dihukum setoran 2 juz dan diulang-ulang sampai subuh. Modyar tenan. Anak-anak yang lain sudah pada keluar. Tapi saya dibiarin, ngaji mulai jam 10 malam sampai jam 3 pagi. Udah gitu besoknya dibilangin Kiai: “kalau Ndak begitu kapan nderese. Mosok nderese novel tok…” Hehe

Nah kalau sudah pengen cari ketenangan larinya ke makam Dongkelan. Di sana sepi. Tapi bukannya ngaji malah ngatamin novelnya Mangun, “Burung-Burung Manyar” Hahaha…

Yang paling lucu salah kasih amplop ke pak Kiai, yang akhirnya dibalikin sama beliau. Isin puolll… Terakhir kami ngopi bareng di Tebuireng. Beliau bilang, “sing penting aja lali ngaji lan sholat”.

Soal gudiken di pondok? Ya mesti lah! Hukumnya wajib


Mufid Ibnu Rowi | Santri dan pohon Mangga muda

Siang itu, pondok Asy Syafiiyah Babat sedang sepi, sebagian santri pulang kampung. Beberapa santri yang masih di pondok ingin memanjat pohon mangga yang ada di dalam pondok. Maklumlah buat “camilan”. Sementara buahnya masih muda belum layak di panen. Biasanya pohon ini dipanen santri saat sudah masak.

Singkat cerita, beberapa santri itu berdiskusi untuk memilih siapa yang bertugas memanjat dan menjaga di bawah pohon sambil melihat situasi kalau ada pengasuh dan Kyai yang lewat. Hehehe

Tibalah saatnya sang santri A memanjat pohon dan beberapa santri menunggu di bawah dengan tugasnya masing masing. Saat ambil beberapa buah mangga dan diterima santri yang di bawah, Tiba-tiba dan tidak disangka pengasuh keluar rumah yang berada di samping pondok dan menuju ke arah pondok. Santri yang bertugas mengawasi situasi segera memberi tahu, namun terlambat, pengasuh lebih dulu sudah masuk di dalam pondok. Para santri yang di bawah pohon berhamburan menuju kamar. Kemudian pengasuh berdiri tepat di bawah pohon mangga.

Santri yang di kamar mengintip temennya yang masih di atas pohon dan pengasuh yang cukup lama berdiri di bawah pohon. beliau sebenarnya tahu kalo ada santri di atas pohon. Lalu beliau senyum senyum dan memanggil santri. Keluarlah santri dari dalam kamar dengan perasaan dag dig dug, dengan wajah pucat dan beliau berkata:

“Pelem iki wohe akeh enak dipangan nek wes mateng (pohon mangga ini buahnya banyak, enak dimakan kalau sudah masak).” Serempak santri menjawab ” nggih mbah”. Perasaan mereka lega dan gembira karena ternyata beliau tidak marah bahkan mendapat senyuman sang pengasuh.

Kemudian beliau pun pergi menuju rumah kediaman dengan senyum senyum, mungkin sudah cukup memberikan pelajaran santri A yang masih di atas pohon. Tak lama kemudian turunlah santri A dari atas pohon mangga dengan wajah pucat dan disambut dengan gelaktawa para santri yang lainnya.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini?

#edesiharisantri2017


Tata Khoiriyah | Santri Nakal

Dulu ibu kekeuh sekali masukin saya dan adek-adek ke pesantren. Alasannya supaya bisa kecipratan barokah doanya kyai. Bukan cuma itu, mondok jadi tempat yang tepat untuk mendidik anak mandiri, dewasa, dan mampu bersosialisasi sekaligus. Kata ibu, senakal-nakalnya cah santri itu ndak bikin jantungan ketimbang nakalnya anak yg ndak masuk pondok. Pandangan ibu begini karena suka miris mendengar cerita anak kampung yg nakalnya bikin geleng-geleng atau ngelus dada.

Padahal, sejak MTs, SMA hingga kuliah saya termasuk santri ndableg. Gimana ndak ndableg, sukanya pulang terlambat, lebih memilih organisasi ketimbang kegiatan pondok, suka telat jamaah, apalan tasrifan, jurmiyah dan imriti cuma segitu-gitu aja, alias pas-pasan. Pas ngaji kitab suka ketiduran. Baca kitab, cuma mentok di arab pegon. Intinya ndak ada yg dibanggakan. Bahkan saya ini setiap minggu langganan dipanggil pengurus pondok karena kena takziran.

Takzirannya beragam, mulai dari nguras bak kamar mandi, baca sholawat setiap sore, ngepel musholla, disetrap ndak boleh keluar pondok kecuali sekolah, sampe diskors disuruh pulang ke rumah untuk merenung. Semua takziran gakk bikin kapok.

Tapi setelah melewati tahun-tahun diluar pesantren, hal yang bikin kangen dari pondok itu macam makan sistem kepungan, kerja bakti bersih-bersih pondok, senengnya kumpul-kumpul kalau dapat izin keluar, sampe rasa seneng tak terkira karena ngajinya khatam.

Alhasil, saya jadi kepengen kalau punya anak sekolahnya sambil mondok sajalah. Tentunya sekarang usaha dulu cari calon pasangan yang santri juga. Eh ….

Selamat hari santri …


Irham Thoriq Aly | DI PESANTREN

Di pesantren, masak mie rebus, terong bakar, dan sambal seadanya sudah nikmat.
Di pesantren, kita tidak diajari hidup enak. Kata embah saya; pesantren itu bukan tempat untuk hidup enak, meski kamu punya uang untuk memanjakan anakmu. Katanya, suatu ketika kepada ibu saya.

Ya, mungkin karena hidup enak itu tidak butuh dilatih, tapi hidup penuh kegetiran itu yang butuh dilatih. Berulang-ulang.

Sungguh, saya rindu pesantren, ketika definisi kebahagiaan hanya berupa masak bersama sampai larut malam. Memasak dengan kayu dan kompor seadanya, dinding-dinding dapur yang menghitam, hingga berjejal agar nasi lekas masak.

Di pesantren, ada kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sekarang tinggallah lelucon. Suatu hari, saya dan Rohim Warisi mancal ke Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Betapa konyolnya, ketika tiba di stadion, dia malah tidak berani nonton.”Ham, Ham, nanti masuk tv, kenak gundul nanti,” kira-kira seperti itulah ucapannya ketika itu. Saya tidak ingat persis, karena kejadian itu sudah berlalu sekitar 11 tahun silam.

Ya, hukuman bagi santri yang menonton Arema memang berat: digundul. Entah itu menonton di stadion atau menonton di televisi warga sekitar pesantren.
Karena ketakutan itu, kami akhirnya tidak jadi menonton Arema. Kami keluar Stadion, mengayuh sepeda, dan pergi ke rumah saudara. Lumayan, dikasih makan. Kira-kira, kalau ditotal, waktu itu kita mancal sekitar 15 kilometer. Kitapun pulang ke pesantren dengan selamat. Dalam hal melanggar aturan, saya termasuk orang yang beruntung tidak pernah ketahuan meski beberapa kali nonton Arema dan liga champions di televisi, maka selamatlah rambut saya…hehhee

Menjadi santri, sejatinya belajar tentang kehidupan. Mungkin karena itulah, santri tidak pernah takut miskin. Mereka selalu berani menikah meski tidak punya pekerjaan. Lalu, yang sarjana, menunda nikah karena belum mapan. Apa tidak malu?
Di pesantren, kini semuanya tinggal cerita…

Selamat hari santri…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here