Puasa Itu Melatih Kejujuran

0
173

Kejujuran itu adalah wilayah prerogratif seseorang. Hanya yang berjiwa lapanglah kejujuran dapat dikelola dengan baik. Puasa memberikan pendidikan berarah pengalaman bagaimana umat Islam melatih jujur. Kembalinya juga ke diri sendiri. Tapi akankah dengan dalil agama justru kita lupa jujur? Semua kembali ke kekuatan otonom diri sendiri.

Kampusdesa.or.id–Waktu kecil, saya, dan mungkin banyak di antara Anda, sesekali mengelabuhi orang tua saat berpuasa, dengan mencuri-mencuri minum seteguk air atau mencomot sisa kue yang masih tergeletak di atas meja. Setelahnya, kita mengelap mulut dan pura-pura tetap berpuasa. Dan kita tetap akan ikut buka puasa dengan lahap saat azan maghrib tiba, sambil pura-pura kelaparan dan kehausan. Orang tua tidak tahu. Semua aman terkendali!

Sekalipun masih kecil, kita sesungguhnya sudah sadar bahwa perbuatan “curang” ini tetap diketahui Allah. Tidak ada satu pun persitiwa di alam semesta ini, sekecil apapun itu, yang luput dari pantauan Zat yang Maha Mengetahui. Sekalipun demikian, kita toh tetap melakukan dusta kecil-kecilan itu (namanya juga anak kecil).

Allah tentu saja Maha Tahu potensi dusta dalam pelaksanaan puasa. Jika ibadah-ibadah lain (shalat, zakat, haji) bisa dikonfirmasi pelaksanaannya, setidak secara teoretik, maka pelaksanaan puasa sepenuhnya mengandalkan kejujuran pelakunya. Orang dengan mudah mengatakan berpuasa, padahal tidak sedang melakukannya.

Setiap amalan anak manusia adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untukku, dan Akulah yang akan membalasnya

Itulah mengapa ada sebuah hadits qudsi yang artinya, “setiap amalan anak manusia adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untukku, dan Akulah yang akan membalasnya.”

Puasa sesungguhnya adalah latihan kejujuran. Allah memasilitasi kita melalui kewajiban puasa untuk berlatih jujur. Kita bisa berdusta kepada siapa saja, tapi tak mungkin kita bisa berdusta pada Allah. Tidak mungkin ada kejujuran jika kepada Zat yang Maha Tahu segalanya saja kita berdusta. Jika seseorang sanggup berlaku jujur di mana pun dan kapan pun, maka ia sesungguhnya pribadi yang paling amanah.

Puasa memberi kesempatan untuk melatih kejujuran diri. Dusta seorang anak kecil yang meminum seteguk air saat puasa mungkin masih bisa dimaklumi karena sesungguhnya dia baru tahap latihan berpuasa. Namun, bagaimana jika dusta itu dilakukan oleh orang-orang dewasa apalagi jika dibalut dengan jargon-jargon agama?[]