Pramuka itu Identik dengan Kemandirian dan Kepemimpinan, Mengapa KPAI Berkomentar Tak Sedap?

0
173

0Shares
0

Tragedi susur sungai oleh adik-adik Pramuka salah satu SMPN di Yogyakarta memunculkan tanggapan tak sedap dari Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Bagaimanapun, saya menduga segala sesuatu sudah diperhitungkan sebelumnya meskipun bisa menimbulkan sakit bagi peserta kegiatan tapi tetap terkendali karena tanggungjawab pendidik atau pembinanya.

Kampusdesa.or.id-Buntut dari tragedi susur sungai oleh adik-adik Pramuka salah satu SMPN di Yogyakarta memunculkan tanggapan tak sedap dari Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti. Ia mendorong Kemendikbud mengevaluasi kebijakan yang menjadikan pramuka sebagai ekstrakurikuler yang wajib diikuti setiap pelajar (CNN Indonesia).

Kegiatan kepramukaan ini mewadahi kegiatan sekolah yang mendorong siswa menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya seperti jiwa kepemimpinan, kedisiplinan dan lain-lain.

Saya tidak bermaksud menggagas atau menanggapi lebih detil pernyataan tersebut. Karena publik sudah menyaksikan bahwa tragedi susur sungai tersebut diduga keras karena keteledoran pembina pramukanya. Baiklah, saya ingin menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan ini mewadahi kegiatan sekolah yang mendorong siswa menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan nilai-nilai kebaikan lainnya seperti jiwa kepemimpinan, kedisiplinan dan lain-lain.

Semasa saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah melalui proses diklat kepemimpinan yang kegiatan-kegiatannya terintegrasi dengan kegiatan pramuka. Sama dengan mereka para siswa yang susur sungai di Yogyakarta itu, saya masih kelas 2 SMP. Ajang diklat kepemimpinan untuk semua pengurus OSIS di SMPN Kutorejo, Mojokerto kala itu.

Jika diterapkan hari ini, pastilah para orang tua akan lapor kepada pihak-pihak terkait karena keluhan anak-anaknya yang manis manja.

Pelaksaan kegiatan ini di makam Troloyo, Trowulan, Mojokerto. Mendirikan tenda-tenda di sekitar kuburan yang ukurannya panjang-panjang. Konon orang jaman dulu memang tinggi-tinggi. Diklat kepemimpinan 3 hari 2 malam itu terkesan sampai kini. Para calon pengurus digembleng sedemikian kerasnya. Jika diterapkan hari ini, pastilah para orang tua akan lapor kepada pihak-pihak terkait karena keluhan anak-anaknya yang manis manja.

Saya dan kawan-kawan lainnya tidak ada yang mengeluh jengkel. Kami hanya menghela nafas panjang ketika suara keras, mimik muka tak bersahabat menghiasi wajah para senior (notabene kakak kelas kami) juga pembina OSIS dan pembina pramuka (tetap salam ta’dhim kepada mereka jika ada yang membaca tulisan ini).

Latihan PBB di sekitaran makam Troloyo. Waktu itu seolah hilang sifat ‘kemenungsan‘ kami, kami tak boleh salah barang sekecilpun saat latihan PBB. Fokus konsentrasi mengikuti aba-aba dari pembina pramuka. Salah sedikit,  suara keras bakal kami dengar lengkingannya dari pemberi komando. Malamnya ada yang namanya uji nyali. Dulu itu namanya apa ya, saya lupa. Umumnya dinamai dengan “jeritan malam”. Bayangkan sudah di area makam,  masih pula dicarikan makam yang lebih serem. Saat itu bukan hantu yang saya takuti, tapi banyaknya nyamuk yang menggigit saya dan kami semua sehingga kami tak bisa khusyuk mengikuti kegiatan ini .

Keesokan harinya, agendanya jalan-jalan. Mestinya jalan-jalan ini asyik, tapi berhubung kami dalam masa penggembelengan, saya curiga, pasti jalan-jalan ini ndak asyik. Benar!  Sebelum jalan-jalan ada sesi halang rintang. Kami tiarap di bawah ranjau. Eh, tapi ranjaunya aman, dibuat dari tali rafia yang dirangkai sedemikian rupa. Ranjau dipasang kurang lebih dengan ketinggian 40cm, sehingga kalau kami tiarap tidak serius, kepalanya akan nyantol ke tali rafia tersebut. Kecantol tali masih bisa dihindari, tapi baju belepotan lumpur tak bisa kami hindari. Di atas ranjau tempat kami tiarap,  tanah kering disiram air sampai becek sekali. Bayangkan, betapa kerennya kami bisa seperti tentara! Sudah tidak memikirkan penampilan seperti apa wajah kami kala itu.’ Ngunu iku yo ‘tidak jengkel dengan para senior dan pembina OSIS dan pembina pramuka.

Tiarap di atas lumpur dan di bawah ranjau masih termasuk gemblengan setengah berat. Berikutnya,  kami harus melewati jalan yang ada kubangan kerbau. Baunya pasti ‘kebul-kebul badeg banget’.  Kami ‘njegur ‘ ke situ. Walhasil pakaian pramuka kami sudah belepotan lumpur, bau pula.

“Duh Gusti, niat banget nih para panitia bikin kami tahan banting, tidak hanya mental, tapi kesehatan kami juga dibanting-banting!” Batin saya campur aduk antara jengkel juga sok bangga. ‘Ngunu iku kapok’? ‘ Purik’? Melarikan diri dari kegiatan?  Tak satupun yang melakukan hal itu. Kami tetap stay sampai pulang bareng keesokan harinya.

Usai masuk kubangan kerbau, kita napak tilas ke Sumur Upas, makam Kencana Wungu, istri Damarwulan dan terakhir ke pendopo Agung Majapahit. ‘Saking pegel e’ saya tertidur di situ. Pulang dari pendopo kami berkemas pulang, dengan mengenakan seragam  pramuka yang masih bau kubangan kerbau.

Saya menduga segala sesuatu sudah diperhitungkan sebelumnya meskipun bisa menimbulkan sakit bagi peserta kegiatan tapi tetap terkendali karena tanggungjawab pendidik atau pembinanya.

Agenda-agenda kegiatan seperti itu memang tidak se-ekstrim dengan kejadian susur sungai tersebut, tapi saya menduga segala sesuatu sudah diperhitungkan sebelumnya meskipun bisa menimbulkan sakit bagi peserta kegiatan tapi tetap terkendali karena tanggungjawab pendidik atau pembinanya. Bagaimanapun, saya yakin tiada niat yang buruk dari para senior melainkan untuk membentuk karakter dan mental kami untuk menghadapi hidup yang tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah