Pola Komunikasi dalam Sebuah Keluarga, Sebuah Kisah Nyata

0
81

#SeninKamisBerbagi [2]

Assalamu’alaikum, Ayah Shalih & Bunda Shalihah
Apa kabar? Semoga senantiasa dalam rahmat dan barakah Allah, ya?

Jadi, pagi ini saya ada secuil cerita nyata tentang sebuah pola komunikasi. Pola komunikasi yang saya maksud di sini, adalah pola komunikasi dalam sebuah keluarga. Oke, kita samakan persepsi terlebih dahulu, ya? Keluarga, terdiri dari Ayah, Bunda, Anak-anak, Kakek, Nenek, Om, Tante, Budhe, Pakdhe, Keponakan, Driver, Pembantu, atau siapa saja yang tinggal dan hidup bersama dalam satu rumah. Nah, jika persepsi kita sudah sama, mari kita lanjutkan pembahasan mengenai pola komunikasi dalam keluarga.

Ayah Shalih & Bunda Shalihah, dalam setiap keluarga, secara otomatis akan terbentuk sebuah pola komunikasi. Bagaimana terbentuknya? Fondasinya adalah sebuah kebiasaan dan bangunannya adalah pembenaran atas kebiasaan itu.

Kita ambil sebuah contoh, keluarga A dengan anggota keluarga Mommy, Daddy dan Anne. Mereka bukannya tidak pernah berkomunikasi, justru komunikasi merek sangat intensif. Tetapi, yang menjadi permasalahan adalah pola komunikasi mereka terbentuk dengan isyarat-isyarat dan media. Misalkan Mommy akan mengajak mereka makan malam, cukup dengan membunyikan lonceng yang stand by di meja makan. Semua akan mengerti dan segera berdatangan. Ketika hendak memulai makan, Daddy cukup menundukkan kepala sebagai isyarat mengajak Mommy dan Anne berdoa. Semua mengerti, semua berdoa. Lalu, saling menatap dalam senyuman dan mulai makan. Begitu juga dengan hal-hal yang lain, semua dikomunikasikan dengan isyarat dan media. Chatting via WhatsApp, Note yang tergantung cantik di pintu kulkas atau di pintu kamar masing-masing. Telepon hanya akan digunakan pada saat darurat.

Apakah pola komunikasi di atas salah? Tidak, tidak salah! Tetapi, inilah beberapa permasalahan yang dapat ditimbulkan :

  1. Sewaktu di luar rumah, mereka akan mengalami kesulitan dalam bersosialisai atau presentasi
  2. Akan membentuk pribadi-pribadi introvert yang dalam waktu panjang pasti akan mengunduh permasalahan tersendiri, misalnya adaptasi dengan kehidupan baru.
  3. Keterbatasan media dalam penyampaian pesan dapat menimbulkan permasalahan

Contoh yang kedua, kita ada keluarga yang terdiri dari Ayah, Bunda, Najwa, Aldie dan Bi Imah. Mereka memiliki pola komunikasi yang unik. Karena kesibukan masing-masing, Ayah memutuskan untuk mengambil waktu antara ‘Ashar dan Maghrib untuk minum teh bersama. Dalam acara itu, Ayah mewajibkan seluruh anggota keluarga untuk hadir. Termasuk pembantu mereka, Bi Imah. Nah, di sanalah mereka mengobrol, diskusi, sharing … Pokoknya menceritakan segala hal yang terjadi dalam sehari. Semua cerita harus didengarkan dan diapresiasi dengan baik.

Pola komunikasi ini hebat. Menekankan pada kualitas komunikasi. Keterbukaan dan kejujuran terhadap keluarga, dapat membentuk pribadi yang empati, apresiatif, kooperatif dan bersedia menjadi pendengar yang bijak.

Ada satu contoh lagi, pola komunikasi dalam sebuah keluarga Long Distance Relationship. Nah, mereka memprioritaskan komunikasi dengan saling menghubungi setiap pagi, siang, sore dan malam sebelum tidur. Saling menanyakan kabar, saling support dan terkadang diskusi untuk menemukan solusi permasalahan tertentu.

Ayah Shalih dan Buda Shalihah, bagaimana dengan keluarga Anda?
Pola komunikasi seperti apa yang terbentuk selama ini?

Sleman, 15 Januari 2018
Humairah Samudra. Penulis yang juga anggota Indonesia Menulis Online. Saat ini bersama anggota group yang berafiliasi di whatsapp sedang mengerjakan proyek menulis bersama tentang Cerita Anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here