OTT ; Musibah Terdahsyat Lombok Paska Gempa

0
107

Rasanya duka kemanusiaan gempa Lombok, belum terobati. Tidak disangka, proses rehabilitasi yang seharusnya bertujuan untuk memulihkan derita masyarakat Lombok diliputi oleh pengorbanan yang tidak kenal lelah. Namun, nampaknya situasi empati yang selalu didukung total oleh seluruh bangsa ini, tiba-tiba ada perilaku biadab yang mencoba mengambil untung dibalik musibah. Seperti menolong orang kecelakaan tetapi sibuk menemukan isi dompet korban untuk di-entit. Ya. Pejabat negeri ini mengemplang dana rehabilitasi. Naudzubillah.

REPAN PURBA*

Hari ini, Jum’at 14 September 2018, Lombok kembali diguncang musibah, bahkan lebih dahsyat dari musibah gempa sebelumnya. Maaf, info ini bukan hoax, tapi kenyataan. Sebelum anda bertanya-tanya karena mungkin anda tidak mendapatkan info sebelumnya musibah itu, lebih baiknya info ini dibaca sampai selesai.

Hampir dua bulan ini, energi kemanusiaan kita, bangsa Indonesia, lebih sering tertuju kepada saudara kita yang terkena musibah di Lombok. Sejak 29 Juli 2018, gempa bumi terus mengguncang Bumi Nusa Tenggara dan sekitarnya. Berkali-kali gempa dengan getaran antara 4 – 7 scala righter terjadi. Puluhan bahkan ratusan getaran susulan seringkali terjadi mengiringi gempa utama.

Gempa bumi di Lombok kali ini sepertinya merupakan gempa kategori besar dengan dampak terparah di negeri Indonesia tercinta. Ribuan orang harus mengungsi, ribuan rumah hancur, ribuan bangunan dan fasilitas umum rusak, jalanan banyak yang rusak, tanah pertanian dan perkebunan juga rusak, ribuan orang terluka bahkan lima ratus orang lebih wafat dalam tragedi ini.

Tragedi musibah besar ini sangat memilukan. Semua bangsa Indonesia merasa prihatin dan berduka cita. Tidak hanya bangsa Indonesia, namun penduduk duniapun turut berbelasungkawa. Banyak ragam cara dilakukan untuk memberikan perhatian pada para korban. Tetesan air mata, bantuan tenaga, bantuan makanan dan pakaian, batuan uang dan sebagainya. Itu semua dilakukan sebagai wujud keprihatinan, duka cita dan belasungkawa atas musibah besar ini.

Kini, semua sudah mulai bisa tersenyum. Sejak minggu terakhir Agustus gempa sudah reda. Darurat gempa telah berakhir dan kini sudah mulai dilaksanakan rehabilitasi. Infrastruktur, sarana dan prasarana, perumahan, fasilitas umum mulai diperbaiki baik oleh pemerintah, organisasi atau lembaga sosial maupun secara mandiri. Lombok kini telah bangkit.

Namun, ditengah suasana bangkit kembali itu, Lombok kembali dihantam musibah. Musibah susulan ini justru musibah yang lebih dahsyat. Walaupun intensitasnya sepertinya kecil namun sebenarnya justru musibah inilah yang terbesar. Dampaknya pun juga paling memilukan. Musibah inilah yang lebih layak untuk kita prihatini. Musibah inilah yang lebih pantas kita tangisi dan belasungkawai. Dengan musibah ini kita lebih berhak berduka cita.

Musibah terdahsyat ini terjadi hari Jum’at, 14 September 2018. Tepatnya di sebuah warung kopi (warkop) kecil di wilayah pinggiran Lombok. Apa yang terjadi?

Siang itu, petugas dari Kejaksaan dan polisi melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap setidaknya 3 orang pelaku saat melakukan transaksi suap atau pemerasan. Mereka adalah HM, politikus partai Golkar DPRD Mataram, memeras HS dan CT. Dalam operasi ini disita sedikitnya uang tunai 30 juta rupiah, beberapa hand phone, sepeda motor matix yang masih dibungkus plastik dan mobil pribadi yang masih baru. Penangkapan ini terkait dengan gratifikasi proyek rehabilitasi gedung sekolah senilai 4,5 Milyar. Adapun pelakunya terdiri dari seorang anggota DPRD, Kepala Dinas Pendidikan dan seorang kontraktor.

Apa kaitannya OTT dengan bencana terbesar bagi manusia? Ternyata kejadian OTT ini merupakan bagian dari bencana terbesar bagi manusia. Kok?

Menurut Syaikh Ibnu Athoillah As-Sakandari dalam kitab Bahjat Al-Nufus, orang yang mendapat musibah sejatinya bukanlah yang ditinggal mati keluarganya atau kehilangan harta dan kekasihnya. Tetapi, orang yang dihantam oleh dosa, diserang oleh syahwat dan ditimpuk oleh berbagai kesalahan. Ia habiskan umurnya untuk segala yang terlarang. Yang sebenarnya ditimpa musibah adalah mereka yang bermaksiat kepada Allah SWT dan tidak bertaubat dari dosa. Dan musibah terbesar manusia adalah ketika manusia kehilangan keimanan dan ketakwaannya.

Suap, korupsi dan gratifikasi serta pencucian uang termasuk suatu penyimpangan dan pelanggaran karena sama halnya dengan mencuri uang negara. Semua itu dilarang oleh pemerintah dan juga menjadi larangan agama.

Mengapa orang yang terkena OTT pemerasan tergolong terkena musibah terbesar? Maaf, kita semua tahu bahwa segala bentuk penyelewengan uang termasuk pelanggaran. Termasuk uang negara. Suap, korupsi dan gratifikasi serta pencucian uang termasuk suatu penyimpangan dan pelanggaran karena sama halnya dengan mencuri uang negara. Semua itu dilarang oleh pemerintah dan juga menjadi larangan agama. Pelakunya jelas sudah tergolong pelanggar hukum dan dalam agama dihukumi pelaku maksiyat dan dosa. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan bahwa seorang pencuri itu pada saat mencuri dia dalam keadaan tidak beriman, Naudzubillahi min dzaalik. Sebagaimana sabdanya :

لا يشرق الشارق حين يشرك وهو موءمن

“Tidaklah mencuri seorang pencuri kecuali saat itu dia sudah tidak beriman”.

Khusus kasus OTT di Lombok kali ini lebih parah lagi. Justru dana rehabilitasi gempa yang diperas. Dana untuk masyarakat yang tertimpa musibah, orang yang sangat-sangat membutuhkan, justru dirampas untuk kepentingan pribadi. Secara akal sehat saja hal ini sudah sangat keterlaluan. Sungguh sangat tidak berperikemanusiaan. Apalagi jika kita kaitkan dengan hukum agama. Pasti lebih besar lagi kedurhakaannya. Oleh karena itulah sangat tepat apabila dalam Undang-undang No 31 tahun 1999 pasal 2 ayat 2, hukuman bagi koruptor dana bencana ancamannya adalah hukuman mati.

Berdasarkan analisis Syaikh Ibnu Athoillah diatas, maka orang-orang yang melakukan pelanggaran hukum, melakukan maksiat, berbuat dosa dan hilang keimanan dan ketakwaannya lah yang lebih patut dibelasungkawai, ditangisi dan diratapi. Karena boleh jadi, orang yang tertimpa bencana, termasuk warga Lombok, rumah mereka roboh, tetapi iman mereka tetap kokoh. Harta benda mereka hancur, tetapi mereka masih mampu bersyukur. Mereka jasadnya terluka, namun iman tetap bersemayam dalam dada. Segala kesulitan hidup yang mereka alami, justru semakin membuat mereka dekat dengan Ilahi Robbi. Bahkan bagi yang telah wafat, mungkin ini jauh lebih baik bagi mereka untuk segera bisa bertemu dengan Sang Penguasa Akhirat.

Tiada bencana terbesar dalam hidup ini, kecuali jika hidup kita telah jauh dari garis dan harapan Ilahi. Bencana gempa bumi di Lombok bukan kecil, namun masih ada bencana besar bagi kita ketika kita jauh dari tuntunan Allah SWT, Tuhan pencipta alam. Semoga kita senantiasa mendapat Rahmat, Taufik, Hidayah dan Inayah-Nya sehingga bisa selamat dari segala musibah. Aamiiiin. Walloohu a’lam bishshowaab.

Repan Purba. Anggota Gerakan Guru Menulis Malang. Pengawas Pendidikan Agama Islam (PPAI) Kec. Dampit dan Sumbermanjing Kab. Malang. Pegawai Kemenag Kab Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here