Harapan Bebas Pandemi COVID-19 Perspektif Kitab al-Hikam

0
73
Gambar ilustrasi: Kuliah Al-Hikam Khas; Memahami COVID-19 Menurut Kacamata Sunnah (https://www.facebook.com/masjiddarulghufran/)

0Shares
0

Bangsa ini akan sukses melawan Pandemi mematikan ini sesuai ketaatan rakyatnya dalam menjalankan programnya, jika tidak? Itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Suatu program baik dalam pencegahan virus Corona tidak akan berhasil manakala rakyatnya masih sibuk berdebat hukumnya dan tidak mengindahkan peraturan serta tidak merealisasikan dalam perbuatan atau amal perbuatan yang ia kehendaki.

Kampusdesa.or.id–Informasi terkini bahwa kasus baru virus Corona di ibu kota Jakarta sudah mulai surut, namun demikian justru penyebaran virus Corona di beberapa daerah semakin meningkat termasuk kabupaten Bondowoso yang saat ini yang positif terjangkit virus itu mencapai delapan orang.

Berbagai ragam cara dilakukan untuk menekan penyebarannya, ada yang melalui harapan doa, harapan istighasah, dan harapan khotmul Qur’an yang digagas oleh Gubernur Jatim diikuti oleh beberapa bupati yang ditutup dengan doa oleh KHR.Ahmad Azaim Ibrahimy di media sosial.

Namun, langkah mulia tersebut harus dibarengi dengan langkah-langkah konkrit dan realistis. Jika tidak, hal itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Seperti yang disampaikan oleh asy-Syaikh Ibnu Athoillah as-Sakandari dalam kitab Hikamnya:

Al-Rajaa-u maa qaaranahuu ‘amalun wa illaa fahuwa umniyatun

Artinya, harapan adalah kehendak yang harus diikuti dengan amal perbuatan, kalau tidak demikian hanya angan-angan. Harapan adalah sifat mulia, dan termasuk sifat orang-orang yakin, tumbuh atas kesungguhan dan kesadaran.

Harapan itu sendiri adalah sifat yang menghiasi kita semua ketika berdoa dan beristighasah. Kita berharap lepas dari Pandemi Covid-19 sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw dimana harapan tersebut paralel dengan usaha maksimal . Berusaha optimal agar negeri ini segera reda dan bebas dari virus seyogyanya tidak berbenturan dengan sunah Rasulullah dan tidak ada kesenjangan antara harapan dan prakteknya.

Dua hal ini sungguh sangat diperlukan dalam menekan penyebaran Pandemi covid-19 rajin berdoa dan disiplin melaksanakan kebijakan pemerintah seperti jaga jarak, tidak keluar rumah, pakai masker, dan menjaga kesehatan fisik dan psikis.

Ma’ruf al-Karakhiy berkata: “Menuntut Surga tidak dengan amal sama dengan berbuat dosa, mengharap syafaat tanpa sebab adalah tertipu, mengharap rahmat-Nya tanpa implimentasi adalah suatu kebodohan.

Guillemet-04 - Veillées pour la VieMemang benar, bahwasannya apapun yang kita harapkan dari pandemi Covid-19 ini tidak akan tercapai apabila harapan dan doa itu tidak dituangkan dalam amal perbuatan.

Memang benar, bahwasannya apapun yang kita harapkan dari pandemi Covid-19 ini tidak akan tercapai apabila harapan dan doa itu tidak dituangkan dalam amal perbuatan.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Orang pandai adalah orang yang mengoreksi dirinya, dan beramal untuk menunggu mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah suka mengikuti hawa nafsunya dan mengharapkan bermacam angan-angan.

Imam al-Hasan berkata: “Ada orang yang tertipu oleh angan-angan menginginkan ampunan sehingga mereka keluar dari dunia sedangkan mereka belum membawa kebaikan amal, sembari beliau membaca QS.al-Fusshilat:23.

Demikian sedikit penjelasan masalah usaha maksimal untuk menekan penyebaran virus corona. Bangsa ini akan sukses melawan Pandemi mematikan ini sesuai ketaatan rakyatnya dalam menjalankan programnya, jika tidak? Itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Suatu program baik dalam pencegahan virus Corona tidak akan berhasil manakala rakyatnya masih sibuk berdebat hukumnya dan tidak mengindahkan peraturan serta tidak merealisasikan dalam perbuatan atau amal perbuatan yang ia kehendaki. Wallahua’lam.