Cukupkah Orang Tua Menyuruh Anaknya Belajar tanpa Mendampingi ?

0
259

KITA SEBAGAI ORANG TUA tidak bisa lepas dari tanggung jawab dalam hal pendidikan. Utamanya pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan jenjang sekolahnya. Walaupun putra putrinya sudah mendapatkan pendidikan di suatu lembaga pendidikan, mereka harus tetap memberikan pendampingan terhadap putranya dalam belajar. Terutama bagi orang tua yang putranya masih di kelas rendah  antara kelas 1 sampai kelas 3 SD.

Mengapa hal ini saya sampaikan? Tanpa saya sengaja setiap hari saya mendengar tetangga saya mengajari putranya yang masih duduk dikelas 2 SD. Ibunya sangat berharap putranya menjadi anak yang pandai, sehingga bisa mendapatkan ranking yang bagus. Si ibu kelihatannya sangat antusias dalam memberikan pengajaran terhadap si kecil. Bahkan kadang – kadang membuat si anak menangis, karena mungkin kelelahan atau karena belum bisa mengerjakan pekerjaannya. Padahal ibu berharap anaknya bisa menyelesaikannya dengan benar, tepat sesuai dengan harapan ibu. Terkadang bahkan terjadi perdebatan antara ibu dan anaknya. Si anak berpegang teguh dengan cara-cara yang diajarkan guru sekolahnya, sedangkan si ibu berpegang teguh dengan caranya sendiri asalkan jawabannya benar. Ini yang terjadi di satu keluarga.

Beda lagi  dengan tetangga sebelahnya, dalam keluarga ini orang tua menyuruh  putranya untuk belajar. Si putra lantas belajar walaupun kelihatan dengan ogah – ogahan.  Sementara si ibu duduk sambil menonton sinetron di TV sambil sesekali berteriak mengomentari putranya apabila dilihatnya si anak mulai tidak fokus belajar.  Padahal ibu ini tidak tahu apa yang sedang dipelajari putranya. Namun ibu juga berharap putranya pintar sekolahnya dan akan mendapat rangking bagus di sekolahnya . Makanya ibu menyuruh putranya untuk belajar dengan giat.

Ini ada lagi contoh  dari tetangga yang memberikan kebebasan terhadap putra putrinya untuk belajar atau menunda belajarnya, bahkan tidak belajar asalkan mereka sudah menyuruhnya  belajar. Keluarga ini mengatakan putranya sulit kalau disuruh  belajar, padahal orang tua sudah berkali-kali  menyuruhnya  untuk belajar, akhirnya ya dibiarkan saja. Si ibu ataupun ayah menganggapnya putranya masih kecil jadi mereka beranggapan tidak perlu memaksanya untuk belajar.  Mereka berpikir kalau anaknya nanti sudah besar pasti mengerti dengan sendirinya.

Dari beberapa contoh  kecil yang terjadi di masyarakat sekitar kita ternyata sebagai orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam memberikan pendampingan belajar terhadap anak khususnya kelas rendah . Belajar harus dimulai sejak dini,  bahkan mulai dikandung badan . Yang tanpa mereka sadari dimulai dari pembiasaan-pembiasaan yang positif yang ditiru dan diajarkan oleh ayah dan ibunya. Bahkan menurut Ki Hajar Dewantara, yang disebutnya dengan “Tri pusat pendidikan” menjelaskan bahwa tugas pendidikan berada di tiga tempat. Pendidikan anak pertama didapatkan dari keluarga, jadi apapun yang didapatkan anak dari keluarga, baik ataupun buruk yang didapatkan anak dari keluarga merupakan modal yang dimiliki anak untuk memulainya tetjun kemasyarakat.

Pendidikan yang kedua diperolehnya dari sekolah, dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibawa anak dari keluarga akan dibawa ke sekolah. Di lembaga sekolahnya modal anak tadi akan ditambah, diasah, dikembangkan sehingga menjadi pribadi yang lebih. Anak diharapkan anak menjadi lebih mandiri dan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan usianya.

Sedangkan tugas pendidikan yang ketiga adalah masyarakat. Dengan menguasai dua bekal dari sekolah dan keluarga anak akan mendapatkan pendidikan dari masyarakat. Diharapan masyarakat bisa memberikan dan mengembangkan ilmu yang sudah diperoleh anak sehingga anak bisa mengatasi kesulitan-kesulitan hidup melalui pengalaman, pengetahuan, dan keterampilannya.

Berdasarkan hal tersebut kita baru menyadari tugas pendidikan itu menjadi tugas kita bersama. Terutama pendidikan pada anak kelas rendah.  Sebagai orang orang tua rasanya kurang bijak kalau  kita gunakan  kata menyuruh untuk membuat si kecil belajar. Mulai saat ini marilah kata menyuruh kita ganti dengan kata mengajak. Karena dengan “mengajak” anak merasakan orang tuanya juga ikut. Sehingga anak merasa nyaman karena mereka seolah-olah akan pergi bersama. Dengan ini anak tidak merasa kalau disuruh belajar, maka berangkatlah mereka untuk melakukan belajar tanpa paksaan.

Di sini orang tuapun harus konsekuen, karena tadi mengajak, maka juga harus berangkat bersama anak untuk menikmati belajar bersama. Dengan didampingi orang tua di sampingnya anak merasa nyaman dan tentram. Mereka merasa bersama sehingga tidak kuatir  untuk ditinggalkan. Belajar dalam keadaan menyenangkan membuat anak lebih fokus kepada apa yang dipelajarinya. Untuk itulah bagaimanapun sibuknya atau lelahnya orang tua sempatkan untuk menemani putra putrinya dalam belajar.

Memang cocok sekali penerapan kurikulum K-13 dengan masalah ini.  Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Selain memudahkan kita mengakses dunia luar dengan segala kemudahan. Sering juga menyebabkan hubungan antara anggota keluarga yang semakin renggang.

Dalam rangka mengembalikan hubungan atau komunikasi yang harmonis, maka Menteri Pendidikan yang waktu  itu dipegang  Moh. Nuh menerapkan kurikulum baru yang disebut K13. Dalam setiap akhir pembelajarannya selalu diselipkan belajar bersama orang tua. Tidak kalah penting dari itu, dalam mendampingi putra putrinya, orang tua juga harus sering berkomunikasi dengan guru untuk saling tukar informasi mengenai perkembangan putranya putrinya, juga untuk mensinkronkan pembelajaran yang diterapkan guru, hal ini untuk menghindari misinterpretasi dalam memberikan bimbingan belajar siswa di rumah sehingga tidak terjadi lagi orang tua berbeda dalam mengajari putra putrinya. Perbedaan begitu sering terjadi. Dampaknya anak kebingungan. Orang tua kokoh dengan pendiriannya, sementara si anak menuruti gurunya.

Jangan terlalu memaksakan anak untuk mencapai sesuatu yang memang belum waktunya. Nanti akan tiba saatnya anak menguasainya ketika anak memang benar-benar sudah semakin matang. Tidak ada satupun anak yang bodoh, mereka mempunyai potensi bakat, minat yang berbeda, dan mereka juga memerlukan waktu yang berbeda pula untuk meraihnya.

Bapak dan ibu wali siswa, marilah kita membimbing putra-putri kita dengan sewajarnya. Dalam arti sesuaikan dengan kemampuan anak. Jangan terlalu memaksakan anak untuk mencapai sesuatu yang memang belum waktunya. Nanti akan tiba saatnya anak menguasainya ketika anak memang benar-benar sudah semakin matang. Tidak ada satupun anak yang bodoh, mereka mempunyai potensi bakat, minat yang berbeda, dan mereka juga memerlukan waktu yang berbeda pula untuk meraihnya.

Untuk itu kita harus peka dalam menemukan potensi yang ada dalam dirinya. Kita coba gali secara perlahan dan sabar. Pasti suatu saat akan muncul. Pada saat itulah kita akan memberikan masukan-masukan dan penekanan yang bisa dikembangkan agar potensi anak bisa berkembang dengan maksimal.

Memang tidak bisa dipungkiri sebagai orang tua semua pasti mengharapkan agar putra putrinya menjadi yang paling hebat, paling pintar, pokoknya paling baik di segala bidang. Itu harapan semua orang tentunya. Tetapi orang tua juga harus menyadari kemampuan putra putrinya. Jangan sampai harapan orang tua yang terlalu tinggi tidak sesuai dengan kemampuan anak justru akan membebani keduaanya. Dan akhirnya membuat anak malah tertekan yang ujungnnya merugikan anak sendiri.

Inti dari paparan di atas adalah perlunya orang tua bisa mengubah pola pikirnya dalam mendampingi anak untuk belajar. Dari menyuruh saja ke mengajak sehingga orang tua juga ikut menikmati tamasya belajar bersama anak, juga perlunya orang tua mengetahui sejauh mana kemampuan putra-putrinya supaya bisa memberikan pendampingan yang tepat terhadap anak sesuai dengan usianya.

Gestiari. Seorang Guru Kelas di SDN 6 Kebonagung,
Pakisaji Kabupaten Malang dan juga anggota aktiv
di Gerakan Guru Menulis (GGM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here