Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 84

Workshop Gaya Kepenulisan (Terbuka untuk Umum)

0

Menulis itu tidak semata mengekspresikan gagasan yang terangkum dalam setiap deretan kalimat dan paragraf. Setelah menulis usai, lalu dipublikasikan secara cetak atau online. Begitu proses itu usai, maka sudah gugur kegiatan menulisnya.

Menulis itu tak ubahnya seperti menjadi PENGAJAR, PENCERAMAH, PENDAKWAH atau bahkan bernilai propaganda yang mempengaruhi perubahan secara kognitif dan bahkan perilaku. Apakah tulisan Anda sudah berkekuatan seperti itu, atau hanya sekedar menulis yang kekuatannya tidak pernah terpikir seperti apa pengaruh yang dirasakan oleh pembaca.

Mari sama-sama introspeksi dan mengukur, berapa intensi pengaruh kekuatan tulisan kita bagi pembaca. Apakah tulisan kita berkekuatan dahsyat, atau seperti membuang bungkus kacang. Setelah selesai menulis, dipublis dan tidak ada lagi sesuatu yang membekas pada pembaca.

Yuk, diskusi saja untuk membuat formula agar tulisan kita lebih membekas dengan aneka gaya tutur yang boleh jadi belum sempat kita pikirkan, tetapi di diskusi ini kita semakin tahu cara kita bertutur dengan tulisan kita. Kami undang para PENULIS di laman KAMPUSDESA atau Anda yang ingin menulis di KAMPUSDESA tetapi masih bingung menulis, atau bagi Anda yang ingin belajar bersama kami untuk mencari formula baru aneka gaya menulis yang memengaruhi pembaca. 

Kami kebetulan telah tersambung dengan tiga orang hebat untuk berbagi ketrampilan dan ide untuk mengembangkan gaya/selingkung kepenulisan dari kampusdesa dan dari teman penulis kami. Mereka adalah ;

Antika C. Larasati. Penulis buku Julia Mencari Tuhan, promovendus Ilmu Politik Universitas Brawijaya ini akan berbagi tips pengalaman menulis novelnya dengan fokus, Menulis dalam Selingkung Novel Konflik, Mengoyak Dinamika Kemapanan Pembaca. >> Jumat, 18 Mei 2018 | 14.00 sd 16.00 WIB

Ulfa Muhanyani.  Alumnus Master Kebijakan Publik dari Australian National University dan sekarang akan mengambil doktoralnya di Australia juga, termasuk kolumnis majalah Auleea seputar gender dan feminism akan berbagi seputar Menulis dan Menarasikan Keberpihakan. >> Jumat, 18 Mei 2018 | 16.30 sd 17.30 WIB

Ilhamuddin Nuqman. Alumnus magister Psikologi UGM Yogyakarta, Dosen Psikologi Industri dan Organisasi Universitas Brawijaya, Penulis buku, Coach Bisnis, akan memandu kita mencari formula Menulis dan Strategi Memengaruhi Pembaca, Membuat scenario jejak psikologis pembaca. >> Sabtu, 19 Mei 2018 | 14.00 sd 17.30 WIB

Wis wis wis… woro-woro admin dicukupkan sekian ya, keterangan tempat dan waktu ada di POSTER yang ada. Ini seperti darus menjelang berbuka. Yuk awali puasa perdana dengan tadarus cerdas.

Ancer-ancer tempat. Tempat GB Kafe ada di jalur seputar timur Pondok Sabilurrosyad (KH. Marzuki Mustamar) Gasek Karangbesuki Malang.

Lebih lengkap hubungi kami di nomer yang tertera.

Pengganti takjil dan buka (bagi yang berpuasa) Rp. 50.000,-, bonus materi dan sertifikat | Bagi yang ingin BDD (Bayar Dewe-Dewe) maka tanpa dipungut biaya.

Disediakan pameran buku inspiratif baik yang diproduksi oleh kampusdesa, atau buku-buku para pemateri di atas.

Bisakah Nilai Kebersihan Sekolah Kita Seperti Mall

“Kemampuan menjamin kebersihan menjadi nilai organisasi menjadi salah satu indikator budaya mutu berjalan dengan baik” (Amka)

KEBERSIHAN merupakan kondisi dimana tidak didapati kotoran yang ada. Kondisi seperti itu akan dihasilkan ketika kita selalu memperhatikan dan menjaganya. Kebersihan tubuh misalnya, akan selalu didapati ketika seseorang dengan sabarnya menjaga dan membersihkan kotoran di tubuhnya setiap hari.

Kebersihan lingkungan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan dan dijaga. Untuk menjaga kebersihan lingkungan, dibutuhkan kebiasaan. Kebiasaan adalah sikap seseorang yang selalu sadar dan sabar melakukan sesuatu. Tanpa kesadaran dan kesabaran maka kebiasaan tidak akan bisa terpenuhi, maka dengan ilmu kesadaran akan diperoleh. Untuk memperoleh ilmu, maka membutuhkan pengajaran.

Pengajaran tentang sikap seseorang agar sadar kebersihan tentunya tidaklah mudah. Variabelnya cukup banyak untuk diperhatikan ketika mengajar bab kebersihan sekaligus bagaimana implementasinya agar kebersihan itu tidak hanya menjadi pengetahuan akan tetapi menjadi sikap semua civitas akademika yang ada di lingkungan sekolah.

Kita bandingkan dengan sekolah kita, seringkali kita mendapati sampah sudah berserakan di lantai dan kita tidak “sungkan ” membuang sampah ketika ada kotoran yang tersisa di lantai sekolah.

Seringkali kita pergi ke Mall dan mendapati bahwa Mall keadaannya lebih bersih dari pada sekolah atau madrasah. Kita mau membuang sampah menjadi sungkan ketika keadaannya sangat bersih. Kita bandingkan dengan sekolah kita, seringkali kita mendapati sampah sudah berserakan di lantai dan kita tidak “sungkan ” membuang sampah ketika ada kotoran yang tersisa di lantai sekolah. Kata kuncinya adalah bagaimana memastikan lingkungan di sekitar kita untuk selalu bersih agar bisa murid atau guru di sekolah menjadi “sungkan” untuk membuang.

Pesan-pesan tentang menjaga kebersihan hendaknya di tempel sebanyak mungkin di tempat yang kemungkinan seseorang akan membuang sampah misalnya di pojok ruangan, sekitar pohon, dan lain sebagainya sehingga seseorang terus terinstall pikirannya untuk menjaga kebersihan atau bisa juga dengan pesan peringatan berupa rekaman pengumuman yang terus disuarakan di lingkungan itu.

Peran seorang penjaga kebersihan juga sangat penting, biasanya penjaga kebersihan hanya membersihkan di awal masuk dan di akhir ketika semuanya akan pulang. Kinerja penjaga kebersihan seperti ini masih kurang efektif, seharusnya penjaga kebersihan selalu memantau setiap saat dan memastikan kondisi di sekitarnya itu bersih, sehingga ada sedikit kotoran langsung dibersihkan tanpa sisa. Manajemen seperti ini sangat efektif dan juga membutuhkan dana yang cukup besar, karenanya standar kinerja harus ditetapkan misalnya 5 jam minimal untuk beban kerja penjaga kebersihan harus dipastikan dengan upah yang standar pula.

Cara lain untuk mengelola kebersihan dengan biaya yang murah tapi efektif adalah dengan cara menggerakan sikap seluruh anggota lembaga untuk menjadi penjaga kebersihan. Tentunya pemimpin memberikan suri tauladan yang baik agar bisa dijadikan model anggota lembaganya

Cara lain untuk mengelola kebersihan dengan biaya yang murah tapi efektif adalah dengan cara menggerakan sikap seluruh anggota lembaga untuk menjadi penjaga kebersihan. Tentunya pemimpin memberikan suri tauladan yang baik agar bisa dijadikan model anggota lembaganya. Misalnya ketika merokok hendaknya putung rokok tidak di buang sembarangan dan pemimpin selalu mengingatkan anggota lembaganya agar selalu menjaga kebersihan.

Lembaga Pendidikan semestinya mampu mengajarkan kebersihan sebagai nilai bersama dalam organisasi itu, bahkan tidak hanya mengajarkan akan tetapi mampu mengelola lingkungan agar selalu bersih.

Wallahu A’lam bi al Sawab
Malang, Jum’at 4 Mei 2018 (18 Syakban 1439 H)

Murid “Hiperaktif,” Guru Sensitif

0

Perubahan dalam era teknologi informasi selayaknya diikuti oleh daya tangkap terhadap inovasi pendidikan. Saat guru terbiasa mengajar dan murid mendengar guru menyampaikan pengetahuan, murid mencatat dan mengulangnya menjadi ilmu pengetahuan. Saat murid bisa berselancar di dunia maya dan memunyai sudut pandang yang lebih lengkap dari pengetahuan guru, bahkan boleh jadi berbeda, apa guru tetap menyukai zona nyamannya ?

SEMAKIN menyeruaknya dunia maya, era digital, maka kebutuhan orang terhadap alat komunikasi berbayar, seperti gawai, dan sejenisnya membuat semua orang ingin memiliki mengoperasikan alat alat komunikasi tersebut.

Tak pelak anak anak pun yang masih muda belia, usia sekolah bahkan yang belum sekolah pun kena virus dunia maya.

Sekolah atau madrasah sebagai tempat formal mencari ilmu bagi mereka sekarang sudah tidak ubahnya sebagai tontonan kedua yang didapati anak-anak. Betapa tidak, anak yang memiliki kemampuan kreatif di pelajaran yang disampaikan guru, ternyata dia sudah terlebih dulu mendapatkan materi di rumah, entah itu lewat televisi majalah, koran dan internet.

Kemudahan mendapatkan akses internet akhir-akhir ini berimbas sangat besar bagi keberlangsungan pendidikan anak. Akhlak anak kadang melebihi ukuran dari porsi usianya sehingga implikasinya guru harus “melek” internet.

Guru mengajar harus lebih lihai dan lebih siap terhadap apa yang akan diajarkan kepada anak didik. Guru belajar lebih mendalam daripada profesi guru di jaman dulu.

Guru jaman now jangan tersinggung bila pengetahuan anak lebih karena media pembelajaran yang didapati anak dengan yang dipelajari guru kerapkali minim variasi (pengayaan).

Anak sudah pandai menilai dan membedakan. Bahkan kadang anak mengomentari gurunya bahwa ilmu yang disampaikan tidak sesuai dengan yang didapat dari media lain.

Untuk itu marilah sebagai guru tidak henti-hentinya belajar dan belajar. Belajar sepanjang hayat sesuai hadits Rasulullah harus kita jalani sebagai profesi yang amat mulia ini.

Luangkanlah waktu untuk menambah wawasan dan pengetahuan dari manapun sumbernya.

Salam semangat untuk semua guru, terutama guru madrasah kabupaten Mojokerto.

Saikhul Adenan

Guru MIN 2 Mojokerto dan Salah Satu Anggota Gerakan Guru Menulis di Mojokerto. Tulisan ini merupakan bagian dari latihan menulis di program Gerakan Guru Menulis

Infeksi Saluran Kemih, Wow Tanpa Operasi?

Boleh jadi ini kontroversi, tetapi ada orang yang mendapatkan manfaat dari berbagai proses pengobatan. Dunia kedokteran sampai hari ini masih saja berhadap-hadapan dengan penemuan yang berbeda dari kebiasaan riset pengembangan obat dan pilihan sembuh. Nah, termasuk infeksi saluran kemih. Dokter menyarankan operasi tetapi pasien punya pengalaman di luar ruang operasi, itupun terkait dengan peluang sembuh.

SEPERTI judul tulisan di atas, infeksi saluran kemih itulah nama penyakit yang didiagnosa oleh dokter pada diri saya. Sebenarnya saya malu dan ingin menutup cerita tentang sakit saya ini, namun beberapa teman ada yang ingin tahu alias kepo terhadap sakit saya, yang membuat saya sungguh menderita selama lebih dari dua minggu ini. Yaa… sudah saya membuat tulisan saja sebagai jawaban atas ke-kepo-an para sahabat, juga saya tujukan selain untuk testimoni tetapi sekaligus nasehat untuk diri sendiri juga mungkin bisa jadi nasehat untuk orang lain yang mungkin sedang mengalami sakit seperti yang pernah saya derita.

Ceritanya adalah, dua minggu ini saya mengalami nyeri yang luar biasa di perut sebelah kiri hingga kemaluan dengan disertai rasa sakit kepala yang luar biasa. Rasa ingin buang air kecil atau biasa disebut anyang-anyangan setiap saat selalu terasa. Sungguh sangat mengganggu aktivitas keseharian saya yang lumayan padat, karena mesti sering kali buang air kecil ke kamar mandi. Itupun dengan rasa sakit dan nyeri, setiap kali buang air kecil.

Sampai akhirnya saya pun berkonsultasi ke dokter dan di uji di laboratorium. Dari serangkaian pemeriksaan, kesimpulannya adalah saya didiagnosa sakit infeksi saluran kemih. Penyebab saluran kencing saya sakit dan nyeri, dikarenakan ada batu ginjal yang menghambat aliran kencing. Sungguh saya sangat kaget sekali, apalagi menurut dokter apabila batu ginjal itu tidak keluar bersamaan dengan buang air kecil, maka saya diharuskan operasi untuk memecah dan mengeluarkan batu ginjal tersebut.

Saya pun browsing artikel yang ada di google dan video di youtube tentang penyakit ini. Saya baca dan pahami penyebabnya, gejalanya, cara mengobatinya dan cara mencegah agar tidak menderita sakit ini. Sudah sangat saya pahami dari hasil membaca dan menonton video-video yang terkait penyakit tersebut.

Setelah saya identifikasi dan bertanya pada diri sendiri, akhirnya saya temukan kebiasaan saya setiap hari yang mungkin telah membuat pelan-pelan batu ginjal itu terbentuk adalah, saya setiap hari selalu minum kopi panas di waktu pagi saat perut masih kosong alias belum terisi makanan sama sekali. Ternyata menurut artikel yang saya baca, hal itu adalah salah satu kebiasaan yang dapat mengakibatkan terbentuknya kristal batu di dalam ginjal.

Adapun menurut saran dokter dan artikel yang saya baca, salah satu cara mudah untuk mengatasi sakit ini adalah, selain minum obat yang diresepkan dokter penderita diharuskan banyak minum air putih. Tidak tanggung-tanggung, beberapa hari kemarin kalau saran dokter mesti minum minimal 2 liter air putih dalam sehari, saya malah minum mungkin 3-4 liter dalam sehari, yang berdampak langsung pada reaksi ginjal yaitu saya sehari sampai 30 kali buang air kecil.

Namun sampai habis obat yang diresepkan dokter dan air dua galon Aqua, sakit saya belum juga sembuh. Saya pun kembali mencari solusi alternatif penyakit saya ini di internet. Ketemulah saya nama sebuah merk air minum Milagros. Kemudian saya dengan diantar istri pergi ke rumah salah satu teman istri saya yang menjadi agen Milagros, tanpa banyak kata dan berpikir, saya menyuruh istri saya membeli satu dus Milagros isi 12 botol dengan harga Rp. 350.000,- dan sekaligus mendaftarkan istri saya sebagai agen penjualan air Milagros.

Begitu sampai di rumah saya langsung meminum satu botol Milagros, begitupun saat menjelang tidur, saya kembali meminum Milagros satu botol. Namun hal itu membuat saya tidak bisa tidur, karena setiap lima belas menit sekali saya mesti buang air kecil ke kamar mandi dari jam 9 malam sampai jam 12 malam.

Keesokan hari dan sore harinya saya kembali meminum Milagros, masing-masing satu botol di pagi hari dan satu botol di sore hari dengan ditambah minum air putih biasa. Sungguh berdampak luar biasa, setelah beberapa kali buang air kecil yang sangat menyakitkan, akhirnya keluarlah satu benda mirip batu sebesar biji beras dari saluran kencing saya. Kalau bahasa hiperbolanya, rasa sakitnya seperti orang yang melahirkan saking sakitnya untuk menggambarkan rasa sakit yang luar biasa yang saya rasakan. Saya pun tidak perlu melakukan operasi untuk menghancurkan dan mengambil batu ginjal yang menginfeksi saluran kemih.

Alhamdulillah, begitu batu ginjal itu keluar, tubuh saya terasa sehat seperti sedia kala. Saya sangat bersyukur bisa kembali normal dan sehat. Saya berharap sakit yang saya derita bisa menebus segala dosa dan kekhilafan yang pernah saya perbuat. Sungguh sakit saya ini membuat keimanan spiritual saya semakin tersadarkan, karena ibaratnya dengan sakit tersebut, saya dinasehati dan diingatkan oleh Allah SWT untuk selalu bersyukur dan memanfaatkan waktu sehat untuk ibadah dan kebaikan. Semoga kesadaran ini bisa terus saya jaga. Aamiin.

Kesimpulan tulisan ini adalah apabila kita sakit semestinya sebagai manusia beriman kita berdoa minta kesembuhan pada Allah SWT dan juga mesti berusaha mencari cara agar sakit kita bisa sembuh. Doa agar sembuh itu penting, usaha untuk mencari obat juga penting dan yang lebih penting lagi adalah selalu khusnudzon alias berpikir positif terhadap apapun yang terjadi pada diri kita. Insyaallah semua ada nilai baik dan hikmahnya. Wallahua’lam.

Tetap konsultasikan segala keluhan penyakit Anda pada orang yang lebih ahli, yakni Dokter. Tulisan ini bukan sebuah saran pengobatan, tetapi hanya sebatas pengalaman yang ditulis penulis (Redaksi).

Alat Deteksi Kecerdasan Anak Ala Indonesia Sudah Ada Lo…

0

Orang tua selalu bangga dengan hal sulit ataupun hal unik yang mampu dilakukan oleh anaknya. Orang tua menganggap bahwa itu adalah kecerdasan dan ketika anak tidak mampu melakukan adalah kebodohan. Lalu bagaimana makna kecerdasan itu sendiri? Bagaimana kita dapat mengetahui kecerdasan apa yang sesungguhnya dimiliki oleh anak?

ALAT tes menjadi kebanggan bagi para mahasiswa psikologi, namun sampai saat ini alat tes belum banyak yang mengalami pembaharuan. Padahal, pada dasarnya senjata dari para psikolog adalah alat tes. Dari alat tes inilah psikologi mampu menjawab problematika yang ada dan kebutuhan berkembang pada diri manusia. Tapi kenyataannya juga, alat tes yang telah ada belum menjawab keseluruhan dari kebutuhan manusia.

Relitasnya, Mahasiswa psikologi juga belum banyak mengenal mengenai alat tes yang ada, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa hanya belajar sekilas aja, yang diajarkan di matakuliahnya,  belum mendalami  apa sebenarnya maksud dari alat tes tersebut. Menjawab kebutuhan para mahasiswa psikologi, lembaga UPAUP (Unit Pengembangan Alat Ukur Psikologi) mengadakan agenda bulanannya yang pertama. Pada hari ini Jum’at, 4 mei 2018 yang merupakan agenda baru yang dilaksanakan oleh fakultas psikologi UIN Malang, dengan tema “Mahakarya Tes Kecerdasan Individual Pertama & Mutakhir di Indonesia”. Agenda ini diadakan dengan tujuan membantu para mahasiswa psikologi untuk lebih mengenal dekat dengan alat tes yang mereka miliki.

Pada kegiatan pertama ini pemateri para pakar statistik dan psikometri yaitu Zamroni, S.Psi, M.Si dan Umdatul Khoirot, M.Psi, mencoba mengenalkan alat tes yang baru diluncurkan kembali setelah sekian lama belum banyak dikenal orang yaitu tes kognitif AJT. Alat tes ini mencoba untuk menyempurnakan alat-alat tes kognitif sebelumnya. Tes ini disusun oleh Tim Psikologi dari Universtas Gadjahmada Yogyakarta dan PT Melintas Cakrawala Indonesia.

Hal lain yang begitu membanggakan ternyata dalam penyusunan  alat tes ini, beberapa alumni dari Fakultasi Psikologi UIN Malang ikut terlibat dalam prosesnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa seorang mahasiswa psikologi tidak hanya menggunakan alat tes yang telah ada, namun juga turut andil dalam proses pembuatannya.

Tes kognitif AJT merupakan alat tes untuk mengukur domain kognitif individu usia 5-18 tahun. Tes ini memiliki kelebihan yang luar biasa yaitu ramah anak disabilitas dengan beberapa paket yang telah disusun oleh Tim. Berbeda dengan tes-tes intelegensi yang telah digunakan di indonesia, dalam proses penyusunan norma alat tes kognitif AJT ini dilakukan di indonesia.

Contoh praktik penggunaan alat tes AJT

Tes ini menjadi sangat penting untuk diperkenalkan kembali karena satu tes yang menjadi tolak ukur manusia yaitu untuk mengetahui kecerdasan. Sebagian besar seseorang dipandang hebat oleh orang lain adalah karena kecerdasan yang dimilikinya, dari tes ini kita dapat mengetahui beberapa tipe kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

Karena alat tes kecerdasan diperuntukkan untuk anak, saya menjadi sangat tertarik mengikuti alur diskusinya. Berangkat dari pengalaman-pengalaman yang telah saya dapat dari para orang tua, saya berfikir bahwa tes ini akan mampu menjawab kekhawatiran dan  kecemasan yang mereka hadapi.

Orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar, cerdas dan kreatif. Sebagian besar orang tua selalu menuntut anaknya untuk bisa dalam segala bidang, namun para orang tua ini belum cukup banyak tau kecerdasan mana yang dimiliki oleh anaknya. Banyak orang tua yang khawatir bahkan menganggap jika anak tidak dapat menyelesaikan suatu hal adalah sebuah kebodohan, mereka belum mengetahui sisi lain yang ada pada diri anak yang bisa mereka sebut kecerdasan.

Kecerdasan manusia banyak bentuknya, tipe-tipe kecerdasan dibagi menjadi beberapa bentuk, kecerdasan visual, matematik, musik, natural, intrapersonal, kinestetik, linguistik, interpersonal dan banyak yang lainnya. Beberapa kecerdasan tersebut pasti dimiliki oleh anak, namun dengan tes AJT ini mampu melihat kecerdasan mana yang lebih unggul yang dimilki oleh anak. Alat tes ini masih dalam proses penyempurnaan, namun alat tes ini telah mampu memberikan jawaban dari para orang tua tentang kekhawatiran yang mereka alami.

Anak tidak pandai dalam berhitung bukan berarti anak itu bodoh, namun ada kecerdasan lain yang melekat yang dimiliki oleh anak, mungkin saja anak tersebut cerdas dalam berbahasa atau mungkin saja cerdas dalam hal yang lain, jangan terlalu cepat memberi label bodoh pada diri anak, karena setiap manusia dilahirkan dengan tipe kecerdasannya sendiri-sendiri. menuntut anak untuk mampu dalam bidang yang bukan merupakan potensi yang dimiliki anak bukanlah hal yang baik, namun mencoba untuk memahami dan membantu anak untuk mengasah potensi yang dimilikinya itu merupakan pemenuhan tanggung jawab yang sesuai.

Dengan munculnya alat tes ini diharapkan dapat melahirkan beberapa kemajuan dari bidang ilmu yang akan dipelajari oleh para mahasiswa psikologi. Pembaharuan-pembaharuan inilah yang akan membangun jiwa para generasi muda untuk lebih semangat dalam berproduksi terutama di bidang pendidikan. Karena sejauh ini kebanyakan alat tes yang ada merupakan adopsi dari ilmuwan luar negeri.

Perlukah Resiliensi dan Hardiness Ditanamkan Pada Anak?

0

Memanjakan anak itu kadang tidak terasa. Orang tua boleh jadi menganggap dia sangat perhatian dan agar anaknya selalu terpenuhi kebutuhannya. Saat anak hidup sendiri, perhatian dan pemenuhan kebutuhan yang menyandu bagi anak akan mendatangkan malapetaka. Terbiasa serba terjamin, saat menghadapi situasi sulit maka boleh jadi anak akan jatuh pada kehidupan tanpa solusi atau depresi “

Memiliki anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik tentunya keinginan bagi setiap oang tua. Membentuk anak-anak yang dapat tumbuh serta berkembang sesuai dengan tahapannya adalah kunci utama yang perlu disadari juga diperhatikan oleh orangtua. Anak tumbuh dan berkembang tidak melulu hanya diberi asupan gizi saja yang tujuannya menyehatkan anak, akan tetapi penanaman atas nilai-nilai kehidupan pada si anak juga menjadi penting adanya.

Anak anak tidak akan selamanya berada di samping orangtuanya 24 jam, di mana akan melakukan interaksi dengan lingkungan masayarakat juga sekolah. Berinteraksi dengan orang selain keluarganya tentu butuh adanya pengenalan pada si anak supaya tidak merasa cemas ataupun ketakutan terhadap hal-hal yang mungkin akan melukai mereka. Nah, membuat anak berada di posisi nyaman ketika di lingkungan luar akan membutuhkan pendekatan juga waktu yang tidak singkat akan tetapi ketika anak-anak sudah terbiasa mereka akan mampu bersikap mandiri.

Lalu, perlukah resiliensi dan hardiness ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini? Sebelumnya, mari kita telaah terlebih dahulu tentang resiliensi dan hardiness. Apa sih resiliensi itu? Resiliensi adalah kekuatan pada setiap individu untuk kembali bangkit setelah mengalami kesulitan. Adanya daya juang yang tinggi dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa terpuruk secara berlarut-larut.

Lalu apa itu hardiness? Hardiness adalah kondisi dimana individu memiliki ketangguhan, kuat, stabil dan optimis dalam menghadapi stress serta dapat mengurangi kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Kedua hal tersebut merupakan sumber yang harus dimiliki anak sejak usianya masih belia. Seorang anak yang memiliki kedua kekuatan tersebut akan menjadi anak yang tidak sulit untuk bangkit dalam keterpurukan dan juga memiliki kontrol pada dirinya sendiri untuk menjadi tangguh, optimis dan tetap stabil meski sedang dilanda masalah.

Ada sebuah cerita pada suatu keluarga di mana ibu dan ayahnya selalu menuruti setiap kemauan anak-anaknya. Bahkan kedua orangtua ini sampai tidak bisa memberikan ketegasan kepada anak-anaknya untuk bisa mengontrol segala keinginannya. Anak-anak terus menuntut jika tidak dibelikan barang yang menjadi keinginannya, berani mengancam hingga tidak mau sekolah. Barang yang diminta bukanlah barang sepele melainkan seperti minta motor keluaran terbaru hingga meminta dibelikan mobil.

Seharusnya, posisi orangtua dihormati, dihargai dan disegani oleh anaknya namun yang terjadi pada keluarga ini sebaliknya, orangtua yang takut pada anak-anaknya. Jadi hal tersebut bermula karena terbiasanya orangtua juga serba kecukupan atas materi sehingga mengajarkan kepada anaknya juga seperti itu. Meskipun setiap orangtua di mana-mana pasti menginginkan untuk menuruti setiap keinginan anaknya, akan tetapi dalam menuruti apapun yang anak mau harusnya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak tersebut. Hingga akhirnya kondisi keluarga tersebut berbalik di mana ekonominya menurun ketika ayahnya meninggal.

Bukan hanya ekonomi yang menurun akan tetapi semangat hidup kedua anaknya serta istri seperti orang yang tidak memiliki arah. Anak yang pertama setiap harinya minum-minuman keras, anak yang kedua mengurung dirinya di kamar tanpa melakukan aktivitas seperti orang normal, dan ibunya masuk rumah panti sosial.

Resiliensi dan hardiness penting untuk diajarkan pada anak sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa akan semakin kuat, tangguh dan mudah bangkit dalam menghadapi berbagai masalah

Berdasarkan cerita tersebut kita dapat belajar bahwasannya resiliensi dan hardiness penting untuk diajarkan pada anak sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa akan semakin kuat, tangguh dan mudah bangkit dalam menghadapi berbagai masalah.

Ketika anak-anak sudah memiliki resiliensi yang kuat otomatis di dalamnya Ia akan dapat mengendalikan emosinya sekalipun sedang berada di bawah tekanan serta mengalihkan emosinya tersebut pada hal-hal yang positif; dapat mengendalikan impulsnya yaitu dapat mengendalikan segala emosi yang sedang menguasai tanpa mengakibatkan kerugian pada dirinya maupun oranglain; adanya optimisme pada setiap keadaan yang sedang menghimpitnya serta Ia meyakini bahwa adanya jalan terbaik pada setiap masalahnya untuk kehidupan di masa depannya; kemampuan untuk menganalisis penyebab dari masalah dimana tidak mudah menyalahkan orang lain sehingga benar-benar dipikir secara baik untuk menyelesaikan masalahnya; kemampuan berempati dimana anak mampu membaca tanda-tanda non-verbal yang berkaitan dengan mengerti perasaan orang lain; self efficacy yaitu keyakinan individu dalam menyelesaikan masalahnya; kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan.

Sedangkan anak yang memiliki hardiness yang baik di dalamnya akan memiliki komitmen yaitu kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam berbagai aktivitasnya serta adanya kepercayaan diri dalam menghadapi kemungkinan terjadinya tekanan ataupun stress; kemampuan dalam kontrol yaitu berkaitan dengan pengambilan keputusan pada kondisi tak terduga; fokus pada tantangan yaitu adanya fleksibilitas seseorang dalam mengahadapi berbagai kondisi khususnya yang tak terduga serta menganggap hidup adalah tantangan yang menyenangkan.

Sebagai orangtua, juga harus menyadari bahwa kekhawatiran kita kepada anak tidaklah bagus jika berlebihan hingga membuat anak merasa takut untuk melakukan kegiatan di luar rumah bersama orang-orang baru, hal tersebut tentunya akan membuat anak tidak bisa mandiri dan belajar pada lingkungan baru.

Begitu pentingnya dua hal tersebut diajarkan serta dikembangkan pada diri anak-anak kita agar tidak menjadi anak yang terus bergantung pada orangtua hingga mereka beranjak dewasa. Sudah menjadi kebanggan tersendiri bagi orangtua jika melihat anak-anak mampu tumbuh dan berkembang secara mandiri. Sebagai orangtua, juga harus menyadari bahwa kekhawatiran kita kepada anak tidaklah bagus jika berlebihan hingga membuat anak merasa takut untuk melakukan kegiatan di luar rumah bersama orang-orang baru, hal tersebut tentunya akan membuat anak tidak bisa mandiri dan belajar pada lingkungan baru. Namun, kontrol orangtua juga dilakukan sesuai porsinya tanpa membuat anak terkekang ataupun merasa tidak diperhatikan

Editor     : Faatihatul Gayybiyah
Pengunggah : Admin

Mematahkan Senjata (Tangisan, Jeritan dan Amukan) Anak

0

Menangis adalah senjata yang dimiliki oleh anak, dengan menangis mereka mampu mendapatkan apa yang mereka mau dengan cepat, apalagi kalau disertai menjerit dan mengamuk dihadapan banyak orang, orang tua mana yang tahan melihat anaknnya bertingkah demikian kalau tidak segera menuruti kemauan anak, namun ketika orang tua tidak mampu menurutinya apa yang seharusnya orang tua lakukan?

KEJADIAN yang bukan pertama kali saya lihat, bahkan mungkin semua orang pernah melihatnya. Anak mengamuk meminta sesuatu pada bundanya, tentu bukan kita yang melihat yang harus repot, tapi ketika sedang melihat kejadian tersebut pasti ikut greget juga ingin menghentikannya. Orang tua mana yang tahan kalau sudah mendengar jeritan sang anak yang sampai terdengar sesak napasnya yang pada akhirnya para bunda harus menuruti keinginan sang anak. Kejadian ini bisa disebut anak cari perhatian, namun dengan senjata yang dimiliki anak-anak sehingga orang tua sulit lagi mengatasinya, yaitu menangis.

Setiap Bunda pasti pernah dihadapkan anak yang sulit dikendalikan saat ia meminta sesuatu, saat anak tidak mau mendengarkan apa yang kita katakan kalau keinginannya belum kita turuti? Lalu menangis atau bahkan mengamuk agar dituruti oleh kita? Atau bahkan anak memukul-mukul bahkan menggigit kalau tidak segera direspon permintaannya.

Pasti kita merasa malu kalau-kalau keadaan tersebut tidak langsung kita hentikan, apalagi dihadapan banyak orang, yang pastinya orang lain juga akan merassa terganggu dengan keadaan anak yang sangat rewel itu.

Lalu bagaimana sikap bunda ketika anak sudah tidak bisa mendengarkan kata-kata kita? Haruskan kita menuruti saja apa yang diinginkan anak? Apa mungkin ini lebih baik dari pada kita malu karena tidak menuruti kemauan anak sedangkan anak sudah  menagis sejadi-jadinya dihadapan banyak orang? Seperti kita sedang benar-benar tidak memiliki uang untuk membelikannya mainan atau makanan yang diinginkannya? Tetapkan kita menurutinya? lalu bagaimana kalau kita mampu menurutinya? mungkin saja lebih baik daripada kita disibukkan dengan kerewelannya namun hal ini pasti juga telah orang tua sadari bukan solusi yang tepat.

Keadaan tersebut biasa kami kenal dengan sebutan Tantrum, ini adalah kondisi yang dilewati oleh setiap anak bisa disebut juga ujian bagi para ayah atau bunda. Biasanya kita temukan pada anak usia 1-3 tahun, ini adalah usia puncak anak mudah sakali mengamuk ketika menginginkan sesuatu, namun akan berlanjut ke usia selanjutnya ketika tantrum tidak segera diatasi oleh para orang tua. Tidak menutup kemungkinan, anak dalam kondisi tantrum pada usia 3 tahun keatas.

Di usia tersebut, Anak mulai bisa menyebutkan keinginannya satu persatu, dan di usia tersebut  juga adalah usia dimana orang tua memberikan semua kebutuhan sang anak. Nah ini adalah salah satu jalan yang di gunakan oleh anak-anak agar orang tua mau menurutinya. Dengan senjata inilah yang membuat orang tua terutama para bunda yang tidak tahan untuk segera menghentikannya, dengan segera menuruti dari pada malu dipandang oleh banyak orang.

Pada kenyataannya kondisi yang dialami anak-anak adalah kondisi yang mereka sendiri belum mampu jika harus mengatasinya sendiri, namun ketika orang tua malah mendukung kondisi yang pada akhirnya tidak baik untuk anak, bukan kesalahan yang sepenuhnya dilimpahkan pada orang tua. Mereka belum mampu mengontrol perilaku mereka sendiri, mereka membutuhkan orang yang lebih dewasa untuk selalu mendampinginya, sehingga anak perlahan-lahan mampu mengkondisikan tingkah lakunya.

Cobalah dengan nada tenang karena saat kondisi itu anak membutuhkan orang yang membantunya untuk mengembalikan kendali pada dirinya, dengan ini anak akan mencoba memahami bahwa ada orang yang selalu disisinya saat ia membutuhkan untuk menyelesaikan masalahnya.

Banyak orang tua ketika anaknya dalam kondisi tantrum, tidak tahan dan lelah mengkondisikan anak sehingga mereka memilih untuk meninggalkannnya sendiri, hal ini justru memicu tangisan anak yang semakin keras, bukan berarti juga kita menggunakan nada-nada yang tinggi ketika anak juga menggunakan nada tinggi, namun cobalah dengan nada tenang karena saat kondisi itu anak membutuhkan orang yang membantunya untuk mengembalikan kendali pada dirinya, dengan ini anak akan mencoba memahami bahwa ada orang yang selalu disisinya saat ia membutuhkan untuk menyelesaikan masalahnya. Jangan memaksa anak, karena anak dalam kondisi belajar mengendalikan dirinya sendiri.

Namun bagaimana ketika anak sudah berjanji untuk tenang, beberapa menit kemudian dia kembali lagi pada kondisi tantrum?. Bunda tidak perlu terlalu menyedihkan hal ini, karena pada dasarnya anak telah bertingkah laku baik dan serius saat berjanji untuk diam, namun anak belum begitu dewasa ketika dia harus mengedalikan emosi dan amarahnya, sehingga membuatnya lepas kendali lagi, bunda tidak perlu kecewa denganya, anak akan perlahan-lahan menurunkan tantrumnya ketika bunda terus memberikan dukungan dan dorongan padanya.

Cobalah pelan-pelan untuk mengalihkan perhatiannya, ketika memang bunda tidak mampu untuk menurutinya dengan alasan tidak punya uang untuk membelikannya atau memang yang diinginkkan bukan hal yang baik untuknya. Mengalihkan perhatian juga bukan hal mudah dalam kondisi ini, carilah satu cara pengalihan sehingga dia dapat kembali ke kondisi tenang, seperti lekas mengajaknya pergi dari tempat atau mencari hiburan yang lain. Pengalihan perhatian ini adalah satu cara yang tepat namun orang tua juga perlu belajar metode pengalihan perhatian yang tepat juga untuk anak.

Jangan menyerah ketika si kecil menjerit, menangis, mengamuk hanya untuk mendapatkan kondisi dan suasana yang tenang kembali, ketika dalam kondisi tantrum ini ajarkan anak untuk memahami bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya tidaklah mudah, buat kesepakatan dengan anak agar dia juga belajar berjuang, meskipun harus dengan menjerit dan menangis.

Tentu bunda tidak mau direpotkan dengan tangisannya sehingga bunda memilih untuk menurutinya, melihatnya sudah tersendak napas karena lamanya menangis dan jeritan yang dibuatnya demi mendapatkan hal yang diinginkannya,  yang paling penting yang perlu bunda hindari adalah jangan malu, jaga juga kemarahan bunda. Kemarahan yang ditunjukkan anak pasti membuat bunda merasa malu apalagi kalau dia sedang meminta sesuatu dihadapan banyak orang, hal ini lah yang perlu bunda hindari agar anak juga belajar untuk memahami, menurutinya langsung justru tidak memberikan pembelajaran yang baik untuknya nanti.

Jalin kedekatan dengan anak kembali, kemungkinan anak kurang mendapatkan perhatian ayah atau bunda sehingga anak sering mengalami kondisi meledak-ledak. Berikan lebih banyak pengertian pada anak, sehingga anak juga akan belajar untuk memahami ketika apa yang diinginkannya tidak dapat dipenuhi oleh anda sebagai orang tua. Tentukan batasan atau buat kesepakatan sejauh mana bunda dapat menerima tingkah hebohnya dan jangan biarkan anak melewati batas kesepakatan tersebut.

Karena dengan sering memberi pengertian, anak akan belajar memahami.

Politik Perlu Berlajar dari Sepakbola

0

Gaduh politik seperti gejala sindrom kuasa. Tidak hanya mencuri start. Para politisi mengoyak batin masyarakat untuk menciptakan kelatahan kuasa. Hasrat diri dicemarkan menjadi virus komunal dan dijadikam sebagai tontonan publik. Di sinilah politik tidak ada seni. Belajarlah dari sepakbola, mereka bertarung dalam sportifitas. Kebencian yang mengancam orang lain harus disingkirkan dan tidak ada yang melawan kecuali tetap pada koridor hukum.

SAYA pernah (dan selalu) berharap bahwa sepakbola akan menjadi alternatif bahan obrolan yang menarik ketika politik kita sudah sedemikian memuakkan. Sepakbola dengan jargon sportifitas dan segala proses depolitisasi-nya bisa menghindarkan kita dari pertengkaran sebab membahas perkara yang sensitif.

Jadi ketika melakukan obrolan tentang sepakbola, cukup membahas bagaimana Ronaldo melakukan tendangan salto ketika melawan Juventus, Arsenal yang menampilkan permainan malas-malasan di Liga Inggris dan bagaimana rotasi permainan serta strategi yang dilakukan Zidane selama melatih Real Madrid berhasil mengantarnya meraih juara Liga Champion dua kali berturut-turut.

Sepakbola juga menarik sebab berani melakukan depolitisasi atau melakukan penghilangan kegiatan politik di dalamnya. Mengutip artikel Zen RS dalam media online Detik.com, Giorgios Katidis pemain muda klub AEK Athens dan timnas Yunani harus menerima hukuman yaitu selamanya dilarang bemain di timnas Yunani. Hukuman ini dijatuhkan oleh federasi sepakbola Yunani menyusul selebrasi Katidis dengan mengangkat tangan kanannya ke arah suporter, seakan memberikan salut yang sering diperlihatkan Adolf Hitler saat memimpin Nazi.

Federasi sepakbola Yunani pun harus menghukumnya. Katidis kemudian dilarang bertanding membela timnas selamanya. Tingkah lakunya dianggap tak sensitif, melukai perasaan banyak korban Nazi, dan tak sesuai dengan “semangat” dan “karakter” permainan sepakbola.

Hukuman serupa juga pernah diterima oleh Striker Sevilla, Frederic Kanoute. Dia pernah membayar denda sebesar 4 ribu dolar saat dia menunjukkan dukungannya terhadap Palestina dengan menggunakan media kaos bertuliskan “Palestina” di balik jersey bolanya. Nicolas Bendtner pun harus merogoh kocek membayar denda, setelah memperlihatkan tulisan “Paddy Power” di pakaian dalamnya.

Masih mengutip artikel Zen RS, tindakan FIFA dan beberapa asosiasi sepakbola negara-negara terkait ini ‘didasari oleh keinginan agar sepakbola (semakin) diterima sebagai permainan global di seluruh dunia. Netralitas pun akhirnya digunakan sebagai tameng untuk mengatasi batasan-batasan politis. FIFA memiliki 200 negara sebagai anggotanya dan masing-masing memiliki isu politik dan sosial tersendiri; hari bersejarah, persaingan dengan negara tetangga, serta simbol politis masing-masing.’

Menjelang Pemilu tahun depan, semakin konyol saja perilaku yang ditampilkan pendukung kubu-kubu calon presiden

Netralitas dan otoritas pemberi sanksi ini yang belum secara maksimal kita jumpai dalam dunia politik kita. Menjelang Pemilu tahun depan, semakin konyol saja perilaku yang ditampilkan pendukung kubu-kubu calon presiden. Polarisasi yang sedemikian kuat muncul di media sosial akhirnya menemui momentumnya di dunia nyata.

Minggu kemarin beredar video seorang perempuan dengan anaknya tengah jadi bahan ‘bercandaan’ sekelompok orang di CFD. Sambil memegang tangan anaknya yang menangis sebab diintimidasi beberapa oknum dari sebuah kelompok dengan melakukan gestur memberikan ‘saweran’ atau memukul-mukulkan uang kertas yang mereka pegang kepada ibu dan anaknya. Sepanjang jalan perempuan dan anaknya dikerubungi dan diolok-olok. Dan tau apa masalahnya? Cuma beda kaos. Perempuan tersebut memakai kaos putih dengan tagar #DiaSibukKerja sementara gerombolan orang yang mengintimidasinya memakai kaos hitam dengan tagar #2019GantiPresiden.

Terlepas dari apa maksud framing atau pembingkaian penyebar potongan video tersebut, yang jelas insiden kecil itu memberikan pelajaran kepada masyarakat di tempat lain untuk bersikap lebih sadar dan wajar. Bahwa apapun dan siapapun yang anda dukung dalam pemilu, bukan menjadi alasan untuk melakukan perilaku diluar etika dan kewajaran. .

Apapun dan siapapun yang anda dukung dalam pemilu, bukan menjadi alasan untuk melakukan perilaku diluar etika dan kewajaran.

Toh apakah jika calon yang kita pimpin menang, bakal banyak perubahan selain kepuasan sebagai masing-masing golongan bisa menempatkan bagian dari kelompoknya di posisi tertinggi.? Jika mengutip artikel ‘Bonek, Keruntuhan Keadaban Publik’ oleh M. Akung (2010), akademisi Fakultas Psikologi Undip, maka apa yang tengah kita saksikan ‘sesungguhnya adalah perang kecil antarsesama anak bangsa yang sejatinya memalukan. Keadaban kita sebagai makhluk berakal budi nampaknya mulai runtuh.’

Regulasi dalam sepakbola mengajarkan, bahwa apapun agama dan afiliasi politikmu, diatas segalanya adalah sepakbola. Ketegasan pemegang regulasi dalam pemilu, Bawaslu dan kepolisian misalnya, terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam kontestasi politik juga masih belum tampak baik. Disamping kesadaran masyarakat kita untuk menempatkan politiks secara wajar saja sebagaiamana yang diajarkan Gus Dur juga masih belum terwujud.

Gus Dur ingin mengajak ditengah ketat dan tingginya potensi konflik sebab beda pilihan politik, tidak ada satu alasan-pun yang membenarkan kita untuk merendahkan martabat orang lain sebagai manusia.

Gus Dur dalam satu kutipan terkenalnya pernah menyatakan: ‘yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan’. Jika ditafsirkan, Gus Dur ingin mengajak ditengah ketat dan tingginya potensi konflik sebab beda pilihan politik, tidak ada satu alasan-pun yang membenarkan kita untuk merendahkan martabat orang lain sebagai manusia.

Lebih jauh, Gus Dur mengajak untuk saling terbuka dan menghindari perilaku intimidatif. Menurut Greg Barton (2003) dalam Biografi Gus Dur; The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, Gus Dur percaya bahwa untuk menjadikan Indonesia dapat memperoleh kematangan sebagai suatu bangsa, ia harus berani menghadapi musuh-musuh imajiner dan mengganti kecurigaan dengan persahabatan serta dialog.

Atau jika tetap ingin menyampaikan pesan agama dalam pertarungan politik, saran saya coba meniru apa yang dilakukan oleh pemain Liverpool Mo Salah atau juga pemain Arsenal, Mesut Ozil. Tentunya dengan performa permainan terbaik, keterbukaan dan kemampuan bekerjasama dengan rekan tim yang berbeda-beda latar belakang, pesan religiusitas dan identitas Islam Ozil dengan doa ‘mengangkat tangan’ setiap menjelang pertandingan dan selebrasi ‘sujud syukur’ Mo Salah bisa lebih mudah diterima.

Tidak perlu mati-matian memenangkan calon yang anda dukung, toh jika kita sadar, menjadi presiden di Indonesia pasca kemerdekaan sangat jauh lebih mudah dibandingkan di negara-negara lain. Tuhan memberikan keberkahan negeri ini dengan segala sumberdaya dan ekosistem bagi manusia yang ada diatas buminya untuk bertahan hidup.

Menjadi presiden di Indonesia, anda tidak perlu berpikir keras untuk melakukan proses industrialisasi sebagaimana negara-negara Eropa, sebab mereka tidak memiliki sumberdaya untuk diolah dan tanah yang subur untuk ditanami bahan makanan. Presiden di Indonesia juag tidak perlu mempersiapkan armada perang untuk menjajah negara lain sebab kekurangan rempah-rempah, kopi dan minyak bumi. Maka jika sekedar gara-gara pemilu dan anda musti merendahkan kelompok lain supaya bisa menang, itu kelewatan.

Maka sambil bersama-sama refleksi, siapkan kopi terbaik untuk begadang, menyaksikan Zidane mengatar timnya maju selangkah meraih trofi Liga Champion Eropa untuk ketiga kalinya.

Semarang, 30 April 2018

Luthfi Hamdani
Lahir 1995. Enam tahun di Kediri, empat setengah tahun di Malang, sekarang di Semarang