Minggu, Agustus 30, 2026
Beranda blog Halaman 84

DESA YANG MANDEG DAN BATIN ORANG DESA YANG TERSIKSA

0

Apakah terlihat jika dana desa itu semata-mata bersifat kamuflase. Agar masyarakat tidak lagi menyodorkan proposal sumbangan untuk membangun desa atau lainnya. Manakah yang lebih penting, membuat perubahan berpikir kritis sehingga masyarakat lebih mampu bersiasat menghadapi perang kepentingan atau terus-menerus menjadi masyarakat desa yang dibelenggu oleh kepasrahan serius ?

Saya sering mendengar bahwa hidup di desa itu “ayem-tentrem” dan damai. Suasana damai dan “ayem” ini, celakanya, tidak dihubungkan dengan relasi produksi yang nyata dalam hubungan sosial-ekonomi yang ada. Tapi hanya merujuk situasi pemandangan yang indah dan alam yang masih hijau.

Cara pandang seperti ini adalah pandangan pelancong kota yang punya uang yang kagum dengan keindahan alam pedesaan. Cara pandang ini biasanya diwakili oleh para penulis yang rata-rata adalah orang yang lama di kota dan di antaranya sudah hidup dengan taraf ekonomi yang berbeda. Mereka melihat desa dan manusia-manusianya dari kacamata penikmat, bukan sebagai kaum yang merasakan pergulatan hidup keseharian di desa itu sendiri.

Ada anggapan bahwa di daerah pedesaan yang alamnya masih hijau, orang desa yang jarang yang punya banyak uang masih bisa bertahan hidup. Tapi benarkah demikian? Tidak adakah masalah dan perasaan tersiksa di hati dan pikiran orang-orang desa akibat kesulitan hidup maupun terbawa oleh rayuan-rayuan iklan dari kota yang justru menambah siksaan batin dalam bingkai penjajahan gaya hidup yang mereka lihat tiap hari di TV.

Anggapan yang melihat bahwa hidup di desa enak dan tak ada masalah biasanya akan melihat hal-hal yang sebenarnya hanya berdasarkan pengamatan sekilas saja. Misalnya mereka mengatakan bahwa orang-orang desa itu meski tak punya banyak duit (cash-money), tapi untuk makan sudah punya bahan untuk dimasak. Katanya, mau makan beras ada. Lauk dan sayur tak perlu beli, dan lain-lain.

Padahal, tidak semua orang desa itu memproduksi berasnya sendiri untuk dimakan sehari-hari. Banyak juga orang desa yang harus beli beras dan mengeluarkan uang untuk itu. Bagaimana dengan lauk? Bagaimana dengan kebutuhan-kebutuhan lain?

Ada seorang mahasiswa yang sebenarnya aktivis Jurnalistik mahasiswa, yang datang ke rumah temannya di desa kami. Karena ia menginap di rumah temannya yang juga teman kuliah ini, maka si orangtua temannya menyediakan makan untuk tamu yang notabene adalah teman kuliah anak kesayangannya. Lauknya kebetulan adalah ayam kampung yang dimasak begitu lezatnya dengan cara “diungkep”. Sayurnya adalah sayur daun singkong (“godhong Tela”). Ada sambelnya pula.

Sehabis makan sore dengan ayam kampung itu, saat ia nyantai sambil ‘rokokan’ di teras rumah temannya itu, ia berkomentar: “Wah, enak sekali ya jadi orang desa. Makanannya lezat-lezat, ayam kampung punya sendiri. Sayur tinggal metik. Beras bertumpuk-tumpuk di ruang penyimpanan untuk stok. Surga sekali desamu ini, friend”.

Mahasiswa ini memang sedang berada di rumah temannya yang kebetulan ayah teman kuliahnya adalah perangkat desa. Yang punya sawah. Yang punya banyak ayam kampung. Dan kebun belakang rumahnya yang luas juga ada beberapa ekor ayam kampung yang kadang dibiarkan liar di siang hari dan akan kembali ke kandang sederhana ketika hari petang. Kebun belakang rumah memang banyak tertancap pohon Ketela yang daunnya lebat-lebat. Dan hari itu, saat ia sedang berkunjung ke rumah itu, tentu saja ibu temannya ingin masak enak. Menyembelih dua ekor ayam dan dimasak. Itung-itung anaknya jarang pulang, apalagi datang bersama teman kuliahnya.

Kedatangan dua hari saja di desa oleh aktivis jurnalis kampus yang berasal dari kota itu akan menghasilkan pandangan sekilas bahwa hidup di desa itu enak dan nyaman. Pertanyaannya adalah apakah semua atau kebanyakan orang desa itu seperti keluarga temannya itu? Kalau ditelisik lebih jauh, ternyata ada fakta bahwa tidak semua orang desa punya stok “gabah” atau berasnya sendiri. Tentunya, karena tidak semua orang desa itu punya sawah.

menyimpan gabah atau bahan makanan pokok (beras) adalah pilihan untuk menjaga musim berikutnya yang tak selalu memungkinkan untuk menanam padi.

Sawah yang tak banyak menghasilkan uang (cash-money) ketika panen sudah dilakukan itu, kalah dengan biaya sarana produksi seperti pupuk, obat pemberantas hama, dan benih membuat kegiatan bertani tidak “nyucuk” antara pengeluaran dan penghasilan. Sehingga, beras lebih banyak digunakan untuk persediaan makanan daripada dijual. Sebab musim tidak menentu dan irigasi tidak ajeg, tidak selalu bisa menanam padi. Di sini, menyimpan gabah atau bahan makanan pokok (beras) adalah pilihan untuk menjaga musim berikutnya yang tak selalu memungkinkan untuk menanam padi.

Bagaimana orang yang tak punya sawah yang jumlahnya jauh lebih banyak? Datanglah ke dukuh saya, Dukuh Tenggong, Desa Kedungsigit, Kabupaten Trenggalek. Di antara sekitar seratus KK, ada berapa persen yang punya sawah? Tidak semua punya sawah, kira-kira separuh saja. Ini untuk dukuh saya yang kebetulan wilayah sawahnya lebih luas daripada wilayah untuk pemukiman dan rumah-rumah. Bagaimana dengan kampung lain, terutama daerah Trenggalek yang rata-rata malah banyak yang tinggal di pegunungan?

Dalam kesehariannya, di desa yang amat minim peredaran cash-money ini, iklan dari kota melalui media televisi merayu untuk terus mengonsumsi barang-barang serta konsumsi gaya hidup. Sehingga kebutuhan terus dirangsang untuk dipenuhi. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan mendasar saja juga masih kesulitan. Televisi menjadi kebutuhan yang paling penting, hingga sebagian keluarga lebih memilih menabung untuk membeli TV daripada untuk membiayai hal-hal lainnya. Sebab, semua tahu, terutama ibu-ibu yang gandrung pada sinetron, audisi dangdut, dan tayangan gosip selebritis, bahwa hiburan itu amat penting di saat istirahat dari aktivitas dapur maupun kerja di ladang atau sekedar mencari rumput (ramban) untuk pakan ternaknya.

Sejauh ini tradisi fatalisme, anggapan bahwa kesusahan hidup dan tekanan psikologis, bisa disembunyikan dengan tradisi berserah diri pada Tuhan adalah tradisi yang paling massif.

Tekanan hidup terjadi akibat kebutuhan yang mendesak untuk dipenuhi pada saat pemenuhannya sulit dilakukan. Muncul mekanisme psikologis pada jiwa-jiwa orang desa yang terekspresi dalam berbagai cara. Ketertekanan ini butuh saluran-saluran ekspresi maupun cara menekannya agar dianggap tidak ada. Sejauh ini tradisi fatalisme, anggapan bahwa kesusahan hidup dan tekanan psikologis, bisa disembunyikan dengan tradisi berserah diri pada Tuhan adalah tradisi yang paling massif. Mekanisme kepasrahan ini tentu saja tidak bisa menghapus semua bentuk kebutuhan dan ketertekanan pada wilayah alam bawah sadar.

Ada batin terdalam yang tersiksa yang barangkali tak terekspresikan. Tidak ada jalan pembebasan dan pencerahan bagi masalah-masalah dalam diri ini yang semestinya dijawab melalui pengetahuan dan kesadaran tentang realitas dan problematikanya. Tradisi berpikir kritis tidak muncul ketika basis ketertekanan dan ketertindasan masyarakat pedesaan tidak menghasilkan kesadaran baru yang berupa nalar kritis mempertanyakan keadaan. Hal ini karena kumpulan massa dan forum-forum masyarakat hanya berisi tradisi penyerahan diri pada Tuhan semata, doa-doa, ngaji bersama. Cukup itu saja.

Tradisi berpikir kritis tidak muncul ketika basis ketertekanan dan ketertindasan masyarakat pedesaan tidak menghasilkan kesadaran baru yang berupa nalar kritis mempertanyakan keadaan. Hal ini karena kumpulan massa dan forum-forum masyarakat hanya berisi tradisi penyerahan diri pada Tuhan semata, doa-doa, ngaji bersama. Cukup itu saja.

Berkumpul, doa dan ngaji bersama ini terjadi paling sedikit seminggu sekali. Tapi juga sejak dulu sampai sekarang hanya seperti itu yang terjadi. Tidak mendatangkan wawasan baru untuk merubah masalah bersama. Sedangkan kelompok-kelompok berbasis kepentingan ekonomi semacam kelompok tani sejak dulu hingga sekarang juga tidak pernah bisa menjawab kebutuhan untuk merubah nasib petani di desa yang terus mandeg: Pupuk langka dan mahal saat butuh, harga panen turun saat tanaman dipetik, ketergantungan pada zat kimia pabrik yang merusak ekosistem, irigasi yang juga sebagian besar semakin buruk.

Kumpulan-kumpulan orang di desa yang bernuansa pemberdayaan dan membangkitkan penyadaran kritis minim sekali-hampir tidak ada. Demikian juga pemberdayaan ekonomi. Ketika perkembangan suatu masyarakat selayaknya disokong oleh semangat belajar bersama, menganalisa keadaan dan membongkar hambatan-hambatan relasi produksi antar manusia, untuk mengetahu sumber permasalahan yang ada, hal ini sama sekali tidak terjadi di desa.

Artinya, bicara kesadaran sosial yang bersifat politis untuk kalangan pedesaan juga masih nihil. Mereka hanya tahu bahwa politik itu adalah sekedar memilih calon, pemimpin, baik level Negara, daerah, dan desa. Tetapi bahkan mereka sama sekali tidak mengerti apa maknanya kecuali bahwa ketika musim pemilihan akan ada calon yang bagi-bagi duit untuk menyogok mereka agar mau memilih. Atau akan hadir calon yang menyapa mereka dengan memberikan secara simbolik bantuan berupa uang, peralatan, barang, atau menjajikan sesuatu pada mereka. Sedangkan relasi antara mereka (rakyat desa) dengan dunia politik maupun orang yang menduduki posisi politik tidak dimaknai secara potensial untuk melihat potensi politik apa yang bisa mereka ambil berhadapan dengan relasi semacam itu.

Bahkan mereka hanya tahu, orang yang punya kedudukan adalah orang yang hanya bisa dimintai tolong dalam bentuk sumbangan ketika ada kegiatan sosial atau kebutuhan lingkungan seperti membangun mushola atau pembangunan fisik lainnya. Kepentingan rakyat hanya sebatas hal yang material dan pragmatis. Sedangkan upaya untuk menjadikan kekuatan rakyat dan kumpulan massa sebagai kekuatan kontrol yang punya visi jangka panjang dengan menyadari potensi kekuatan sosial hampir jarang dilakukan.

Ketika kucuran Dana Desa datang, sebenarnya tujuannya adalah mengatasi segala kemandegan tersebut. Program fisik dibiayai begitu besarnya, agar rakyat tak lagi tergantung dan meminta-minta pada elit dan politisi. Demikian juga program pemberdayaan, agar rakyat punya kekuatan produktif untuk mengelola potensi yang ada di desa. Dana dikucurkan agar menjadi modal usaha bagi forum-forum masyarakat desa dibawah kordinasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Modal didatangkan dari pemerintah pusat, agar peredaran uang bisa mewarnai kegiatan-kegiatan produktif yang dilakukan dengan melibatkan daya pikir dan kreativitas masyarakat desa untuk mengolah potensi yang ada di daerah pedesaan. Peredaran inilah yang harus dikawal oleh siapapun yang punya kepentingan untuk membangun desa dan menjadikannya sebagai pilar ekonomi baru dari desa yang lebih dinamis.

Yang pertama-tama dihadapi adalah tradisi pedesaan yang kurang kritis dan cenderung pasrah pada keadaan. Situasi ini harus pelan-pelan diubah menjadi tradisi partisipasi aktif dan membangun nalar kritis terhadap potensi dan keadaan yang dimiliki. Kegiatan pemberdayaan harus melibatkan upaya membuka cakrawala berpikir masyarakat desa. Mereka harus disadarkan bahwa mereka punya potensi diri dan potensi lingkungan. Mereka harus menyadari pentingnya berkumpul dan berorganisasi untuk menganalisa potensi dan masalah, bukan hanya berkumpul untuk merayakan kepasrahan massif saja.*

Literasi Desa Mlijon: Menulis Potensi Lokal Desa

1

Penggunaan Dana Desa untuk literasi dapat merangsang kecerdasan masyarakat desa. Hal ini sangat positif untuk menambah kekuatan lokal menemukan dimensi otentik masyarakat desa. Perlahan diharapkan akan menjadikan para pemuda lebih mencintai desanya dan bisa mengelola desanya untuk kelangsungan hidupnya secara kreatif.

TRENGGALEK–KAMPUSDESA, KAMIS, 10 Mei 2018, adalah hari libur. Hari ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Desa Mlinjon (Kecamatan Suruh) untuk melanjutkan kegiatan Literasi yang diberi tajuk program “Pelatihan Menulis untuk Remaja” yang sudah dimulai sejak hari Senin (07 Mei 2018) atau tiga hari sebelumnya. Tiga hari telah dilakukan pelatihan dalam bentuk teori, mulai materi tentang dasar-dasar kepenulisan, mulai tulisan fiksi, non-fiksi, dan jurnalistik.

Pembekalan teknik menulis dalam kegiatan literasi Desa Mlijon

Ada tiga mentor dalam pelatihan menulis ini, Nurani Soyomukti, Puji Wirawan, dan Toni Saputra. Ketiganya adalah penulis Trenggalek dan pegiat literasi. Mereka bertiga diharapkan akan memandu para pemuda-pemudi dan remaja Desa Mlinjon hingga bisa menghasilkan karya yang nantinya akan diterbitkan dalam bentuk buku. Sejak Senin hingga Rabu, para peserta diberikan motivasi dan teori kepenulisan, mulai menulis cerpen, puisi, esai, karya jurnalistik, dan bahkan juga diperkenalkan dengan latihan drama.

Sedangkan Kamis-Jumat (10-11 Mei 2018) saatnya untuk praktik menulis. Dalam praktik ini, para peserta telah ditugasi untuk menulis dengan didahului untuk terjun ke “lapangan”. Sebelumnya, 25 peserta dibagi menjadi 6 kelompok. Tema yang diberikan untuk masing-masing kelompok antara lain: (1) Sejarah Desa Mlinjon, (2) Sejarah dan potensi Dusun Kedung Maron, (3) Keindahan Jurug Gue Dibanding dengan Air Terjun lainnya, (4) Manfaat Jurug Gue bagi Masyarakat Sekitar, (5) Bagaimana Perjalanan Menuju Jurug Gue dari Kota Trenggalek, dan (6) Peran Pemuda dan Pemerintah Desa untuk Pengembangan Wisata Jurug Gue.

Sambal Bledeg Mbak Atik

Para peserta akan melakukan wawancara dan penggalian ide pada sumber-sumber secara langsung. Misalnya, mereka akan mendatangi para sesepuh untuk melakukan wawancara dalam rangka menggali info tentang sejarah Desa Mlinjon. Ada yang menelisik unsur-unsur keindahan alam Air Terjun Jurug Gue, ada apa di sana, dan bagaimana penataan tempat wisata yang ada. Ada yang mewancarai para pedagang di lingkungan tempat wisata Jurug Gue untuk mengetahu sejauh mana usaha mereka berkembang terkait dengan tingkat kunjungan wisatawan di Jurug Gue yang kian meningkat.

Para peserta hunting tulisan di situs-situs desa dan membuat tulisan

Enam kelompok ditugaskan untuk terjun melakukan observasi dan penggalian informasi sesuai dengan judul masing-masing. Sekitar pukul 11.00 mereka bertemu di angkringan dekat tempat parker untuk melakukan evaluasi dan meninjau hasil penggalian data. Sebagian peserta sudah langsung menghasilkan tulisan. Setelah itu masing-masing diberi kesempatan untuk mengembangkan data dan informasinya menjadi bentuk tulisan. Sekitar pukul 12.00 WIB, pertemuan hari keempat ini berakhir. Para peserta diharapkan melanjutkan tulisannya di rumah, untuk kemudian pada hari terakhir kegiatan ini sudah selesai yang kemudian akan diedit oleh editor sebelum buku dicetak dan diterbitkan.

Panitia dari Pemerintahan Desa Mlinjon yang sudah berkordinasi dengan para mentor menargetkan bahwa buku akan sudah dilaunching di Balai Desa pada bulan Puasa bulan depan. Penerbitan karya para pemuda-pemudi Mlinjon ini diharapkan akan menjadi inspirasi bagi pengembangan kegiatan literasi desa yang sudah dimulai dengan ditandai dengan kegiatan Literasi dalam bentuk pelatihan menulis dan penerbitan karya perdana ini.

Tema-tema lokal tersebut dipilih karena workshop menulis ini memang diharapkan akan menghasilkan kemampuan literasi untuk menggali dan mengembangkan potensi-potensi lokal yang ada di desa Mlinjon, satu Desa terluas dan dengan penduduk terbesar di Kecamatan Suruh. Selain itu, kegiatan ini memang diharapkan menjadi sebuah bentuk kegiatan pemberdayaan untuk masyarakat, terutama para kaum mudanya dengan jalan pemberdayaan berbasis literasi. [Nurani]

Workshop Gaya Kepenulisan (Terbuka untuk Umum)

0

Menulis itu tidak semata mengekspresikan gagasan yang terangkum dalam setiap deretan kalimat dan paragraf. Setelah menulis usai, lalu dipublikasikan secara cetak atau online. Begitu proses itu usai, maka sudah gugur kegiatan menulisnya.

Menulis itu tak ubahnya seperti menjadi PENGAJAR, PENCERAMAH, PENDAKWAH atau bahkan bernilai propaganda yang mempengaruhi perubahan secara kognitif dan bahkan perilaku. Apakah tulisan Anda sudah berkekuatan seperti itu, atau hanya sekedar menulis yang kekuatannya tidak pernah terpikir seperti apa pengaruh yang dirasakan oleh pembaca.

Mari sama-sama introspeksi dan mengukur, berapa intensi pengaruh kekuatan tulisan kita bagi pembaca. Apakah tulisan kita berkekuatan dahsyat, atau seperti membuang bungkus kacang. Setelah selesai menulis, dipublis dan tidak ada lagi sesuatu yang membekas pada pembaca.

Yuk, diskusi saja untuk membuat formula agar tulisan kita lebih membekas dengan aneka gaya tutur yang boleh jadi belum sempat kita pikirkan, tetapi di diskusi ini kita semakin tahu cara kita bertutur dengan tulisan kita. Kami undang para PENULIS di laman KAMPUSDESA atau Anda yang ingin menulis di KAMPUSDESA tetapi masih bingung menulis, atau bagi Anda yang ingin belajar bersama kami untuk mencari formula baru aneka gaya menulis yang memengaruhi pembaca. 

Kami kebetulan telah tersambung dengan tiga orang hebat untuk berbagi ketrampilan dan ide untuk mengembangkan gaya/selingkung kepenulisan dari kampusdesa dan dari teman penulis kami. Mereka adalah ;

Antika C. Larasati. Penulis buku Julia Mencari Tuhan, promovendus Ilmu Politik Universitas Brawijaya ini akan berbagi tips pengalaman menulis novelnya dengan fokus, Menulis dalam Selingkung Novel Konflik, Mengoyak Dinamika Kemapanan Pembaca. >> Jumat, 18 Mei 2018 | 14.00 sd 16.00 WIB

Ulfa Muhanyani.  Alumnus Master Kebijakan Publik dari Australian National University dan sekarang akan mengambil doktoralnya di Australia juga, termasuk kolumnis majalah Auleea seputar gender dan feminism akan berbagi seputar Menulis dan Menarasikan Keberpihakan. >> Jumat, 18 Mei 2018 | 16.30 sd 17.30 WIB

Ilhamuddin Nuqman. Alumnus magister Psikologi UGM Yogyakarta, Dosen Psikologi Industri dan Organisasi Universitas Brawijaya, Penulis buku, Coach Bisnis, akan memandu kita mencari formula Menulis dan Strategi Memengaruhi Pembaca, Membuat scenario jejak psikologis pembaca. >> Sabtu, 19 Mei 2018 | 14.00 sd 17.30 WIB

Wis wis wis… woro-woro admin dicukupkan sekian ya, keterangan tempat dan waktu ada di POSTER yang ada. Ini seperti darus menjelang berbuka. Yuk awali puasa perdana dengan tadarus cerdas.

Ancer-ancer tempat. Tempat GB Kafe ada di jalur seputar timur Pondok Sabilurrosyad (KH. Marzuki Mustamar) Gasek Karangbesuki Malang.

Lebih lengkap hubungi kami di nomer yang tertera.

Pengganti takjil dan buka (bagi yang berpuasa) Rp. 50.000,-, bonus materi dan sertifikat | Bagi yang ingin BDD (Bayar Dewe-Dewe) maka tanpa dipungut biaya.

Disediakan pameran buku inspiratif baik yang diproduksi oleh kampusdesa, atau buku-buku para pemateri di atas.

Bisakah Nilai Kebersihan Sekolah Kita Seperti Mall

“Kemampuan menjamin kebersihan menjadi nilai organisasi menjadi salah satu indikator budaya mutu berjalan dengan baik” (Amka)

KEBERSIHAN merupakan kondisi dimana tidak didapati kotoran yang ada. Kondisi seperti itu akan dihasilkan ketika kita selalu memperhatikan dan menjaganya. Kebersihan tubuh misalnya, akan selalu didapati ketika seseorang dengan sabarnya menjaga dan membersihkan kotoran di tubuhnya setiap hari.

Kebersihan lingkungan juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan dan dijaga. Untuk menjaga kebersihan lingkungan, dibutuhkan kebiasaan. Kebiasaan adalah sikap seseorang yang selalu sadar dan sabar melakukan sesuatu. Tanpa kesadaran dan kesabaran maka kebiasaan tidak akan bisa terpenuhi, maka dengan ilmu kesadaran akan diperoleh. Untuk memperoleh ilmu, maka membutuhkan pengajaran.

Pengajaran tentang sikap seseorang agar sadar kebersihan tentunya tidaklah mudah. Variabelnya cukup banyak untuk diperhatikan ketika mengajar bab kebersihan sekaligus bagaimana implementasinya agar kebersihan itu tidak hanya menjadi pengetahuan akan tetapi menjadi sikap semua civitas akademika yang ada di lingkungan sekolah.

Kita bandingkan dengan sekolah kita, seringkali kita mendapati sampah sudah berserakan di lantai dan kita tidak “sungkan ” membuang sampah ketika ada kotoran yang tersisa di lantai sekolah.

Seringkali kita pergi ke Mall dan mendapati bahwa Mall keadaannya lebih bersih dari pada sekolah atau madrasah. Kita mau membuang sampah menjadi sungkan ketika keadaannya sangat bersih. Kita bandingkan dengan sekolah kita, seringkali kita mendapati sampah sudah berserakan di lantai dan kita tidak “sungkan ” membuang sampah ketika ada kotoran yang tersisa di lantai sekolah. Kata kuncinya adalah bagaimana memastikan lingkungan di sekitar kita untuk selalu bersih agar bisa murid atau guru di sekolah menjadi “sungkan” untuk membuang.

Pesan-pesan tentang menjaga kebersihan hendaknya di tempel sebanyak mungkin di tempat yang kemungkinan seseorang akan membuang sampah misalnya di pojok ruangan, sekitar pohon, dan lain sebagainya sehingga seseorang terus terinstall pikirannya untuk menjaga kebersihan atau bisa juga dengan pesan peringatan berupa rekaman pengumuman yang terus disuarakan di lingkungan itu.

Peran seorang penjaga kebersihan juga sangat penting, biasanya penjaga kebersihan hanya membersihkan di awal masuk dan di akhir ketika semuanya akan pulang. Kinerja penjaga kebersihan seperti ini masih kurang efektif, seharusnya penjaga kebersihan selalu memantau setiap saat dan memastikan kondisi di sekitarnya itu bersih, sehingga ada sedikit kotoran langsung dibersihkan tanpa sisa. Manajemen seperti ini sangat efektif dan juga membutuhkan dana yang cukup besar, karenanya standar kinerja harus ditetapkan misalnya 5 jam minimal untuk beban kerja penjaga kebersihan harus dipastikan dengan upah yang standar pula.

Cara lain untuk mengelola kebersihan dengan biaya yang murah tapi efektif adalah dengan cara menggerakan sikap seluruh anggota lembaga untuk menjadi penjaga kebersihan. Tentunya pemimpin memberikan suri tauladan yang baik agar bisa dijadikan model anggota lembaganya

Cara lain untuk mengelola kebersihan dengan biaya yang murah tapi efektif adalah dengan cara menggerakan sikap seluruh anggota lembaga untuk menjadi penjaga kebersihan. Tentunya pemimpin memberikan suri tauladan yang baik agar bisa dijadikan model anggota lembaganya. Misalnya ketika merokok hendaknya putung rokok tidak di buang sembarangan dan pemimpin selalu mengingatkan anggota lembaganya agar selalu menjaga kebersihan.

Lembaga Pendidikan semestinya mampu mengajarkan kebersihan sebagai nilai bersama dalam organisasi itu, bahkan tidak hanya mengajarkan akan tetapi mampu mengelola lingkungan agar selalu bersih.

Wallahu A’lam bi al Sawab
Malang, Jum’at 4 Mei 2018 (18 Syakban 1439 H)

Murid “Hiperaktif,” Guru Sensitif

0

Perubahan dalam era teknologi informasi selayaknya diikuti oleh daya tangkap terhadap inovasi pendidikan. Saat guru terbiasa mengajar dan murid mendengar guru menyampaikan pengetahuan, murid mencatat dan mengulangnya menjadi ilmu pengetahuan. Saat murid bisa berselancar di dunia maya dan memunyai sudut pandang yang lebih lengkap dari pengetahuan guru, bahkan boleh jadi berbeda, apa guru tetap menyukai zona nyamannya ?

SEMAKIN menyeruaknya dunia maya, era digital, maka kebutuhan orang terhadap alat komunikasi berbayar, seperti gawai, dan sejenisnya membuat semua orang ingin memiliki mengoperasikan alat alat komunikasi tersebut.

Tak pelak anak anak pun yang masih muda belia, usia sekolah bahkan yang belum sekolah pun kena virus dunia maya.

Sekolah atau madrasah sebagai tempat formal mencari ilmu bagi mereka sekarang sudah tidak ubahnya sebagai tontonan kedua yang didapati anak-anak. Betapa tidak, anak yang memiliki kemampuan kreatif di pelajaran yang disampaikan guru, ternyata dia sudah terlebih dulu mendapatkan materi di rumah, entah itu lewat televisi majalah, koran dan internet.

Kemudahan mendapatkan akses internet akhir-akhir ini berimbas sangat besar bagi keberlangsungan pendidikan anak. Akhlak anak kadang melebihi ukuran dari porsi usianya sehingga implikasinya guru harus “melek” internet.

Guru mengajar harus lebih lihai dan lebih siap terhadap apa yang akan diajarkan kepada anak didik. Guru belajar lebih mendalam daripada profesi guru di jaman dulu.

Guru jaman now jangan tersinggung bila pengetahuan anak lebih karena media pembelajaran yang didapati anak dengan yang dipelajari guru kerapkali minim variasi (pengayaan).

Anak sudah pandai menilai dan membedakan. Bahkan kadang anak mengomentari gurunya bahwa ilmu yang disampaikan tidak sesuai dengan yang didapat dari media lain.

Untuk itu marilah sebagai guru tidak henti-hentinya belajar dan belajar. Belajar sepanjang hayat sesuai hadits Rasulullah harus kita jalani sebagai profesi yang amat mulia ini.

Luangkanlah waktu untuk menambah wawasan dan pengetahuan dari manapun sumbernya.

Salam semangat untuk semua guru, terutama guru madrasah kabupaten Mojokerto.

Saikhul Adenan

Guru MIN 2 Mojokerto dan Salah Satu Anggota Gerakan Guru Menulis di Mojokerto. Tulisan ini merupakan bagian dari latihan menulis di program Gerakan Guru Menulis

Infeksi Saluran Kemih, Wow Tanpa Operasi?

Boleh jadi ini kontroversi, tetapi ada orang yang mendapatkan manfaat dari berbagai proses pengobatan. Dunia kedokteran sampai hari ini masih saja berhadap-hadapan dengan penemuan yang berbeda dari kebiasaan riset pengembangan obat dan pilihan sembuh. Nah, termasuk infeksi saluran kemih. Dokter menyarankan operasi tetapi pasien punya pengalaman di luar ruang operasi, itupun terkait dengan peluang sembuh.

SEPERTI judul tulisan di atas, infeksi saluran kemih itulah nama penyakit yang didiagnosa oleh dokter pada diri saya. Sebenarnya saya malu dan ingin menutup cerita tentang sakit saya ini, namun beberapa teman ada yang ingin tahu alias kepo terhadap sakit saya, yang membuat saya sungguh menderita selama lebih dari dua minggu ini. Yaa… sudah saya membuat tulisan saja sebagai jawaban atas ke-kepo-an para sahabat, juga saya tujukan selain untuk testimoni tetapi sekaligus nasehat untuk diri sendiri juga mungkin bisa jadi nasehat untuk orang lain yang mungkin sedang mengalami sakit seperti yang pernah saya derita.

Ceritanya adalah, dua minggu ini saya mengalami nyeri yang luar biasa di perut sebelah kiri hingga kemaluan dengan disertai rasa sakit kepala yang luar biasa. Rasa ingin buang air kecil atau biasa disebut anyang-anyangan setiap saat selalu terasa. Sungguh sangat mengganggu aktivitas keseharian saya yang lumayan padat, karena mesti sering kali buang air kecil ke kamar mandi. Itupun dengan rasa sakit dan nyeri, setiap kali buang air kecil.

Sampai akhirnya saya pun berkonsultasi ke dokter dan di uji di laboratorium. Dari serangkaian pemeriksaan, kesimpulannya adalah saya didiagnosa sakit infeksi saluran kemih. Penyebab saluran kencing saya sakit dan nyeri, dikarenakan ada batu ginjal yang menghambat aliran kencing. Sungguh saya sangat kaget sekali, apalagi menurut dokter apabila batu ginjal itu tidak keluar bersamaan dengan buang air kecil, maka saya diharuskan operasi untuk memecah dan mengeluarkan batu ginjal tersebut.

Saya pun browsing artikel yang ada di google dan video di youtube tentang penyakit ini. Saya baca dan pahami penyebabnya, gejalanya, cara mengobatinya dan cara mencegah agar tidak menderita sakit ini. Sudah sangat saya pahami dari hasil membaca dan menonton video-video yang terkait penyakit tersebut.

Setelah saya identifikasi dan bertanya pada diri sendiri, akhirnya saya temukan kebiasaan saya setiap hari yang mungkin telah membuat pelan-pelan batu ginjal itu terbentuk adalah, saya setiap hari selalu minum kopi panas di waktu pagi saat perut masih kosong alias belum terisi makanan sama sekali. Ternyata menurut artikel yang saya baca, hal itu adalah salah satu kebiasaan yang dapat mengakibatkan terbentuknya kristal batu di dalam ginjal.

Adapun menurut saran dokter dan artikel yang saya baca, salah satu cara mudah untuk mengatasi sakit ini adalah, selain minum obat yang diresepkan dokter penderita diharuskan banyak minum air putih. Tidak tanggung-tanggung, beberapa hari kemarin kalau saran dokter mesti minum minimal 2 liter air putih dalam sehari, saya malah minum mungkin 3-4 liter dalam sehari, yang berdampak langsung pada reaksi ginjal yaitu saya sehari sampai 30 kali buang air kecil.

Namun sampai habis obat yang diresepkan dokter dan air dua galon Aqua, sakit saya belum juga sembuh. Saya pun kembali mencari solusi alternatif penyakit saya ini di internet. Ketemulah saya nama sebuah merk air minum Milagros. Kemudian saya dengan diantar istri pergi ke rumah salah satu teman istri saya yang menjadi agen Milagros, tanpa banyak kata dan berpikir, saya menyuruh istri saya membeli satu dus Milagros isi 12 botol dengan harga Rp. 350.000,- dan sekaligus mendaftarkan istri saya sebagai agen penjualan air Milagros.

Begitu sampai di rumah saya langsung meminum satu botol Milagros, begitupun saat menjelang tidur, saya kembali meminum Milagros satu botol. Namun hal itu membuat saya tidak bisa tidur, karena setiap lima belas menit sekali saya mesti buang air kecil ke kamar mandi dari jam 9 malam sampai jam 12 malam.

Keesokan hari dan sore harinya saya kembali meminum Milagros, masing-masing satu botol di pagi hari dan satu botol di sore hari dengan ditambah minum air putih biasa. Sungguh berdampak luar biasa, setelah beberapa kali buang air kecil yang sangat menyakitkan, akhirnya keluarlah satu benda mirip batu sebesar biji beras dari saluran kencing saya. Kalau bahasa hiperbolanya, rasa sakitnya seperti orang yang melahirkan saking sakitnya untuk menggambarkan rasa sakit yang luar biasa yang saya rasakan. Saya pun tidak perlu melakukan operasi untuk menghancurkan dan mengambil batu ginjal yang menginfeksi saluran kemih.

Alhamdulillah, begitu batu ginjal itu keluar, tubuh saya terasa sehat seperti sedia kala. Saya sangat bersyukur bisa kembali normal dan sehat. Saya berharap sakit yang saya derita bisa menebus segala dosa dan kekhilafan yang pernah saya perbuat. Sungguh sakit saya ini membuat keimanan spiritual saya semakin tersadarkan, karena ibaratnya dengan sakit tersebut, saya dinasehati dan diingatkan oleh Allah SWT untuk selalu bersyukur dan memanfaatkan waktu sehat untuk ibadah dan kebaikan. Semoga kesadaran ini bisa terus saya jaga. Aamiin.

Kesimpulan tulisan ini adalah apabila kita sakit semestinya sebagai manusia beriman kita berdoa minta kesembuhan pada Allah SWT dan juga mesti berusaha mencari cara agar sakit kita bisa sembuh. Doa agar sembuh itu penting, usaha untuk mencari obat juga penting dan yang lebih penting lagi adalah selalu khusnudzon alias berpikir positif terhadap apapun yang terjadi pada diri kita. Insyaallah semua ada nilai baik dan hikmahnya. Wallahua’lam.

Tetap konsultasikan segala keluhan penyakit Anda pada orang yang lebih ahli, yakni Dokter. Tulisan ini bukan sebuah saran pengobatan, tetapi hanya sebatas pengalaman yang ditulis penulis (Redaksi).

Alat Deteksi Kecerdasan Anak Ala Indonesia Sudah Ada Lo…

0

Orang tua selalu bangga dengan hal sulit ataupun hal unik yang mampu dilakukan oleh anaknya. Orang tua menganggap bahwa itu adalah kecerdasan dan ketika anak tidak mampu melakukan adalah kebodohan. Lalu bagaimana makna kecerdasan itu sendiri? Bagaimana kita dapat mengetahui kecerdasan apa yang sesungguhnya dimiliki oleh anak?

ALAT tes menjadi kebanggan bagi para mahasiswa psikologi, namun sampai saat ini alat tes belum banyak yang mengalami pembaharuan. Padahal, pada dasarnya senjata dari para psikolog adalah alat tes. Dari alat tes inilah psikologi mampu menjawab problematika yang ada dan kebutuhan berkembang pada diri manusia. Tapi kenyataannya juga, alat tes yang telah ada belum menjawab keseluruhan dari kebutuhan manusia.

Relitasnya, Mahasiswa psikologi juga belum banyak mengenal mengenai alat tes yang ada, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa hanya belajar sekilas aja, yang diajarkan di matakuliahnya,  belum mendalami  apa sebenarnya maksud dari alat tes tersebut. Menjawab kebutuhan para mahasiswa psikologi, lembaga UPAUP (Unit Pengembangan Alat Ukur Psikologi) mengadakan agenda bulanannya yang pertama. Pada hari ini Jum’at, 4 mei 2018 yang merupakan agenda baru yang dilaksanakan oleh fakultas psikologi UIN Malang, dengan tema “Mahakarya Tes Kecerdasan Individual Pertama & Mutakhir di Indonesia”. Agenda ini diadakan dengan tujuan membantu para mahasiswa psikologi untuk lebih mengenal dekat dengan alat tes yang mereka miliki.

Pada kegiatan pertama ini pemateri para pakar statistik dan psikometri yaitu Zamroni, S.Psi, M.Si dan Umdatul Khoirot, M.Psi, mencoba mengenalkan alat tes yang baru diluncurkan kembali setelah sekian lama belum banyak dikenal orang yaitu tes kognitif AJT. Alat tes ini mencoba untuk menyempurnakan alat-alat tes kognitif sebelumnya. Tes ini disusun oleh Tim Psikologi dari Universtas Gadjahmada Yogyakarta dan PT Melintas Cakrawala Indonesia.

Hal lain yang begitu membanggakan ternyata dalam penyusunan  alat tes ini, beberapa alumni dari Fakultasi Psikologi UIN Malang ikut terlibat dalam prosesnya. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa seorang mahasiswa psikologi tidak hanya menggunakan alat tes yang telah ada, namun juga turut andil dalam proses pembuatannya.

Tes kognitif AJT merupakan alat tes untuk mengukur domain kognitif individu usia 5-18 tahun. Tes ini memiliki kelebihan yang luar biasa yaitu ramah anak disabilitas dengan beberapa paket yang telah disusun oleh Tim. Berbeda dengan tes-tes intelegensi yang telah digunakan di indonesia, dalam proses penyusunan norma alat tes kognitif AJT ini dilakukan di indonesia.

Contoh praktik penggunaan alat tes AJT

Tes ini menjadi sangat penting untuk diperkenalkan kembali karena satu tes yang menjadi tolak ukur manusia yaitu untuk mengetahui kecerdasan. Sebagian besar seseorang dipandang hebat oleh orang lain adalah karena kecerdasan yang dimilikinya, dari tes ini kita dapat mengetahui beberapa tipe kecerdasan yang dimiliki oleh anak.

Karena alat tes kecerdasan diperuntukkan untuk anak, saya menjadi sangat tertarik mengikuti alur diskusinya. Berangkat dari pengalaman-pengalaman yang telah saya dapat dari para orang tua, saya berfikir bahwa tes ini akan mampu menjawab kekhawatiran dan  kecemasan yang mereka hadapi.

Orang tua selalu menginginkan anaknya menjadi seorang yang pintar, cerdas dan kreatif. Sebagian besar orang tua selalu menuntut anaknya untuk bisa dalam segala bidang, namun para orang tua ini belum cukup banyak tau kecerdasan mana yang dimiliki oleh anaknya. Banyak orang tua yang khawatir bahkan menganggap jika anak tidak dapat menyelesaikan suatu hal adalah sebuah kebodohan, mereka belum mengetahui sisi lain yang ada pada diri anak yang bisa mereka sebut kecerdasan.

Kecerdasan manusia banyak bentuknya, tipe-tipe kecerdasan dibagi menjadi beberapa bentuk, kecerdasan visual, matematik, musik, natural, intrapersonal, kinestetik, linguistik, interpersonal dan banyak yang lainnya. Beberapa kecerdasan tersebut pasti dimiliki oleh anak, namun dengan tes AJT ini mampu melihat kecerdasan mana yang lebih unggul yang dimilki oleh anak. Alat tes ini masih dalam proses penyempurnaan, namun alat tes ini telah mampu memberikan jawaban dari para orang tua tentang kekhawatiran yang mereka alami.

Anak tidak pandai dalam berhitung bukan berarti anak itu bodoh, namun ada kecerdasan lain yang melekat yang dimiliki oleh anak, mungkin saja anak tersebut cerdas dalam berbahasa atau mungkin saja cerdas dalam hal yang lain, jangan terlalu cepat memberi label bodoh pada diri anak, karena setiap manusia dilahirkan dengan tipe kecerdasannya sendiri-sendiri. menuntut anak untuk mampu dalam bidang yang bukan merupakan potensi yang dimiliki anak bukanlah hal yang baik, namun mencoba untuk memahami dan membantu anak untuk mengasah potensi yang dimilikinya itu merupakan pemenuhan tanggung jawab yang sesuai.

Dengan munculnya alat tes ini diharapkan dapat melahirkan beberapa kemajuan dari bidang ilmu yang akan dipelajari oleh para mahasiswa psikologi. Pembaharuan-pembaharuan inilah yang akan membangun jiwa para generasi muda untuk lebih semangat dalam berproduksi terutama di bidang pendidikan. Karena sejauh ini kebanyakan alat tes yang ada merupakan adopsi dari ilmuwan luar negeri.

Perlukah Resiliensi dan Hardiness Ditanamkan Pada Anak?

0

Memanjakan anak itu kadang tidak terasa. Orang tua boleh jadi menganggap dia sangat perhatian dan agar anaknya selalu terpenuhi kebutuhannya. Saat anak hidup sendiri, perhatian dan pemenuhan kebutuhan yang menyandu bagi anak akan mendatangkan malapetaka. Terbiasa serba terjamin, saat menghadapi situasi sulit maka boleh jadi anak akan jatuh pada kehidupan tanpa solusi atau depresi “

Memiliki anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik tentunya keinginan bagi setiap oang tua. Membentuk anak-anak yang dapat tumbuh serta berkembang sesuai dengan tahapannya adalah kunci utama yang perlu disadari juga diperhatikan oleh orangtua. Anak tumbuh dan berkembang tidak melulu hanya diberi asupan gizi saja yang tujuannya menyehatkan anak, akan tetapi penanaman atas nilai-nilai kehidupan pada si anak juga menjadi penting adanya.

Anak anak tidak akan selamanya berada di samping orangtuanya 24 jam, di mana akan melakukan interaksi dengan lingkungan masayarakat juga sekolah. Berinteraksi dengan orang selain keluarganya tentu butuh adanya pengenalan pada si anak supaya tidak merasa cemas ataupun ketakutan terhadap hal-hal yang mungkin akan melukai mereka. Nah, membuat anak berada di posisi nyaman ketika di lingkungan luar akan membutuhkan pendekatan juga waktu yang tidak singkat akan tetapi ketika anak-anak sudah terbiasa mereka akan mampu bersikap mandiri.

Lalu, perlukah resiliensi dan hardiness ditanamkan pada anak-anak sejak usia dini? Sebelumnya, mari kita telaah terlebih dahulu tentang resiliensi dan hardiness. Apa sih resiliensi itu? Resiliensi adalah kekuatan pada setiap individu untuk kembali bangkit setelah mengalami kesulitan. Adanya daya juang yang tinggi dalam menyelesaikan suatu masalah tanpa terpuruk secara berlarut-larut.

Lalu apa itu hardiness? Hardiness adalah kondisi dimana individu memiliki ketangguhan, kuat, stabil dan optimis dalam menghadapi stress serta dapat mengurangi kemungkinan negatif yang dapat terjadi. Kedua hal tersebut merupakan sumber yang harus dimiliki anak sejak usianya masih belia. Seorang anak yang memiliki kedua kekuatan tersebut akan menjadi anak yang tidak sulit untuk bangkit dalam keterpurukan dan juga memiliki kontrol pada dirinya sendiri untuk menjadi tangguh, optimis dan tetap stabil meski sedang dilanda masalah.

Ada sebuah cerita pada suatu keluarga di mana ibu dan ayahnya selalu menuruti setiap kemauan anak-anaknya. Bahkan kedua orangtua ini sampai tidak bisa memberikan ketegasan kepada anak-anaknya untuk bisa mengontrol segala keinginannya. Anak-anak terus menuntut jika tidak dibelikan barang yang menjadi keinginannya, berani mengancam hingga tidak mau sekolah. Barang yang diminta bukanlah barang sepele melainkan seperti minta motor keluaran terbaru hingga meminta dibelikan mobil.

Seharusnya, posisi orangtua dihormati, dihargai dan disegani oleh anaknya namun yang terjadi pada keluarga ini sebaliknya, orangtua yang takut pada anak-anaknya. Jadi hal tersebut bermula karena terbiasanya orangtua juga serba kecukupan atas materi sehingga mengajarkan kepada anaknya juga seperti itu. Meskipun setiap orangtua di mana-mana pasti menginginkan untuk menuruti setiap keinginan anaknya, akan tetapi dalam menuruti apapun yang anak mau harusnya disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak tersebut. Hingga akhirnya kondisi keluarga tersebut berbalik di mana ekonominya menurun ketika ayahnya meninggal.

Bukan hanya ekonomi yang menurun akan tetapi semangat hidup kedua anaknya serta istri seperti orang yang tidak memiliki arah. Anak yang pertama setiap harinya minum-minuman keras, anak yang kedua mengurung dirinya di kamar tanpa melakukan aktivitas seperti orang normal, dan ibunya masuk rumah panti sosial.

Resiliensi dan hardiness penting untuk diajarkan pada anak sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa akan semakin kuat, tangguh dan mudah bangkit dalam menghadapi berbagai masalah

Berdasarkan cerita tersebut kita dapat belajar bahwasannya resiliensi dan hardiness penting untuk diajarkan pada anak sehingga ketika anak sudah beranjak dewasa akan semakin kuat, tangguh dan mudah bangkit dalam menghadapi berbagai masalah.

Ketika anak-anak sudah memiliki resiliensi yang kuat otomatis di dalamnya Ia akan dapat mengendalikan emosinya sekalipun sedang berada di bawah tekanan serta mengalihkan emosinya tersebut pada hal-hal yang positif; dapat mengendalikan impulsnya yaitu dapat mengendalikan segala emosi yang sedang menguasai tanpa mengakibatkan kerugian pada dirinya maupun oranglain; adanya optimisme pada setiap keadaan yang sedang menghimpitnya serta Ia meyakini bahwa adanya jalan terbaik pada setiap masalahnya untuk kehidupan di masa depannya; kemampuan untuk menganalisis penyebab dari masalah dimana tidak mudah menyalahkan orang lain sehingga benar-benar dipikir secara baik untuk menyelesaikan masalahnya; kemampuan berempati dimana anak mampu membaca tanda-tanda non-verbal yang berkaitan dengan mengerti perasaan orang lain; self efficacy yaitu keyakinan individu dalam menyelesaikan masalahnya; kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan.

Sedangkan anak yang memiliki hardiness yang baik di dalamnya akan memiliki komitmen yaitu kecenderungan seseorang untuk terlibat dalam berbagai aktivitasnya serta adanya kepercayaan diri dalam menghadapi kemungkinan terjadinya tekanan ataupun stress; kemampuan dalam kontrol yaitu berkaitan dengan pengambilan keputusan pada kondisi tak terduga; fokus pada tantangan yaitu adanya fleksibilitas seseorang dalam mengahadapi berbagai kondisi khususnya yang tak terduga serta menganggap hidup adalah tantangan yang menyenangkan.

Sebagai orangtua, juga harus menyadari bahwa kekhawatiran kita kepada anak tidaklah bagus jika berlebihan hingga membuat anak merasa takut untuk melakukan kegiatan di luar rumah bersama orang-orang baru, hal tersebut tentunya akan membuat anak tidak bisa mandiri dan belajar pada lingkungan baru.

Begitu pentingnya dua hal tersebut diajarkan serta dikembangkan pada diri anak-anak kita agar tidak menjadi anak yang terus bergantung pada orangtua hingga mereka beranjak dewasa. Sudah menjadi kebanggan tersendiri bagi orangtua jika melihat anak-anak mampu tumbuh dan berkembang secara mandiri. Sebagai orangtua, juga harus menyadari bahwa kekhawatiran kita kepada anak tidaklah bagus jika berlebihan hingga membuat anak merasa takut untuk melakukan kegiatan di luar rumah bersama orang-orang baru, hal tersebut tentunya akan membuat anak tidak bisa mandiri dan belajar pada lingkungan baru. Namun, kontrol orangtua juga dilakukan sesuai porsinya tanpa membuat anak terkekang ataupun merasa tidak diperhatikan

Editor     : Faatihatul Gayybiyah
Pengunggah : Admin