Minggu, Mei 10, 2026
Beranda blog Halaman 76

Menyambut Generasi Millenial Pemerintah Rancang Millenial Job Center

0

KampusDesa, Malang–Senin, 13 Agustus 2018. Gubernur terpilih Jawa Timur 2018-2024, hadir di Malang dalam rangka menjadi pemateri pertama dalam acara Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) 2018 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Mengusung tema Wawasan Keislaman dan Kebangsaan, Khofifah menyampaikan materi terkait “Membangun Moderasi Islam di Kalangan Generasi Muda.” Materi ini cukup relevan untuk disampaikan kepada maba khususnya dalam lingkup UIN Malang.

Saat ini pemeritahan tengah menggagas untuk membentuk suatu wadah khusus bagi generasi millenial yang kemudian disebut dengan Millenial JOB Center. Dimana akan menampung seluruh pemuda bangsa yang memiliki soft skill tertentu agar nantinya dapat didistribusikan pada lini-lini tertentu untuk pengembangan negara.

Millenial JOB Center, merupakan gagasan baru yang diharapkan mampu memenuhi segala bentuk kebutuhan generasi millenial saat ini, khususnya dalam menemukan job/pekerjaan yang pas sesuai dengan keunggulan mereka. Ketika mereka memiliki skill dalam bidang programer maka akan diarahkan pada lembaga yang membutuhkan alhi programer. Ketika ada generasi yang ahli riset, akan diarahkan ke lembaga riset. Nantinya Millenial JOB Center akan mengeluarkan semacam sertifikat bagi setiap pemuda yang terjaring di dalamnya.

Pesan dari Gubernur terpilih agar senantiasa berfikir out of the box dan menghindari pola pikir yang linier. Sehinga bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dengan pemikiran-pemikiran baru yang membangun.

Revolusi Mengawal Generasi Millenial

0

KampusDesa, Kediri–Minggu, 05 Agustus Sasana Al-Muhajirin mengusung gelar wicara dengan tema ”Dahsyatnya Parenting Mengawal generasi Millenial.” Gelar wicara ini, merupakan salah satu pengembangan dan penerapan pendidikan berbasis masyarakat dan komunitas. Dengan adanya parenting ini diharapkan membantu untuk menghadapi segala perubahan dan tantangan di zaman modern nan serba canggih seperti saat ini, terutama ilmu pengetahuan dan teknologi di era revolusi 4.0. Kegiatan ini di fasilitatori oleh Eyang Wiwik Joewono dari Sanggar Cendekia Malang, Ns. Beni Dwi Wantoro, S.kep Ower Tradisional health & Education Center Treenggalek, Yuli Wusthol, M, Founder Sasana Al-Muhajirin dan Maya Lisna, Amd.Keb. C. PBL Owner Mysa Baby and Mommy Massage.

Informasi yang beredar dengan cepat dan ditunjang akan teknologi yang canggih mampu memberi perubahan terhadap perkembangan manusia secara cepat pula, baik perubahan kearah hal postif maupun hal negatif. Termasuk di dalamnya seperti mempercepat berubahnya nilai-nilai sosial dan memberi dampak signifikan pada manusia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia sangat diperlukan guna perubahan karakteristik manusia ke arah yang lebih baik. Pengetahuan dan pemahaman orangtua dalam pola asuh terhadap anak sangat berpengaruh terhadap tumbuh perkembangan anak dan masa depannya. Maka dari itu orang tua perlu diberikan keterampilan dalam mendidik anak di dalam keluarga, pengetahuan mengasuh dan membimbing anak dan agar dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang.

Peran keluarga merupakan sebuah institusi yang paling penting dalam menciptakan dasar pendidikan dan perkembangan bagi anak. Karena pembentukan seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan terkecil yaitu keluarga dan yang paling pertama memberikan pengalaman bagi anak. Pengalaman yang dimiliki anak tersebut akan menentukan pola pikir, karakter dan sifat alami dari seorang anak, tutur eyang Wiwik Joewono dalam pola asuh dengan mengikuti metode Ki Hajar Dewantara yaitu among, ngemong dan momong. Dengan demikian pendidikan diperoleh bukan bagusnya bangunan, banyaknya fasilitas, namun syarat utama adanya lahan terbuka untuk memberikan kebebasan anak-anak tumbuh berkembang, selain itu membuat lingkungan keluarga dengan fasilitas olah gerak dan mimik raut muka sehingga rasa dan karsa dimiliki sejak dini. Dengan begitu peran keluarga, ayah bunda dalam rumah sangat berpengaruh besar dalam mengawal generasi emas di revolusi modern ini.

Banyak yang berdalih pendidikan Finlandia adalan pendidikan yang bagus bisa diterapkan di Indonesia. Bukankah barang tiruan itu pasti tidak sama dengan barang aslinya. Seperti batik cap, tentu batik cap tidak bisa menandingi kebagusan batik tulis. Begitu pula Pendidikan di Indonesia, manakala dikaji kembali Pendidikan Multiple Intelligences itu sama halnya dengan pendidikan yang berpedoman pada panca-darma Ki Hajar Dewantara. Dalam pengaplikasian Multiple Intelligences yang sepadan dengan panca-darma Yuli Wusthol memaparkan gambaran dan penerapannya.

Para peserta sedang berpose bersama

Pertama, kodrat alam. Sama halnya pada Multiple Intelligences dalam pengambilan peserta didik tidak melihat dan membeda-bedakan satu dengan yang lainnya sehingga dalam penerimaan peserta didik tidak menggunakan tes, namun berbasis kuota dengan dipetakan sesuai kecerdasan dengan MIR (Multiple Intelligences Research). Kedua, kemerdekaan selaras dengan konsep MI peserta didik diberikan kebebasan untuk memilih cara belajar, extra, dan materi yang paling dominan. Ketiga, kebangsaan selaras dengan memberikan tugas portofolio yang berkaitan di lingkungan, keluarga, dan negara. Keempat, kebudayaan selaras dengan kurikulum yang disesuaikan dengan daerah dan prospek kerja yang dominan di masing-masing kota peserta didik, Kelima, kemanusiaan, memberikan kesempatan kepada masing-masing pesera didik untuk tumbuh kembang sehingga pembelajaran dipetakan sesuai dengan kecerdasan dan cara belajar yang sudah dites dengan MIR. Dengan demikian, pendidikan yang dimiliki Ki Hajar Dewantara manakala dikaji dan diaplikasikan sebagaimana mestinya sudah pasti masih relevan dan sama dengan pendidikan yang ada di luar negeri saat ini.

Cara berkomunikasi kepada anak memiliki peran yang sangat kuat dalam megawal generasi milenial agar tidak terjadi kesalahan komunikasi. Komunikasi dengan hati merupakan salah satu bagian dari terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang memadukan suatu ketulusan, sentuhan hati dan perlakuan untuk memengaruhi dunia otak alam bawah sadar dan panca indra.

Di era revolusi 4.0 banyak yang mengeluh cara mengasuh anak di rasa sulit. Padahal anak merupakan tunas, potensi dan generasi penerus cita-cita bangsa yang memiliki peran penting dalam menjamin eksistensi bangsa dan negara di masa yang akan datang. Cara berkomunikasi kepada anak memiliki peran yang sangat kuat dalam megawal generasi milenial agar tidak terjadi kesalahan komunikasi. Komunikasi dengan hati merupakan salah satu bagian dari terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) yang memadukan suatu ketulusan, sentuhan hati dan perlakuan untuk memengaruhi dunia otak alam bawah sadar dan panca indra.

Kekuatan cinta dan kebaikan hati kita bisa dirasakan orang lain walau tanpa diutarakan, bisa menyembuhkan, dan melindungi, karena hati kita berbicara lebih keras dibandingkan kata-kata dan tindakan. Di awal sesion ini, para peserta diberi arahan oleh Ns. Beni Dwi Wantoro, S.Kep, CHt, CI. Mereka langsung mempraktikkan secara berpasangan untuk melatih teknik memberikan sentuhan dari pundak sampai tangan. Sentuhan yang dilakukan harus disertai ketulusan dan saling mendo’akan masing-masing pasangannya. Begitu pula di rumah ataupun di sekolah, rasa kasih sayang bisa diberikan lewat sentuhan tulus dari hati, kata, dan sikap.

Gus Dur, Anak Muda, dan Narasi Baru Islam Tradisional

0

Jelang Temunas GUSDURian, Yogyakarta 10-12 Agustus 2018, Jaringan Gusdurian mengadakan Temu Nasional. Temu ini bertujuan meracik aneka gerakan yang sudah tersebar secara nasional. Gusdurian ada di beberapa kota di dunia. Pertemuan ini menjalin berbagai nilai untuk dijadikan strategi baru mengokohkan gerakan. Berikut refleksi Zainul Hamdi (Inung) sebagai bahan sebuah sudut pandang bahwa Gus Durlah yang meneladankan pemikiran kritis anak muda NU dan meski sering bertabrakan dengan orang tua, kekritisan itu tetap tidak melepaskan kecintaan anak muda pada NU.

“Gus Dur menginspirasi!” Itu hal biasa, selumrah mengatakan Gus Dur adalah tokoh Nahdlatul Ulama. Yang belum banyak diuraikan adalah penjelasan bagaimana Gus Dur mewariskan “hartanya” kepada para anak muda, khususnya generasi muda NU, yang membuat kelompok ini membangun dirinya menjadi generasi baru NU yang berbeda. Tidak bisa diingkari bahwa penangkap antusias ide-ide Gus Dur adalah anak-anak muda. Legacy Gus Dur itu hingga kini tetap menginspirasi ribuan anak-anak muda, baik yang berlatar belakang NU maupun tidak.

Gus Dur menginspirasi kerja-kerja pemberdayaan ekonomi kerakyatan sampai perlawanan rakyat. Gus Dur menyemai gagasan teologi pembebasan sampai civil society.

Kita bisa menghitung beberapa capaian perjuangan Gus Dur, misalnya penerimaan Pancasila, pemulihan hak-hak warga Tionghoa, dan demiliterisasi kehidupan politik Indonesia. Namun, karya Gus Dur yang tak ternilai harganya adalah ide-ide dan teladan tindakannya yang menginspirasi ribuan anak muda akan kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan beragama, yang lebih manusiawi. Gus Dur menginspirasi kerja-kerja pemberdayaan ekonomi kerakyatan sampai perlawanan rakyat. Gus Dur menyemai gagasan teologi pembebasan sampai civil society. Gus Dur menjadi teladan bagi para aktivis HAM hingga para feminis. Gus Dur adalah roh yang menjadi nafas gerakan anak-anak muda.

Sejauh yang bisa dilacak, sosialisasi ide-ide awal Gus Dur dimulai di awal tahun 70-an melalui tulisan-tulisannya yang dipublikasikan di beberapa media nasional. Tahun-tahun ini adalah era di mana anak-anak orang NU yang semula hanya mengecap pendidikan pesantren mulai masuk ke perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi keislaman. Pendidikan tinggi membawa anak-anak Muslim tradisionalis ini mulai berani berfikir kritis atas berbagai wacana keagamaan yang selama ini dianggap baku dalam tradisi keislaman pesantren. Lingkungan perguruan tinggi juga memungkinkan anak-anak pesantren ini terpapar oleh wacana dan gerakan sosial-budaya-politik kontemporer yang tidak ada referensinya dalam kitab kuning, kitab keislaman klasik yang dikaji di pesantren.

Dasawarsa 80-an, Gus Dur sudah memantapkan dirinya dalam blantika gerakan intelektual dan sosial nasional. Tahun-tahun ini ditandai dengan mulai masuknya anak-anak muda NU ke dalam perguruan tinggi umum sebagai akibat dari kesadaran pendidikan yang semakin tinggi di kalangan orang-orang NU. Generasi baru NU ini mempelajari ilmu-ilmu yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam.

Bagaimanapun juga, pengalaman pendidikan di perguruan tinggi melahirkan satu generasi NU baru yang membawa pemikiran dan aspirasi ke-NU-an yang berbeda dengan para orang tuanya. Generasi baru ini memiliki kebutuhan yang berbeda dari para pendahulunya. Gus Dur-lah yang mampu memenuhi ekspektasi generasi baru ini. Gus Dur sanggup menampilkan dirinya sebagai orang NU dalam sosok yang lebih up to date: fasih dalam ilmu-ilmu keislaman tradisional, juga terpelajar dalam kehidupan intelektualitas kehidupan modern-urban. Gus Dur mampu mengartikulasikan Islam tradisional dalam terma-terma modern dan menempatkan Islam tradisional dalam arus gerakan sosial kontemporer. Gus Dur, misalnya, menjelaskan pesantren sebagai sub-kultur dan kyai sebagai cultural broker. Pesantren digambarkan sebagai LSM sejati yang sangat potensial dalam kerja-kerja pemberdayaan rakyat.

Wacana keislaman pesantren yang selama ini dianggap beku dan konservatif dikelolanya sedemikian rupa menjadi wacana keislaman yang sangat progresif tanpa kehilangan pijakannya pada tradisi asalnya.

Tawaran-tawaran Gus Dur ini ibarat benih yang disemai, di mana lahannya adalah anak-anak NU yang mengenyam pendidikan tinggi itu. Tidak mengherankan jika dari generasi inilah Gus Dur membangun timnya ketika dia mulai melakukan pembaharuan di tubuh NU. Ketika dia akhirnya memegang tampuk tertinggi di organisasi yang didirikan kakeknya itu, dia dan timnya tersebut mendorong NU menjadi sebuah organisasi keislaman yang tidak lagi hanya begulat dalam masalah-masalah teologis, tapi juga meletakkan NU (dan pesantren) sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan rakyat. Wacana keislaman pesantren yang selama ini dianggap beku dan konservatif dikelolanya sedemikian rupa menjadi wacana keislaman yang sangat progresif tanpa kehilangan pijakannya pada tradisi asalnya. Sebegitu progresifnya pemikiran-pemikiran keislaman yang diusung Gus Dur, hingga para peniliti Islam Indonesia sampai harus mengoreksi penilaian biner yang sudah ada selama ini bahwa Muhammadiyah adalah modern dan NU adalah tradisional.

Di era 90-an, Gus Dur mendorong NU semakin jauh. Ketika otoritarianisme Orde Baru semakin mengeras, Gus Dur meletakkan dirinya sebagai tokoh penting dalam gerakan melawan rejim. Sepak terjang Gus Dur ini, sedikit banyak, meletakkan NU sebagai entitas sosial yang melawan pemerintah. Kyai-kyai sepuh jelas dibuat serba salah. Melawan pemerintah yang sah adalah sesuatu yang baru jika dilihat dari kaca mata fiqh tradisional. Memang, sebelyum era Gus Dur pun NU pernah berseteru keras dengan pemerintah, namun isu-isu yang muncul adalah masalah keimanan dan ibadah, misalnya dalam kasus UU Perkawianan dan pengakuan negara terhadap aliran kepercayaan. Tapi di tangan Gus Dur, perlawanan ini memunculkan narasi baru, yaitu civil society.

Bagi generasi baru ini, NU adalah apa yang dicontohkan Gus Dur, yang itu berarti perlawanan terhadap otoritarianisme, pembelaan atas kelompok-kelompok minoritas yang disubordinasi dan didikriminasi, perjuangan HAM, dan sebagainya.

Narasi baru perlawanan ini tentu saja ditangkap anak-anak muda NU generasi 90-an yang sudah sangat mapan dalam arus pemikiran dan gerakan sosial-politik kontemporer. Tahun 90-an inilah booming intelektual muda NU terjadi, momentum yang sudah bisa diprediksi sebelumnya. Generasi baru ini tidak memiliki referensi lain tentang ke-NU-annya kecuali ke-NU-an yang dinarasikan Gus Dur. Bagi generasi baru ini, NU adalah apa yang dicontohkan Gus Dur, yang itu berarti perlawanan terhadap otoritarianisme, pembelaan atas kelompok-kelompok minoritas yang disubordinasi dan didikriminasi, perjuangan HAM, dan sebagainya. Mulailah keluar dari lisan para anak muda NU ini istilah-istilah civil society, demokratisasi, human rights, feminisme, otonomi kebudayaan, bahkan istilah-istilah yang selama ini lahir dalam tradisi gerakan kiri.

Dalam bidang pemikiran dan gerakan keislaman, Gus Dur menginspirasi anak-anak muda mulai dari teologi pembebasan hingga wacana dekonstruksi keagamaan. Gustavo Gutierrez, teolog pembebasan Amerika Latin menjumpai anak-anak muda NU melalui lisan Gus Dur. Gus Dur juga mengenalkan tradisi pemikiran keislaman kritis Afrika Utara yang dipengaruhi oleh filsafat kritis Prancis. Mulailah Hasan Hanfi, Mohammed Arkoun, An-Naim, dsb dipelajari, diterjemah, dan diterbitkan oleh anak-anak didik Gus Dur ini. Tanpa selalu dipandu sang mentor, anak-anak muda yang menyala ini terus melangkah dengan spirit gusdurian yang telah tertanam di dadanya.

Anak-anak muda NU yang diinspirasi oleh pemikiran dan gerakan Gus Dur itu kini tumbuh menjadi para intelektual dan aktivis sosial yang matang. Di dunia akademik, mereka menjadi punggawa utama dalam gerakan pemikiran progresif Islam Nusantara. Di wilayah gerakan sosial, mereka sangat percaya diri membela pluralisme dan membuat acara-acara lintas-agama. Sebagaimana mentornya, anak-anak muda ini bersahabat baik dengan para pendeta, pastor, dan biksu, bahkan tidak jarang membuat acara di gereja atau di kelenteng. Anak-anak muda ini juga tersebar dalam gerakan-gerakan HAM, kesetaraan gender, advokasi lingkungan, pemberdayaan ekonomi rakyat, gerakan budaya, dan politik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kasus-kasus tertentu, ana-anak muda NU terpaksa berhadapan dengan orang-orang NU tua. Misalnya, pembelaan mereka terhadap hak berkeyakinan kelompok-kelompok yang dianggap sesat atau advokasi kesetaraan gender membawa anak-anak muda ini dianggap terlalu “liar”. Namun, apakah anak-anak ini bisa dianggap telah berada di luar lingkar NU? Mungkin mereka adalah anak-anak NU muda liar jika diukur dari pandangan mainstream, namun seperti Gus Dur, mereka tidak pernah melangkahkan kakinya keluar dari rumah NU-nya. Mereka tidak pernah melepas kecintaan dan kebanggaannya terhadap organisasi Islam tradisional ini. Ketajaman kritik-kritiknya tidak pernah mengalahkan kebesaran cintanya pada organisasi yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari ini. Mereka hanyalah generasi baru NU yang memiliki pemikiran, gerakan, dan aspirasi yang berbeda dari para ayahnya. Mereka adalah anak-anak muda NU yang menemukan referensi ke-NU-nya pada diri Gus Dur, sebuah referensi yang pas bagi generasi ini.[]

Ahmad Zainul Hamdi. Senior Gusdurian dan Dosen Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

Orang Tua sebagai Mursyid bagi Anak-anaknya di Dunia Maya

0

Beberapa media memuat bahaya kecanduan gawai pada anak-anak. Memang, dampak gawai (smartphone) sampai ke kecanduan. Seharian penuh main handphone tanpa makan dan minum. Saat diingatkan, anak marah-marah dan seolah tidak bisa tenang ketika meninggalkan gawainya. Ini seperti gejala kecanduan gawai ketika anak-anak mengalami problem diri saat jauh dari gawainya atau tidak bisa lepas saat bermain gadget. Namun demikian menghindari sama sekali gawai juga tidak memberikan jawaban karena sebagian besar informasi ilmu pengetahuan juga banyak yang tersimpan didalam data besar online (bigdata). 

Menyikapi dampak yang serius dan negatif pada anak, cangkrukan 4.0 yang berkolaborasi antara Kampus Desa Indonesia, Pondok Pesantren Waqiah Indonesia, MWC NU Lowokwaru mengangkat diskusi seputar gawai, antara ancaman dan peluang.  Mahpur dari Kampus Desa menyatakan bahwa perkembangan anak hari ini semakin kompleks. Anak-anak boleh jadi dilarang menggunakan telepon pinta, tetapi mereka jelas akan mencari berbagai fasilitas agar bisa menggunakan telepon pinta di luar rumah. Kalau tidak begitu, mereka akan mencari tempat tertentu untuk mengakses internet seperti di warnet.

Oleh karena itu, Mahpur menegaskan bahwa separuh perkembangan anak perlu dilihat tidak saja dari sisi badan wadaqnya tetapi badan maya-nya juga perlu dilihat. Bagaimana akun anak-anak juga bisa dipantau untuk mendapatkan profil asli anak. Disini orang tua wajib melek teknologi. Pertumbuhan teknologi informasi menjadikan anak perkembang dalam dua alam. Sebagai orang tua niscaya perlu memasuki dunia tersebut meskipun tidak seratus persen. Hal ini juga untuk menjadikan orang tua melek teknologi dan mampu melakukan kontrol dan pengawasan terhadap anak, bahkan mampu mengatur dengan bijaksana kapan anak waktunya boleh menggunakan telepon pintar dan kapan tidak boleh menggunakannya. Pemahaman terhadap teknologi ini, orang tua diharapkan bisa mencegah agar anak-anaknya tidak kecanduan tekonologi yang berdampak pada hilangnya tugas hidup yang utama, seperti belajar dan/atau bersosialisasi.

Menurut Mahpur, kesehatan menggunakan gawai ditentukan oleh kualitas hubungan orang tua dan anak di rumah. Hubungan yang baik dan penuh kedekatan akan mampu saling mengondisikan bagaimana anak menggunakan gawai secara positif. Hubungan ini akan memudahkan komunikasi sehingga anak dan orang tua mampu menciptakan nilai komunikasi yang terbuka. Ketika komunikasi terbuka, anak bisa dikendalikan dengan lebih pro-aktif. Hal penting lainnya, gawai pada saatnya nanti akan menjadi salah satu media kreatif dan jalan menuju sukses. Hal ini dibuktikan bahwa internet telah menjadi sarana dagang yang menghasilkan 1000 trilyun pertahuan untuk bidang kuliner dan fashion.

Dedi Kusbianto, Ahli pemograman dari Polinema Malang mempunyai sudut pandang yang lebih teknis tetapi dijelaskan menggunakan logika agama. Dedi memaparkan, internet itu dapat dianalogikan dengan kehidupan agama. Ibaratnya, anak-anak itu akan mencapai makrifat pada tuhan, maka dia butuh mursyid untuk sampai pada tujuan tersebut. Orang tua harus menjadi mursyidnya. Ketika anak berada di belantara dunia maya, yang sebenarnya nyata, anak-anak bisa menyikapi jin-syaitan dan berbagai keburukannya. Ketika dia bisa melampauinya, maka anak-anak akan mencapai makrifatnya (mengetahui kegunaannya/manfaatnya).

Jikalau anak memiliki akun yang terkendali, bebas dari akun xxx, maka syahadat anak sudah benar dan ditingkatkan menuju rukun kedua, yakni sholat. Maksudnya, anak butuh dipandu memanfaatkan fungsi internet sesuai dengan kebutuhannya. Jika sholatnya benar maka anak akan terbiasa tertib dalam berselancar di dunia maya.

Anak butuh syahadat dulu ketika memasuki dunia teknologi informasi. Syahadat itu diibaratkan akun. Jikalau anak memiliki akun yang terkendali, bebas dari akun xxx, maka syahadat anak sudah benar dan ditingkatkan menuju rukun kedua, yakni sholat. Maksudnya, anak butuh dipandu memanfaatkan fungsi internet sesuai dengan kebutuhannya. Jika sholatnya benar maka anak akan terbiasa tertib dalam berselancar di dunia maya. Baru anak diajari ibadah-ibadah sunnah, seperti membagi konten yang positif ke teman atau ke dunia maya. Jika analogi ini kita lakukan di keluarga, utamanya orang tua sebagai mursyidnya, maka akan-anak akan mencapai tuhannya. Jika demikian, internet itu tidak lagi dianggap maya, dia menjadi nyata, dan akhiratlah yang tetap maya, begitu guyonan analog yang disampaikan oleh seorang dosen polinema ahli pemograman tersebut.

Cangkrukan 4.0 sebuah nama yang mengekor trend masalah transformasi kehidupan ke teknologi informasi ini dihadiri oleh pelaku youtuber Gisman Priayuda Assydiq. Dia sukses menekuni bisnis digital sebagai Komentator Kompetisi Game Online dan sudah memiliki follower 30.000. Yuda sangat akrab dengan teknologi bahkan sejak SMA dan menggeluti dunia gamer. Dia menuturkan berdasarkan pengalamannya, dia selalu mengalami pertentangan dengan orang tuanya. Yah, baginya, orang tua tidak selalu tahu dunia anak-anak. Ketidaktahuannya ini sering melahirkan konflik kebutuhan.

Posisi orang tua itu seperti tulisan di belakang angkot, jaga jarak, sehingga bisa mengawasinya dari jarak dekat tanpa mencapuri terlalu dalam. Jarak dekat ini tetap akan bisa mengambil peran positif dalam mengawasi dan menjaga anak-anak mereka.

Bagi Yuda, di era ini, sebaiknya orang tua tidak terlalu membuat batas tembok yang tinggi-tinggi pada anaknya. Boleh mengasih tembok, tetapi jangan tinggi-tinggi sehingga orang tua juga bisa melompat untuk mengawal anak-anaknya. Toh bagaimanapun, anak masih membutuhkan orang tuanya disaat mereka di suatu masanya terpuruk. Sejalan dengan pikiran nara sumber lainnya, orang tua sebaiknya juga memahami dunia teknologi informasi (internet) agar mampu menyelami hiruk pikuk di dunia maya. Orang tua bukan sebagai satpam yang mengawasi secara ketat, atau justru dilepas begitu saja. Menurut Yuda, posisi orang tua itu seperti tulisan di belakang angkot, jaga jarak, sehingga bisa mengawasinya dari jarak dekat tanpa mencapuri terlalu dalam. Jarak dekat ini tetap akan bisa mengambil peran positif dalam mengawasi dan menjaga anak-anak mereka.

Dia yang sudah melanglang buana ke luar negeri, pun mengatakan, agar orang tua memberi kebebasan kepada anak-anaknya atas apa yang dipilihnya. Tentu pilihan yang positif. Anak biar memcoba dan merasakan dulu atas pilihannya. Jikalau anak mulai dirasa kehilangan orientasi atau kesasar, maka orang tuanyalah yang akan menjadi penyelamat. Orang tua juga bisa mencari jejak-jejak akses internet anaknya asalkan orang tua juga melek teknologi. Jelas Yuda yang pernah mendapatkan suntikan dana USD 15.000 dari Korea untuk pengembangan proyek concepting kompetisi game online.

Di akhir kegiatan ditutup dengan sudut pandang agama. Kasuwi Saiban, profesor yang juga pengurus NU Kota Malang menandaskan, percepatan teknologi hari ini sudah diisyaratkan Al-Quran pada kisah nabi Sulaiman. Bagaimana Nabi mampu memindah istana Balqis dalam waktu sekejap. Ini seperti teknologi informasi hari ini, dalam waktu sekejap saja kita bisa mendapatkan barang yang kita inginkan tanpa kita mendatangi secara fisik untuk membeli barang tersebut, meskipun jaraknya jauh. Isyarat ini menjadi tuntutan kita bagaimana mengembangkan berbagai perubahan menyangkut pengembangan teori-teori materi dan energi. Selain itu, Al Quran juga memberikan isyarat bahwa hal-hal yang kita anggap ghoib, nyatanya sekarang sudah mulai bisa diindera sehingga kita tidak asing dengannya. Sebagaimana mengutip Muhammad Abduh, bahwa seluruh informasi yang ada dalam al-Quran perlahan-lahan akan terOleh karena itu, para penafsir kitab sudah sewaktunya mensyarati dirinya tidak hanya ahli di agama, tetapi juga disyarati ahli teknologi.

Apalagi hari ini lagi marak perdebatan Islam Nusantara di berbagai media sosial. Jika kita tidak mengetahui secara benar ilmu-ilmu agama, maka kita akan tersesat pada pemahaman yang salah kaprah. Oleh karena itu kemampun untuk mewarnai IT akan melahirkan kemampuan memahami dunia agama yang lagi hiruk pikuk dan mampu mengambil jalan terang terhadap perdebatan yang muncul di dunia maya sehingga tetap bisa berada dalam pemahaman agama yang benar, jelas profesor bidang agama tersebut yang sekaligu pengurus Cabang NU Kota Malang dan Dosen Universitas Merdeka Malang.

Sinergi Mewujudkan Desa Sehat dan Cerdas

0

KampusDesa, Kepohbaru — Rabu (1/8) menjadi hari istimewa bagi 267 mahasiswa Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan. Pasalnya, pada hari itu mereka secara resmi memulai Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2018.

Kecamatan Kepohbaru bukanlah wilayah baru yang dijadikan lokasi KKN. Bahkan bisa dikatakan, Kepohbaru sudah menjadi langganan KKN Unisda. Namun ada yang beda pada KKN edisi tahun ini.

“Setelah KKN akan ada tindak lanjut pendampingan program yang telah dirintis selama KKN. Oleh karena itu, saya berharap program KKN bisa bersinergi dengan program-program desa dan kecamatan” Ujar Iin Masruroh, Rektor Unisda Lamongan dalam sambutannya.

Ia juga berharap, bekal ilmu pengetahuan yang telah diberikan kepada mahasiswa selama menempuh kuliah bisa dimaksimalkan untuk membantu masyarakat. Rektor baru tersebut kemudian memperkenalkan satu per satu DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) untuk wilayah Kepohbaru.

Mahasiswa peserta KKN wilayah Kepohbaru ditempatkan di 15 desa. Setiap desa ditempati 1 kelompok yang terdiri dari 14-15 mahasiswa. Jumlah desa di wilayah Kepohbaru sebanyak 25 desa. Sepuluh desa yang tersisa ditempati mahasiswa PKL (Praktik Kuliah Lapangan) dari Fakultas Keseharan Universitas Airlangga Surabaya.

Meski dihadapkan dengan tantangan di lingkungan baru, antusiasme peserta KKN tidak surut. Semangat mereka kian terlihat ketika Gunardi, selaku Camat Kepohbaru mengungkapkan kondisi daerah dan masyarakatnya. Ia juga menjelaskan bahwa ada program baru di Kecamatan Kepohbaru yang sedang gencar diwujudkan, yaitu Gerakan Desa Sehat dan Cerdas.

Antusiasme Peserta KKN Unisda Lamongan

“Ada program kecamatan yang kami harapkan nanti bisa dibantu adik-adik mahasiswa. Program tersebut adalah Gerakan Desa Sehat dan Cerdas. Adik-adik bisa tanyakan langsung ke masing-masing kepala desa apa saja indikatornya. Dan tolong nanti dibantu” Terang Gunardi dalam sambutannya.

Di sela-sela sambutan, ia memperkenalkan satu per satu kepala desa yang hadir. Riuh tepuk tangan menyambut perkenalan itu.

“Sebenarnya di bulan ini kami sedang dihadapkan pada kondisi alam yang kurang mendukung. Kecamatan Kepohbaru rawan kekurangan air. Semoga adik-adik tetap kerasan dan bisa memberikan kontribusi positif bagi warga desa kami” Ujarnya menutup sambutan.

Kegiatan wajib dengan bobot 4 SKS ini berlangsung selama satu bulan. Dimulai tanggal 1 dan berakhir tanggal 31 Agustus 2018. Rangkain selanjutnya, peserta KKN diwajibkan melaporkan kegiatannya kepada DPL dan kampus.[]

Waspadai Anak dari Narkolema, Perusak Pre-frontal Cortex Otak

0

Pre Frontal cortex merupakan bagian kecil otak yang berada diatas mata kanan manusia, fungsinya  sebagai  pusat pengambilan keputusan, pusat perencanaan sesuatu, mengontrol emosi diri, empati dan pusat moral manusia. Bisa anda bayangkan jika pre-frontal cortex ini rusak, apa yang akan terjadi pada diri anak ?

Setiap anak memiliki hak untuk hidup lebih baik. Pendidikan, pola asuh  dan dukungan yang baik adalah jaminan kesejahteraan seorang anak. Akan tetapi ada variabel lain yang mengancam jaminan tersebut, yaitu penyebaran narkoba dan pornografi secara global.

Pada tahun 2017, Kemenkominfo dalam konferensi pers di Jakarta, menjelaskan bahwa terdapat 30 Juta web pornografi menyusupi dunia maya Indonesia.  Kemenkominfo baru berhasil memblokir 700 ribu web haram tersebut. Tentu kita perlu mengapresiasi langkah yang sudah diambil oleh pemerintah, akan tetapi sangat perlu rasanya bagi orangtua untuk tetap waspada. Sebab Situs yang terblokir masih bisa dibuka dengan kecanggihan pengetahuan IT.

Entah karena alasan kreatifitas, komersial atau apa, banyak tutorial tutorial Unblock Internet, Aplikasi Virtual Private Network, Video Downloader dan akun akun Web porno  terus berkembang membuat NARKOLEMA semakin sulit dibendung dan berulang kali dapat diakses ,tentu ini adalah ancaman yg nyata!

Bukan hal yang unik, para orangtua lebih awas terhadap penyalahgunaan narkoba ketimbang paparan pornografi atau bisa disebut dengan (NARKOLEMA) narkoba lewat mata, Padahal kerusakan pre frontal otak yang diakibatkan oleh pornografi sangat fatal,  lebih parah dari dampak penggunaan narkoba. Seperti ulasan awal, Pre frontal cortex merupakan satu satunya pembeda antara hewan dan manusia.

Ketika individu melihat pornografi, terjadi peningkatan kimia seperti dopamine, serotonin, oxystocin pada otak, hal ini kan menimbulkan ketergantungan aktitifas kimia untuk memunculkan rasa kenikmatan, reaksi tersebut akan memicu rusaknya prefrontal cortex manusia. Sementara dalam tinjauan Psikologis, pornografi akan mengajarkan kepada pecandu NARKOLEMA bahwa kenikmatan tubuh manusia lebih penting daripada perasaan, pemikiran, cinta dan kasih sayang.

Mari kita kenali lebih dalam kemungkinan yang terjadi pada anak. Generasi muda saat ini disebut dengan generasi Milenials, generasi ini memiliki ciri multitalent dan sangat dekat dengan kemajuan teknologi. Sedangkan orangtua saat ini merupakan generasi tahun 60-an atau 70-an dimana pengetahuan tentang media informasi sangatlah minim, disisi lain fokus orangtua dalam mencari nafkah akan mengurangi bahkan meniadakan pengawasan  terhadap batasan batasan anak dalam bermedia sosial dan internet.

Dengan adanya pengawasan pun, orangtua tidak akan pernah tau hal hal apa saja yang diakses oleh anak. Apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dibaca anak melalui gadgetnya. Disinilah kerumitan pencegahan NARKOLEMA, cybersex (internet pornography, adult-chat-room, aplikasi yang mengumbar aurat) merupakan kejahiliyaan teknologi saat ini.

Sesulit apapun tantangannya, kita tetap harus berjuang menyelamatkan generasi muda Indonesia. Mari tingkatkan kasih sayang terhadap anak dengan lebih tegas dalam mendidik anak. Kuatkan pendidikan agama dan libatkan anak dalam kegiatan spiritual. Doronglah anak untuk mengikuti kegiatan positif, latihlah anak dalam memanagement  waktu, berapa menit waktu untuk menggunakan gadget, kapan harus belajar dan kapan harus bermain. Sementara untuk orangtua dan akademisi, perlu keterbukaan diri untuk mempelajari lebih banyak tentang parenting serta isue-isue seputar anak.

Sebagai penutup ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan, “kebanyakan kerusakan anak disesbabkan karena orangtua mereka. Mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar dasar agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyianyiakan anak di masa kecil mereka“ (Tuhfatul Maulud hal 387).

Malang 03/08/18

Bencana Alam: Faktor Pembangunan yang Diabaikan


Upaya penanggulangan bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Semua elemen masyarakat perlu untuk dilibatkan. Literasi bencana, kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana perlu untuk terus dibangun. Sayangnya, upaya yang terakhir  belum diprioritaskan selama ini. Bagaimana sebaiknya?

Julukan negara Indonesia sebagai negara maritim merupakan berkah potensi pembangunan yang investasinya sangat menggiurkan bagi mereka yang berkecimpung di bidang kelautan dan perikanan. Julukan negara agraris juga disematkan bagi Indonesia yang juga berkah bagi potensi pembangunan bidang pertanian karena sebagian besar tanah kita subur dan kaya sumberdaya mineral karena Indonesia terdapat pada jalur gunung api dunia (ring of fire). Namun, jika pernyataan tersebut diputar balik, Indonesia sebagai negara maritim rawan potensi tsunami dan banjir rob. Selain itu, indonesia negara agraris rawan terkena dampak tanah longsor, rawan kebakaran hutan, dan rawan terkena dampak gunung meletus, dan masih banyak lagi jenis bencana alam lainnya. Maka kita sesungguhnya hidup di negara yang memang nyaman untuk dihuni ataukah hidup di negara yang rawan bencana?

Kerugian finansial yang ditimbulkan oleh bencana alam tidaklah kecil, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut kerugian untuk kasus kebakaran hutan selama tahun 2015 sebesar Rp. 210 Triliyun

Kondisi empiris bencana alam saat ini dapat dilihat setidaknya dari bencana alam letusan Gunung Agung di Bali per Juli tahun 2018 dinaikkan dari level siaga ke level awas. Kondisi Gunung Sinabung di Sumatra Utara hingga tahun 2018 masih dalam status awas sejak tahun 2015. Sementara itu peristiwa bencana alam lainnya seperti banjir dan tanah longsong terus terjadi, Seperti di Kabupaten Banyuwangi terjadi banjir bandang bulan Juni tahun 2018. Kejadian tanah longsor terjadi di Pasirpanjang, Salem, Brebes pada bulan Februari tahun 2018.

Bencana ini menyebabkan tujuh orang meninggal dunia dan 13 orang dinyatakan hilang dan sebanyak 245 jiwa harus mengungsi. Menteri sosial mengatakan bahwa terdapat 2.163 bencana dengan 264 korban jiwa pada 2017. Sementara itu, telah ada 946 kali bencana dengan 101 korban hingga awal Mei 2018. Kerugian finansial yang ditimbulkan oleh bencana alam tidaklah kecil, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebut kerugian untuk kasus kebakaran hutan selama tahun 2015 sebesar Rp. 210 Triliyun. Dari data di atas, bencana alam sesungguhnya meninggalkan kerusakan yang bisa menghambat pembangunan secara nasional.

Peristiwa Tsunami besar di Aceh tahun 2004 silam masih menyisakan renungan bagi kita semua. Kita hanya pasrah menghadapi bencana atau kita selalu siap dan tahan dalam mengahadapi bencana karena kita hidup di daerah yang rawan bencana. Usaha ini bukan bermaksud melawan takdir Tuhan karena terdapat banyak persepsi tentang bencana alam sebagai sebuah illahiyah. Namun sebaliknya kita berusaha memperbaiki keadaan (ikhtiar) yang  masih jauh dari peristiwa bencana (pra bencana) sebagai langkah antisipasi ketika bencana sesungguhnya datang. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 telah merubah paradigma penanggulangan bencana di Indonesia yakni dari tahap pasca bencana pada tahap pra bencana sehingga fokus penanggulangan bencana dilakukan pada kegiatan perencanaan, pencegahan, pengurangan resiko bencana, pendidikan, pelatihan, mitigasi, peringatan dini, kesiapsiagaan.

Tahap prabencana tersebut merupakan tahapan dalam manajemen bencana yang meliputi pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Akan tetapi di beberapa kasus ditingkat lokal, penanganan bencana masih bersifat pasca bencana. Fenomena tersebut dapat dilihat pada banjir di Kabupaten Pacitan bulan November Tahun 2017. Perbaikan tanggul jebol akibat banjir baru dilakukan setelah banjir menghancurkan tanggul tersebut. Ini menjadi pertanyaan fundamental kita, mengapa perawatan tanggul penahan banjir tidak dilakukan pada masa pasca banjir atau dilakukan pada masa kemarau?. Ini baru aspek strukturlal, belum lagi aspek non-struktural seperti penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

Banyak program pemerintah daerah terkait sosialisasi tanggap bencana, Namun menyiapkan sistem masyarakat yang tangguh bencana terasa lebih penting mulai dari pendidikan, penyiapan jalur alternatif evakuasi, penyediaan rumah korban bencana alam, sistem mata pencaharian yang pro lingkungan, dan masih banyak lagi

Banyak program pemerintah daerah terkait sosialisasi tanggap bencana, Namun menyiapkan sistem masyarakat yang tangguh bencana terasa lebih penting mulai dari pendidikan, penyiapan jalur alternatif evakuasi, penyediaan rumah korban bencana alam, sistem mata pencaharian yang pro lingkungan, dan masih banyak lagi. Konsekuensi tersebut memerlukan kebijakan pembangunan yang memperhatikan aspek kebencanaan di tingkat pemerintah daerah (pemda). Pemda pun, sebagian besar penanggulangan bencana belum banyak menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah selama 5 tahunan. Akibatnya bencana tidak menjadi roh dalam pembangunan sektor. Apalagi menyangkut peningkatan kapasitas kesiapsiagaan menghadapi bencana yang notabene masuk tahap pra bencana. Indikator ini juga tercermin dari alokasi dana untuk penanggulangan bencana yang rata-rata kurang dari 0,5% dari APBD (sumber:BNPB)

Dalam hal ini, memang terjadi peningkatan pengetahuan dan pemahaman bencana. Tetapi belum menjadi perilaku (attidude) dan praktek atau budaya sadar bencana. Sebagai perbandingan, Amerika memporsikan anggaran 1 US dollar untuk kegiatan pengurangan bencana yang mampu mengurangi kerugian 7 US dollar. Di Eropa, 1 US dollar  mampu mengurangi 10-40 US dollar. Khusus bagi Indonesia, manfaat pengurangan resiko bencana lebih efektif karena mendapat dukungan modal sosial yang besar. Perlu ditekankan bahwa kita menghadapi bencana alam bukan mencegah atau menghindari bencana alam tersebut, namun kita perlu melakukan antisipasi dampak yang ditimbulkan atau mengurangi resiko dampak yang diakibatkan oleh bencana alam.

Integrasi implementasi kebijakan antara Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dan Undang-Undang 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan Pembangunan Nasional menjelaskan bahwa pembangunan menimbulkan bencana jika Pasal 2 dan pasal 3 UU 25/2004 tidak dilaksanakan yakni perencanaan pembanguan dilakukan dengan prinsip berawawasan lingkungan dan dilakukan di semua bidang kehidupan secara terpadu.

Sebagai penutup, integrasi implementasi kebijakan antara Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dan Undang-Undang 25 Tahun 2004 tentang sistem perencanaan Pembangunan Nasional menjelaskan bahwa pembangunan menimbulkan bencana jika Pasal 2 dan pasal 3 UU 25/2004 tidak dilaksanakan yakni perencanaan pembanguan dilakukan dengan prinsip berawawasan lingkungan dan dilakukan di semua bidang kehidupan secara terpadu. Pendekatan dalam manajemen bencana ini memang memerlukan upaya yang komprehensif dari seluruh stakeholder baik pemerintah, masyarakat dan swasta untuk menciptakan masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

Perempuan Antar Umat Beragama Bicara Islam Nusantara

0

Viral media sosial yang pro dan kontra Islam nusantara nampaknya membikin kebingungan para anggota perempuan antarumat beragama di Malang. Kekhawatiran ini disinyalir dari beberapa pertanyaan dan ketakutan, jangan-jangan Islam nusantara ini bagian dari Islam yang garang, atau Islam jenis apa lagi ini? PAUB kemudian memperjelas posisi Islam nusantara di Unisma agar tidak terjadi kekhawatiran dan kesalahpahaman bagi umat di luar Islam.

KampusDesa, Malang–Perempuan Antarumat Beragama menyapa UNISMA dan berbicara Islam Nusantara, padahal mereka tidak seiman. Itulah kenyataannya ternyata PAUB peduli terhadap kebingungan dari umat di luar Islam yang melihat kok ramainya pertentangan di media sosial antara yang menolak dan menggagas Islam nusantara. Nah dari kalangan umat di luar Islam pada akhirnya ingin belajar mendengar sudut pandang Islam nusantara. Di sinilah akhirnya pada Jumat, 3 Agustus 2018, Unisma memfasilitasi forum ini dan sekaligus langsung disambut dengan MoU antara PAUB dan UNISMA dengan tajuk Seminar Perempuan Lintas Agama melalui tema “Memahami Islam Nusantara : memperkokoh sikap inklusivisme perempuan umat beragama dalam bingkai NKRI” di ruang Syaikhona Kholil gedung Utsman Bin Affan.

Kreatifitas Orang Islam

Maskuri, Rektor UNISMA yang sekaligus menjadi narasumber memaparkan sudut pandang mengenai Islam nusantara. Menurutnya, Islam nusantara adalah kreatifitas yang dibutuhkan sebagai ikhtiar membumikan Islam. Seluruh ajarannya juga sama. Suasana Islam nusantara merupakan bagian dari semangat damai untuk kepentingan bangsa ini. Suatu contoh adalah halal bi halal yang digagas oleh KH. Wahab Chasbullah, ketika diminta Soekarno mendamaikam sesama umat Islam yang sedang konflik maka KH. Wahab mengusulkan kegiatan halal bil halal untuk menumbuhkan semangat islah. Inilah kreatifitas yang dimiliki oleh bangsa ini khususnya sebagai bagian dari pengembangan kearifan lokal.

Semenfara itu ada pandangan lain bagi seorang rektor yang mendeklarasikan bahwa Unisma adalah kampus multikulturalisme, terkait dengan tema inklusivisme perempuan dalam bingkai NKRI. Laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama. Al Ahzab ayat 35. Dijelaskan Posisi laki dan perempuan itu sama di hadapan Allah SWT. Al Hujurat 13. Yang membedakan masalah ketaqwaan di sisi Allah. Jadi laki-laki dan perempuan memiloki konstribusi yang sama dalam megembangkan peradaban dan kebudayaan. Jadi laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama. Kecuali hanya wanota yang bisa melakukan maka di sinilah yang membedakan dan tidak bisa mengelak.

Dalam bidang muamalah seperti pendidikan atau yang lainnya maka perempuan juga wajib memiliki peran yang sama.

Sayyidah Yulaikho’ sering menolak permintaan nabi Yusuf. Dia begitu cinta kehidupan dunia. Termasuk menolak hubungan biologis. Maka istri tersebut ditegur Allah. Maka ini tidak bisa digantikan. Maka perempuan harus menuruti laki-laki. Tetapi kalau dalam bidang muamalah seperti pendidikan atau yang lainnya maka perempuan juga wajib memiliki peran yang sama. Oleh karena itu kalau perempuan berperan juga, tidak hanya sebagai konco wingking saja akan menjadikan bangsa ini lebih kokoh. Maka yang terjadi adalah fastabikhul kboirat. Maka tidak ada yang saling salip-menyalip untuk mengunggulkan. Jadi semua memiliki kesempatan yang sama dalam fastabikhul khoirat. Jadi satu sama yang lain harus saling membantu.

Menurut Maskuri, UNISMA berkomitmen sebagai perguruan tinggi yang inklusif. Ini bukan sekedar jargon saja. Semangat ini dibuktikan Unisma sebagai kampus multikulturalisme. Suatu contoh kalau ada baiat wisuda, maka para tokoh agama selain Islam diberi kesempatan untuk membaiat para wisudawan yang agamanya di luar Islam. Begitu uraian Maskuri mengakhiri pembicaraan mengenai Islam nusantara, peran perempuan dan kontribusi Unisma dalam menciptakan perguruan tinggi multikulturalisme.

Islam Nusantara dan Perempuan Lintas Agama

Sajian lain mengenai sudut pandang Islam nusantara dipaparkan oleh Mufidah. Sosok yang turut melahirkan PAUB dan tidak lama lagi akan menyandang Guru Besar bidag sosiologi hukum Islam, ini menguraikan agak rinci mengenai Islam nusantara dan sinerginya dengan peran-peran perempuan antar-umat beragama.

Hasil naskah penandatanganan MoU Unisma – PAUB sebagai wujud pengembangan Perguruan Tinggi Multikulturalisme

Meski ada ritual di luar ibadah inti, maka ibadah itu tidak lantas menggeser atau menggantikan ibadah inti. Islam nusantara menempatkan proses ritual yang tercipta dari berbagai budaya atau tradisi semata-mata hanya menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat secara lunak dengan batasan tidak bertubrukan dengan inti keimanan.

Islam nusantara itu tidak sedang menggantikan ibadah inti Islam. Meski ada ritual di luar ibadah inti, maka ibadah itu tidak lantas menggeser atau menggantikan ibadah inti. Islam nusantara menempatkan proses ritual yang tercipta dari berbagai budaya atau tradisi semata-mata hanya menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat secara lunak dengan batasan tidak bertubrukan dengan inti keimanan.

Mufidah menyampaikan, Islam nusantara memiliki tiga karakteristik, berdasarkan waktunya sebagai islam rahmatan lil alamien, berdassrkan ruangnya menunjukkan keanekaragaman budaya dan secara gerakan lebih mengutamakan semangat bermuamalah (terbuka). Suatu contoh adanya ibadah sosial sebagai bagian yang turut menyertai ibadah utama, seperti slametan, iring-iringan ibadah haji atau sekaten. Ritual tersebut tidak akan menggantikan ibadah inti. Islam nusantara itu tidak sedang menggantikan ibadah inti Islam. Meski ada ritual di luar ibadah inti, maka ibadah itu tidak lantas menggeser atau menggantikan ibadah inti. Islam nusantara menempatkan proses ritual yang tercipta dari berbagai budaya atau tradisi semata-mata hanya menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat secara lunak dengan batasan tidak bertubrukan dengan inti keimanan.

Islam nusantara itu mencerminkan kekuatan agama, kekuatan cinta tanah air yang menyatu kedalam praktik Islam nusantara. Tujuannya tidak lain adalah membangun peradaban Indonesia. Oleh karena itu, meskipun tidak secara eksplisit tetapi secara praktik sudah dilakukan. Selain itu, pada prinsipnya praktik Islam nusantara membangun prinsip kebinekaan, menjaga bangsa ini sebagai kekuatan yang bisa diambil dari semangat praktis Islam nusantara.

Perempuan Antarumat Beragama di Malang memiliki potensi sumberdaya yang dapat menopang peran kebangsaan

Prinsip lain Islam nusantara juga menumbuhkan spirit kemajemukan, mengutamakan budi pekerti, persaudaraan nasional, menjaga kebebasan beragama sesuai dengan ketentuan UU, termasuk tidak mengganggu agama lain dan menghormati perbedaan agama. Islam nusantara terbuka dengan keanekaragaman. Bukan sebuah agama gado-gado, tetapi pelakunya menyadari bahwa kehidupan di nusantara memang dihidupi oleh berbagai suku dan agama dengan konsekuensi pada beranekaragamnya praktik-praktik beragama dan berbudaya. Islam nusantara adalah bukti historis sebagai sebuah hasil kemampuan bersinggungan dengan keanekaragaman tersebut secara produktif bukan reaktif dan penuh kekerasan/keberagamaan yang memaksa.

Beberapa dasar pemahaman Islam nusantara inilah yang juga memberikan peluang dirterimanya PAUB di negeri ini. PAUB kemudian memiliki peran dalam membangun kemajemukan, multikulturalisme dan tokoh agama memiliki peran dalam menciptakan budaya ramah pada perbedaan.

Beberapa dasar pemahaman Islam nusantara inilah yang juga memberikan peluang dirterimanya PAUB di negeri ini. PAUB kemudian memiliki peran dalam membangun kemajemukan, multikulturalisme dan tokoh agama memiliki peran dalam menciptakan budaya ramah pada perbedaan. Untuk itu peran perempuan lintas agama antara lain untuk mengawal nilai agama dan budaya untuk membangun peradaban umat beragama di Nusantara, dan mengimplementasikan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Begitulah kiranya PAUB menguatkan salah satu semangat jargon “Sehati dalam Keberbedaan.”