Sabtu, Mei 9, 2026
Beranda blog Halaman 60

Sahur dan Berbuka Paling Menyedihkan

0

Tidak ada yang bisa diprediksi di dunia ini. Kematian menghampiri tanpa batas waktu dan di luar kendali manusia. Setiap saat bisa menghampiri kita. Ramadan bagi perawat yang bertugas di rumah sakit, kematian selalu menjadi pemandangan keseharian. Persaksian ini mewarnai tugas mereka di sela-sela berbuka. Bahkan mereka rela tidak berbuka demi tugas mereka. Merawat kematian.

Kampusdesa.or.id — Sudah menjadi kewajiban umat Islam melaksanakan ibadah puasa Ramadan di bulan suci yang penuh berkah ini. Dalam riwayat Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun atas lima (rukun); Bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, berpuasa di bulan Ramadan, menunaikan zakat, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari Muslim).

Selain mengamalkan rukun Islam yang ketiga, waktu yang paling perfect untuk menabung amal akhirat, sebab kebaikannya dilipat gandakan semua. Terlepas itu semua, tugas pokok seorang perawat tentunya bernilai kebaikan. Kebayang dong betapa mulianya seorang perawat jika bekerja dengan tulus dan ikhlas?

Pernah saat sahur, menjelang imsak. Saat itu suster yang sedang mengangkat telfon, hanya seorang diri. Suster yang baru bangun dari tidurnya, terbangun lantaran ingin memenuhi kebutuhan eleminasinya; BAK. Terpaksa mengangkat telfon yang terus berdering.

“Hallo, ada yang bisa dibantu?”

“Teh maaf, di ruangan ada alat syringe pump yang nganggur?” Tanya seorang di telfon.

Kemudian, seorang keluarga pasien datang ke Nurse Station dengan air mata yang membanjiri pipinya. Suster itu memberikan isyarat untuk menunggu sebentar.

“Nanti ya, diliat dulu.” Jawab suster pada sang penelfon. Lalu ia letakkan telfon tersebut dan bertanya pada wanita yang sedari tadi menunggu.

“Kenapa Bu?” Tanya suster

“Sus, kayanya Bapak saya udah nggak ada.” Keluhnya sambil terisak

“Hah! Aduh, kebelet. Gimana ni” ujarku dalam hati

Kemudian mantri junior bertanya, “Kenapa?”

“Itu bang, maaf napa, liat dulu. Katanya bapanya udah nggak ada.” Jawab suster sambil berjalan menuju kamar mandi.

“Hei, ini yang telfon minta apa?” Tanyanya lagi

“Anu, dia mau minjem syring pump kalau ada, bentar ya. Kebelet ni.” Jawab suster

Dalam waktu bersamaan. Mantri senior langsung mengampiri pasien yang dimaksud. Kemudian memerintahkan mantri junior untuk membawa alat Elektrokardiogram (EKG), yang mana alat tersebut berguna untuk merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu. Sekaligus menjadi bukti dari dokter untuk memberikan keterangan bahwa pasien tersebut telah meninggal dunia.

Setelah dokter menjelaskan pada keluarga pasien, isak tangis semakin menjadi. Seperti adu volume dengan adzan subuh yang telah memasuki waktu. Suster dan mantri kemudian membungkus jenazah tersebut dan siap diantar ke kamar mayat.

#

“Suster….. Tolong…. Suami saya…. Aaaaaaaaaaaaah.” 

Terdengar teriak histeris dari salah satu kamar dari sebelas kamar yang ada. Kemudian disusul dengan suara adzan magrib berkumandang, menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.

Suster yang baru datang dengan membawa seabrek pesanan untuk makan dan berbuka langsung meletakkan bawaannya di meja. Seorang mantri langsung menelfon dokter jaga, lalu secepat kilat berlari menuju kamar yang telah pecah dengan isak tangis.

Tanpa menunggu perintah, ia langsung mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Namun sayangnya, sebelum dilakukan tindakan. Malaikat maut lebih dulu tiba dan membawa ruhnya, sehingga ia hanya menunggu dokter jaga tiba sambil melakukan pemeriksaan EKG.

Sungguh, derajat perawat di sisi-Nya sangat bernilai. Bagaimana tidak? Meskipun waktu sahur dan berbuka diganggu, sama sekali tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya. Semuanya dikerjakan dengan penerimaan terbaik. Semoga para perawat di dunia mendapatkan kemudahan segala urusannya di dunia dan akhirat, keberkahan dalam hidupnya, selamat dan menginspirasi. Happy Nurse Day!

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Menua Mestinya Semakin Bijaksana, Bukan Mengadu Domba

0

Puasa menjadi tanpa pembelajaran jika menyangkut masalah tidak makan, atau menahan nafsu seks di siang hari. Tapi mulut yang tanpa caci, kelakuan yang mendewasakan, atau memberi manfaat kepada sesama secara nyata adalah modal yang perlu dikumpulkan agar seorang yang beribadah puasa mampu mengoreksi kebijaksanaan dirinya menjadi sosok yang penuh kedewasaan. Ibadah puasa menjadi momen penting karena pendewasaan ini jauh lebih sulit ketimbang menahan makan, nafsu seks, apalagi adudomba.

Kampusdesa.or.id – Shawm (puasa) secara kebahasaan berarti imsak (menjaga/menahan dari). Orang seringkali mengabaikan makna literal dari puasa, namun justru di situlah hakikatnya.

Yang membatalkan puasa memang bisa dikatakan ringan, namun puasa bisa tidak memberi makna apapun jika pelaku puasa tidak sanggup menjaga dirinya.

Menahan mulut dari makan dan minum itu ringan. Yang lebih berat adalah menjaga mulut untuk tidak berkata culas.

Larangan melakukan hubungan seks di siang hari jauh lebih muda untuk dipatuhi, tapi menjaga diri dari perbuatan nista jauh lebih berat dijalani.

Larangan melakukan hubungan seks di siang hari jauh lebih muda untuk dipatuhi, tapi menjaga diri dari perbuatan nista jauh lebih berat dijalani.

Puasa adalah jalan untuk mendewasakan diri. Orang bisa menua bersama usianya, namun tak setiap orang bisa mendewasakan dirinya.

Orang yang dewasa jiwanya tahu bahwa tidak semua hal harus ditelan, pun tidak yang bisa ditelan harus dimakan. Orang tua yang tidak dewasa bisa seperti kanak-kanak, menelan apa saja dan kapan saja.

Orang dewasa tahu menjaga mulutnya tidak hanya tentang urusan makanan, tapi juga tentang omongan. Orang dewasa sadar bahwa lidah bisa lebih tajam dari pedang hingga tahu tak selayaknya mengeluarkan perkataan yang memecah persatuan dan menistakan kemanusiaan.

Orang dewasa tahu bahwa menjaga diri bukan hanya urusan menahan nafsu seks, tapi juga soal kelakuan. Anak-anak biasa ngamuk jika keinginannya tidak dipenuhi, orang dewasa tahu cara mengendalikan diri.

Mengapa kita perlu puasa? Salah satunya karena banyak orang yang tak berhasil mendidik dirinya sehingga usia yang menua tidak dibarengi oleh kedewasaan jiwa.

Yang paling berbahaya adalah orang tua yang tidak dewasa. Dia menuntut untuk diikuti, tapi perkataan dan kelakuannya tidak pantas diteladani.

Puasa menyediakan kesempatan untuk mendewasakan diri agar lisan dan kelakuan kita memberi manfaat kepada sesama. Jika ada orang tua di bulan puasa tidak bisa menjaga mulut dari perkataan yang mengadu domba, menjaga diri dari kelakuan yang memecah persaudaraan, dia sesungguhnya telah melalaikan makna sejati puasa.[]

Ikhwal Memberi Di Daerah Pedesaan

0

Memberi memang tak seharusnya berharap balasan. Namun demikian, banyak orang yang salah dalam memahami arti dari memberi itu sendiri. Memberi, berbagi akan sebagian hal yang kita punya tanpa seharusnya mengharapkan imbalan dari apapun. Pemahaman ini yang kadang disalah artikan bagi sebagian orang hingga mengurangi arti dari ikhwal memberi itu sendiri.

Kampusdesa.or.id–Bagaimana caranya agar memberi itu memang merupakan suatu kegiatan yang menunjukkan tindakan ikhlas dan tampa pamrih? Setidaknya yang terpikir dalam otak saya ada dua. Pertama, kalau memberi sebaiknya ditujukan pada orang yang memang membutuhkan dan dikondisikan bahwa ia tak bisa membalas dengan pemberian yang justru merepotkannya.

Kadang ada orang yang kita beri dan kita bantu, dan mereka sibuk menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengupayakan bagaimana caranya mereka membalas kebaikan kita. Bahkan ketika mereka sebenarnya tak punya sesuatu untuk diberikan, mereka “mengada-ngadakan” sesuatu yang seharusnya tak “diadakan” untuk diberikan pada kita. Pada hal barang yang “diada-adakan” itu sendiri sangat mereka butuhkan.

Kedua, dan ini yang terbaik, memberi tanpa harus membuat bahwa yang diberi tahu siapa yang memberi. Kenapa, yaitu tadi, agar tidak perlu ada “kesibukan” dari si terberi untuk membalas kebaikan si pemberi. Di sini, tidak perlu menunjukkan identitas si pemberi adalah yang terbaik. Pada saat yang sama, si pemberi yang tak perlu dan tak butuh untuk dipandang berjasa oleh si penerima bantuan.

Rekomendasinya adalah: Bantulah orang tanpa harus membuat dirimu diketahui oleh si pemberi. Kenapa ia harus tahu? Agar ia mengucapkan terimakasih dan kamu kemudian merasa berjasa, sehingga jiwa sok pahlawanmu meningkat dan kamu sombong karena itu? Agar kalau ia tahu bahwa kamu yang memberi ia akan memujamu dan ia mudah menuruti permintaanmu?

Memberi, konon merupakan salah satu tindakan yang membuat manusia mendapatkan pahala.

Konsep memberi yang saya angkat dalam tulisan ini saya buat umum saja. Dengan memberi contoh pada konteks tertentu, mudah-mudahan bisa menjelaskan ikhwal memberi yang konon juga merupakan salah satu tindakan yang membuat manusia mendapatkan pahala.

Memberi memang tak seharusnya berharap balasan. Tapi memberi jelas menimbulkan konsekuensi: Yang kita beri merasa terbantu dan umumnya mengucapkan terimakasih. Orang yang dibantu kadang ingin membalas kebaikan kita. Bahkan ada orang yang jika diberi, maka akan balik memberi.

Orang yang memberi akan diberi.

Seperti bulan puasa ini: Kita memasak ayam kampung, dan tetangga sebelah rumah kita kasih 4 potong daging ayam yang kita masak. Besoknya, tetangga tersebut memberi kita setengah kilo ikan laut segar karena baru saja mendapat rejeki. Saudaranya yang menjadi nelayan pantai selatan datang dan membawa ikan berkilo-kilo dan ia membagikan ikan itu pada kita.

Orang yang memberi akan diberi. Yang diberi dan memberi sama-sama mampu. Hingga pemberian hanyalah pertukaran dari barang-barang yang berbeda saja. Esensinya, yang memberi dan diberi sama-sama akan memberi karena mampu memberi.

Ada orang yang jika diberi akan kembali memberi karena malu jika tidak membalas budi. Sampai di sini, yang ada kadang bukan budaya memberi, tapi budaya balas budi. Ini tradisi yang kemudian mendominasi. Di pedesaan sini, daerah pedesaan di Trenggalek, tradisi itu jelas-jelas terjadi. Dalam tradisi “becekan”, misalnya. Saat ada orang yang punya “gawe” (“nduwe gawe”) seperti acara hajatan pernikahan, misalnya. Orang desa akan mengingat apakah orang itu dulu “mbecek” ke kita.

Kalau iya, maka orang yang pernah “dibeceki” ini akan “mbecek” juga. Bahkan ia akan menyiapkan uang ditaruh amplop yang akan disumbangkan sebanyak sumbangan uang yang dulu ia terima dari yang pernah “mbecek” ke rumahnya saat “nduwe gawe”. Uang yang disumbangkan setimpal dengan yang pernah diterima sebelumnya.

Maka di kalangan orangtua, hampir semuanya punya catatan pada buku yang menunjukkan siapa yang pernah “mbecek” saat orang tersebut dulu “nduwe gawe”. Maka buku ini akan dibuka saat musim hajatan. Ketika mengetahui bahwa ada orang satu kampung atau satu desa yang punya hajat, maka ia akan memastikan apakah orang tersebut dulunya pernah mbecek saat ia dulu punya hajat. Dilihat pula berapa sumbangannya.

Saya pernah mendengar dialog antara beberapa orang di musim becekan. Seseorang bertanya pada temannya, “Si Suto nduwe gawe. Sampean gak mbecek?”

Jawaban dari yang ditanya adalah: “Ora sudi mbecek. Wong biyen pas aku mantu ora dibeceki kok. Pada hal yo sik mambu dulur lho aku karo dekne ki!”—Tradisi ini sepertinya mengarah tradisi yang berbahan logika berpikir seperti ini: “Jika kamu memberi aku, aku akan memberimu!”

Memberi karena diktum tradisi.

Kalau kita rasakan, seperti ada semacam aspek ketidakikhlasan dalam memberi. Memberi ya karena harus memberi karena balas budi. Memberi karena diktum tradisi. Bukan karena kesadaran yang muncul secara spontan karena empati yang alamiah.

Di kalangan teman Jomblo, pernah juga saya mendengar omongan seperti ini: “Aku mbecek, ben sok dibeceki!”—Pada konteks ucapan itu secara jelas memuat logika bahwa orang akan menyumbang agar nanti ia juga akan disumbang orang yang diberi sumbangan itu.

Pada hal, orang memberi—jika tujuannya adalah pahala—seharusnya dilakukan secara ikhlas dan tanpa pamrih. Tidak mengharapkan balasan. Kebaikan dilakukan demi kebaikan, bukan demi balasan. Dan hal ini tampaknya sulit. Kita melakukan sesuatu pada suatu objek dengan tujuan agar objek tersebut juga memberikan manfaat pada kita.

Lelaki yang berpunya secara material akan berusaha mendapatkan tubuh seorang perempuan dengan cara “menyogok” si perempuan dengan pemberian-pemberian, perhatian-perhatian, kebaikan-kebaikan, rayuan-rayuan dan janji-janji, iming-iming. Ia memberikan kebaikan dan memberikan barang-barang dengan tujuan untuk menakhlukkan hati dan pikiran perempuan dengan harapan akhir si perempuan akan bisa menuruti apa yang ia mau. Bukan cinta yang menjadi semangat, tapi aspek ingin menguasai dan ingin memanfaatkan. Tujuan akhirnya adalah nafsu si pemberi itu sendiri.

Lucunya, seat saya masih kecil, ada kisah di mana beberapa gadis desa yang terjebak dengan ilusi pemberian dan perhatian dari laki-laki yang menyamar sebagai laki-laki kaya dari kota. Ada laki-laki kota yang datang dengan memakai mobil ketika melamar perempuan desa pada hal itu adalah mobil sewaan. Orangtua si gadis terhipnotis dengan barang mewah yang dibawanya (kendaraan roda empat) dan si gadis juga langsung berkhayal bahwa ia akan dinikahi pria kaya raya dari kota. Waktu berjalan, dan ternyata lelaki itu hanyalah semacam manusia penipu.

Dalam kasus ini. Tindakan pemberian dan perhatian ada kalanya menipu dan meghipnotis. Sedangkan orang yang terlanjur diperhatikan juga akan membalasnya dengan perhatian dan ada kalanya perasaan mau ditaklukkan.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah

Siswa Radikal, Fenomena Survey atau Tamparan Pada Guru

0

Siswa radikal, lihatlah gurunya juga radikal. Apabila banyak lahir generasi yang mudah terpapar radikalisme agama di kalangam remaja, nyatanya survey baru menunjukkan faktor penting pendidikan tidak bisa diabaikan. Sampai kapan kita masih terjebak dalam akrobatik sistem unggul tetapi tidak juga menjadikan anak-anak lebih bijaksana. Tidak perlu direaksi, beranikan perubahan meskipun dianggap gila karena berbeda di sekolah.

kampusdesa.or.id — Yang terhormat Bapak Ibu Guru dan saya sendiri lah, heee. Kita sering bermusyawarah, pelatihan, membicarakan antarkan anak unggul, pinter mapel dan handallah pokoknya, bahkan ribut kapan anak harus menjadi pembaca handal, tetapi atas dasar survey tersebut sepertinya aneka riuh tersebut seperti menunjukkan bahwa proses berpengetahuan anak tidak menjadikan mereka lebih bisa berpikir, bersikap dan berperilaku dalam kebijaksanaan.

Mohon maaf, saya bisa jadi salah. Kiranya Konvensi Pendidikan Indonesia perlulah juga melakukan pembongkaran di lini tematik tentang peluang, kekuatan atau ikhwal pembelajaran beritme kebijaksanaan. Tak sekedar berasyik ria pada keunggulan sistemnya masing-masing, tetapi lebih substansial memresentasikan true story tentang bukti perubahan kecil seputar pencapaian positif anak-anak.

Suatu misal, dari kita telah berhasil mengembangkan Mapel tematik alam dan hasilnya anak bukan punya nilai 90 di Biologinya tetapi anak bisa menceritakan dan menghargai teknik bercocok tanam sebagai hasil dia tercerahkan karena ada keajaiban dalam proses menanam. Berdasar kesadaran itu, anak juga berhasil menunjukkan caranya bersyukur atas kemampuan menanam yang dia hasilkan dari proses belajarnya.

Umpama itu juga bisa dilakukan di hasil belajar bersama komunitas pengusaha tempe. Setelah anak-anak punya pengalaman belajar bikin tempe, apakah dia bisa membuat refleksi melalui menulis, menggambar, bercerita, presentasi atau lainnya tentang apa yang dia dapatkan setelah dia bisa praktik membuat tempe atau bahkan bisa latihan menjual tempe. Misal saja diminta mereka membuat olah pikir melalui aneka produk berpikir seperti cerita, gambar atau olah pikir lainnya tadi yang bisa selaras dengan hidup dia. Dari sini anak dituntun untuk berpikir bukan menjawab soal, apalagi dites benar salah ataupun pilihan ganda saja.

Anak diajak berakrobat dengan aneka kebanggaan prestasi sekolah, toh hasil survey tersebut malah menjadi momok bagi bangsa kita sendiri.

Nah, berefleksi dari hasil survey tersebut, nampaknya kejituan kita berakrobat tentang keunggulan akademik anak, sistem sekolah yang bermutu, sepertinya tidak serta merta melahirkan kebijaksanaan hidup pada anak. Anak diajak berakrobat dengan aneka kebanggaan prestasi sekolah, toh hasil survey tersebut malah menjadi momok bagi bangsa kita sendiri.

Oh.. tepuk jidat. Mungkin survey itu pun menjadi angin lalu karena cara belajar yang berorientasi hidup nyata yang terukur, realistik, dan terjiwai dalam khazanah hidup anak lebih rumit diterapkan di sekolah karena memang tidak bisa dijadikan akrobatik mengangkat prestasi sekolah. Mana bisa dijadikan akrobatik, karena nilai mereka tidak sepadan dengan tuntutan tes skolastik yang menjadi standarisasi sekolah.

Tetapi akrobatik itu benar-benar berdampak pada kerentanan hidup anak di kemudian hari kan. Uji nyali kita sekarang digedor pada tuntutan dua hal, tetap berakrobatik menjadi unggul prestisius atau benar-benar mampu menilai bahwa anak-anak didik bisa bijaksana dalam berilmunya.

Gambar 1. Survey 2018. 29.3 % (774 mahasiswa) mempunyai sikap bahwa dia sepakat membela sampai mati ajaran agama.

Kebetulan saya punya data riil juga, remaja lulusan SMA dan sederajat yang masuk di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sejumlah 774 mahasiswa baru juga setuju lo mengenai membela agama sampai mati. Meski tidak salah, sikap itu dapat menjadi bibit kristalisasi jihadis jika dikembangkan kedalam narasi heroik. Jika tidak diselaraskan kontestualisasi membela agama dengan pemahaman baru, maka sikap itu menjadi potensi lahirnya generasi yang mengikuti secara buta model kematian atas nama agama.

Sikap beragama itu dengan demikian perlu diselaraskan dengan nilai berbangsa kita.

Data berikut juga ditemukan, remaja mahasiswa baru menyetujui memerangi orang kafir sebagai khidmat membela agama (masuk surga). Mereka mengiyakan bahwa memerangi orang kafir adalah puncak masuk surga. Itu artinya jika mereka disodorkan fakta bahwa orang selain Islam disebut kafir, padahal di Indonesia itu sak ambrek orang selain Islam, maka narasi kebencian terhadap umat di luar Islam lebih mudah kan disulutkan. Tinggal membikin bumbunya saja. Sikap beragama itu dengan demikian perlu diselaraskan dengan nilai berbangsa kita. Siapa yang bertugas menyelaraskan sehingga anak-anak bisa memraktikkan kebijaksanaannya dalam bergaul dengan orang yang berbeda agama? Tentunya mengacu pada survey tadi, ya kita semua teramanahi untuk melahirkan anak-anak yang mampu menemukan kebijaksanaan (himah) itu.

Gambar 2. Sejumlah 475 mahasiswa baru sepakat terhadap sikap bahwa memerangi orang kafir adalah jalan puncak masuk surga

Saya di WA oleh guru di group Konvensi Pendidikan Indonesia, dia mengatakan, “pak, saya pernah ditanya anak saya tentang keberadaan temannya yang bukan Islam. Ma, apakah dia juga masuk surga dengan kita ya,” Ibu itu tak bisa berkata,-kata, tetapi berhasil juga menjawabnya,

“Ibu tidak tahu. Yang penting kita berbuat baik. Kalau Allah ridho insyaAllah bisa bersama orang-orang yang kita sayangi.”

Ibu guru itu menambahkan lagi chat WAnya,

“Saya juga menekankan bahwa jihad itu usaha berbuat kebaikan: menolong orang, belajar, dan lain-lain. Ternyata banyak yang tidak bisa membedakan jihad dan qital (membunuh).

“Teman-teman anak saya banyak yang begitu. Makanya sangat hati-hati dalam mengenalkan perbedaan kepada anak-anak.”

Menjadi penting kiranya, Konvensi Pendidikan Indonesia berbicara tematik yang melekat dalam pengalaman riil siswa agar setidaknya mampu mengerim hasrat di seputar pembicaraan keunggulan sistem, menuju hasil-hasil kecil belajar anak-anak kita. Bahkan boleh jadi tidak harus ditempeli hasil prestasi akademik ataupun peringkat akreditasi sekolah dalam berbagai akrobatik lainnya. Atau bahkan misalnya yang sangat sedrhana sekalipun, ada anak yang tidak pinter berhitung tetapi dia bersemangat menghasilkan pelajaran bercocok tanam yang baik. Padahal saat saya juga menjadi tim akreditasi institusi, akorbatik ini super duper penting.

Saya berpendapat, penyuguhan wicara tematik tersebut menjadi lebih manusiawi dan realistik, meskipun jauh dari nilai skolastik (tes prestasi) yang masuk KKM atau tidak. Saya menjadi terngiang cerita Mr. Nafik bagaimana anak dapat berkomunikasi dengan baik pada orang tuanya ketika mereka dilatih membikin presentasi kemajuan belajarnya pada orang tua masing-masing. Bahkan di situ jika dieksplorasi lebih jauh, anak akan bisa kita nilai tentang berapa skor kebijaksanaan dia dalam berhubungan dengan orang tuanya. Ini maksud saya yang saya sebut, kadar belajar yang inilah yang bisa kita bedah di Konvensi Pendidikan berikutnya.

Kisah Mr. Nafik tersebut menjadi inspirasi yang hebat dengan memaparkan nilai materi pelajaran berapa skornya dan sajian juga nilai pembelajaran bijaksana anak ketika berproses membuat laporan hasil belajarnya pada orang tua. Jadi, penekanannya bukan hanya pada nilai pelajaran tetapi juga nilai mengomunikasikan dengan orang tua itu berapa skornya. Tetapi tidak jarang akhirnya semua terjebak kembali pada akademiknya saja.

Diakui atau tidak kita sebagai guru memang ditohok seketika padahal kita sudah berjibaku dengan aneka usaha.

Anak menjadi bersikap eksklusif dalam beragama berdasarkan hasil survey tersebut terpaut erat oleh cara guru bersikap dan mengajarkan cara beragamanya, bahkan sumber bacaannya pun lolos dari filter gurunya. Survey tersebut memiliki kepastian tambahan dari hasil survey saya, bahwa 69 % mahasiswa baru berpikir tekstual dan percaya mutlak pada sudut pandang guru. Itu artinya kerangka berpikir kritis dibutuhkan bagi remaja agar tidak terpapar radikalisme. Diakui atau tidak kita sebagai guru memang ditohok seketika padahal kita sudah berjibaku dengan aneka usaha. Saya sendiri juga seorang pengajar, tentu merasa dikuliti profesi saya.

Survey 2018. 69 % mahasiswa baru berpikir tekstual dan percaya mutlak pada sudut pandang guru

Untunglah saya ada di bagian juru layan Konvensi Pendidikan Indonesia ini, yang kejumudan saya bisa mendapatkan ruang curhat. Curhatan ini lebih bebas saya sampaikan karena di sini katanya banyak orang gilanya, kata Bopo Kentar dan kawan lain sekaligus bisa saya sebut guru saya. Jika ini tidak baik berarti anggap saja saya gila. Hi…….

Literasi Meningkatkan Kualitas Hidup

0

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melaksanakan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional di Hotel Grand Cempaka Putih, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kegiatan ini diikuti oleh 120 orang dari kalangan guru, pegiat literasi, dan penyuluh bahasa dari 34 provinsi di Indonesia. Untuk mensukseskan GLN (Gerakan Literasi Nasional), Kemendikbud telah mengkreasikan beberapa program literasi.

KampusDesa–Jakarta, Senin (08/04) – “Gerakan Literasi Nasional bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan, mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup,” papar Prof. Dadang Sunendar M. Hum. saat menyampaikan presentasi “Upaya Pembinaan Bahasa melalui Pembudayaan Literasi Baca-Tulis dan Bernalar Tingkat Tinggi” pada kegiatan Bimbingan Teknis Instruktur Literasi Baca-Tulis Tingkat Nasional di Hotel Grand Cempaka Putih, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Kegiatan yang diikuti oleh 120 orang dari kalangan guru, pegiat literasi, dan penyuluh bahasa dari 34 provinsi di Indonesia dan berlangsung pada tanggal 8-14 April 2019 ini merupakan tahap awal dari rangkaian kegiatan bimbingan teknis literasi baca-tulis yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pembicara berfoto dengan dokter literasi.

Mengapa perlu ada Bimtek Pembinaan Kebahasaan? Prof. Dadang Sunendar menjelaskan bahwa hasil penelitian tentang Pemahaman Guru terhadap Jenis Teks terhadap 1467 guru yang terpilih secara acak sungguh mencengangkan. Riset itu mengungkapkan bahwa masih dijumpai guru yang tidak paham akan jenis teks deskripsi (46%), eksplanasi (48%), eksposisi (42%), narasi (48%), prosedural (43%), dan laporan (51%).

Rintisan dan pengenalan, penyelasaran dan pelaksanaan, perluasan dan penguatan, pemantauan dan evaluasi, serta pengembangan merupakan tahapan dari peta jalan GLN.

Prof. Dadang Sunendar juga memaparkan peta jalan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang terdiri dari lima tahapan, yakni: rintisan dan pengenalan, penyelasaran dan pelaksanaan, perluasan dan penguatan, pemantauan dan evaluasi, serta pengembangan. Program yang memiliki prinsip berkesinambungan, terintegrasi, dan melibatkan semua pemangku kepentingan ini dimaksudkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berorientasi pada penumbuhan budi pekerti.

Pembicara berswafoto dengan peserta.

Untuk mensukseskan GLN, Kemendikbud telah mengkreasikan beberapa program literasi. Misalnya: Gerakan Literasi Keluarga, Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Masyarakat, Gerakan Literasi Budaya, Gerakan Literasi Baca-Tulis, serta Satu Guru Satu Buku. Semua program literasi tersebut memerlukan literasi dasar sebagai pondasi dasar keterampilan abad ke-21. Literasi dasar tersebut berupa: literasi baca-tulis, literasi budaya dan kewargaan, literasi digital, literasi finansial, literasi sains, dan literasi numerasi.

“Ada beberapa strategi GLN,” Jelas Prof. Dadang Sunendar. Yakni penguatan kapasitas fasilitator, peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu, perluasan akses terhadap sumber belajar dan cakupan peserta belajar, peningkatan pelibatan publik, serta penguatan tata kelola. Adapun capaian GLN, antara lain: 546 bahan bacaan literasi, 264 kegiatan literasi, Gerakan Indonesia Membaca di 64 Kabupaten/Kota, terbentuknya 83 Kampung Literasi, penguatan 420 Taman Bacaan Masyarakat, perjanjian kerjasama (MoU) antara Kemendikbud dan PT Pos Indonesia tentang Pemanfaatan layanan pos dalam pengembangan pendidikan dan kebudayaan, serta perjanjian kerjasama (PKS) antara Badan Bahasa dan PT Pos Indonesia tentang program pengiriman buku dalam pelaksanaan GLN.

Saat Telekonferens dengan wartawan.

Badan Bahasa juga telah mengadakan GLN. Beberapa di antaranya: pengadaan bahan bacaan, Bimtek penggiat literasi, festival literasi, penyediaan 115 bahan bacaan untuk wilayah 3T, KBBI V, pengadaan bahan ajar dan penunjang BIPA, serta laboratorium kebhinekaan.

Kegiatan di hari pertama ini berlangsung lancar, tertib, dan interaktif. “Ngegas poll,” demikian kesan Yeti Islamawati, salah satu peserta yang juga guru Mts Negeri 9 Bantul.

Editor: Haniffa Aulia

Guru Berprestasi, Seberapa Penting dalam Kehidupan Sekolah dan Masyarakat

0

Bukan tentang bagaimana sebuah penghargaan menjadi kebanggan dalam diri kita seorang diri. Satu hal yang lebih penting adalah sudahkah diri ini mempunyai kontribusi yang cukup dalam kehidupan sekolah dan masyarakat? Apalah arti sebuah penghargaan jika hanya akan mengikis perilaku mulia yang sebelumnya telah tertanam dengan baik.

KampusDesa–Baru saja beberapa hari lalu saya menulis status tentang guru berprestasi. Pagi kemarin saat rehat bimtek program, sekitar jam 10-an di depan aula dinas pendidikan saya bertemu dengan seorang ibu cantik berusia kira-kira 5 tahun di atas usia saya.  Ia mengendarai Scoopy, menambah anggun penampilannya. Ia seperti kebingungan, berhenti di depan kami berjarak kurang lebih 5 meter. Bertanya kepada kami begini;

“Tempat seleksi guru berprestasi apakah di aula ini? “

Kebetulan ada bapak kepala seksi di antara kami,  beliau bertanya balik.

“Apakah Ibu seorang guru?” Ibu tersebut rupanya tidak dengar karena mungkin mesin motornya tidak dimatikan dan helm tidak dilepas. Bapak kasi bertanya lagi dengan pertanyaan serupa,  baru kemudian ibu cantik tersebut menjawab;

“Saya kepala sekolah.” Setelah itu si ibu cantik ini berlalu dari hadapan kami setelah salah satu dari kami memberi info bahwa aula yang ia tanyakan tidak ada kegiatan  seleksi guru berprestasi. Berlalu, tanpa pamit, tanpa salam, tanpa ucapan terima kasih. Pak kepala seksi berkata begini;

“Lha iyo,  kepala sekolah e koyok ngunu,  lha yok opo guru-gurune.” (lha iya,  kepala sekolahnya seperti itu,  bagaimana dengan guru-gurunya).

Saya paham ujaran bapak kasi tersebut. Ibu cantik juga kepala sekolah itu memang aneh, ya aneh. Berhenti di hadapan kami, dan bertanya di atas motornya kalau kami berkomunikasi perlu menaikkan volume suara karena jarak kami dengannya kurang lebih 5 meter dan bla bla bla seperti yang saya deskripsikan di atas.

Sisi lain saya memaklumi,  mungkin ibu tadi terburu-buru karena terlambat atau karena baru pertama kali ke dinas pendidikan atau karena hatinya sedang dag dig der mau menghadapi penilaian guru berprestasi. Entahlah,  saya cuma ingin berprasangka baik disamping rasa gemes dengan sikapnya yang seperti itu.

Ikut seleksi dan kemudian menjadi guru berprestasi itu tidak mudah, dan mungkin tidak semua guru mendapatkan kesempatan mengikutinya.

Saya paham, ikut seleksi dan kemudian menjadi guru berprestasi itu tidak mudah, dan mungkin tidak semua guru mendapatkan kesempatan mengikutinya. Hanya guru yang mampu secara profesional dan keilmuan mumpuni serta berkepribadian yang baik sepertinya yang bisa terlibat dalam kompetisi bergengsi di dunia pendidikan ini.

Saya juga pernah terlibat dalam event seleksi ini. Tahun 2003 kala itu, kepala sekolah tempat saya mengajar menunjuk saya mewakili madrasah mengikuti seleksi guru berprestasi. Saya baru 2 tahun mengajar, sulung saya usia 1 tahun. Untuk menghadapi seleksi ini, seperti kompetisi di dunia pendidikan lainnya, saya membuat karya tulis. Saya masih ingat untuk mengetik di komputer sekolah saya dibantu siswa saya. Kami kerjakan pada malam hari, sambil saya menggedong si sulung saya mendikte kalimat yang tampil di layar monitor. Tugas membuat karya tulis selesai, lalu dikirim madrasah ke panitia seleksi.

Tibalah saat penjurian, dan saya satu-satunya guru madrasah aliyah yang berlomba dengan sekian guru SMA Negeri, 1 guru RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan beberapa SMA swasta. Tak gentar, modal percaya diri dengan persiapan semaksimal yang saya bisa lakukan, saya presentasikan karya saya. Tentu saja karya yang berkategori PTK (Penelitian Tindakan Kelas).  Presentasi selesai, saya tidak gentar dengan peserta lain yang hampir semuanya boleh dikatakan teman-teman guru saya SMA dulu, ya mereka  guru senior semua. Saya juga tidak habis pikir, kok bisa kepala madrasah menunjuk saya ikut seleksi ini di usia mengajar saya yang terbilang junior. Baiklah itu semua sudah berlalu. Saya sedikit ceritakan, seingat saya (maaf saya menyajikan data info dengan “seingat saya”, karena tidak ada yang mengesankan dari kompetisi itu, jadi tidak heran kalo saya tidak mengingatnya dengan baik) setelah presentasi ada pula penilaian lanjutan.

Panitia seleksi akan datang ke rumah para calon guru berprestasi ini. Saya tidak didatangi entahlah mungkin waktu itu hanya para beberapa nominator saja yang didatangi rumahnya untuk dilakukan penilaian. Jika ingat waktu itu pada masa sekarang ini, rasanya saya lega tidak katut (ikut) dikunjungi oleh dewan juri. Saya masih numpang di rumah kakak ipar dan mertua, dan penilaiannya saya bayangkan cukup melelahkan. Saya lupa poin apa saja yang dinilai ketika kunjungan rumah itu. Rasanya derita akan lama berakhir.  Ini bukan apologi saya karena saya gagal, tapi pikiran malas saya berkata;

“Lha kapan saya mengajar dengan tenang kalau saya sibuk memenuhi tugas seleksi guru ini,  belum lagi si sulung masih baby,  belum lagi saya masih numpang tempat tinggal…” Bla bla dalam pikiran saya membuat saya tidak kecewa dengan kegagalan saya itu.

Jika diurut dari semenjak kecil hingga setua ini, urusan seleksi akdemik saya pernah melaluinya, notok pol pada tingkat propinsi tahun 2015 dalam seleksi PKBM berprestasi dan mendapatkan juara harapan 2. Apresiasi bidang pendidikan nonformal tingkat propinsi juara 3 dalam seleksi tutor Paket B berprestasi tahun 2008. Saat SD juara 3 tingkat kabupaten lomba cerdas cermat P4, di SMP juga dengan 2 teman saya lainnya mewakili lomba yang sama tingkat kabupaten, hanya sebagai peserta.

Apakah teman-teman saya terinspirasi dengan gelar guru berprestasi ini?

Jika diruntut semua seleksi yang pernah saya lalui itu, saat ini,  saya berpikir;

“Apa dampaknya bagi saya dan orang lain?”  Dapat piala, dapat piagam, dapat pujian, dapat kekaguman, dapat reputasi baik; memang iya. Lalu apakah juga berdampak pada lainnya?  Apakah sudah mengubah perilaku dan pribadi saya lebih baik? Tidak hanya dibuktikan dengan secarik surat keterangan penyandang gelar kehormatan guru atau insan terbaik di lingkungan kerja atau sekolahnya? Apakah saya sudah mampu menjadi dan bekerja lebih baik setelah ikut seleksi itu? Apakah teman-teman saya terinspirasi dengan gelar guru berprestasi ini?  Apakah tempat kerja saya semakin dipercaya masyarakat, apakah peserta didik yang saya menjadi gurunya di kelas merasakan dampaknya sehingga mereka sukses mendirikan panggung kesuksesan yang mengundang decak kagum orang lain?  Apakah peserta didik yang sukses tersebut juga mampu memotivasi dan menginspirasi temannya agar sukses seperti dirinya? Begitulah yang ada dalam pikiran saya kini.

Tentang guru berprestasi, saya tergerak menulis catatan ini karena berseliweran di beranda saya postingan sahabat-sahabat hebat saya dalam mengikuti seleksi guru berprestasi ini.

Tentang guru berprestasi, saya tergerak menulis catatan ini karena berseliweran di beranda saya postingan sahabat-sahabat hebat saya dalam mengikuti seleksi guru berprestasi ini. Dari postingannya saya lihat, ia sukses dalam menulis buku, pemenang lomba apresiasi GTK PAUD Dikmas, jadi saya simpulkan sepertinya event bergengsi apapun ia ikut. Melihat hal itu, pikiran nakal saya bertanya begini;

“Kalau ikut lomba terus dan terus kapan muridnya ditunggui di kelas? Kapan kegiatan PKBM-nya di-monitoring dengan ajeg?”

Bukannya untuk mengikuti seleksi guru berprestasi ini juga ada Bimtek, dan bimbingan lainnya yang tidak sekali dua kali diikuti. Belum lagi urusan rumah tangga. Kalau ikut bimtek lalu di karantina, kapan bisa senda gurau sore hari dengan anak dan suami atau istri, kapan bisa malam Jum’atan dengan suami atau istri (by accident karena tadi malam, malam Jum’at).

Ini adalah paparan jail saya tentang Gupres (Guru berprestasi)  dari status sosmed saya tanggal 27 Maret 2019 yang lalu.

“Menurut Anda, guru berprestasi itu seperti apa?  Sibuk mengukir sukses di luar sekolah atau sibuk dengan muridnya untuk membuatkan panggung kesuksesan muridnya?

Kalau keduanya dipilih,  apa mungkin team juri all day menilai aktivitas mengajar guru”.

Editor: Haniffa Aulia  

Munggahan Di Rumah Sakit

0

Tidak banyak orang yang tahu bagaimana suka dukanya menjadi bagian dari tenaga kesehatan. Saat itu kami tengah mengadakan acara Munggahan di Rumah Sakit, namun lagi-lagi ada saja yang menggelitik hati kami. Salah satu pasien yang rewel membuat kami geleng-geleng kepala, bahkan saat dia memilih sendiri bagian mana yang harus diinfus.

KampusDesa–Salah satu keluarga pasien datang ke tempat Nurse Station. Berharap ada perawat yang melihat dirinya dan mengakui keberadaanya. Harapannya sesuai, perawat yang berada tepat di depannya bertanya, “Ada apa Bu?”

“Suami saya kan udah boleh pulang ya, Sus. Boleh dilepas infusannya?”

“Oh ya.. Sebentar ya, tunggu Administrasinya, kalau semua berkas sudah rapi, baru kami lepas ya Bu.” Jelas perawat dengan senyum manisnya.

Ibu itu berlalu meninggalkan tempat berdirinya. Tak lama perawat lelaki mengajak Suster untuk masuk ke dalam, karena makanan telah siap di santap.

“Kak, makan yuk. Ayo cepat.” Ajaknya

“Ayo bro, pasien sudah diamankan.”

Keduanya saling membalas senyum. Perawat lelaki masuk ke dalam kamar yang di dalamnya berisi kepala ruang inap, rekan-rekan teman sejawat dan sebagian makanan yang berada di tengah-tengah kumpulan orang. Sedangkan suster menuju wastafel untuk mencuci tangan sebelum makan. Setelah selesai, baru beberapa langkah meninggalkan wastafel, salah satu keluarga pasien kembali datang dan membutuhkan bantuan.

“Sus, infusannya habis.” Kata lelaki muda dengan wajah datar

“Matiin saja dulu ya, nanti kami ganti, lagi pada mau makan soalnya.”

Kemudian lelaki itu berlalu dengan wajah datarnya.

kebersamaan ketika di Rumah Sakit

Tatkala sang suster baru menempelkan pantatnya ke lantai, lagi-lagi seorang keluarga pasien datang.

“Ada apa, Bu?”

“Eh nggak jadi, ya udah susternya lagi pada makan dulu, gapapa, maaf ya.”

###

“Wah, keluarga pasien siapa tuh? Coba kalau semua pasien kaya begitu.”

Suasana pecah dengan gemuruh tawa yang saling susul menyusul.

“Iya yah bener, ih aku mah masih kesel bae tau sama pasien yang cuci darah tuh.”

“Oh yang bawel banget ya?”

“Iya, apa coba. Kan aku tuh mau nginfus ya, eh masa dia bilang begini, sus di sini aja ya.

Aku jawab iya, sebentar ya Bu, kita cari dulu pembuluh darahnya. Nah pas aku cari kan nggak ada, akhirnya aku dari di tempat lain.

Eh dia ngomong lagi begini, sus di sini aja, kalau di tempat lain mah sakit. Okeh dua kali ya, kataku dalem ati, sabar.. sabar..

Karena aku diemin ya, eh dia ngomong lagi bae, katanya gini, sus di sini ni, jangan di situ. Udah hilang tuh kesabaranku, aku langsung jawab aja begini, ya udah kalau begitu ibu aja yang nginfus, ni alatnya, sok atuh infus sendiri ya, kan ibu yang lebih pinter.

Eh dia narik-narik tanganku, ih suster kok marah sih, iya deh iya di infus di mana aja deh, terserah suster.

Akhirnya aku bilang begini, ya udah atuh ibunya diem jangan bawel, udah tenang aja, saya paham ibu panik. Tapi kalau begini caranya membuat kerjaan kami nggak selesai-selesai.

Terus katanya, eh iya deh sus iya, maaf ya”

Semuanya tertawa, entah menertawakan orang yang membawakan ceritanya atau pada ceritanya. Namun, seorang perawat lelaki langsung memimpin doa sebelum makan.

Editor: Haniffa Aulia

Ragam Kebahagiaan Orang Desa Saat Bulan Ramadhan Tiba

0

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan. Setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk mendapatkan kemuliaan itu. Selain itu, banyak hal yang bisa dilakukan secara bersama-sama di bulan ini, baik bersama dengan keluarga maupun bersama dengan warga sekitar. Kebahagiaan dalam kebersamaan di bulan mulia ini tidak akan pernah sama dengan kebahagiaan di bulan-bulan lainnya.

KampusDesa–Dunia memang berubah, termasuk di desa-desa. Di daerah saya, desa-desa di Kabupaten Trenggalek, ada yang beberapa tahun ini berubah. Misalnya, tradisi membangunkan orang untuk sahur tidak lagi pakai Rondha Tethek, gamelan, dan alat tradisional. Sekarang memakai alat musik modern, musik dangdut koplo, atau musik dangdut rancak ala musik diskotik. Bahkan di beberapa kecamatan, anak-anak muda membawa musik di jalan-jalan yang diputar keras-keras, antara satu kumpulan pemuda dengan lainnya jor-joran memperdengarkan suara. Hingga tiap grup akan membawa ‘sound system’ yang volume suaranya amat tinggi.

Saya secara pribadi menganggap tradisi membangunkan orang untuk sahur sudah tidak relevan. Pertama, sudah ada alat untuk membangunkan, waker yang tiap orang punya karena ada di HP-nya. Kedua, saya sudah tidak lagi jomblo, sudah ada yang membangunkan. Hehe.

Orang kota punya caranya sendiri memaknai hidup dan mendapatkan kebahagiaan. Demikian orang desa.

Tentunya para anggota club ronda dengan musik keras yang sebagian memekakan telinga itu tidak semuanya jomblo. Bahkan ada bapak-bapak yang juga mengajak anaknya. Melalui tulisan ini, sesungguhnya saya juga tidak dalam kapasitas melarang atau melawan eksistensi mereka karena mereka sedang mencari kebahagiaan. Sebab tiap orang berhak untuk melakukan apapun, terutama dalam rangka mencari kebahagiaan. Orang kota punya caranya sendiri memaknai hidup dan mendapatkan kebahagiaan. Demikian orang desa.

Saya benar-benar memahami bahwa cara mencari kebahagiaan itu bukan hanya orgasme, ‘mangan enak ngombe legi’, atau be’ol dan pipis dengan lancar. Apalagi ketika ini adalah bulan di mana kenikmatan mulut, kenikmatan dubur, dan kenikmatan seksual agak dibatasi dan diatur waktunya. Maka, cara mencari kebahagian bisa dilakukan dengan cara lain. Bukan hanya melakukan ronda yang (katanya) untuk membangunkan orang sahur, tapi mungkin juga ‘nyumet’ mercon dan meneriakkan kata “AMIIIIIIIN” keras-keras di penghujung bacaan surat Al Fatihah.

Mushola adalah rumah lain di bulan puasa.

Juga teriakan dan tawa keras anak-anak di mushola waktu datangnya sholat Tarawih yang sesekali diselingi tangisan keras pula saat mereka bergumul dengan anak lain dan kemudian bertengkar. Atau diselingi tangisan anak balita di sebelah ibunya yang sembahyang Tarawih. Anak kecil itu harus diajak karena seluruh keluarga ingin beribadah di mushola, tidak ada yang menjaga anak itu di rumah. Mushola adalah rumah lain di bulan puasa. Ia juga merupakan tempat mendapatkan kebahagiaan dan menggapai makna di bulan puasa.

Sebagai manusia yang tinggal di daerah yang bahkan paling ‘ndesa’, saya pernah melarang anak saya ikut ke mushola karena saya sempat beranggapan bahwa ia akan bikin onar bersama teman-temannya. Tapi larangan ini membuat anak saya menangis. Salah satu alasannya adalah ingin melihat teman lain “nyumet” kembang api, mercon, bahkan ada kalanya “ngumbulne balon”. Mushola atau ‘langgar’ di desa kami sungguh menjadi tempat mendapatkan kebahagiaan.

Anak-anak di bawah sepuluh tahun saja, di mushola tempat kami beribadah adalah yang paling banyak melakukan tindakan memanggil orang sembahyang, Adzan. Mereka berebut untuk melakukannya, mereka bahagia bisa melakukannya. Meskipun untuk ibadah sembahyang Subuh berjamaah, hampir semua anak-anak absen dalam kegiatan itu. Puncak kehadiran anak-anak adalah waktu datannya sholat Isya’ dan berlanjut shalat tarawih.

Ramadhan adalah bulan penuh kebahagiaan.

Ini adalah bulan penuh kebahagiaan. Meski menurut saya ada beberapa tradisi yang memang tak lagi relevan menurut saya pribadi, tapi saya sadar bahwa bulan ini bukan milik saya saja. Ini adalah milik anak saya, istri saya, tetangga saya, dan banyak orang yang selalu mencari kebahagiaan dengan beradaptasi dengan situasi-situasi termasuk bulan puasa serta perayaan-perayaan. Bahkan seringkali ketika saya malas ke mushola dan berniat tidak ikut berjamaah tarawih, justru anak saya yang mengajak dan merayu saya. Maka, biarkanlah mushola dan bulan ramadhan juga membahagiakan bagi anak-anak.

Editor: Haniffa Aulia