Sabtu, Mei 2, 2026
Beranda blog Halaman 106

Belajar Bahasa Inggris Tak Serumit di Sekolah

0

Sudah berapa tahun Anda belajar bahasa Inggris. Mana jaminannya, Mahir bahasa Inggris dari dalam kelas atau kemahiran Anda justru ketika mengambil kursus mandiri di luar kelas. Sejak SMP sampai dengan Perguruan Tinggi, saya tidak luput dari yang namanya diajari mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tingkatan yang beragam sesuai dengan jenjang pendidikan.

Charlotte Blackburn. Perempuan Amerika yang menjadi fasilitator Garuda Rising

He, he, he, barangkali saya yang terlalu beralasan karena saking bencinya atau malasnya ketika belajar bahasa Inggris. Bahasa Inggris boleh dikata satu dari pelajaran yang dihindari oleh banyak siswa. Tapi coba ingat-ingat teman sekelas dulu. Mereka bisa terlihat menguasai bahasa Inggris karena ada kegiatan tambahan, seperti kursus Bahasa Inggris, berbeda dengan yang mengandalkan pelajaran di kelas. Maaf jika observasi saya terlalu membenarkan saya yang tidak piawai bahasa Inggris. Padahal sampai perguruan tinggi pun saya selalu diajari bahasa Inggris.

Belajar di Sekolah Selalu Kehilangan Konteksnya
Saya coba contohkan pelajaran bahasa Indonesia. Sepertinya juga sama kasusnya. Kita belajar bahasa Indonesia sejak dari SD sampai perguruan tinggi. Lalu siapa yang menjadi penulis ? Balik lagi ke hanya orang yang memang berbakat menulis yang akhirnya menjadi penulis ternama. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai usia memasuki jenjang perguruan tinggi yang menuntut kemampuan menulis, masih laris manis pelatihan-pelatihan menulis. Beberapa mahasiswa, banyak lo…, yang masih saja mengatakan selalu sulit memulai menulis. Sungguh anehkan, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita ?

Saya punya kisah menarik. Anak saya dulunya suka menulis dan tajam kata-kata puitisnya. Saat diminta tugas oleh gurunya membaca puisi dan lomba, justru disuruh mencari puisi-puisi yang ditulis orang lain. Ijin ingin menulis sendiri tidak diterima. Lagi-lagi saya berapologi, kesempatan menulis anak saya surut seiring mengerjakan tugas sekolah yang semakin menghimpit, termasuk tugas bahasa Indonesia juga.

Berdasarkan contoh apologetis tersebut, ada yang perlu diluruskan ketika sekolah mengajarkan bahasa. Pelajaran yang diberikan hari ini sepertinya tidak tersambung dengan dunia nyata. Belajar angin tetapi tidak pernah bersimulasi dengan angin sebenarnya, tapi disuruh menghapal atau latihan menjawab soal setelah diberi informasi dari bacaan tentang angin.

Pelajaran seperti itu tidak pernah membangun kembali pemahaman terhadap ilmu pengetahuan. Padahal ilmu pengetahuan bisa hidup dan dikuasai ketika anak mampu membentuk pengetahuan baru dari hasil olah cipta.

Begitu juga dengan bahasa Inggris yang telah kehilangan konteks belajarnya. Pelajaran bahasa akhirnya bertujuan mampu menjawab soal dan penguasaan struktur dan gramatikal. Bahkan penguasaan tenses menjadi ujung tombak kualifikasi kemahiran bahasa Inggris. Cara-cara ini yang salah kaprah pooollll meskipun memang berguna. Namun, kemampuan itu merupakan pencapauan tertinggi yang melampaui kebutuhan praktis dan langsung dalam berbahasa. Ya, bagi kalangan akademisi kemampuan tersebut memang diperlukan ketika usaha yang bersifat praktis terpenuhi.

Berbahasa dan Budaya Komuniatif
Apa kebutuhan praktis dalam berbahasa. Ya, kebutuhan praktis berbahasa adalah berkomunikasi. Titik pangkalnya tidak lain adalah komunikasi lisan. Seseorang mampu berkomunikasi dengan orang lain. Yang paling utama begitu. Sesederhana itukah ? Ya. Coba kita lihat yang paling sederhana cara berbahasa dalam bahasa ibu. Kemampuan berbahasa yang paling utama adalah kemampuan lisan. Kemampuan bertutur dan memahami apa yang ditururkan bukan kemampuan membangun struktur bahasa yang ketat dan tertib gramatikal.

So, berbahasa tidak lain ya membudayakan komunikasi. Budaya yang paling awal adalah budaya tutur. Sama seperti kita berbahasa ibu. Kita selalu diajari bertutur, berinteraksi dengan bahasa tutur dan berkomunikasi semakin baik dengan bahasa tutur. Saat kita mendengarkan cerita dari ibu atau guru, kita sebenarnya juga sedang belajar bahasa. Kita diajari melafalkan ayah, ibu, bapak, maem, dengan penuh belepotan pun dalam rangka untuk menguasai lafal-lafal bahasa.

Bahkan tidak pernah kita menghafalkan kosa-kata (vocabulary), toh akhirnya kita mampu menggunakan bahasa ibu dengan baik. Kepentingan praktis yang dapat dikenali dan merupakan kebutuhan langsung pada bahasa Inggris nampaknya akan menentukan kemampuan menguasai bahasa Inggris.

Kemampuan berbahasa yang paling utama dan sebaiknya didahulukan ya kemampuan berkomunikasi. Bukan tentang gramatikalnya. Dackhin, seorang Selandia Baru mengatakan, orang-orang native tidak pernah ribut dengan aneka tensis. Charlotte, perempuan english empowering berkebangsaan Amerika juga berkata, “berbicaralah tanpa takut salah atau tidak sesuai dengan struktur bahasa Inggris yang baik, karena seorang native akan memakluminya dan berusaha menangkap apa yang kamu katakan.” Seorang native tidak akan mengevaluasi tentang gramatikalmu, tetapi lebih ingin menangkap pemahaman terhadap apa yang kamu ucapkan.

Keduanya mengibaratkan, saat dia berbahasa Indonesia yang agak belepotan, apakah kita sebagai orang Indonesia akan mengoreksi SPOKnya, ataupun teknik mereka berbicara. Tidak kan. Kita justru berusaha menangkap maksud bicaranya meskipun menurut kita apa yang diucapkan agak aneh, kurang pas dan spelling yang beda. Kita berusaha memahaminya dan bisa paham. Jadi begitulah belajar berbahasa. Belajar berbahasa Inggris yang berbicaralah sebagai praktik komunikasi.

Jadi, saya ingin berkisah di akhir tulisan ini. Saya di tahun terakhir ini belajar bahasa Inggris ke Charlotte Blackburn. Tidak banyak waktu pertemuan. Lebih banyak waktu yang saya habiskan di kelas-kelas zaman dulu. Kira-kira tidak sampai 12 kali pertemuan.

Hasilnya apa ? Ya…., saya telah berani berbicara bahasa Inggris. Super berani. Saya juga tidak menghafal kosa kata bahasa Inggris. Ada juga seorang mahasiswa akhir yang ikut klub Garuda Rising. Klub bahasa Inggris Gusdurian Malang diadakan setiap Senin malam. Belum sampai berpuluh-puluh pertemuan. Kira-kira 5 kali pertemuan, dia sudah percaya diri berkomunikasi, sementara dia bilang sudah sering mengulang kuliah Bahasa Inggris berkali-kali sepertinya merasa tidak bisa berbahasa.

Kita perlu menggarisbawahi. Berbahasa tidak lain adalah bertutur. Banyak latihan bertutur dari yang kita sukai. Kita bisa gunakan dari sumber yang bervariasi, tetapi tetap jangan lupa, sebisa mungkin berbicaralah, menirulah agar sumber bacaan atau apa yang kita dengar bisa pula kita lafalkan. Berbahasa adalah praktik berkomunikasi, sementara gramatikal dan tensis hanyalah diperlukan bagi orang yang ingin tes beasiswa atau kuliah ke luar negeri yang mensyaratkan skor toefl. Itulah intinya.

Jikalau bertahun-tahun kita belajar bahasa Inggris di sekolah tetapi tetap tidak bisa berbahasa, karena cara belajar kita terkungkung oleh buku, bukan tentang bahasa adalah ruang budaya komunikasi.

“Semoga para guru Bahasa Inggris segera menutup buku dan mencari buku-buku hidup tentang bahasa sebagai bahan belajar berkomunikasi.

Seri Bisnis 1: MEMBANGUN ASET, Menyiapkan Menjadi Kaya dengan Pemasukan Pasif

0

“Orang miskin mencari uang, orang kaya membangun aset. Orang miskin mencari pekerjaan, orang kaya membangun jaringan.” Jargon itu sudah sangat sering kita dengar, baik dari buku maupun dari para motivator keuangan.

Tahun 2009 saya merenovasi rumah sakit dan rumah tinggal menjadi hotel. Ada 30 tukang dengan berbagai tingkatan terlibat. Mulai kepala tukang, tukang ahli, tukang batu biasa, tukang ahli bambu, sampai pembantu tukang. Sayapun ikut bekerja keras bersama mereka. Jika mereka fokus pada bangunannya, saya fokus ke mebelernya karena disitu keahlian saya.

Sejak dulu saya sudah terbiasa membuat perabotan sendiri. Semua tempat tidur dan meja untuk ruang pertemuan di hotel itu saya buat sendiri. Dan saya bekerja lebih keras dibanding mereka. Tetangga sebelah sdh hafal, jika setelah maghrib masih ada gergaji listrik yang bunyi, itu pasti bosnya yang bekerja. Tentu saya menghindari pemakaian mesin serut (pasrah) setelah maghrib, karena suaranya akan sangat mengganggu tetangga.

Setelah beberapa bulan bekerja keras, akhirnya hotel itu jadi. Kami mengadakan selamatan, setiap pekerja saya beri kenang kenangan golok. Kemudian mereka bubar. Hanya saya yang tetap tinggal di sana.

Mengapa mereka bubar sedang saya tetap tinggal ? Karena setelah jadi aset itu milik saya. Kami sama sama membangun aset yaitu hotel. Bedanya, mereka para pekerja itu mendapat uangnya pada saat PROSES MEMBANGUN ASET. Sedangkan saya baru mendapat uangnya setelah ASETNYA JADI.

Sama sama “membangun aset”, tetapi itulah bedanya antara pekerja dan pemilik. Pekerja sudah mendapat uang pada saat proses membangun aset, sedang pemilik baru mendapat uangnya setelah asetnya jadi. Siapa orang kayanya ? Mereka yang sudah mendapat uang pada saat proses membangun ? Atau yang baru dapat setelah asetnya jadi ? Anda tahu sendiri jawabannya.

Hal ini juga berlaku di bisnis apapun yang nampaknya membangun aset. Misal di bisnis jaringan atau asuransi atau perbankan atau saham atau apapun. Asetnya apa ? Asetnya adalah konsumen atau nasabah. Pemilik sebenarnya dari aset itu adalah SIAPA YG MENDAPAT UANGNYA SETELAH ASETNYA TERBENTUK. Jika dalam proses membentuk kelompok konsumen itu Anda sudah menikmati uangnya. Bisa dipastikan posisi Anda adalah PEKERJA. Tetapi jika Anda baru mendapat uangnya setelah kelompok konsumen itu terbentuk, maka Andalah pemilik aset yang sebenarnya.

Mungkin Anda saat membangun sudah mendapat uang, kemudian ditambah dengan “passive income” (pemasukan pasif) sebagai pembagian keuntungan, maka hati hati, Anda tetap pegawai yang mendapat bonus keuntungan perusahaan di akhir tahun. Pemilik aset yang sebenarnya tetap mendapat jauh lebih banyak. Yang pasti itu bukan Anda karena Anda sudah mendapat saat proses membangunnya.

Contoh di money game (memutar uang), investasi abal abal dan lain lain, sudah jelas Anda hanya pekerja karena Anda sudah dapat uangnya pada saat proses membangunnya. Pemiliknya adalah pihak manajemen. Jika suatu saat tidak ada lagi orang baru yang masuk, atau proses pembangunan berhenti, maka penghasilan Anda akan hilang atau tinggal sedikit.

Ini berbeda dg Bisnis Networking atau MLM yang sebenarnya. Anda adalah pemilik aset karena Anda baru mendapat uang ya setelah para anggota itu belanja. Pada saat pembentukan kelompok konsumen, Anda belum mendapat apa apa. Jika suatu saat tidak ada orang baru yang masuk, penghasilan Anda akan tetap karena mereka yang di grup akan tetap belanja. Itulah bisnis kuadran kanan yang sebenarnya, yang nantinya akan memberi Anda penghasilan pasif dari aset.

Semoga bermanfaat ????

Ditulis oleh dr. Sigit Setyawadi. Pensiunan dokter kandungan yang pensiun dini beralih profesi menjadi pewirausaha. Mengubah klinik kandungan menjadi hotel. Tinggal di Surabaya. Tulisan ini diposting seijin beliau.

Pemulihan Hubungan Pernikahan Setelah Pria Mendua, Adilkah Untuk Perempuan ?

0

Apakah mendua bagi pria yang sudah menikah adalah kecenderungan normal dari sisi psikologis ?

Ada beberapa sudut pandang melihatnya. Hubungan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan adalah sebuah janji yang diikat secara resmi, baik berdasarkan norma keagamaan atau kaidah perundang-undangan. Hubungan tersebut diresmikan oleh karena dua orang berkomitmen membangun hubungan untuk saling mencintai. Seorang pria terikat dengan norma pernikahan dan tentu memiliki kaidah moral dalam memelihara hubungan. Jika seorang pria kemudian mendua, dalam sudut pandang penalaran moral, seseorang berarti tidak lagi mampu menjaga moralitas dalam mengelola hubungan dengan pasangan. Secara norma pernikahan maka dia dianggap menyimpang dari kaidah-kaidah moral relasi pernikahan. Sementara dari sudut pandang psikologis mengenai relasi seksual dan hubungan harmonis, pria yang mendua didorong oleh dua parameter, bahwa dia tidak mampu mengelola kendali dorongan seksual dan rasa suka hanya kepada pasangannya sehingga akan mencari berbagai kepuasan relasi dengan lawan jenis di luar pernikahan. Tentunya hal ini akan menciderai relasi pasangan. Sementara kalau hubungan ini sudah tidak cocok oleh karena alasan hilangnya rasa cinta pada pasangan, maka seseorang yang kemudian mendua mencari tambatan hati baru karena rasa suka pada pasangan sudah tidak lagi bisa dihidupi sehingga dia akan menghidupi dengan orang lain yang dirasa memberikan jaminan rasa suka dan kepuasan diri secara seksual atau batin. Apapun alasannya, ketika seseorang masih terikat norma pernihakan, perilaku mendua telah menciderai pasangan yang sah dan dia telah mengingkari berbagai komitmen dalam menjalin relasi secara resmi. Menurut saya, bukan normal atau tidak normal tetapi lebih ke kesadaran etik (moral reasoning) seseorang dalam mengelola hubungan pernikahan.

Dorongan terbesar yang melatarbelakangi seperti apa? Apakah semacam melarikan diri dari sesuatu ?

Setiap orang ingin memenuhi kepuasan hubungan yang didasari oleh bobot relasi keintiman atau suasana hati. Yang melatarbelakangi ada beberapa kondisi, seperti laki-laki ingin selalu mencari kepuasan dalam hubungan dengan lawan jenis. Ketika dia merasa tidak puas, maka dia akan mencari kepuasan di ruang yang dianggap mampu menjamin kepuasan relasi. Selain itu, bisa juga didasari oleh kejumudan relasi pernihakan sehingga peremajaan hubungan tidak mampu direproduksi oleh pasangan. Orang menjadi jenuh dan ketika ada situasi yang membangkitkan gairah di luar hubungan pernihakan, seseorang akan cenderung menikmati jika memang dianggap mewakili kebutuhan dasar akan cinta dan kasih sayang barunya.

Secara psikis, pria yg mendua akan menikmati proses ‘jatuh cinta lagi’, pada saat yang sama, ia mungkin juga didera perasaan bersalah pada istri dan keluarga juga pada Tuhan. Penjelasannya?

Nah, jika begitu sebenarnya bukan persoalan normal atau tidak normal tetapi lebih pada kesadaran etik seorang pria dalam memosisikan dirinya sebagai seorang suami. Jika ada perasaan seperti itu, sebenarnya dia berada di ambang kesadaran moral yang disebut tadi dengan istilah moral reasoning. Di sini bukan persoalan tidak normal tetapi pada kemampuan seseorang dalam membuat penalaran dalam mengelola hubungan dengan pasangan. Orang yang memiliki kesadaran diri tinggi cenderung akan mampu mengendalikan dorongan rasa suka untuk tidak jatuh pada tambatan hati di luar pernihakan. Setiap orang tentu memiliki kecenderungan rasa suka pada orang lain di luar pernikahan. Ini dorongan dan stimulasi yang selalu maujud dalam kontinum perkembangan insan. Situasi ini akan manifes (terwujud) menjadi rasa cinta di luar pernikahan jika dorongan tersebut tidak dikendalikan dengan kesadaran penuh tentang komitmen dan konsistensi seseorang. Jika seseorang gagal mengelola kendali dan kesadaran etik ini, di situlah seorang pria rentan jatuh cinta.

Bila pria yang telah mendua hendak move on, keluar dari masalah, jalan keluar yang dipilihnya akan sangat bergantung beberapa faktor, misal: penerimaan istri, pola hubungan dengan selingkuhan masih manus atau membisankan, atau pertimbangan agama? Menurut Anda, mana yg lebih kuat ?

Jikalau berpijak pada penalaran moral, maka yang dibutuhkan adalah muhasabah (instrospeksi) baik dalam kesadaran diri sendiri atau memahami arti penting sebuah hubungan perkawinan, baik hal itu ditinjau dari tanggungjawab agama atau tanggungjawab sebagai partner hidup bagi pasangan. Ketika mendua kemudian menjadi faktor yang menyebabkan istri sakit hati (terluka), tentunya peristiwa ini telah masuk dalam koridor kekerasan terhadap perempuan dan bisa menjadi kasus yang bersifat yuridis. Nah, pasangan Anda bisa menggugat oleh karena alasan tersebut. Menurut saya jika dikatakan tergantung pada penerimaan istri, itu sangat bias jender. Kesalahan mendua adalah ada di pihak pria, maka apakah kesadaran rasa bersalah itu dijadikan sebagai sumber kesadaran bahwa dialah penyebab terlukanya seorang pasangan, maka kewajiban laki-laki adalah meminta maaf. Nah, seorang istri juga punya hak untuk menerima, atau bahkan menolak permintaan maaf yang berarti menyudahi hubungan. Ini adalah konsep setara yang harus diprioritaskan sehingga seorang laki-laki juga perlu tetap waspada dalam membina hubungan. Saya menekankan bahwa proses pemulihan hubungan seharusnya ditinjau dari sudut pandang keadilan. Artinya, siapa yang salah perlu menyadari posisinya dan tanggungjawab sebagai pribadi yang menyulut sakit hati sehingga pemulihan adalah sebuah komitmen yang dijalin bukan pada kemampuan penerimaan kembali seorang istri tetapi lebih pada kesadaran arti penting sebuah relasi diantara pasangan. Semua berbenah untuk membangun kehidupan yang harmonis dan saling mendukung.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Auleea, Januari 2017 | hal. 15

Melewati Penderitaan, Jangan Mengeluh Ketika Bercita-cita Mendapatkan Beasiswa LPDP

0

Tahukah kamu bahwa para pemburu beasiswa LPDP seperti apa mental juangnya ? Jika melihat mereka telah berbuah nikmat mendapat beasiswa baik S2 hingga S3, maka kita tentu tidak cukup melihat yang hasilnya saja. Bagaimana perjuangan mereka dan liku-liku menundukkan tantangan yang menghadang ? Modal mental yang seperti apa sebaiknya untuk dipupuk pada masing-masing pribadi agar lebih siap ?

Perhatian utama kesiapan mental pemburu beasiswa LPDP sepertinya ada di saat Anda sedang terpental. Saat di mana beasiswa itu tidak kunjung datang justru titik itulah batu sandung apakah takdir anda memang bukan rejeki atau itu sebatas kamu memang sedang diuji di awal, di tengah atau di detik-detik terakhir saat akan menyerah.

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kisah nyata. Fajri, alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Studi S2 Language and Linguistics di Lancaster University, Inggris, yang juga mendapat penghargaan beasiswa LPDP membuka tulisan ini yang saya kutip ketika menjadi narasumber KulOnBe 3.

“SAYA INGIN MENEKANKAN KALAU PERJALANAN UNTUK MENDAPATKAN BEASISWA KULIAH KE LUAR NEGERI ADALAH TENTANG “BERTAHAN DAN BERSABAR DALAM BERJUANG.” TIDAK BANYAK YANG LANGSUNG “GOAL” DALAM PERCOBAAN PERTAMANYA. BAGI SAYA SENDIRI, SETELAH LULUS S1 SAYA SUDAH MENCOBA MENDAFTAR BEASISWA S2 LUAR NEGERI, DAN BEASISWA LPDP INI SENDIRI ADALAH PERCOBAAN YANG KE 13. MUNGKIN ADA ATAU BANYAK JUGA YANG MELEBIHI ANGKA 13 BARU DIPANTASKAN UNTUK MENDAPAT BEASISWA LUAR NEGERI. JADI, BERSABARLAH DAN TERUS BERPIKIR POSITIF.”

Anda heran tidak! Saya sendiri tidak pernah punya bayangan jika para pemburu beasiswa LPDP tersebut melampaui perjuangan panjang yang menurut saya sangat melelahkan.

Ternyata tidak sesepele yang saya bayangkan. Kenyataannya ada kunci pentingnya, bahwa perjuangan mereka sampai sedemikian panjang tersebut mampu dirawat dalam setiap pribadi pejuang dengan didasari niat yang benar-benar tulus, sambung Fajri yang hadir dalam interaksi chatting di group WA untuk kuliah online beasiswa (Kulonbe) ke-3.

Fajri tidak sendirian lo ternyata. Ketahanan untuk selalu berjuang itu ternyata juga dimiliki oleh Irham, seorang narasumber KulOnBe 1 yang lulus 2015 dari studi Master di Radboud University Nijmegen Belanda, di Bidang linguistics. Dia bertutur,

“UNTUK LPDP ATAUPUN BEASISWA YANG LAIN YANG PERLU KITA PERSIAPKAN ADALAH KEINGINAN YANG KUAT JUGA USAHA YANG BESAR. SEBELUM SAYA MENERIMA PENGHARGAAN LPDP SAYA SUDAH MENDAFTAR PULUHAN BEASISWA. KITA YANG PERCAYA BAHWA ADA TUHAN MAKA PASTI KITA AKAN BERDOA DAN MEMINTA PERTOLONGAN AGAR APA YANG KITA INGINKAN BISA TERCAPAI.”

Masih menurut orang yang sama, yang juga sosok dosen muda di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Malang ini perlunya seorang pemburu beasiswa LPDP harus juga memiliki mimpi yang besar dan selalu terus berdoa serta banyak mencari dukungan dari keluarga agar kita memiliki kekuatan fokus mengejar beasiswa sampai di genggaman kita.

Dasar inilah yang menjadikan seorang pemburu beasiswa LPDP memiliki kekuatan dan tahan banting terus melakukan percobaan sampai usaha kita diijabahi oleh Allah. Tidak masalah mencoba berkali-kali. Toh, seorang Fajri pada perxobaan yang ketigabelaslah beasiswa LPDP itu didapat.

Pertanyaannya, apakah Anda saat ini sedang berhenti karena menyerah tak kunjung mendapatkan beasiswa LPDP ? Yah, malulah dengan usaha Fajri.
Bukan hanya dia lo yang berkali-kali. Narasumber KulOnBe 1, Irham, pun berpuluh-puluh kali mencoba aplikasi, baru mendapatkan mimpinya bisa kuliah keluar negeri dengan beasiswa LPDP. So pasti, menyerah hanya karena tidak lolos di tahap tertentu tidak semestinya menjadi alasan anda untuk berhenti berusaha agar bisa mencari ilmu dengan tanpa mengeluarkan biaya sendiri.

Mental berusaha pantang menyerah adalah ujung tombak dari para pesohor yang telah melampaui studinya dengan dukungan beasiswa LPDP. Mereka tangguh dan bukan jiwa yang diliputi keluh kesah apalagi suka meratapi keterpurukan. Mereka orang yang bisa melejit dari situasi terpuruk.

Kembali mengutip kisah Fajri. Dia awalnya sudah diterima di Kairo untuk kuliah. Apa hendak dikata, peluang emas tersebut terbentur karena orang tua tidak mengizinkan sehingga dia pun mengurungkan berangkat ke Kairo. Baginya amat kecewa berat. Titik balik ini ternyata tidak menjadikannya cengeng dan meratapinya dengan berlarut-larut. Melalui peristiwa ini justru dia mendapat kesempatan untuk berhijrah menuju Amerika dengan beasiswa LPDP. Artinya, idaman ke luar negeri tetap dapat diraih meskipun orang tuanya melarang di kesempatan pertama kiliah di Kairo

Apakah kita harus pintar ?

Ukuran pintar yang seperti apa yang bisa lolos beasiswa LPDP. Bagi seorang pendidikan itu adalah hak. Jikalau orang bersungguh-sungguh maka mimpi untuk kuliah di luar negeri pun akan bisa kita dapatkan. Sebagaimana dikiatakan oleh Fajri,

“pendidikan yang baik itu adalah hak kita dan semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tinggal pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk belajar di kampus yang terbaik untuk kembali akhirnya memberikan kontribusi yang baik pula pada masyarakat kita dengan skema beasiswa seperti LPDP”?

Sebagaimana dituturkan kembali olehnya, “tidak sedikit teman-teman kita yang kita anggap sangat pintar mungkin atau bagus akademik, tapi belum diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri.” Anda belum terlambat ketika punya mimpi ingin kuliah di luar negeri namun prestasi anda bukan prestasi yang sempurna. Senyampang IPK anda memenuhi standar minimal maka masih terbuka anda untuk terus menjaga semangat tersebut sembari melengkapi persyaratan lain yang dibutuhkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Fajri,

“SAAT KITA KULIAH BELUM MEMBERIKAN PRESTASI YANG BAIK, TIDAK USAH KHAWATIR UNTUK MEREBUT KESEMPATAN KULIAH KELUAR NEGERI DENGAN BEASISWA. MASIH TERBUKA LEBAR KARENA PRESTASI AKADEMIK KETIKA BERKULIAH BUKAN SATU-SATUNYA JAMINAN UNTUK MENDAPATKAN BEASISWA.”

Maka dari itu, jaga prestasi yang sudah anda miliki lalu belajarlah menambah wawasan dan ketrampilan lembut yang dibutuhkan sebagai penentu menopang syarat-syarat unggul lainnya.

Bagi para penjajal beasiswa LPDP, ada profil pribadi yang turut diperhatikan, seperti kemampuan mengelola emosi dan pengalaman baik di bidang kepemimpinan. Beasiswa LPDP mensyaratkan adanya keutamaan selain akademik karena memang yang diutamakan adalah sosok yang jiwanya mampu menyumbangkan ilmuny untuk perubaham negeri ini menjadi lebih baik.

Untuk itu, tidak ada salahnya misalnya anda aktif di organisasi, atau memiliki kegiatan-kegiatan yang dapat diukur perannya membantu kemajuan masyarakat. Apalagi peran itu tetap bisa Anda lanjutkan ketika sudah lulus kuliah dengan beasiswa LPDP.

Jangan lupa juga untuk ikut penelitian, bergabung dengan penelitian dosen dan belajar dengannya terlibat dalam tulis menulis. Khususnya menulis di jurnal ilmiah. Jadi pintar saja tidak cukup tanpa diperkuat oleh beberapa ketrampilan akademik yang berorientasi pengembangan keilmuan dan pengabdian masyarakat.

Kuncinya, jangan menyerah berjuang. Jika Anda sungguh-sungguh dan tidak putus asa maka pendidikan yang anda impikan adalah hak atasmu. Begitulah mindset yang perlu dibangun mengacu pada pengalaman Irham dan Fajri.

Tunggu catatan-catatn kecil lainnya dari dalam group Kuliah Online Beasiswa (KUL-ON-BE) yang diselenggarakan oleh para tim Sabilillah Enterpreneur Institute (SEI) Malang.

Jangan Ragu untuk Bermimpi, Ia adalah Persahabatan untuk Mewujudkan Cita-Cita

0

Di rentang waktu ada pengalaman yang mengajarkan, ada penerimaan yang menyamankan dan ada kesabaran yang menguatkan. Betapa ukuran sukses seseorang itu tidak semata ditentukan oleh materi.

Suatu hari menjelang puasa romadhon tiba, aku sibuk pekerjaan rumah, bersih bersih disambi cuci baju. Saking semangatnya sesi terakhir cuci seprei, tak menyadari HP putri sulungku ikut terbawa dan terendam air beberapa saat.

Baru menyadari ketika si empunya hp mencari. Aku spontan terkejut dan segera mengecek di bak cucian. Ya ampun..benar ada hp. “Ah yang benar bu” terdengar anakku menyahut dari kamar seakan tak percaya.

Aku panik dan menyesal gara gara tidak teliti. Anakku terpana ibunya membawa HP yang basah. “Maafkan ibu nak, ibu gak teliti. Trus gimana ini HPmu kan rusak kerendam air. dikeringkan pakai hairdryer bisa gak ya,” aku mencoba mencari solusi saking bingungnya.

Anak gadisku kulihat matanya agak berkaca kaca. “Gak apa apa bu, ibu gak usah sedih. Ambil hikmahnya saja mungkin supaya aku fokus pada sidang komprehensifku hari Senin depan. Biar aku gak terganggu HP, nanti pinjam hp jadulnya ibu aja yang cuman untuk telpun dan sms.” Dan seketika rasanya mak jleb.

Aku ingat di daftar mimpi anak gadisku, dia menulis. “Aku ingin membuat ibu menangis karena bangga.” Dia punya mimpi ingin foto di depan Menara Eiffel dan tahun kemarin mimpi itu terwujud bersamaan tugas Summer School di Denhag, Belanda. Selalu ada jalan Tuhan yang menyambungkan.

Waktu itu aku hanya bangga anakku bisa melihat Menara Eiffel dari dekat tapi tidak menangis. Dan sekarang aku tak perlu menunggu engkau sampai sarjana nak, spesial hari ini ibumu menangis karena bangga, melihat anaknya telah mampu bersikap tenang dan sabar.

Bagiku ini adalah kekayaan hati yang perlu dirawat dan disyukuri. Bukankah anak masih akan menempuh perjalanan panjang dan berliku?

Ada tantangan dan kesulitan menghadang, anak sebaiknya sudah memiliki kunci, yaitu kesabaran dan rasa menerima. Perlu pengalaman dan latihan.

Hal ini pernah dialami anakku 15 tahun yang lalu ketika TV dirumah rusak. Awalnya menjadi hal yang tidak mengenakkan karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesenangan.

Dengan pemahaman secara perlahan bahwa apa yang kita miliki adalah “hak pakai” sementara yang sewaktu waktu bisa hilang, rusak atau diambil paksa, maka rasa kehilangan itu bisa diterima seiring kita mampu mengelola emosi kita dan cara berpikir kita

DIPOSTING KEMBALI DARI STATUS FACEBOOK DENGAN SEIJIN PEMILIK AKUN @SUCILESTARI

Berhijrah Menjadi Guru Berkualitas, Bukan Mengubah Kurikulum Sekolah Semata

0

 Indonesia selama 10 tahun terakhir telah menunjukkan perubahan yang lebih baik dalam bidang pendidikan, hal ini ditunjukkan dengan berhasilnya Indonesia dalam menyediakan akses pendidikan dasar bagi semua masyarakat, namun saat berbicara mengenai kualitas pendidikan di negara ini, Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara maju lainnya (Chen&Ragatz, 2011). Indonesia masih perlu terus menerus memperbaiki sistem pendidikannya dan untuk mencapai pendidikan berkualitas. Pendidikan yang berkualitas juga akan menentukan masa depan dan kejayaan bagi sebuah bangsa (Ma’arif, 2011).

Meningkatkan pendidikan berkualitas dimulai dari guru yang berkualitas pula.  Mengapa guru menjadi prioritas utama dalam transformasi pendidikan Indonesia? karena guru merupakan penentu utama kualitas pendidikan suatu negara. Gurulah yang berinteraksi secara langsung dengan peserta didik, gurulah yang berperan untuk memberikan, memahamkan dan menghidupkan pengetahuan secara langsung, gurulah yang mendidik peserta didik agar memiliki akal budi. Sehingga sangat logis apabila dikatakan bahwa guru memiliki peran strategis dalam pembangunan manusia.

Sudah kita ketahui bersama, bahwa pada saat ini, Finladia disebut-sebut sebagai negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik didunia. Berbicara sistem artinya juga berbicara tentang bagaimana negara tersebut mengelola guru-guru berkualitas, hingga dapat mereformasi pendidikannya. Disana, guru merupakan pemain kunci dalam membangun masyarakat madani. Di negara tersebut, tidak semua lulusan sarjana dengan mudah menjadi guru, mereka harus melewati seleksi yang menantang dan ketat. Finlandia bahkan tidak main-main soal kualitas guru yang akan mengajar, negara tersebut memilih lulusan terbaik di setiap universitas, dan mereka mensyaratkan harus memiliki gelar master untuk melamar menjadi seorang guru (Sahlberg, 2014). Ini menunjukkan bagaimana pendidikan dapat bertransformasi melalui perubahan guru-gurunya.   Sedangkan di Indonesia masih berkutat pada perubahan kurikulumnya yang sama sekali tidak diimbangi dengan perubahan kualitas gurunya. Padahal berhasil tidaknya pendidikan bergantung pada apa yang diberikan dan diajarkan oleh gurunya (Shoimin, 2014)

Upaya pemerintah dalam memperbaiki sistem pendidikan Indonesia sudah terus berlangsung, salah satunya upayanya adalah berusaha menyempurnakan kurikulum yang lalu dengan menerbitkan kurikulum 2013.  Namun, aktor penerjemah kurikulum yaitu guru masih belum maksimal dalam menerapkan kurikulum 2013, karena guru masih belum banyak mengenal model pembelajaran yang inovatif (Shoimin, 2014). Ini menunjukkan bahwa masih banyak guru-guru yang belum siap dengan adanya perubahan, dan belum siap untuk merubah paradigma tradisional menjadi paradigma inovatif.  Maka tidak heran, jika penerapan kurikulum 2013 masih terkesan berbelit-belit dan susah untuk diimplementasikan, karena aktor pendidiknya yang masih belum merubah paradigma mengajarnya.

Jika perubahan kurikulum yang tidak diimbangi dengan perubahan paradigma gurunya, maka hasilnya akan sia-sia. Pendidikan Indonesia pun akan jauh dari kata berkualitas, karena masih banyak gurunya yang enggan untuk belajar dan guru masih menggunakan cara mengajar tradisional dan klasikal (Shoimin, 2014).  Data menunjukkan bahwa guru-guru di Indonesia menghabiskan lebih sedikit waktu untuk mempelajari materi baru pelajaran dibandingkan 7 negara pembanding lainnya (Australia, Republik Ceko, Hong Kong, Jepang, Belanda, Swiss, dan Amerika Serikat).  Ini menunjukkan bahwa adanya berbagai kelemahan dalam praktik pedagogik guru-guru di Indonesia (Chen&Ragatz, 2011).  Guru terlihat enggan memperbaharui pengetahuannya, jarang pula mempelajari materi yang akan disampaikan kepada peserta didik sebelum mengajar, sedangkan di negara maju guru mampu mempersiapkan diri dan memperbaharui pengetahuannya sebelum mengajar.

Kelemahan dalam praktek pedagogik juga nampak ketika guru enggan menggunakan cara-cara inovatif di dalam kelas, enggan untuk mempelajari beragam pendekatan dalam pengajaran. Guru hanya melakukan komunikasi satu arah, enggan melakukan komunikasi interaktif dialogis, karena hanya mengandalkan metode ceramah tanpa diberikan ruang dialog. (Asmani, 2014).  Data penelitian lain mendukung bahwasannyan guru-guru Indonesia secara rata-rata mengucapkan 2.633 kata selama pelajaran berlangsung, sementara kata-kata yang diucapkan guru- guru di negara pembanding lain berkisar antara 5.148 (terendah) hingga 5.902 (tertinggi) (Chen&Ragatz, 2011). Ini menunjukkan rendahnya informasi yang disampaikan guru di dalam kelas kepada peserta didik.

Data lain menyatakan bahwa siswa di Indonesia mengucapkan 197 kata, sementara jumlah kata yang diucapkan siswa-siswa di enam negara pembanding lainnya berkisar dari 640 (terendah) hingga 1.018 (tertinggi) (Chen&Ragatz, 2011). Ini menunjukkan bahwa rendahnya interaksi verbal guru-guru di Indonesia dengan peserta didiknya.  Sangat miris, hampir terpaut separuh dari kisaran negara pembanding. Ini mencerminkan bahwa seolah-olah guru menjadikan murid sebagai obyek, bukan subyek yang bebas untuk berkespresi dan berpendapat.   

Jika kondisi ini terus berlangsung dan tidak ada perubahan, maka yang menjadi korban adalah peserta didik. Tidak heran, jika peserta didik adalah korban malpraktek kurikulum, akibat para pendidik tidak tepat menerjemahkan kurikulum. Wajar saja jika banyak anak-anak Indonesia memiliki minat baca rendah dan tidak memiliki tradisi menulis, serta kemampuan berfikir kritisnya menjadi lemah, salah satu penyebabnya adalah guru-guru di kelas belum mampu berikan ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan lebih, guru-guru belum mampu menghidupkan ruang kelas menjadi kaya akan proses dialogis, guru-guru belum mampu membangkitkan keinginan peserta didik untuk merdeka belajar. Sungguh ironisnya negeri kita Indonesia. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, kita harus segera menyadari, harus mau segara berubah.

Sekali lagi, perubahan transformatif pendidikan kita harus dimulai dari perubahan paradigma guru-gurunya.  Ketika guru-guru Indonesia menunjukkan kualitas lebih baik, maka harapan untuk menjadikan pendidikan kita lebih baik akan selalu ada. Data menunjukkan bahwa pengetahuan dan kemampuan guru memiliki dampak yang signifikan pada kinerja akademis anak didiknya (Barber&Mourshed, 2007). Ini artinya, jika peserta didik dikelas dijar oleh guru yang berkualitas, maka kemampuan dan kinerja akademis peserta didik akan menunjukkan hasil yang lebih baik.

Perubahan paradigma guru mutlak diperlukan, guru harus kembali memperbaiki cara berfikir dalam mengajar, guru harus mau belajar dan mempelajari hal baru, guru harus memperbaiki cara berkomunikasinya pada peserta didik, guru juga harus bisa menggunakan cara inovatif dan kreatif dalam mengajar. Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali, dan mencari berbagai terobasan, pendekatan, metode dan strategi pembelajaran merupakan salah satu penunjang munculnya inovasi dalam mengajar. Jika setiap guru memiliki kemauan yang kuat untuk berinovasi, maka sama halnya guru akan menghidupkan pengetahuan bagi peserta didik di kelas.

Daftar Pustaka

ASMANI, JAMAL MA’MUR. 2014. TIPS MENJADI GURU INSPIRATIF, KREATIF, DAN INOVATIF. YOGYAKARTA: DIVA PRESS
BARBER, M., AND M. MOURSHED. 2007. “HOW THE WORLD’S BEST PERFORMING SCHOOLS COME OUT ON TOP.” MCKINSEY & COMPANY, NEW YORK, USA
CHEN, DANDAN & ANDREW RAGATZ. 2011. MENTRANSFORMASI TENAGA PENDIDIKAN INDONESIA (VOLUME I: RINGKASAN EKSEKUTIF) PEMBANGUNAN MANUSIA KAWASAN ASIA TIMUR DAN PASIFIK. JAKARTA: BANK DUNIA
DARYANTO. 2013. STANDAR KOMPETENSI DAN PENILAIAN KINERJA GURU PROFESIONAL. YOGYAKARTA: GAVA MEDIA
MA’ARIF, SYAMSUL. 2011. GURU PROFESIONAL: HARAPAN DAN KENYATAAN. SEMARANG: WALISONGO PRESS
SAHLBERG, PASI. 2014. FINNISH LESSONS: MENGAJAR LEBIH SEDIKIT, BELAJAR LEBIH BANTYAK ALA FINLANDIA. BANDUNG: KAIFA
SHOIMIN, ARIS. 2014. 68 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM KURIKULUM 2013. YOGYAKARTA: AR-RUZZ MEDIA
RAGATZ, ANDREW, HALSEY R, RATNA K, RITCHIE S, RICHARD, RALPH R, MUHAMMAD F, JUPS K, ADAM R,
SIWAGE D, SUSIE S, IMAM S), DAN MEGHA KAPOOR. 2011. MENTRANSFORMASI TENAGA PENDIDIKAN INDONESIA (VOLUME II: DARI PENDIDIKAN PRAJABATAN HINGGA KE MASA PURNABAKTI: MEMBANGUN DAN MEMPERTAHANKAN ANGKATAN KERJA YANG BERKUALITAS TINGGI, EFI SIEN, DAN TERMOTIVASI). PEMBANGUNAN MANUSIA KAWASAN ASIA TIMUR DAN PASIFIK. JAKARTA: BANK DUNIA

Masih Ada Buku Hari Ini Di Tengah Budaya Digital dan Ngepop

0

Biasanya, di budaya perkotaan seperti Malang yang dipenuhi oleh pendatang kalangan mahasiswa, selalu rame di setiap jelang buka adalah budaya Ngabuburit. Kegiatan ngabuburit diisi dengan nongkrong atau menuju tempat yang banyak menjual menu berbuka. Biasanya tempat yang rame ada di sejumlah titik yang sudah disediakan oleh komunitas setempat. Isinya ya orang berjualan menu berbuka atau disela-selanya ada panggung hiburan.

Kali ini tidak demikian. Sejumlah aktifis mahasiswa yang bergerak di minat baca, menculik ngabuburit dengan kegiatan positif. Mereka menggelar buku di tempat publik Taman Singha Merjosari Malang. Yah, jangan dinilai “kok tidak membaca Al Qur’an saja di waktu sore untuk menambah pahala.”

Di tempat yang banyak pendatang, apalagi di kota pendidikan seperti Malang, sub-sub budaya baru selalu bermunculan sangat beragam, termasuk ngabiburit. Namun kali ini para aktifis yang kebanyakan lulusan mahasiswa dari universitas di Malang, termasuk Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mencoba mewarnai, mencuri atau membongkar gaya ngabuburir dari semata beraroma komsumtif ke rekreasi cerdas dengan menonjolkan buku ke publik.

Cara ini seperti seorang yang sok saja, hari gini membaca buku, pamer buku. Ah ini kan generasi digital, kan sudah ada e-book dan aneka sumber pengetahuan pun bisa dicari di internet.

Yiak, no no no. Spirit Bukalapak menabur buku di ruang publik tidak lain adalah mencuri memori kolektif masyarakat di tempat-tempat umum rekreatif bahwa masih ada buku hari ini. Kehadiran buku di tempat rekreasi menculik perhatian publik jika buku pun bisa dinikmati di ruang terbuka. Jangan pernah malu membaca buku meskipun di tempat rekreasi, saat bersuka cita dengan keluarga atau sedang nongkrong menghabiskan waktu dengan muda mudi.

Membaca di ruang publik tidak tabu lo… Membaca buku juga bagian dari kegiatan rekreatif di tempat-tempat menghibur. Buku tidak hanya hadir dalam genggaman para pemilik gedung-gedung perpustakaan yang nun jauh dari hiruk pikuk masyarakat.

Buku dihadirkan oleh para aktifis menuju tempat-tempat menyenangkan. Buku diajak oleh para pegiat literasi (melek baca) keluar dari tempat-tempat yang wah menuju ruang terbuka. Tidak tanggung-tanggung, disebar di tempat rekreasi yang seolah-olah di tempat ini hampir pasti orang akan melupakan buku.

Ini ibarat kritik pedas dan samacam pengingat telak, kamu boleh senang-senang dengan ngabuburit tapi ini ada buku lo yang tetap bisa kamu ajak bersenang-senang di manapun kamu pergi ingin melampiaskan kesenanganmu.

Bukalapak buku di tempat rekreasi seperti kegiatan ibadah yang tugasnya mengingatkan para pencari maghrib, membacalah meskipun kamu berada dalam ruang suka cita. Membacalah dan tak perlu malu meskipun ada di tempat umum atau di tempat rekreasi. Kami terbukti tidak malu lo membaca di tempat umum begini. Justru terlihat keren kan, duduk bareng sambil ngobrol, pegang HP tetapi juga disela-selai membaca buku aneka warna.

Sekian dulu ya, sajian secuil kisah ketika kami hadir menemani sekelompok aktifis literasi NGABUBUREAD dari komunitas GUBUKTULIS dan GUSDURIAN MALANG kemaren sore.

Liputan ini dibikin oleh salah satu anggota keluarga ETHNO dan disajikan untuk produk #menu SAMBEL BLEDEG MBAK ATIK

Motivasi Tetap Segalanya Bagi Pencari Beasiswa LPDP

0

Memiliki wawasan mendapatkan beasiswa menjadi modal penting bagi calon sarjana yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3. Wawasan tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk mengukur kualifikasi kita secara mandiri apakah sudah sesuai kriteria atau perlu membenahi diri agar mendekati kriteria yang diinginkan oleh pemberi dana (sponsor).

Memahami kebutuhan para pemburu beasiswa, Sabilillah Enterpreneur Institute (SEI) memfasilitasi dengan menjembatani komunikasi antara pemburu beasiswa dengan orang-orang yang sukses mendapatkan beasiswa. Atika Mustaghfiroh selaku penggagas dari SEI telah berbagi untuk memudahkan pemburu beasiswa berkomunikasi langsung dengan penerima beasiswa melalui Kuliah Online Beasiswa (KulOnBe), dia mengatakan,
“Mengapa ada KulOnBe ? arena kami melihat banyak potensi yang dimiliki generasi bumi pertiwi, namun kadang kurang informasi. Untuk itu KulOnBe hadir sebagai solusi, apalagi anak yang jauh dari jangkauan Sosialisasi Beasiswa yang Offline.”

Kuliah Online Beasiswa sudah usai diselenggarakan menggunakan layanan group whatsapp pada Rabu 31 Mei 2017. Kuliah ini diikuti oleh 200 peserta yang terdaftar secara online. Saya sedikit berbagi apa saja tips yang disampaikan narasumber terkait modal bagi pemburu sukses beasiswa.

Narasumber pertama berasal dari awardee yang masih aktif kuliah menyelesaikan Ph.D (setingkat kuliah S-3) di Universitas Tempare negara Finlandia, bernama Satia P Zen.

Satia menuturkan, tips pertama yang perlu dicamkan adalah kesesuaian visi diri dengan pemberi beasiswa. Hal ini penting karena pemberi beasiswa harus terwakili dalam visi hidup dari seorang calon. “Karena apapun beasiswanya, yang memberikan beasiswa punya tujuan berbeda-beda, jadi sesuaikan dengan visi misi pribadi juga, jelas seorang ibu yang seorang Direktur Sekolah Sukma Bangsa Bireuen.

Terutama ketika Anda ingin melamar beasiswa LPDP. Anda perlu melihat apakah memiliki rekaman pengalaman pengabdian untuk negeri baik sebelum mendaftar atau setelah Anda mendaftar. LPDP menuntut keterlibatan Anda dalam berbakti untuk negeri. Jadi, LPDP akan lebih condong melihat rekam jejak apakah Anda aktifis yang berkonstribusi terhadap negeri ini atau tidak. Menurutnya, pengalaman ini akan membantu menambah poin penilaian. Jadi, LPDP semacam diikat oleh kerja pengabdian bahkan setelah Anda lulus dari kuliah.

Ketika para pelamar memiliki segudang pengalaman pengabdian maka akan sangat memudahkan membuat essay dan wawancara karena memang pengalaman praktis di lapangan sangat menentukan nilai tambah bagi seorang kandidat.

Berdasarkan sejumlah amatan dari para alumni yang saya kenal, nampaknya peran-peran masa lalu di dunia sosial sangat menentukan pertimbangan terhadap calon pemburu beasiswa LPDP. Bahkan, peran ini dilihat juga dari nilai keberlanjutan setelah calon selesai studi. Bahkan ada yang mengatakan jika peran ini berlanjut, maka akan bisa langsung seorang calon mengambil studi lanjutnya, misalnya dari S-2 ke S-3. Sebagaimana dikatakan oleh Satia, yang langsung dari Finlandia, sebuah negeri terkenal dengan pendidikan yang sangat baik, menganjurkan agar peran pengabdian ini harus jelas bagi setiap pelamar.

Bekal lain tentu adalah bahasa Inggris dan wawasan yang luas. Bagi pelamar setidaknya tidak hanya paham tentang kuliahnya, tetapi memilik berbagai pengetahuan yang diambil dari buku-buku terkini, opini dan berbagai perkembangan mutakhir tentang peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa nasional dan internasional.

“Jika lulus ke tahap substantif, latih wawancara dengan teman, banyak membaca berita-berita terkini, mulai punya opini dan argument yang baik untuk topik-topik hangat. Pastikan opini tersebut orisinil dan jika memungkinkan pakai data, biasakan berdiskusi dan lihat kecenderungan kamu (apakah cenderung dominan, pasif, terlalu lama mikirnya) dan dilatih lagi, kata Satia yang tinggal di Finlandia bersama keluarganya. Jadi, seorang pencari beasiswa LPDP memang harus super aktif, baik di bidan prestasi akademik maupun di luar akademik.

Selain kemampuan akademik tersebut, sebenarnya yang paling kunci adalah semangat yang kuat dan pantang menyerah. Sebagaimana yang dituturkan oleh Satia, pencarian beasiswa ini baru sukses setelah dia mencari dan mencoba yang kelima. Jadi, janganlah putus asa ketika para pemburu beasiswa tidak lolos untuk yang pertama.

Oleh karena itu, agar lebih siap, sebaiknya persiapan kemampuan di akademik, bahasa Inggris dan peran-peran sosial kemasyarakatan dapat dirintis oleh pemburu beasiswa sejak masuk kuliah sarjana sehingga Anda sudah benar-benar memiliki modal yang cukup. Jangan sadari kemauan itu saat di akhir-akhir menjelang lulus, tentunya jauh akan merugi.

Persiapan itu dapat dimulai saat masih kuliah. “Coba mulai dijajaki apa minat spesifik teman-teman dalam bidang yang sekarang. Baca penelitian-penelitian di bidang tersebut dan juga kalau ada kesempatan untuk membantu penelitian dosen, jangan malu-malu untuk mengajukan diri,” pungkas Satia yang memiliki moto hidup, “do small things with great love.”

Itu sekelumit tips yang bisa saya resum dari Kuliah Online Beasiswa pertama yang kemudian disingkat KuLonBe yang dimoderatori oleh Atika Mustaghfiroh, seorang penerima beasiswa LPDP yang masih aktif kuliah pada semester tiga di S-2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Atika yang biasanya dipanggil Awik, juga aktif sebagai relawan untuk pendamping usaha mustahiq di Sabilillah Entrepreneur Institute (SEI) Malang.

Sampai di sini dulu ya penggalan tips mendapatkan beasiswa LPDP yang diambil dari sebagian materi di kuliah KuLonBe SEI Malang. Tips berikutnya silahkan diikuti pada tulisan berikutnya ya karena tips ini masih disarikan dari pertemuan KulOnBe perdana secara online melalui kelompok whatsapp.