Selasa, Agustus 25, 2026
Beranda blog Halaman 107

Masih Ada Buku Hari Ini Di Tengah Budaya Digital dan Ngepop

0

Biasanya, di budaya perkotaan seperti Malang yang dipenuhi oleh pendatang kalangan mahasiswa, selalu rame di setiap jelang buka adalah budaya Ngabuburit. Kegiatan ngabuburit diisi dengan nongkrong atau menuju tempat yang banyak menjual menu berbuka. Biasanya tempat yang rame ada di sejumlah titik yang sudah disediakan oleh komunitas setempat. Isinya ya orang berjualan menu berbuka atau disela-selanya ada panggung hiburan.

Kali ini tidak demikian. Sejumlah aktifis mahasiswa yang bergerak di minat baca, menculik ngabuburit dengan kegiatan positif. Mereka menggelar buku di tempat publik Taman Singha Merjosari Malang. Yah, jangan dinilai “kok tidak membaca Al Qur’an saja di waktu sore untuk menambah pahala.”

Di tempat yang banyak pendatang, apalagi di kota pendidikan seperti Malang, sub-sub budaya baru selalu bermunculan sangat beragam, termasuk ngabiburit. Namun kali ini para aktifis yang kebanyakan lulusan mahasiswa dari universitas di Malang, termasuk Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, mencoba mewarnai, mencuri atau membongkar gaya ngabuburir dari semata beraroma komsumtif ke rekreasi cerdas dengan menonjolkan buku ke publik.

Cara ini seperti seorang yang sok saja, hari gini membaca buku, pamer buku. Ah ini kan generasi digital, kan sudah ada e-book dan aneka sumber pengetahuan pun bisa dicari di internet.

Yiak, no no no. Spirit Bukalapak menabur buku di ruang publik tidak lain adalah mencuri memori kolektif masyarakat di tempat-tempat umum rekreatif bahwa masih ada buku hari ini. Kehadiran buku di tempat rekreasi menculik perhatian publik jika buku pun bisa dinikmati di ruang terbuka. Jangan pernah malu membaca buku meskipun di tempat rekreasi, saat bersuka cita dengan keluarga atau sedang nongkrong menghabiskan waktu dengan muda mudi.

Membaca di ruang publik tidak tabu lo… Membaca buku juga bagian dari kegiatan rekreatif di tempat-tempat menghibur. Buku tidak hanya hadir dalam genggaman para pemilik gedung-gedung perpustakaan yang nun jauh dari hiruk pikuk masyarakat.

Buku dihadirkan oleh para aktifis menuju tempat-tempat menyenangkan. Buku diajak oleh para pegiat literasi (melek baca) keluar dari tempat-tempat yang wah menuju ruang terbuka. Tidak tanggung-tanggung, disebar di tempat rekreasi yang seolah-olah di tempat ini hampir pasti orang akan melupakan buku.

Ini ibarat kritik pedas dan samacam pengingat telak, kamu boleh senang-senang dengan ngabuburit tapi ini ada buku lo yang tetap bisa kamu ajak bersenang-senang di manapun kamu pergi ingin melampiaskan kesenanganmu.

Bukalapak buku di tempat rekreasi seperti kegiatan ibadah yang tugasnya mengingatkan para pencari maghrib, membacalah meskipun kamu berada dalam ruang suka cita. Membacalah dan tak perlu malu meskipun ada di tempat umum atau di tempat rekreasi. Kami terbukti tidak malu lo membaca di tempat umum begini. Justru terlihat keren kan, duduk bareng sambil ngobrol, pegang HP tetapi juga disela-selai membaca buku aneka warna.

Sekian dulu ya, sajian secuil kisah ketika kami hadir menemani sekelompok aktifis literasi NGABUBUREAD dari komunitas GUBUKTULIS dan GUSDURIAN MALANG kemaren sore.

Liputan ini dibikin oleh salah satu anggota keluarga ETHNO dan disajikan untuk produk #menu SAMBEL BLEDEG MBAK ATIK

Motivasi Tetap Segalanya Bagi Pencari Beasiswa LPDP

0

Memiliki wawasan mendapatkan beasiswa menjadi modal penting bagi calon sarjana yang ingin melanjutkan studi S2 atau S3. Wawasan tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk mengukur kualifikasi kita secara mandiri apakah sudah sesuai kriteria atau perlu membenahi diri agar mendekati kriteria yang diinginkan oleh pemberi dana (sponsor).

Memahami kebutuhan para pemburu beasiswa, Sabilillah Enterpreneur Institute (SEI) memfasilitasi dengan menjembatani komunikasi antara pemburu beasiswa dengan orang-orang yang sukses mendapatkan beasiswa. Atika Mustaghfiroh selaku penggagas dari SEI telah berbagi untuk memudahkan pemburu beasiswa berkomunikasi langsung dengan penerima beasiswa melalui Kuliah Online Beasiswa (KulOnBe), dia mengatakan,
“Mengapa ada KulOnBe ? arena kami melihat banyak potensi yang dimiliki generasi bumi pertiwi, namun kadang kurang informasi. Untuk itu KulOnBe hadir sebagai solusi, apalagi anak yang jauh dari jangkauan Sosialisasi Beasiswa yang Offline.”

Kuliah Online Beasiswa sudah usai diselenggarakan menggunakan layanan group whatsapp pada Rabu 31 Mei 2017. Kuliah ini diikuti oleh 200 peserta yang terdaftar secara online. Saya sedikit berbagi apa saja tips yang disampaikan narasumber terkait modal bagi pemburu sukses beasiswa.

Narasumber pertama berasal dari awardee yang masih aktif kuliah menyelesaikan Ph.D (setingkat kuliah S-3) di Universitas Tempare negara Finlandia, bernama Satia P Zen.

Satia menuturkan, tips pertama yang perlu dicamkan adalah kesesuaian visi diri dengan pemberi beasiswa. Hal ini penting karena pemberi beasiswa harus terwakili dalam visi hidup dari seorang calon. “Karena apapun beasiswanya, yang memberikan beasiswa punya tujuan berbeda-beda, jadi sesuaikan dengan visi misi pribadi juga, jelas seorang ibu yang seorang Direktur Sekolah Sukma Bangsa Bireuen.

Terutama ketika Anda ingin melamar beasiswa LPDP. Anda perlu melihat apakah memiliki rekaman pengalaman pengabdian untuk negeri baik sebelum mendaftar atau setelah Anda mendaftar. LPDP menuntut keterlibatan Anda dalam berbakti untuk negeri. Jadi, LPDP akan lebih condong melihat rekam jejak apakah Anda aktifis yang berkonstribusi terhadap negeri ini atau tidak. Menurutnya, pengalaman ini akan membantu menambah poin penilaian. Jadi, LPDP semacam diikat oleh kerja pengabdian bahkan setelah Anda lulus dari kuliah.

Ketika para pelamar memiliki segudang pengalaman pengabdian maka akan sangat memudahkan membuat essay dan wawancara karena memang pengalaman praktis di lapangan sangat menentukan nilai tambah bagi seorang kandidat.

Berdasarkan sejumlah amatan dari para alumni yang saya kenal, nampaknya peran-peran masa lalu di dunia sosial sangat menentukan pertimbangan terhadap calon pemburu beasiswa LPDP. Bahkan, peran ini dilihat juga dari nilai keberlanjutan setelah calon selesai studi. Bahkan ada yang mengatakan jika peran ini berlanjut, maka akan bisa langsung seorang calon mengambil studi lanjutnya, misalnya dari S-2 ke S-3. Sebagaimana dikatakan oleh Satia, yang langsung dari Finlandia, sebuah negeri terkenal dengan pendidikan yang sangat baik, menganjurkan agar peran pengabdian ini harus jelas bagi setiap pelamar.

Bekal lain tentu adalah bahasa Inggris dan wawasan yang luas. Bagi pelamar setidaknya tidak hanya paham tentang kuliahnya, tetapi memilik berbagai pengetahuan yang diambil dari buku-buku terkini, opini dan berbagai perkembangan mutakhir tentang peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa nasional dan internasional.

“Jika lulus ke tahap substantif, latih wawancara dengan teman, banyak membaca berita-berita terkini, mulai punya opini dan argument yang baik untuk topik-topik hangat. Pastikan opini tersebut orisinil dan jika memungkinkan pakai data, biasakan berdiskusi dan lihat kecenderungan kamu (apakah cenderung dominan, pasif, terlalu lama mikirnya) dan dilatih lagi, kata Satia yang tinggal di Finlandia bersama keluarganya. Jadi, seorang pencari beasiswa LPDP memang harus super aktif, baik di bidan prestasi akademik maupun di luar akademik.

Selain kemampuan akademik tersebut, sebenarnya yang paling kunci adalah semangat yang kuat dan pantang menyerah. Sebagaimana yang dituturkan oleh Satia, pencarian beasiswa ini baru sukses setelah dia mencari dan mencoba yang kelima. Jadi, janganlah putus asa ketika para pemburu beasiswa tidak lolos untuk yang pertama.

Oleh karena itu, agar lebih siap, sebaiknya persiapan kemampuan di akademik, bahasa Inggris dan peran-peran sosial kemasyarakatan dapat dirintis oleh pemburu beasiswa sejak masuk kuliah sarjana sehingga Anda sudah benar-benar memiliki modal yang cukup. Jangan sadari kemauan itu saat di akhir-akhir menjelang lulus, tentunya jauh akan merugi.

Persiapan itu dapat dimulai saat masih kuliah. “Coba mulai dijajaki apa minat spesifik teman-teman dalam bidang yang sekarang. Baca penelitian-penelitian di bidang tersebut dan juga kalau ada kesempatan untuk membantu penelitian dosen, jangan malu-malu untuk mengajukan diri,” pungkas Satia yang memiliki moto hidup, “do small things with great love.”

Itu sekelumit tips yang bisa saya resum dari Kuliah Online Beasiswa pertama yang kemudian disingkat KuLonBe yang dimoderatori oleh Atika Mustaghfiroh, seorang penerima beasiswa LPDP yang masih aktif kuliah pada semester tiga di S-2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Atika yang biasanya dipanggil Awik, juga aktif sebagai relawan untuk pendamping usaha mustahiq di Sabilillah Entrepreneur Institute (SEI) Malang.

Sampai di sini dulu ya penggalan tips mendapatkan beasiswa LPDP yang diambil dari sebagian materi di kuliah KuLonBe SEI Malang. Tips berikutnya silahkan diikuti pada tulisan berikutnya ya karena tips ini masih disarikan dari pertemuan KulOnBe perdana secara online melalui kelompok whatsapp.

Ketika Orang Tua Lupa untuk Menjadi Orang Tua

0

Orangtua adalah sosok yang sangat berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Orang tua memiliki peran dalam mendidik anak, memantau perubahan fisik dan perkembangan psikologis anak, memenuhi kebutuhan psikologis anak. (Jinan, 2013).

Jika diibaratkan, orang tua itu layaknya seorang nahkoda. Didalam kapal pesiar, terdapat nahkoda sebagai pemimpin, awak kapal sebagai seorang yang membantu nahkoda saat berlayar menuju tempat tujuan dan penumpang sebagai seorang yang harus diantarkan ke tempat tujuan.

Nahkoda tidak hanya bertugas untuk mengantar penumpang ke tempat yang dituju. Melainkan nahkoda juga akan memastikan para penumpangnya merasa nyaman dan aman, sehingga para penumpang memiliki pengalaman yang menyenangkan.  Dalam hal ini seorang nahkoda juga harus paham apa sekiranya yang bisa membuat para penumpang nyaman dan aman. Begitu juga dengan orang tua.

Perumpamaan tersebut layaknya nahkoda seperti seorang ayah yang memimpin, awak kapal seperti ibu yang membantu mendidik anak, dan penumpang seperti seorang anak yang harus diantarkan menuju cita-cita yang hendak diraihnya.

Idealnya setiap orangtua mengetahui informasi tentang tahapan perkembangan anak di setiap jenjang umurnya, sehingga orangtua akan semakin mudah mengetahui sejauh mana pencapaian tahapan perkembangan anak dalam setiap tahapan usianya.  Orang tua hendaknya memfasilitasi anak untuk menemukan bakat, minatnya, dan akhirnya mengantarkan anak menuju cita-cita yang hendak diraihnya.

Orang tua bukan hanya sekedar membandingkan anaknya dengan anak temannya/tetangganya/saudaranya. Seperti, banyak ibu-ibu muda yang gemar mengunggah foto perkembangan anaknya di media sosial, yang berujung pada munculnya beragam komentar (baik dan buruk) dari ibu-ibu lain yang memiliki anak seusianya. Hal ini memicu perdebatan yang pelik tentang perkembangan anak, karena para komentator berdebat dan saling membandingkan tentang perkembangan anak yang lebih unggul. Orang tua juga jangan puas diri karena kemampuan anaknya lebih unggul disebabkan fase yang dilewati anaknya terlampau lebih cepat dari anak yang lainnya.

Seharusnya, para orang tua tidak perlu risau dan khawatir dengan beragamnya komentar (baik dan buruk) tentang perkembangan anak, karena perkembangan anak itu berbeda-beda dan tidak bisa diukur dengan cara membandingkan dengan anak lain.

Namun yang terjadi dimasyarakat adalah masih banyak para orangtua yang belum mengetahui tahapan perkembangan anak. Banyak juga orang tua yang memiliki anak namun tidak menjadi orang tua untuk anaknya (Chatib, 2014). Orang tua merasa, tak perlu tahu mehanu karena menganggap tahapan perkembangan hanyalah dokter dan guru PAUD saja yang harus tahu. Mereka lupa bahwa setiap anak memiliki keunikan yang berbeda dan memiliki potensi yang beragam.

Hal ini artinya, setiap anak dengan anak lain tidak bisa dipukul sama rata. Orangtua cenderung melihat perkembangan anaknya dengan membandingkan. Harapannya orangtualah yang akan lebih mengerti akan tahapan perkembangannya. Pada usia berapa si anak bisa tengkurap, merayap, merangkak, bicara, melompat, dan sebagainya.

Dewasa ini, banyak sekali orangtua-orangtua muda yang berpendidikan tinggi. Slogan yang selalu dibicarakan adalah wanita berpendidikan tinggi. tujuannya untuk melahirkan generasi-generasi yang cerdas, bukan untuk menyaingi lelaki. Terbesit harapan besar dalam slogan tersebut, bahwa wanita berpendidikan tinggi akan mendampingi anaknya dan cenderung memiliki kesadaran terhadap pemahaman yang lebih tentang tahapan perkembangan.

Namun yang terjadi dimasyarakat sekarang adalah slogan tersebut hanyalah sebagai motivasi untuk para wanita yang terus belajar sesuai dengan keilmuan saja. Elly Risman (dalam Chatib, 2014) menyatakan bahwa orang tua bersekolah untuk menjadi ahli di bidang masing-masing, tetapi tidak belajar menjadi ahli sebagai ayah dan ibu.

Orangtua yang mempunyai pendidikan tinggi yang dibarengi dengan atribut (baca: jabatan yang tinggi pada kantor tempat mereka bekerja, background pendidikan, jenjang pendidikan tinggi, identitas pekerjaan dan status sosial) cenderung terjebak pada situasi yang menuntut mereka untuk berfokus pada hal tersebut, sehingga orang tua yang demikian sering kali lupa diri untuk menyadari akan perannya sebagai orang tua. Kesibukan mereka menjadi salah satu alasan untuk mengesampingkan peran menjadi orang tua saat dirumah.

Seperti, seorang ibu yang berpendidikan tinggi, bekerja di perusahaan ternama, memiliki jabatan tertinggi, memiliki status sosial tinggi, dan memiliki seorang anak yang merasa belum memiliki waktu untuk menstimulasi perkembangan anak, serta belum memiliki kesadaran akan pentingnya informasi tentang tahapan perkembangan anaknya.

Hal tersebut yang membuat mengesampingkan stimulasi untuk anak. Namun ketika saya pelajari fenomena ini lebih jauh, ternyata saya bertemu dengan beberapa fakta yang sangat menarik utuk diulas bersama. Ada juga para orang tua yang berpendidikan tinggi, tidak bekerja (baca: fulltime bersama anak) ternyata juga masih belum memahami tahapan perkembangan anak dan belum memiliki kesadaran akan pentingnya memberikan stimulasi tahapan perkembangan anaknya.

Pada suatu ketika saya dan suami menghadiri acara arisan (teman suami) yang berdomisili di Malang.  Teman-teman saya rata-rata adalah para orang tua muda. Anak-anak kami juga banyak yang seumuran, beda 1 sampai 3 bulanan. Para istri ada kerja dan banyak juga yang ibu rumah tangga. Kami saling bercerita tentang tahapan anak-anak, ada yang berkeluh kenapa anaknya belum bisa merangkak, menganggap anaknya tidak suka tengkurap akhirnya susah merangkak, belum mau berdiri karena belum punya alat pembantu (baby walker), pernah diare lebih dari lima kali dan hanya pergi ke tukang pijat bayi dan hanya manut sesuai intruksi saudara-saudara karena merasa lebih berpengalaman.

Dari percakapan kecil tersebut, saya hanya bisa menyarankan untuk membuka kitab besar yang berjudul tumbuh kembang anak, karena memang anak memiliki keunikan tersendiri, tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan perkembangan anak lain. Memiliki tahapan pencapaian tersendiri, dan semua tahapan perkembangan anak usia dini sudah terangkum cantik dalam buku tahapan perkembangan anak.

Pertanyaannya sekarang adalah maukah orangtua mencari dan belajar tentang hal tersebut. Disini lah letak bahwa orang tua perlu menyadari akan pentingnya kesadaran untuk terus belajar, membuka buku, membaca, berdiskusi tentang tahapan perkembangan anak. Orang tua perlu belajar tentang anaknya, bukan hanya melulu belajar tentang background pendidikan yang mereka tekuni (contoh:  kuliah arsitek, yang dipejari arsitek saja).

Akhirnya saya semakin penasaran sebenarnya indikator orangtua yang baik itu seperti apa sih? Meskipun ibu rumah tangga memiliki waktu lebih banyak dihabiskan dengan si buah hati masih belum cukup untuk mengantarkan anak nya berkembang sebagaimana tahapan perkembangannya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh miftahul jinan (2013) seberapa hebat keberhasilan anak-anak sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat komitmen yang kita berikan untuk mendukung mereka. Seberapa senang dan bahagianya mereka dalam menghadapi hidup ini sangat dipengaruhi oleh seberapa besar perhatian yang kita limpahkan kepada mereka.

Atribut yang melekat pada orangtua sudah selayaknya dilepas. Dalam hal ini orangtua harus lebih mengutamakan tahapan perkembangan anak. Anak-anak belum mengerti tentang cerita kesuksesan orang tua, anak-anak belum paham tentang bagaimana kesibukan orang tua. Anak-anak hanya mengerti tentang bagaimana ayah dan bunda bisa membantunya untuk mencapai satu tahapan perkembangan dalam hidupnya, seperti membantu merangkak, berbicara, berjalan dengan baik dan sebagainya sesuai jenjang usia.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh rekan saya yang memiliki kesadaran menjadi orang tua yang utuh. Orang tua perlu waspada terhadap “perasaan” lebih benar atau bahkan paling benar, mari terus belajar dan terus berbenah, semakin belajar, akan semakin sadar diri kita bukanlah apa-apa. Sebagai orang tua, selayaknya menyadari betul akan perlunya menjadi pribadi pembelajar hingga akhir hayat.

Adanya latar belakang tersebut, kami Omah bocah Annaafi’ merupakan lembaga pendidikan anak usia dini memberikan kesempatan orang tua untuk belajar mengenai MENJADI ORANG TUA melalui program SEKOLAH AYAH BUNDA yang diadakan sekolah secara rutin. Program tersebut bertujuan untuk mewadahi orang tua dan guru untuk mempunyai komitmen bersama dalam rangka bekerjasama menstimulasi anak.

Omah Bocah Annaafi’ ikut merangkul ayah bunda agar selalu aktif dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Peran sekolah hanya membantu dan memfasilitasi, karena sekolah hanyalah media perantara yang dipilh orangtua untuk membantu dalam stimulasi setiap tahapan perkembangan anak. Terlepas dari orangtua bekerja ataupun menjadi ibu rumah tangga, orang tua tetap harus memahami tahapan perkembangan dan terlibat dalam pengasuhan anak.

Orang tua hendaknya melepaskan semua atribut (baca: jabatan yang tinggi pada kantor tempat mereka bekerja, background pendidikan, jenjang pendidikan, identitas pekerjaan dan status sosial) ketika orang tua sedang berada dirumah. Setiap orang tua boleh dipuja dan dipuji diluar sana, namun saat dirumah bersama anak-anak. Orang tua tetaplah berperan sebagai orang tua.

Dengan adanya kesadaran tersebut harapannya orang tua lebih paham akan keunikan-keunikan anak melebihi, memahami kebutuhan psikologis anak, memahami tugas tahapan perkembangan.

Akhirnya layaknya nahkoda, orangtua hendaknya mampu mengantarkan para penumpang sesuai tujuan masing-masing dengan sangat nyaman dan aman.

Daftar Pustaka
Christina, Ani. 2012. Sekolah Menjadi Orang Tua. Sidoarjo: Filla Press
Musbikin, Imam. 2012. Pintar Mengatasi Tumbuh Kembang Anak. Yogyakarta: Flashbooks
Chatib, Munif. 2014. Orang Tuanya Manusia. Bandung: Kaifa

Kuliah Online Beasiswa

0

KulOnBe (Kuliah Online Beasiswa)
FREE alias Gratisss….!!!

Bagi kamu yang berminat bagaimana sukses menerobos beasiswa LPDP sampai ke luar negeri, yuk silahkan bergambung bersama kami dalam kegiatan bertajuk KULIAH ONLINE BEASISWA

Materi

Beasiswa LPDP
Tips &Trick menulis essay, test substantif
Sharing pengalaman
Mendaftar Universitas LN

Daftar               : 29 MEI – 30 MEI
Waktu Kuliah     : Rabu, 31 MEI 2017
Jam                  : 15.00 – 16.30 WIB

Pemateri

Irham (Alumni LPDP Jurusan Linguistics, Radboud University Nijmegen, the Netherlands)
Satia P. Zen, (On going awardee LPDP, Doctoral in Education and Society, Faculty of Education, University of Tampere, Finlandia)

Cara daftar

Datang ke stand BAZAR SEI di masjid UNISMA + ngisi Nama & No. WA di formulir yang telah disediakan ( kuota; 100 orang) atau
Share text ini minimal ke 7 group

Kirim bukti SS dengan format chat; “KulOnBe_Nama_Instansi/Perguruan Tinggi_email_no. WA” (kuota 150 orang)

Ke WA 085707314219.

Buruannn.  Ajakin temenmu. Kapan lagi kalau bukan sekarang…..!!!
Mari merapat ke Bazar kami dengan kualitas Ajib. Harga gak rumit.

BAZAR RAMADHAN SEI. BAZAR Berbagi Kebahagiaan

Tunggu info next KulOnBe dengan Negara yang berbeda ya….????????

Salam sukses penuh berkah…!!!

Diselenggarakan oleh Sabilillah Enterpreneur Institute. Sebuah kelompok muda di bawah Lazis Sabilillah Malang yang berusaha mengembangan diri untuk terlatih menjadi pewirausaha sejak dini sehingga ketika anda lulus kuliah, anda tidak ragu lagi bagaimana mengembangkan bisnis yang sudah anda rintis atau memulai dari bisnis baru tetapi dibekali dengan pengalaman yang ada di SEI.

Ketika Guru Salah Memaknai Peran Menjadi Guru, Apa Jadinya Pendidikan Ini ?

0

Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Perannya begitu penting dalam keterlibatan didunia pendidikan, karena gurulah yang langsung berinteraksi dengan peserta didik. Sukses tidaknya pendidikan dapat dicerminkan bagaimana peran aktor pendidikan (baca: guru) dalam memainkan perannya. Guru seharusnya sadar betul tentang peran pentingnya dalam keberhasilan dunia pendidikan.  Bahwa perannya tidak hanya sekedar mengajar (baca: transfer of knowledge), namun guru juga memiliki peran strategis untuk mendidik akal dan budi peserta didik, membimbing pembentukan karakter, menjadi fasilitator kebutuhan belajar anak serta memiliki inovasi dalam proses pembelajaran di kelas.

Faktanya, banyak guru di negeri ini masih belum mencerminkan sebagai guru ideal yang mampu merangsang anak untuk memiliki karakter yang baik.  Hal ini tercermin dari banyak guru yang hanya berfokus pada pencapaiapan secara akademik para peserta didiknya, namun lupa untuk menyeimbangkan aspek sikap nilai dan moral (baca: karakter). Hal tersebut juga tercermin betapa banyaknya peserta didik yang belum memilki karakter yang luhur, banyaknya pemberitaan terkait merosotnya moral anak bangsa.

Jika mengacu pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, beliau mengajarkan kepada kita semua bahwasannya peran guru itu tidak hanya sekedar pendidik akademis, namun beliau menjelaskan bahwa guru itu sebagai pamong. Artinya guru berperan sebagai seorang yang mampu membimbing anak untuk berperilaku baik. Guru mengajak anak berdialog, memberikan kesempatan anak untuk mengalami lalu mendorong anak untuk berfikir tentang perilaku baik dan buruk melalui pengalaman langsung.

Contohnya, mengajarkan anak-anak tentang pendidikan karakter. Seperti bagaimana cara menyelesaikan konflik, bernegosiasi dengan teman sebaya, berani beragumen, mengajarkan membuat kesepakatan kelompok, serta menaati aturan dalam kelompok tersebut. Mengajarkan karakter tidak bisa hanya dengan pengetahuan text book semata. Tidak hanya sekedar anak mampu menjawab pertanyaan tentang apakah bertengkar itu baik atau buruk menurut kalian? Pendidikan karakter juga bukan hanya sekedar bisa menghafal perilaku mana yang baik dan buruk.  Bukan itu pendidikan karakter yang dimaksud. Pendidikan karakter itu merupakan proses agar peserta didik mampu memahami, melakukan, mengalami, memaknai perilaku baik dan buruk by experience.

Jika ingin mengajarkan tentang bagaimana menyelesaikan konflik, maka peran guru sebaiknya tidak hanya memberi pengetahuan tentang perilaku menyelesaikan konflik, tapi guru juga harus bisa memberikan kesempatan kepada anak agar anak memiliki pengalaman menyelesaikan konfliknya dengan teman sebaya. Lalu guru juga dapat berperan untuk membimbing anak untuk memaknai pengalaman tersebut sebagai pengalaman yang berarti bagi anak. Jadi anak diajarkan tentang pendidikan karakter secara langsung, bukan hanya sekedar seberapa mampu anak bisa menjawab tentang pengetahuannya menyelesaikan konflik.

Mendidik karakter secara utuh itulah yang telah kami lakukan kepada anak-anak disekolah. Seperti pada saat bermain. Guru ingin mengajarkan tentang pengetahuan bagaimana agar anak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan teman sebayanya. Sering kali jika guru terjebak pada kondisi anak-anak yang sedang konflik verbal (adu argumen, berebut mainan, berebut tempat), guru akan cenderung melerai, menasehati anak tersebut, dan bahkan yang paling parah adalah menghukum anak. Guru lupa bahwa melalui pengalaman berkonflik tersebut, ada nilai moral yang bisa disampaikan kepada peserta didik.  Guru juga sering kali lupa untuk memberikan kesempatan dan membimbing anak agar mereka memiliki pengalaman untuk menyelesaikan konfliknya sendiri.

Padahal jika guru menyadari perannya sebagai “pamong” bagi peserta didik, maka guru tersebut akan memberikan kebebasan kepada anak untuk menyelami dinamika konfliknya sendiri, sehingga anak akan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana seharusnya ketika bernegosiasi dengan teman saat salah satu anak memperebutkan mainan yang sama-sama mereka inginkan.  Anak akan belajar bagaimana menyampaikan argumennya sendiri ketika guru mengajak berdialog, anak juga akan belajar membuat kesepakatan bersama melalui proses dialog. Disni guru bukan diartikan hanya membiarkan mereka bertengkar, namun guru diartikan sebagai seeorang yang memiliki peran untuk mendidik dan membimbing anak agar mereka memahami bahwa perilakunya bertengkar adalah perilaku yang tidak baik melalui pengalaman pertikaian tersebut, lalu guru bersama anak berdialog tentang pengalaman konflik tersebut, serta guru mendorong dan merangsang anak untuk berfikir bagaimana cara menyelesaikan konflik. Sehingaa pengalaman terbimbing tersebut merupakan pembelajaran berharga bagi anak.  Anak dapat diajak berdialog untuk memaknai secara bersama-sama, bukan diajak untuk sekedar how to know tentang apakah bertengkar itu adalah perilaku baik dan buruk. Tapi anak diajak bertumbuh secara akal budinya.

Jika demikian, peran guru bukan lagi hanya berfokus pada sekedar transfer of knowledge tetapi juga guru harus mampu berperan sebagai seseorang yang dapat melakukan transfer of value kepada peserta didik. Jadi, ketika seorang guru salah memahami dan salah memaknai perannya sebagai guru, maka tidak heran jika salah pula caranya dalam mendidik anak.

Sarjana dan Phobia Kembali ke Desa

0

Tidak usah mengumpat kenapa pendidikan formal setinggi apapun tidak pernah mencetak milyader meski pakar ekonom sekalipun. Mentok jadi mentri perekonomian itu pun jika lihai berpolitik. Tapi bukan tujuan materi dari pendidikan, lebih dari itu pendidikan menuntut kemaslahatan dan perubahan bagi setiap jiwa yang terdidik. (Hahaha ojo abot2 ah..).

Desa dalam kurun waktu cukup lama telah menjadi mitos bagi para terdidik. Terlampau banyak sarjana yang takut kembali ke desa dengan ribuan dalih menakutkan karir. Sedang mereka dikirim dari desa merantau ke kota dengan harapan dapat merubah tempat kelahiranya lebih beradab dan lain-lain. Sedang masyarakat menuntut jasa tidak perduli ijazah mereka. Keberanian kembali ke desa dari kalangan terdidik terlampau rendah membuat perkembangan dan pembangunan desa melambat. Desa dikuasai orang-orang lama dan kerap kali dicokoli penguasa lokal yang korup dan lalim karena menganggap warganya petani udik yang tidak terdidik awam perkara dana desa dan segala fasilitasnya.

Pendidikan universitas tidak mempersiapkan peserta didik untuk terampil mengabdi bagi daerah tertinggal. Nyatanya kampus hanya mempersiapkan calon buruh bagi perusahaan dan tenaga pengajar bagi sekolah-sekolah bergaji mahal. Walhasil, kota semakin sesak dan desa semakin sepi. Generasi petani muda kian berkurang, era import segera datang.

‘Kembali ke desa’, mindset tersebut yang harus ditanamkan pada setiap lembaga perguruan tinggi negara. Dengan harapan kesejahteraan, pembangunan, peradaban merata. Jika saja generasi android macam saya sadar dan berani berpikir ‘out of the box’ mungkin jokowi tidak usah terjun ke daerah tertinggal dan membagikan sepeda.

Refleksi hari jual-beli ijazah nasional.

Tulisan diposting ulang dari facebook penulis seijin penulis

Sari Wortel

0

Sari Wortel merupakan salah satu minuman yang berasal dari sayuran yang populer diseluruh dunia. Ia sangat dikenal akan kandungan vitamin A nya yang sangat tinggi. Selain harganya cukup ekonomis, wortel adalah salah satu makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Selain digunakan sebagai bagian dari kuliner, wortel juga banyak dikonsumsi dalam bentuk segar atau di buat jus.

Outbound

0

Outbound adalah suatu bentuk dari pembelajaran segala ilmu terapan yang disulasikan dan dilakukan di alam terbuka atau tertutup dengan bentuk permainan yang efektif, yang menggabungkan antara intelegensia, fisik dan mental. Lokasi yang ada adalah Wisata Air Sumber Maron di sekitar Gondanglegi Kabupaten Malang. Dekat dari Stadion Kanjuruhan