Mengulik Gagasan Bisnis Online dan Geopolitik Bossman Sontoloyo

0
299
Sumber gambar: Fanspage Mardigu WP (@wowiek)

0Shares
0

Siapa sangka perang komentar dan saling serang antara buzzer pemerintah dan para tokoh pengritik pemerintah menuai kubu-kubu yang sama militan. Belakangan ini efek stay at home mengakibatkan penggunaan media sosial dan internet semakin meningkat.Tak ayal, muncul satu sosok yang saya pribadi setelah menyimak gaya komunkasi dan pemaparan terhadap suatu topik sangatlah menarik. Seperti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kampusdesa.or.id–Adalah Mardigu Wowiek Prasantyo. Seorang yang dulunya kerap diundang sebagai pakar terorisme, belakangan ini mendadak menjadi ramai diperbincangkan publik. Videonya selalu viral baik di akun instagram TV maupun kanal youtube miliknya. Selain percaya teori konspirasi pandemi virus corona, ia sering mengangkat pembahasan cenderung menyentil kebjakan-kebijakan pemerintah yang dirasa kurang tepat sasaran. Namun ia tidak hanya mengkritik, tawaran dan gagasan-gagasan segar juga selalu ditawarkan sebagai wujud cinta dan rasa bela negara yang ia miliki. Bagusnya, ia tidak pernah serampangan mengutip dari situs-situs konspirasi. Landasan datanya dapat dipertanggungjawabkan karena diambil dari hasil penelitian koleganya baik di dalam maupun luar negeri.

Bisnis Online Tidak Ada Matinya

Dalam satu video pembisnis kelahiran Malang ini pernah menyatakan bahwa bisnis yang tidak ada matinya dan peluangnya besar ke depan nanti adalah melalui platform online. Dalam dunia bisnis di dunia virtual, Mardigu memang juga dikenal sebagai orang pertama yang berani mendirikan trading bitcoin di Indonesia. Meski sempat ditentang atau dapat semprit oleh BI (Bank Indonesia) dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) selaku regulator, ia tetap menggebu dan memperjuangkan apa yang telah diyakini. Akhirnya sejak awal September 2019, uang digital atau cryptocurrency dengan nama Cyronium telah mendapatkan izin beroperasi dan resmi diawasi oleh OJK.

Melalui PT Santara Daya Inspiratama, bisnis yang juga dikenal dengan blockchain ini membuka sayap untuk menggait para pelaku bisnis UKM di Indonesia. Program urun dana investasi (Equity Crowdfunding) ia tawarkan. Banyak yang gabung terutama di kalangan anak muda dan pembisnis pemula. Sampai saat ini Santara diklaim sebagai Equity Crowdfunding terbesar pertama di Indonesia.

Tidak sampai di situ saja, pemrakarsa Modern Monetary Theory (MMT) ini pernah mengatakan “negara-negara di dunia, utamanya negara Muslim, memang sedang berupaya melakukan dedolarisasi atau membuang dolar. Mereka mempertimbangkan untuk menjadikan dinar emas sebagai alat pembayaran Internasional.”

Ini ide gila dan konkrit. Dulu saya pernah menyimak pidatonya former prime minister Malaysia Tun Mahatir yang memiliki cita-cita yang sama. Ketika negara muslim di luar sana berkowar-kowar alias “mewacanakan”, di Indonesia ternyata sudah mulai digerakkan. Itu artinya dunia siap menunggu Dinar emas menjadi mata uang Global. Ke dapan akan tiba di mana era mata uang emas kembali bersinar lagi menggantikan Dollar.

Oleh karenanya, pada tanggal 20 Mei 2020 bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, Mardigu Wowik meluncurkan aplikasi dengan dengan nama Dinaran. Sebuah platform untuk menabung atau investasi emas dan bisa dicairkan sewaktu-waktu. Platform anti inflasi ini membuat Rupiah semakin kuat dengan mengoptimalkan transaksi Rupiah bernilai emas. Jika emasnya naik maka nilai rupiah akan ikut naik. Setiap hari aset emas yang disimpan akan mengalami naik turun sesuai dengan naik turunnya harga emas dunia. Dalam arti Dinaran memiliki fungsi bahwa Rupiah yang ditabung memiliki underlying emas.

Ada satu lagi konsep yang tidak kalah keren, yaitu Viralmu.id. Sebuah brand tool online yang membantu para penjual online saling mempromosikan jaulannya secara gratis. Sistem e-Commerce ini memanfatkan gerakan sosial dengan cara teman mengendorse teman. Tanpa disadari mikro dan nano influencer yang biasa share dengan suka-suka ber[pensi sebagai promoter bisnis.

Baca Juga:

Maka, Viralmu.id selain bergaransi viral dan juga gratis ini mempunyai keunggulan di antaraya promoter dapat dipercaya, brand yang ditawarkan relevant, massa di media sosial yang jumlahlahnya sangat besar dan loyal tanpa dibayar, mereka akan merekomendasikan atau mendukung brand dan produk secara publik sehingga dapat mengarahkan teman dan follower untuk membeli.

Itu beberapa platform online dengan berangkat dari keresahan dan ingin hadir di tengah-tengah masyarakat menawarkan solusi dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui strategi bisnis yang lebih cerdas. Melalui gebrakan-gebrakan tersebut, pengusaha real-estate yang yang juga dijuluki Presiden Sontoloyo ini sekarang memiliki massa yang cukup militan. Follower di media sosial (telegram, fanspage, dan instagram) dan subscriber youtubenya meroket drastis.

Menjadi sosok Maestro Bisnis Indonesia, ia tidak pernah pelit ilmu. Selain via online, tips-trik menjadi konglomerat ia share di berbagai kesempatan offline. Seperti Kopdar Saudagar Nusantara, Mentoring Bisnis Pekanan, dan lain-lain. Beberapa yang mengikuti kelas bisnis Mardigu ini sudah berhasil dan mandiri. Bahkan membuka pelatihan bisnis untuk para pembisnis pemula juga. Selain bangga melahirkan banyak mentee yang sukses, ujungnya jadi sebuah amal jariyah tersendiri.

Ide Memajaki Kapal Asing di Laut Indonesia

Topik lain yang ingin saya ulas adalah terkait paradigma kekuatan nasional dalam geopolitik dunia. Pada suatu kesempatan lain, mantan pegiat di dunia intelijen dan shadow ini kerap menyinggung tentang geopolitik dan ketahanan nasional. Kritikan keras dan pedas bahkan sedikit radikal terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang lemah dalam geopolitik dan tidak mampu membayar hutang negara sering diterjemahkan negatif berbagai kalangan (terutama kubu pro penguasa). Hal ini juga yang menjadikan ketir-ketir sendiri oleh para barisan di belakang Mardigu saat ia diserang oleh buzzer politik untuk melemahkan dan mengkounter pernyataan-pernyataannya.

Ada satu video menarik yang saat itu saya tonton di instagramnya bossman, mengupas tuntas startegi pelunasan hutang negara dengan cara memajaki kapal asing yang lalu lalang melewati perairan/laut Indonesia. Negara-negara semisal Australia mau ke Tiongkok pasti melewati selat-selat yang menjadi jalur pelayaran dan perdagangan internasional sejak jaman Kerajaan Samudra Pasai. Naasnya, ia menyayangkan peluang ini tidak diambil oleh pemerintah.

Ketika dipajaki dengan satu dollar pun sudah dapat dipastikan akan membantu meningkatkan devisa negara dan Indonesia akan berdaulat. Namun selama ini gratis dengan alasan normatif yaitu hubungan diplomasi baik antar negara. Kalau bahasanya bossman, “Presiden nya kita saat ini orang baik sih”. Padahal jika negara-negara tersebut disuruh memilih daripada putar balik mau ke Utara melalui perairan Papua Newguinea pasti ongkosnya lebih mahal dan rugi triliuan dollar. Poinnya adalah dikarenakan kurang tegas dan tidak beraninya pemerintah Indonesia dalam mengambil sikap terhadap dunia internasional.

Sebagai salah satu yang suka mengikuti diskusi tergait geopolitik, salah satunya konflik batas perairan, dan sengketa pulau. Saya jadi teringat pernah menghadiri seminar di KBRI Bangkok mengundang pakar geopolitik dan batas maritim internasional Dr. I Made Andi Arsana yang juga dosen Geodesi UGM. Akhirnya saya mention di kolom komentar @madeandi. Tidak dibalas sih, tapi beberapa hari kemudian saya baru tahu kalau Pak Andi membuat satu video yang berjudul “Memajaki Kapal Asing di Laut Indonesia?”.

Dari video ini saya jadi tahu jika selat Malaka diportalin dan negara lain yang masuk dimintai pajak ternyata tidak diperkenankan. Menurut United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS) menjelaskan bahwa kapal asing yang masuk peraian negara lain diperbolehkan asal tidak melanggar aturan.

Dengan topik yang sama, penulis buku “Jangan Pernah Berkata Saya Tidak Pernah Memperingatkan Anda” ini sempat menghadiri kajian jamaah Maiyah Cak Nun lalu mengisi kuliah geopolitik di sana—hingga yang paling fenomenal ketika berbicara dalam podcast Deddy Corbuzier. Ia bertanya tentang “nation interest” pada studi kasus Indonesia mengambil Freeport dan dicaploknya nickel Morowali. Ia menyatakan bahwa ini adalah political gambit atau economic gambit yang blunder.

Menurutnya, para insan Indonesia kebanyakan pusing baca pelajaran geopolitik dan geostrategi. Ia bilang pelajaran seperti ini peminatnya sedikit sekali. Bahkan jauh lebih sedikit dari pembahsan tentang ekonomi. “Apa masih perlu di teruskan atau ganti topik yang popular saja?” kelakarnya.

Begitulah sosok dan pemikiran seorang Mardigu Wowiek Prasantyo, Bossman dan Presiden Sontoloyo dengan berbagai pro-kontra nya. Teman saya pernah bilang “Mardigu pasti ada niat di balik speak-up nya. Yang pada akhirnya untuk kepentingan bisnisnya.” Terlepas dari itu, saya pikir setiap orang sah-sah saja menilai. Karena Mardigu sendiri tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti dan mengamini setiap apapun yang ia lontarkan. Mungkin dugaan saya, gaya komunikasi yang enak. Bahasa-bahasa yang lugas dan berbobot serta celetukan-celetukan guyon yang ia suguhkan menjadi pendengar maupun penonton suka. Kalau tidak salah, ia memang jago skill komunikasi dan micro expression.

Tidak heran semua videonya membius jutaan pasang mata dan selalu masuk trending. Bidikan strategis ekonomi untuk Indonesia yang selalu ia perjuangkan dengan dalih “jika saya diberi mandat” memunculkan spekulasi banyak kalangan kalau ini adalah bagian dari salah satu manuver untuk maju di pilpres 2024 nanti. Akan tetapi, apapun itu saya sebagai akademisi yang tentu suka ilmu-ilmu baru dan topik-topik menarik untuk diangkat dalam forum diskusi berniat selalu ambil manfaat dari apa yang Bossman sampaikan.

Jikalaupun nanti ia benar-benar maju itu adalah hak konstitusi sebagai warga negara. Kalau terjadi pasti seru juga. Pesaing beratnya Sandiaga Uno yang sama-sama getol di bidang bisnis dan strategi ekonomi. Namun jika tidak, saya pribadi ingin mencontoh kedermawanannya melalui Rumah Yatim Indonesia dengan kurang lebih 10.000 anak asuh. Pantas saja, Mardigu yang juga mengidolakan Bill Gate dalam soal filantropi rupanya adalah masih keturunan ndalem Ponpes Sidogiri Pasuruan. []