Melampaui Taksonomi Bloom dengan Belajar Mr Steam

0
311
Mia Enggal Permata, seorang pendidik PAUD sekaligus instruktur, Owner dan pengembang BBM (Belajar Bersama Mia)

High Order Thinking Skill (HOTS), melengkapi jargon Bloom (kognitif, afektif, dan psikomotorik) menjadi tren terkini dunia pendidikan. Meski masih berjibaku dengan perabaan format dan hasil HOTS yang masih saja terpaku pada tes berbasis teks, ada provokator untuk melengkapi kemampuan anak belajar, yakni MR STEAM (Moralitas, Religius, Sains, Teknologi, Enginering, Art dan Matematik), sebuah ide dari pendiri Sekolah Garasi, Kentar Budhojo.

Kampusdesa.or.id–Seperti yang pernah saya unggah, puluhan tahun kita dijajah dengan pendidikan yang berorientasi pencerdasn individual dengan tokohnya Bloom yang terkenal dengan tiga ranahnya yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Seorang individu akan melakukan sebuah perilaku dengan baik bila dia memiliki pengetahuan tentang perilaku yang dilakukan, memiliki kemampuan atau ketrampilan untuk melakukan dan memiliki sikap positif terhadap perilaku tersebut.

Taksonomi Bloom ini telah menjadi kerangka pendidikan kita puluhan tahun. Pembelajaran selalu diarahkan untuk aspek kognitif berupa kemampuan berpikir, kemampuan afektif dan kemauan untuk bertindak. Tanpa didasari pengetahuan tentang sebuah perilaku yang akan atau harus dilakukan, maka tidak mungkin seorang individu akan bisa melakukannya dengan baik. Namun pengertahuan saja tanpa kemampuan dan ketrampilan (psikomotor) juga tidak mungkin melakukan dengan baik, seperti tahu tentang berenang secara teori sampai hafal tanpa pernah mencoba berenang, tahu tentang HP, komputer tapi tidak bisa menggunakannya.

Kedua syarat itu belum juga cukup. Perlu syarat ketiga yaitu afektif berupa sikao terhadap obyek tersebut. Banyak orang yang tahu HP, komputer, dan bisa mengoperasikan namun tetap tidak mau menggunakannya. Contoh hasil penelitian Bank Dunia tentang hasil pelatihan guru-guru dalam PLPG, mereka telah diberi pengetahuan dan kemampuan untuk menyelenggarakan pembelajaran yang menasrik, dan juga lulus ujian teori maupun praktek, namun setiba di sekolahnya kembali, tetap tidak mau menerapkan hasil pelatihannya.

Jadi ketiga ranah Bloom harus dicapai. Sayangnya pendidikan kita lebih menekankan pada ranah kognitif yang dominan, kemudian ranah psikomotor dalam proporsi yang kurang dan paling rendah adalah membina sikap positif terhadap materi pembelajaran yang disajikan,

Negara-negara Barat, terutama USA berhasil dengan pendidikan berbasis taksonomi Bloom. Lulusan pendidikan bisa mencapai tujuan sesuai taksonomi Bloom dengan baik. Lulusan pendidikan memiliki pengetahuan yang mendalam, ketrampilan yang tinggi dan sikap positif yang penuh motivasi untuk sukses.

Negara-negara Barat, terutama USA berhasil dengan pendidikan berbasis taksonomi Bloom. Lulusan pendidikan bisa mencapai tujuan sesuai taksonomi Bloom dengan baik. Lulusan pendidikan memiliki pengetahuan yang mendalam, ketrampilan yang tinggi dan sikap positif yang penuh motivasi untuk sukses. Sesuai dengan jiwa orang Barat yang individualis dan liberalis, pendidikan berbasis Bloom ini bisa menjadikan manusia-manusia barat yang memiliki kompetensi tinggi, berdaya saing tinggi dan siap bersaing dalam masyarakat yang menganut free fight liberalism.

Namun pada tahun-tahun 1970an, saat pertumbuhan ekonomi pesat, perkembangan dunia industri pesat, tampak ada gejala yang memprihatinkan. Tingginya angka bunuh diri dan perceraian, meningkatnya pasien di layanan-layanan psikologis karena stress akibat alienasi sosial yang tinggi, mayoritas orang-orang Barat bekerja untuk dan demi dirinya sendiri. Beberapa pakar pendidikan aliran humanis mempertanyakan gejala ini, dan mereka menoleh ke dunia Timur seperti Thailand, India, termasuk Indonesia (kita boleh bangga dong).

Ada yang menarik dari temuan pada masyarakat bangsa-bangsa Timur, yaitu adanya jiwa dan rasa kebersamaan yang tinggi dalam mayarakatnya. Seseorang apabila mengalami tekanan sosial atau psikologis memiliki buffer (penyangga) atau bemper (kayak pada mobil) kehidupan sosial di sekitarnya,

Menurut mereka selain to know (kognitif pada Bloom) to do (psikomotor pada Bloom) dan to be (affektif pada Bloom), dipertlukan satu lagi yaitu belajar hidup dalam kebersamaan (to learn to life together).

Atas dasar itu para pakar pendidikan yang tergabung di UNESCO merekomendasikan ranah ke empat yang perlu ditambahkan ke Taksonomi Bloom. Menurut mereka selain to know (kognitif pada Bloom) to do (psikomotor pada Bloom) dan to be (affektif pada Bloom), dipertlukan satu lagi yaitu belajar hidup dalam kebersamaan (to learn to life together).

Kitapun yang sebenarnya sudah lama melaksanakan belajar tentang hidup dalam kebersamaan dan tergila-gila pada Bloom, juga kembali balik kucing dengan mengadopsi keempat ranah dari Unesco tersebut. Sayangnya dalam kurikulum perguruan tinggi Indonesia, keempat ranah itu diberikan secara terpisah, ada matakuliah-kuliah teoritik dimasukkan to know, mata kuliah yang ada praktikumnya dimasukkan ke to do, kemudian ada matakuliah-matakuliah yang dimasukkan dalam kelompok to be dan to life together. Menurut saya pengkateorian secara terpisah matakuliah seperti ini tidak tepat, sejak awal penyusunan kurikulum berbasis KKNI saya selalu berpendapat sebaiknya semua matakuliah mengandung ke empat kategori UNESCO tersebut.

Menurut saya ada satu landasan lagi diperlukan yaitu landasan moral dan agama. Bila to know, to do, to be and to life together itu bebsa nilai, sehingga bisa baik dan buruk secara moralitas dan agama

Selain itu menurut saya, keempat ranah dari UNESCO itu masih kurang. Bisa saja seseorang hidup dengan baik di kelompoknya, namun belum tentu kelompok itu baik, misalkan kawanan perampok, penjahat atau yang lain. Menurut saya ada satu landasan lagi diperlukan yaitu landasan moral dan agama. Bila to know, to do, to be and to life together itu bebsa nilai, sehingga bisa baik dan buruk secara moralitas dan agama.

Baca juga: Pendidikan seni sebagai pendidikan karakter

Ada perbedaan antara moralitas dan agama. Moralitas berlaku secara universal, siapa saja, bangsa apa saja dan agama apa saja. Misalkan moral kejujuran, sportif, setia kawan dan sebagainya. Sementara agama juga menyangkut moralitas namun dengan muatan-muatan ajaran dan ritual-ritual sesuai dengan ajaran agama yang bersangkutan,

Mengapa saya bedakan antara moral dan agama, karena ada juga aliran-aliran kepercayaan yang tidak tergabung dalam salah satu agama yang ada. Di samping itu ada juga moralis tapi tidak masuk agama manapun sebagaimana pernah saya unggah pertemuan saya dengan profesor Jerman yang sedang mencari Tuhannya.

Tingkat kemampuan aplikasi dari mata pelajaran dalam kehidupan keseharian sangat rendah karena pembelajaran kita penuh dengan hafalan semata tanpa memahami makna sesungguhnya. Karena itu pembelajaran harus bermuatan HOTS (High Order Thinking Skill), di mana siswa mencapai ketrampilan berpikir tingkat tinggi

Perjalanan sejarah terus berlanjut, Ternyata dalam evaluasi PISA (Programme for International Student Assesment). Indonesia selalu menduduki ranking bawah. Tingkat kemampuan aplikasi dari mata pelajaran dalam kehidupan keseharian sangat rendah karena pembelajaran kita penuh dengan hafalan semata tanpa memahami makna sesungguhnya. Karena itu pembelajaran harus bermuatan HOTS (High Order Thinking Skill), di mana siswa mencapai ketrampilan berpikir tingkat tinggi.

Baca juga: Mengembangkan Pendidikan Segar Rasa

Sebagai implementasi HOTS maka dirancanglah pembelajaran yang bersifat STEM (Science Technology, Enginering and Mathematic) yang dirasa sangat kurang dalam pembelajaran kita. Ini sesuai dengan kondisi era 4.0 yang memerlukan STEM secara mutlak.

Kelompok humanis memasukkan satu unsur lagi Art, karena kehidupan tanpa seni adalah hampa, sehingga jadilah pembelajaran yang lebih hidup berwarna-warni. Dengan dimasukkan Art maka akronimnya adalah STEM A, atau STEAM.

Seorang sahabat yang sudah menjadi seperti anak saya sendiri, Mia Enggal Permata, seorang pendidik PAUD sekaligus instruktur, Owner dan pengembang BBM (Belajar Bersama Mia) merasa resah melihat pembelajaran yang hanya bercorak STEM A. Menurutnya ada yang hilang bagi bangsa Indonesia kalau pembelajaran hanya ditekankan pada STEM A. Hal itu dipaparkan oleh mbak Mia Enggal Permata di depan Simposium Penanaman Nilai-nilai Pancasila di Malang bulan September 2019 lalu.

Menurut mbak Mia, tanpa R (eligius) maka bisa kehilangan kendali karena STEM A itu bebas nilai, bisa baik dan bisa pula buruk dilihat dari standar ajaran agama, karena itu ditambahkan R pada awal untuk dasar semuanya sehingga menjadi R STEM A

Dengan demikian saya menggabungkan ke semuanya dengan belajar bersama MR STEAM, yang merupakan akronim dari Moralitas, Religius, Sains, Teknologi, Enginering, Art dan Matematik.

Ayo Belajar bersama MR STEAM!

Turen, 05 Oktober 2019