Jumat, April 10, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 95

Gerakan Pendidikan yang Memanusiakan ; Yuk Bikin Resolusi 2018 dengan Menulis Buku

0

Bapak/Ibu Sekalian, Konvensi Pendidikan V yang sudah terselenggara pada Sabtu, 30 Desember 2017 di Gedung DPRD Kabupaten Pasuruan adalah barometer giat memperluas perubahan pendidikan yang memanusiakan. Para pelaku pendidikan berkumpul untuk saling mengupayakan secara mandiri, tanpa tetek bengek membuat proposal di sana sini atau menunggu anggaran pemerintah, adalah tidak lain bertujuan membangun peluasan praktik-praktik pendidikan yang memanusiakan. Kegiatan ini adalah gawe dari Ojo Leren Dadi Wong Apik (OLDWA).

Kemeriahan Partisipan Konvensi Pendidikan V di Gedung DPRD Pasuruan

Di antara yang hadir ada Sekolah Dolan. Sekolah yang desainnya dirancang memfasilitasi anak-anak dan orang tua yang ingin berkembang di luar sekolah formal. Anak bisa merancang tujuan belajarnya bersama orang tua. Mereka difasilitasi membangun capaian pembelajarannya berdasarkan keinginannya sendiri. Orang tua terlibat dalam membantu merencanakan proses belajarnya. Anak dan orang tualah pemilik kurikulum. Sekolah Dolan memfasilitasi dan mengapresiasi hasil belajarnya.

Menariknya, setiap ujian semester, siswa di Sekolah Dolan diberikan kesempatan untuk mempresentasikan produk hasil belajarnya. Cukup bervariasi karena mereka belajar dari keinginan mereka sendiri dan berkarya dari apa yang mereka punyai (potensi diri) tentunya dibantu oleh orang tua. Artinya, sukses dan tidaknya ada belajar sangat ditentukan juga oleh peran orang tua dalam memberikan dukungan belajar anak sehingga anak mampu menapaki tahap-tahap belajar yang sesuai dengan potensi dan kondisi yang dialaminya. Ini yang dilakukan oleh Lukman Hakim, seorang pemilik Sekolah Dolan di Malang.

Ada juga PAUD Bocah An-Nafi’ Malang yang sudah mengapresiasi anak-anaknya dengan keunggulannya masing-masing. Penilaian anak tidak lagi seragam karena kalau sama maka akan mendiskriminasi satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, setiap keunggulan anak harus diapresiasi. Potensi anak tidak harus diseragamkan tetapi keragaman potensi diapresiasi dan diberi penghargaan satu-satu. Setiap anak di akhir semester atau wisuda PAUD, setiap anak adalah juara. An-Nafi datang dengan rombongan ustadzahnya.

Nah, ada yang berbagi buku gratis. Buku Menejemen Najmah, seorang Kepala MTs NU Pakis Malang yang berhasil mendobrak kemandekan madrasah hingga mendapat predikat Akreditasi A. Perubahan madrasah akhirnya terpulang pada revolusi manajemen madrasah itu sendiri. Ada juga display saling berbagi inspirasi dan bisa konsultasi gratis. Pokoknya seluruh inspirasi dari berbagai pengalaman pelaku pendidikan ditumpah ruahkan di Konvensi Pendidikan V adalah provokator yang bergerak untuk sebuah visi pendidikan yang memanusiakan.

“Mereka yang hadir dari tingkat Pusat, Pemerintah daerah, motivator, provokator hingga pendamping belajar dipelosok desa. Mereka bersepakat akan berbuat dan aksi nyata di daerahnya masing masing karena kami yakin saat sudah pulang kembalibke daerahnya, segudang Impian dan Ide berbagi sudah menunggu untuk di aplikasikan,” tutur Lukman Hakim, pemilik Sekolah Dolan.

Ohya kawan-kawan, ide dan aksi yang sudah dilakukan tersebut telah terdokumentasikan dalam bentuk buku YANG SUDAH KAMI LAYOUT sampai 90an halaman. Nah, ditimbang-timbang, buku ini belum dicetak resmi, tetapi hanya sampel saja untuk acara kemarin. Ternyata, setelah buku ini dibaca oleh beberapa orang,

“Diputuskan untuk kembali dibuka bagi PENULIS yang mempunyai ide dan pengalaman nyata di seputar PENDIDIKAN yang memanusiakan, kami undang sebagai penulis agar pengalaman praktis tersebut bisa disebar ke seantero negeri, selambat-lambatnya pada pertengahan Januari, karena 30 Januari 2018 diusahakan sudah tercetak.

BUKU INI SUDAH BER-ISBN lo…. jadi memang tinggal nyetak saja.

Mari, bagi yang ingin menyumbangkan tulisan, silahkan konsultasi dan/atau kirim tulisan ke orang hebat berikut ;

Najmah Katsir     : +62 856-4978-6707 (WAon)
Alfin Mustikawan : +62 858-5656-9150 (WAon)

Bersama Ojo Leren Dadi Wong Apik, kampusdesa.or.id memacu tumbuhnya inspirasi pelaku pendidikan untuk melakukan perubahan menuju pendidikan yang memanusiakan, tanpa berpangku tangan menunggu keajaiban pemerintah. Di gedung DPRD Kabupaten Pasuruan inilah, gebrakan ini terus dilanjutkan.

Perubahan Diri Lebih Mujarab Gunakan Terapi Menulis Saja

0

Tutur Desa 2 segera launching. Tutur Desa 1 berhasil mengumpulkan serpihan perubahan pesantren melalui rekam ethnography Pesantren Rakyat. Saat ini sedang proses editing dan layouting. Penuturan dari dalam komunitas adalah bentuk perlawanan kolonisasi ilmu pengetahuan yang selalu diekspor membabi buta dari pemikiran orang luar.

Penuturan dari dalam komunitas memberikan peluang besar lahirnya ilmu pengetahuan yang terbarukan. Dia lahir dari kekuatan kearifan lokal masyarakat kita sendiri. Ternyata, kekuatan kearifan lokal tersebut mampu ditarik ke permukaan ilmu pengetahuan, lalu didialogkan untuk memberikan pembentukan ilmu pengetahuan terbarukan sebagai bekal didialogkan dengan teori terkini.

Bagaimana dengan TUTUR DESA II. Kampus Desa, meletakkan menulis sebagai kurikulum utama dalam setiap belajar orang. Mengapa demikian ? Menulis dapat menjadi terapi/sarana membangun kesadaran kritis diri dan dengan menulis kesadaran diri itu akan melejit dengan sendirinya dan orang akan mampu mengukir kesuksesan hidupnya.

Nah, melalui kekuatan terapeutik ini, TUTUR DESA II diprioritaskan untuk Anda Pemimpin Muda Desa, atau Anda akan para calon sarjana yang ingin PULANG KAMPUNG, kami beri layanan SHORT-COURSE menulis dalam sesi kuliah pendek untuk membekali kemampuan perubahan diri.

Bekal ini penting karena kuliah masih didominasi oleh mengonsumsi pengetahuan, sementara Kuliah Menulis Pemimpin Muda Desa memberi kesempatan bagi Anda calon sarjana, hentikan konsumsi buta, produksi pengetahuan dengan cara otonom, pasti kita akan bisa merintis hidup baru melalui kesuksesan baru.

Tidak perlu khawatir tidak dapat pekerjaan sepulang dari merantau kuliah dan kembali ke desa. Melalui kuliah menulis Pemimpin Muda Desa, TUTUR DESA II akan menyuguhkan tips Perubahan Diri Menuju Sukses melalui PENDEKATAN TERAPI MENULIS.

Tunggu tanggal mainnya ya. Kami akan bagikan waktu dan syarat-syaratnya lebih lanjut. Informasi lebih lanjut, silahkan lihat kontak hubung di poster ya….

Ohya, bisa lo paket ini diambil langsung untuk satu desa begitu ? Anda ambil paketannya langsung di desa anda begitu. Banyak deh keuntungannya dan sangat membantu desa anda untuk dipromosikan ke luar. Syukur-syukur langsung bisa menjadi KATALOG DESA. Keren kan…..

Menyemai Bibit Penulis Muda di Pinggiran Bojonegoro

0

Minggu, 24 Desember 2017 menjadi hari bersejarah bagi komunitas menulis KBM (Kita Belajar Menulis). Pada hari ini, komunitas yang dimotori Slamet Widodo, Guru Matematika MTs Negeri 3 Bojonegoro itu mengadakan Kopi Darat (Kopdar) untuk pertama kalinya. Tema yang diusung adalah “Menulis itu Mencerdaskan”.

Slamet Widodo menuturkan bahwa hari ini menjadi tonggak sejarah bagi KBM untuk mewujudkan mimpi-mimpi besarnya. Ia tidak menyangka ternyata inisiasinya menghidupkan budaya literasi melalui tulisan mendapatkan sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari berbagai pihak.

“Saya sangat terharu dan bersyukur sekali karena sambutan dari teman-teman sangat luar biasa. Tekat teman-teman untuk menulis dalam komunitas ini sangat luar biasa. Bahkan ada salah seorang murid saya, meskipun ia tidak punya HP android tapi tekatnya untuk menulis tidak surut” tuturnya penuh semangat dalam sambutan pembuka.

Forum tersebut dihadiri Kepala Madrasah Aliyah Bahrul Ulum (MABU) Kepohbaru, Drs. Suroto, M.Ag. Dalam sambutannya ia berpesan kepada peserta agar menjadi penulis yang jujur yang tidak turut menyebarkan berita bohong (hoax).

“Dalam menulis perlu ada proses tabayun yaitu melakukan cross check, apakah yang ditulis itu fakta atau hoax. Jangan turut menjadi penyebar kabar burung nanti burungnya kabur” tambahnya sebelum mengakhiri sambutan kemudian disambut tawa para peserta forum.

Kegiatan yang diadakan di salah satu gedung MABU Kepohbaru ini sedianya dimulai tepat pukul 08.00 WIB. Akan tetapi karena satu dan lain hal forum baru dibuka pukul 08.30 WIB namun tetap tidak mengurangi kekhidmatan dan antusiasme peserta.

Selain anggota KBM, turut hadir pula dalam forum tersebut anggota OSIS MTs Negeri 3 Bojonegoro, anggota OSIS MABU Kepohbaru, perwakilan IPNU dan IPPNU ranting Desa Woro dan Desa Mojosari Kecamatan Kepohbaru.

Agenda utama forum Kopdar tersebut adalah untuk meningkatkan motivasi anggota, Menularkan “virus literasi” khususnya kepada pemuda-pemuda di Kecamatan Kepohbaru, pembentukan pengurus, peresmian logo dan perumusan visi misi serta penentuan tema buku antologi.

Acara diawali dengan serangkaian seremonial kemudian dilanjutkan dengan seminar kepenulisan dengan tema “Menulis itu Mencerdaskan” yang disampaikan oleh penulis sendiri. Acara terakhir adalah rapat internal anggota komunitas KBM.

Dalam rapat tersebut disepakati bahwa Ketua KBM adalah Slamet Widodo, S.Pd yang tidak lain merupakan pendiri dan inisiator komunitas ini. Sekretaris diamanatkan kepada Cut Kiki Meysaroh, Mahasiswi Universitas Islam Darul ‘Ulum (Unisda) Lamongan. Sementara Bendahara diamanatkan kepada Mahmud, S.Ag., Guru MTs Negeri 3 Bojonegoro. Sedangkan untuk divisi-divisi yang disepakati adalah Hubungan Masyarakat (Humas), Kepenulisan dan Penerbitan, Pelatihan dan Publikasi yang masing-masing diamanatkan kepada Sulthon Fathoni, Ahmad Khoiron Ihsan, dan Sigit Priatmoko.

Bojonegoro, 24 Desember 2017

Hukum Mengucap Selamat Hari Natal menurut Kiai “Asmuni”

0

Pagi itu Sudrun menghampiri mbah Kyai Asmuni yang sedang menikmati kopi hangatnya sambil menghisap rokok kobot dengan begitu nikmatnya.

“Tiyang tiyang sami rame mbahas ngucap selamat hari natal, Yai”.
“Halah, yo ben tho, Drun. Senenge wong ancen bedo bedo tur usum-usuman”.
“Lha usum usuman pripun tho, Yai?”
“Lha mbien iko usume kafir cino, yo mbahase kafir lan cino. Kafir cino entek, ganti usum PKI. Saiki PKI wis gak usum wingenane rame mbahas LGBT. Saiki usum maneh selamat hari natal mergo arep tanggal selawe Desember”
“Njeh, Yai. Mantun niki paling njeh benten bahasan maleh njeh, Yai?”
“Mestine yo ngunu ..”

Sambil tersenyum Mbah Kyai Asmuni pun nyruput kopinya setelah cukup dalam menyedot rokok kobot yang dipegangnya. Sudrun pun yang penasaran tentang mengucap selamat hari natal lantas bertanya lagi sama mbah Kyai Asmuni.

“Yai, kepareng tanglet, tiyang Islam ngucap hari natal niku hukum asline pripun tho?”
“Hukume ono limo, Drun!”
“Lha kok wonten gangsal niku, nopo mawon Yai?”
“Yo iso wajib tur iso harom lan sak pinunggalane. Iku maksude..”
“Hmmm…” Sudrun pun tertegun mendengarkan.

Sreeeeeet _

“Sing wajib niku pripun, yai?”
“Kuwi hukum kanggo pak Presiden Jokowi, sebab ngucapno selamat hari natal iku symbol nek Presiden ngayomi rakyate. Lha ngayomi rakyat kan wajib?”

“Lajeng Yai?”
“Sing digalakno (sunnah) iku hukum kanggo pegawe nek nduwe juragan nasroni. Lha tinimbang mengko THR ora cair mergo kekeh ora gelem nyopo lan ngapiki juragan? Karo maneh, opo tho susahe ngucap selamat hari natal lan ngapiki menungso sing lian agomo? opo maneh nek wong iku rupo juragan sing wis paring duit lan ma’isyah urip sak pirang pirang? Penting kan ati tetep pantheng nang Pengeran”

“Njeh mbah, leres niku. Lha ingkang mubah nopo, Yai?”
“Kuwi nek awakmu nduwe kekancan nasroni lan ngucapno selamat natal iku kanggo ngrawat kekancan lan ngapiki wong liyo kang bedho agomo”.

“Ingkang makruh, Yai?”
“Iku kanggo awakmu lamun ora nduwe kenalan wong nasroni, lapo golek-golek coro ngucapno selamat hari natal nang wong nasroni sing ora dikenal? Ora ono perlune lan ora ono manfaate. Mending meneng wae! Sebab iku hukume makruh, tegesi ora usah dilakoni”.

“Terakhir, Yai. Ingkang harom?”
“Kuwi kanggo sopo wae wong Islam sing ngucapno selamat hari raya natal nang wong Nasroni tapi kelawan keyakinan lan kepercayaan nek aqidah lan lelakone syareate wong Nasroni iku bener ndek ngarepe Pengeran koyo dene wong Islam”.
“Naudzubillah. Njeh, Yai”

Mbah Yai Asmuni pun nyruput kopinya lagi lantas menyedot rokok kobotnya dalam dalam.

Sreeeeet _

“Intine, mamulo awakmu ojo gampang ngukume salah bener wong, lan syirik imane lelakone wong nek awakmu ora ngerti maksude lan niate wong iku. Njogo aqidah pancen penting, nanging ngapiki menungso lan wong liyo agomo iku yo penting kanggo njogo akhlake kito-kito sebagai menungso”.
“Njeh Yai”.

“Ati ati urusan agomo pancen yo penting, tapi njogo keharmonisan sosial kelawan njogo kerukunan lan silaturrahim dalam bersosial iku yo penting, supoyo masyarakat kito tetep rukun, hinggo negorone ayem, tentrem lan situasi sosiale tetep aman kanggo sarana ngibadah kito-kito marang Pengeran”
“Amin … Njeh, Yai. Matur nuwun nasehat ipun”.

Salam Islam nusantara

KH. Yazid Al-Bustomi. Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah PPAI Darun Najah, Ngijo, Krangploso Kabupaten Malang.

Tulisan ini direpost dari facebook Gus Yazid

Menyalakan Lilin Literasi di Kecamatan Kepohbaru

0

Berbekal tekat dan semangat serta komitmen membangun budaya menulis di Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro, pada tanggal 17 Oktober 2017 terbentuklah sebuah komunitas literasi yang bernama KBM (Kita Belajar Menulis). Inisiator dai komunitas ini adalah Slamet Widodo, guru Mata Pelajaran Matematika di Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Bojonegoro.

Anggota komunitas ini beragam, mulai dari siswa, guru, karyawan, dosen, bahkan pejabat struktural di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro. Tujuan utama terbentuknya komunitas ini adalah untuk memfasilitasi bakat-bakat menulis yang belum tergarap dan belum tersalurkan dengan baik karena keterbatasan wadah, media serta masih kurangnya motivasi.

Dalam mengelola komunitas KBM, Slamet Widodo memanfaatkan media sosial yang sering digunakan oleh banyak orang, yaitu dengan membuat group WA (Whatsapp) dan FB (Facebook) agar lebih efektif dan efisien. Setiap hari anggota KBM harus menyetorkan tulisan di grup tersebut. Slamet Widodo tidak membatasi jenis tulisan yang disetorkan, sehingga anggota komunitas ini bebas menyalurkan aspirasinya. Tulisan dibagi menjadi dua, ada tulisan harian (yang disetorkan setiap hari) dan tulisan mingguan yang ditentukan temanya. Jika anggota tidak aktif menyetorkan tulisan sesuai dengan ketentuan, maka anggota tersebut akan dikeluarkan.

Berkat ketekunan, keuletan, dan kerja keras semua anggotanya, komunitas ini sudah beberapa kali diminta untuk menularkan “virus” literasi di berbagai forum. Beberapa di antaranya adalah pada kegiatan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) IPNU dan IPPNU di Desa Woro dan Desa Mojosari dan pada kegiatan perkemahan Pramuka di Madrasah Aliyah Bahrul Ulum Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro.

“Saya hanya ingin menularkan ilmu-ilmu menulis yang saya peroleh dari group-group WA (whatsapp) dan komunitas-komunitas lain yang saya ikuti. Bahwa sebenarnya menulis itu mudah, semua orang bisa menulis, yang penting ada komitmen dan kesungguhan” ujar Slamet Widodo setelah selesai memberikan suntikan motivasi menulis bagi anggota IPNU dan IPPNU di Desa Woro.

Selain berbagi ilmu menulis, anggota komunitas ini juga dilatih untuk bisa tampil berbicara di depan publik. Menurut Slamet Widodo hal ini perlu dilakukan agar anggota KBM semakin termotivasi dan istiqomah dalam menulis.

“Target kita dalam waktu dekat adalah membuat buku antologi yang berisi kumpulan karya-karya teman-teman anggota KBM. Supaya ada karya-karya dari orang Kepohbaru” tambahnya.

Meskipun baru berjalan tiga bulan, anggota komunitas ini terus bertambah. Jumlah anggotanya sampai dengan saat ini adalah 24 orang yang berasal dari berbagai latar belakang.

Memanusiakan Pekerjaan Rumah Anak

0

Pembelajaran tuntas semestinya tiada menyisakan pekerjaan rumah (PR) bagi siswa. Aneka mata pelajaran yang seharusnya diselesaikan oleh siswa sepenuhnya dapat dituntaskan di sekolah dengan pembimbingan guru. Proses dialog dan interaksi untuk memahami dan menyelesaikan berbagai sisa pemahaman siswa terhadap tema-tema tertentu terjadi di sekolah, melalui hubungan yang fungsional antara guru dengan siswa atau antar-siswa.

PR selalu kontradiksi antara kepentingan guru, anak dan bahkan orang tua. Anak akan dianggap rajin jika di rumahpun mengerjakan PR. Orang tua dijumpai justru akan mengatakan pada guru agar anaknya selalu dibawakan PR agar anak-anak di rumah pun belajar. Saat guru diprotes begitu, mereka seperti bersalah karena guru seolah pemberi jasa yang wajib memberikan layanan terbaik orang yang membeli jasa pendidikan. Padahal jam belajar anak di sekolah sudah cukup lama, apalagi dengan sistem belajar selalu terpusat di kelas dan sekolah seharian penuh (full day school). Waktu di sekolah tersebut seharusnya cukup untuk anak menyelesaikan aneka problematika ilmu dan solusinya. Anak-anak di rumah berganti melakukan fungsi pengembangan diri bersama keluarga dan masyarakat.

Mari kita lihat hasil risetnya seperti apa. Galloway, Conner, Pope (2013) melakukan survey pada 4.137 siswa dari 10 SMA yang berkualitas sangat baik di kelompok masyarakat ekonomi menengah atas, bahwa anak-anak menghabiskan waktu 3 jam di rumah untuk mengerjakan PR, memang mereka nampak mempunyai pengalaman aktif terlibat di sekolah (akademik), tetapi ternyata justru mereka nampak stres secara akademik, memunculkan aneka masalah kesehatan fisik, dan kurangnya keseimbangan dalam hidup mereka.

Plus minus PR memang nampak muncul dari berbagai penelitian. Bagi yang percaya bahwa pendidikan merupakan capaian murni akademik saja, maka memang pekerjaan rumah menambah kualitas akademik siswa. Ada penelitian terdahulu yang menunjukkan PR bermanfaat bagi anak-anak yang kurang baik kemampuan akademiknya, dan tidak terlalu berguna bagi yang kemampuan akademiknya bagus. Hal yang menarik dan sangat dimaklumi, PR selalu dipandang negatif dan menimbulkan reaksi emosional yang kontraproduktif bagi siswa.

Tugas Perkembangan Sosial Pun Penting Berkembang di Luar Sekolah

Ahli perkembangan Bronfenbrenner mengungkapkan, anak berkembang terpaut pula dengan proses pembentukan dirinya dengan orang tua, keluarga, masyarakat, atau budaya yang melingkupinya, bukan hanya dihabiskan dengan sekolah saja. Peran di luar sekolah akan semakin melengkapi tugas perkembangan anak. Oleh karena itu, jika PR hanya terfokus pada penambahan dan penguasaan materi akademik, maka pertumbuhan anak menjadi timpang.

Hal ini membuktikan sekolah adalah lembaga dominan dan mengeneralisasi cara anak hidup, sementara peran hidup lain seolah selesai dengan kemampuan menjawab lembar kerja siswa atau unit kegiatan belajar. Terkecuali jika semua tugas tersebut merupakan pembentukan pengetahuan yang dijaring dari pengalaman nyata siswa.

Untuk itu, sebaiknya PR lebih terhubung dengan kehidupan nyata anak dan hal-hal yang dapat merangsang kematangan anak dalam membentuk lingkungan sosial bersama orang tua atau subyek keluarga, tetangga dan budaya setempat yang turut mewarnai baik buruknya perkembangan anak.

Anak-anak diberi kesempatan untuk latihan mengakses praktik-praktik hidup dengan ibunya, bapaknya, anggota keluarga lain, atau membuat aktifitas positid di dalam rumah seperti melatih berbagi jadwal menyapu, berkebun, menanam apotik hidup, mencuci pakaian dan berbagai ketrampilan hidup yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga. Di luar rumah, PR anak dapat diarahkan mengakses praktik hidup dengan tetangga, masyarakat lain yang berkonstribusi bagi bentuk-betuk kehidupan anak menjadi lebih baik dalam mengalami hidup di luar sekolah, seperti budaya setempat, tempat ibadah, seni, ikut bertani, ikut berdagang, turut orang tua bekerja di kantor dan lain sebagainya.

Saya mendapatkan contoh di sebuah sekolah adiwiyata MI Miftahul Huda di Jombang. Seorang anak ditugasi sebagai POKJA perikanan. Kebetulan anak ini juga menyukai budidaya ikan sehingga di rumahnya ada kolam ikan kecil miliknya. Ayahnya juga berkonstribusi dalam membuat kolam ikan miliknya di rumah.

Sayang, aktifitas giat perikanan anak ini belum sepenuhnya dapat dijadikan sebagai bagian dari kegiatan belajar yang berkesinambungan antara sekolah, rumah dan sub-budaya tertentu yang membantu anak mengenal lebih jauh dunia perikanan. Sekolah berjalan sendiri, anak dengan kesukaannya sendiri dan keluarga serta masyarakat dengan dinamikanya sendiri.

Miniatur tersebut sebenarnya sangat bagus dijadikan jembatan keilmuan dan belajar. Tugas anak di rumah akan berkaitan dengan perawatan ikan. Dia bisa diajari disiplin di rumah, berbagi kegiatan dengan orang tua, teman bermain di rumah atau bisa juga didorong anak bersama orang tua untuk diajari mengenal pasar ikan.

Jika sekolah berperan seperti ini, maka sekolah pun dapat berkonstribusi memberikan ruang belajar keluarga dan masyarakat karena semua anak-anak didorong untuk membangun pengalaman nyata di rumah dan di masyarakat.

Ini adalah kekuatan besar akan tetapi miskin dikelola dengan baik. Kita semua tahu, jika tugas-tugas yang menantang tersebut datang dari sekolah, orang tua akan berbondong-bondong turut berjuang membantu anaknya. Ini sudah terjadi, saat anak-anak mendapat tugas prakarya, orang tua akan mendukung dengan berbagai cara agar anak bisa bekerja menyelesaikan pekerjaan rumah sesuai harapan. Dukungan begini menjadi potensi yang nyata ada, dan sekolah pun mampu menggerakkan perubahan sosial yang lebih nyata mulai dari keluarga dan masyarakat.

Sayang PR masih saja terbelenggu tugas akademik tekstual, belum tugas mengasah ketrampilan hidup nyata anak di rumah dan masyarakat. Semoga sekolah tidak menjadikan anak-anak individualisme di tengah masyarakat kita yang suka hidup berkelompok dan bermasyarakat. Jika ada sekolah yang sudah begitu, saya acungi jempol, karena telah memanusiakan siswa. Jika ada yang belum, mari ubahlah dengan keberanian bahwa kemanusiaan anak lebih penting dari prestasi akademik absolut yang berhenti dari tarian-tarian tekstual.

Stasiun Jakarta Kota. Minggu, 19 November 2017

Tulisan ini dipublikasikan di Inspirasi Pendidikan Edisi XXVIII, Minggu I/04-10 Desember 2017

Rujukan tulisan

Galloway, Mollie; Conner, Jerusha; Pope, Denise (2013). “Nonacademic Effects of Homework in Privileged, High-Performing High Schools”. The Journal of Experimental Education. 81 (4): 490–510. doi:10.1080/00220973.2012.745469

Buku Baru; Manakib Ulama Nusantara

0

Manaqib Ulama Nusantara

Penyunting : Dr. Faisol Fatawi, M. Ag
Tebal : 736 Hal
Berat : 0.7 Kg
Harga : Rp. 135.000,- (Belum Termasuk Ongkos Kirim)

Pengetahuan berkembang karena tulisan. Peradaban maju juga karena tulisan. Maka gerakan literasi harus terus digalakkan.

Buku ini adalah hasil kertas kerja yang terstruktur mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tujuannya untuk memunculkan dan meningkatkan kreatifitas mahasiswa.

Dikodifikasi dalam sebuah karya yang terdiri dari beberapa volume. Buku ini merupakan volume kesatu yang terdiri dari 110 biografi ulama nusantara yang sebagian besar masih belum banyak dipublish bahkan juga jarang dikenal khalayak.

Beberapa Kiai dan kalangan santri senior dan lain lain turut memberikan endorsment di dalam buku ini.

Untuk volume kesatu ini ketebalannya mencapai 736 hal dan berat 0.7 kg (Redaksi Diambil dari Penyunting, Faisol)

Pemesanan Hubungi WA +62 857-5868-1764

CIRCLE SOLVING; Alat Konseling Mandiri untuk Mahir Penyesuaian Diri

0

Kalian berada dalam lingkungan baru dan susah untuk menyesuaikan diri, kami hadir membantu mencarikan solusi melalui produk CIRCLE SOLVING. Sebuah produk yang membantu mengatasi masalah adaptasi secara mandiri.

Kalian juga bisa mendapatkan konseling dari kami (jika diperlukan). Konseling dilakukan bisa secara online melalui whatsapp dengan line +62 856-0677-0981 dengan mbak Mia Hidayah, anggota Konselor Sebaya OASIS Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sangat cocok buat kalian yang tinggal di pesantren, ma’had atau asrama.

Akan ada potongan untuk 4 pembeli pertama. So, tunggu apalagi.
Pemesanan bisa melalui DM atau langsung cek tokopedia (link tertera di bio).

Hanya dengan Rp. 25.000,- anda bisa terlatih mencari jalan keluar.

Tunggu apalagi dear ????
Grab it fast ! Make your circle !

Anda bisa jadi resellernya lo….