Bapak, Inspirator dalam Hidupku

0
64

Menjadi penghafal al-Quran selalu punya cerita unik. Membayangkan memanggil kembali simpanan memori 30 Juz sepertinya tidak mudah. Menghafal Pancasila saja, masih banyak yang tidak mudah menjaganya. Lah, ini halaman al-Quran yang ratusan halaman. Semuanya mungkin. Landasan dan motivasi apa mereka hingga melejitkan kemampuannya menghafal al-Quran. Kisah apa yang mendasarinya seorang penghafal al-Quran. Khususnya inspirator penghafal al-Quran Laily Zakiyah.

Kampusdesa.or.id–Memiliki anak yang hafidz Al-Qur’an adalah cita-cita bapak sejak belia. Namun beliau tidak memiliki kesempatan untuk bisa menyaksikan semuanya.

“Innaa nahnu nazzalna al-dzikro wa innaa lahuu lahaafizhuun.”

Begitulah permulaan dalam teks syahadah yang kupegang. Dengan selesainya pembacaan doa khotmil Qur’an, seolah ada sebuah perjanjian yang harus kujaga.

Kupegang erat syahadahku dengan linangan air mata. Alhamdulillah, Setelah menjalani berliku-liku kehidupan, akhirnya dengan pertolongan Allah, aku bisa menyelesaikan hafalan al-Quranku 30 juz dengan predikat mumtaz (sempurna). Ingin rasanya kupersembahkan semuanya untuk bapak dan ibuku yang telah mengasuh, merawat serta mendidikku sejak kecil. Namun sayang, kebahagiaan ini tidak bisa disaksikan oleh bapak, karena beliau telah meninggalkan kami semua satu tahun yang lalu.

“Bapak, betapa engkau ingin menyaksikan anakmu menyelesaikan hafalan ini. Kini saksikanlah semuanya aku persembahkan untukmu.” Ucapku lirih.

Lantunan sholawat dari grup Annabawi masih terdengar. Semua terlihat sumringah bersama keluarganya. Mereka saling duduk bersama keluarga besarnya.

Halaman pondok penuh dengan berbagai kendaraan. Mulai dari becak, kereta kelinci, sepeda motor, mobil, Elf, hingga mini bus. Semua ingin berkhidmat dalam acara prosesi wisuda khotmil Qur’an.

Kembali kupandangi diriku. Rupanya hanya aku yang cukup didampingi ibu. Dengan jasa kereta api ekonomis, ibu terlihat sangat bahagia bisa hadir dalam acara yang sudah dinanti-nantikannya. Dialah satu-satunya orang tuaku. Orang yang paling kusayang.

*

Kembali kuingat sosok Bapak. Seorang yang sangat bersahaja dalam hidupnya, tetapi memiliki prinsip yang kuat dalam pendidikan anaknya. Bapak hanya ingin anaknya berbekal agama serta ilmu yang kuat. Karena beliau sadar, tiada yang abadi dengan harta benda.

Beliau memang mengharuskan anaknya untuk menuntut ilmu di pesantren. Karena di pesantrenlah pendidikan karakter serta akhlak diterpa, selain ilmu agama.

Pernah suatu hari, di saat awal mula aku mulai mondok, bayangan akan rumah, kenangan manis bersama Bapak Ibu senantiasa hadir dalam ingatanku sehingga membuatku kurang konsentrasi dalam belajar dan kurang selera untuk makan. Akhirnya menjadi masalah juga dengan kesehatanku sehingga saat itu aku terkena gejala typus. Bapak Ibu pun menjemputku ke pondok dan membawa aku pulang untuk berobat. Dan benar-benar mujarab, begitu sampai rumah, semangatku mulai muncul dan tumbuh kembali. Sungguh, obat yang sangat ampuh tanpa harus ke dokter sekalipun.

Selama satu Minggu di rumah, Bapak senantiasa memberikan dukungan padaku sehingga kesehatanku cepat pulih dan semangat muncul kembali.

Bapak mulai bercerita bagaimana beliau dulu harus berjuang sendiri untuk bisa belajar di pesantren. Bapak harus bekerja, ikut nelayan yang mencari ikan di malam hari. Kebetulan pesantren tempat Bapak belajar berada di pesisir pantai. Yakni, Pesantren Alhidayat, asuhan Romo KH. Ma’sum. Rutinitas tersebut dilakukan sehabis ngaji ‘wekton‘ bersama sang Kiai. Menjelang subuh Bapak baru berada di pondok lagi, dan paginya akan menerima upah dari nelayan tersebut. Dari upah itu Bapak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya serta menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk membeli kitab.

Bapak kebetulan memang termasuk keluarga besar, dan kakek bukanlah orang yang berada. Dengan semangat yang kuat, akhirnya keinginan untuk belajar di pesantren tercapai.

Kini aku sungguh sangat enak, bisa belajar dengan tanpa harus bekerja. Lantas kenapa harus kusia-siakan? Dari situlah muncul semangat baru untuk belajar.

Aku bertekad akan belajar dengan giat serta lebih keras lagi dalam menghafal Al-Qur’an. Akan aku persembahkan semuanya untuk kedua orang tuaku.

*

“Nduk, ayo temani ibu sowan ke bu Nyaimu,” Suara Ibu membuyarkan lamunanku.

“Inggih, Bu.”

“Ibu harus berterima kasih pada bu Nyai atas bimbingannya selama ini.”

“Itu kadonya jangan lupa kamu bawa.” Kata ibu sambil menunjuk bungkusan dalam kresek hitam.

“Nopo niki, Bu?”

“Owalah nduk, kemarin itu IIbu dikasih bibimu oleh-oleh mukenah sutera. Katanya dibeli dari Mekah. Ibu berniat untuk menghadiahkannya pada bu Nyaimu. Hanya itu yang bisa ibu berikan.”

Aku melihat gurat ketulusan yang dalam dari wajahnya. Tak terasa butiran air mata telah menggenang di mataku. Ibu, semoga ketulusanmu menjadi wasilah keberkahan ilmu untukku.

“Lekas Nduk, kita ikut sowan bersama tamu yang lain.”

“Inggih, Bu.”

Selama ini, Bapak dan Ibu mengajariku untuk selalu takdzim (hormat) pada guru. Karena dari situlah keberkahan ilmu akan didapat.

Setelah mendapatkan beberapa nasihat dari ibu Nyai, akhirnya kami pamitan satu persatu. Ibu tak lupa memintakan pamit untukku seraya memohon doa restunya.

“Pulanglah Nduk, amalkan ilmumu. Aku sudah ridlo.” Ucap bu Nyai.

Jagalah Qur’an mu Nduk, karena ia bagaikan jodoh bagimu. Jika kamu bisa merawatnya dengan baik maka ia akan menjadi penolong untukmu, tapi jika kamu menyia-nyiakan maka ia akan menjadi azab untukmu.”

Kemudian beliau mewanti-wanti lagi, “jagalah Qur’an mu Nduk, karena ia bagaikan jodoh bagimu. Jika kamu bisa merawatnya dengan baik maka ia akan menjadi penolong untukmu, tapi jika kamu menyia-nyiakan maka ia akan menjadi azab untukmu.”

*

Pagi ini, hari pertama aku resmi berada di rumah setelah berhasil menyelesaikan studiku di pesantren. Aku harus bisa mengamalkan ilmuku.

Kuamati anak-anak di kampung halamanku, terasa mereka masih banyak yang belum bisa mengaji Al-Qur’an. Iya, aku harus berjuang di sana.

Sore hari, kukumpulkan anak-anak sambil menikmati buah jambu di kebun yang ditanam almarhum bapak.

Kuajak anak-anak untuk mendengarkan cerita tentang sosok doktor husein. Bocah usia 7 tahun yang sudah hafal Al-Qur’an berikut tafsirnya. Cerita ini sengaja kusimpan rapi dalam memori, karena aku menaruh harapan yang sangat untuk bisa memiliki generasi sepertinya.

Anak-anak begitu antusias mendengarkan. Setelah muncul ketertarikannya, aku tawarkan mereka untuk belajar mengaji di sore hari. Dan mereka pun begitu antusias. Alhamdulillah.

Hari-hari berikutnya Ku lalui lembaran baru sebagai guru TPQ bagi para generasi Qur’ani di kampungku.

Jombang,11 Oktober 2019