Tanpa The New Normally Lifestyle In Learning, Sekolah Akan Menjadi Killing Field Anak-Anak Kita

0
165
sekolah, moving class
Sekolah Garasi https://www.facebook.com/SekolahGarasi/

0Shares
0

Mengubah jarak antar siswa ini harus dilakukan dengan mengurangi minimal separuh dari penduduk kelas seperti yang dilakukan pada moda transportasi. Masalah menjadi semakin berat pada sekolah yang memiliki jumlah murid tinggi dan ruang (space) terbatas sehingga bagunan gedung sekolahnya bertingkat. Masalah berikutnya adalah adanya penjarangan siswa dalam kelas, maka sama saja dengan memecah kelas menjadi paralel. Sekolah Garasi telah siap melaksanakan pola pembelajaran yang sesuai dengan pola hidup normal baru (the new normally lifestyle) yang cocok untuk hidup berdampingan dengan sistem moving class dalam pendidikan kafetaria yang luwes waktu.

Kampusdesa.or.id-Semangat untuk kembali belajar ke sekolah sudah menggelegak di hati anak-anak dan semua civitas akademika persekolahan. Terlepas dari segala kelemahannya, sistem persekolahan masih diperlukan dalam kehidupan kita. Musibah pageblug atau bahasa keminggrisnya pandemi, membawa perubahan yang sangat mendasar pada sistem pendidikan kita. Kok ndilalah kersane Allah, perubahan sistem pendidikan telah dimulai beberapa bulan sebelumnya oleh nakhoda dunia pendidikan nasional, Mas Mendikbud. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana carut marutnya pendidikan bila pendidikan kita masih dikelola dengan kacamata kuda seperti dulu. Memang Allah sutradara kehidupan yang terhebat.

Kehebatan mahluk ciptaan Allah yang diberi nama COVID-19 memaksa kita untuk mengubah pola kehidupan kita. Bila manusia tidak ingin dikenang (punah) sebagai mahluk yang tinggal di bumi ini seperti keluarga dinosaurus dan tanaman paku-pakuan yang pernah mbaurekso dunia. Kita, manusia, mau tidak mau harus menerapkan pola kehidupan baru, the new normally life style istilah keminggrisnya. Tanpa itu, mungkin alien puluhan, ratusan, atau ribuan tahun kemudian akan menemukan fosil manusia sebagai mahluk yang pernah hidup di dunia ini.

Dunia pendidikan juga harus, terpaksa atau tidak, mengubah sistem pembelajarannya bila tidak ingin sekolah menjadi the killing field bahasa keminggrisnya dari ladang pembantaian anak-anak kita.

Lha, terus harus bagaimana?

Hidup berdampingan dengan COVID-19 mengubah standing position kita, dari posisi offensif menjadi defensif, menjadi mahluk yang hanya bisa bertahan, tidak lagi menyerang dengan gegap gempita seperti yang pernah kita lakukan kepada virus atau mahluk microba sebelumnya seperti cacar air, TBC, hepatitis, malaria dsb. Bahkan, kita berjaya dengan menyatakan telah bebas lepra, malaria dsb.

Menghadapi COVID-19 mengharuskan kita menerapkan the new normally life style yang intinya menjauhi bergaul dengan COVID-19 dan memperkuat daya tahan tubuh, karena hanya dengan dua jalan itulah kita dapat hidup “berdampingan” dengan COVID-19. Dalam pendidikan, khususnya persekolahan, kita juga harus menerapkan dua hal pokok itu, yaitu menjaga jarak agar tidak berhubungan intim dengan COVID-19, dan di sisi lain menguatkan daya tahan tubuh kita.

Menguatkan daya tahan tubuh dengan pola makanan yang sehat, makanan bergizi dan olahraga tidak banyak masalah, kecuali untuk mereka yang memiliki pola kebiasaan makan yang salah dan keterbatasan mengakses sumber makanan yang bergizi bagi keluarga prasejarah, eh keliru prasejahtera.

Guillemet-04 - Veillées pour la VieKebanyakan sekolah masih memberikan kebebasan pada anak untuk jajan sesuka hati, termasuk mengonsumsi junk food yang tidak sehat

Tindakan pertama adalah menata ulang pola jajan dan makan anak. Kebanyakan sekolah masih memberikan kebebasan pada anak untuk jajan sesuka hati, termasuk mengonsumsi junk food yang tidak sehat. Sekolah bisa menyediakan makanan dan jajanan sehat lewat kantin sekolah yang dikelola oleh koperasi sekolah atau paguyuban wali siswa. Alhamdulillah di Sekolah Garasi, makanan untuk anak ini diurusi oleh paguyuban wali siswa, mulai dari snack dan makan siang sehingga anak tidak jajan di luar. Sebagai polde skul (full day school), maka harus ada snack dan makan siang untuk anak dan guru.

Tindakan kedua yang berkaitan dengan meningkatkan daya tahan tubuh adalah mengubah pola pembelajaran yang mager menjadi giger. Ini ada kaitannya dengan pola pembelajaran dan menjaga jarak fisik antar anak yang akan dibahas lagi nanti.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

Diperlukan ruang UKS yang terstandar minimal untuk isolasi diri sebelum dirujuk ke rumah sakit/puskesmas dengan alat-alat P3K dan bila perlu juga APD untuk njagani adanya serangan COVID-19

Tindakan ketiga adalah memantau kesehatan anak. Untuk itu, sejak kedatangan anak sampai pulang harus selalu dideteksi kesehatannya. Pada saat kedatangan suhu tubuh anak sudah harus dideteksi dengan temp-gun, lalu saat proses pembelajaran juga harus dipantau keluhan kesehatan anak. Diperlukan ruang UKS yang terstandar minimal untuk isolasi diri sebelum dirujuk ke rumah sakit/puskesmas dengan alat-alat P3K dan bila perlu juga APD untuk njagani adanya serangan COVID-19. Diperlukan akad kerjasama sekolah dengan puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Tindakan keempat dalam menjaga kesehatan anak adalah membiasakan pola hidup sehat berdampingan dengan COVID-19. Anak dan guru harus selalu pakai masker, disediakan hand sanitizer dan tempat cuci tangan yang cukup banyak, minimal 1-2 tiap kelas. Alhamdulillah di Sekolah Garasi dengan adanya kewajiban untuk mengikuti sholat jama’ah sholat dhuha, dhuhur dan ashar memiliki kran untuk wudhu yang cukup.

Tindakan kelima, yang terpenting dan tersulit adalah menjaga jarak fisik antar anak. Kesulitan pertama adalah sebagian besar sekolah konvensional terbiasa dengan pembelajaran klasikal dengan pola duduk yang konvensional. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk kegiatan pembelajaran di kelas. Dengan jumlah siswa sekitar 30an dan ukuran dan bentuk ruang kelas yang konvensional maka bisa dibayangkan bila diteruskan pola pembelajaran seperti ini maka sekolah akan menjadi ladang pembantaian COVID-19 terhadap anak-anak karena peluang saling tertularnya anak-anak sangat tinggi.

Tentu saja untuk mengubah jarak antar siswa ini harus dilakukan dengan mengurangi minimal separuh dari penduduk kelas seperti yang dilakukan pada moda transportasi. Lha terus dikemanakan anak-anak kelebihannya? Membangun ruang kelas baru jelas bukan pilihan, karena pasti terbentur biaya dan lahan.

Baca Juga: Moving Class dan Outing Class: Alternatif Efektif Pembelajaran Aman Saat Belajar Bersama COVID-19

Masalah menjadi semakin berat pada sekolah yang memiliki jumlah murid tinggi dan ruang (space) terbatas sehingga bagunan gedung sekolahnya bertingkat, tidak hanya bertingkat dua, malah tiga, empat dan seterusnya. Bila selama ini memiliki sekolah dengan gedung bertingkat banyak dan megah merupakan indikator kemewahan sekolah yang bersangkutan, maka dalam era new normal ini malah menjadi tanda bencana bila tetap menerapkan old normal.

Masalah berikutnya adalah pemecahan kelas. Adanya penjarangan siswa dalam kelas, maka sama saja dengan memecah kelas menjadi paralel. Ini masalah berat karena rasio guru:siswa sudah ditetapkan dalam standar pendidikan nasional, bisa-bisa guru yang mengajar tidak diakui “secara administratif” dan kehilangan hak administratifnya untuk memperoleh tunjangan profesional. Alhamdulillah, Sekolah Garasi ngotot mempertahankan rasio guru:siswa maksimal 1:12-14, meskipun dampaknya skor akreditasi dalam standar pendidik memperoleh skor yang rendah.

Alhamdulillah, Sekolah Garasi telah siap melaksanakan pola pembelajaran yang sesuai dengan pola hidup normal baru (the new normally lifestyle) yang cocok untuk hidup berdampingan dengan sistem moving class dalam pendidikan kafetaria yang luwes waktu.