Menyoal Pergeseran Makna Hari Ibu

Penulis bernama lengkap Wahyu Hendra Utama, pegiat Rumah Baca Api Literasi, Mahasiswa FKIP-UMM, Ketua Umum IMM Raushan Fikr FKIP-UMM 2019-2020.

0
494

0Shares
0

Sejarah mencatat bahwa setiap tanggal 22 Desember, Indonesia memperingati hari ibu. Tidak hanya Indonesia, di beberapa Negara juga terdapat hal yang serupa, atau kita kenal sebagai Mother’s Day (Internasional), hanya saja setiap Negara memiliki tanggal dan sejarah yang berbeda dalam momentumnya. Setiap Negara juga mempunyai versinya masing-masing dalam memperingatinya.

Kampusdesa.or.id- Sebut saja Perancis, di Perancis Hari Ibu dirayakan setiap tanggal 26 Mei. Peringatan tersebut untuk menghormati para istri yang ditinggal gugur suaminya dalam Perang Dunia I. Dulu, beberapa walikota di Perancis menganugerahi medali khusus untuk para ibu terpilih. Sedangkan untuk saat ini, Hari Ibu dirayakan dengan memberikan hadiah dan kue berbentuk bunga kepada ibu.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, peringatan Hari Ibu di Indonesia mengalami penyempitan makna. Hari Ibu di Indonesia diperingati hanya untuk sebatas berterimakasih kepada Ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan seseorang. Bentuk terimakasih seorang anak kepada Ibu juga diberikan karena Ibu telah melakukan tugasnya di wilayah domestik dengan baik.

Dalam menelaah makna Hari Ibu di Indonesia, sejarah pergerakan perempuan di Indonesia harus dikaji ulang. Pengetahuan sejarah sangatlah penting untuk memberikan makna pada suatu momentum besar. Selain itu, mengetahui kultur dalam suatu Negara juga dapat sebagai alat untuk menginterpretasikan suatu makna tersebut.

Pentingnya Sejarah Untuk Mencari Makna: Sebelum membahas lebih spesifik tentang lahirnya Hari Ibu di Indonesia, seyogyanya kita melihat kilas balik peta pergerakan perempuan di Indonesia. Secara sederhana, pergerakan perempuan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang dan sampai saat ini. Pembahasan ini akan fokus pada dua periode, yaitu masa penjajahan Belanda dan Jepang. Karena dua periode tersebut akan mengantarkan pada pemahaman tentang sejarah Hari Ibu.

Beberapa tokoh yang sampai saat ini bisa kita jadikan teladan antara lain Cut Nyak Dien, Nyai Ageng Serang, Cut Mutia dan lain-lain.

Pada periode penjajahan Belanda gerakan perempuan intens pada perlawanan untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme. Perempuan pada masa itu terlibat secara fisik dalam proses perlawanan. Beberapa tokoh yang sampai saat ini bisa kita jadikan teladan antara lain Cut Nyak Dien, Nyai Ageng Serang, Cut Mutia dan lain-lain.

Pada masa penjajahan jepang, perjuangan gerakan perempuan lebih bersifat penyadaran, hal itu tidak bisa lepas dari ide-ide feminisme yang diadopsi dari barat. Gerakan tersebut menginisiasi adanya egaliter antara laki-laki dan perempuan di ranah publik, peran politik, pendidikan, hukum dan budaya. Pada masa inilah kilas balik perjuangan perempuan perintis kemerdekaan yang juga ada kaitannya dengan sejarah Hari Ibu.

Tonggak sejarah Hari Ibu dimulai dari kongres perempuan pertama yang dilaksanakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres tersebut dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan. Isu yang diangkat dalam kongres tersebut lebih bersifat kebangsaan, mulai dari pelibatan perempuan dalam pembangunan bangsa, penolakan terhadap eksploitasi anak dan perempuan dan ihwal kesetaraan gender. Barulah tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu, keputusan tersebut dihasilkan dari kongres perempuan ketiga pada tahun 1938.

Kita semua menyadari bahwa perjuangan perempuan tentu berbeda dari masa pra-kemerdekaan sampai pasca-kemerdekaan. Dari pengalaman sejarah setidaknya kita tau goresan perjuangan lahirnya Hari Ibu memiliki spirit yang bersifat emansipatif. Tapi kini realita berdeda, seorang perempuan khususnya ibu telah terjebak dalam dominasi struktur, dimana seorang perempuan dianggap berhasil jika telah menyelesaikan tugas domestik dengan baik.

Laki-laki berperan sebagai kontrol utama di tengah masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Interpretasi Makna Hari Ibu untuk Melepas Belenggu Patriarki: Konsep patriarki berasal dari kata patriarkat, yang artinya struktur yang memberikan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral, dan segala galanya. Sistem patriarki mendominasi kebudayaan masyarakat yang kemudian menyebabkan adanya kesenjangan dan ketidakadilan gender yang mempengaruhi hak-hak perempuan di ranah publik maupun privat. Laki-laki berperan sebagai kontrol utama di tengah masyarakat, sedangkan perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat, baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Posisi perempuan dalam budaya patriarki dapat dibilang dalam posisi yang tersubordinasi. Jelasnya seorang perempuan hanya berhak berkutat di wilayah domestik, yang itu tentu saja merengguk hak-hak perempuan di ranah publik khususnya peran perempuan dalam menentukan nasibnya sendiri. Dalam konteks Hari Ibu, tulisan ini mencoba mengemas makna Hari Ibu sebagai anti-tesis atas budaya patriarki yang menyelimuti bangsa ini.

Jika kini peringatan Hari Ibu dimaknai dalam konteks domestik, dimana seorang ibu dianggap telah berhasil menjadi Ibu karena telah menyelesaikan tugas domestiknya dengan baik. Maka dari itu, mulai dari sekarang logika semacam itu harus dihilangkan dan segera diganti. Melalui fakta sejarah dan sosial tersebut seharusnya menjadi pelajaran yang penting dalam memberi makna tentang Hari Ibu.

Sudah saatnya kita meluruskan makna Hari Ibu yang bersifat patriarkis di bangsa ini. Melalui momentum ini, interpretasi yang harus dibangun tentang makna Hari Ibu adalah interpretasi untuk melepas belenggu patriarki. Makna Hari Ibu harus segera dapat mengakhiri buta gender yang kini telah mengaburkan pandangan tentang kesetaraan dan keadilan. Akhir kata, kita sepakat bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk berekspresi dan menentukan haknya di segala aspek kehidupan.

Editor: Fathan Faris Saputro