Memahami Medan Aura: Menuju Komunikasi Efektif

0
142
Ilustrasi Komunikasi Efektif. Sumber gambar: https://silabus.org/pengertian-komunikasi-efektif/

0Shares
0

Pada akhirnya saya memiliki kesadaraan untuk membahagiakan orang tua saya juga diri saya. Di sini, saya menjadi pribadi yang lebih giat dan serius dalam mengikuti perkuliahan dan pembelajaran di luar kelas yang masih linier dengan jurusan saya. Magang akhirnya menjadi opsi bagi diri saya setelah kompetensi saya memang sudah baik, dan opsi tersebut dapat saya lakukan setelah lulus kuliah nanti atau pada saat libur semester.

Kampusdesa.or.id–Sebenarnya saat saya menuliskan ini, saya belum sepenuhnya memahami apa yang akan saya tuliskan. Saya belum sepenuhnya memahami pemaparan yang telah disampaikan oleh Pak Mahpur maupun feedback yang diberikan oleh teman-teman di kelas. Dan sampai bait kalimat ini pun, saya masih bertanya-tanya bagaimana sih menemukan sinyal seseorang melalui aura satu sama lain saat melakukan komunikasi. Entah saya dapat memaparkannya atau tidak, disini saya mencoba memberikan gambaran yang ada di dalam pikiran saya.

Setiap manusia tentunya memiliki auranya masing-masing. Aura tersebut tidak berwujud, tidak dapat dilihat melalui mata telanjang manusia biasa, namun bisa dirasakan dengan kepekaan yang tentunya telah terasah sebelumnya. Mengasah kepekaan tentunya tidak akan mudah. Butuh beberapa kali latihan, butuh kesabaran, dan butuh energi ekstra yakni menurunkan ego pada diri masing-masing individu untuk melihat dan merasakan lebih jauh apa-apa yang ada dihadapan individu tersebut. Saya adalah salah satu orang yang tidak peka, ah lebih tepatnya belum peka. Saya bersyukur, karena saya sudah mendapat bekal teori untuk bisa menjadi individu peka, yang itu saya dapatkan pada saat mata kuliah Tes Grafis binaan Bu Fuji Astutik. Namun, apakah saya benar-benar mensyukurinya? Dalam perjalanan saya, saya hanya menanamkan teori peka di otak saya, tidak take-action atas keilmuan yang telah saya dapatkan. Bukti bahwa saya menyia-nyiakan apa yang telah dianugerahkan pada saya.

Oke, tidak usah terlalu lama menyesalinya.

Berbekal keilmuan tersebut, saya mendapat tambahan bekal di kelas Psikologi Komunikasi. Bekal yang sudah saya bawa sangat berkorelasi dengan mata kuliah Psikologi Komunikasi. Untuk memulai berkomunikasi dengan seseorang (siapa pun itu), modal pertama adalah menemukan sinyal agar pesan yang akan diinformasikan dapat sampai dengan pemahaman yang sama. Sinyal saling ditemukan satu sama lain, bukan hanya satu sisi saja yang menemukan sinyal tersebut. Ada beberapa faktor pemicu munculya sinyal, yakni kedekatan, kenyaman dan saling “nyambung”. Itu hanyalah beberapa faktor pemicu, karena sejatinya sinyal akan terbangun melalui kesiapan kita “masuk” pada medan aura lawan bicara. Saya rasa, itu tidak mudah. Tapi, mari kita coba.

Medan aura, saya tidak dapat menemukan deskripsi yang sesuai untuk dua kata tersebut. Namun, ada 5 komponen medan aura yang saya tangkap melalui penjelasan Pak Mahpur. Komponen pertama adalah pikiran. Pikiran manusia merupakan tempat pertama menangkap dan mengolah informasi atas apa yang kita lihat, dengar dan rasakan. Di pikiran kita, kita dapat menghidupkan penalaran untuk mengolah informasi yang kita dapatkan secara lebih logis, dan “sehat”. Saat kita melakukan komunikasi, pikiran kita diusahakan untuk tidak terjebak pada informasi yang menjadikan justifikasi. Oleh karenanya, fokus yang bisa kita bentuk dari penalaran ialah memandang individu secara positif yakni mengesampingkan hal negatif yang ada pada diri individu (lawan bicara) dengan berfokus pada apa yang individu tersebut sukai. Kita menjalankan komunikasi mengenai hal-hal yang kita suka, dan membuang jauh keburukan-keburukan pada diri kita, tujuannya tak lain ialah dapat mengembangkan potensi melalui hal-hal yang kita suka. Sinyal pun akan mudah ditemukan melalui komunikasi yang positif, dan mampu melahirkan pesan setara tanpa adanya pemaksaan untuk saling memahami, ataupun memaksakan untuk memahami.

Komponen selanjutnya adalah perasaan. Ketika pikiran sudah menghidupkan nalar, maka dari penalaran tersebut kita mulai menghadirkan perasaan. Perasaan apa? Perasaan suka yang dirasakan oleh lawan bicara, dihadirkan pada perasaan diri kita. Ini, tentu butuh kepekaan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan. Komponen ketiga pada medan aura adalah pengalaman (experience), pengalaman orang lain kita visualisasikan menjadi pengalaman diri kita sendiri. Pengalaman tersebut hanya akan mampu kita visualisasikan setelah kita menemukan nalar dan meresapi nalar tersebut menjadi perasaan kita, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jadi akan lebih mudah kita memvisualisasikan pengalaman, ketika sudah “masuk” pada perasaan kita. Komponen yang keempat adalah mental. Mental yang dimaksudkan adalah kesiapan, kesiapan untuk men-develop apa yang sudah dicipta dari penalaran, perasaan yang telah dirasa, dan pengalaman yang divisualisasikan menjadi spirit (semangat) komponen terakhir yang merupakan inti dari medan aura. “Semangat atau spirit”, menjadikan kita dan lawan bicara menemukan pesan yang setara, yang disepakati bersama, yang merupakan awal pijakan dalam menemukan sinyal satu sama lain dan mendapat bonus berupa pengembangan potensi diri, bukan lagi negativity dan justifikasi.

Sejatinya semua itu hanyalah teori untuk menemukan cara “masuk” pada medan aura, untuk menemukan sinyal dan membangun komunikasi yang setara. Bagi diri saya pribadi, untuk dapat masuk pada medan aura lawan bicara atau memahami orang lain melalui auranya yakni menurunkan ego kita untuk lebih peka. Peka adalah kunci untuk memandang sesuatu yang dihadapkan menjadi lebih positif, peka adalah sarana menuju sinyal terhubung. Itu bagi saya. Dan tentunya orang-orang mempunyai caranya masing-masing untuk merasakan aura disekitarnya. Tidak dituntut dalam menemukan dan merasakan aura tersebut.

Baiklah, untuk lebih jelasnya saya akan membahas kekuatan medan aura ini dalam menangkap sinyal komunikasi sesuai dengan pengalaman pribadi saya. Namun, pada kesempatan ini saya akan membahasnya secara apa adanya.

Saya, bukanlah orang yang dengan mudah ber-positive thinking dengan orang lain. Ketika saya melakukan komunikasi dengan orang, nalar berpikir saya masih perlu diasah. Hal tersebut menjadikan saya dengan lawan bicara saya tidak saling memahami, tidak ada kecocokan, atau dapat dikatakan disconnected. Setelah mengikuti perkuliahan psikologi komunikasi, saya belajar untuk membangun nalar berpikir saya agar sinyal saya dapat terhubung dengan lawan bicara saya. Saya memandang orang yang sedang berbicara dengan saya dengan sudut pandang positif. Obrolan pun memunculkan obrolan positif dan tentunya meaningful. Selain itu, emosi yang saya rasakan adalah emosi yang positif. Tadinya yang ketika saya memandang lawan bicara saya dengan sudut pandang negatif, emosi saya bawaannya ingin “nge-gas” saja kalau sedang berbicara. Ego saya tinggi, karena saya merasa saya yang paling benar dan berhak didengar oleh lawan bicara saya.

Pengalaman ini bermula saat saya ingin mengutarakan keinginan saya untuk mengikuti magang di suatu instansi lembaga psikologi. Saat itu, orang tua saya sangat keras kepala dengan keinginannya yakni menginginkan saya hanya fokus dengan skripsi agar bisa lulus minimal tepat waktu. Saya tidak berani mengutarakan keinginan tersebut sehingga saya mendaftarkan diri saya untuk mengikuti magang tersebut tanpa restu atau izin dari orang tua saya. Saya tidak berani dikarenakan saya telah berpikiran negatif atau saya sudah punya pandangan negatif mengenai orang tua saya kalau saya pasti tidak akan diizinkan. Namun, saya mulai merubah pandangan saya, saya mencoba berkomunikasi sebagai bentuk menemukan tujuan yang selaras. Saya ingin mengetahui alasan-alasan orang tua saya mengapa beliau menginginkan saya fokus pada skripsi, serta mencoba memahami beliau lebih dalam lagi. Kemudian beliau mengutarakan alasan-alasan atas keinginannya. Saya mencoba lebih menggunakan nalar berpikir saya atas informasi yang telah
saya terima tersebut. Serta mulai masuk pada apa yang sebenarnya orangtua saya rasakan. Saya merasakannya, dan menjadikan perasaan tersebut sebagai pengalaman pribadi saya.

Akhirnya titik terang permasalahan saya ditemukan, akibat dalam komunikasi tersebut saya berhasil menemukan sinyal atau mendapatkan sinyal orang tua saya. Saya memandang bahwa komunikasi tersebut merupakan pengalaman positif yang sudah saya dapatkan, sehingga kesepakatan yang dilakukan setelah terjadinya pengalaman tersebut saya mengoptimalkan diri saya dalam mengerjakan tanggung jawab saya sebagai mahasiswi. Pada akhirnya saya memiliki kesadaraan untuk membahagiakan orang tua saya juga diri saya. Di sini, saya menjadi pribadi yang lebih giat dan serius dalam mengikuti perkuliahan dan pembelajaran di luar kelas yang masih linier dengan jurusan saya. Magang akhirnya menjadi opsi bagi diri saya setelah kompetensi saya memang sudah baik, dan opsi tersebut dapat saya lakukan setelah lulus kuliah nanti atau pada saat libur semester.

Begitulah cara saya praktek menemukan sinyal melalui medan aura, walaupun memang medan aura hanya dapat kita rasakan, tapi tidak ada salahnya kita mengetahui komponennya untuk menuju komunikasi efektif. Teori adalah bekal keilmuaan yang harus kita punya, namun prakteknya memang setiap orang punya caranya masing-masing.

Penulis: Firyal Nabila,
Mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2016