Khutbah Idul Fitri Ala Mahasiswa Rantau

0
160
khutbah idul fitri
Foto dokumentasi pribadi: Ustadz Husnul Fuad Zein

0Shares
0

Kampusdesa.or.id–Bangkok (24/05), tahun ini sekumpulan mahasiswa muslim Indonesia yang studi di Thailand tidak bisa mudik lebaran. Karena situasi darurat pandemi virus corona, memaksa kami untuk masih tetap stay di sini. Kebetulan saya dan teman-teman tinggal di Prachauthit soi 69 area Thungkhru Bangmod, yang mana banyak komunitas muslim di sekitar sini. Namun saat lebaran hari ini -akibat wabah COVID-19 semua masjid pada tutup. Sehingga tidak ada pelaksanaan shalat idul fitri di masjid.

Lantas kami berinisiatif sendiri mengadakan shalat idul fitri bersama teman-teman Indonesia di mansion (mini apartment) tempat kami tinggal. Alhamdulillah kami semua dalam kondisi sehat dan semua rangkaian pelaksanaan berjalan dengan lancar.

Yang bertindak sebagai imam shalat ied adalah Achmad Rifky Alfian, S.Si al-hafiedz, ketua jamaah pengajian “Ngajimod”. Adapun yang menjadi khotib idul fitri adalah Dr.(cand) Husnul Fuad Zein, S.Si, M.Sc. Berikut rangkuman isi khutbah idul fitri 1441 H ala mahasiswa rantau.

Dalam menghadapi ujian pandemi viruscorona kita harus selalu menanamkan sabar dan syukur kepada Allah SWT. Selain itu kita seyogyanya bisa mengambil hikmah di balik setiap musibah. Salahsatunya menjadi sadar kalau manusia adalah makhluk yang lemah. Sudah saatnya kita semua mengikis habis kesombongan. Kondisi ini juga mengingatkan akan kematian. Tidak ada seorang pun yang mampu memajukan atau memundurkan kematian. Mati juga tidak permisi kepada muda atau yang tua. Ia mampu menjemput orang kapanpun.

Di sini pentingnya belajar ilmu agama, untuk dapat memetik hikmah di balik sebuah musibah dan menghadapinya sesuai ajaran syariah. Sebagai seorang mukmin setiap ramadhan harap-harap cemas antara diterima atau ditolak amal ibadahnya. Namun kadang kecemasanakan mampu mendorong untuk terus beribah. Karena kita tdk tahu mana amalan kita yang diterima.

Hari ini, tiba di hari kemenangan nan fitri. Ini saatnya kita memenuhi hak-hak agama. Momen ini dijadikan ajang silaturahim. Musim pandemi tidak menggalangi untuk saling silaturahim. Berbagai cara bisa dilakukan, bisa melalui media daring. Muslim pandemi dianjurkan ada jarak fisik, tapi jarak sosial tidak boleh renggang. Melalui tersambung menggunakan telpon.

Dalam Shahih Ibn Hibbban dari hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Wahai Rasulullah, beritahulah aku tentang sesuatu yang jika aku kerjakan, maka aku akan masuk surga. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Berikanlah makanan, sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahim dan lakukan shalat malam ketika orang-orang tidur, maka engkau akan masuk surga dengan selamat” [HR. Ibnu Hibban]

Maka, walaupun musim pandemi jangan tinggalkan keluarga. Usahakan kita dahulu yang menyambung silaturahmi. Jadilah orang pertama kali yang melakukan. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Jangan sampai kondisi saat ini menjadikan kita memutus silaturahmi. Itu dilarang karena dosa besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Tidak akan masuk surga (bersama orang-orang yang lebih awal masuk surga) orang yang memutus silaturahim” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Termasuk silaturahim adalah membantu kerabat kita ketika mereka dalam kondisi membutuhkan, terutama dalam situasi pandemi seperti saat ini. Dalam hadits disebutkan:

“Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya karena musibah yang menimpanya, kecuali Allah akan mengenakan kepadanya pakaian-pakaian kemuliaan di hari kiamat.” [HR. Ibnu Majah]

Dengan sebab silaturahmi pula dapat melapangkan rejeki dan memudahkan urusan, dan dipanjangkan umur.  Sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebuah hadis oleh Imam Bukhari. Dari Abu Hurairah, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknyalah ia menyambung (tali) silahturrahim.” [Hadits riwayat al hakim]

Kita jadikan momen hari raya menjaga silaturahim ke tetangga, kolega, teman, dan lapisan masyarakat lainnya. Jadikan kesempatan meminta maaf barangkali ada yang pernah terdolimi. Karena jika tidak, akan bangkrut di akhirat kelak. Amalan baik kita dibuat menukar kesalah kita kepada orang lain karena belum meminta maaf sebelum meninggal. Akhirnya malah habis dan dilempar di neraka.

Masuk hhutbah kedua, Ustadz Fuad menghimbau untuk menyempatkan melakukan amalan puasa sunnah 6 hari syawal. Setelah menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh, disunahkan juga untuk berpuasa di bulan Syawal atau puasa Syawal. Rasulullah SAW pun selalu mengajarkan puasa Syawal ini.

Salah satu keutamaan bagi umat yang mengerjakan puasa di bulan Syawal ini adalah akan mendapat pahala seperti berpuasa selama setahun penuh. Sebagaimana hal ini sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW sendiri, yang berbunyi:

“Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian ia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, ia akan mendapat pahala seperti setahu penuh.” [HR. Muslim]

Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan dapat mengamalkannya. Aamiin allahumma aamiin.