Desa Wisata Jambu: Wujud Nyata Pengelolaan Dana Desa

1
3097
Salah satu ikon wisata Sejuta Ikan Kedungcangkring, Desa Jambu, Kec. Pare, Kediri. Foto : Syamsu Dhuha

0Shares
0

Mengolah Dana Desa yang ratusan juta hingga miliaran menjadi tantangan baru bagi Desa. Apalagi para aparatus desa masih banyak yang bermental feodalis. Mental kerajaan yang masih mengunggulkan kepriayian dan menciptakan pola, sing penting opo jare pak Lurah. Situasi begini ini yang membawa budaya aristokratik. Lurah/Kepala Desa masih simbol kekuasaan yang belum mampu mengubah partisipasi dalam pengambilan keputusan pengembangan desa. Yah, nampaknya Desa Wisata Kebun Bibit, Desa Jambu, Pare, Kediri membuktikan jika kelahirkan desa wisata ini adalah bukti pergeseran dari gaya kepemimpinan feodalistik pemerintah desa ke partisipasi untuk melahirkan desa membangun.

Kediri, KampusDesa–Jamak di masyarakat, khususnya mereka yang usianya digolongkan sebagai pemuda atau bahkan mereka yang sudah jauh dari kata muda namun semangat hidupnya membara masih ingin berkontribusi untuk masyarakat setempat. Kendala yang banyak ditemui adalah keterbatasan informasi dan kurang diperhatikan. Bahwa sistem bottom-up seperti Musrenbang belum bisa menyeluruh, sebab hanya beberapa orang saja (yang termasuk kerabat) yang diperkenankan ikut. Padahal bisa jadi, beberapa orang itu hanya akan ber-musrenbang untuk kepentingan diri sendiri.

Khazanah ilmu ekonomi menyebutkan bahwa kelangkaan terjadi akibat sumber daya yang terbatas dan kebutuhan manusia yang tak terbatas. Nah! Konteks kebutuhan dalam hal ini tidak dibatasi melulu untuk konsumsi, melainkan kebutuhan akan pemimpin yang bertanggung jawab. Krisis pemimpin jujur menjadi konflik urgen di era ini. Tidak perlu membahas pemimpin daerah atau wakil rakyat yang akhir-akhir ini mulai menyeruak tercium “bau amis”nya.

Di lingkup desa, pemimpin yang diberi amanah mengelola dana desa saja, belum mampu/malas menyejahterakan masyarakatnya. Sedangkan dari perspektif khusnudzon, kemungkinan besar, mereka (pemimpin dan wakil masyarakat) kekurangan ide untuk mengelola dana desa.

Ini perspektif suudzon saya. Di lingkup desa, pemimpin yang diberi amanah mengelola dana desa saja, belum mampu/malas menyejahterakan masyarakatnya. Sedangkan dari perspektif khusnudzon, kemungkinan besar, mereka (pemimpin dan wakil masyarakat) kekurangan ide untuk mengelola dana desa. “Mau diapakan dana desa sebanyak ini?” Karena kekurangan ide, akhirnya mereka mudah saja memasukkan ke katong pribadi dulu.

Maka saya akan mengambil pembahasan dari sudut pandang khusnudzon. Karena kekurangan ide, pemimpin tersebut kemudian mencari ide kepada orang lain, pemuda misalnya. Berikut adalah desa yang patut dicontoh, baik dari pemimpinnya, pemudanya, juga masyarakatnya.

Wisata Kebun Bibit, Desa Jambu, Pare Kediri. Desa wisata yang dikelola secara mandiri terintegrasi dengan BUMDES dan bisa menjadi APDes alias Anggaran Pendapatan Desa. Foto : Syamsu Dhuha

Berikut adalah ulasan dalam menjawab opini saya sebelumnya, yaitu Rasionalitas dan Ekspektasi Penerapan Dana Desa.

Desa Jambu, Pare, Kediri atau biasa orang-orang menyebutnya Kebun Bibit Kediri. Kebun Bibit Kediri adalah suatu rest area yang memadukan konsep perkebunan dan restoran. Pemandangannya asri dengan pohon buah-buahan banyak tersebar. Ini hanya destinasi awal. Desa Jambu mempunyai 8 wisata edukasi antara lain, wisata edukasi, sungai sejuta ikan, gamelan, tanam padi, peternakan perah susu kambing etawa, taman baca, petik kelengkeng, taman sejuta warna, dan sungai Niagara. Semua wisata tersebut tersebar di dusun-dusun Desa Jambu. Berikut ulasan wisata yang dikembangkan melalui dana desa dan sinergi antara kepala desa dan masyarakat.

Sungai Sejuta Ikan adalah sungai kecil atau parit atau kalen (dalam bahasa jawa) yang letaknya di belakang rumah warga Dusun Kedungcangkring, Desa Jambu. Parit selebar (kira-kira) 2 meter ini dipasang jaring-jaring sepanjang 100 meter dan diisi ikan Koi, tombro, komet, dan ikan lainnya. Pengunjung bisa memberi makan ikan sambil mencelupkan kaki ke parit atau sambil mandi bersama ‘sejuta’ ikan. Adapun wisata edukasi tanam padi. Lokasinya hanya berjarak 50 meter dari sungai sejuta ikan. Namun wisata ini hanya bisa dinikmati bila berombongan minimal 20 orang. Saya yakin potensi-potensi itu ada di beberapa desa lain, namun kurang dikelola dengan baik.

Sejuta Ikan. Dusun Kedungcangking, Jambu, Pare, Kediri. Foto : Syamsu Dhuha

Selain dua wisata di atas ada juga petik kelengkeng. Wisata petik kelengkeng ini berada di Dusun Jambu, berjarak 1 Km dari lokasi wisata sungai sejuta ikan. Lahan seluas 2 hektar ditanami 8400 pohon kelengkeng. Pengunjung bisa menikmati kelengkeng langsung dari pohonnya. Kalau mau bawa pulang buat oleh-oleh? Sangat bisa! Cukup membayar 25 ribu rupiah, 1 Kg Kelengkeng bisa disantap di rumah.

Tidak hanya pertanian dan perkebunan. Sektor peternakan pun mereka kembangkan seperti di wisata ini, yaitu peternakan perah kambing Etawa. Lokasinya hanya berjarak 100 meter dari wisata petik kelengkeng. Puluhan kambing etawa yang ditempatkan di kandang kayu yang besar dan cukup bersih. Kambing-kambing ini tampak bersih, dan siap diperah susunya. Setelah itu, susu yang diperahpun bisa di bawa pulang sebagai oleh-oleh.

Mengelola desa berpenduduk 5790 jiwa ini, tentulah bukan perkara mudah. Segalanya berawal dari tiga tahun lalu, ketika Desa Jambu hanya dikenal sebatas wisata petik buah kelengkengnya saja. Pak Agus sebagai kepala desa memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan potensi wisata desa Jambu. Sungai Desa Jambu yang berarus deras di musim penghujan, studio gamelan milik warga, dan peternakan perah susu kambing etawa sudah ada dan sangat potensial untuk dijadikan objek wisata.

“Pengelolaan sumberdaya alam atau desa wisata ini lebih memaksimakan peranan BUMDes sebagai lembaga sosial dan lembaga komersial desa. … Lumayan lho mbak, pemasukan bersih perbulannya sekitar 11 juta dari modal awal 10 juta.

Wisatawan lokal sedang asyik melihat dan mengambil video di seputaran kebun bibit (Foto : Syamsu Dhuha)

Wisata Edukasi Desa Jambu dikelola oleh masyarakat sendiri, tanpa melibatkan pihak luar dan bernaung pada Badan Usaha Milik Desa atau (BUMDes). “Pengelolaan sumberdaya alam atau desa wisata ini lebih memaksimakan peranan BUMDes sebagai lembaga sosial dan lembaga komersial desa. Dengan adanya Desa Wisata ini, tentu memberdayakan masyarakat dengan mengubah pola pikir dan perilakunya. Kesejahteraan masyarakatpun meningkat. Pendapatan dari pengunjung sebagian kembali kepada masyarakat, kemudian sisanya masuk kas desa dan menjadi pemasukan asli desa atau PADes. Lumayan lho mbak, pemasukan bersih perbulannya sekitar 11 juta dari modal awal 10 juta. Ini sebagai implemetasi nyata tulisan saya sebelumnya, yaitu Peran BUMDes Sebagai Sarana Kemandirian Ekonomi Desa.

Kesuksesan Desa Jambu menjadi destinasi wisata edukasi adalah wujud kerja keras BUMDes di bidang ekonomi dan dukungan nyata dari Dana Desa. Desa memanggil pemuda-pemudinya menjadi motor penggerak pembangunan melalui Karang Taruna maupun BUMDes. Karang Taruna yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan, adalah wadah dan sarana pengembangan setiap anggota masyarakat terutama generasi muda di wilayah desa/kelurahan. Melalui Karang Taruna, pemuda diharapkan berkiprah di bidang usaha kesejahteraan sosial, kegiatan keagamaan, pendidikan, olah raga, kesenian, dan lain-lain.

Pengelolaan BUMDes oleh pemuda mempunyai beberapa dampak positif: membuka lapangan kerja, mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi, memaksimalkan potensi desa karena pemuda memiliki kapasitas pendidikan yang tinggi, dan bersih dari kepentingan politis. Di atas adalah implemenatasi dari tulisan sebelumnya, tentang Pemuda Sebagai Informal Leader Penggerak Masyarakat Menuju Desa Lebih Baik.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here