Turning Dream to Reality: Merealisasikan Mimpi dan Obsesi Masa Depan

0
140
dream-reality-obsesi-mimpi

0Shares
0

Untuk merubah dream into reality, orang harus siap berpindah dari zona nyaman kepada zona yang tidak nyaman. Jangan self defence terhadap perubahan, jangan membuat pertahanan diri terhadap perubahan dimasa depan.

Kampusdesa.or.id–Sebelum membahas “Turning Dreams Into Reality” yaitu bagaimana kita berjuang untuk meraih mimpi-mimpi besar di masa depan. Saya ingin sedikit sharing usai menyelesaikan ujian tesis di pascasarjana UNIB. Saya dipanggil oleh penguji sekaligus pembimbing kedua yaitu Prof. Dr. H. Abu Yazid, LLM, MA di ruang dosen sambil ngobrol renyah tapi serius.

“Mas, setelah ini apa agenda utamanya?”, tanya beliau. “Saya ingin menyusul Anda untuk bergelar doktor dan profesor”, jawab penulis dengan spontan.”Bagus itu, keywordnya dua mas, himmatul ‘aliyah (obsesi tinggi) dan al-jaddu (antusias dan fokus)”, jawab beliau sambil memberikan spirit motivasi. Berbekal itu, penulis seolah-olah mempunyai mesin penggerak kehidupan untuk meraih mimpi.

Untuk merealisasikan frasa ‘impossible’ menjadi ‘possible’ ada empat langkah utama yang harus kita jalani. Saya singkat dengan istilah FAMES. Ada lima huruf: F, A, M, E, dan S.

Pertama, huruf F, singkatan dari fear to failure, merasa takut gagal. Artinya, ia sudah memvonis dirinya terlebih dahulu menjadi orang gagal. Kemarin ada seorang teman bertanya kepada saya tentang studi doktor yang ditempuh dalam waktu empat tahun dengan biaya mandiri, ia berkilah:

“Wah, kalau saya sepertinya tidak mampu untuk mengikuti jejak dirimu” ketusnya pesimis.

Kedua, huruf A, singkatan dari againts to the possibility, artinya melawan terhadap segala kemungkinan. Ketika saya mendaftar program doktor dan diterima menjadi doctor candidate, saya sudah menyiapkan beberapa opsi kemungkinan terburuk yang akan terjadi sehingga psikis dan fisik kita sudah mempunyai anti body dan imunitas yang sudah siap.

Ketiga, huruf M singkatan dari mediocrity, artinya bersikap hidup seperti orang biasa-biasa saja. Mediocure itu adalah sesuai dengan namanya, medik itu medium. Kita terpasung dengan pola hidup yang biasa saja dan tidak berani melangkah untuk menjadi orang yang luar biasa. Hal ini, sudah pernah disinyalir oleh Ibnu Athoillah dalam kitab Hikam,

“Jangan pernah bermimpi menjadi orang luar biasa, jika perilaku hidup kalian saat ini biasa-biasa saja.”

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

Prinsip saya adalah akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, termasuk keluar dari zona nyaman untuk meraih mimpi masa depan, sementara mereka terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya tanpa ada usaha untuk mewujudnya realitanya.

Makanya, prinsip saya adalah akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, termasuk keluar dari zona nyaman untuk meraih mimpi masa depan, sementara mereka terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya tanpa ada usaha untuk mewujudnya realitanya.

Keempat, huruf E singkatan dari lack of enthusiasm, artinya kekurangan antusiasme dalam menjalani kehidupan. Misalnya kekurangan bahkan mulai hilangnya antuasiasme dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi, tesis atau disertasi).

Saya punya teman program doktoral dan berada dalam bimbingan Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Begitu ia mendapat penolakan, didamprat dan dimarahin satu kali, ia langsung down dan keok sampai sekarang.

Kelima, huruf S singkatan dari self defence to the change, artinya melakukan upaya protektif terhadap perubahan. Everybody reject change, setiap orang cenderung untuk menolak perubahan. Padahal, perubahan harus dilakukan bila ingin menjadi hebat dan sukses.

Saya punya cerita unik, ketika selesai mengisi kuliah tiba-tiba ada mahasiswa menghampiri dan berkata:

Ajunan Mak pas aube nyalep ngacer, abdinah kapdar e pondhuk al-Utsmani Bheddien/ Anda kok berubah drastis, saya adalah pernah menjabat kepala daerah di pondok pesantren al-Utsmani”, bilangnya dengan agak grogi.

Engghi, khotuh aobe odik klaben pendidikan, jhe’ sampe’ poas klaben elmuh se ekaandi samangken/tentu, hidup ini harus berubah dengan pendidikan, jangan cepat merasa puas dengan ilmu yang kita miliki saat ini”, jawab saya.

Untuk merubah dream into reality, orang harus siap berpindah dari zona nyaman kepada zona yang tidak nyaman. Jangan self defence terhadap perubahan, jangan membuat pertahanan diri terhadap perubahan dimasa depan.