Belajar Merdeka: Belajar Penuh Makna

0
360

0Shares
0

Walaupun terdiri dari 100 milyar sel saraf, nyatanya tak setiap informasi dapat disimpan oleh otak manusia. Keterbatasan ini tentu harus dipertimbangkan guru dalam melangsungkan pembelajaran. Jangan sampai proses belajar siswa kehilangan makna, hanya karena guru asyik sendiri berceramah ria dan lupa bahwa setiap detail katanya tak terrekam oleh ingatan siswa.

Kampusdesa.or.id-Setiap detik, bahkan setiap saat, hanya sepersekian detik indra penerima kita bisa menerima sekian banyak informasi. Mata melihat berbagai rangsangan visual, telinga mendengar berbagai suara, hidung menerima berbagai bau, demikian pula indra kita yang lain yaitu indera pencecap, dan peraba. Namun informasi yang terbanyak lewat indra penglihatan dan pendengaran.

Saat kita berangkat ke sekolah, di jalan bertemu dengan puluhan, bahkan mungkin bisa ratusan orang, saat kita di mall, kita melihat ribuan benda yang dipajang di situ, saat di pasar kita mendengar aneka suara, demikian pula saat di sekolah, celoteh anak-anak meramaikan telinga kita.

Namun, apakah semua itu masuk ke benak kita….??? Apakah semua itu meninggalkan kesan dalam diri kita…???

Hanya sebagian kuecilll yang mampir ke otak kita. Itulah kebesaran Allah, seandainya saja mata kita seperti CCTV dan semua yang dilihat disimpan di memori, mungkin otak kita meskipun isinya ribuan gigabyte akan hang (eror.red) juga.

Self exposure itulah filter yang menyaring mana informasi yang perlu diterima dan karena itu memerintahkan indera penerima untuk fokus pada stimulus tersebut dan mengabaikan stimulus-stimulus lainnya”

Alhamdulillah. Gusti Allah memberi kita sensor yang namanya self exposure yang mengatur mana informasi yang perlu masuk dan disimpan di otak dengan infomasi yang hewhwez-hewhez bablas angine, hanya lewat aja. Self exposure itulah filter yang menyaring mana informasi yang perlu diterima dan karena itu memerintahkan indera penerima untuk fokus pada stimulus tersebut dan mengabaikan stimulus-stimulus lainnya. Sebetulnya saya berusaha menghindari menggunakan kata stimulus respon, karena saya takut dikatakan menyamakan sahabat-sahabatku dengan anjingnya Pavlov atau burungnya Skinner, tapi saya terpaksa dan hanya dua kali barusan saja, selanjutnya akan saya gunakan kata informasi.

“Ilmu tentang self exposure ini sangat didalami dalam psikologi marketing, khususnya iklan sehingga iklan-iklan yang disajikan langsung disantap dengan lahap oleh konsumen”

Ilmu tentang self exposure ini sangat didalami dalam psikologi marketing, khususnya iklan sehingga iklan-iklan yang disajikan langsung disantap dengan lahap oleh konsumen. Sayangnya tidak begitu diperhatikan dalam psikologi pendidikan, sehingga informasi yang diberikan guru mulai dari jam 07.00 sampai jam 13.00, bahkan yang polde (full day school) sampai jam 16.00 banyak yang hewhwez-hewhez bablas angine. Bibir guru sampai berbuih-buih tapi hanya lewat saja tak ada yang masuk ke dalam memori anak. Bukankah kalau sudah begini, terjadi pensia-siaan atau pemubadziran tenaga, waktu dan tentu saja dana yang sebenarnya bisa dirancang menjadi suatu pembelajaran yang bermakna.

Lalu bagaimana caranya…???

Dengan Belajar Merdeka…!!!

Kok bisa…??? Bagaimana caranya…???

Apa itu self exposure dan apa kaitannya dengan Belajar Merdeka…???

Agar uraian ini tidak terlalu puanjang dan luebar, to be continued dulu nggih sahabat-sahabatku karena saya harus nyiapin sarapan cucu yang mau sekolah dan tukang kandang di belakang…see you next edition

Turen, 18 Feb 2020