Takut Mati Karena Berjabat Tangan

0
254
jabat tangan
Sumber: bbc.com

0Shares
0

Kampusdesa.or.id-Di negara asalnya. Kabarnya pandemi sudah mereda. Walaupun trauma karena virus itu jelas masih tampak. Namun, di negara kita. Tampaknya korban yang terinfeksi terus meningkat. Bahkan, hari-hari ini angka infeksi di atas 1000 per hari. Mungkin karena penanganan yang kurang baik. Tidak seperti di negara asalnya.

Soal baik atau buruknya penanganan. Saya tidak ingin bicara lebih jauh lagi soal itu. Itu urusan orang-orang yang punya otoritas. Bukan urusan orang seperti saya ini. Lebih asik bicara soal sikap orang-orang tentang ini. Ada pelajaran yang bisa diambil.

Ya. Virus itu belum juga mereda. Bahkan, hingga di pelosok-pelosok desa. Virus itu semakin dikenal. Sebagai benda yang menakutkan. Sebagai benda yang paling mematikan. Yang bisa menyebabkan mereka mati dalam hitungan hari.

Kebanyakan, orang merasa mereka paling steril. Seakan dirinya tidak atau belum terinfeksi. Dan orang lain jelas terinfeksi. Sehingga mereka harus menghindari kontak fisik dengan cara apapun. Takut bukan kepayang. Seakan orang lain yang mendekat itu adalah virusnya. Atau paling tidak dia membawa virus. Sudah terinfeksi.

Apa lagi jika tau seseorang itu baru saja dari luar kota. Atau berasal dari daerah dengan tingkat infeksi tinggi. Mereka sangat menjaga jarak. Mereka menjaga kontak fisik walau sekedar berjabat tangan. Seakan orang tersebut sudah terinfeksi. Dan dia manusia paling steril di muka bumi.

Adapun jika terpaksa harus kontak fisik. Atau mungkin karena tidak sengaja bersentuhan. Mereka cepat-cepat membersihkan tangan mereka.  Padahal, belum pasti juga orang itu terinfeksi. Memang. Menjaga kontak fisik itu dianjurkan. Tapi ekspresi mereka itu yang tampak lucu. Betapa takut mereka dengan kematian.

Pada kondisi seperti itu, tampak sifat aslinya. Takut mati. Betapa mereka tidak bisa merelakan kehidupan dunia ini. Betapa mereka tidak bisa merelakan segala sesuatu yang mereka kumpulkan di dunia ini.

Saya mesti acungkan dua jempol untuk orang-orang yang sudah siap dengan kematian. Terbukti dengan sangat akurat. Betapa tebalnya iman mereka. Apa yang mereka katakan? “Saya tidak perlu pakai masker atau menjaga agar tidak berjabat tangan. Jika saya mati. Itu sudah takdir saya. Bukan karena virus. Atau karena berjabat tangan.”

Orang-orang seperti ini menawarkan diri ketika bertemu. Apakah yang mereka temui itu akan berjabat tangan dengannya atau tidak. Jika tidak. Tidak masalah. Jika iya. Mereka tidak keberatan untuk berjabat tangan. Tanpa harus menyinggung orang lain. Dengan berkata dalam hati, “Anda terinfeksi virus. Karena itu saya tidak mau berjabat tangan dengan Anda. Saya takut mati.” Betapa menyakitkan ucapan ini. Walau hanya diucapkan dalam hati.

Memang. Mereka ini sudah siap. Jika sewaktu-waktu mereka harus meninggalkan dunia yang menurut sebagian orang nyaman ini. Mereka sudah siap untuk berpisah dengan harta yang mereka miliki. Bukan pasrah. Tapi sikap kesatria. Berani mati jika takdir memanggil.

Orang-orang seperti ini memang orang-orang pilihan. Orang-orang yang tegas. Bersikukuh dengan iman mereka. Terbukti dalam kehidupan nyata. Bahkan, jika memang waktunya tiba, itu yang terbaik bagi mereka.

Jadi bagaimana? Berjabat tangan atau tidak? Atau cukup mengganti jabat tangan dengan gerakan-gerakan yang dicontohkan itu? Membungkuk sambil tersenyum, adu sikut, membungkuk, atau menempelkan kedua tangan di depan dada sambil tersenyum?  Atau gerakan-gerakan lain yang bisa menggantikan jabat tangan?

Alangkah baiknya di tengah pandemi ini, jika tetap menjaga jarak. Dan tidak bersentuhan dengan yang lain. Untuk kebaikan bersama. Untuk antisipasi. Meminimalisir penyebaran virus. Tanpa menyinggung perasaan orang lain. Tanpa menganggap dirinya manusia paling steril di planet ini. Dan orang lain paling terinfeksi.