Urutan Kelahiran Menentukan Jenis Kepribadian, Fakta atau Mitos?

0
121
Ilustrasi gambar dari www.medicinanarrativa.eu

Saat berkunjung pada salah satu lembaga pendidikan anak usia dini tadi pagi, terdapat diskusi yang menarik antara saya, pengelola, pengawas dari kementerian, serta mahasiswa tentang urutan kelahiran dan karakteristik kepribadiannya. Sebagian besar dari kita percaya bahwa urutan kelahiran adalah hal yang penting dalam membentuk kepribadian seseorang, apakah benar demikian?

Adalah Alfred Adler, psikiater berkebangsaan Austria yang pertama kali melempar polemik tentang urutan kelahiran dan eksesnya terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Adler mempercayai bahwa urutan kelahiran hampir memengaruhi segala hal tentang manusia, mulai dari perkembangan, karakter kepribadian, sampai pilihan karier mereka.

Sejauh ini, topik urutan kelahiran menjadi semacam kepercayaan, bahkan mitos yang terus menerus diperdebatkan dalam berbagai penelitian, terutama penelitian bidang psikologi. Menjadi sebuah mitos, bahwa anak pertama memiliki IQ lebih baik dan berjiwa pemimpin, sedangkan anak terakhir adalah anak yang lemah dalam tanggung jawab dan cenderung bebas. Apakah demikian?

Kepercayaan umum jenis kepribadian berdasarkan urutan kelahiran

Meskipun berpuluh-puluh tahun asumsi Adler ditentang oleh banyak penelitian, namun terdapat hal-hal yang cenderung terlihat konsisten dalam karakteristik kepribadian dalam urutan kelahiran.

Anak Sulung/Tertua

Pertama bagaimanapun merupakan hal spesial bagi siapapun. Cinta pertama adalah contohnya hehe. Anak pertama dalam banyak kepercayaan dan studi menyebutkan bahwa mereka memiliki bertanggung jawab yang baik, kepercayaan diri yang tinggi, lebih teliti, dan yang pasti memiliki cerminan kepercayaan dan sikap orangtua mereka.

Selain itu, dalam bergaul, anak pertama cenderung lebih nyaman memilih menghabiskan waktunya dengan orang yang lebih dewasa darinya. Kehadiran adik-adik dikemudian hari menjadikan anak pertama sebagai seorang pemimpin alami, hal tersebut terlihat jelas dalam kariernya kelak.

Pada sisi lain, akibat estafet otoritas atas adik-adiknya, anak pertama biasanya cenderung mengambil peran sebagai orangtua bagi adik-adiknya, mereka cenderung otoriter.

Sebagai ‘anak’ dengan otoritas orangtua, mereka seringkali menginginkan sesuatu seperti yang mereka inginkan. Anak pertama cenderung akan menjadi perfeksionis, lebih cemas dan menerapkan target yang tinggi pada diri mereka. Hal tersebut sekali lagi sebagai akibat alamiah dari orangtua ‘mini’ di rumah.

Anak Tengah

Urutan kelahiran terjepit, secara populer dipercayai sebagai sesorang yang cenderung sabar. Jika anak sulung bertransformasi dari anak tunggal menjadi anak pertama, anak tengah bertransformasi dari anak bungsu (terakhir) menjadi anak tengah. Secara alamiah hal tersebut dipercayai berdampak pada jiwa diplomatis dan mampu memposisikan diri untuk netral.

Anak tengah dipercaya memiliki kemampuan untuk menyatukan orang. Transformasi dari anak bungsu menjadi anak tengah juga dipercaya membentuk jiwa pejuang (kompetitif), hal tersebut karena anak tengah sering kali berjuang untuk membentuk peran yang jelas bagi diri mereka sendiri.

Anak tengah terkadang juga memiliki jiwa pemberontak yang kuat, mengingat mereka berusaha untuk keluar dari identitas anak terakhir dan tidak mungkin menjadi identitas anak pertama. Inilah yang kemudian membentuk mereka menjadi lebih kompetitif.

Bagaimana tidak, mereka tidak memiliki waktu bersama dengan orangtuanya sendiri seperti anak pertama, sedangkan peran kemanjaan sebagai anak bayi (terakhir) juga telah bergeser. Inilah yang membentuk mereka untuk terus berjuang mencari hal-hal baru dari luar.

Anak Terakhir

Sudah menjadi rahasia umum, sebagian anak bungsu akan selalu mendapatkan perhatian lebih atau lebih dikenal sebagai pe-manja-an. Bukan hanya dari orangtua, mereka juga dapat perhatian dari saudara-saudara kandung sebelumnya.

Anak terakhir memiliki kesan ‘bayi’, ‘kecil’ dan ‘lucu’. Itulah banyak orang percaya bahwa anak terakhir biasanya menarik, impulsif dan cenderung baik.

Tidak seperti anak pertama dan tengah, anak terakhir tidak mengalami transisi berarti, meraka dilahirkan dalam keadaan yang sama sampai mereka tumbuh dewasa kelak. Mereka tidak merasakan pergantian peran seperti anak pertama dan tidak juga mengalami kebingungan peran seperti anak tengah.

Ditambah dengan pengalaman mengasuh orangtua, anak terakhir biasanya memiliki lebih sedikit tanggung jawab dibandingkan dengan anak lainnya. Artinya mereka memiliki lebih banyak waktu untuk bersenang-senang.

Di sisi lain, mereka seringkali malah merasa tidak pernah dianggap serius oleh anggota keluarga yang lain, selalu saja mereka merasa dianggap sebagai anak kecil. Padahal, diam-diam meraka terus menerus merasa tidak pernah diberi waktu nntuk mengambil keputusan sendiri, selalu semuanya telah tersedia dihadapan mereka. Itulah mengapa anak terakhir memiliki perasaan terpendam untuk lebih bebas seperti yang mereka idamkan.

Pada prosesnya, anak terakhir dipercaya sering memberontak sebagai cara untuk membedakan dirinya dari kakak laki-laki dan atau perempuannya. Mereka lebih cenderung mengambil risiko, dan sering memilih karier yang berbeda dengan anggota keluarga yang lain.

Anak Tunggal

Jika anak terakhir adalah anak yang dianggap tidak berhadapan dengan transisi peran, anak tunggal harusnya sama. Namun nyatanya tidak, anak tunggal secara tidak kasat mata juga mengalami transisi.

Pada awal kelahirannya, mereka dianggap sebagai ‘bayi’ dan saat beranjak menjadi anak-anak mereka mulai diperlakukan sebagai anak pertama, selanjutnya mereka dianggap sebagai anak satu-satunya.

Di indonesia, sepertinya sulit menemukan pasangan yang menginginkan hanya memiliki satu anak, karena secara rasional, satu anak dianggap memiliki resiko tinggi bagi kelangsungan sebuah keluarga.mulai ketakutan akan keselamatan umur anak, setiap pasangan biasanya memilih untuk memiliki anak lebih dari satu karena ingin melihat cita-cita terpendam mereka dilanjutkan oleh salah satu anaknya.

Model transisi ‘bawah tanah’ tadi, anak tunggal cenderung untuk berasumsi bahwa orang lain tahu bagaimana perasaan mereka, atau berpikir dengan cara yang sama seperti mereka, tanpa pertanyaan. Mereka mungkin bergantung pada orangtua mereka lebih lama dari anak-anak lain, menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dan menunda keputusan tentang masa depan mereka.

Apa Kata Riset

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh peneliti dari dua universitas di Jerman, Universitas Leipzig dan Johannes Gutenberg pada tahun 2015 menyebutkan bahwa urutan kelahiran tidak memiliki efek pada atribut kepribadian seseorang.

Pada penelitian yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences tersebut, Rohrer dan kolega (2015) tidak menemukan perbedaan yang signifikan pada ekstraversi, stabilitas emosional, kesesuaian, kesadaran, atau imajinasi dari subjek yang diteliti.

Studi lain dari Journal of Research in Personality yang melibatkan 377.000 subjek dari SMA di Amerika Serikat juga hanya menemukan sedikit bukti untuk perbedaan kepribadian.

Penelitian yang dipublikasikan juga pada tahun 2015 oleh Rodica Loana Damian dan Brent W. Robert ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara urutan kelahiran dengan sifat kepribadian serta kecerdasan seseorang.

Namun tidak semua penelitian membantah total apa yang dipercaya masyarakat, salah satunya adalah Harper dan kolega (2016) yang menyebutkan bahwa memiliki saudara kandung akan membantu anak untuk mengembangkan simpati kepada orang lain. Penelitian yang melibatkan lebih dari 300 keluarga ini menemukan sikap sosial yang terbentuk baik pada anak yang memiliki saudara kandung di rumah.

Lebih percaya yang mana?

Jika secara umum kita memiliki kepercayaan tentang urutan kelahiran dan karakteristik peribadian seseorang, namun sekaligus kita tahu bahwa kepercayaan tersebut banyak dibantah oleh penelitian ilmiah, bagaimana sikap kita? Secara pribadi, saya lebih memilih untuk memoderasi kedua arus tersebut.

Mengapa demikian? Karena saya sendiri, sebagai anak tengah, sedikit atau banyak memiliki karakter yang dipercaya seperti yang ditulis di atas, namun seringkali saya juga berbeda sama sekali dengan karakter di atas.

Akan selalu menarik memperdebatkan topik ini, karena secara historis perdebatan tersebut telah dimulai oleh Alfred Adler dan Sigmund Freud sebagai dua ilmuan besar dalam psikologi. Bahkan, karena ketidaksepakannya atas asumsi yang dilemparkan oleh Adler, Freud sampai memutuskan keluar dari the Psychoanalytic Society dan membentuk the Society for Individual Psychology (Damian & Roberts, 2015). Ini jelas bukan main-main bung!

Dalam psikologi, terdapat sebuah alat tes yang dikembangkan untuk mengukur kecocokan karakteristik kepribadian dengan urutan kelahiran, alat tersebut diberi nama Psychological Birth Order Inventory (PBOI). Sayangnya alat tes tersebut hanya menemukan 23% perempuan dan 15% laki-laki yang merasa dirinya cocok dengan gambaran umum tentang karakteristik kepribadian dengan urutan kelahirannya.

Sayangnya juga, tulisan saya sudah terlampau panjang, besok saya lanjutkan mengapa terkadang prediksi umum tentang urutan kelahiran bisa keliru.

Ahmad Mukhlis. Alumnus Magister Psikologi UGM Yogyakarta, Dosen Psikologi di FITK Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Founder 4IC Indonesia.

* Tulisan ini diposting ulang dari KOMPASIANA seijin penulisnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here