Urgensi Literasi Media Bagi Kecerdasan Generasi Bangsa

0
270

Dalam beberapa seminar atau diskusi yang membahas literasi  kekinian, sering saya jumpai kritik tajam ditujukan kepada lembaga, komunitas, pegiat literasi dan sebagainya mengenai kesadaran literasi yang minim di lingkungan kader. Tren sekarang ini banyak kaum muda yang tertarik di dunia politik, tapi sedikit yang menekuni kompetensi berliterasi.

Kampusdesa.or.id- Menurut saya, paling tidak ada dua hal yang bisa dijadikan ukuran kenapa masyarakat mulai dari anak kecil sampai orang tua sekarang relativ minim literasi, di antaranya: pertama, dengan melihat seberapa banyak buku dan laporan penelitian yang menjadikan sebagai obyek riset, baik oleh kader maupun peneliti di luar lembaga. Kedua, kekagetan warga Indonesia dalam menyikapi perbedaan pandangan, paradigma pemikiran, dan keyakinan.

Dalam beberapa tahun terakhir, sangat jarang kita melihat buku baru atau laporan  penelitian dari para sarjana dalam dan luar negeri yang membahas tentang literasi, baik dari sisi gerakan maupun pemikiran kekiniannya.

Fakta tersebut menjelaskan bahwa ide pemikiran yang terbingkai ke dalam sebuah karya nyata di lingkungan mengalami pelambatan  untuk tidak mengatakan terjadi stagnasi.. kader-kader kita, mau diakui atau tidak, lebih sibuk  pada urusan pengelolaan amal usaha dan konflik internal dibanding  meluangkan waktu  untuk menuangkan gagasan cerdasnya ke dalam sebuah buku, apalagi karya yang dibuat punya bobot kualitas mumpuni (hasil riset dengan  metodologi yang kuat).

Salah satu poin apa yang saya sampaikan pada bedah web kampusdesa.or.id adalah dengan action. Jangan hanya wacana belaka tapi kita harus menerapkan itu semua, tidak mustahil akan dengan cepat terealisasi.

Jika tradisi literasi ini membudaya di lingkungan para kader, kemudian topik-topik problem kemanusiaan itu benar-benar diangkat ke dalam sebuah karya nyata (dalam bentuk buku atau jurnal ilmiah), maka salah satu poin apa yang saya sampaikan pada bedah web kampusdesa.or.id adalah dengan action. Jangan hanya wacana belaka tapi kita harus menerapkan itu semua, tidak mustahil akan dengan cepat terealisasi.

Selain itu, dari berbagai buku  atau artikel , kita berharap akan kembali melihat perkembangan umat di Indonesia yang penuh dengan keramahan, toleransi, serta peduli terhadap kepentingan umat dan bangsa. Dengan begitu, kita harus berani memulai sehingga akan menjadi “alat dorong” yang memotivasi masyarakat untuk menjadi bangsa yang berkemajuan.

Maraknya berbagai ujaran kebencian dan olok-olok (berkata kasar) dengan menyinggung perbedaan pilihan politik, paradigma pemikiran dan keyakinan di banyak jejaring sosial adalah bukti yang tidak bisa dibantah bahwa bangsa ini tengah mengalamai nirliterasi yang akut.

Dalam laporan penelitian yang bertajuk world’s Most Literate Nation, yang disusun oleh central connecticutt State University belum lama ini mengungkapkan, “Bangsa yang masuk dalam kategori illiterate, masyarakatnya cenderung suka mengeluarkan kata-kata kotor dan kasar, berperilaku brutal dan suka merusak, serta kerap melanggar hak asasi manusia.” Sayangnya tingakt literasi Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara yang diteliti.

Kaitannya dengan yang terjadi di lingkungan, bahwa sebagian di antara kita kerap kaget ketika merespons sebuah perbedaan pandangan. Hal ini dengan mudah kita temui di berbagai akun pribadi dan grup media sosial yang “ditinggali” oleh para aktivis literasi, baik yang berada di facebook, twitter maupun WhatsApp.

Selain itu, hal ini bisa menjadi oto kritik bagi kita semua, bahwa potret ketidakcakapan menyerap informasi juga melekat pada diri kita. Bentuknya adalah dengan  mempercayai artikel dan gambar berita palsu (hoax). Padahal, konten berita-berita bodong yang akhir-akhir ini memarakkan saluran sosial tak lebih dari sekedar informasi bodong, penuh propaganda, dan membodohi umat.

Dalam hal ini, literasi di media sosial dapat dijadikan lapangan baru bagi kerja sosial. Kerja-kerja di bidang teknologi informasi ini perlu dikerjakan secara serius (tidak sampingan) karena memuat beberapa urgensi, di antaranya: pertama, menyelamatkan masa depan anak-anak muda yang dalam hal ini merupakan pengguna mayoritas internet dari cara berfikir yang instan akibat akses informasi yang begitu mudah. coba kita lihat di warkop wifi, atau yang lainnya mereka tidak menggunakan media sosial untuk berkarya tetapi mereka mengikuti arus yang salah. permainan-permainan online seakan menjadi virus malas untuk berkarya.

Keceriaan peserta dan fasilitator bedah web Kampus Desa

Paling tidak, kita semua dapat membiasaakan diri untuk tidak menelan informasi yang masuk secara mentah. Sebab itu, literasi yang perlu dipahamkan kepada kelompokk produktif tersebut yaitu mengajak mereka untuk selalu bersifak korektif: setiap informasi yang diterima, mesti diikuti dengan informasi kedua: setiap first look harus diikuti dengan second look supaya dapat menyingkap kebenaran yang dimaksud.

Mungkin kita jarang tahu kalau Ibnu Taimiyah mempunyai tradisi, kalau setiap malam tidak pernah tidak menulis. Ini perlu kita teladani. Jangan sampai kepakaran mati karena gadget. Ketiadaan tradisi menulis buku dan mewariskan ilmu adalah tanda kematian kepakaran.

Setrateginya, sejak sekarang kampusdesa.or.id dengan tulisannya membahas tema-tema persyarikatan, agama, budaya dan berbagai hal yang mengemuka di negeri ini, dan bisa diikuti oleh warga dari seluruh dunia, hal ini sebagaimana yang sudah dipraktikkan web-web besar lainnya. sehingga semua bisa mengakses informasi yang bermutu melalui kampusdesa.or.id ini.