Tubuh Sebagai Hak Milik dan Alat Produksi, Dilema Kapitalisme dan Prostitusi

0
1498
Vanessa Angel. Ilustrasi gambar diambil dari qureta.com

0Shares
0

Vanessa Angel menjadi buah bibir. Menempatkan Vanessa Angel dalam konteks kebebasan individu tidak bisa dihakimi karena itu adalah modus pilihan. Tanggungjawab tubuh Vanessa ada di dia sendiri. Apalagi menyangkut proses mendapatkan keuntungan finansial atas tubuh Vanessa. Namun, di satu sisi, tubuh sosial Vanessa mengundang perdebatan antara kepentingan kapitalisme, prostitusi dan kemerdekaan diri. Mengadili Vanessa, berarti menyoal posisi tubuh dia dalam konteks pribadi atau dalam konteks sosial. Tubuh Vanessa apakah tubuh yang terhegemoni atau tubuh merdeka. Ini soal siapa yang membangun sudut pandang.

Kampus Desa– “Vanessa Angel Berhak Jual Diri!”—demikian sebuah judul opini di Qureta (7 Januari 2019), ditulis oleh Maman Suratman. Opini ini tampaknya mengarah pada upaya menyetujui tindakan artis (atau siapapun) untuk menjadi pelacur atau untuk jual tubuh. Tindakan polisi menguak kasus pelacuran artis ini dianggap penulis sebagai tindakan yang kolot dan melanggar hak orang lain. Penulis mengutip pemikiran John Locke tentang hak: hak atas hidup, hak atas kebebasan, dan hak atas kepemilikan.

“Tubuh Vanessa adalah milik Vanessa. Orang lain, termasuk yang melahirkan, tak berhak mengarahkan atau mengendalikan,” Maman Suratman.

Maman menulis, “jika kita mau konsisten pada substansi hak asasi, maka negara wajib menjamin kebebasan Vanessa menjual diri. Negara harus tampil ke depan dan berkata, “tiada hak bagi siapa pun untuk mengatur tubuh orang lain kecuali sang pemilik hakiki. Tubuh Vanessa adalah milik Vanessa. Orang lain, termasuk yang melahirkan, tak berhak mengarahkan atau mengendalikan.”

Bagi saya, menarik untuk mendiskusikan persoalan hak dan kebebasan ini secara lebih jauh. Kebebasan sendiri ada dua, yaitu “bebas dari” dan “bebas untuk.” Sedangkan hak adalah sesuatu yang melekat pada diri orang, yang bisa digunakan maupun tidak digunakan. Anda punya hak terhadap tubuh anda. Anda bisa membebaskan tubuh anda dari penganiayaan dan serangan yang merugikan. Andapun bebas menggunakan tubuh anda untuk melakukan sesuatu, memberinya kenikmatan, dan menukarkannya dengan uang.

Dalam kasus seks, misalnya, menggunakan tubuh untuk merugikan orang lain, tidak boleh. Misal anda ingin mencari kenikmatan dengan menggunakan tubuh anda dengan cara memperkosa, itu dilarang.

Tapi kalau kita lihat, namanya hak ini akan dibatasi dengan hak orang lain. Anda punya tubuh dan punya hak untuk membebaskan tubuh anda dari keadaan disakiti dan dihancurkan orang lain. Tapi hak untuk menggunakan tubuh anda (“bebas untuk”), tentunya tidak sebebas dibanding hak untuk menggunakan tubuh anda. Dalam kasus seks, misalnya, menggunakan tubuh untuk merugikan orang lain, tidak boleh. Misal anda ingin mencari kenikmatan dengan menggunakan tubuh anda dengan cara memperkosa, itu dilarang.

Kodrat manusia sebagai makhluk sosial juga harus dielaborasi lebih jauh. Sayangnya, Maman Sutarman dalam opininya itu hanya bicara sedikit sekali tentang posisi tubuh dalam relasinya dengan tubuh-tubuh lain atau interaksi sosial. Maman hanya menulis, “manusia memang gemar berinteraksi secara sosial. Hanya jangan lupa bahwa manusia pun adalah individu yang unik: meski sangat interaktif, tetapi masing-masing tetap berpikir dan bertindak secara individual…. Berpikir dan bertindak secara individual, maka setiap manusia menjadi pemilik mutlak atas diri pribadinya masing-masing…. Ditarik ke ranah kasus Vanessa Angel, tampak jelas bahwa apa pun yang dilakukannya, selama itu atas miliknya sendiri (tubuh = kepemilikan diri), tidak ada yang salah. Jangankan jual diri, bunuh diri sekalipun, asalkan terhadap diri sendiri bukan diri orang lain, adalah sah.”

Saya kira elaborasi tentang posisi tubuh individu dalam ranah sosial dari Maman ini perlu diperdalam agar kita bisa memahami fenomena pelacuran ini secara lebih dalam dan dialektis. Elaborasi Maman yang terlampau singkat akan membuat pembaca yang terbiasa kurang berpikir kritis akan mengarah pada pemahaman bahwa pelacuran (prostitusi) itu baik dan wajar karena hanya dilihat semata sebagai hak individu atau hak atas tubuh individu.

Padahal jelas-jelas, pelacuran bukanlah gejala individu. Ia ada karena ada relasi antar-individu. Dan seks sendiri selalu punya aspek sosialnya. Sedangkan pelacuran sendiri sejauh ini adalah suatu hubungan yang terjadi sebagai bentuk relasi yang tidak humanis.

Padahal jelas-jelas, pelacuran bukanlah gejala individu. Ia ada karena ada relasi antar-individu. Dan seks sendiri selalu punya aspek sosialnya. Sedangkan pelacuran sendiri sejauh ini adalah suatu hubungan yang terjadi sebagai bentuk relasi yang tidak humanis. Pelacuran artis hanyalah satu fenomena saja. Bagaimana dengan pelacuran yang mengarah pada perdagangan manusia yang diiringi dengan penculikan dan penipuan? Para pembela pelacuran seringkali menolak argumen bias gender dengan menunjukkan adanya pelayan seks laki-laki (Gigolo). Tapi seberapa banyakkah hal itu dalam kehidupan ini? Serta bagaimana aspek gender di dalamnya, samakah dengan prostitusi perempuan?

Ternyata masalah ini jelas tak bisa didekati hanya dari pemikiran tentang hak individu saja. Karena masalahnya terlalu rumit. Yang harus kita bela adalah korbannya. Dan tak cukup dari situ, yang kita lihat pula adalah kondisi relasi sosial yang ada, sebab di sanalah sebuah interaksi terjadi—dan tak mungkin pendekatan filsafat hak alam Maman Sutarman cukup dalam menilai masalah pelacuran.

Ada yang menyetujui prostitusi dengan alasan salah satunya hal itu sudah ada sejak beratus ratus abad. Pihak yang setuju ini ketika saya tanya apakah rela jika saudara perempuan, ibu, atau anak perempuannya jadi pelacur, tentunya gak setuju.

Pihak pendukung hak alamiah yang menyetujui prostitusi juga akan sering menuduh pada pihak yang menolak pelacuran sebagai “moralis.” Secara pribadi, saya sendiri tak ada masalah disebut moralis jika moral itu adalah hasil (produk), bukan sebab. Ketika kita menganalisa sesuatu lalu kita menghasilkan suatu kesimpulan dan menyikapi sesuatu, itu pastilah moral. Orang yang menyetujui pelacuran sendiri pasti juga pakai ukuran moral. Misalnya adalah menganggap pelacuran itu adalah tindakan bermoral, biasa, dan wajar.

Tapi moral mereka terbelah ketika kembali juga pada individu mereka, bahkan hak individunya. Yaitu tadi, ketika ditanya, apakah mau ibumu, adik perempuanmu, keponakan perempuanmu, atau perempuan dekatmu menjadi pelacur, mereka juga bersikap baik jujur atau hanya dipendam dalam hati: Tidak mau! Faktanya, semua orang adalah moralist—dalam artian selalu mengukur sesuatu pakai moral juga.

Setelah orang melakukan analisa ilmiah, dialektis, adil, objektif terhadap suatu benda, fakta, atau fenomena, iapun pasti menyimpulkan sesuatu dan menyikapi sesuatu. Moral pastilah muncul kemudian. “Apa yang seharusnya” dan “apa yang senyatanya” adalah dua hal yang selalu muncul dalam suatu ikhwal ilmu pengetahuan.

Hubungan seks yang selama ini saya tolak ada dua: satu Ngeseks karena beli. Dan ngeseks karena memperkosa.

Makanya, saya secara pribadi juga punya sikap: memilih setuju pelacuran tidak ada. Tentu ini argumen ideologis, bukan teknis. Hubungan seks yang selama ini saya tolak ada dua: satu Ngeseks karena beli. Dan ngeseks karena memperkosa.

Saya setuju seks dengan komitmen dan sadar, tanpa paksaan. Tanpa kompensasi…! Lalu saya ditanya: “Kamu setuju seks bebas?”

Yang jelas saya menolak seks yang tidak bebas. Seks yang dengan paksaan. Terpaksa ngeseks dengan orang karena menukarkan diri dengan uang. Atau karena paksaan fisik, khususnya pemerkosaan. Termasuk perkosaan dalam pernikahan. Dan saya sepakat, istri bukan budak suami.

Cinta itu butuh perjuangan, karena ia adalah hal yang indah justru karena perjuangan. Apa indahnya bercinta hanya karena mudah beli pelacur karena punya uang. Dan apa indahnya hidup kalau hanya untuk beli tas Hermes saja sampai rela menjual cinta? Karena saya masih memuja konsep Cinta, saya menolak pelacuran!

Kata Alexandra Kollontai: “Cinta dalah suatu emosi sosial yang mendalam. Cinta bukan saja merupakan suatu relasi ‘privat’ yang hanya terkait dua orang yang saling mencintai: cinta memiliki suatu elemen penyatu yang berharga bagi kolektif.”

“Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Tak ada cinta muncul mendadak, karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit”, kata Pram.  Kata Alexandra Kollontai: “Cinta dalah suatu emosi sosial yang mendalam. Cinta bukan saja merupakan suatu relasi ‘privat’ yang hanya terkait dua orang yang saling mencintai: cinta memiliki suatu elemen penyatu yang berharga bagi kolektif.”

Dan saya mengidealkan cinta ini sebagai prasarat hubungan mendalam, termasuk yang melibatkan seks. Dan yang lebih penting, penolakan saya terhadap prostitusi tidak berdiri sendiri karena prostitusi memang bukanlah masalah yang terpisah dari masalah lainnya yang dialami perempuan dan masyarakat.

Satu-satunya cara mengakhiri prostitusi, menurut Kollontai, adalah berjuang melawan syarat-syarat yang memaksa perempuan menjadikan prostitusi sebagai suatu jalan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Inilah yang menegaskan bahwa fenomena prostitusi tak terpisah dari masalah masyarakat yang telah merupakan efek dari kapitalisme dan penghisapannya

Pembimbing saya dalam memahami masalah prostitusi ini adalah Alexandra Kollontai, seorang perempuan revolusioner dalam sejarah Rusia. Satu-satunya cara mengakhiri prostitusi, menurut Kollontai, adalah berjuang melawan syarat-syarat yang memaksa perempuan menjadikan prostitusi sebagai suatu jalan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Inilah yang menegaskan bahwa fenomena prostitusi tak terpisah dari masalah masyarakat yang telah merupakan efek dari kapitalisme dan penghisapannya. Ada masalah ekonomi yang dialami dalam keluarga. Ada laki-laki borjuis yang punya harta dan uang berlebih, ada perempuan yang serba kekurangan. Ada jomblo yang sulit nikah dan hanya mampu membayar pelacur murahan. Ada masalah perumahan dan akses terhadap rumah. Ada keluarga yang retak dan bermasalah secara mendasar baik fondasinya maupun bangunan atasnya. Ada pendidikan yang salah. Ada propaganda seksis kapitalis. Ada patriarki. Komodifikasi kesenangan dan gairah demi profit merupakan aspek tak terhindarkan dari kehidupan dan seksualitas, dan lain-lainnya sebagai situasi masyarakat kapitalistik.

Kollontai meyakini potensi pembebasan dari relasi yang tak dikomodifikasi dan oleh karena itu hubungan non-posesif diantara individu-individu bebas tak terikat oleh ketergantungan ekonomi. Ia meyakini nilai sosial yang ia sebut dengan “solidaritas–cinta” berdasarkan perkawanan dan kesetaraan serta berpendapat bahwa semua ini akan “menjadi tuas” yang menggantikan “kompetisi dan cinta-diri sendiri dalam masyarakat borjuis.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here