Tradisi Unik di Sepertiga Ramadhan

0
40

0Shares
0

Cinjo atau tinjo, yaitu ater-ater (mengirimkan) makanan pada kerabat yang lebih tua. Cinjo biasanya dilakukan menjelang Idul Fitri. Nah bagaimana dengan tradisi cinjo ini di masa pandemi? Setelah banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan atau bahkan diberhentikan total karena perusahaan yang tidak mampu menahan laju kerugian akibat karantina corona yang berimbas pada berkurang atau berhentinya pendapatan masyarakat. Jadi sedikit banyak terlihat juga pengaruhnya pada tradisi cinjo ini. Sepuluh hari terakhir Ramadhan terasa sepi. Jika biasanya terlihat lalu lalang ibu-ibu yang menenteng cinjo untuk diantarkan kali ini cenderung sangat berkurang.

Kampusdesa.or.id–Ramadhan sudah mendekati sepertiga terakhir. Sedih pasti diamini oleh semua umat muslim. Untuk bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan belumlah pasti. Di sepertiga akhir bulan Allah menjanjikan Lailatul Qadar, dimana amalan semalam diganjar dengan pahala seribu bulan. Setiap muslim pasti menginginkan untuk mendapatkannya.

Banyak cara yang dilakukan oleh para muslim untuk menjemput pahala. Baik dengan memperbanyak membaca dan menghafal Al-Quran, melewatkan malam-malam di masjid untuk berdzikir, memperbanyak sholat malam, dan juga bersedekah.

Bersedekah di bulan Ramadhan sangat dianjurkan. Mengingat Nabi Muhammad SAW juga melakukan hal yang sama dimana dikatakan bahwa sedekah Nabi saat bulan Ramadhan seperti angina yang ditiupkan. Begitu banyaknya hingga malaikat Jibril selalu mendatangi beliau di malam-malam bulan Ramadhan.

Di Jawa, khususnya di pedesaan, ada tradisi unik yang biasa dilakukan saat sepertiga Ramadhan datang. Tradisi ini mungkin bersumber dari sedekah yang dimodifikasi. Namanya cinjo atau tinjo, yaitu ater-ater (mengirimkan) makanan pada kerabat yang lebih tua. Misalnya anak kepada orangtua, adik kepada kakak, atau ponakan kepada paman dan bibinya. Makanan yang dikirimkan biasanya berupa makanan matang yang siap santap.

Guillemet-04 - Veillées pour la Vie

Cinjo biasanya dilakukan menjelang Idul Fitri. Dan hanya dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga sebagai wujud kemapanan hidup. Para orang tua dan biasanya akan nyangoni mereka yang mengantar cinjo tersebut dengan sedikit uang, jika mampu. Jika tidak maka hanya ucapan terima kasih saja yang diucapkan sebagai balasan.

Cinjo biasanya dilakukan menjelang Idul Fitri. Dan hanya dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga sebagai wujud kemapanan hidup. Para orang tua dan biasanya akan nyangoni mereka yang mengantar cinjo tersebut dengan sedikit uang, jika mampu. Jika tidak maka hanya ucapan terima kasih saja yang diucapkan sebagai balasan.

Namun di era modern saat ini, tradisi cinjo mengalami pergeseran. Jika dahulu berupa makanan siap santap yang dimasak sendiri, saat ini lebih ke arah bahan-bahan mentah seperti gula, minyak ataupun beras yang kadang diwadahi tas khusus atau dibungkus cantik serupa bingkisan parcel. Karena sedang puasa, maka dikhawatirkan banyak makanan yang terbuang karena tidak habis. Diberikan bahan mentah agar tetap bisa digunakan di lain waktu dan bermanfaat.

Tradisi cinjo  dilakukan selain untuk sedekah juga sarana silaturahmi dan mendekatkan diri dengan sanak saudara. Baik yang sedarah maupun saudara jauh. Sampai saat ini tradisi cinjo masih tetap berjalan. Meski pandemi mengkarantina beberapa tempat, namun di beberapa wilayah masih toleran untuk bisa keluar dan menjalankan tradisi tersebut. Setidaknya sedikit menambah nilai Ramadhan yang tidak normal dengan saling berbagi dan silaturahmi.

Nah bagaimana dengan tradisi cinjo ini di masa pandemi? Setelah banyak karyawan yang terpaksa dirumahkan atau bahkan diberhentikan total karena perusahaan yang tidak mampu menahan laju kerugian akibat karantina corona yang berimbas pada berkurang atau berhentinya pendapatan masyarakat. Jadi sedikit banyak terlihat juga pengaruhnya pada tradisi cinjo ini. Sepuluh hari terakhir Ramadhan terasa sepi. Jika biasanya terlihat lalu lalang ibu-ibu yang menenteng cinjo untuk diantarkan kali ini cenderung sangat berkurang.

Namun masih ada juga yang melanjutkan tradisi ini meski sedikit menurunkan jumlah hantaran lantaran dana yang berkurang. Bagi beberapa orang tradisi ini sekaligus digunakan untuk bisa sambang setelah sekian lama merantau atau tidak bisa bertemu lantaran kesibukan.

Lanjut atau tidak tradisi ini saat pandemi memang tidak bisa diprediksi. Di desa saya sendiri terlihat minim sekali yang menjalankan. Mungkin juga mereka lebih ingin menyimpan uang untuk persediaan hal yang tidak didinginkan selama pandemi. Semoga saja wabah lekas pergi dari bumi dan kehidupan bisa berjalan normal kembali, jadi tahun depan tradisi cinjo ini akan kembali semarak menghiasi sepuluh hari terakhir Ramadhan.