Tiga Prinsip Dahsyat dalam Berbisnis dari Owner Lapis Tugu Malang

0
384

 

Berbicara bisnis tidak hanya tentang untung dan rugi. Melainkan juga prinsip hidup, cara pandang, edukasi, mental, dan kompetensi. Banyak pebisnis pemula yang masih terjebak pada hal-hal receh seperti kekurangan modal, takut tak laku, kalah bersaing dan sebagainya. Akibatnya, bisnis yang dirintis selalu kembang kempis, tak berkembang, kemudian mati dengan sendirinya. Padahal kesuksesan dalam berbisnis bukan persoalan itu saja.

Kampusdesa.or.id—“Hidup adalah bisnis” demikian ujar Prayogo Danardono, owner dari toko kue yang outlet-nya sudah tersebar di berbagai penjuru Malang, Lapis Tugu Malang, mengawali pemaparannya. Pria yang juga dosen di Politeknik Negeri Malang (Polinema) ini pagi itu (29/09) berkesempatan memberikan motivasi berwirausaha dalam Seminar Nasional Kewirausahaan yang digelar Divisi Kewirausahaan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PGMI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara yang dilaksanakan di aula Fakultas Sains dan Teknologi ini dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta dari berbagai kampus di Malang.

Prayogo memulai pemaparannya dengan meminta salah seorang peserta menjadi volunteer bersamanya di panggung. Ia meminta peserta tersebut menengadahkan salah satu tangannya. “Berat nggak?” tanyanya diikuti gelengan kepala peserta di depannya. Prayogo lalu menaruh sling bag miliknya di atas tangan peserta tersebut. Sekali lagi ia bertanya “Berat nggak?.” Yang ditanya mengangguk.

“Orang yang hidupnya lebih banyak menerima daripada memberi, hidupnya akan terasa berat”

“Ini baru satu ya, kalau saya tambah lagi dan lagi, kira-kira kuat apa tidak? Begitulah hidup. Orang yang hidupnya lebih banyak menerima daripada memberi, hidupnya akan terasa berat .”

Maka, masih menurut Prayogo, dalam berbisnis atau berwirausaha, memberi harus menjadi salah satu prinsipnya. Ia kemudian menceritakan pengalamannya ketika produk tokonya tak habis terjual sementara masa expired tinggal dua hari lagi. Prayogo membagi-bagikan kue tersebut kepada panti asuhan, tukang parkir, tukang becak, dan siapa saja yang membutuhkan.

“Tidak ada ruginya kalau kita memberi. Bisa jadi, berkat doa-doa dari mereka itulah usaha saya bisa seperti sekarang ini. Maka dari itu, jika kalian berbisnis jangan lupa untuk memberi.”

“Kesalahan yang jamak dilakukan oleh para pebisnis pemula adalah terlalu berfokus pada hasil. Padahal, hasil yang baik itu didapat dari proses yang baik”

Prinsip kedua adalah fokus pada proses. Kesalahan yang jamak dilakukan oleh para pebisnis pemula adalah terlalu berfokus pada hasil. Padahal, hasil yang baik itu didapat dari proses yang baik. Dampak dari terlalu fokus pada hasil, tak sedikit para pebisnis yang dilanda kekecewaan saat hasil yang diharapkan tak tercapai. Akibatnya beberapa di antara mereka melakukan berbagai cara untuk mendongkrak pendapatan yang justru kontraproduktif dengan masa depan bisnis yang dibangunnya.

Sementara prinisp ketiga dan yang tak kalah penting adalah prinsip edukasi. Pria energik yang sudah menjadi dosen di Polinema selama 30 tahun ini menceritakan bagaimana ia merekrut karyawan.

“Karyawan saya itu banyak yang saya temukan di jalan. Mereka berasal dari berbagai background pendidikan. Ada yang awal-awal kerja itu tidak bisa senyum dengan ramah kepada pelanggan. Ya saya ajari. Lama-lama juga bisa. Saya memang mengutamakan pelayanan yang baik kepada pelanggan. Saya tekankan kepada karyawan saya bahwa niatkan kerja sama saya untuk mencari ilmu”

Perusahaan yang bagus dan berkualitas memang tidak lahir tiba-tiba atau dalam waktu yang sekejap mata. Ia membutuhkan para karyawan yang juga berkulaitas. Yang disebut terakhir ini hanya bisa diwujudkan melalui proses yang namanya edukasi.

“Semakin banyak ketakutan yang kita pelihara, maka semakin tidak jalanlah bisnis kita”

Selain ketiga prinsip di atas, Prayogo juga menuturkan bahwa dalam berbisnis rasa takut harus kita hilangkan. Takut tidak laku. Takut banyak saingan. Bahkan takut tak punya modal. Semakin banyak ketakutan yang kita pelihara, maka semakin tidak jalanlah bisnis kita.[]