Tiba-Tiba Rindu Kumpul Massa

0
188
Sumber: https://www.pexels.com

0Shares
0

Kumpulan massa sebagaimana tercatat dalam sejarah memainkan peran penting dalam denyut perubahan. Sulit dibayangkan terjadi revolusi di era modern ini tanpa disertai gelora suara kumpulan massa. Era COVID-19 memaksa kita sementara waktu menahan diri untuk tidak terlibat dan juga melihat kumpulan massa dalam jumlah besar. Bagi mereka yang terbiasa turun ke jalan meneriakkan perubahan, tak pelak kerinduan pada kumpulan massa akan membuncah tak tertahankan.

Kampusdesa.or.id-Era COVID, sebuah masa yang membuat kita tak bisa terlibat dan melihat kumpulan massa dalam jumlah besar. Bagi sebagian dari kita tentu sangat rindu dengan situasi megahnya kumpulan massa. Mungkin untuk mengobati kerinduan itu bisa dengan melihat foto-foto atau video kumpulan massa atau mengingat-ngingat kapan dalam hidup kita terlibat dan berada dalam kumpulan massa. Atau membayangkannya, membayangkan masa lalu: Ketika masuk kuliah pertama, melihat ratusan mahasiswa teriak reformasi total.

Salah satu yang saya ingat adalah wajah seorang mahasiswa senior berambut gondrong panjang dan keriting berorasi di “double way” (pintu masuk utama) kampus. Baru masuk kampus belum sebulan, saya sudah disuguhi situasi heroik yang membakar semangat, dan berikutnya adalah diskusi-diskusi lesehan dimana hampir semua senior mahasiswa mengatakan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan. Lalu kami diperkenalkan pada sejarah pergerakan masa lalu, kisah tentang organisasi rakyat yang besar dan kami dibawa pada kekaguman pada tokoh-tokoh muda radikal.

Seperti kisah tentang Pak Tjokro (H.O.S. Tjokro Aminoto) yang pidato tanpa mikrofon di hadapan ribuan massa dengan nada (yang katanya) Sopran. Konsep “vergardering” menjadi hal yang jamak terdengar. Bahwa bagaimana sejarah bisa membuat ribuan, ratusan ribu, hingga jutaan orang berkumpul pada tempat yang sama dimana di dalamnya ada tokoh yang berorasi dan mengarahkan massa,  itu adalah hal yang mengaggumkan.

Kisah-kisah itu sungguh dicatat sejarah, seperti rapat akbar Lapangan Ikada 19 September 1945, meski dipandang sebagai rapat yang materi pidatonya kurang progresif. Tapi, sekali lagi, itu adalah peristiwa bersejarah bangsa ini.

Sebelum mengenal sejarah, saya hanya tahu bahwa kumpulan massa itu adalah pentas musik dangdut dimana di atas panggung para musisi yang salah satunya pemukul gendang tampil. Fokus utama penonton yang jumlahnya ribuan adalah pada penyanyi perempuan. Para penonton ini kadang “jotos-jotosan.” Dalam jumlah massa yang bermacam-macam, dengan berbagai dinamika interaksi di dalamnya, ada kalanya perkelahian diwarnai dengan kematian. Salah seorang penonton mabuk dan pemarah menusukkan pisau pada penonton lain yang konon adalah bukan satu gank.

Memang musik adalah soal rasa, termasuk ketika dipentaskan. Ada tarian, joget, teriakan, raut muka, bahkan tangisan. Itulah yang disebut ekspresi. Di awal-awal kuliah, dalam kelas Pengantar Sosiologi dosen juga sudah mencontohkan bagaimana dinamika interaksi sosial di masyarakat. Interaksi penonton pentas musik adalah salah satu fakta sosial yang akan membawa dinamika perasaan yang sifat perubahannya bisa cepat. Emosi bisa diaduk-aduk oleh apa yang dilihatnya.

Tapi di kampung kami, penonton satu juga diaduk-aduk perasaannya oleh penonton lain. Penonton lain yang beda geng juga menjadi salah satu pengubah emosi. Awalnya mereka akan berebut untuk bisa dekat dengan sisi depan panggung di mana penyanyi perempuan yang seksi kadang melambaikan tangan atau bahkan memberikan telapak tanggannya dipegang. Atau bahkan berebut untuk naik panggung agar bisa berjoget. Lalu perkelahian terjadi. Bahkan, kejadian ketika berinteraksi di bawah atau di atas panggung musik ini, bisa menimbulkan perasaan berkelanjutan setelah pentas musik selesai. Apalagi jika korp perguruan pencaksilat sudah dibawa-bawa dalam perasaan, bisa lebih panjang lagi efeknya.

Soal kumpulan massa dalam pentas musik, baru saya tahu bahwa yang terjadi di Indonesia khususnya yang saya lihat langsung di panggung musik kampung atau saya lihat di TV, tidak ada apa-apanya dengan betapa meraksasanya massa penonton pentas musik di Barat. Jujur saya kaget dan kagum dengan jumlah penonton dalam pentas musik yang disebut Woodstock. Sejarah musik, sebagai bagian dari sejarah kebudayaan, tak mungkin tak mencatat pentas musik ini. Ia adalah pentas musik berhari-hari, sejak pentas tahun 1969 selama empat hari, akhirnya ia menjadi acara 10 tahunan yang dihadiri jutaan penonton. Nonton videonya di Youtube, ngeri, dada saya bergetar. Terutama tampilan Allanis Morisette dengan lagu “Thank You” atau Metallica dengan lagu “Nothing Else Matter”. Panjang dan lebar penonton ke depan dilihat dari atas panggung tampaknya tak ada putusnya.

Sungguh massa raksasa!

Tentu gambaran pentas musik dengan penonton meraksasa bukan hanya Woodstock yang digelar tiap sepuluh tahun. Di berbagai negara Barat, pentas musik dihadiri massa dengan jumlah besar yang tak bisa ditandingi oleh pentas musik di sini. Apakah ini mencerminkan betapa majunya musik di sana dibanding di sini? tentu masih bisa didiskusikan lebih jauh!

Apalagi sejak panggung-panggung musik Indonesia seperti Festival Rock berhenti digelar di akhir 2007-an, yang mengakhiri sejarah Festival Rock sejak 1984 yang sejak saat itu digelar hampir tiap tahun. Musik rock jadi hilang diserang musik-musik cengeng dengan lagu yang homogen tema cinta-cintaan, hingga sejarah musik Indonesia terpuruk pada comberan kebudayaan hingga menjadi corong kekuasaan budaya kapitalistik yang melemahkan mental generasi muda dan remaja.

“Saya kehilangan kejayaan panggung-panggung budaya yang tidak pernah saya lihat. Saya rindu pada masa yang hanya saya tahu dari sejarah. Meskipun saya waktu kecil hanya merasakan fenomenanya, lagu-lagu rock yang terdengar di radio”

Ya, saya kehilangan kejayaan panggung-panggung budaya yang tidak pernah saya lihat. Saya rindu pada masa yang hanya saya tahu dari sejarah. Meskipun saya waktu kecil hanya merasakan fenomenanya, lagu-lagu rock yang terdengar di radio. Atau dari poster di tembok kamar kakak-kakak, poster Metallica, Helloween, Deep Purple, Megadeath, dll. Radio dan tape recorder juga masih ada yang memutar suara Ahmad Albar, lagu Power Metal, dll.

Sisa-sisanya mungkin sekarang hanya gambar di kaos yang dijual di belakang alun-alun Trenggalek—atau di distro-distro yang ada. Dan mungkin dengan adanya Youtube kita masih bisa menonton pentas-pentas musik meraksasa, sebagian juga Pentas Woodstock. Youtube secara visual telah bisa membawa kita pada pentas-pentas sejarah musik raksasa. Mendengar raungan melodis gitar, dan vokal semacam James Hetfield. Melihat gaya Alanis yang asik di pentas musik bukan hal yang mustahil. Terimakasih Youtube!

Puji syukur, gambaran tentang sejarah kumpulan massa akhirnya bisa bervariasi. Akhirnya kenangan saya tentang kumpulan massa bukan hanya tentang situasi ketika nonton film layar tancap waktu kecil di lapangan kecamatan. Saya juga akan terus ingat hal itu, juga hal lain-lain. Saya akan terus ingat lapangan Durenan, yang penuh sesak hingga untuk berjalan saja sulit. Waktu SMA, ketika di Lapangan Durenan ada eksposisi Agustusan, saat ramai-ramainya untuk berjalan saja sulit. Tentu teman-teman saya sekolah saya juga masih ingat, karena menyaksikan sendiri bagaimana kerumuman massa dan debu jadi satu karena acara eksposisi dilakukan di musim kemarau panjang.

Tapi cerita tentang kumpulan massa bersejarah yang akhirnya harus dicatat sejarah hanya saya dapatkan dari cerita para senior mahasiswa, yang di antaranya adalah mahasiswa sastra sejarah. Kebetulan teman kos saya adalah para senior mahasiswa sastra, yang dalam waktu melebihi batas mereka baru lulus karena saking sukanya pada kampus mungkin!

Merekalah, diakui atau tidak, yang memperkenalkan saya pada sejarah umat manusia dengan interaksinya. Kisah tentang kumpulan massa, rapat akbar, adalah kenangan agung saat kita hidup di dunia yang akan dikenang hingga kita sudah mungkin sudah punya anak dan cucu. Mungkin juga akan berulang dalam sejarah-sejarah yang akan datang. Tapi entahlah juga ketika interaksi sudah dibingkai dalam media sosial dan komunikasi disalurkan dengan akun-akun. Nyatanya, jumlah anggota grup FB dan WA belum ada yang mengalahkan jumlah penonton Woodstck! Apalagi anggota group yang aktif saja tak sebanyak pentas musik elekton di acara sunatan anaknya Pak Bambang!