The Powerful Leader; Muhammad Meneladankan Kesederhanaan

0
304

Malam-malam yang sunyi itu jadi gairah tersendiri baginya. Lelaki mulia itu, meski di hadapnya ada jaminan agung perihal surga, ia tetap hidupkan malam gulitanya di atas permadani sederhana, berdiri lama, menangis haru, bercampur rindu.

Kampusdesa.or.id — “Wahai kakanda, bukankah Allah telah dan akan mengampuni dosa-dosamu? Mengapa engkau begitu tekun dalam beribadah?” istrinya, Aisyah r.a. dengan santun bertanya kepadanya.

“Apakah dengan begitu aku harus enggan untuk menjadi seorang hamba-Nya yang bersyukur?” jawabanya. Dialog ini terabadikan indah oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, sesuai penuturan dari Mughirah bin Syu’bah.

Lelaki itu, kini seluruh Arab tak sekedar mengenalnya dengan sebutan Al-amin saja: bahkan dua Negara besar Byzantium dan Persia di utaranya sedang panas membincangkannya. Lelaki itu telah menjembatani perubahan raksasa. Lelaki itu telah membawa membawa  kekuatan besar, risalah utama yang membuat takjub sejarawan mana pun yang mempelajarinya.

Nabi kita yang tercinta, Rasulullah Muhammad Saw. Langit merindukanya dan bumi mentakjubinya. Karena selangkah demi selangkah, beliau dan para sahabatnya telah berpindah dari kaum yang tertindas menjadi penguasa Arab. Maaf, penguasa bumi.

Tidak akan pernah lengkap jika belajar kepemimpinan tanpa role model yang menempati peringkat 1 dalam 100 manusia berpengaruh sepanjang sejarah bagaimana tertulis dalam karangan Michael Hart.

The powerful leadaer! Tidak akan pernah lengkap jika belajar kepemimpinan tanpa role model yang menempati peringkat 1 dalam 100 manusia berpengaruh sepanjang sejarah bagaimana tertulis dalam karangan Michael Hart. Sungguh, dari sisi mana pun, Nabi Muhammad Saw bisa dipandang, bisa dicontoh bisa menginspirasi, bisa menularkan kagairahan hidup. Tak ada satu pun mannusia dari Amerika sampai Amerika lagi yang meragukan kepemimpinannya. Adapun mereka yang mencerca beliau, tak lain adalah karena mereka tak tahu apa-apa.

Pemimpin yang powerful selalu bisa menularkan dan memberi teladan di segala kesempatan, tempat, dan aspek. Kawan, saat ini sepertinya indah sekali kalu kita menyempatkan diri menyelisikk pribadi beliau. Walau tak bisa seluruhnya, mari kita saksamai sama-sama.

“Apakah Rasulullah mengkhususkan beberapa hari untuk beribadah sebanyak-banyaknya?” Alqomah menanyakan hal itu pada Aisyah. Dengan cerdas, Aisyah menjawab singkat, tetapi dahsyat.

“Tidaak,” kata Aisyah. “Namun, beliau melakukan ibadah terus-menerus!”

Pemimpin yang menghimpun di dalam jiwanya sebuah keyakinan dan kesempurnaan hubungan dengan Allah akan “mampu  memengaruhi dan mengerakkan orang-orangnya mencapai tujjuan bersama, serumit dan sekompleks apa pun masalah yang dihadapinya.

Itulah kehebatan. Itulah nilai tinggi. Pemimpin yang menghimpun di dalam jiwanya sebuah keyakinan dan kesempurnaan hubungan dengan Allah akan “mampu  memengaruhi dan mengerakkan orang-orangnya mencapai tujjuan bersama, serumit dan sekompleks apa pun masalah yang dihadapinya,” tutur Misbahul Huda.

“Ada satu hal yang mencengengkan,” tulis Syaikh Abdullah Nashil Ulwan dalam bukunya Hatta Ya’lamu asy-Syabab ketika menguraikan pribadi Nabi,“ yakni kemampuan beliau memadukan  ibadah yang begitu mantap dengan aktivitas-aktivitas lainnya, seperti tugas berdakwah dan panggilan jihad. Dalam segala hal beliau selalu paling unggul.”

Beliau melanjutkan di bagian lain, “kunci rahasia dari prestasi ibadah beliau terdapat pada ketekunanya melakukan shalat tahajjud, berdzikir, berdoa, dan jenis ibadah lainya sesuai dengan perintah Rabb-nya.”

Bagaimana tidak powerful? Di sana memang ada jasad yang sama dengan manusia lain. Namun, hati, jiwa, dan idenya membentuk jaringan lurus dengan Allah. Jaringan komunikasinya tak pernah lengang, selalu bertaut, seperti gelombang laut yang tak kehabisan daya gelombang. Mengagumkan!

Terbuktilah firman Allah yang mahamulia menginspirasi kita  di surat al-Israa’ (17) ayat 79: Dan pada sebagian malam hari shalat Tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat ke tempat yang terpuji.

Ya, mengangkat diri ke derajat terpuji. Terwujudlah pemimpin yang terwarnai sifat-sifat menentramkan hati, menebar cahaya terpiji, meringkus keraguman, dan mengembuskan keyakinan bagi mereka yang dipimpinnya.

Kun, ‘ubbadan an takunuu quwwadan! Menjadi hamba yang meraih simpati langit terlebih dahulu, maka akan begitu dahsyat ketika memimpin manusia.

Fatimah pernah menyuguhkan sepotong roti kepada Rasulullah dari jenis tepung gandum biasa. Setelah melihat suguhan tersebut, beliau berkata kepadanya, “Ini adalah makanan yang pertama kali masuk ke perut ayahhmu sejak tiga hari.” Peristiwa mengharukan ini diabadikan indah oleh Anas bin Malik, lalu diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

“Lewat sikap zuhud,” tulis Syaikh Abdullah Nashih Ulwan “beliau ingin meberi pelajaran kepada generasi umat Islam akan arti dan hakikat kasih saying, pengorbanan, dan sikap mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadinya.”

Bayangkan, pemimpin besar yang digentari musuhnya itu mengalami hidup yang begitu apa adanya. Aisyah r.a. pernah berkata kepada Urwah bin Zubair sebagaimana dicatat oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, “Wahai, anak saudaraku, kami biasa melihat bulan sabit, bulan sabit: tiga bulan sabit dalam dua bulan. Selama itu api tidak pernah menyala di rumah Rasulullah.”

“Aku pernah masuk ke rumah Rasulullah,” kata Abdullah bin Mas’ud menceritakan. “Pada saat itu beliau baru saja bangun dari tidurnya. Aku melihat di punggungnya ada tapak tikar, maka aku pun berkata pada beliau, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami memberimu sepotong kain yang halus untuk melapisi kain dari badan Baginda?”

Rasulullah Saw menjawab, ‘Apalah artinya dunia ini bagiku. Aku dan dunia laksana seorang penunggang kuda yang hanya mampir sejenak untuk berteduh di bawah pohon rindang. Selanjutnya aku berangkat lagi meninggalkannya.’

“Mendengar perkataan beliau, aku sungguh amat terharu. Kalau begitu, pantaslah bila beliau selalu berdoa, ‘Wahai Rabbku, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad secukupnya saja’.”

Philip K. Hitti dalam bukunya History of the Arabs juga menerangkan pribadi Nabi yang begitu humble, sederhana dalam hidup dan zuhud dalam memandang harta dunia. Kezuhudan ini setelah kepergian nabi menjadi salah satu nilai lebih bagi bagi generasi shahabat: menjadi daya tarik yang membuat negeri-negeri di sekeliling mereka begitu takjub.

“Abu Bakar, penakluk dan penjaga semenanjung Arab, menjalani hidup dengan kesederhanaan patriarkis. Pada masa enam bulan pertama pemerintahannya yang singkat itu, ia melakukan perjalanan bolak-balik dari Al-Sunh ke kota Madinah, dan tidak menerima gaji sedikit pun,” begitu tulis Philip K. Hitri dengan takjub.

Namun, apakah Nabi Muhammad Saw miskin? Tidak! Sama sekali tidak. Seandainya beliau sedang tak punya pun, akan dengan mudah beliau mendapatkanya karena masa mudahnya di laluinya sebagai entrepreneur kelas internasional. Lantas, mengapa dari tadi kita baca seakan-akan Nabi Muhammad memilih hidup yang sederhana-sederhana saja? Nah, justru inilah nilai yang berlawanan dengan pikiran kita yang banyak salah.

“Cara hidup semurah mungkin (simplicity) bukan hanya suatu kekuatan, melainkan juga kekayaan bahkan menjadi pilar kebahagiaan. Simplicity lawan dari gaya hidup trendi (lifestyle), bahasa qur’aninya adalah qana’ah, “begitu ungkap Misbahul Huda dalam bukunya Dari Langit Turun ke Bumi.

Sebanyak apa pun income seoarang pengusaha kaya raya atau sekecil apa pun gajinya, jika ia mampu menekan belanjanya dengan sedrhana mungkin, aka nada sisa uang yang bisa disimpan atau bisa diinvestasikan. Namun, seperti kita tahu, jika pasak lebih dari pada tiang, jika yang dikeluarkan lebih banyak dari penghasilan, pastilah pelaku akan merasa ada rasa kemiskinan yang mengantung di hatinya. Ada rasa kurang, memungkinkan potensi korupsi bisa menjangkiti. Bahaya besar.

Dengan cara itulah Nabi menyakinkan para sahabatnya bahwa harta bukan apa-apa. Bagaimana dengan kisah Abu Bakar yang menyumbangkan seluruh hartanya? Bukankah itu sebuah nilai tinggi yang jauh-jauh hari ditanam oleh Rasullah Saw? Kezuduhan beliau menginspirasi siapa saja, golongan mana saja, agar tak silau dunia. Dengan itulah pasukan Muslimin begitu gagah membebaskan satu per satu negeri (futuhat), dengan tujuan mulia: menyebarkan Islam, bukan mencari harta.

Rasul mendidik kita agar menjadi pemimpin yang giat bersosialisasi. Komunikasi beliau tergolong sangat ampuh. Dengan segala pendekatan, dengan keramahtamahan dan kewibawaan, beliau berhasil menggaet kekuatan-kekuatan strategis di Mekkah: membangun masyarakat madani di Madinah: hingga membangun masyarakat madani di Madinah: hingga membangun jaringan pemerintahn yang kuat di daratan semenanjung Arab.

Beginilah kuncinya. Sederhana saja. Syaikh Abdullah Nashih Ulwan kembali menerangkan, “Rasulullah, apabila berbicara, perkataannya amat terperinci dan gambling. Seoranng yang mendengarkannya dengan mudah dapat menghitungkan bila ia mau.”

Dan lagi-lagi, dengan kecerdasannya, Aisyah menyampaikan seni komunikasi Nabi, “Ucapan Rasulullah begitu terperinci sehingga dapat dipahami oleh semua pendengarnya.”

Karena leadership ini menuntut seorang pemimpin memengaruhi manusia, menebarkan visi yang harus dimengerti lalu dikerjakan bersama, seni komunikasi Nabi sangat tepat diperhitungkan. Sejarah telah membuktikannya, bukan? “tidak ada yang lebih baik dari seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik,” begitu pernyataan tambahan seorang guru.

Jadi, mari menyimpulkan komunikasi dalam kepemimpinan ini menjadi beberapa bagian penting: listening skill, observation skill, dan speaking skill. Kesemuanya tersusun sempurna di kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.

Listening skill, seni mendengarkan. Ini adalah bagian penting dari gaya Nabi bersosialisasi dengan manusia di sekitarnya. Banyak sekali hadis yang kita dengar hari ini, tersusun dari pernyataan shahabat kemudian dijawab Nabi: pengaduan masyarakat lalu diselesaikan Nabi: dari perkara menyangkut akidah sampai maslah-masalah penceraian: pertengkaran suami istri: bahkan anak-anak yang mengadukan orang tua mereka yang antusias berkonsultasi maka, seni mendengarkan begitu dahsyat menghasilkan cinta di antara Nabi dan masyarakat yang dipimpinya.

Observation skill, seni mengamati, bukan sekedar melihat. Memperhatikan, bukan sekedar menumpang lewat. Rasulullah mengasah intuisi social beliau dari pengamatan yang dalam. Sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau terbiasa mengamati cara masyarakat Quraisy beribadah, mengamati jalan raya, dan memperhatikan kehidupan manusia di sekelilingnya. Dengan perhatian yang tajam itu, kegelisahan beliau tak terbendung lagi.

Maka, dimulailah uzlah, beliau mengagendakkan untuk menyendiri, mendalami permasalahan rakyatnnya, dan memperhatikan dalam-dalaam kejanggalan di sekitarnya. Hingga Jibril a.s. datang, hingga risalah Islam datang dan beliau menjadi Rasul, beliau tak henti-hentinya mengamati sekelilingnya, memikirkan apa yang harus beliau lakukan untuk kemaslahatan manusia.

  • Kita belajar, kita mengabil ilmu dari Nabi untuk menjadi agen perubahan yang not only seeing, but also observing. Begitulah Muhammad The Inspirator mencontohkan keteladanannya.

Speaking skill. Ya, Rasulullah sangat ramah bila berjumpa dengan seseorang. Beliau sangat menghormati orang-orang yang duduk bersamanya. Ingin lebih dekat? Mari kita  simak penuturan sang diplomat mumpuni bernama Amr bin Ash r.a. beliau menuturkan, “Rasulullah mengarahkan mukanya dengan penuh keakraban kepada orang yang diajaknya bicara, sekalipun dia hanya orang awam.

“Hal ini pernah pula dilakukan terhadapku,” lanjut Amr, “sampai-sampai aku menyangka bahwa akulah yang paling mulia dan paling penting di antara orang-orang yang hadir. Maka aku bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, mana yang lebih baik antara aku bertanya lagi, ‘Apakah aku lebih baik atau Umar?’ Rasulullah Saw menjawab, ‘Umar.’ Lalu aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulullah, siapa yang lebih baik aku atau utsman?’ Rasulullah menjawab, siapa yang lebih baik aku atau Utsman?’ Rasulullah menjawab, Utsman.’ Ketika aku hendak bertanya untuk keempat kalinya, beliau menyapaku supaya diam, maka aku pun tidak menanyainya lagi.”

Sungguh, beliau adalah sebaik-baik teladan dalam perkara dan masalah apa  saja, terlebih tugas mengemban risalah, justru itulah tugas kenabian yang inti, menebar kebenaran risalah menuju seluruh arah mata angin, tak pandang bangsa, tak  lihat warna. Semua terangkum dan terbalut indah dalam satu kata: Islam.

Tak ada alasan bagi kita untuk  mengambil model kepemimpinan  lain  selain beliau. Kawan, langkah kita belum terlalu besar, masih  belajar berjalan di terjalnya jalan juang. Maka, untuk kalian yang rindu perubahan, apa yang kita baca adalah dasar-dasar kepemimpinan yang langsung bisa kita kerjakan setelah membaca tulisan singkat ini.