Ternyata ada hubungan antara Puasa dengan Ujian Nasional

0
178

” Tanamkan pada anak-anak kita bahwa ujian itu merupakan kewajiban yang menyenangkan, dia mampu menghadapinya dan kemudian ajari anak kita untuk menyerahkan segala usahanya kepada Allah swt ” (Amka)


Menjelang puasa Ramadhan ini tentunya umat Muslim mulai menyiapkan diri lahir batin menyongsong hadirnya bulan yang mulya itu.

Ramadhan menjadi bulan ujian agar yang menjalaninya dengan keyakinan dan mengharap rido Allah menjadi manusia yang bertaqwa.

Menjelang bulan suci Ramadhan ini biasanya masyarakat menyongsongnya dengan suka cita. Ada tradisi unik yang dilakukan masyarakat yaitu megengan. Tradisi ini adalah semacam tradisi atau kebiasaan masyarakat dalam menyongsong bulan suci Ramadhan dengan cara melakukan sedekah, ziarah kubur bahkan dengan melakukan kerja bakti membersihkan tempat ibadah seperti mushola dan masjid.

Itu semua dilakukan karena kegembiraan masyarakat muslim akan kehadiran ramadhan yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan yang akan di dapatkan ketika mereka menjalani ibadah ini yaitu semua amal diberikan reward secara berlipat ganda, semua kesalahan akan diampuni, akan ada malam al-Qadr dimana siapa yang menjalaninya akan mendapatkan ganjaran yang bernilai 1000 bulan.

“Barang siapa yang gembira akan datangnya bulan ramadhan, maka haram jasadnya masuk neraka “

Kehadiran bulan ramadhan ini ada hikmah yang bisa kita peroleh bahkan bisa menjadi rumus yang perlu kita perhatikan yaitu ketika masuk bulan ramadhan yang penuh dengan pahala dan ujian di dalamnya, maka yang diajarkan Allah adalah kita harus gembira menyongsong ujian tersebut, kita harus mengkondisikan suasana batin kita dengan kegembiraan, hal itu tertuang dalam salah satu hadis yang menyatakan bahwa ” Barang siapa yang gembira akan datangnya bulan ramadhan, maka haram jasadnya masuk neraka “.

Ada yang menyatakan bahwa hadis itu lemah, akan tetapi dalam konteks ini sebenarnya adalah anjuran untuk gembira atas kedatangan rahmat Allah yang besar yaitu ramadhan. Anjuran untuk gembira atas rahmat Allah ada dalam surat Yunus 58 ” Katakanlah karena ada fadilah dan rahmat Allah itu, maka bergembira lah kalian. Hal itu lebih baik dari (harta) yang mereka kumpulkan ).

Dari ayat itu dinyatakan jika ada rahmat Allah, maka bergembiralah dan ramadhan adalah salah satu rahmat Allah yang ditunggu tunggu umat Islam.

Menciptakan suasana batin untuk gembira sebelum menjalani ujian ini sangat penting agar mindset kita terhadap ramadan menjadi mindset ujian untuk mendapatkan kebaikan kebaikan.

Fenomena mutakhir yang terjadi di lembaga pendidikan seperti sekolah, madrasah dan lain sebagainya ketika menjelang ujian nasional yang terjadi ada semacam stigma yang di transfer kepada mental murid yaitu kekhawatiran ketika nanti murid tidak lulus ujian, maka mereka akan merusak nama baik sekolah, mencoreng nama baik keluarga, mereka adalah manusia yang tidak bermanfaat dan lain sebagainya. Suasana batin yang diciptakan adalah ketakutan bukan kegembiraan sehingga menjelang ujian nasional yang terjadi adalah kekhawatiran bahkan ketakutan karena konsekuensi yang bakal diterima oleh mereka.

Semestinya suasana batin dan mental murid harus dikondisikan dengan kegembiraan sebelum menempuh ujian, harus ditanamkan dalam pemikiran mereka bahwa ujian itu hakikatnya adalah peningkatan kualitas mereka sebagai manusia yang memiliki kemulyaan. Kemulyaan akan diraih ketika mereka sukses dalam masa ujian tersebut. Mereka akan mendapatkan manfaat ketika mereka mampu menghadapi ujian dengan baik.

Setelah suasana batin dikondisikan gembira, maka barulah ditanamkan komitmen untuk menjalaninya. Komitmen bisa berupa niat untuk bisa menjalani ujian dengan baik agar mereka menjadi manusia yang baik, ketika sudah berikrar maka yang harus dilakukan adalah memberikan ketentuan-ketentuan untuk menjalani ujian ini yaitu apa yang bisa menghilangkan pahala puasa dan lain sebagainya. Menarik untuk disimak lebih dalam yaitu niat yang diwajibkan ketika menjalani puasa adalah semacam menanamkan rasa optimisme agar mampu menjalani ujian yang ada di bulan suci ini. Coba kita baca niat yang dianjurkan ketika memgawali puasa yaitu

“نويت صوم غد عن أداء فرض شهر رمضان هذه السنة فرضا لله تعلى

Jika dimaknai susunan niat tersebut adalah ” Saya optimis bisa menjalani puasa wajib di bulan ramadhan karena Allah Ta’ala “.

Ujian nasional atau ujian semester juga bisa dikondisikan seperti ramadhan yaitu setelah mengkondisikan suasana batin murid agar gembira, maka kemudian murid diarahkan untuk berikrar (niat) optimis bahwa mereka mampu menjalani ujian wajib tersebut agar saya menjadi manusia baik yang diinginkan Allah kepada manusia.

Ujian nasional atau ujian semester juga bisa dikondisikan seperti ramadhan yaitu setelah mengkondisikan suasana batin murid agar gembira, maka kemudian murid diarahkan untuk berikrar (niat) optimis bahwa mereka mampu menjalani ujian wajib tersebut agar saya menjadi manusia baik yang diinginkan Allah kepada manusia. Setelah itu baru diberikan ketentuan-ketentuan untuk bisa menyelesaikan ujian tersebut agar mereka lebih fokus sehingga murid menjalani ujian nasional atau semacamnya sudah dalam kondisi jiwa dan mental yang baik penuh dengan kegembiraan, optimisme dan akhirnya kepasrahan kepada Allah swt.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah bulan ramadhan tahun ini sehingga kita bisa menjadi manusia yang selalu bahagia, optimis dan tawakal sebagai indikator dari manusia yang bertaqwa yaitu manusia yang selalu meningkatkan dirinya dengan menjalani perintah dan ujian Allah yang selalu memberikan kebaikan bagi kita. Amiin ya rabbal alamin.

Malang, Klandungan, 10 Mei 2018 (24 Rajab 1439 H)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here