Temanku yang Kini Di Atas Kursi Roda

0
92

Lebih dari dua puluh satu tahun yang lalu, kamu adalah seorang gadis periang, centil dan kemayu. Dengan paras ayumu kamu bisa menggoda banyak teman pria di sekolah. Dengan genit kau merayu guru untuk mendapatkan nilai bagusmu. Sri Indarti itu namamu dan yang pupuler dengan nama Iin.

Sekian lama tak tahu apa kabarmu. Dimana kamu tinggal, anakmu berapa, apa pekerjaanmu, suamimu siapa, aku tidak tahu sama sekali. Bahkan waktu acara reuni 2007 itupun kau tak datang. Hanya ada cerita bahwa kau tinggal di Jakarta bersama keluarga dan bahagia.

Namun kabar itu berputar terbalik ketika tiga bulan yang lalu, ada kabar sangat mengejutkan yang menyatakan kau lumpuh dan buta. Karena kesibukanku mendampingi anak juga waktu yang belum cocok dengan temen, belum sempat untuk menjenguk.

Akhirnya berunding dengan temen-temen di grup WA yang dulu pernah sekelas waktu kelas 1 SMK (dulu SMEA). Di hari sabtu kemarin bersama-sama menjenguk Iin. Kebetulan yang bisa ikut menjenguk adalah temen-temen yang suka sembrono, walau bukan temen dekat.

Sungguh kaget tatkala kursi roda bergerak keluar dari balik korden pintu. Sungguh diluar dugaan kalau dirimu berada di kursi roda. Rambutmu yang pendek, tipis, bercampur warna sangat beda jauh dengan rambutmu yang selalu terurai panjang berkilau kala itu.

Pandangan matamu yang menerawang jauh seoalah mencari sosok di kejauhan. Ternyata kau berusaha mengenali siapa yang datang hari padamu hari itu. Dengan suara yang bergetar, kau tebak kami satu per satu. Dengan kau mengingat suara dan mengenali bayang-bayang kami dari sisa-sisa cahaya yang masuk ke retinamu.

Sungguh hati ini pilu dan teriris perih melihat kenyataan yang dialami seorang teman sendiri. Sungguh berbedaan yang sangat jauh dari waktu dulu. Dalam dua puluh satu tahun sungguh waktu yang panjang yang bisa merubah keadaan. Dan itu nyata.

Penyakit diabetes yang membuatmu seperti ini. Faktor genetik yang menjadikanmu harus mengalami ini semua. Dua tahun kau menahan semuanya. Bersyukur dua bidadarimu senantiasa di dekatmu. Mendampingimu, merawatmu dengan cinta, kasih sayangnya, dan sabarnya. Di balik kerapuhanmu ada kekuatan yang membuatmu bertahan.

Diabates yang diderita oleh seorang ayah, telah dibawa oleh delapan anaknya. Dan ke delapan anak itupun menderita karena penyakit itu. Iin adalah anak keenam. Dia yang pertama ketahuan menderita, dan dia yang bertahan lama. Karena dua kakaknya telah kalah melawan penyakit itu. Betapa hancur hatinya dengan kenyataan itu.

Dia belum bisa menerima kenyataan hidupnya yang seperti itu, yang dari hari senin sampai sabtu selalu berkunjung ke Rumah Sakit. Dari poli syaraf sampai cuci darah seminggu dua kali. Sungguh berat memang, apa yang dia alami. Dari itu kami sebagai temanya dulu, datang untuk memberikan motivasi agar tetap semangat melawan penyakit demi anak-anaknya.

Iin, terima kenyataan ini dengan ikhlas. Percayalah bahwa Allah punya rencana yang lebih bagus setelah ini. Allah tak akan menguji hambanya lebih dari kemampuannya. Serahkan semua kepadaNya, berserahlah pada titik yang paling rendah. Lawanlah sakitmu, tetaplah semangat demi anak-anakmu. “Yakin, kamu bisa.” Itu yang bisa kuucapkan untuknya sebelum aku memeluk dan meninggalkannya.

Kami pun berpamitan pulang, melanjutkan agenda masing-masing.

Whandri Ferita. Partisipan Indonesia Menulis Online angkatan pertama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here