Takbir Adalah Salah Satu Manifestasi Ibadah

0
75

Bagaimana pemaknaan takbir ini kalau  dilihat dari perspektif akidah islam yang bersifat fungsional? Seperti diketahui bacaan inti dari takbir tersebut adalah: Allahu  Akbar (Allah Maha Besar). Ini  artinya bahwa apa saja yang ada di alam dunia yang bersifat mahkluk ini adalah “kecil” sedangkan Allah Swt. Selaku khalik pada hakekatnya adalah yang “maha besar”. Pengertian ini memiliki implikasi keimanan yang luar biasa jika dimaknai secara lebih fungsional dalam penghayatan hati. Arti dari kata”fungsional” disini adalah: dimaknai pemahaman untuk dalam rangka diamalkan secara nyata dalam kehidupan.

Kampudesa.or.id- Seperti telah kita sadari bersama, bahwa kita semua ini memiliki dan bahkan menghayati sedalam-dalamnya apa yang disebut kesadaran.

Bacaan takbir sudah sangat melekat di  kalangan umat islam paling tidak penguatan dari pembiasan bacaan tersebut adalah dalam pelaksanaan shalat. dalam setiap rakyat shalat paling sedikit  dibaca 5 (lima) kali. Khususnya dalam shalat lima waktu. Yang jelas pembacaan takbir dilatihkan berulangkali.

“aku” (lego). Sang “aku” ini ada dalam alam sanubari kita. Sang “aku” ini benar-benar sangat peka (sensitif). Sang “aku” akan berbinar-binar cemerlang dan mekar kalau ada pujian masuk tertuju kepadanya. Sebaliknya, kalau masuk tertuju kepadanya berupa hinaan atau cercaan maka reduplah sinarnya dan layu. Itulah salah satu  sifat dan kecenderungan sang “aku” di atas.

Sang “aku” ini ingin senantiasa diistimewakan. Ia senantiasa ingin “serba nomor satu”. Ia ingin memiliki apa saja (semua) dalam kadar ukuran puncak yang kalau di ilustrasikan berupa misalnya: terkaya, terpintar, terbesar, terkuasa, bertindak sebebas-bebasnya, menikmati sepuas-puasnya, berbuat semau-maunya, menguasai  segala sesuatu selama-lamanya. Akibatnya, sang “aku” ini sama sekali tidak suka kalau ada peganggu untuk menuju “serba nomor satu” tersebut. Akibat lebih lanjut sang “aku” tidak suka kalau dikritik, dinasehati, diatur, diluruskan, dan  semacamnya. Kalau sudah begini, muncul sifat ke-aku-an yang menampak dalam kehidupan, yaitu: takabur, sombong, angkuh, congkak, arogan, besar kepala, tinggi hati.

Sifat ke-aku-an di atas dalam Al-Qur’an dianggap sebagai sifat yang melampaui batas. Al-qur’an memberikan ilustrasi sifat melampaui batas ini dalam kisah raja Fir’aun sebagai contoh orang yang suka melampaui batas.

Berdasarkan penjelasan di atas, apalagi dengan diperkuat  kisah raja Fir’aun, maka bacaan takbir sebernanya mampu meredam kecenderungan sifat ke-aku-an  yang dinilai melampaui batas di atas. Yaitu  bahwa boleh seseorang menikmati kesadaran “aku”-Nya, namun harus ada batasnya. Bagaimana caranya? Persoalan ini dalam Al-Qur’an dikaitkan dengan konsep  ibadah. Berikut ini penjelasannya.

Dalam Al-Qur’an kata “ya’buduuni” (mereka beribadah kepadaku). Berkaitan langsung dengan istilah “abdun” (hamba). Jadi, kata  “li ya’buduni” (agar mereka beribadah kepada-ku) dapat dimaknai: agar mereka mengakui sifat kehambaan mereka di hadapanku.

Kata “hamba” di sini dapat dikatakan sebagai simbol hal-hal yang cenderung “kecil” dan “lemah”. Karena itu, manusia (juga jin sekalipun) pada hakekatnya adalah kecil dan lemah.

Kata “hamba” di sini dapat dikatakan sebagai simbol hal-hal yang cenderung “kecil” dan “lemah”. Karena itu, manusia (juga jin sekalipun) pada hakekatnya adalah kecil dan lemah. Semesta itu, Allah SWT selaku khalik (maha pencipta) adalah “Maha Besar” (akbar, kabir) dan “maha kuat” (qadir). Pengakuanya akan sifat kehambaan (pengakuan akan hakekat betapa kecil dan lemah) di hadapan Allah Swt. Ini, lalu dinyatakan secara konkret dalam wujud peribadahan, antara lain  shalat. Jadi, kesadaran mengakui sifat kehambaan itulah inti ibadah. Kalau ini dapat berlangsung secara  permanen dan terpatri dalam sanubari, maka dengan sendirinya perasaan sang “aku” yang ingin “serba nomor satu” di atas pelan-pelan  dan secara pasti akan luntur dan terbatasi secara normal dengan sendirinya. Dengan adanya kewajiban  beribadah, antara lain lewat shalat, itu berarti manusia, yaitu kita semua ini, dipaksa untuk dilatih secara terus-menerus sepanjang hidup untuk melunturkan sifat sang “aku” yang selalu ingin “serba nomor satu” di atas.

Jadi, takbir yang berulang-ulang dibaca dalam ibadah  shalat misalnya, adalah untuk  penghancur sifat ke-aku-an manusia yang kalau dibiarkan liar akan bersifat destruktif. Oleh karena itu ketika membaca takbir, siapan pun orangnya, perlu memahami makna yang dikandung didalamnya, antara lain seperti yang  terurai di atas. Bahwa dengan kesadaran membatasi secara proporsional terhadap sang “aku”. Maka akan muncul kemanfaatan yang sungguh-sungguh konstruktif.

Jangan sampai terjadi paradox pemaknaan takbir untuk mengesahkan pemuasaan sang “aku” dalam keseluruhan tindakan, apalagi dalam berbuat anarki.

Sekarang ini sering kita mendengar bacaan takbir menggema di tengah-tengah deru demonstrasi di jaln-jalan atau tempat-tempat tertentu, bergema di tengah desingan peluru dalam pertempuran (peperangan), atau dalam ucapan sehari-hari (ketika merasa kagum atau terkejut misalnya). Namun yang jelas, penghayatan bacaan takbir dalam  momen-momen tersebut, betapa pun emosionalnya, tetap harus  berpegang teguh pada pemaknaan pengendalian terhadap sang “aku”. Karena itu, tindakan anarki (tindakan tidak mengindahkan kidah pengaturan). Betapa pun dimulai dengan teriakan takbir tidaklah pada tempatnya. Sekacau-kacaunya berlangsungnya sebuah peperangan, tetap di dalamnya ada aturan yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu, jangan sampai terjadi paradox pemaknaan takbir untuk mengesahkan pemuasaan sang “aku” dalam keseluruhan tindakan, apalagi dalam berbuat anarki. Bacaan takbir adalah untuk  menguatkan  sebesar-besarnya prinsip tegaknya aturan di tengah-tengah kemelut kekacauan seberapa besarnya pun. Itulah arti fungsional dari takbir dan perspektif akidah Islamm yang fungsional.