Tak Ada Rumus Tunggal dalam Mendidik Anak

0
230

0Shares
0

Semua anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Justru disitulah peran pendidikan dari orang tua amat menentukan. Punya anak 5 orang berarti punya 5 kepribadian. Dan 5 cara mengasuh dan mendidik. Tak ada rumus tunggal mendidik anak.

Kampusdesa.or.id–Mata ibu itu berkaca-kaca saat menceritakan anak lanangnya memberi uang dari gaji pertamanya saat mulai kerja setahun lalu. Kebiasaan anak lanang menyisihkan sebagian gajinya tiap bulan untuk diberikan kepada ibunya itu, katanya, terus berlangsung sampai sekarang. “Selain uang, dia kerap membelikan makanan atau cemilan kesukaan adiknya sepulang kerja. Tak lupa menawari ayahnya; sudah makan apa belum”, tambahnya. Sikapnya itu berbeda dengan penampilannya yang terkesan cuek, pendiam, dan tak banyak omong.

Berbeda dengan adik perempuannya yang terkesan supel, rame, bicaranya banyak, pandai berkawan. Anak lanang ini tak memiliki sifat ekspresif. Bila orang tuanya membelikan oleh-oleh dari luar kota atau luar negeri, atau membelikan pakaian sekalipun kesukaannya, wajahnya datar-datar saja. Tak tampak senang, juga tak menolak. “Beda dengan anak perempuan, kalau dibawakan oleh-oleh, apalagi pakaian atau suvenir, langsung nyamber; membuka sendiri koper atau tas, isinya diaduk-aduk dan disisihkan mana yang untuk dirinya, langsung dicoba, dan ekspresinya meledak-ledak, tampak senang sekali. Tak lupa mengucapkan terima kasih dan kecupan kepada ortu yang membelikan oleh-oleh”, cerita ibu itu panjang lebar.

Membaca watak anak milenial memang kerap mengejutkan dan berhubungan dengan mereka amat mengasyikkan. Selama #stayathome dan #WFH, banyak sisi positif yang bisa diperoleh dari kontak dan komunikasi langsung dengan anak-anak. Satu hal yang pasti: tiap anak itu unik. Keluar dari rahim yang sama tapi watak, sikap, prilaku, dan kepribadiannya bisa amat berbeda. Ada yang satu rajin belajar, kutu buku. Anak lain sukanya bermain dan bergaul sama temannya. Yang satu pendiem, eh kakak atau adiknya rameeee. Kalo punya anak yang jujur dan baiiik plus shalih/ah, ucapkan syukur 100x. Tapi jangan abaikan anak yang suka berkata kasar dan pemarah, apalagi dikucilkan. Jangan.

Mereka semua berproses untuk ‘menjadi’ (becoming). Menjadi dirinya sendiri butuh waktu dan proses.

Mereka semua berproses untuk ‘menjadi’ (becoming). Menjadi dirinya sendiri butuh waktu dan proses. Tak selamanya anak menjadi bawel dan rewel seterusnya. Seperti halnya anak yang suka bohong, bukan berarti ia tak bisa diubah menjadi baik. Saat kecil bisa jadi tak tampak kelebihannya, jangan kaget setelah sekolah atau kuliah ia memperoleh ranking yang tinggi. Tak usah risau dengan nilai anak jelek, karena ia pasti memiliki kelebihan di bidang lain. Misal nilai IPA-nya jeblok, tapi ia pandai bersosialisasi. Olahraga tak minat, tapi fisikanya jago. Matematika emoh namun diajak berbahasa Inggris mahir banget. Jangan kuatir anaknya tak masuk 10 besar di sekolah/madrasah. Bisa jadi nanti ia sukses saat kuliah atau mendapat pekerjaan yang tepat dengan bakat alamiahnya. Tapi sebaliknya, jangan dulu girang anaknya pandai saat fase sekolah, karena bisa jadi ia gagal dalam kuliahnya kelak.

Santuy aja. Sekali lagi, semua anak dilahirkan dengan keunikan masing-masing. Justru disitulah peran pendidikan dari orang tua amat menentukan. Punya anak 5 orang berarti 5 kepribadian. Dan 5 cara mengasuh dan mendidik. Tak ada rumus tunggal mendidik anak.

Lihatlah misalnya anak yang tiba-tiba datang ke kamar orang tuanya, lantas ngithik-ngithik kaki (menggelitik, Jawa) atau memukul pantat, lalu keluar lagi. Mungkin dia ingin mengungkapkan perhatian dan kangennya pada mama atau ayahnya. Ia gunakan bahasa tubuh, bukan ucapan sebagai ekspresi perhatiannya. Atau anak cewek tiba-tiba bikin kue atau es buah, sekelebat kemudian menyuapin mamanya, bermanja, datang ke kamar meluk cium mamanya. Barangkali dalam pikirannya dia ingin menyenangkan ortunya. Atau mungkin juga sedang ada maunya.

Sejumput “kebaikan ekspresif” itu layak dapat penghargaan. Apalagi, mungkin selama ia mondok atau sekolah dan kuliah dulu tak bisa mengekspresikan cinta itu pada ortunya. Nah, kini mumpung berkumpul dalam jangka waktu lama #stayathome, benih-benih kebaikan itu terekspresikan secara vulgar.

Dibalik cueknya anak, pasti ada nilai positifnya. Mungkin suatu saat Anda melihat anak nyolot, dan pasti Anda tersinggung, bukan? Tapi apakah Anda pernah menyelami kenapa dia membantah perintah Anda? Dibalik ekspresi mereka, ada sesuatu yang ingin disampaikan. Apa yang ditampakkan keluar tak selalu sama dengan isi hatinya.

Anak itu spesies manusia yang memiliki kompleksitasnya tersendiri. Memahami manusia sama halnya memahami ciptaan Tuhan yang maha dahsyat ini.

Anak itu prinsipnya nurut dan hormat pada ortunya. Mau kok diperbaiki dan diarahkan, dinasehati dan diberikan contoh. Ini lagi-lagi seni mendidik.

Anak itu prinsipnya nurut dan hormat pada ortunya. Mau kok diperbaiki dan diarahkan, dinasehati dan diberikan contoh. Ini lagi-lagi seni mendidik. Selama masa #karantinarumah, ortu dapat melibatkan anak remajanya dalam aktivitas harian bernuansa keagamaan. Apa saja misalnya?

Buat semacam “Pesantren Keluarga”. Membiasakan berjamaah shalat 5 waktu adalah cara paling mudah untuk mengumpulkan anggota kelarga dalam suasana kebatinan yang kondusif; antara keprihatinan dan kekuatiran akan terdampak Corona. Harap-harap cemas. Khauf dan raja’. Sekalian saja manfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu untuk memasukkan nilai-nilai agama yang sejatinya mereka sudah alami dan amalkan sebelumnya. Apa itu? Dzikir ba’da shalat diperpanjang, divariasi dengan shalawat yang disenandungkan (banyak sekali jenis shalawat yang dikenalkan para ulama), ratiban (yang terkenal misalnya ratib al-haddad), istighosah, yasinan, tilawah al-Qur’an, shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah, tambah doa, qunut nazilah, dan sebagainya.

Mumpung bulan Sya’ban, anak diajak puasa sunnah. Shalat-shalat sunnah seperti qiyamul lail dan dhuha diintensifkan. Sedekah diperbanyak dan dirutinkan kepada siapa saja yang membutuhkan. Alhamdulillah, anak milenial mau dan bersedia bergabung bersama ortunya. Suasana yang mencekam di luar rumah, di tengah beredarnya aneka informasi yang laiknya air bah tentang Corona, ritual keagamaan semacam ini akan sedikit mengobati kegelisahan batin anggota keluarga. Menguatkan dan membuatnya tenang adalah tindakan pencegahan dari kemungkinan terkena wabah ini.

Jangan bawa keriuhan soal #Covid-19 di luar sana ke dalam rumah. Ini koentji-nya. Saring informasi dengan konten positif saja yang dibaca. Tinggalkan konten negatif, mengada-ada, atau menakut-nakuti. Masih banyak kanal informasi resmi (pemerintah, swasta) yang layak dijadikan rujukan ketimbang postingan-postingan nggak jelas jluntrungannya. Ini sebuah pilihan cerdas. Kalau tidak, maka hanya akan menambah jumlah orang yang ketakutan dengan virus mematikan ini. Solusi keagamaan, meski sifatnya batin dan spiritual, penting diajarkan ke remaja dan anggota keluarga lainnya. Tanpa meninggalkan usaha lahir seperti jaga jarak, jaga kesehatan dengan olahraga, mengkonsumsi makanan sehat, memperbanyak sirkulasi udara ke dalam rumah, hingga berjemur matahari, dan aktivitas fisik lainnya.

Memahami milenial adalah memahami masa depan mereka. Benarlah kata Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang semangatnya kira-kira begini: “Didik (persiapkan) lah anak-anakmu (sebaik-baiknya). Karena mereka akan mengalami masa yang boleh jadi berbeda dengan zamanmu saat ini”. Jika tak tepat mendidik mereka, jangan salahkan bunda mengandung, eh.. jangan salahkan kalau mereka mengisi zamannya dengan perspektifnya sendiri. Wallahul hadi ila sabilil haq.