Surga di Desa, Surga Tanpa Pesta Seks

0
235

Saya orang desa. Saya pernah dua tahun tinggal di ibu kota, akhirnya tak betah. Sebab, desa ternyata adalah tempat yang memiliki segalanya. Tapi sekota-kotanya Jakarta atau ibu kota propinsi di nusantara, saya pikir masih banyak tanaman dan pepohon yang bisa kita jumpai. Baik tanaman hias di sisi-sisi kantor dan gedung. Pohon-pohon besar di pinggir jalan. Hingga taman-taman kota yang punya banyak tumbuh-tumbuhan.

Di desa lebih menarik lagi. Hingga kaum Eropa menggambarkan nusantara adalah “Hindia yang molek” atau “Hindia yang indah”—atau yang sering disebut “Mooi Indie”. Keindahan alamnya yang luar biasa. Alamnya termasuk manusia, di antaranya (jika dipandang dari perspektif laki-laki) adalah perempuan-perempuan cantik di antara tumbuh-tumbuhan tempat mereka tinggal dan juga di antara mereka bekerja.

Situasi di mana ada seorang perempuan menanam atau panen padi. Situasi di mana ada perempun berjalan di ladang mengantarkan bekal makan di sela istirahat di sawah. Situasi di mana ada perempuan-perempuan mencuci pakaian di sungai yang airnya bening mengalir dengan batu-batu indah. Situasi di mana ada para perempuan cantik mandi di telaga. Situasi di mana ada perempuan ingin menyeberang di sungai yang airnya meluap dan dicegat oleh kepiting. Kisah ikan emas yang kerasan di danau. Narasi tentang Kancil mencuri Mentimun atau kisah tentang buah Semangka yang disembunyikan raksasa. Kisah tradisional di mana selalu ada hutan, direpresentasikan oleh Gunungan dalam wayang, misalnya. Dan ribuan kisah lainnya menunjukkan betapa kekayaan flora dan fauna di nusantara, terutama di desa tidak lagi terbantahkan.

Surga berupa keindahan nyata di desa-desa sudah menjadi keseharian. Kesuburan Padi dan pemujaan terhadap Dewi Sri, menjadikan perempuan diberi tempat terhormat dalam konsep dan narasi masyarakat tentang alam dan kemanusiaan. Senutan Ibu Pertiwi untuk menarasikan bagaimana alam ini adalah sosok perempuan yang menghidupi.

Berbeda sekali dengan konsep yang lahir dari masyarakat yang tanahnya gersang tanpa tumbuh-tumbuhan. Masyarakat yang sulit mendapatkan air mengalir di bawah tanah yang banyak tumbuh berbagai tanaman. Di msayarakat gurun pasir itu, masyarakatnya sangat mendambakan surga sebagai keindahan di mana ada “kebun indah di mana akan mengalir air di bawahnya”. Hal semacam itu bukan lagi khayalan di sini, di nusantara dengan desa-desa yang memang sudah banyak mengalir sungai, kebun-kebun dan ladang, hutan dengan berbagai tanaman.

Sedangkan di sini, perempuan dan laki-laki hidup berdampingan di antara keindahan alam. Tidak ada janji pada laki-laki tentang surga yang isinya perempuan seksi sebagai pemuas nafsu seks tanpa batas. Hal yang tidak dijanjikan pula pada perempuan—yang barangkali surga diangankan dari kepentingan laki-laki yang hanya membayangkan keindahan perempuan, seksi, dan melayani kebutuhan untuk kepuasan seksisme-patriarkal.

Di masyarakat gurun pasir sana, tidak ada keindahan alam seperti banyaknya tanaman dan buah-buahan. Sehingga, satu-satunya penyaluran nafsu adalah keindahan seksual, pesta seks dengan perempuan-perempuan. Menikahi banyak perempuan dan menjadikan perempuan sebagai budak nafsu adalah salah satu penyaluran nafsu. Sebab, tak ada keindahan lain selain itu. Alam tak menarik, pemandangan buruk, tanah gersang. Air sulit didapat.

Jangankan fauna (hewan) yang juga banyak jenisnya (ratusan atau mungkin ribuan) seperti di nusantara. Di padang pasir itu, setahu saya dari cerita-cerita, hewan yang saya kenal hanyalah Unta dan Domba. Bandingkan dengan di sini. Dalam hal hewan sebagai lauk saja, jumlahnya di nusantara banyak sekali. Baik hewan yang hidup di air maupun di darat.

Dan bisa dibayangkan, terlalu banyak makan domba (kambing) juga akan membuat nafsu seks terus meninggi. Bagaimana kalau makanan tiap hari adalah daging semacam itu. Berarti nafsu seks orang-orang di sana memang amat besar. Nafsu seks itu, tak terbatahkan lagi, terproyeksikan dalam idealisme surga yang penuh adegan seks. Ya, PESTA SEKS. Kenapa bayangan tentang surga adalah pelayanan seks, pemuasan nafsu yang meledak-ledak? Ya karena itu adalah bayangan dari masyarakat yang nafsu seksnya besar. Ya karena situasi kehidupannya diwarnai keterbatasan tentang keindahan hidup selain seks. Pesta tubuh adalah hal yang terjadi ketika tumbuh-tumbuhan tak hidup. Keindahan pemandangan dengan tanaman-tanaman indah, terutama tanaman yang enak di makan untuk mengurangi nafsu.

Sementara masyarakat kita, yang secara kuliner tak banyak makan daging yang menyebabkan nafsu meningkat, yang dihiasi dengan keindahan tumbuh-tumbuhan, bukanlah masyarakat yang seksis pada awalnya. Perempuan memakai pakaian yang tak menutupi lengan dan leher adalah hal biasa. Tak akan terjadi agresi dan pemerkosaan. Karena laki-laki di nusantara juga punya adat yang mengontrol nafsu dan tingkahlaku.

Tapi orang-orang gurun pasir itu sebagian datang untuk merubah perilaku masyarakat nusantara. Mereka memaksa perempuan memenuhi seluruh tubuhnya. Pada hal laki-laki di sini bukan tipe laki-laki nafsuan. Masyarakat sini juga tak ada tradisi barbarisme. Apalagi sejak ada hukum modern, orang yang memerkosa akan dihukum. Orang-orang padang pasir ingin memaksakan cara berpikir, bahwa kalau ada perempuan di perkosa yang salah adalah perempuannya hanya gara gara tak memakai jilbab.

Di sini, laki-laki tidak seagresif di padang pasir yang konon juga suka perang dan berkelahi antar suku. Di sini, banyak orang-orang arif bijaksana yang tidak menyalahkan orang lain sebagai penyebab kejahatan yang ia lakukan. Di sini orang-orang dianggap punya sifat suci, bukan penyebab dosa. Kebaikan dianggap bisa muncul dari tiap manusia, bukan karena dipaksa oleh hukum-hukum keras. Di sini orang woles, ya karena kedamaian nusantara sudah dihadiahkan tuhan dan alam raya. Keindahan alam dan kecantikan pemandangan adalah hibah alam yang membuat nusantara menjadi masyarakat yang bisa menerima perbedaan.

Karena kami sudah terbiasa dengan perbedaan. Buah dan tanaman yang jenisnya berbeda-beda. Hitung jenisnya, puluhan atau mungkin ribuan. Selera masyarakat kami terhadap jenis buah dan makanan yang jumlahnya banyak juga membiasakan kami berbeda dengan rasa dan selera. Kami dikutuk alam raya dan Jagat Dewa Batara sebagai masyarakat yang bhineka. Sekuat apapun kalian kaum padang pasir mau memaksakan kami, kalian tak akan bisa!

Trenggalek, 19/07/2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here