Sunday Syndrome Muncul Sebagai Gejala Psikologis Pada Penyintas Gempa di Lombok

0
179

Sunday Syndrome, sebuah gejala emosi unik yang terjadi temporer. Hanya di menjelang hari Minggu saja gejala emosi itu melingkupi para penyintas gempa Lombok. Gejala ini merupakan jenis emosi kedua, yakni perasaan takut yang muncul bukan karena alamiah, tetapi gejala yang muncul akibat tanggapan atas asosiasi yang muncul di benak seseorang.

Sunday Syndrome, apa pula ini? Apa kaitannya dengan hari Minggu? Seperti apa gejala-gejalanya?

Manusia adalah makhluk yang seringkali membangun asosiasi di antara peristiwa yang dialaminya. Gempa di Lombok lebih dari dua kali. Hari apa terjadinya? Minggu. Sebuah fenomena psikologis saya dapatkan dari peristiwa mendampingi para penyintas gempa lombok. Fenomena itu unik dan menarik dari segi psikologi. Tidak biasanya. Begini kisahnya.

Seorang penyintas menuturkan, “mendekati hari Minggu, saya mudah cemas,” kata pak Abdul. “Dada saya terasa sesak, jadi tiba-tiba ingin nangis bila hari Minggu (Sunday) tiba, khususnya saat adzan maghrib usai,” kata Inaq Sobariah, seorang penyintas yang lainnya.

Apa yang dirasakan Pak Abdul dan Inaq Sobariah hampir dihayati oleh sebagian penyintas Gempa di Sambelia, Lombok Timur. Gangguan emosi muncul dalam batas sangat spesifik, yakni hanya dibatasi oleh momen hari Minggu (Sunday).

Kejadian gempa yang ditanggapi dengan intensitas emosi tinggi (takut, khawatir, cemas, sedih, pilu, tak berdaya) dan terjadi dua kali pada hari yang sama, Minggu, membuat seluruh pengalaman yang terkait gempa terasosiasi dengan hari Minggu.

Suday Syndrome bisa dijelas menurut Greenberger, kondisi ini sebagai emosi jenis kedua dari empat jenis emosi. Emosi takut bukan respon alamiah dan tepat atas stimulus, tetapi lebih ke tanggapan atas asosiasi yg terjadi didalam benak seseorang.

Bila saat gempa seseorang mengalami ketakutan yang sangat, saat dia menyadari bahwa hari yang dialaminya adalah hari Minggu, otomatis kesadaran itu memicu ketakutannya. Leslie Greenberger menyatakan, kondisi ini sebagai emosi jenis kedua dari empat jenis emosi. Emosi takut bukan respon alamiah dan tepat atas stimulus, tetapi lebih ke tanggapan atas asosiasi yg terjadi didalam benak seseorang.

Sunday Syndrome saat ini masih merupakan gejala yang umum dialami oleh warga Sambelia. Syndrome ini masih bagian dari stress akibat gempa. Semoga warga semakin berdaya sehingga mereka mampu mengatasi keadaan ini.

Tim dukungan psikologis Dompet Dhuafa yang dimotori Maya Sita Darlina Psikolog, didukung oleh Leguminosa Akbar, Ani Khairani, Evangeline Dzulfadli, Asep Haerul Gani mendapatkan Sunday Syndrome ini saat melakukan assessment pemetaan psikososial pada diri penyintas di Sambelia, Lombok Timur, Sabtu 1 September 2018.

Gejala Sunday Syndrome yang ditemukan menjadikan salah satu temuan yang bisa ditindaklanjuti untuk melakukan sejumlah pilihan penanganan terhadap para penyintas gempa Lombok dengan berbagai peluang untuk survive (berdaya) secara mental.

Asep Haerul Ghani, Psikolog, Pengurus Pusat Asosiasi Psikologi Islam, Trainer Senior, Ahli Hipnoterpi, NLP dan Ericsonian Psychotherapy

Jika ada tulisan di seputar pengalaman mendampingi penyintas Gempa Lombok, kami siap berkolaborasi membantu publikasi catatan kecil Anda di lapangan. Kesempatan ini untuk bersinergi agar pengalaman positif di lapangan dapat direkam, disimpan dan bisa dibagikan ke khalayak untuk menjadi inspirasi lanjutan penanganan masalah psikologis bagi penyintas. Silahkan dikirim ke email kampusdesa.indonesia@gmail.com (Redaksi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here