Sukimin Radja (2) Jiwa Kepemimpinan yang Selaras dengan Profesinya

0
238

Menjadi pemimpin sebaiknya berprinsip. Keteguhan pada prinsip menopang integritas diri. Bahkan jiwa kepemimpinan adalah tanggung jawab agar setiap orang yang mampu, akan dapat mengurus negeri ini, Kata Sukimin Radja. Menjadi pemimpin jangan suka mengunggul-unggulkan diri. Kata Dia, “bila dicar, barulah (dirimu) muncul. Bila ditunjuk, barulah (dirimu) mengiyakan. Hal ini sesuai dengan asas kepatuhan, seperti pepatah Bugis, mappasikoa atau mappasitinaja.

KampusDesa– Pria beranak tiga, yakni: Agusdiwana Suarni SE MAcc, Putri Dwi Suarni SSi SPd, dan AA Sutadi Saputra, ini memiliki semboyan unik. Senyumlah kepada semua orang, namun bukan kepada sembarang orang. Kepada putra-putrinya, Sukimin selalu menanamkan jiwa sosial dengan cara berorganisasi.

Sukimin memang dikenal memiliki kepekaan kepada sesama semenjak kecil. Ia pernah mengikuti pramuka. Bergabung dengan pramuka menciptakan sensasi tersendiri baginya. Kepemimpinannya terasah sekaligus teruji. Sebabnya, ia selalu menghadapi teman-temannya dengan berjuta karakter yang unik.

Integritas dan loyalitas sebagai kunci kepemimpinan senantiasa dijunjung tinggi olehnya.

Nah, di sinilah seorang pemimpin perlu memiliki seni memimpin. Misalnya dengan berlaku sabar, ikhlas, jujur, mampu menjadi teladan bagi sesama. Integritas dan loyalitas sebagai kunci kepemimpinan senantiasa dijunjung tinggi olehnya.

Dalam memimpin, pria pengidola Jenderal Yusuf ini senantiasa membaur, membersamai semuanya, berkomunikasi efektif, juga memberikan motivasi dan solusi. Contoh sederhana namun nyata: saat bepergian, bawahan perlu tahu. Bila bawahan memerlukan, kita haruslah ada di tempat.

Hingga kini, ia masih suka berorganisasi. Salah satunya ditunjukkan dengan menjadi dewan penasihat Masjid Abu Bakar di Perum Graha Surandar Permai, Paccinongang, Gowa.

Seorang pemimpin itu haruslah senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan kesucian hati.

Berbicara kepemimpinan, Sukimin menganut filosofi kepemimpinan ala Bugis. Pertama, taro ada taro gau. Maksudnya, satunya perkataan dan perbuatan. Pemimpin perlu berhati-hati saat berbicara, berpikir mendalam sebelum berkata dan bertindak. Kedua, duami kuala sappo, unganna panasa’e, belo kanukue. Terjemahan secara harfiah: dua hal yang kujadikan pagar, yaitu: bunga nangka dan hiasan kuku. Maknanya, seorang pemimpin itu haruslah senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan kesucian hati. Hati yang bersih atau hati suci ini; dalam terminologi Bugis dikenal pula dengan sebutan ati macinnong atau ati madeceng.

Ketiga, eppa tanranna to madeceng kalawing ati. Seuani, passu’i ada na patuju. Maduanna, matuoi ada na sitinaja. Matellunna, duppai ada napasau. Ma’eppana, moloi ada na padapi. Mutiara ini tercantum di dalam lontara paseng toriolota. Maknanya, ada empat karakteristik orang berhati suci/baik; mengucapkan kebenaran (kata-kata yang benar), menyampaikan kewajaran (kata-kata yang wajar), menunjukkan kewibawaan (menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang sopan, santun, penuh kelemahlembutan), mengimplementasikan (melakukan perkataannya di kehidupan sehari-hari dan mencapai sasaran).

Kearifan lokal Bugis ini mengajarkan kepada kita untuk tidak serakah menduduki jabatan tinggi atau terlalu berambisi terhadap posisi tertentu.

Keempat, aja’ muangoai onrong, aja’to muacinnai tanre tudangeng. De’tu mulle’i padecengi tana. Ri sappa’po muompo, ri jello’po muakkengau. Kearifan lokal Bugis ini mengajarkan kepada kita untuk tidak serakah menduduki jabatan tinggi atau terlalu berambisi terhadap posisi tertentu. Jangan sampai dirimu tidak mampu mengurus negeri. Bila dicari, barulah (dirimu) muncul. Bila ditunjuk, barulah (dirimu) mengiyakan. Hal ini sesuai dengan asas kepatutan. Istilah Bugisnya, mappasikoa atau mappasitinaja. Kelima, maccai na malempu, waraniwi na magetteng. Artinya, cendekia (cerdas) serta jujur, berani serta teguh pendirian. Kelima filosofi ini senantiasa diimplementasikan Sukimin di dalam kehidupan sehari-hari.

Jiwa Petualang Berbuah Bintang

Sukimin memiliki tempat tugas yang berpindah-pindah. Inilah yang menjadikan jiwa petualangnya semakin terasah. Tahun 1982-1991, ia bertugas di Polres Pangkep. Tahun 1991-1997, ia berdinas di Polres Bulukumba. Tahun 1997-1998, ia menempuh Pendidikan Setukpa di Sukabumi. Tahun 1999-2000, ia ditugaskan di Polres Bantaeng. Tahun 2001-2003, ia mengabdikan diri di Polres Jeneponto. Tahun 2004-2013, ia kembali berkantor di Polres Bulukumba. Tahun 2013-2018, ia menjadi guru bagi polisi di SPN Batua Makassar.

Pencapaian karir Sukimin boleh dikatakan gemilang. Saat menjadi AKP (Ajun Komisaris Polisi) di tahun 2004, pria bersahaja ini menduduki beberapa posisi penting, misalnya: Kapolsek Gangking Polres Bulukumba (tahun 2004 – 2006), Kasat Sabhara Polres Bulukumba (tahun 2006 – 2008), Kapolsek Ujungloe Polres Bulukumba (tahun 2008 – 2010), Kapolsek Gantarang Polres Bulukumba (tahun 2010 – 2013).

Menjadi Kapolsek tentunya memiliki dinamika kehidupan tersendiri. Ada kalanya bersuka, ada masanya berduka. Kekalutan pikiran terutama saat menghadapi kasus pembunuhan dan demonstrasi massa. Ketika itulah pria penyuka film Rhoma Irama ini mencurahkan segenap pikiran, tenaga, dan waktunya untuk berkoordinasi dengan semua pihak.

Keberuntungan rupanya senantiasa memihak Sukimin. Hal itu terbukti dari saat ia mendapatkan amanah berupa kenaikan pangkat menjadi Kompol dan AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) Gadik Muda SPN Batua Polda Sulawesi Selatan pada tahun 2013 hingga tahun 2018. Pada tahun 2018, Sukimin memasuki masa purnawirawan. Periode purnatugas bukan berarti bebas, melainkan ia semakin bersemangat di dalam melayani rakyat serta mengabdikan diri kepada masyarakat.

Roda kehidupan senantiasa berputar. Terkadang berada di atas, terkadang berada di bawah. Momentum emas perjuangan hidup Sukimin dirasakan saat menerima penghargaan Bintang Nararya dalam upacara yang dirangkaikan dengan HUT Bhayangkara di Mapolda Sulawesi Selatan. Peristiwa bersejarah dalam kehidupan Sukimin yang dihadiri ribuan peserta upacara beserta tamu undangan itu terjadi pada tanggal 1 Juli 2014.